26 Januari 2011

KEDAULATAN ALLAH & KEBEBASAN MANUSIA (Part 6)

Tanggapan Atas Tulisan Dr. Steven E.Liauw

Oleh : Pdt. Budi Asali, M. Div

Note : Warna hitam adalah tulisan Steven Liauw dan warna biru adalah tanggapan Pdt. Budi Asali.


VI. Pengajaran Alkitab

Walaupun sudah cukup banyak ayat-ayat yang kita lihat dalam pembahasan sejauh ini, bagian ini akan secara spesifik membahas berbagai ayat yang berhubungan dengan kedaulatan Tuhan, kebebasan manusia, dan apakah Tuhan menentukan segala sesuatu atau tidak.

A. Alkitab Mengajarkan Bahwa Allah Tidak Menentukan Segala Sesuatu

Tanggapan saya:

O ya? Kalau bagitu anda menggunakan Alkitab yang berbeda dengan punya saya?

Ada banyak alasan dari Alkitab, mengapa Allah tidak mungkin menentukan segala sesuatu. Mari kita perhatikan satu persatu alasan-alasan di bawah ini.

Pertama, Allah sendiri menyatakan bahwa Dia tidak menentukan segala sesuatu! Mengenai praktek penyembahan berhala dan pengorbanan anak yang ditiru oleh orang Israel dari bangsa-bangsa sekitar mereka, Allah berkata: “Mereka telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi Baal untuk membakar anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada Baal, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan atau Kukatakan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku” (Yer. 19:5). Jikalau Tuhan tidak pernah memerintahkannya, dan bahkan tidak pernah timbul dalam hati Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan menentukannya? Mustahil! Justru dosa yang sangat biadab ini muncul dari hati manusia yang jahat, bukan ditentukan oleh Tuhan. Tuhan menegaskan bahwa hal ini tidak pernah timbul dalam hatiNya! Apakah Kalvinis mau percaya kepada pernyataan langsung dari Tuhan, atau lebih percaya kepada guru-guru Kalvinis mereka? Ataukah Tuhan membohongi kita, dan bahwa sebenarnya tindakan ini telah ditentukan dalam suatu “dekrit rahasia?” Saya lebih percaya pada Tuhan!

Tanggapan saya:

Ini tololnya pemikiran dan penafsiran Arminian! Tidak pernah bisa membedakan apakah Allah bicara dari sudut pandangNya sendiri atau ia bicara dengan cara menyesuaikan diri dengan kapasitas manusia yang terbatas.

Kata-kata ‘tidak pernah timbul dalam hatiKu’ juga muncul dalam Yer 7:31.

Yer 7:31 - “Mereka telah mendirikan bukit pengorbanan yang bernama Tofet di Lembah Ben-Hinom untuk membakar anak-anaknya lelaki dan perempuan, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan dan yang tidak pernah timbul dalam hatiKu.

Calvin (tentang Yer 7:31): The Prophet’s words then are very important, when he says, that God had commanded no such thing, and that it never came to his mind; as though he had said, that men assume too much wisdom, when they devise what he never required, nay, what he never knew. It is indeed certain, that there was nothing hid from God, even before it was done: but God here assumes the character of man, as though he had said, that what the Jews devised was unknown to him, as his own law was sufficient (= ).

Anda mengatakan ‘Apakah Kalvinis mau percaya kepada pernyataan langsung dari Tuhan, atau lebih percaya kepada guru-guru Kalvinis mereka? Ataukah Tuhan membohongi kita, dan bahwa sebenarnya tindakan ini telah ditentukan dalam suatu “dekrit rahasia?” Saya lebih percaya pada Tuhan!’.

Saya jawab:

a) Apa yang anda katakan, bukanlah pernyataan langsung dari Tuhan, tetapi merupakan penafsiran anda tentang ayat Firman Tuhan! Firman Tuhannya pasti benar, tetapi penafsiran anda, sama sekali tidak!

b) Ayat manapun butuh penafsiran. Bahkan pada waktu Alkitab diterjemahkan, sudah butuh penafsiran. Jadi, menggunakan kata-kata ‘pernyataan langsung dari Tuhan’ untuk mendesak orang percaya penafsiran anda merupakan kata-kata tolol! Anda memang punya gelar doktor ya? Rasanya kok tidak cocok!

Kedua, sifat Allah yang mahakudus tidak memungkinNya menentukan dosa! Poin ini telah dibahas sebelumnya, jadi hanya akan disinggung sekilas saja. Allah yang “kudus, kudus, kudus” (Yes. 6:3) dan yang “membenci kefasikan” (Maz. 45:8), tidak mungkin menetapkan dan mengharuskan adanya kefasikan dan dosa.

Tanggapan saya:

Saya juga sudah menjawabnya di atas, tidak perlu saya ulangi!

Ketiga, Allah tidak bermain sandiwara! Berbicara melalui Yesaya kepada kaum Israel, Tuhan berkata, “Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus” (Yes. 45:19). Nyatanya, banyak keturunan Yakub yang tidak mencari Tuhan! Apakah Tuhan menentukan mereka untuk tidak mencariNya, lalu memberi perintah untuk mencariNya? Itu sandiwara! Tetapi ayat ini menegaskan bahwa Tuhan tidak bermain seperti itu. Tuhan tidak menetapkan ketidakpercayaan Israel. Jelas, Tuhan tidak menetapkan segala sesuatu.

Tanggapan saya:

Lagi-lagi ini penafsiran anda, Liauw! Dan anda menggunakan dan menafsirkan satu ayat tanpa mempedulikan ayat-ayat lain dalam Alkitab yang mempunyai hubungan dengan ayat itu!

Mengapa tidak mempedulikan ayat-ayat ini:

Ro 3:10-12 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”.

Bukan hanya sebagian dari keturunan Yakub yang tidak mencari Allah. Ro 3:11 ini mengatakan ‘tidak ada seorangpun yang mencari Allah’! Mau percaya Firman Tuhan atau tidak, Liauw?

Sekarang kalau memang Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada manusia yang mencari Allah, mengapa dalam faktanya ada orang-orang yang mencari Allah (misalnya 2Taw 19:3)? Jelas karena Allahnya sudah mencari manusia lebih dulu, mengubahkan mereka, sehingga mereka mau mencariNya. Tanpa pekerjaan Allah dalam diri seseorang, berlaku Ro 3:11, tak ada orang yang mencari Allah.

Dalam Luk 19:10, Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Istilah ‘Anak Manusia’ menunjuk kepada Yesus, yang juga adalah Allah sendiri. Jadi ayat ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pada waktu manusia itu terhilang dalam dosa, Allah mencari manusia untuk menyelamatkannya.

Bdk. Yeh 34:16 - Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya”.

Tidak ada domba hilang yang mencari gembalanya, gembalanyalah yang mencari domba yang hilang itu.

Bdk. 1Kor 2:14 - Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

Kis 16:14 - “Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.

Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

Lalu siapa yang Dia ubahkan sehingga mencari Dia, dan siapa yang tidak? Itu ditentukan oleh kehendak / rencana kekalNya, Liauw! Karena itu, pada akhirnya yang betul-betul datang kepada Kristus adalah orang-orang pilihan!

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Karena itu juga maka Yesus berkata dalam Yoh 15:16 - Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu”.

Apakah anda anggap sebagai sandiwara atau tidak, itu urusan anda. Tetapi yang jelas ayat-ayat Alkitab sangat banyak yang secara explicit menyuruh percaya kepada Yesus, dan pada sisi yang lain, sangat banyak juga yang mengatakan bahwa hanya orang-orang pilihan yang bisa percaya kepada Yesus. Saya percaya pada Alkitab, dan bukan pada kesimpulan anda bahwa ini merupakan suatu sandiwara.

By the way, ayat mana yang mengatakan Allah bersandiwara atau tidak bersandiwara?

Keempat, jika Allah menentukan segala sesuatu, manusia tidak bertanggung jawab! Ini juga telah dibahas dibagian sebelumnya. Tentang Yudas, Tuhan Yesus berkata, “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!” (Luk 22:22). Kalvinis sering salah mengartikan kata “telah ditetapkan,” dan menyimpulkan bahwa pengkhianatan Yudas ditetapkan oleh Allah. Tetapi ayat ini tidak berkata bahwa tindakan Yudas ditetapkan Tuhan. Ayat ini mengajarkan bahwa adalah ketetapan Allah agar Yesus diserahkan dan disalibkan. Silakan lihat lagi bagian pembahasan tentang bagaimana Tuhan mengendalikan sejarah. Melalui kemahatahuan dan intervensi Allah (kelahiran Yesus, dll), Tuhan tahu bahwa imam-imam kepala akan memutuskan untuk membunuh Yesus. Hal ini Tuhan pakai dalam rencanaNya bagi keselamatan manusia. Jadi, penyaliban Yesus memang adalah menurut rencana dan maksud Allah. Allah bukan menetapkan maksud jahat manusia, Allah menetapkan bahwa maksud jahat mereka boleh terlaksana! Tuhan bukan menetapkan bahwa Yudas akan menjual Yesus, tetapi Tuhan menetapkan bahwa niat jahatnya itu dapat terlaksana, sesuai rencana Tuhan. Jika Tuhan yang menetapkan Yudas untuk menjualnya, dan Yudas tidak punya pilihan lain, maka di manakah keadilan perkataan Yesus: “celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”

Tanggapan saya:

Ini juga sudah saya bahas, patahkan, dan hancurkan!

Penafsiran anda tentang Luk 22:22 menggelikan. Coba baca mulai ayat 21nya.

Luk 22:21-22 - “(21) Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini. (22) Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!’”.

Yang anda bicarakan / bahas adalah bagian yang saya garis-bawahi, bukan? Anda mengatakan bahwa inilah, dan bukannya pengkhianatan Yudas Iskariot, yang telah ditetapkan. Tetapi coba baca kontextnya. Ay 21nya bicara tentang Yudas Iskariot dan tindakan menyerahkan / mengkhianati Yesus , dan ay 22b juga demikian. Masakan ay 22a tidak berbicara tentang tindakan menyerahkan / mengkhianati dari Yudas Iskariot? Ini penafsiran yang dipaksakan; anda memperkosa dan membengkokkan Firman Tuhan!

Bahwa kata ‘menyerahkan’ sering digunakan untuk menunjuk pada pengkhianatan Yudas Iskariot, terlihat dari banyak ayat seperti ayat-ayat di bawah ini:

Mat 26:15 Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.

Mat 26:16 Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Mat 26:21 Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."

Mat 26:23 Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.

Mat 26:25 Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."

Mat 26:46 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."

Mat 26:48 Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia."

Matthew Henry: “He foretels that the treason would take effect (v. 22): Truly the Son of man goes as it was determined, goes to the place where he will be betrayed; for he is delivered up by the counsel and foreknowledge of God, else Judas could not have delivered him up.

Calvin (tentang Mat 26:24): The Son of man indeed goeth. Here Christ meets an offense, which might otherwise have greatly shaken pious minds. For what could be more unreasonable than that the Son of God should be infamously betrayed by a disciple, and abandoned to the rage of enemies, in order to be dragged to an ignominious death? But Christ declares that all this takes place only by the will of God; and he proves this decree by the testimony of Scripture, because God formerly revealed, by the mouth of his Prophet, what he had determined. We now perceive what is intended by the words of Christ. It was, that the disciples, knowing that what was done was regulated by the providence of God, might not imagine that his life or death was determined by chance. But the usefulness of this doctrine extends much farther; for never are we fully confirmed in the result of the death of Christ, till we are convinced that he was not accidentally dragged by men to the cross, but that the sacrifice had been appointed by an eternal decree of God for expiating the sins of the world. For whence do we obtain reconciliation, but because Christ has appeased the Father by his obedience? Wherefore let us always place before our minds the providence of God, which Judas himself, and all wicked men - though it is contrary to their wish, and though they have another end in view - are compelled to obey. Let us always hold this to be a fixed principle, that Christ suffered, because it pleased God to have such an expiation. And yet Christ does not affirm that Judas was freed from blame, on the ground that he did nothing but what God had appointed. For though God, by his righteous judgment, appointed for the price of our redemption the death of his Son, yet nevertheless, Judas, in betraying Christ, brought upon himself righteous condemnation, because he was full of treachery and avarice. In short, God’s determination that the world should be redeemed, does not at all interfere with Judas being a wicked traitor. Hence we perceive, that though men can do nothing but what God has appointed, still this does not free them from condemnation, when they are led by a wicked desire to sin. For though God directs them, by an unseen bridle, to an end which is unknown to them, nothing is farther from their intention than to obey his decrees. Those two principles, no doubt, appear to human reason Lo be inconsistent with each other, that God regulates the affairs of men by his Providence in such a manner, that nothing is done but by his will and command, and yet he damns the reprobate, by whom he has carried into execution what he intended. But we see how Christ, in this passage, reconciles both, by pronouncing a curse on Judas, though what he contrived against God had been appointed by God; not that Judas’s act of betraying ought strictly to be called the work of God, but because God turned the treachery of Judas so as to accomplish His own purpose. I am aware of the manner in which some commentators endeavor to avoid this rock. They acknowledge that what had been written was accomplished through the agency of Judas, because God testified by predictions what He fore-knew. By way of softening the doctrine, which appears to them to be somewhat harsh, they substitute the foreknowledge of God in place of the decree, as if God merely beheld from a distance future events, and did not arrange them according to his pleasure. But very differently does the Spirit settle this question; for not only does he assign as the reason why Christ was delivered up, that it was so written, but also that it was so determined. For where Matthew and Mark quote Scripture, Luke leads us direct to the heavenly decree, saying, according to what was determined; as also in the Acts of the Apostles, he shows that Christ was delivered not only by the foreknowledge, but likewise by the fixed purpose of God, (Acts 2:25) and a little afterwards, that Herod and Pilate, with other wicked men, did those things which had been fore-ordained by the hand and purpose of God, (Acts 4:27, 28.).

Hal lain lagi yang harus dipertimbangkan adalah bahwa Luk 22:22 itu paralel dengan Mat 26:24 dan juga dengan Yoh 13:21-26 - “(21) Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.’ (22) Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkanNya. (23) Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihiNya, bersandar dekat kepadaNya, di sebelah kananNya. (24) Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: ‘Tanyalah siapa yang dimaksudkanNya!’ (25) Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepadaNya: ‘Tuhan, siapakah itu?’ (26) Jawab Yesus: ‘Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.’ Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot”.

Jadi, mana bisa yang dibicarakan dalam Luk 22:22a bukan pengkhianatan Yudas Iskariot?

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yoh 13:22): “Then the disciples looked one on another, doubting (or ‘being in doubt’) of whom he spake. Further intensely interesting particulars are given in the other Gospels. First, ‘They were exceeding sorrowful’ (Matt 26:22). Second, ‘They began to inquire among themselves which of them it was that should do this thing’ (Luke 22:23). Third, ‘They began to say unto Him one by one, Is it I? and another, Is it I?’ (Mark 14:19). Generous, simple hearts! They abhorred the thought, but, instead of putting it on others, each was only anxious to purge himself, and know if he could be the wretch. Their putting it at once to Jesus Himself, as knowing doubtless who was to do it, was the best, as it certainly was the most spontaneous and artless, evidence of their own innocence. Fourth, Jesus-apparently while this questioning was going on-added, ‘The Son of Man goeth as it is written of Him: but woe unto that man by whom the Son of Man is betrayed! it had been good for that man if he had not been born’ (Matt 26:24). Fifth, ‘Judas,’ last of all, ‘answered and said, Lord, Is it I?’ evidently feeling that when all were saying this, if he were to hold his peace, that of itself would draw suspicion upon him. To prevent this the question is wrung out of him, but perhaps, amidst the stir and excitement at the table, in a half-suppressed tone-as we are inclined to think the answer also was - ‘Thou hast said’ (Matt 26:25), or possibly by little more than a sign; for from John 13:28, below, it is evident that until the moment when he went out he was not openly discovered”.

Kelima, Alkitab mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak dirinya sendiri! Daud berkata kepada Salomo: “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya” (1 Taw. 28:9). Salomo diperintahkan untuk beribadah dengan rela hati. Kerelaan hati mengimplikasikan bahwa tindakan itu adalah atas dasar keinginan sendiri, bukan dipaksa atau ditentukan oleh orang lain. Kerelaan hati yang telah ditentukan oleh Tuhan adalah konsep yang kontradiktif. Masih banyak ayat lain yang berbicara mengenai kerelaan seseorang (e.g. Ezra 7:13; Hakim 5:2).

Ada juga ayat-ayat tentang kehendak manusia. Tuhan berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7). Apakah Tuhan telah menetapkan kehendak kita, lalu menyuruh kita untuk meminta sesuai dengan “kehendak” yang telah ditetapkan itu? Apakah ini tidak terdengar aneh bagi anda? Pembacaan Alkitab yang normal, dan pengalaman hidup sehari-hari memberitahu kita bahwa kehendak kita sungguh adalah kehendak kita sendiri, bukan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Kalvinis juga mengajarkan bahwa dalam hidup ini, keputusan-keputusan manusia seolah-olah adalah keputusannya sendiri. Hanya saja, menurut mereka sebenarnya keputusan itu telah ditetapkan dalam “dekrit rahasia” Allah. Tetapi, saya tidak tahu siapa yang memberitahu para Kalvinis “rahasia” ini, karena sama sekali tidak ada dalam Alkitab.

Tanggapan saya:

Lagi-lagi anda menggunakan ayat-ayat yang menyoroti dari sudut manusia, bukan dari sudut Allah. Siapa bilang Calvinisme percaya manusia tak punya kehendak? Mereka melakukan semua hal dengan kehendak mereka sendiri, tetapi pada saatv yang sama apa yang mereka lakukan adalah rencana Tuhan / ketetapan Tuhan.

Omongan anda bertele-tele, itu-itu saja. Tak punya argumentasi yang lain?

Keenam, Alkitab mengajarkan bahwa doa dapat mengubah keadaan! Kebanyakan orang Kristen yang berdoa, percaya bahwa doanya dapat membawa perubahan dalam dunia ini. Tetapi, jika segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah, maka bagaimana mungkin doa dapat membawa perubahan? Oleh sebab itulah, James O. Wilmoth, seorang Kalvinis, berkata: “Kita tahu bahwa Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu yang terjadi. Ia mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan maksud kehendakNya sendiri. Sulit untuk merekonsiliasi doa dengan kehendak Allah yang tidak berubah.” David West berkata, “Doa tidak mengubah apapun, doa juga tidak mengubah Allah atau pikiranNya.” Bandingkanlah dengan ayat-ayat Alkitab seperti berikut:

Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali roti tidak kumakan dan air tidak kuminum karena segala dosa yang telah kamu perbuat, yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya. Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu. Tetapi sekali inipun TUHAN mendengarkan aku. Juga kepada Harun TUHAN begitu murka, hingga Ia mau membinasakannya; maka pada waktu itu aku berdoa untuk Harun juga. (Ul. 9:18-20)

Tanggapan saya:

Mengatakan bahwa doa bisa mengubah kehendak Allah, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang tak tahu Alkitabnya sendiri.

1Yoh 5:14 - “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.

Mat 6:10b - jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga”.

Mat 26:39,42 - “(39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ ... (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.

Mat 20:20-23 - “(20) Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapanNya untuk meminta sesuatu kepadaNya. (21) Kata Yesus: ‘Apa yang kaukehendaki?’ Jawabnya: ‘Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam KerajaanMu, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu.’ (22) Tetapi Yesus menjawab, kataNya: ‘Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?’ Kata mereka kepadaNya: ‘Kami dapat.’ (23) Yesus berkata kepada mereka: ‘CawanKu memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa BapaKu telah menyediakannya.’”.

Kalau doa bisa mengubah rencana Allah, lalu bagaimana kita menafsirkan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Rencana Allah tak bisa berubah ataupun gagal?

Bil 23:19 - “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.

1Sam 15:29 - “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal”.

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.

Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu”.

B. Ayat-Ayat Alkitab yang Disalahgunakan Kalvinis

Dalam usaha mereka untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, Kalvinis mencoba untuk memakai berbagai ayat Alkitab. Kita akan melihat, apakah ayat-ayat yang mereka pakai sungguh mengajarkan premis dasar Kalvinisme.

1. Keluaran 21:13. “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Dari ayat ini, Kalvinis mengatakan bahwa suatu hal yang tidak disengaja (pembunuhan), ditentukan oleh Allah. Mereka mengambil frase “tangannya ditentukan Allah,” untuk membuktikan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah.

Jawab: Kesalahan Kalvinis adalah tidak memperhatikan konteks dan juga mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Jika Allah menentukan tangan orang dalam suatu kasus pembunuhan tidak disengaja, apakah berarti Allah menentukan segala sesuatu? Sama sekali tidak. Kalau memperhatikan konteks, justru perikop ini membuktikan sebaliknya! Jika membaca dari ayat 12-13, ada dua jenis pembunuhan yang Tuhan diskusikan. Di ayat 12, Tuhan mengatur tentang pembunuhan yang disengaja: “Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.” Barulah di ayat 13, ada aturan tentang pembunuhan yang tidak disengaja.

Coba dipikir dengan baik-baik, dan baca ayat 12 dan 13 dalam satu konteks. Orang yang tidak sengaja membunuh sesamanya, artinya tangannya ditentukan Tuhan. Sebagai contoh, dalam Ulangan 19:4-5, seseorang yang sedang menebang pohon dengan kapak, tiba-tiba mata kapak terlepas dan mengenai temannya. Lepasnya mata kapak, trayektori mata kapak, dan hal-hal lain yang mendukung sehingga mata kapak mengenai orang, semua itu ditentukan Allah. Ini tidak ada masalah, karena yang Allah tentukan bukanlah suatu keputusan manusia. Pembaca bisa melihat lagi dalam bagian pembahasan tentang bagaimana Allah mengendalikan sejarah. Undi ada di tangan Tuhan, jatuhnya mata kapak juga di tangan Tuhan! Hal-hal yang tidak sengaja itu ditentukan oleh Tuhan! Amin!

Apakah ini membuktikan Allah menetapkan segala sesuatu? Sama sekali tidak! Ayat 12 dan 13 sedang menjelaskan perbedaan dua kasus. Pembunuh di ayat 12, harus dihukum mati, karena membunuh dengan sengaja. Pembunuh di ayat 13, tidak dihukum mati karena tangannya ditentukan Allah. Kesimpulan apa yang dapat ditarik? Bahwa pembunuh di ayat 12 justru tangannya tidak ditentukan oleh Allah. Jadi, Kel. 21:12-13, justru membuktikan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh manusia secara sengaja (atas kehendak sendiri), tidak ditentukan oleh Allah. Ayat ini tidak mendukung premis Kalvinis, sebaliknya membuktikan bahwa Allah tidak menentukan hal-hal yang manusia lakukan dengan sengaja!

Tanggapan saya:

A) Apakah orang-orang Arminian tidak bisa menyerang Calvinisme tanpa memfitnah dan membengkokkan dulu ajaran Calvinisme? Dari ayat yang dipakai Liauw ini, yaitu Kel 21:12-13 dan Ul 19:4-5, rasanya ia pasti memaksudkan ajaran saya. Tetapi saya (maupun orang-orang Reformed) tidak menggunakan bagian ini untuk mengajarkan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah, ataupun bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

Untuk lebih jelasnya saya menunjukkan bagaimana saya menggunakan text itu dalam mengajar:

Untuk mengajarkan bahwa Allah memang menentukan segala sesuatu dalam arti kata yang mutlak, saya memberikan beberapa argumentasi. Dan argumentasi pertama ada di bawah ini:

1) Dasar Kitab Suci:

a) Ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Rencana Allah mencakup ‘semuanya’.

Maz 139:16 - “... dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.

b) Ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Rencana Allah mencakup hal-hal yang remeh / kecil / tak berarti.

Mat 10:29-30 - “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

c) Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa hal-hal yang kelihatannya seperti ‘kebetulan’ juga hanya bisa terjadi karena itu merupakan Rencana Allah. Contoh:

1. Kel 21:13 - Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari”.

Yang dimaksud dengan ‘pembunuhan yang tidak disengaja’ itu dijelaskan / diberi contoh dalam Ul 19:4-5, yaitu orang yang pada waktu mengayunkan kapak, lalu mata kapaknya terlepas dan mengenai orang lain sehingga mati. Hal seperti ini kelihatannya ‘kebetulan’, tetapi toh Kel 21:13 itu mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena ‘tangannya ditentukan Allah melakukan itu’. Jadi, jelas bahwa hal-hal yang kelihatannya kebetulan sekalipun hanya bisa terjadi kalau itu sesuai kehendak / Rencana Allah.

Ini yang saya ajarkan dalam buku ‘providence of God’ saya (tetapi saya potong-potong kutipannya karena yang ingin saya tunjukkan hanya garis besar dari ajaran saya.

Jadi, untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, maka pada point a saya menggunakan Maz 139:16, pada point b saya menunjukkan bahwa penentuan Allah itu juga mencakup hal-hal remeh / tak berarti, dan untuk itu saya menggunakan Mat 10:29-30, dan pada point c saya menunjukkan bahwa penentuan Allah itu juga mencakup hal-hal yang kelihatannya ‘kebetulan’, dan untuk inilah saya menggunakan Kel 21:13!

Tetapi atau Liauw ini terlalu bodoh untuk mengerti jalur argumentasi saya, atau ia membacanya sambil meloncat-loncat, atau ia memang mau membengkokkan dulu ajaran saya, dan baru menyerangnya (supaya ia kelihatan pintar dan saya kelihatan bodoh). Ia memang pintar, tetapi dalam hal apa? Dalam hal memutar-balikkan, berdusta, dan memfitnah. Dalam tulisan-tulisannya saya memang melihat banyak kali ia memfitnah Calvinisme!

Apapapun penyebabnya, yang jelas Liauw mengatakan ‘Keluaran 21:13. “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Dari ayat ini, Kalvinis mengatakan bahwa suatu hal yang tidak disengaja (pembunuhan), ditentukan oleh Allah. Mereka mengambil frase “tangannya ditentukan Allah,” untuk membuktikan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah.’.

Padahal saya menggunakan ayat itu untuk membuktikan bahwa hal-hal yang kelihatannya kebetulan sekalipun juga ditentukan Allah.

Saran saya: baca baik-baik sebelum menyerang, Liauw!

B) Sekarang saya akan mengomentari bagian yang saya beri garis bawah ganda dalam kutipan di atas. Untuk jelasnya saya kutip ulang kata-kata Liauw sebagai berikut: ‘Sebagai contoh, dalam Ulangan 19:4-5, seseorang yang sedang menebang pohon dengan kapak, tiba-tiba mata kapak terlepas dan mengenai temannya. Lepasnya mata kapak, trayektori mata kapak, dan hal-hal lain yang mendukung sehingga mata kapak mengenai orang, semua itu ditentukan Allah. Ini tidak ada masalah, karena yang Allah tentukan bukanlah suatu keputusan manusia. Pembaca bisa melihat lagi dalam bagian pembahasan tentang bagaimana Allah mengendalikan sejarah. Undi ada di tangan Tuhan, jatuhnya mata kapak juga di tangan Tuhan! Hal-hal yang tidak sengaja itu ditentukan oleh Tuhan! Amin!’.

Aneh juga kalau ayatnya bicara tentang orang yang menggunakan tangannya untuk mengapak, tetapi Liauw hanya membahas mata kapaknya. Pada waktu orangnya memukulkan kapak itu ke pohon, dan jelas ia melakukan secara agak ceroboh, karena mata kapaknya rupanya sudah kendor (kalau tidak, tidak akan mata kapak terlepas), dan juga pengambilan posisi yang membahayakan, baik dari si pengapak maupun dari orang yang terkena mata kapak yang terlepas, apakah tidak ada kehendak manusia yang terlibat?

Disamping, dalam Kel 21:13 itu yang dikatakan ditentukan Allah bukanlah kapak, tetapi tangan orang itu. Coba baca ayat itu sekali lagi.

Kel 21:13 - Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.

Kalau tangannya ditentukan Allah, bisakah kehendaknya tidak? Jadi tangan mengayunkan kapak sesuai penentuan Allah, tanpa dikehendaki orangnya, atau bahkan tanpa disadari orangnya. Bisakah hal itu terjadi? Memang bisa, kalau orangnya ngelindur!

Lalu, mengapa Liauw membahas mata kapaknya saja? Apakah mata kapak bisa terlontar dengan sendirinya dan mengenai orang sehingga membunuh orang itu, seandainya orang yang mengapak tidak lebih dulu memutuskan untuk mengapak? Dan seandainya ia cukup hati-hati, dengan memeriksa dulu mata kapaknya longgar atau tidak, dan seandainya ia dan orang yang terkena kapak cukup hati-hati dalam mengambil posisi yang tidak membahayakan, maka bisakah mata kapak lepas dan membunuh orang tanpa sengaja? Jadi jelas bahwa dalam terjadinya hal ini kehendak manusia juga berperan.

C) Sekarang saya membahas kata-kata Liauw pada bagian akhir (yang saya cetak miring) yang berbunyi sebagai berikut: ‘Pembunuh di ayat 13, tidak dihukum mati karena tangannya ditentukan Allah. Kesimpulan apa yang dapat ditarik? Bahwa pembunuh di ayat 12 justru tangannya tidak ditentukan oleh Allah. Jadi, Kel. 21:12-13, justru membuktikan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh manusia secara sengaja (atas kehendak sendiri), tidak ditentukan oleh Allah. Ayat ini tidak mendukung premis Kalvinis, sebaliknya membuktikan bahwa Allah tidak menentukan hal-hal yang manusia lakukan dengan sengaja!’.

Lucu sekali kesimpulannya. Tadi di atas Liauw menuduh Calvinist mengambil kesimpulan terlalu cepat, tetapi ternyata di sini ia yang bukan hanya mengambil kesimpulan yang terlalu cepat tetapi juga yang sembrono / gegabah karena kesimpulannya bertentangan dengan Alkitab.

Kalau ay 13 yang menunjukkan pembunuhan sengaja dikatakan ditentukan Allah, haruskah ay 12nya yang merupakan pembunuhan sengaja dianggap / disimpulkan sebagai tidak ditentukan Allah?

Ada beberapa hal yang ingin saya berikan sebagai jawaban:

1) Secara implicit Liauw menganggap bahwa kalau pembunuhan itu sengaja, maka manusia melakukan dengan kehendaknya sendiri, sedangkan kalau tidak sengaja, maka kehendaknya tidak terlibat. Tetapi di atas sudah saya tunjukkan bahwa dalam hal tidak sengaja itu tetap ada kehendak yang terlibat, biarpun bukan kehendak untuk membunuh.

2) Saya sodorkan kemungkinan menyimpulkan yang berbeda. Kalau dalam ay 13 saja, dimana terjadinya pembunuhan itu sepertinya ‘kebetulan’, ada penentuan Allah, apalagi dalam ay 12, dimana terjadinya pembunuhan bukan ‘kebetulan’. Mengapa untuk hal yang ‘kebetulan’ harus ditekankan penentuan Allahnya? Karena merupakan pandangan umum bahwa hal yang ‘kebetulan’ itu tidak ditentukan.

3) Liauw mengatakan bahwa pembunuhan yang sengaja tidak ditentukan oleh Allah. Ini saya katakan ceroboh, karena:

a) Pembunuhan terhadap Yesus, yang jelas-jelas sengaja, secara explicit dikatakan oleh Alkitab sebagai ditentukan oleh Allah.

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

b) Pembunuhan terhadap orang-orang Kristen juga ditentukan oleh Allah.

Wah 6:11 - “Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka”.

Perhatikan kata ‘genap’. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menentukan jumlah orang Kristen yang mati dibunuh, dan sebelum jumlah itu tergenapi / tercapai, maka terus saja orang Kristen dibunuhi! Apakah ini bukan pembunuhan sengaja, Tentu ya, tetapi ini ditentukan oleh Allah!

Barnes’ Notes (tentang Wah 6:11): “‘Should be fulfilled.’ That is, until these persecutions were passed through, and the number of the martyrs was complete. The state of things represented here would seem to be, that there was then a persecution raging on the earth. Many had been put to death, and their souls had fled to heaven, where they pleaded that their cause might be vindicated, and that their oppressors and persecutors might be punished. To this the answer was, that they were now safe and happy - that God approved their course, and that in token of his approbation they should be clothed in white raiment; but that the invoked vindication could not at once occur. There were others who would yet be called to suffer as they had done, and they must wait until all that number was completed. Then, it is implied, God would interpose, and vindicate his name”.

Matthew Henry (tentang Wah 6:11): “Observe, [1.] There is a number of Christians, known to God, who are appointed as sheep for the slaughter, set apart to be God's witnesses. [2.] As the measure of the sin of persecutors is filling up, so is the number of the persecuted martyred servants of Christ. [3.] When this number is fulfilled, God will take a just and glorious revenge upon their cruel persecutors; he will recompense tribulation to those who trouble them, and to those that are troubled full and uninterrupted rest”.

c) Penghancuran (jelas mencakup pembunuhan sengaja) terhadap Yehuda juga ditentukan oleh Allah.

Yes 28:22b - “sebab kudengar tentang kebinasaan yang sudah pasti yang datang dari Tuhan ALLAH semesta alam atas seluruh negeri itu”.

NIV: ‘The Lord, the LORD Almighty, has told me of the destruction decreed against the whole land’ (= Tuhan, TUHAN yang mahakuasa, telah memberitahu aku tentang kehancuran yang telah ditetapkan terhadap seluruh negeri itu).

Ini jelas menunjukkan bahwa kehancuran yang oleh Tuhan diberitahukan kepada Yesaya, dan lalu dinubuatkan oleh Yesaya, merupakan ketetapan Allah (decree of God).

2. Daniel 11:36 “Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan terjadi.” Ada Kalvinis yang ingin memakai ayat ini untuk membuktikan bahwa Allah menetapkan dosa. Raja dalam Daniel 11:36 ini (antikristus), jelas melakukan dosa. Kalvinis lalu mengambil frase “apa yang telah ditetapkan akan terjadi,” untuk membuktikan bahwa dosa itu telah Allah tetapkan.

Jawab: Kalvinis melihat ayat ini dari kacamata bias doktrinnya sendiri. Padahal, jika dibaca secara normal, justru ayat ini mengajarkan bahwa perbuatan si raja jahat ini tidak ditentukan. Bagian awal ayat ini berkata, “raja itu akan berbuat sekehendak hati.” Apakah ini kurang jelas? Perbuatannya berasal dari kehendak dia sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Lalu apakah yang telah ditetapkan itu? Walaupun kehendak jahat raja itu berasal dari dirinya sendiri, dia tentu tidak akan berhasil kalau Allah tidak mengizinkan. Allah menetapkan bahwa kehendak jahat raja ini bisa dia laksanakan, salah satu caranya adalah dengan memberikan hidup yang cukup panjang kepada dia. Itulah sebabnya dikatakan bahwa “ia akan beruntung sampai akhir murka itu.” Tetapi, sampai titik tertentu, Allah tidak lagi mengizinkan maksud jahatnya untuk berhasil, dan saat itulah dia akan mati. Jadi, Allah sama sekali tidak menetapkan kejahatan yang ia perbuat. Allah mengontrol, sampai seberapa jauh kejahatannya dapat berlangsung.

Tanggapan saya:

1) Memang sukar untuk membuat orang bodoh mengerti. Anda mengatakan raja itu berbuat ‘sekehendak hati’. Siapa yang tidak setuju? Kami Calvinist percaya bahwa pada saat seseorang melakukan apa yang ditentukan Allah, ia tetap melakukan hal itu sesuai dengan kehendaknya sendiri! Apakah ini kurang jelas?

2) Anda membengkokkan kata-kata Alkitab, Liauw. Ayat itu mengatakan ‘ditetapkan’, tetapi anda ganti menjadi ‘mengizinkan’! (perhatikan kata-kata yang saya beri garis bawah tunggal dalam kutipan di atas).

3) Kalaupun Allah mengijinkan, perlu dipertanyakan: mengapa Ia mengijinkan, kalau itu bukan kehendakNya?

R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. ... segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya) - ‘Chosen By God’, hal 26.

4) Pada bagian akhir kutipan kata-kata anda di atas anda berkata sebagai berikut: ‘Lalu apakah yang telah ditetapkan itu? Walaupun kehendak jahat raja itu berasal dari dirinya sendiri, dia tentu tidak akan berhasil kalau Allah tidak mengizinkan. Allah menetapkan bahwa kehendak jahat raja ini bisa dia laksanakan, salah satu caranya adalah dengan memberikan hidup yang cukup panjang kepada dia. Itulah sebabnya dikatakan bahwa “ia akan beruntung sampai akhir murka itu.” Tetapi, sampai titik tertentu, Allah tidak lagi mengizinkan maksud jahatnya untuk berhasil, dan saat itulah dia akan mati. Jadi, Allah sama sekali tidak menetapkan kejahatan yang ia perbuat. Allah mengontrol, sampai seberapa jauh kejahatannya dapat berlangsung’.

Tidakkah anda melihat kelucuan di sini? Anda memulai bagian ini dengan menanyakan ‘Lalu apakah yang telah ditetapkan itu?’, tetapi lalu melnjutkan sampai akhir tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan itu, sebaliknya anda membicarakan soal izin Allah!

Mengapa tidak menjawab pertanyaan anda sendiri, Liauw?

Matthew Henry (tentang Daniel 11:36): He grew very proud, insolent, and profane, and, being puffed up with his conquests, bade defiance to Heaven, and trampled upon every thing that was sacred, v. 36, &c. And here some think begins a prophecy of the antichrist, the papal kingdom. It is plain that St. Paul, in his prophecy of the rise and reign of the man of sin, alludes to this (2 Thess 2:4), which shows that Antiochus was a type and figure of that enemy, as Babylon also was; but, this being joined in a continued discourse with the foregoing prophecies concerning Antiochus, to me it seems probably that it principally refers to him, and in him had its primary accomplishment, and has reference to the other only by way of accommodation. (1.) He shall impiously dishonour the God of Israel, the only living and true God, called here the God of gods. He shall, in defiance of him and his authority, do according to his will against his people and his holy religion; he shall exalt himself above him, as Sennacherib did, and shall speak marvellous things against him and against his laws and institutions. This was fulfilled when Antiochus forbade sacrifices to be offered in God’s temple, and ordered the sabbaths to be profaned, the sanctuary and the holy people to be polluted, &c., to the end that they might forget the law and change all the ordinances, and this upon pain of death, 1 Macc 1:45. (2.) He shall proudly put contempt upon all other gods, shall magnify himself above every god, even the gods of the nations. Antiochus wrote to his own kingdom that every one should leave the gods he had worshipped, and worship such as he ordered, contrary to the practice of all the conquerors that went before him, 1 Macc 1:41,42. And all the heathen agreed according to the commandment of the king; fond as they were of their gods, they did not think them worth suffering for, but, their gods being idols, it was all alike to them what gods they worshipped. Antiochus did not regard any god, but magnified himself above all, v. 37. He was so proud that he thought himself above the condition of a mortal man, that he could command the waves of the sea, and reach to the stars of heaven, as his insolence and haughtiness are expressed, 2 Macc 9:8,10. Thus he carried all before him, till the indignation was accomplished (v. 36), till he had run his length, and filled up the measure of his iniquity; for that which is determined shall be done, and nothing more, nothing short.

Bagian yang saya beri garis bawah tunggal menunjukkan dosa-dosa raja itu, dan bagian yang saya beri garis bawah ganda menunjukkan bahwa Matthew Henry menganggap semua dosa-dosa itu harus digenapi, tidak bisa lebih, tidak bisa kurang!

Barnes’ Notes (tentang Daniel 11:36): “‘And shall prosper until the indignation be accomplished.’ Referring still to the fact that there was an appointed time during which this was to continue. That time might well be called a time of ‘indignation,’ for the Lord seemed to be angry against his temple and people, and suffered this pagan king to pour out his wrath without measure against the temple, the city, and the whole land. ‘For that that is determined shall be done.’ What is purposed in regard to the city and temple, and to all other things, must be accomplished. Compare Dan 10:21. The angel here states a general truth - that all that God has ordained will come to pass. The application of this truth here is, that the series of events must be suffered to run on, and that it could not be expected that they would be arrested until all that had been determined in the Divine mind should be effected. They who would suffer, therefore, in those times must wait with patience until the Divine purposes should be brought about, and when the period should arrive, the calamities would cease”.

Jelas bahwa Albert Barnes berpendapat bahwa apa yang telah ditetapkan itu adalah hal-hal buruk / jahat / dosa yang akan diperbuat raja itu.

Kata-kata ‘ia akan beruntung sampai akhir murka itu’ tidak menjadi masalah. Allah membiarkannya hidup supaya ia bisa melakukan dosa-dosa yang telah ditetapkan itu!

3. Kisah Para Rasul 4:27-28 “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.” Ini adalah perwakilan dari beberapa ayat lain, tentang kematian dan penyaliban Yesus, yang Kalvinis pakai. Argumen mereka cukup jelas, yaitu bahwa penyaliban Yesus telah Allah tentukan. Ini, bagi Kalvinis, membuktikan bahwa Allah menetapkan terjadinya dosa.
Jawab: Sekali lagi, Kalvinis membaca ayat ini dengan presuposisi doktrin mereka. Oleh karena itu mereka mendapatkan Allah menetapkan dosa di sini. Padahal Allah yang mahakudus benci kepada dosa, masakan merencanakan dan mengharuskan dosa? Kalau ayat ini dibaca dengan netral, sama sekali tidak mengajarkan Kalvinisme. Ayat ini berbunyi: “telah berkumpul….bangsa-bangsa….. untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula.” Ayat ini TIDAK berbunyi: “Engkau menentukan mereka untuk menyalibkan Yesus (melakukan dosa).” Ada perbedaan antara dua kalimat tersebut.

Tanggapan saya:

Kis 4:27-28 - “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.”

Anda hanya menganbil bagian-bagian yang saya beri garis bawah tunggal. Lalu anda mengatakan ‘Ayat ini TIDAK berbunyi: “Engkau menentukan mereka untuk menyalibkan Yesus (melakukan dosa).’.

Lucu sekali. Mengapa bagian yang saya beri garis bawah ganda tidak anda ambil? Mereka berkumpul untuk melawan Yesus! Jadi, semua tindakan orang-orang itu, yaitu menangkapNya, mengadiliNya, memfitnahNya, memaki-makiNya, mencambukiNya, menyalibkannya dsb, tercakup dalam kata-kata ‘melawan Yesus’! Dan semua itu, yang jelas-jelas adalah dosa, mereka laksanakan sesuai dengan apa yang ‘Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu’!

Jangan memutar-balikkan ayat Alkitab, Liauw! Anda main-main dari Firman Tuhan, dan itu berarti anda main-main dengan Tuhan sendiri!

Anda selalu menuduh kami menafsirkan dengan bias Calvinist, padahal di sini jelas-jelas anda menafsir (atau ‘memperkosa’) ayat Alkitab dengan bias Arminian!

Kehendak untuk menyalibkan Yesus berasal dari manusia itu sendiri, tidak pernah ditetapkan oleh Allah. Mereka punya pilihan untuk menerima Yesus, tetapi mereka memilih untuk menyalibkanNya. Allah yang mahatahu, memasukkan kehendak manusia-manusia jahat ini dalam rencana penyelamatanNya, sehingga Ia menentukan bahwa Yesus memang akan mereka salibkan. Jadi, Allah tidak menetapkan mereka harus menyalibkan Yesus. Allah tahu mereka mau menyalibkanNya (dari kehendak mereka sendiri), dan Allah memutuskan, dalam kuasa dan kehendakNya, agar kemauan mereka tercapai, dan Yesus disalibkan.

Tanggapan saya:

Kis 4:27-28 - “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.”

Anda tidak membaca kata-kata yang saya garis-bawahi itu? ‘Telah’, dan ‘Dari semula’, Liauw! Allah telah menentukan semua itu dari semula! Orang-orang brengsek itu belum lahir, dan belum memilih, menghendaki atau melakukan yang baik atau yang jahat, dan Allah sudah menentukan (dalam kekekalan). Baru dalam waktu / sejarah, orang-orang itu melakukan apa yang telah Allah tentukan dari semula.

Kelihatannya anda membaca ayat ini seolah-olah bunyinya adalah ‘Allah menentukan segala sesuatu yang akan mereka lakukan’, padahal itu terbalik!

Lagi-lagi apa yang anda ajarkan menunjukkan bahwa Allahnya yang tergantung manusia dan bukannya sebaliknya. Ini tolol dan merupakan penghujatan! Saya berpendapat, Liauw, kalau semua memang tergantung kehendak manusia yang berdosa, maka yang terjadi pada saat itu adalah: bukan hanya Herodes, Pontius Pilatus, orang-orang Romawi dsb yang menyalibkan Yesus, tetapi semua muridNya juga akan ikut! Mengapa? Karena semua adalah orang-orang berdosa, yang kalau bukan karena kasih karunia dan pekerjaan Allah, bukan saja tidak akan percaya kepada Yesus, tetapi sebaliknya akan memusuhi dan menyalibkanNya! Pemilihan Allah terhadap 11 murid, dan pemberian kasih karunia kepada mereka, menyebabkan mereka percaya kepada Yesus dan tidak ikut menyalibkanNya.

Juga, Liauw, kalau Allah tahu apa yang akan mereka kehendaki dan lakukan, maka apa yang Allah tahu itu pasti terjadi, bukan? Lalu, apa gunanya direncanakan / ditentukan / ditetapkan?

Sebuah ilustrasi dapat membantu memberikan contoh dalam kehidupan nyata. Kepolisian Jakarta telah lama berusaha membongkar jaringan perampok toko emas. Suatu ketika, mereka mendapatkan info akurat (foreknowledge), bahwa para perampok akan beraksi di toko tertentu. Karena ingin menangkap para penjahat secara basah, para polisi memutuskan untuk tidak menghalangi niat para perampok, melainkan memasang jebakan. Akhirnya para perampok beraksi, dan di tengah perampokan mereka, mereka ditangkap oleh polisi. Tindakan perampokan itu berasal dari kehendak para perampok, sama sekali tidak ditentukan atau ditetapkan oleh para polisi. Para polisi pun punya kemampuan untuk membatalkan perampokan, misalnya dengan menempatkan banyak penjaga ekstra di toko itu. Namun, untuk tujuan tertentu (menangkap basah para perampok), para polisi sengaja membiarkan para perampok untuk melakukan kejahatan mereka. Bisa dikatakan, bahwa tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi, dan bahwa para perampok melakukan apa yang polisi rancangkan/tetapkan. Tetapi, jelas bukan polisi yang menetapkan mereka untuk merampok. Demikianlah, Allah mempergunakan kejahatan manusia, untuk tujuanNya sendiri. Pembaca silakan melihat lagi bagian pembahasan bagaimana Allah mengendalikan sejarah tanpa menentukan tindakan manusia.

Tanggapan saya:

1) Tak ada gunanya memberi ilustrasi, kalau hal yang didapatkan dari ayatnya sudah salah sama sekali!

2) Text Kis 4:27-28 sama sekali tidak bicara tentang foreknowledge (pra pengetahuan), lalu dari mana anda tahu-tahu bicara tentang hal itu?

3) Kalau polisi menerima info, itu tidak bisa disebut pra pengetahuan. Allah mempunyai pra pengetahuan bukan karena Ia menerima info. Pengetahuan Allah sama sekali tidak berasal dari luar diriNya, bukan karena belajar, menyelidiki, ataupun menerima info!

4) Bagaimana di bagian atas anda bisa mengatakan ‘Tindakan perampokan itu berasal dari kehendak para perampok, sama sekali tidak ditentukan atau ditetapkan oleh para polisi’ (yang saya beri garis bawah tunggal), dan lalu di bagian bawah anda mengatakan ‘Bisa dikatakan, bahwa tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi, dan bahwa para perampok melakukan apa yang polisi rancangkan/tetapkan’ (yang saya beri garis bawah ganda)?

Kalau menurut kata-kata yang diatas, tidak perampokan tidak ditetapkan polisi (jadi bukan rencana polisi), tetapi kalau menurut kata-kata yang di bawah tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi. Tidak melihat kalau 2 kalimat ini kontradiksi, Liauw?

5) Adalah omong kosong bahwa semua tindakan perampok itu diketahui lebih dulu dan / atau ditentukan oleh polisi! Pada waktu menyerbu, polisi tidak tahu dan tidak menentukan perampoknya mau menyerah, mengambil sandera, atau lari, dan kalau lari ke arah mana. Ini anda jadikan ilustrasi untuk Allah yang merencanakan / menentukan segala sesuatu dan mengatur segala sesuatu? Betul-betul bodoh!

4. Matius 10:29-30 “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.” Menurut Kalvinis, ayat ini mendukung konsep bahwa Allah menentukan segala sesuatu.
Jawab: Dalam pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan, bahwa non-Kalvinis percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Tetapi ini berbeda dengan menentukan segala hal. Banyak ayat yang Kalvinis kutip hanya menyatakan bahwa Allah menetapkan hal ini dan hal itu, tetapi tidak ada satupun yang menyatakan bahwa Allah menetapkan segala sesuatu.

Bahwa jumlah rambut di kepala kita diketahui oleh Tuhan, sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menetapkan segala tindakan kita. Diperlukan lompatan logika yang luar biasa untuk bisa menyimpulkan hal seperti itu dari ayat ini. Hidup matinya pipit berada di tangan Tuhan. Saya sungguh mengaminkan hal ini! Jangankan pipit, hidup matinya manusia pun ada di tangan Tuhan. Tetapi ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menentukan segala pikiran, tindakan, dan keputusan manusia.

Tanggapan saya:

Anda lagi-lagi memfitnah! Anda membelokkan argumentasi saya. Seperti sudah saya jelaskan di atas (dalam penjelasan saya tentang Kel 21:13), bagian ini bukan saya berikan untuk menunjukkan bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Tetapi saya gunakan untuk menunjukkan bahwa Allah menentukan hal-hal yang remeh / tak berarti. Baru lanjutannya: kalau hal tak berarti saja ditentukan, masakan hal penting, seperti kejatuhan Adam dsb tidak ditentukan?

Sama seperti dalam penjelasan saya tentang Kel 21:13 di atas, di sini saya juga menjawab bahwa burung pipit dan rambut yang tak punya kehendak, berhubungan dengan manusia yang punya kehendak.

Bagaimana kalau ada orang mau menembak burung pipit yang oleh Allah ditentukan untuk tidak mati (belum waktunya mati)? Memang Ia bisa saja membuat tembakannya luput, tetapi Ia bisa saja lalu bekerja supaya orang itu lalu merasa kasihan, dan lalu batal menembak. Atau tahu-tahu ada temannya datang dan mengajaknya pergi. Tetapi Allah tentu tidak akan membuat orang itu merasa kasihan, kecuali Ia sudah menentukan hal itu lebih dulu.]

Kalau burung pipit bisa berhubungan dengan manusia yang punya kehendak bebas, apalagi rambut. Kalau rambut anda ditentukan untuk tidak jatuh ke tanah, bagaimana kalau tahu-tahu anda kepingin potong rambut? Allah bisa saja membuat anda malas potong rambut. Tetapi Allah tidak akan melakukan hal itu, kecuali Ia sudah menentukannya lebih dulu.

Jadi, benda-benda yang tak punya kehendak bebas berhubungan erat dengan manusia yang punya kehendak bebas! Kalau yang satu ditentukan, sukar terbayangkan bahwa yang lain tidak ditentukan!

5. Yeremia 4:28 “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Saya akan mengutip argumen Asali dari ayat ini:

Ayat ini baru mengatakan ‘Aku telah mengatakannya’ dan lalu langsung menyambungnya dengan ‘Aku telah merancangnya’. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengatakan sesuatu kepada nabi-nabi (yang lalu dinubuatkan oleh para nabi itu), karena Tuhan telah merancang / merencanakannya.

Jadi, Asali mengatakan bahwa ayat ini membukti pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Asali juga menyatakan bahwa jika Tuhan bernubuat tentang sesuatu hal, berarti hal itu sudah Ia tentukan lebih dahulu.
Jawab: Ayat ini sama sekali tidak membuktikan bahwa semua pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Kalau seorang dosen berkata, “Seluruh kelas akan berkabung karena ujian yang akan saya berikan, sebab aku telah mengatakannya, aku telah merancangnya, aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Apakah ini membuktikan bahwa semua pengetahuan dosen itu berasal dari penentuannya? Tentu tidak!

Tanggapan saya:

Hehehe, kelihatannya saking bingungnya bagaimana menjawab argumentasi saya, anda jadi kelihatan seperti orang gila atau idiot! Saya sampai ketawa terpingkal-pingkal membaca kata-kata dosen gila tersebut. Tentu saja kelasnya akan berkabung, karena dosennya edan! Apakah dosen itu anda sendiri, Liauw?

Jangan paksakan ilustrasi yang begitu tidak cocok dan tidak masuk akal untuk menjawab suatu argumentasi yang memang benar, Liauw!

Disamping, kalau dosen itu mengatakan ujian dan para mahasiswa akan berkabung, memang mungkin itu terjadi karena dosen gila itu sudah terlebih dulu merancang ujian yang terlalu sukar bagi para mahasiswanya. Jadi apa yang ia nyatakan, muncul dari apa yang ia tetapkan / rencanakan!

Tentu ada banyak hal yang Allah tentukan, dan Allah tahu akan hal-hal itu. Ada banyak nubuat yang memang berasal dari ketentuan Tuhan. Tetapi tidak kurang juga nubuat yang tidak berasal dari ketentuan Tuhan, melainkan Tuhan memberitahu apa yang akan dilakukan oleh manusia. Contohnya, dalam 1 Samuel 23:12, Allah menubuatkan apa yang akan orang-orang Kehila lakukan jika Daud tinggal di Kehila. Pada kenyataannya, Daud tidak tinggal di Kehila, jadi itu bukanlah penentuan Tuhan. Nubuat (pengetahuan) ini bukanlah sesuatu yang Allah tentukan dulu!

Tanggapan saya:

Ini sudah saya jelaskan di depan, jadi saya jawab singkat saja di sini.

Dalam hal ini Allah menetapkan bahwa Daud tidak tinggal di Kehila. Jadi, bukannya tidak ada penetapan. Ada penetapan bahwa Daud tidak tinggal di Kehila! Dan adanya penetapan itu kelihatannya menunjukkan bahwa sebelum perencanaan Tuhan sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan kalau Daud tinggal, atau kalau Daud meninggalkan Kehila. Karena itu Ia tahu hal-hal itu.

Atau bisa juga dijawab seperti penjelasan Calvin berkenaan dengan Mat 11:20-24, yaitu di sini Tuhan hanya berbicara secara logis, bukan berdasarkan rencana / keputusanNya.

6. Efesus 1:11 “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Bahwa Allah di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya, diartikan oleh Kalvinis untuk mendukung premis mereka bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

Jawab: Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Jikalau dikatakan bahwa “Allah bekerja di dalam segala sesuatu,” maka non-Kalvinis sama sekali tidak akan protes, karena itulah bunyi ayat ini. Allah memang bekerja dalam segala sesuatu. Segala tindakan dan keputusan manusia, haruslah melalui izin Allah, apakah dapat tercapai atau tidak. Seperti sudah diilustrasikan, seseorang bisa saja berniat untuk membunuh. Maksud pembunuhan tersebut tidak Allah tetapkan melainkan keluar dari hati orang yang jahat itu. Tetapi, Allah bekerja dalam segala sesuatu. Allah bisa menggagalkan niat pembunuhan itu, atau Allah bisa membiarkan niat pembunuhan itu untuk melaksanakan rencanyaNya. Allah bekerja dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya! Ayat ini sama sekali tidak harus mendukung bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu.

Tanggapan saya:

Coba baca lagi ayatnya, Liauw! Anda memang kelihatannya senang kalau orang hanya melihat ayatnya sepintas lalu, karena kalau demikian, anda bisa lari / menghindar dari argumentasi saya.

Tetapi saya justru ingin ayatnya diperhatikan baik-baik. Karena itu saya kutip ulang untuk diperhatikan dengan seksama.

Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya.”

Bagian awal ayat itu (yang saya beri garis bawah tunggal) jelas bicara tentang predestinasi (seperti Ef 1:4-5). Jadi, kami mendapat bagian itu karena dari semula kami ditentukan untuk menerima bagian itu (ay 11a). Dan ini sesuai dengan maksud Allah (ay 11b). Lalu untuk menjelaskan tentang ‘Allah’ di akhir ay 11b itu, Paulus melanjutkan dengan kata-kata ‘yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya’ (ay 11c).

Jadi, karena Allah dalam segala sesuatu bekerja menurut ketetapanNya, maka predestinasi itu bisa terjadi.

Kalau ‘segala sesuatu’ itu tidak berhubungan dengan tindakan bebas manusia / kehendak bebas manusia, apakah itu bisa disebut ‘segala sesuatu’?

Calvin: “‘Who worketh all things.’ The circumlocution employed in describing the Supreme Being deserves attention. He speaks of Him as the sole agent, and as doing everything according to His own will, so as to leave nothing to be done by man. In no respect, therefore, are men admitted to share in this praise, as if they brought anything of their own. God looks at nothing out of himself to move him to elect them, for ‘the counsel of his own will’ is the only and actual cause of their election. This may enable us to refute the error, or rather the madness, of those who, whenever they are unable to discover the reason of God’s works, exclaim loudly against his design (= ).

Pesan untuk para pembaca perdebatan ini: bacalah tulisan saya yang berjudul ‘Providence of God’, maka saudara akan melihat berapa banyak bagian dan ayat-ayat dari tulisan saya yang diloncati begitu saja oleh Steven Liauw! Mengapa? Jelas karena ia tidak bisa menjawabnya! Dan bagian-bagian / ayat-ayat yang ia jawab, banyak juga ia selewengkan, sehingga pada hakekatnya, tidak ia jawab! Silahkan klik di sini : http://www.golgothaministry.org/providence/providence_01.htm

SELESAI

1 komentar:

  1. Syalom Pak Ezra.
    Saya seorang awam dari GMIT, saya sering membaca tulisan anda, pak budi ashali, dll.

    saya baru tahu bahwa gerejaku juga menganut doktrin calvinist.

    yg saya ingin tanyakan:
    beberapa tahun yg lalu di ada seorang muda yang pada masa mudanya adalah orang yg aktif di gereja lahairoi namosain (GMIT), mengkaderkan mengajar sekolah minggu/pemuda.

    setelah dewasa ia masuk islam dan sering berdakwah di mesjid "menyerang" ajaran kekristenan.
    beberapa tahun kemudian ia pun matih dibunuh karena skanda. atas paksaan dari keluarganya, maka iapun dimakamkan secara gerejawi (ole GMIT Lahairoi Namosain), walaupun ia mati dalam keyakinan islamnya.

    bagaimana tanggapan bapak mengenai hal ini sehubungan dengan doktirn calvinis?

    terima kasih, TYM.

    Andro

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)