26 Juni 2015

YESUS TELADAN KITA

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.




Mat 14:13-21 – (13) Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. (14) Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (15) Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa." (16) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." (17) Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan." (18) Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." (19) Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. (20) Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. (21) Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

K
isah yang baru saja kita baca ini adalah kisah yang tidak asing lagi, bahkan boleh dikatakan sebagai kisah yang terkenal. Kisah ini adalah satu-satunya cerita mujizat yang diceritakan di dalam 4 Injil. Dan karenanya nanti dalam pembahasan kisah ini, saya tidak hanya mengacu pada catatan Injil Matius saja yang sudah kita baca tetapi juga pada catatan Injil-Injil yang lain.  Ya, kisah di mana Yesus memberi makan 5000 orang dengan menggunakan 5 roti dan 2 ikan. Jumlah 5000 orang ini hanyalah jumlah laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Mat 14:21 - Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Sehingga sudah pasti jumlah yang makan melampaui itu. Barclay memperkirakan jumlah seluruhnya 12.000 orang. Saking terkenalnya cerita ini sampai diciptakan lagu khusus tentangnya : “Lima roti dan dua ikan, Tuhan Yesus yang memberkati. Dimakan 5000 orang, sisa 12 bakul”.

Memang ada juga orang yang menafsirkan bahwa cerita ini bukanlah mujizat di mana Tuhan membuat 5 roti dan 2 ikan cukup untuk ribuan orang.

a.      Barclay mengatakan bahwa ada orang yang mengartikan cerita ini sebagai sebuah sakramen.

William Barclay - Banyak orang melihat dalam mukjizat ini suatu sakramen. Mereka berpikir bahwa orang-orang yang hadir di sana waktu itu hanya menerima secuil makanan, namun dapat menguatkan mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka dan merasa puas. Orang yang memandang begitu merasa bahwa ini bukanlah makanan yang dapat memuaskan rasa lapar jasmani mereka, melainkan makanan rohani Kristus yang mereka makan. Jika memang demikian, ini merupakan suatu mukjizat yang diulang kembali setiap kali kita duduk pada meja perjamuan Tuhan kita; karena pada saat itu kita menerima makanan rohani yang memampukan kita berjalan de­ngan langkah yang lebih tegap dan dengan tenaga yang lebih kuat, guna menempuh perjalanan hidup yang menuju kepada Allah. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Matius 11-28, hal. 165).

Keberatan :

1.    Kalau pun setiap orang hanya menerima secuil roti, tetap 5 roti tidak bisa mencukupi kebutuhan 12.000 orang. Bandingkan ini dengan kata-kata Filipus.

Yoh 6:7 - Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.

Kalau roti seharga 200 dinar saja tidak bisa mencukupi kebutuhan yang ada sekalipun setiap orang hanya dapat secuil, bagaimana bisa 5 roti cukup? Kecuali roti raksasa. Apalagi 5 ekor ikan kecil? Kecuali ikan paus / hiu raksasa.

2.      Dalam ayat 20 dikatakan bahwa orang-orang itu makan sampai kenyang.

Mat 14:20 - Dan mereka semuanya makan sampai kenyang…..

Jadi bukan hanya secuil makanan.

b.  Barclay sendiri kelihatannya percaya bahwa ini adalah tindakan Yesus yang membuat orang-orang mengeluarkan roti persediannya untuk dimakan bersama-sama.

William BarclayBayangkanlah kejadiannya. Ada orang banyak berkumpul, dan hari sudah larut senja, dan mereka sudah lapar. Namun, apakah mungkin bahwa orang banyak yang ber­kumpul di sekeliling danau itu sama sekali tidak punya makanan? Tidakkah mereka membawa makanan, betapapun sedikitnya? Maka senja pun tiba dan mereka mulai lapar. Namun, mereka sungguh egois. Tidak seorang pun ingin memperlihatkan apa yang ia bawa, apalagi membagikannya kepada orang lain sehingga dirinya sendiri akan kekurangan. Maka Yesus menjadi pelopor. Makanan apa pun yang dimiliki Yesus dan para murid-Nya, Ia mulai saling berbagi dengan ucapan berkat, tawaran, dan senyuman. Maka mereka pun mulai ikut membagi-bagikan, dan sebelum mereka sadar akan apa yang sedang terjadi, ternyata semuanya cukup, bahkan lebih dari cukup untuk semua orang. Sesungguhnya bila ini yang terjadi, hal itu bukanlah mukjizat penggandaan roti dan ikan; itu adalah mukjizat tentang perubahan hati manusia yang egois menjadi murah hati karena sentuhan Kristus. Ini adalah mukji­zat tentang lahirnya kasih di dalam hati yang tidak rela memberi. Ini adalah mukjizat tentang laki-laki dan perempuan yang diubah oleh sesuatu dari Kristus yang ada dalam hati mereka, yang telah mengusir keegoisan mereka. Bila demikian, di dalam arti yang paling nyata Kristus memberi mereka makan diri-Nya sendiri dan mengutus Roh-Nya untuk tinggal di dalam hati mereka. Tidak menjadi persoalan bagaimana kita mengerti mukjizat ini. Satu hal yang pasti: bila Yesus ada di sana, mereka yang letih dapat beristirahat, dan mereka yang lapar jiwanya dikenyangkan. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Matius 11-28, hal. 165-166).

Keberatan :

1.      Yoh 6:14 jelas menunjukkan bahwa ini adalah mujizat.

Yoh 6:14 - Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakanNya, mereka berkata: ‘Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.’

2.      Juga perhatikan argumentasi Wiersbe berikut ini :

Warren Wiersbe - Apakah Yesus benar-benar melakukan suatu mukjizat? Mungkin kemurahan hati anak laki-laki itu hanya membuat malu orang lain sehingga mereka mengeluarkan bekal makan siang yang mereka sembunyikan dan memberikannya kepada orang-orang di dekat mereka? Bukan begitu kenyataannya. Yesus tahu hati manusia (2:24; 6:61, 64, 70) dan Ia menyatakan bahwa orang-orang itu lapar. Ia tentu akan tahu jika ada makanan yang disembunyikan. Selain itu, orang-orang menyatakan bahwa ini adalah suatu mukjizat dan bahkan ingin menjadikan Yesus sebagai raja (6:14-16). Seandainya peristiwa itu hanya suatu akibat dari psikologi massa, orang-orang tidak akan memberi tanggapan seperti itu. Yohanes tidak akan memilih peristiwa itu sebagai salah satu dari "tanda-tanda" seandainya peristiwa itu bukan suatu mukjizat. (Hidup di Dalam Kristus, hal. 95-96).

Jadi jelas bahwa ini benar-benar adalah suatu mujizat penggandaan roti dan ikan dan kita tidak semestinya meragukan apa yang diceritakan secara gamblang di sini.

Sebagaimana saya katakan di atas, kalau ini bagian yang terkenal, saya yakin sudah banyak orang berkhotbah tentang ini. Dan saudara juga pasti pernah mendengarkan khotbah dari kisah ini, bahkan mungkin mendengarnya lebih dari satu kali. Tapi saya berharap bahwa itu tidak menjadi halangan bagi kita untuk mendengarkannya sekali lagi karena Firman Tuhan itu kaya. Dia bisa memberkati secara berlimpah dari kisah yang sama. Ada banyak hal yang bisa disoroti dari kisah ini tapi pada kesempatan ini saya hanya akan menyoroti apa yang dibuat oleh Yesus yang dapat menjadi teladan bagi kita. Cerita ini memperlihatkan beberapa teladan dari Yesus yang dapat kita tiru :

I.    TELADAN DI DALAM PELAYANAN.

Teladan Yesus di dalam pelayanan ini nampak lewat beberapa fakta :

  1. Dia tidak menjadikan masalah pribadi-Nya sebagai alasan untuk mengabaikan pelayanan.

Sebelum peristiwa mujizat 5 roti dan 2 ikan ini, Alkitab memberikan gambaran tentang situasi yang terjadi berkaitan dengan Yesus. Matius memberikan keterangan bahwa Yesus baru saja mendapatkan kabar tentang kematian Yohanes Pembaptis yang dipenggal kepalanya oleh Herodes. 

Mat 14:12 - Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.

Sudah pasti Yesus merasa sedih karena Yohanes Pembaptis adalah sepupu-Nya. Itulah sebabnya Ia menyingkir dan mengasingkan diri.

Mat 14:13 - Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.

Berarti saat itu Yesus sedang berada dalam keadaan dukacita dan Ia mau mengambil waktu menyendiri.

Tapi ada situasi yang lain yang digambarkan oleh Markus.

Mark 6:29-32 – (29) Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (30) Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. (31) Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat. (32) Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.
Jadi Markus menceritakan ada banyak orang yang datang untuk dilayani oleh Yesus dan murid-murid-Nya dan ini membuat mereka bahkan tidak sempat makan. Mereka sangat lelah. Dan karena itu Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk beristrahat sejenak.

Note : Ini berarti para pelayan Tuhan pun perlu waktu beristrahat dan refresing sejenak. Mungkin penting juga gereja memikirkan pembiayaan bagi acara refresingnya para hamba Tuhan. 

Dua situasi ini tidak bertentangan karena dalam ayat 32 Markus juga memberikan keterangan tentang kematian Yohanes Pembaptis. Bisa jadi sementara Yesus dan murid-murid-Nya sibuk melayani sampai kelelahan, datanglah berita buruk bagi Yesus bahwa sepupu-Nya Yohanes Pembaptis sudah dibunuh dan dikuburkan. Itu berarti Yesus berada dalam situasi yang tidak bagus. Di satu sisi Ia dan murid-murid-Nya sangat lelah, di sisi yang lain datang berita dukacita lagi. Dan sangat wajar Yesus lalu mengajak murid-murid-Nya untuk mengasingkan diri, menyendiri dan beristrahat. Bahkan bagi Yesus itu mungkin adalah waktu yang penting untuk menenangkan diri dari perasaan dukacita-Nya. Tetapi apakah yang terjadi?

Mat 14:13 – “…Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.

Mark 6:33-34 – (33) Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. (34) Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, ….

Coba bayangkan situasi ini. Kalau saudara dalam posisi Yesus kira-kira bagaimana? Saudara baru saja bekerja keras, melayani banyak orang sampai makan pun tidak sempat, tahu-tahu datang berita duka dan saudara menjadi galau lalu mau menyendiri sekalian beristrahat, ternyata belum juga beristrahat sudah datang begitu banyak orang untuk dilayani. Apa reaksi saudara? Mungkin mood saudara akan menjadi buruk, wajah menjadi cemberut, senyum menjadi hilang dan emosi tidak stabil dan jengkel dengan situasi itu dan bahkan mengusir orang-orang itu. Tapi perhatikan bagaimana reaksi Yesus? Dan apa yang Ia buat?

Mat 14:14 – “….maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.

Mark 6:34 – “… maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Luk 9:11 – “… Ia menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan

Bahkan Ia melayani mereka sampai malam. (Mat 14:15; Mark 6:35; Luk 9:12). Dan itu berarti bahwa Ia dan murid-murid-Nya tidak sempat makan siang padahal sebelumnya mereka sudah kelaparan. Mengapa Yesus mau melakukan semua itu? Karena hatinya penuh kasih kepada orang banyak itu. “Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan”. Di sini kita melihat bahwa Yesus, sekalipun lelah, bahkan dalam keadaan berduka, tetapi tidak menjadikan itu menjadi alasan untuk tidak melayani atau menghindar dari pelayanan.

Sikap Yesus ini seharusnya menjadi teladan bagi kita semua pelayan Tuhan. Betapa sering kita enggan untuk melayani atau menghindar dari pelayanan kita dengan berbagai alasan yang bahkan adalah alasan-alasan yang lebih remeh dibandingkan dengan yang dialami Yesus. Pelayanan kita seringkali macet karena alasan-alasan seperti sibuk, lelah, ada masalah, galau, mood tidak bagus, lagi bete, dll. Tapi pikirkan ini. Kalau saudara bekerja di kantor, apakah saudara bisa tidak masuk kantor karena alasan lagi sibuk? Apakah saudara bisa tidak masuk kantor karena alasan lagi galau? Apakah saudara bisa tidak masuk kantor karena lagi ada masalah? Apakah saudara bisa tidak masuk kantor karena alasan mood lagi tidak bagus? Tidak bukan? Kalau untuk pekerjaan sekuler saja saudara tetap melaksanakannya tidak peduli ada masalah, tidak peduli mood buruk, tidak peduli lagi galau / bete, dsb, mengapa untuk pekerjaan Tuhan saudara bisa dengan gampang mengabaikannya karena alasan-alasan yang demikian? Mungkin saudara berkata karena memang saudara bekerja di sana dan makan dari sana. Jadi wajarlah kalau saudara bersikap seperti itu. Tapi bukankah saudara juga memperoleh keselamatan kekal dari Tuhan? Bukankah saudara mendapatkan pengampunan dosa dari Tuhan? Bukanlah saudara mendapatkan nafas dari Tuhan? Bukankah saudara mendapatkan kesehatan dari Tuhan? Bukankah saudara mendapatkan keamanan dan kenyamanan dari Tuhan? Kenapa terlalu banyak alasan di dalam pelayanan? Apalagi bagi mereka yang memang hidup dari pelayanan itu (seperti pendeta dan evangelis), seharusnya alasan-alasan demikian bisa dikesampingkan demi pelayanan. Saya sendiri sebagai manusia memiliki banyak persoalan dan pergumulan yang kadang-kadang membuat perasaan menjadi sangat tidak nyaman atau tidak enak. Saya juga bisa galau. Tetapi apakah saya harus menjadikan itu menjadi alasan untuk menunda atau tidak melaksanakan pelayanan-pelayanan yang ada? Kalau saya bertindak demikian, gereja ini bisa bubar. Jadi apa pun yang saya alami, bagaimana pun perasaan saya, semua harus dikesampingkan dan pelayanan harus lebih diutamakan.  Jikalau kita menyadari bahwa pelayanan adalah tanggung jawab sekaligus hutang kita di hadapan Tuhan maka kita seharusnya mengesampingkan berbagai macam alasan yang ada dan terus berjuang untuk melayani Tuhan.

  1. Dia melibatkan murid-murid di dalam pelayanan-Nya.
Dalam peristiwa pemberian makan ribuan orang itu, sekalipun Yesus tentu sanggup melaksanakan itu sendiri, tetapi Ia justru mau melibatkan para murid-Nya dalam pelayanan itu.

Mat 14:16,19 – (16) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan. (19) Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Luk 9:14-16 - (14) “….Lalu Ia berkata kepada murid-muridNya: ‘Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.’ (15) Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. (16) Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-muridNya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak.

Jadi pelayanan hari itu memang luar biasa dan Yesus menjadi yang utama tetapi para murid pun semua aktif di dalam pelayanan itu karena Yesus melibatkan mereka. Ini memang harus dicontoh oleh banyak gereja. Ada banyak gereja dan pelayanan yang hanya digerakkan oleh orang-orang tertentu saja sedangkan yang lain hanya pasif. Ini sesuatu yang salah! Saya sendiri sedang berpikir bagaimana caranya agar gereja kita pun tidak hanya bergantung pada beberapa orang saja tetapi agar semua jemaat mendapatkan kesempatan untuk melayani. Ini juga berarti bahwa Tuhan senang kalau semua orang Kristen terlibat dalam pelayanan. Tuhan tidak senang kalau sebuah pelayanan hanya bergantung pada orang-orang tertentu saja dan yang lain hanya menonton seperti pemirsa televisi atau seperti dalam stadion sepakbola, ada ribuan orang di sana tetapi yang main hanya 22 orang sedangkan mayoritas adalah penonton yang kadang-kadang suka mengkritik dan merasa lebih pintar dari para pemain sendiri.

Yesus berulang kali mengajar Firman Tuhan kepada murid-murid-Nya tetapi Ia juga melibatkan para murid di dalam pelayanan yang ada. Ia tidak hanya mengajar mereka dan mereka tidak dilibatkan dalam pelayanan. Sebaliknya Ia tidak hanya melibatkan mereka dalam pelayanan tetapi tidak mewajibkan mereka untuk belajar Firman Tuhan. Jadi belajar Firman Tuhan dan pelayanan adalah 2 hal yang yang tidak terpisahkan dari kehidupan murid-murid Kristus. Karena itu jangan saudara hanya mau melayani tetapi tidak mau belajar Firman Tuhan. Ini bisa sesat dan pelayanan jadi tidak karu-karuan. Banyak orang Persekutuan Doa seperti ini sehingga dalam pelayanannya suka melakukan yang aneh-aneh seperti mlarang orang melayat, melarang orang makan / minum di tempat duka, praktek penyembuhan yang aneh-aneh, dll. Perhatikan nasihat kitab Amsal.

Ams 19:2 - Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

Tetapi jangan juga hanya mau belajar Firman Tuhan tetapi tidak mau melayani.

Di Israel ada laut yang namanya laut mati. Keunikannya adalah orang bisa mengapung di atas laut itu. Dan lumpurnya dipercaya mengandung zat obat yang bisa memuluskan kulit dan dari sana dibuatlah banyak alat kosmetik dari lumpur. Sayangnya di laut ini tidak ada kehidupan. Ikan-ikan maupun binatang laut satu pun tidak ada di sana. Karenanya disebut laut mati. Mengapa? Karena kadar garam di laut ini begitu tinggi sehingga tidak memungkinkan ada kehidupan. Lalu mengapa kadar garam begitu tinggi? Karena laut ini sebenarnya seperti kolam luas yang hanya menerima air dari sungai Yordan tetapi tidak pernah bisa menyalurkannya kemana-mana.

Banyak orang menggunakan gambaran ini untuk menunjuk pada orang yang banya menerima berkat Tuhan tetapi tidak pernah menyalurkannya bagi orang lain. Tetapi di sini saya katakan bahwa ini juga berlaku bagi setiap kita yang hanya menerima Firman Tuhan tetapi tidak pernah menyalurkannya kepada orang lain. Saudara menjadi tidak berguna untuk kehidupan orang lain secara rohani. Demikian juga kalau saudara hanya menerima Firman Tuhan terus tetapi tidak pernah menyalurkannya ke mana-mana maka saudara akan menjadi seperti laut mati.

Dunia ini akan kacau kalau orang-orang yang giat melayani justru tidak berpengetahuan sedangkan yang berpengetahuan justru tidak melayani. Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya dengan belajar Firman Tuhan dan juga dengan melayani. Maukah kita meneladani-Nya?

II.    TELADAN DI DALAM MENYIKAPI BERKAT.

Berkat yang saya maksudkan di sini adalah 5 roti dan 2 ikan itu yang didapatkan dari seorang anak kecil berdasarkan keterangan Injil Yohanes.

Yoh 6:9 - "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
Mendengar tentang 5 roti dan 2 ikan itu. Yesus lalu memerintahkan agar itu dibawa kepada-Nya.

Mat 14:18 - Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku.

Dan di tangan Yesuslah 5 roti dan 2 ikan menjadi cukup untuk mengenyangkan ribuan orang itu.

Note : Ada perbedaan pandangan apakah roti dan ikan itu menjadi banyak di tangan Yesus ataukah di tangan para murid pada waktu membagi-bagikannya kepada orang banyak? Memang tidak ada penjelasan eksplisit tetapi saya berpandangan itu terjadi di tangan Yesus dan bukan di tangan murid-murid. Dasarnya adalah dari kata ‘memberikannya’ dalam Luk 9:16 (juga dalam Mark 6:41).

Luk 9:16 - Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, ….lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak

Kata “memberikannya” dalam ayat-ayat itu di dalam bahasa aslinya ada dalam bentuk imperfect tense dan menunjukkan ‘he gave, and kept on giving’ (Ia memberikan, dan terus memberikan). Ini menunjukkan bahwa mujizat itu terjadi di tangan Yesus.
 
Terlepas dari masalah itu, yang ingin saya soroti adalah bagaimana sikap Yesus terhadap berkat itu (roti dan ikan). Ada 2 hal yang perlu diperhatikan :

a.      Dia mengucap syukur untuk roti dan ikan itu.

Perhatikan :

Yoh 6:11 - Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki”.

Memang di dalam Injil Matius, Markus dan Lukas tidak dikatakan mengucap syukur melainkan mengucap berkat.

Mat 14:19 – “…. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Ini sama dengan Mark 6:41; Luk 9:16. 
Tapi J.J de Herr mengatakan :

J.J de HerrTerjemahan LAI, bahwa Yesus “mengucap berkat” dapat menimbulkan salah pengertian bahwa Yesus memberkati roti itu. Prof. W. Grundmann menerjemahkan “Yesus mengucap syukur". Strack-Billerteck dan Prof. W.Beyer dengan panjang lebar memperjuangkan terjemahan "Yesus mengucap syukur" atau "mengucap pujian". (Tafsiran Alkitab Injil Matius, hal.287).

Jadi kelihatannya terjemahan yang lebih tepat adalah mengucap syukur. Di sini Yesus memberikan sebuah teladan penting bagi kita bahwa kita perlu bersyukur kepada Tuhan untuk setiap makanan yang kita makan atau minuman yang kita minum serta meminta berkat bagi makanan itu supaya bisa menguatkan kita secara jasmani. Dengan kata lain Yesus mengajar kita untuk berdoa sebelum makan. Doa sebelum makan itu adalah sebuah pengakuan bahwa segala makanan yang kita makan sumbernya adalah dari Tuhan.

Warren Wiersbe - Perlu diperhatikan bahwa dua kali Yohanes menyebutkan Yesus mengucap syukur (6:11,23). Matius, Markus, dan Lukas menyatakan bahwa Yesus memandang ke langit pada waktu Ia mengucap syukur. Dengan tindakan itu, Ia mengingatkan orang banyak yang lapar bahwa Allah adalah sumber semua pemberian yang baik dan yang diperlukan. (Hidup di Dalam Kristus, hal. 98).

J.J de HerrOrang Yahudi sangat mementingkan pengucapan syukur sebelum makan. Mereka mengatakan bahwa tanpa pengucapan syukur itu "ma­kanan dicuri dari Tuhan". Dalam hal itu orang Yahudi merupakan teladan bagi kita. (Tafsiran Alkitab Injil Matius, hal.287).

Karena itu selalulah berdoa setiap kali saudara hendak makan. Dan juga ajarkanlah kepada anak-anakmu untuk selalu berdoa sebelum makan.

Ada seorang tua dari kampung yang berkunjung ke kota. Di sebuah warung makan sebelum makan makanan yang dipesannya, ia tunduk dan berdoa. Tapi di sampingnya datang beberapa pemuda berandalan. Sambil mengolok-olok si orang tua mereka berkata : “Pak tua, apakah di kampungmu semua orang yang hendak makan selalu berdoa?” Pak tua itu pun dengan tenang menjawab : “Ya, kecuali babi”. Jadi yang makan tetapi tidak berdoa itu sama seperti….. (isi sendiri titik-titiknya).

Perhatikan bahwa di tangan Yesus hanya ada 5 roti dan 2 ikan, suatu jumlah yang sangat sedikit tetapi itu tidak menjadi penghalang bagi-Nya untuk mengucap syukur. Karena itu juga selalulah mengucap syukur atas makananmu sesederhana / sesedikit apa pun. Jangan mengucap syukur hanya kalau ada se’i babi, sate babi, babi kecap, dll. Jangan hanya mengucap syukur kalau ada capcay, kwetiau, fu yung hai, siomai, cahkwe, bakso, bakpau, bakmi, dll. Tetapi mengucap syukur juga walau hanya ada sayur kangkung, sayur putih, sayur marungga (daun kelor), sayur pepaya, tahu tempe dan “kurus (lombok) garam” alias “ikan tunjuk”.

Matthew Henry - Meskipun makanan kita sederhana dan hanya sedikit jumlahnya, sekalipun kita tidak mempunyai banyak dan juga tidak mewah dan indah, namun kita harus se-nantiasa mengucap syukur kepada Allah atas apa yang kita miliki. (Injil Yohanes 1-11, hal.355)

Warren Wiersbe - Itu adalah suatu pelajaran yang baik bagi kita: daripada mengeluhkan apa yang tidak kita miliki, seharusnya kita bersyukur kepada Allah untuk apa yang kita miliki, dan Ia akan membuatnya lebih baik. (Hidup di Dalam Kristus, hal. 98).

Ya, yang didoakan adalah mengucap syukur atas makanan tersebut, meminta agar Tuhan memberkatinya dan tak lupa pula orang-orang yang telah berjerih lelah hingga makanan itu ada di hadapan saudara. Perhatikan doa makan yang ditulis oleh Andar Ismail dalam bukunya “Selamat Berteduh” hal. 47-48.  

Nasi, Sayur Asem dan Ikan Asin

Bapa kami yang di sorga,
tiap hari kami berdoa:
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya.
Kami mengakui makanan sebagai berkat llahi.
Demikian juga apa yang tersaji saat ini,
nasi, sayur asem dan ikan asin.

Kami mensyukuri nasi ini
serta kisah yang ada di baliknya.
Sekian bulan lalu pak tani membajak sawah,
berhari-hari berlelah.
Lalu istrinya menanam benih padi,
berbulan-bulan mengairi sawah
Kemudian mereka menuai,
lalu menumbuk beramai-ramai.
Mereka bekerja keras
untuk menghasilkan beras
sehingga kini tersaji nasi di piring ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Kami mensyukuri sayur asem ini
serta kisah yang ada di baliknya.
Sekian bulan lalu para petani mencangkul,
menggemburkan dan menyuburkan tanah,
menanam jagung, labu, tomat, kacang, belinjo, nangka,
tiap hari mereka menyiram, memelihara kebun,
cemas-cemas harap
menunggu panen
yang menghasilkan sayur-mayur ini
sehingga tersajilah sayur asem ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Kami mensyukuri ikan asin ini
serta kisah yang ada di baliknya.
Bulan lalu seorang nelayan melaut,
sepanjang malam diterpa angin dingin,
di tengah ombak dan kegelapan malam,
menjala ikan,
lalu kembali ke darat dengan selamat.
Anak dan istrinya membersihkan ikan itu
menggarami dan menjemurnya
sehingga kini tersaji ikan asin ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.

Bapa, Allah yang rahmani,
terima kasih untuk nasi yang pulen ini,
sayur asem yang sedap ini
dan ikan asin yang gurih ini.
Kiranya para nelayan dan petani
serta anak dan istri
juga menerima rezeki
seperti kami pada saat ini.

Bapa sorgawi,
berikanlah kami,
termasuk keluarga nelayan dan petani,
pada hari ini
makanan kami yang secukupnya.
Amin.

Menarik bukan? Maukah saudara melakukannya?

b.      Dia menyuruh mengumpulkan sisa-sisa roti itu.

Injil-Injil bercerita bahwa setelah orang banyak itu makan sampai kenyang, ternyata roti dan ikan itu masih ada sisanya. Mengapa bisa ada sisa?

William BarclayMengapa sisa-sisa? Di dalam pesta-pesta orang Yahudi selalu ada kebiasaan untuk meninggalkan sisa makan para pelayan. Sisa makanan seperti itu disebut Peah. Dan atas dasar kebiasaan itu tentulah orang banyak tadi telah menyisihkan sebagian dari roti yang dimakannya untuk para pelayan yang melayani mereka waktu itu. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Yohanes 1-7, hal. 346).

Lalu apa yang dilakukan terhadap roti dan ikan sisa itu? Ternyata mereka mengumpulkannya dan ada sisa 12 bakul.

Mark 6:43 - Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.

Ini sama dengan penuturan Luk 9:17; Mat 14:20.

Tetapi Yohanes memberikan informasi yang lebih jelas bahwa pengumpulan sisa-sisa itu adalah atas inisiatif Yesus.

Yoh 6:12 - Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-muridNya: ‘Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.’

Dan perhatikan bahwa tujuan Yesus menyuruh mengumpulkan semua sisa itu adalah supaya tidak ada yang terbuang. Lalu dikumpulkan untuk apa? Perhatikan bahwa sisa yang dikumpulkan adalah 12 bakul. Dan murid Yesus ada 12 orang yang sangat mungkin sepanjang acara itu belum makan karena sibuk melayani. Jadi 12 bakul itu adalah untuk 12 muridnya, 1 orang 1 bakul penuh. Tentu ini luar biasa dan indah karena Tuhan juga tahu memperhatikan kebutuhan mereka yang sungguh-sungguh melayani. Tetapi poinnya di sini adalah bahwa Tuhan menyuruh mengumpulkan sisa-sisa itu. Ia tentu saja bisa membuat mujizat roti lagi khusus untuk 12 murid-Nya tetapi Ia tidak melakukan itu karena nanti roti-roti yang sisa itu akan terbuang dengan percuma alias mubazir. Di sini Yesus memberikan teladan bagi kita tentang bagaimana menghemat dan tidak menghambur-hamburkan berkat yang ada karena ada orang lain yang membutuhkan berkat-berkat itu.

Matthew Henry "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih." Perhatikanlah, kita harus selalu berhati-hati sehingga tidak memboroskan apa pun dari ciptaan Allah yang baik. Karena semua berkat yang diberikan baik besar maupun kecil, diberikan dengan suatu syarat ini, yaitu bahwa tidak boleh ada pemborosan. Kalau boros, Allah akan membuat kita kekurangan akan hal-hal yang kita boroskan itu. Orang-orang Yahudi sangat berhati-hati agar jangan sampai membuang-buang roti. Mereka tidak akan membiarkan roti jatuh ke tanah untuk diinjak-injak. Qui panem contemnit in gravem incidit paupertatem - Orang yang menghina roti akan jatuh miskin dan papah. Inilah peribahasa mereka. Meskipun Kristus mampu mengadakan makanan jika Ia berkenan, namun Ia lebih menghendaki agar mereka mengumpulkan potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang. (Injil Yohanes 1-11, hal.356).

Albert Barnes - ‘12 bakul penuh’.... Adalah mungkin bahwa setiap rasul mempunyai satu bakul, dan semuanya penuh. Yohanes (Yoh 6:12) mengatakan bahwa Yesus mengarahkan mereka untuk mengumpulkan potongan-potongan ini, supaya tidak ada yang terbuang - suatu teladan dari penghematan. Allah menciptakan semua makanan, dan karena itu makanan mempunyai sifat kudus; itu semua dibutuhkan oleh orang-orang lain, dan karena itu tidak ada yang boleh terbuang. (From e-Sword Bible Software).

Benar sekali! Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan atau menghambur-hamburkan semua berkat Tuhan yang ada pada kita. Ini termasuk makanan kita! Dan karenanya jangan membuang-buang makanan terutama anak-anak. Dan saudara yang dewasa pun harus mengajarkan hal ini pada anak-anak untuk menghargai semua makanan yang mereka makan. Andar Ismail juga membuat doa tentang ini dalam bukunya yang sama yang disebutkan di atas (hal. 53-54).

Tiap Butir Nasi

Bapa kami dalam Kristus,
betapa mudah kami menundukkan kepala
dan begitu terbiasa untuk berdoa,
mengucapkan syukur bagi hidangan di meja.

Tidak disadari bahwa yang kami lakukan
sebetulnya adalah membuat pengakuan
bahwa semua makanan
adalah hasil ciptaan dan milik Tuhan.

Ajarlah kami menghargai makanan
dengan cara tidak menyia-nyiakan.
Biarlah tidak sebutir nasi pun tersisa,
terbuang dan tersia-sia.

Biarlah tidak ada sebatang toge atau kacang,
sehelai kangkung atau bawang,
sepotong pepaya atau pisang,
yang tersisa dan terbuang.

Tuhanlah yang empunya bumi
termasuk tiap butir nasi
yang patut kami hargai
dan syukuri.
Amin.

Tetapi ini termasuk juga hal-hal lain selain makanan. Misalnya uang! Jangan bersikap boros dan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang bukan merupakan kebutuhan kita. Belilah barang-barang yang merupakan kebutuhan saudara dan jangan membeli yang tidak saudara butuhkan.

Yes 55:2 - Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? …”

Kalau ada kelebihan makanan atau uang, ingatlah bahwa orang lain begitu membutuhkan hal itu. Salurkanlan pada mereka daripada itu dihambur-hamburkan dengan sia-sia. Kiranya kita dapat belajar dari sikap Yesus ini.


AMIN

Info : Versi videonya dapat dilihat di sini : YESUS TELADAN KITA
 
 











20 Juni 2015

Cuplikan Khotbah Pdt. Esra Soru : ”BERJALAN DALAM LEMBAH KEKELAMAN”

Maz 23:4 : Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Jikalau tadi kita sudah melihat apa yang dilakukan Tuhan sebagai Gembala, sekarang kita akan melihat bagaimana seharusnya kita bersikap sebagai domba ketika berada di lembah kekelaman / lembah bayang-bayang maut. Teks kita memperlihatkan 2 sikap yang harus kita miliki / lakukan :

a.      Kita harus terus berjalan.

Perhatikan :

Maz 23:4 - Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman….

Lembah kekelaman memang berbahaya, menakutkan dan mengerikan serta menciutkan hati. Tetapi domba tidak boleh kehilangan nyali untuk melewatinya karena ada gembala yang menyertainya. Musuh memang banyak yang siap memangsanya tetapi bukankah ada gada dan tongkat sang gembala yang akan menjamin keamananya? Karena itu domba harus mau terus berjalan melewati lembah kekelaman / lembah bayang-bayang maut itu.

Arti kiasan yang pertama dari lembah bayang-bayang maut adalah kehidupan yang penuh dengan kesulitan, tantangan, pergumulan, masalah, kesedihan, penderitaan, dsb. Dan kita tahu ada banyak orang yang ketika berada dalam kondisi hidup semacam ini tidak memiliki keberanian untuk terus berjalan maju. Mereka menjadi putus asa, hilang pengharapan, hilang iman dan tidak sedikit yang memilih bunuh diri.

Contohnya : Seorang gadis remaja bernama Jayah Shailyea (15 tahun) menerjunkan dirinya dari lantai 27 sebuah apartemen pada hari Valentine 2014. Mengapa ia membunuh dirinya? Karena ia merasa sangat kesepian di hari Valentine. Seorang lain bernama Bellinda Anggraini juga membunuh dirinya dengan menabrakan dirinya ke kereta api yang sementara melaju lantaran putus cinta. Mereka adalah orang yang menyerah dan tidak mau terus berjalan melewati lembah kekelaman / lembah bayang-bayang maut itu. Tapi domba-domba Tuhan adalah mereka yang akan terus berjalan sekalipun melintasi lembah bayang-bayang maut.

Dengarlah hai orang-orang muda, kalau cintamu kandas di rerumputan, jangan terlalu kecewa apalagi sampai putus asa dan bunuh diri. Itu mungkin adalah lembah kekelaman bagimu, tapi ingatlah, kamu harus terus berjalan. Jangan bilang “I can’t live without you” tapi bilanglah : “LIFE MUST GO ON WITH OR WITHOUT YOU”. Mungkin saja Tuhan mau memberikan kepadamu yang lebih baik daripada dia.

Saudara yang terkasih, saya tidak tahu apa yang menjadi lembah kekelaman saudara, saya tidak tahu apa yang menjadi lembah bayang-bayang maut di mana saudara berada di dalamnya. Saya tidak tahu apa pergumulan, masalah, kesulitan, kesedihan saudara, tapi apa pun juga yang saudara alami, jangan pernah menyerah, jangan pernah berputus asa. Teruslah berjalan maju melintasi lembah itu karena saudara tidak sendiri. Ada Tuhan Sang Gembala yang menyertai dan menghibur saudara. Ya, teruslah berjalan bersama Tuhan Sang Gembala yang baik itu karena tanpa itu engkau tidak akan pernah mencapai rumput hijau dan air yang tenang.     

b.      Kita tidak boleh takut.

Kita bukan hanya dituntut untuk terus berjalan, tapi juga berjalan dalam keadaan tidak takut.

Maz 23:4 - Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Silahkan ikuti khotbah ini secara lengkap di sini : https://www.youtube.com/watch?v=9IowXbag3uU

11 Juni 2015

IRI HATI

By. Esra Alfred Soru




I
ri hati adalah bahasa yang tidak asing bagi kita semua. Mungkin kita semua pernah mengalami perasaan iri hati tersebut terhadap orang lain. Mungkin kita juga pernah “di-iri hati-i” orang lain/menjadi sasaran iri hati orang lain. Bahkan mungkin di antara saudara ada orang yang sudah layak digelari ‘PAKAR IRI HATI’. Namun hari ini kita akan membicarakan masalah “iri hati” ini dari sudut pandang Alkitab.

Alkitab berisi banyak perintah/nasihat berkenaan dengan masalah iri hati ini.

Maz  37:1 : “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang”

Ams  3:31 : Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satu pun dari jalannya”

Dan masih banyak ayat lainnya!

Dan Alkitab mengklasifikasikan orang-orang yang iri hati sebagai orang yang hidup dalam kegelapan.

Rom 13:12-13 : (12) Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! (13) Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.

Dan juga manusia duniawi / kedagingan.

1 Kor 3:3 : Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

Gal 5:19-30 : Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah…”

Hari ini kita akan membahas 3 hal penting berkenaan dengan masalah iri hati ini :

I.        APA ITU IRI HATI?

Hal pertama yang akan kita bahas adalah apakah iri hati itu? Apa sesungguhnya iri hati itu? Apakah setiap kemarahan terhadap orang lain dapat disebut iri hati? Apakah setiap kejengkelan terhadap orang lain dapat disebut iri hati? Apakah setiap ketidaksenangan terhadap orang lain dapat disebut iri hati? Apakah setiap ketidaksukaan terhadap orang lain dapat disebut iri hati? MAYBE YES, MAY BE NO! Tergantung pada alasan atau motivasi. Untuk mendapat gambaran tentang konsep iri hati ini, marilah kita perhatikan Mat 20:1-15 :

Mat 20:1-15 - (1) "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. (2) Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. (3) Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. (4) Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi. (5) Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. (6) Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? (7) Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. (8) Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. (9) Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. (10) Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. (11) Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, (12) katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. (13) Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (14) Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. (15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Konteks perikop ini memang lain (hal kerajaan surga) tetapi perikop ini juga dapat mengajarkan kepada kita tentang konsep iri hati. Perikop ini menceritakan tentang pekerja-pekerja di kebun anggur yang sebenarnya terdiri dari 5 grup :

·         Yang didapat pagi-pagi benar (ay 1-2). Perjanjian tentang upah mereka adalah 1 dinar per hari.

Mat 20:1-2 - (1) "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. (2) Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

·         Yang didapat pukul 9 pagi (ay 3-4). Perjanjian tentang upah: apa yang pantas.

Mat 20:3-4 - (3) Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. (4) Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.

·         Yang didapat pukul 12 siang (ay 5a). Perjanjian tentang upah sama dengan golongan kedua (ay 5).

Mat 20:5 - Kira-kira pukul dua belas .... ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

·         Yang didapat pukul 3 siang (ay 5b). Perjanjian tentang upah sama dengan golongan kedua (ay 5).

Mat 20:5 - Kira-kira .... pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

·         Yang didapat pukul 5 sore (ay 6-7). Tak ada perjanjian sama sekali!

Mat 20 :6-7 - (6) Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? (7) Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Setelah pekerjaan selesai, pemilik kebun anggur ini lalu memanggil para pekerja itu untuk membayar upah mereka. Yang masuk kerja pada jam 6 sore mendapatkan bayaran terlebih dahulu yakni 1 dinar. Melihat ini yang bekerja lebih awal merasa bahwa mereka akan mendapatkan bayaran lebih banyak. Tetapi ternyata mereka juga mendapatkan bayaran 1 dinar.

Mat 20 :8-9 - (8) Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. (9) Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. (10) Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.

Hal ini lalu membuat para pekerja yang masuk kerja dari pagi bersungut-sungut.

Mat 20:11-12 - (11) Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, (12) katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

Lalu tuan itu menjawab :

Mat 20:13-15 - (13) Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (14) Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. (15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Jelas terlihat bahwa pekerja-pekerja yang pertama (yang bekerja dari pagi-pagi benar) merasa iri hati terhadap yang bekerja terakhir (jam 5 sore). Ini juga dibuktikan dengan kata-kata tuan itu dalam ayat 15 : “atau iri hatikah engkau…?” Mengapa mereka marah / tidak senang? Apakah memang mereka dirugikan? Menurut perjanjian, mereka diupah 1 dinar 1 hari dan benar bahwa mereka dibayar sesuai perjanjian. Jadi mereka tidak dirugikan sama sekali! Mereka tidak senang karena yang bekerja belakangan digaji sama rata dengan mereka. Jadi mereka marah karena yang lain diuntungkan.

Inilah konsep iri hati. Iri hati itu bukanlah kemarahan karena kita dirugikan tetapi karena orang lain diuntungkan. Iri hati itu bukanlah kemarahan karena kita diperlakukan dengan tidak adil tetapi karena orang lain diperlakukan dengan kasih. Iri hati bukanlah kemarahan karena kita diturunkan tetapi karena orang lain dinaikkan. Iri hati bukanlah kemarahan karena kita dihina tetapi karena orang lain dipuji. Iri hati bukanlah kemarahan karena kita direndahkan tetapi karena orang lain disanjung.

Budi Asali : “Sesuatu yang menarik dari rasa iri hati adalah bahwa orang yang iri hati itu seringkali bukannya ingin lebih banyak untuk dirinya sendiri, tetapi ingin orang lain yang dikurangi bagiannya”

Anonim : Iri hati tidak menuntut lebih untuk dirinya sendiri, tetapi menginginkan supaya yang lain mendapat lebih sedikit.

Jadi jika di kantor anda menjadi marah karena perhatian lebih yang diberikan bos kepada rekan anda, berarti anda sedang iri hati. Jika di sekolah / kampus anda menjadi marah karena teman anda dipuji guru / dosen, berarti anda sedang iri hati. Jika di pelayanan anda menjadi marah karena rekan sepelayanan disanjung, berarti anda sedang iri hati, dll. Marilah kita koreksi diri, adakah kita termasuk orang-orang yang iri hati?

II.      DAMPAK NEGATIF  DARI IRI HATI.

Setelah mengetahui konsep iri hati, sekarang kita akan membahas dampak negatif dari iri hati.

a.       Iri hati pada prinsipnya merusak / merugikan diri sendiri.

Dampak negatif pertama dari perasaan iri terhadap orang lain adalah merusak / merugikan diri kita sendiri. Bahwa iri hati dapat merusak / merugikan diri sendiri dibuktikan dengan beberarapa ayat Alkitab.

Ayub 5:2 : ‘Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati.

Ams 14:30 : “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

Ilmu antropologi dan psikologi mengajarkan kepada kita tentang hubungan antara tubuh dan jiwa.  Hubungan ini merupakan sesuatu yang misterius dan tidak bisa dimengerti sepenuhnya.

1)       Kadang jiwa mempengaruhi tubuh.

Kebanyakan gerakan tubuh tergantung kepada jiwa, seperti berjalan, berolah raga, dsb. Tetapi ada juga gerakan tubuh yang tidak tergantung kepada jiwa, seperti denyut jantung, pencernaan yang dilakukan oleh usus, atau keluarnya keringat. Contoh tubuh dipengaruhi oleh jiwa seperti kalau jiwa kacau (stress, depresi), tubuh bisa sakit. Itulah sebabnya Ams  17:22 berkata : Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. Kalau orang malu, mukanya menjadi merah. Kalau orang merasa sukacita, matanya berbinar-binar sebagaimana kata Ams 15:13 : ‘Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.

2)       Kadang tubuh mempengaruhi jiwa

Misalnya orang yang otaknya rusak maka pikirannya  / jiwanya menjadi terganggu. Orang yang sudah tua (otaknya tua) lalu menjadi pikun.

Jelas bahwa ada hubungan saling mempengaruhi antara jiwa dan tubuh. Dengan demikian apabila jiwa (hati bagian dari jiwa) kita dipenuhi dengan perasaan iri (juga dendam), itu akan mempengaruhi tubuh dan bisa mengakibatkan orang menjadi sakit. Perhatikan kutipan berikut ini :

Lianny Hendranata - Ya kebencian sangat besar pengaruhnya dalam hidup ini, banyak orang tanpa sadar memelihara kebencian dalam dirinya, hingga suatu hari kebencian bertunas menjadi dendam dan membuat tubuhnya menjadi pabrik penyakit kronis….Kebencian membuat kita selalu merasa kenyang, enggan makan, sulit tidur. Di situlah kebencian sudah mulai membuat tubuh kita hancur sedikit demi sedikit, kebencian membuat maag kita menjadi kanibal yaitu mencerna dirinya sendiri karena produksi asam lambung yang berlebihan, dan akhirnya membuat imunsistem kita melemah, membuat kita menjadi pelanggan flu ringan sampai berat, bahkan tidak tertutup kemungkinan menjadi penderita kanker. (Suara Pembaruan Edisi 26 Sept 2009).

Lianny Hendranata - Sangat menarik melihat 'benang merah' antara kondisi jiwa kita dengan efek yang terjadi pada fisik kita. Beberapa riset terlihat kenyataan kondisi darah yang mengalir dalam tubuh menjadi kental dan berwarna merah gelap serta mengalir tersedat-sedat, ketika seseorang memikirkan kembali, kejadian-kejadian yang membuatnya sakit hati atau tersakiti secara psikis bukan fisiknya. Demikian juga riset pada pola energi elektromagnetik tubuh menggunakan mesin AVS (Aura Video Station) di mana medan energi berwarna yang kita kenal dengan sebutan aura, pancarannya menjadi susut, serta menjadi keruh dan kehilangan cahayanya saat seseorang mengembalikan ingatannya pada hal-hal yang membuatnya sakit hati, marah dan sedih…. kesimpulannya "Memelihara ingatan (dendam) pada orang yang menyakiti kita, sama seperti kita sendiri yang minum racun dan berharap orang lain yang akan mati.!" (Suara Pembaruan Edisi 26 Sept 2009)

Karena itu lalau anda sakit dan tidak sembuh-sembuh, jangan cepat salahkan Tuhan atau menuduh ‘orang bikin’. Periksa diri jangan-jangan ada yang tidak beres dengan jiwa saudara (dendam, kebencian, iri hati).

Iri hati juga menghancurkan jiwa kita karena kita akan kehilangan sukacita dan damai sejahtera. Pada akhirnya, iri hati itu juga akan menghancurkan iman kita.

b.       Iri hati mempengaruhi / merusak hubungan dengan orang lain.

Selain merusak diri sendiri, iri hati juga merusak hubungan dengan orang lain. Bukankah hubungan Kain dan Habel menjadi rusak yang berujung pada pembunuhan Habel oleh Kain, penyebabnya adalah iri hati (Kej 4)? Bukankah hubungan Yusuf dan dan saudara-saudaranya menjadi rusak yang berujung pada dijualnya Yusuf ke Mesir, penyebabnya adalah iri hati?

Kej 37:11 : “Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya.

Kis  7:9 : Karena iri hati, bapa-bapa leluhur kita menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia”

Bukankah hubungan Daud dan Saul menjadi rusak di mana Saul hendak membunuh Daud, penyebabnya adalah iri hati?

1 Sam  18:7-8 : (7) dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." (8) Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun jatuh kepadanya."

Semua contoh itu sudah cukup memberikan pengertian kepada kita bahwa iri hati menyebabkan hubungan kita dengan orang lain menjadi rusak. Entah berapa banyak relasi yang baik menjadi hancur karena adanya virus iri hati ini.

c.        Iri hati mempengaruhi/merusak hubungan kita dengan Allah

Bahwa iri hati mempengaruhi hubungan dengan Allah dapat dijelaskan sebagai berikut. Firman Tuhan melarang kita untuk iri hati terhadap orang lain. Jika kita iri hati terhadap orang lain maka kita sedang melawan Firman Tuhan. Kalau kita melawan Firman Tuhan maka itu adalah dosa. Dan dosa merusak hubungan dengan Tuhan.

Selain itu iri hati juga dapat mendatangkan murka Tuhan atas kita.

Bil 12:1-9 - (1) Miryam serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. (2) Kata mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN (3) Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi. (4) Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka keluarlah mereka bertiga. (5) Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka keduanya. (6) Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. (7) Bukan demikian hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. (8) Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?" (9) Sebab itu bangkitlah murka TUHAN terhadap mereka, lalu pergilah Ia. (10) Dan ketika awan telah naik dari atas kemah, maka tampaklah Miryam kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam, maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!

Dari kasus Miryam ini nampak bahwa iri hati tidak membawa keuntungan apa-apa, malah kerugian dan malapetaka atas diri sendiri. Allah murka terhadapnya, ia terkena penyakit kusta, ia dikucilkan dan dipermalukan.

Bil 12:14-15 - (14) Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari? Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali." (15) Jadi dikucilkanlah Miryam ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat sebelum Miryam diterima kembali.

Seorang guru mempunyai 2 orang murid. Yang satu adalah orang yang penuh iri hati, dan yang satu lagi seorang yang sangat tamak. Suatu hari sang guru memanggil kedua murid ini dan berkata kepada mereka bahwa ia akan mengasingkan diri dan tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Ia lalu memberi kesempatan kepada kedua muridnya untuk meminta sesuatu darinya. Apa saja permintaan mereka akan dikabulkan. Hanya saja yang meminta terakhir akan mendapatkan 2 kali lipat dari yang meminta pertama. Jadi kalau yang pertama meminta uang 1 juta maka yang kedua akan mendapatkan uang 2 juta. Apabila yang pertama meminta 1 buah rumah maka yang kedua akan mendpaatkan 2 buah rumah. Ini lalu menjadi masalah karena si iri hati dan si tamak ini tidak ada yang mau meminta terlebih dahulu karena itu otomatis akan menguntungkan yang lain. Maka kedua murid itu bertahan berhari-hari tanpa seorang pun yang mau meminta terlebih dahulu. Setelah menunggu hingga 2 minggu, si tamak pun tidak dapat menahan diri lagi. Ia lalu mengunjungi si iri hati dan mengancam untuk membunuhnya jika tidak meminta terlebih dahulu. Si iri hati pun lalu berjanji besok dia akan menghadap guru dan meminta terlebih dahulu. Tapi malam itu ia tidak bisa tidur, ia sibuk berpikir bagaimana caranya meminta terlebih dahulu tanpa menguntungkan si tamak? Akhirnya pada pagi harinya ia menghadap sang guru dan dia meminta agar sang guru memenggal 1 buah tangannya. Dan guru pun memenggalnya. Otomatis yang kedua yakni si tamak harus mendapatkan 2 kali lipat jadi guru pun memotong kedua tangannya.

Cerita ini menggambarkan kepada kita bahwa pada akhirnya iri hati hanya akan membawa kerugian pada diri kita sendiri.

III.   CARA SUPAYA TIDAK IRI HATI.

Setelah melihat dampak negatif dari iri hati, kita juga perlu mengetahui cara supaya terhindar dari perasaan iri terhadap orang lain. Bagaimana caranya ? Saya berpendapat bahwa cara terbaik untuk terhindar dari iri hati adalah kita meneladani prinsip Yohanes Pembaptis.

Yoh 3 :22-28  - (22) ‘Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis. (23) Akan tetapi Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, (24) sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara. (25) Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. (26) Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya." (27) Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. (28) Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.

Jelas ada nada iri hati dari murid-murid Yohanes Pembaptis karena mendapati fakta bahwa guru mereka mulai kalah pamor dari Yesus dan “semua orang pergi kepada-Nya”.

Yoh 3:26  - Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya."

Jawaban Yohanes Pembaptis adalah :

Yoh 3 :27 - Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.

Maksud Yohanes adalah, jika pada akhirnya banyak orang pergi meninggalkannya dan mengikut Yesus, itu bukan karena Yesus mencuri murid-muridnya/domba-dombanya melainkan karena itu sudah dikaruniakan bagi Yesus dari sorga (Bapa).

Ini prinsipnya! Sadar bahwa "Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga” akan membuat kita terhindar dari rasa iri hati terhadap orang itu. Jika ada orang lebih pintar dari saya, jika ada orang lebih ganteng/cantik dari saya, jika ada orang lebih populer dari saya, jika ada orang lebih kaya dari saya, jika ada orang lebih disenangi dari pada saya, jika ada orang lebih menarik dari saya, jika ada orang lebih mampu dari saya, dll, SEMUA ITU KARENA DIKARUNIAKAN KEPADANYA DARI SORGA. Iri hati terhadap mereka sama dengan melawan keputusan sorga.

William Barclay menceritakan tentang seorang pendeta di sebuah gereja bernama Dr. Spence. Ia adalah pengkhotbah yang sangat bagus dan gerejanya dikunjungi banyak orang. Tapi dengan bertambahnya usianya, kemampuan berkhotbahnya menjadi sangat menurun. Secara perlahan jumlah jemaatnya semakin menurun dan terus menurun hingga pada suatu hari minggu ketika ia naik ke atas mimbar untuk berkhotbah, ia tidak menemukan seorang jemaat pun di sana kecuali para majelis gereja. Ia lalu bertanya kepada para majelis ‘di manakah jemaat kita semua ?’ Para majelis pun menjawab ‘mereka semua ada di gereja baru di sxeberang jalan sana untuk mendengarkan seorang pengkhotbah muda yang sangat bagus’. Dr. Spence tersenyum, ia turun dari mimbar dan berkata kepada semua majelisnya ‘saya rasa hari ini kita perlu mengikuti semua jemaat kita. Mari kita berkunjung ke gereja di seberang jalan itu’. Dan pergilah mereka semuanya ke sana.

Ini sesuatu yang luar biasa ! Tidak ada rasa iri hati dalam diri Dr. Spence. Ia sadar jikalau orang lain mempunyai kemampuan yang lebih daripadanya, itu karena dikaruniakan kepadanya dari surga. Jikalau pikiran yang sama ada di dalam kita, niscaya kita tidak akan menjadi iri hati dengan orang lain.


AMIN


Ada kesalahan di dalam gadget ini