03 Mei 2009

DEKODENISASI "THE DA VINCI CODE" (Part 1)

Yakub Tri Handoko, Th. M

Novel The Da Vinci Code (selanjutnya disingkat DVC) karangan Dan Brown mampu menarik perhatian dunia sejak pertama kali dirilis pada tahun 2003. Hal ini bisa dilihat dari jumlah eksemplar yang mencapai 30 juta di seluruh dunia dan diterjemahkan dalam 44 bahasa. Seiring dengan keberhasilan ini, Dan Brown juga turut menikmati kekayaan dan popularitas luar biasa. Royalti ia terima mencapai 650 miliar rupiah. Ia berulang kali diundang untuk wawancara di berbagai stasiun TV terkenal, misalnya ABC, NBC. Puncak dari semua ini adalah peluncuran film dengan judul yang sama. Walaupun apa yang disampaikan lewat film “tidak seberbahaya” apa yang ada di novel, namun bagaimanapun film tersebut mampu menarik perhatian banyak orang, terutama mereka yang enggan membaca novel Brown, karena mereka memang tidak terbiasa membaca.


Beragam respon dari orang Kristen di Indonesia telah bermunculan. Sebagian sudah mengadakan protes damai (demo) menentang pemutaran film DVC. Sebagian yang lain cenderung menganggap remeh isu ini dan mengatakan “itu hanya sekedar novel, tidak perlu dipikirkan terlalu serius”. Dua sikap ini sebenarnya kurang tepat. Protes saja, tanpa disertai pembinaan teologi kepada jemaat, bisa berpotensi meneguhkan asumsi Brown bahwa ada konspirasi internasional untuk menghancurkan semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran tradisional kekristenan. Sikap menganggap remeh juga tidak tepat, karena faktanya DVC bukan sekedar novel. Pengaruh DVC bagi pergumulan iman orang Kristen awam tidak bisa dipandang sebelah mata.


Bagaimana orang Kristen seharusnya meresponi hal ini? 1 Petrus 3:15 mengajarkan bahwa orang percaya harus siap sedia memberikan jawaban verbal (apologia) terhadap siapa saja yang mempertanyakan iman Kristiani. Ide yang dituangkan dalam DVC merupakan pertanyaan (baca: bantahan) terhadap kekristenan yang harus dijawab dengan penuh tanggung jawab. Tulisan ini merupakan apologia dari sudut pandang kaum Injili terhadap DVC.


Sinopsis cerita


DVC dimulai dengan kematian seorang kurator bernama Jacques Sauniere. Sebelum ia mati, ia meninggalkan kode-kode khusus untuk cucu perempuannya, Sophie Neveu, seorang kriptologis, yang sebelumnya ia telepon untuk datang mengunjungi dirinya, berdamai dengan dia dan diberitahu suatu rahasia keluarga. Sophie sendiri dulu sempat berselisih dengan Sauniere karena ia melihat kakeknya dan seorang wanita sedang melakukan hubungan seks dalam sebuah acara ritual tertentu dengan disaksikan para pengikut sekte tersebut.


Kode yang ditinggalkan Sauniere meliputi posisi tubuh yang menyerupai lukisan The Vitruvian Man karya Leonardo Da Vinci dan kode-kode lain yang berbentuk angka-angka, anagram maupun pentagram yang dia lukis di tubuhnya menggunakan darahnya sendiri. Berdasarkan kode-kode ini Sophie, yang didampingi ahli simbol keagamaan dari Harvard bernama Robert Langdon, berusaha untuk menguak kode demi kode yang ditinggalkan Sauniere.


Usaha dekodenisasi terhadap beberapa lukisan Da Vinci, dokumen Les Dossiers Secrets, kitab-kitab injil non-kanonik dan berbagai simbol lain akhirnya berujung pada penemuan beberapa hal yang sangat mengejutkan. Sauniere ternyata pemimpin organisasi The Priory of Sion, yang dahulu juga memiliki anggota beberapa tokoh terkenal, termasuk di dalamnya Leonardo Da Vinci. The Priory of Sion merupakan sebuah sekte keagamaan yang berkomitmen untuk menjaga sebuah rahasia besar. Rahasia itu berhubungan dengan pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena dan penunjukan Maria Magdalena sebagai pemimpin gereja oleh Yesus. Para rasul lain, yang semuanya adalah laki-laki, menjadi cemburu melihat hal itu. Mereka akhirnya berusaha memusnahkan rahasia ini. Maria Magdalena dan keturunannya akhirnya terpaksa mengungsi ke Prancis demi keselamatan mereka, mendirikan kota Paris dan menjadi cikal-bakal keturunan bangsawan Prancis yang disebut Merovingian. The Priory of Sion terus-menerus berusaha menjaga rahasia ini. The Kngiht Templar, sebuah organisasi tentara pada jaman Perang Salib, merupakan salah satu pelindung rahasia ini. Berdasarkan keyakinan tersebut, ritual seks dalam sekte The Priory of Sion telah menjadi aktivitas wajib untuk meneruskan darah (keturunan) Yesus dan Maria Magdaena.


Di sisi lain, pihak gereja tradisional yang didominasi kepemimpinan pria berusaha menekan pengaruh Maria Magdalena dan memusnahkan rahasia tersebut. Pada awal abad ke-4 gereja menegaskan doktrin keilahian Yesus yang sebetulnya hanyalah manusia biasa yang juga menikah seperti orang Yahudi yang saleh lainnya. Gereja dipercaya telah menghancurkan berbagai tulisan Kristen kuno lain yang tidak sesuai dengan ajaran gereja tradisional melalui proses kanonisasi pada abad ke-4. Semua langkah ini bisa dilakukan gereja karena pada abad ke-4 gereja telah menjelma menjadi kekuatan mayoritas seiring dengan keputusan Kaisar Konstantinopel untuk menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi negara. Dalam periode selanjutnya, gereja tetap berusaha menghapus rahasia pernikahan Yesus dan Maria Magdalena melalui sekte Opus Dei. Pemusnahan ini terus berlanjut sampai kematian Sauniere. Jadi, tindakan Sauniere yang menelepon Sophie sebelum kematiannya merupakan upaya The Priory of Sion untuk tetap meneruskan rahasia tersebut dan meminta Sophie supaya melanjutkan keturunan Yesus-Maria Magdalena.


Apakah DVC hanya sebuah novel?


Penyelidikan yang teliti menunjukkan bahwa Brown tidak melihat novelnya hanya sebagai novel fiksi semata. Ia tampaknya ingin menunjukkan bahwa DVC adalah sebuah novel sejarah (historical novel). Sebagai sebuah novel sejarah, DVC menyiratkan fakta-fakta tertentu. Kenyataannya, novel ini belum layak dikategorikan sebagai novel sejarah. Apa yang dianggap fakta oleh Brown tidak lebih dari sekedar interpretasi Brown terhadap beberapa data. Hal ini jelas bisa berpotensi mengelabui dan membohongi harapan pembaca yang sejak awal melihat DVC sebagai sebuah novel sejarah. Apa saja yang menyebabkan pembaca mendapat kesan bahwa DVC adalah sebuah novel sejarah?


Pertama, pada bagian kata pengantar Brown mengucapkan terima kasih kepada sejumlah institusi ternama yang telah membantu dia dalam melakukan riset sebelum penulisan DVC (hlm 2), yaitu Louvre Museum, the French Ministry of Culture, Project Guttenberg, Bibliotheque Nationale, the Gnostic Society Library, the Department of Paintings Study and Documentation Service at the Louvre, Catholic World News, Royal Observatory Greenwich, London Record Society, the Muniment Collection at Westminster Abbey, John Pike, and the Federation of American Scientists. Ia bahkan secara khusus mengucapkan terima kasih kepada 5 (lima) anggota Opus Dei (3 di antaranya masih aktif) yang bersedia menjadi nara sumber yang menceritakan pengalaman mereka di dalam Opus Dei, baik yang positif maupun yang negatif. Hal ini tentu saja akan memberikan kesan bahwa apa yang ditulis dalam DVC merupakan hasil riset yang bertanggung jawab.


Kedua, setelah bagian kata pengantar, Brown menggunakan satu halaman khusus untuk menyatakan 3 (tiga) “fakta” dalam novelnya (hlm 3). Apa saja yang diklaim sebagai “fakta” dalam DVC? (1) The Priory of Sion. Pada tahun 1975 Paris’s Bibliotheque Nationale menemukan perkamen yang dikenal dengan nama Les Dossiers Secrets, yang menunjukkan beberapa anggota The Priory of Sion, misalnya Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo dan Leonardo Da Vinci. (2) Opus Dei. Organisasi kaum rohaniwan ini merupakan kumpulan sekte Katholik yang sangat loyal. Opus Dei telah menjadi topik kontroversi sehubungan dengan pencucian otak, pemaksaan dan penyiksaan diri (corporal mortification) yang berbahaya. (3) Semua deskripsi tentang karya seni, arsitektur, dokumen dan ritual-ritual rahasia.


Ketiga, dalam wawancara dengan beberapa stasiun televisi ternama, Brown menegaskan “kebenaran” dari apa yang ia tulis. Pada waktu ia ditanya oleh Matt Lauer dari NBC tentang seberapa banyak bagian DVC yang bisa disebut realita dalam arti benar-benar terjadi, Brown menjawab “Absolutely all of it. Obviously, Robert Langdon is fictional, but all of the art, architecture, secret rituals, secret societies; all of that is historical fact” (Semuanya. Robert Langdon memang fiktif, tetapi semua karya seni, arsitektur, ritual-rahasia, organisasi rahasia, semua itu fakta sejarah”).


Keempat, tokoh-tokoh fiktif dalam DVC yang membuka kode rahasia ditampilkan Brown sebagai figur yang ilmiah, sehingga menimbulkan kesan apa yang mereka sampaikan berhubungan dengan “kebenaran objektif”. Robert Langdon diperkenalkan sebagai profesor dari Harvard dalam bidang simbol keagamaan (religious symbology), walaupun sebenarnya tidak ada disiplin ilmu tersebut di Harvard. Sophie merupakan ahli kode rahasia (cryptologist). Pembaca juga akan bertemu figur Profesor Teabing yang “sangat mahir” dalam sejarah dan berbagai dokumen kuno.


Strategi penulisan di atas ingin memberikan pesan kepada pembaca bahwa apa yang ditulis dalam DVC benar-benar merupakan fakta. Seberapa banyak “kebenaran” yang diharapkan bisa ditangkap dan diterima oleh para pembaca? Melebihi harapan seseorang ketika ia membaca sebuah novel sejarah! Sayangnya, sebagaimana akan tampak dalam bagian selanjutnya dari tulisan ini, untuk dikategorikan sebagai novel sejarah pun DVC sebenarnya belum layak (apalagi sebagai “buku ilmiah” seperti yang dianggap oleh banyak orang). Jelas, DVC bukanlah sekedar novel. Tidak heran, banyak pembaca DVC mengalami kegoncangan iman yang luar biasa (lihat www.salon.com dan www.danbrown.com). Para peninjau seni pun tidak luput dari pengaruh DVC, misalnya USA Today dan Counterculture.


Tidak ada yang baru di bawah matahari


Nasehat Salomo bahwa “tidak ada yang baru di bawah matahari” (Pkh. 1:9) tampaknya berlaku untuk kasus DVC. Brown tidak menulis dalam kevakuman. DVC hanyalah salah satu dari sekian banyak produk yang berasal dari presuposisi tentang konspirasi internasional yang dilakukan pihak gereja untuk menyeragamkan teologi mereka yang sebenarnya tidak didasarkan pada fakta. Meminjam ungkapan yang lebih akademis, DVC merupakan salah satu versi dari pembedaan antara The Historical Jesus (Yesus yang ada dalam sejarah) dan The Christ of Faith (Yesus yang dipahami oleh gereja mula-mula). Spirit jaman seperti ini sudah mulai muncul pada jaman pencerahan (enlightenment) pada sekitar abad ke-17. Dengan pendekatan filosofis yang antisupranaturalis dan pra-anggapan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah yang tidak bisa salah, orang berusaha menginterpretasikan ulang kebenaran Alkitab. Gambaran tentang Yesus yang ada di Perjanjian Baru dan berbagai pengakuan iman (kredo) kuno dianggap sebagai hasil rekayasa gereja. Yesus yang dipercayai oleh gereja dipercayai sangat berbeda dengan Yesus yang ada di dalam sejarah.


Dalam konteks akademis, usaha menampilkan Yesus yang berbeda dengan Yesus dalam Perjanjian Baru dan kredo mulai dipopulerkan oleh Herman S. Reimarus (1694-1768). Selanjutnya, mayoritas teolog di Jerman mengadopsi cara pandang yang mirip dengan ini, misalnya William Wrede, Rudolf Bultmann, E. Kasëman, G. Bornkamm, Barbara Thiering. Salah satu hasil diskusi dalam taraf akademis yang perlu diwaspadai adalah Jesus Seminar yang dipelopori oleh Robert W. Funk, Marcus Borg dan John Dominic Crossan. Mereka berusaha membawa hasil diskusi akademis ini ke dalam domain publik melalui penerbitan The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? dan wawancara di berbagai stasiun televisi. Dalam The Five Gospels mereka memberikan warna berbeda untuk setiap ucapan Yesus di kitab-kitab Injil plus Injil Thomas untuk menjelaskan perkataan mana yang bisa ditelusuri sebagai berasal dari Yesus sendiri dan mana yang hasil karangan para penulis Alkitab.


Dalam konteks yang lebih populer, kekristenan sempat digemparkan oleh penerbitan novel Holy Blood Holy Grail (Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln), The Last Temptation of Christ (Nikos Kazantzakis), The Woman Wth the Alabaster Jar (Margaret Starbird), The Templar Revolution (Lynn Picknett dan Clive Prince). Cara pandang yang sama juga bisa disimak dalam beberapa film, misalnya Jesus Christ Superstar, The Last Temptation of Christ, The Body, Jesus in the Himalaya, Who is the Real Mary Magdalene.


Penjelasan dalam bagian ini berguna untuk melihat DVC dalam konteks yang lebih komprehensif. Analisa kritis terhadap DVC seharusnya dimulai dari konteks ini. Dengan kata lain, diskusi tentang DVC seharusnya mencakup kredibilitas historis kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai buku kuno, validitas pembedaan antara The Historical Jesus dan The Christ of Faith, nilai kitab-kitab non-kanonik, dsb. Setelah membahas hal-hal ini, fokus selanjutnya diarahkan pada analisa detil terhadap DVC yang berkaitan dengan faktualitas beberapa organisasi/sekte (The Priory of Sion, The Knight Templar, Opus Dei), simbol-simbol kuno (anagram, pentagram), lukisan Da Vinci (Monalisa, The Last Supper), dokumen-dokumen Gnostik kuno (Injil Filipus dan Injil Maria), sejarah gereja abad permulaan (seputar kanonisasi dan kredo), “pernikahan” Yesus, dst.


Proses analisa di atas jelas membutuhkan waktu yang panjang dan pengetahuan akademis yang memadai. Dalam tulisan ini analisa akan langsung difokuskan pada DVC. Ini pun tidak akan membahas secara khusus tentang simbol-simbol kuno yang dipakai dalam DVC. Tulisan ini diharapkan berhasil memberikan pemahaman yang agak komprehensif tentang DVC dari sisi historis, seni maupun biblikal.

Lihat Part.2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini