22 Mei 2012

SMIRNA : JEMAAT YANG MENDERITA (2)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK


Wah 2:8-11 – (8) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali: (9) Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu -- namun engkau kaya -- dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis. (10) Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. (11) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua."


Pada bagian sebelumnya (2a), saya sudah membahas teks ini dalam 2 bagian besar :

a.   Kota dan Jemaat Smirna : di mana kota Smirna adalah suatu kota yang sangat indah, kota yang sangat maju, tetapi juga kota pluralis yang kafir. Di tengah-tengah kota seperti inilah hidup suatu gereja Kristen, jemaat Smirna.
b. Penderitaan Jemaat Smirna : di mana jemaat Smirna mengalami aniaya dari pemerintah Romawi, mereka mengalami kemiskinan yang hebat dan juga mereka difitnah oleh orang-orang Yahudi.

Sekarang kita akan melanjutkan pembahasan kita.

******************

III. PENGHIBURAN TUHAN BAGI JEMAAT SMIRNA.

Jemaat di Smirna mengalami penderitaan yang sangat hebat tetapi dalam penderitaan jhebat seperti itu, Tuhan Yesus memberikan penghiburan bagi mereka. Tuhan tidak pernah tinggal diam di dalam penderitaan gereja-Nya karena pada hakikatnya semua kejahatan yang dilakukan terhadap gereja-Nya adalah kejahatan terhadap Dia sebagai kepala gereja itu. Semua aniaya yang ditimpakan pada gereja adalah aniaya bagi-Nya. Bandingkan :

Kis 9:1-5 – (1) Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, (2) dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem. (3) Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. (4) Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" (5) Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

Dan karena itu dalam penderitaan yang hebat dari jemaat-Nya, Tuhan pasti memberikan penghiburan bagi gereja-Nya. Nah kalau begitu penghiburan macam apakah yang diberikan Tuhan kepada jemaat Smirna?

  1. Tuhan menyatakan bahwa Ia tahu semua penderitaan mereka.

Wah 2:9 - Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmudan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi,…

Perlu diketahui bahwa kata-kata “Aku tahu” dari Tuhan Yesus ini dipergunakan secara berfariasi dalam surat kepada ketujuh jemaat sesuai dengan kondisi jemaat masing-masing.

Wah 2:1-2 – (1) "Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus:…(2) Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu….

Wah 2:12-13 – (12) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: … (13) Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis;…”

Wah 2:18-19 – (18) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira:… (19) Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu…”

Wah 3:1 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: … Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!

Wah 3:7-8 – (7) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia:… (8) Aku tahu segala pekerjaanmu: …Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.

Wah 3:14-15 – (14)  "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia:… (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas….

Semua ini menunjukkan bahwa apa saja yang terjadi dengan atau di dalam gereja-Nya Tuhan pasti tahu. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya.

Jakob P.D. Groen  Aku tahu :… Kristus membelah kulit dan melihat isi kehidupan mereka. Sesudah menyelidiki keadaan jemaat-jemaat, Dia menasehati mereka. (Aku Datang Segera – Tafsiran Kitab Wahyu, hal. 39).

Mengapa Tuhan bisa tahu segala sesuatu yang terjadi di dalam gereja-Nya? Jelas karena Dia adalah Allah yang Mahatahu, tetapi dari kitab Wahyu sendiri kita mendapati suatu penglihatan yang menarik dari Yohanes :

Wah 1:12-13 – (12) Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas. (13) Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia

Anak Manusia di sini jelas adalah Yesus. Dan Yesus berada di tengah-tengah 7 kaki dian emas itu. Tetapi Ia bukan hanya berada di tengah kaki dian itu melainkan juga berjalan-jalan di antaranya.

Wah 2:1 - "….Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu.

TL : "….Bahwa inilah sabda daripada Dia yang memegang ketujuh bintang di tangan kanan-Nya itu, yang berjalan ke sana kemari di antara ketujuh kaki dian emas itu

Jadi Yesus berjalan ke sana kemari di antara 7 kaki dian emas itu. Lalu kalau begitu kaki dian emas itu apa?

Wah 1:20 - Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat."

Ya! 7 kaki dian emas itu adalah 7 jemaat yang dibicarakan di dalam kitab Wahyu ini. Dan dikatakan bahwa Yesus berjalan kian kemari di antara 7 jemaat itu. Ini tidak boleh diartikan bahwa Kristus hanya berjalan di tengah 7 jemaat ini saja dan tidak pada jemaat-jemaat yang lain. 7 jemaat ini hanyalah contoh dari gereja Tuhan di segala tempat dan waktu dan karena itu harus di artikan bahwa Kristus berada di tengah-tengah dan berjalan di antara semua gereja-Nya tanpa terkecuali (termasuk gereja kita GKIN “REVIVAL”).

Jadi berjalannya Kristus di antara 7 kaki dian emas itu berarti bahwa Tuhan Yesus selalu berada di antara gereja-Nya. Ia tidak pernah meninggalkan gereja-gereja-Nya.

William Barclay – Ia berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. Kaki-kaki dian itu adalah jemaat-jemaat. Ungkapan ini mengatakan kepada kita bahwa Kristus tidak pernah lelah berkarya di tengah jemaat-Nya. Dia tidak terikat pada satu jemaat saja; di manapun orang berkumpul untuk menyembah nama-Nya, Kristus ada di sana. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5, hal. 90-91).

Jakob P.D. Groen – Bukan hanya sekedar berjalan-jalan tetapi bergaul dengan mereka. Dia memperhatikan keadaan ketujuh jemaat. Dia menjaga, melindungi, menolong dan menasihati mereka. (Aku Datang Segera – Tafsiran Kitab Wahyu, hal. 39).

Jadi boleh dikatakan bahwa karena Kristus terus berjalan di antara gereja-Nya, maka Ia tahu segala sesuatu yang terjadi di dalam atau yang dialami oleh gereja-Nya. Karena itu kikalau gereja-Nya menderita, Dia tahu, jikalau gereja-Nya dalam persoalan, Dia tahu, jikalau gereja-Nya butuh uang untuk pelayanan, pembangunan, IMB, dll, Dia tahu, jikalau ada dosa dan kemunafikan dalam gereja, Dia tahu, jikalau ada penipu dan pencuri kolekte di dalam gereja, Dia tahu, jikalau ada kesuaman di dalam gereja, Dia tahu, jikalau ada perpecahan di dalam gereja, kebencian satu sama lainnya, saling fitnah dan menjatuhkan, Dia tahu, jikalau ada pelayanan yang tidak sungguh-sungguh / motivasi yang salah di dalam pelayanan, Dia tahu, dll.

Homer Hailey: Ia yang ada di tengah-tengah mereka mengetahui segala sesuatu tentang setiap gereja dan setiap orang yang membentuk gereja itu; tidak ada apa pun yang tersembunyi dari mata-Nya, ‘sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab’ (Ibr 4:13). Apakah itu adalah pekerjaan, kesusahan, atau keadaan sekitar yang sangat berat yang menguji iman dari para orang kudusNya, Ia tahu! (Revelation, an Introduction and Commentary, hal. 117-118).

Jikalau Tuhan tahu semua hal yang terjadi di dalam gereja-Nya, maka Dia juga pasti tahu akan penderitaan/aniaya yang dialami gereja di Smirna dan karena itu Ia menyatakan secara eksplisit kepada mereka “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu …dan fitnah mereka….”. Sesungguhnya inilah penghiburan bagi jemaat Smirna yang sementara mengalami penderitaan yang hebat. Bahwa Tuhan tahu penderitaan mereka itu saja sudah cukup memberikan penghiburan.

Terkadang di dalam penderitaan dan problem yang hebat, kita membutuhkan orang lain untuk dapat mendengarkan semua pengeluhan dan rasa sakit kita. Bukan untuk menyelesaikan problem kita tetapi sekedar untuk mendengarkan saja. Ada yang mengatakan bahwa seorang psikiater / consoler yang baik adalah orang yang mempunyai kemampuan / bersedia mendengar semua yang diceritakan pasiennya tanpa mengguruinya dengan nasihat-nasihat yang banyak. Karena kebutuhan semacam inilah yang membuat ada banyak orang yang mengeluh karena tidak ada orang yang mau tahu / mengerti dengan kesulitan yang ia hadapi. Mungkin karena tidak ada seseorang yang bisa mengerti / dapat menjadi tempat curhat maka sebagian orang memilih untuk menulis semua yang dialaminya dalam sebuah diary atau buku harian. Tetapi sebagian yang lain secara diam-diam lalu mengakhiri hidupnya dengan membunuh diri. Contohnya kasus bunuh diri di kali/jembatan Liliba. Setelah diselidik ternyata diketahui dari buku hariannya bahwa ia membunuh diri karena hubungan dengan pacarnya tidak disetujui/direstui orang tuanya.  Tuhan tahu kebutuhan ini dan karena itu dalam penderitaan yang hebat dari gereja-Nya, Tuhan mengatakan “Aku tahu kesusahanmu….”. Ini saja sudah merupakan penghiburan besar bagi jemaat Smirna.

Sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa jemaat Smirna juga mengalami kemiskinan yang sangat hebat. Dan untuk kemiskinan ini pun, Tuhan Yesus berkata “Aku tahu kemiskinanmu”. Ini juga seharusnya menjadi penghiburan bagi setiap gereja yang miskin atau juga setiap saudara yang hidup dalam kemiskinan.

Budi Asali – Tuhan menghibur orang Kristen di Smirna dengan mengatakan ‘Aku tahu kemiskinanmu’. Kalau saudara adalah orang Kristen yang miskin, maka pengetahuan Tuhan akan kemiskinan saudara juga seharusnya menghibur saudara. Tuhan bukannya melupakan saudara atau keadaan saudara. Sebaliknya Ia tahu akan keadaan saudara, dan Ia tahu segala kebutuhan saudara (bdk. Mat 6:32b - “Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu membutuhkan semuanya itu”), dan pasti akan memberikan kebutuhan saudara itu pada waktunya.

Tetapi ada satu hal yang perlu diperhatikan bahwa sekalipun Tuhan mengetahui segala kesusahan dari jemaat Smirna, pengetahuan ini tidak serta merta membuat Dia mengangkat atau melenyapkan semua penderitaan mereka. Yesus tidak berkata“Aku tahu kesusahanmu dan karena itu Aku akan mengangkat kesusahanmu”. Yesus tidak berkata “Aku tahu kemiskinanmu dan karena itu Aku akan menjadikan engkau kaya”. Tidak! Dia hanya berkata “Aku tahu kesusahanmu” tanpa mengangkat kesusahan itu. Ia malah menubuatkan datangnya kesusahan yang baru.

Wah 2:9-10 – (9) Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu…dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi,…(10) …Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari….”

Beasley-Murray : Tuhan tahu tentang situasi ini, tetapi Ia tidak mau ikut campur. Ia tidak membuang kemiskinan mereka, Ia tidak membela pengikut-pengikut-Nya menghadapi fitnahan orang-orang Yahudi, juga Ia tidak menggagalkan rencana busuk Setan yang akan menimbulkan pemenjaraan dan kematian bagi beberapa orang. Ia hanya menguatkan hati mereka untuk bertahan. Mengapa tidak lebih dari ini? Penulis Kitab Ayub bergumul dengan problem ini, dan begitu juga dengan orang-orang kudus Allah sejak saat itu. Yohanes tidak memberikan jawaban, tetapi seluruh kitabnya ditulis dalam keyakinan bahwa Gereja Kristus mempunyai pekerjaan menderita bersama dengan Tuhannya, supaya gereja itu bisa ikut menikmati kemuliaan-Nya dalam kerajaan yang telah Ia menangkan untuk umat manusia. (Revelation : The New Century Bible Commentary on Revelation, hal.81).

Kata-kata ini khususnya harus direnungkan dan dihayati oleh orang-orang yang menganut Teologia Kemakmuran atau ajaran yang mengatakan bahwa kalau ikut Kristus semua problem pasti beres, semua penyakit pasti sembuh dan sebagainya. Karena itu jangan heran bahwa tidak selamanya Tuhan mengangkat penderitaan saudara. Tidak selamanya Tuhan mau menyingkirkan kesusahan saudara. Tidak selamanya Tuhan mau menyembuhkan saudara. Tidak selamanya Tuhan mau menjawab doa saudara. Tuhan kadang tetap membiarkan saudara berada dalam penderitaan agar saudara mengambil bagian di dalam penderitaan-Nya dan karena itu juga saudara akan mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya kelak.

1 Pet 4:13 – “…bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Karena itu belajarlah untuk dihiburkan bukan dengan terangkatnya semua penderitaan, kesusahan dan kemiskinan tetapi dengan fakta bahwa Tuhan benar-benar tahu akan semuanya penderitaan, kesuahan atau kemiskinan kita. Fakta bahwa Tuhan tahu semua penderitaan jemaat-Nya sekali lagi adalah penghiburan bagi setiap kita. 

John Stott - Ini adalah penghiburan yang besar dan manis. Salah satu kebutuhan terbesar kita dalam kesukaran adalah seseorang kepada siapa kita bisa menceritakan / mensharingkannya. Kita ingin melepaskan beban kita kepada seseorang yang mengerti. Yesus Kristus adalah penghiburan dunia yang terbesar.... Betapa pun dalamnya kesedihan kita atau betapa pun besarnya penderitaan kita, Ia tahu dan peduli. (What Christ Thinks of the Church, - hal. 47).

Pada tahun 1800-an, tepatnya 1819, di Irlandia lahirlah seorang anak yang lalu diberi nama Joseph M. Scriven oleh orang tuanya. Joseph M. Scriven dibesarkan dalam keluarga yang cukup berada, dan ia pun mendapat pendidikan yang baik. Pada tahun 1842 ia tamat dari universitas. Ia hendak melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis Irlandia yang cantik. Tapi sayang sekali, sehari sebelum hari perkawinan mereka, gadis tunangan Joseph Scriven mengalami kecelakaan dan mati tenggelam. Scriven sangat patah hati. Di samping itu, ia pun mulai menghadapi persoalan dengan keluarganya, karena ia ikut golongan agama Kristen yang tidak disetujui oleh mereka. Ia pun lalu pindah ke Kanada (1844) dan menjadi guru di sebuah sekolah, kemudian ia menjadi pendidik khusus untuk anak-anak dalam sebuah keluarga yang kaya. Di sini ia bertemu dengan seorang gadis kaya dan bertunangan dengannya. Tapi ia kembali mengalami nasib sial. Beberapa hari sebelum pernikahan mereka, tunangannya jatuh sakit dan lalu meninggal. Dalam kesedihan yang sangat Scriven pun menyingkir dari tempat yang ramai. Ia tinggal seorang diri dalam sebuah pondok di pinggir danau. Uang dan tenaganya ia gunakan demi orang miskin. Ia mencari anak-anak yatim piatu supaya dapat ditolongnya. Ia bekerja sebagai tukang kayu sukarela bagi para janda yang kekurangan. Ia bahkan memberikan pakaiannya sendiri kepada orang-orang yang lebih memerlukannya. 10 tahun setelah Joseph Scriven pindah ke Kanada, ibunya di Irlandia sakit keras dan sangat sedih. Ia sama sekali tidak mempunyai cukup uang untuk pergi ke Irlandia menemani ibunya yang sakit itu namun ia mendapat akal untuk menghibur ibunya. Seorang diri di kamarnya, ia menuliskan sebuah syair tentang Yesus yang dapat menjadi sahabat bagi orang-orang yang lemah. Satu salinan ia kirimkan kepada ibunya di Irlandia. Satu lagi ia simpan, dan segera melupakannya. Beberapa tahun kemudian, Joseph Scriven sendiri jatuh sakit. Seorang tetangga yang merawat dia menemukan di kamarnya salinan syair tadi. Ia senang akan isinya, dan bertanya kepada Scriven tentang sumbernya. Joseph Scriven lalu menceritakan asal usul karangannya tersebut. Pada waktu yang lain, seorang tetangga lain lagi bertanya kepada Joseph Scriven, apakah memang dialah yang mengarang syair itu. Scriven menjawab : "Yah...Tuhan dan saya mengerjakannya bersama-sama." Menjelang akhir hidupnya, Joseph Scriven tidak lagi memiliki rumah sendiri. Ada kalanya ia menginap dengan satu keluarga, ada kalanya dengan keluarga yang lain. Pada tahun 1886, dalam usia 67 tahun, ia sedang tinggal di rumah seorang kawan. Lalu ia jatuh sakit keras. Kawannya menunggui dia siang dan malam. Tetapi pada suatu malam kawannya meninggalkan kamarnya sebentar tetapi sekembalinya ia tidak menemukan Scriven di kamarnya. Teman dan tetangga segera dipanggil. Mereka mulai mencari Scriven yang hilang itu. Akhirnya mereka menemukan dia dalam sebuah kali yang tidak jauh dari rumah kawannya. Ia sudah menjadi mayat. Tidak ada seorang pun yang tahu penyebab kematiannya.

Beberapa tahun kemudian syair karangan Scriven itu sampai ke tangan seorang ahli musik Amerika bernama Charles Converse. Dan Charles Converse pun menciptakan nada dan musik bagi syair tersebut dan menyebut lagu itu sebagai “Lagu Penghiburan Karangan Orang Sedih." Pada tahun 1875, seorang penginjil bernama Ira D. Sankey menerbitkan sebuah buku nyanyian rohani dan ia memasukkan “Lagu Penghiburan Karangan Orang Sedih" itu pada urutan terakhir bukunya. Tidak disangka justru lagu itu lalu menjadi terkenal kemana-mana sampai ke seluruh dunia. Lalu lagunya bagaimana?

What a Friend we have in Jesus, all our sins and griefs to bear!
What a privilege to carry everything to God in prayer!
O what peace we often forfeit, O what needless pain we bear,
All because we do not carry everything to God in prayer.

Have we trials and temptations? Is there trouble anywhere?
We should never be discouraged; take it to the Lord in prayer.
Can we find a friend so faithful who will all our sorrows share?
Jesus knows our every weakness; take it to the Lord in prayer.

Are we weak and heavy laden, cumbered with a load of care?
Precious Savior, still our refuge, take it to the Lord in prayer.
Do your friends despise, forsake you? Take it to the Lord in prayer!
In His arms He’ll take and shield you; you will find a solace there.

Blessed Savior, Thou hast promised Thou wilt all our burdens bear
May we ever, Lord, be bringing all to Thee in earnest prayer.
Soon in glory bright unclouded there will be no need for prayer
Rapture, praise and endless worship will be our sweet portion there.

Lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Yesus ada Sobat Kita” atau “Yesus kawan yang sejati” (Kidung Jemaat No. 453).

Ya! Benar sekali syair dari Joseph Scriven ini. Yesus adalah Kawan yang sejati bagi kita yang lemah, tiap hal boleh dibawa dalam doa pada-Nya. Karena itu di dalam penderitaan yang hebat, di dalam kemiskinan yang mencekik, di dalam fitnahan yang menyakitkan dan segala kesusahan dalam bentuk apa pun, janganlah saudara kecewa dan berputus asa, ada Tuhan Yesus yang mengetahui semuanya itu. Ingat juga sebuah lagu rohani lain yang syairnya berbunyi demikian : “Tuhan Yesus setia Dia sahabat kita, dalam s’gala susahku, selalu membimbingku. Dia mengerti bahasa, tetesan air mata, waktu badai mengamuk dan gelombang menderu, Tuhan Yesus setia”.

  1. Tuhan menyatakan diri sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan bangkit.

Wah 2:8 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali

Tuhan tahu penderitaan jemaat Smirna dan dalam surat-Nya kepada jemaat ini, ia mengawalinya dengan menyebut diri-Nya sebagai “Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali”. Kata-kata ini jelas bukan hanya bertujuan untuk memperkenalkan diri-Nya tetapi ada kaitannya dengan penderitaan yang dialami jemaat Smirna. Dengan kata lain kata-kata ini bermanfaat untuk memberikan penghiburan kepada jemaat Smirna di tengah-tengah penderitaan, kemiskinan dan fitnahan yang mereka alami. Tetapi bagaimana kata-kata ini bisa menjadi penghiburan bagi jemaat Smirna yang menderita? Mari kita perhatikan frase demi frase.

§  Yang Awal.

Pulpit Commentary - Aku adalah yang Awal / Pertama’; yaitu ‘Aku adalah kepala dan permulaan dari segala sesuatu; semua diperintah dan diatur sesuai dengan kehendak-Ku; tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan; tidak ada apa pun yang tertinggal tanpa diurus’.

Jika demikian maka penderitaan yang dialami oleh jemaat Smirna diatur oleh Tuhan. Penderitaan mereka ada dalam kontrol Tuhan. Mereka menderita karena Tuhan tetapi mereka juga tidak mungkin mengalami lebih dari yang sementara mereka derita jika Tuhan tidak mengijinkannya. Tidak ada yang kebetulan dalam penderitaan mereka.

Ini memang benar! Penderitaan bahkan mati hidup manusia ada di tangan Tuhan. Jika sudah saatnya mati orang tidak bisa lari kemana-mana. Tapi jika belum saatnya mati, tidak akan mungkin bisa mati. Karena itu ketika kita menderita bahkan berada dalam baha penganiayaan sekalipun, percayalah bahwa semua masih ada ada dalam kontrol Tuhan. Kesadaran akan hal ini akan membawa penghiburan yang besar bagi kita. 

§  Yang Akhir.

Pulpit Commentary - Dan Yang Akhir’; yaitu ‘Pada waktu manusia dan Setan telah melakukan segala usaha mereka, dan tidak ada apa pun yang tersisa yang bisa mereka lakukan, dan mereka akan pergi ke tempat mereka sendiri, Aku akan tetap tinggal, dan kerajaan-Ku tidak akan berakhir. Karena itu, ingatlah, Allah yang kekal adalah perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan yang kekal’.

Ya! Tuhan kita bukan hanya Tuhan yang mengawali sejarah tetapi juga yang mengakhiri sejarah tetapi Ia sendiri tidak pernah berawal dan berakhir. Tidakkah mendapatkan perlindungan dari seorang seperti ini adalah penghiburan besar bagi kita?

§  Yang telah mati dan hidup kembali.

Pulpit CommentaryYang telah mati’; yaitu ‘Aku telah masuk ke dalam segala sesuatu yang mungkin ada di depanmu. Aku, oleh kehendak-Ku sendiri, turun ke dalam kesakitan dan kegelapan kematian; Aku tahu segala sesuatu tentang hal itu, hai umat-Ku, dan Aku tahu bagaimana perasaanmu, karena dalam segala hal Aku dicobai seperti engkau. Dan Aku masuk ke dalam kematian supaya Aku bisa menolongmu dengan lebih baik. Dan lihatlah, Aku hidup! Dosa dan neraka melakukan yang terburuk terhadap-Ku, tetapi lihatlah, Aku hidup selama-lamanya’.

William Barclay - Kristus Yang Bangkit adalah Dia yang telah mengalami hal terburuk yang dapat dilakukan hidup ini terhadap-Nya. Ia telah mati dalam derita Salib. Apa pun yang dialami orang Kristen Smirna, pernah dialami Yesus Kristus. Yesus Kristus dapat menolong, karena Ia tahu hal terburuk dalam kehidupan dan bahkan telah mengalami pahitnya kematian. Kristus Yang Bangkit telah menaklukkan hal terbu­ruk yang dapat dilakukan hidup ini. Ia menang atas deri­ta dan kematian; dan Ia menawarkan kepada kita jalan menuju hidup yang penuh kemenangan melalui diri-Nya. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5, hal. 121-122).

Ya benar! Kita mungkin takut terhadap kematian tetapi Yesus sudah pernah mengalaminya dan menang atas maut. Ia bahkan menjamin kemenangan bagi kita sekalipun kita harus mati. Memang berita tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus bukan hanya penting untuk penginjilan, tetapi juga penting untuk penghiburan, khususnya bagi orang kristen yang menderita / dianiaya karena Kristus.

  1. Tuhan mengatakan bahwa mereka kaya.

Wah 2:9 - Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu -- namun engkau kaya

Tuhan tidak hanya mengatakan bahwa Ia tahu kemiskinan jemaat Smirna,  Ia bahkan memberikan pernyataan bahwa mereka kaya. Sudah jelas bahwa kaya yang dimaksudkan di sini bukanlah kekayaan secara materi. Alkitab berulang kali berbicara tentang kekayaan tetapi tidak mengacu kepada hal-hal materi melainkan kekayaan secara rohani.

Yak 2:5 – “…Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman …”

1 Tim 6:18 - Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi

1 Kor 1:5 - Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan,

Jadi biarpun jemaat Smirna sangat miskin tetapi Tuhan memuji mereka juga karena mereka kaya secara rohani. Ini jelas menunjukkan bahwa kemiskinan tetap memungkinkan orang Kristen untuk bisa dekat dengan Tuhan, menyenangkan Tuhan, dan memuliakan Tuhan! Lebih dari itu, orang Kristen Smirna bukan hanya miskin tetapi juga mengalami banyak penderitaan / kesusahan / penganiayaan. Tetapi mereka toh bisa menjadi orang-orang yang sangat rohani! Karena itu jangan menjadikan problem uang atau pun penderitaan sebagai alasan untuk tidak bisa bertumbuh dalam iman! Kemiskinan memang mempersulit orang Kristen dalam belajar Firman Tuhan (tak bisa beli buku, dsb), berbakti kepada Tuhan (tak ada mobil / uang transportasi), melayani Tuhan (karena harus terus bekerja), dsb. Karena itu kalau orang Kristen bisa tetap setia bagi kepada Tuhan di tengah-tengah kemiskinannya, maka itu merupakan hal yang luar biasa. Jadi pada waktu orang Kristen Smirna menghadapi kemiskinan mereka dengan tetap setia kepada Tuhan, maka faktor kemiskinan itu memberikan nilai tambah terhadap kesetiaan mereka, dan sekaligus memperkaya mereka secara rohani. Sebaliknya orang kaya bisa lebih leluasa dalam belajar Firman Tuhan, berbakti kepada Tuhan, melayani Tuhan, dsb. Dan karena itu, orang kaya harus malu kalau, sekalipun mereka tidak mempunyai problem keuangan, mereka tidak bisa mempunyai rohani sebaik orang yang miskin!

Pujian Kristus kepada jemaat yang miskin ini juga bisa menjadi penghiburan bagi mereka karena mereka tahu bahwa Tuhan menilai mereka bukan dari apa yang kelihatan tetapi dari apa yang tidak kelihatan. Kita mungkin berbeda dalam tingkatan ekonomi (ada yang kaya ada yang miskin) tetapi pertanyaan yang harus kita renungkan adalah apakah kita juga kaya di hadapan Tuhan atau tidak?

Luk 12:21 - Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."

Demikianlah penghiburan-penghiburan yang diberikan oleh Tuhan kepada gereja-Nya yang menderita termasuk bagi kita semua jika kita berada dalam penderitaan. Ia tahu kesusahan kita, Ia memberikan kekuatan kepada kita bahwa Ia yang mengontrol jalannya sejarah sebagai Yang Awal dan Yang Akhir di mana tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi secara kebetulan, bahwa Ia telah mati dan bangkit lagi dan dengan demikian menjamin kemenangan bagi kita yang menderita bahkan mati karena iman, Ia menilai kita bukan dari apa yang kelihatan secara jasmani, Ia menilai kita secara rohani. enar sekali, di dalam penderitaan yang hebat, tekanan hidup yang berat, Ia memberikan penghiburan abadi bagi gereja-Nya.

2 Tes 2:16 - Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita.

IV. NASIHAT TUHAN BAGI JEMAAT SMIRNA.

Tuhan bukan hanya memberikan penghiburan kepada jemaat Smirna tetapi juga memberikan nasihat kepada mereka di tengah-tengah penderitaan mereka. Lalu nasihat apa sajakah yang diberikan Kristus kepada mereka?

a.      Tuhan menasihati mereka agar jangan takut.

Wah 2:10 – Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! …”

Jadi di dalam menghadapi penderitaan yang sementara mereka alami, mereka tidak boleh takut. Demikian juga di dalam menghadapi penderitaan yang akan mereka alami (ayat 10), mereka juga harus tidak takut. Adanya nasihat untuk jangan takut ini menunjukkan bahwa keadaan pada saat itu memang menakutkan. Perhatikan bahwa Tuhan bukan berkata: Jangan takut, karena Aku akan melindungi sedemikian rupa sehingga engkau tidak akan menderita’! Tetapi Ia berkata: ‘Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!’ Berarti penderitaan itu pasti ada tetapi kita dinasihatkan agar tidak menjadi takut di tengah-tengah penderitaan. Bandingkan :

1 Pet 3:14 – “…Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar”.

Ini tidak berarti bahwa rasa takut itu benar-benar harus tidak ada di dalam diri kita pada saat kita menderita karena iman pada Kristus. Kadang rasa takut itu muncul tanpa bisa dikontrol walaupun kita tahu bahwa kita seharusnya tidak boleh takut. Steve Gregg mengatakan bahwa arti kata-kata “tidak takut” di sini adalah bahwa kita tidak boleh menyerah / tunduk terhadap ancaman.

Steve Gregg – Bagaimana pun, ‘tidak takut’ tidak harus berarti tidak adanya rasa takut secara total, tetapi penolakan untuk menyerah / tunduk pada ancaman / intimidasi, sehingga ancaman untuk disakiti tidak menyebabkan mereka meninggalkan kewajiban kepada Kristus. (Revelation: Four Views : A Parallel Commentary, hal. 67).

Jadi biar pun kita takut menghadapi ancaman-ancaman atas nyawa kita sekalipun, tetapi kita tidak boleh menyerah dan menyangkali iman kita. Ketidaktakutan semacam ini bisa ada kalau kita mengingat bahwa Kristus juga sudah mati tetapi Ia sudah bangkit.

H. L. Ellison : Karena Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, kematian fisik tidak boleh membuat kita takut, sekalipun itu bisa sangat menyakitkan. (Daily Bible Commentar, hal. 458).

b.      Tuhan menasihati mereka agar mereka setia sampai mati.

Wah 2:10 – “…Hendaklah engkau setia sampai mati,…

Perhatikan bahwa Yesus tidak berjanji akan menjaga supaya mereka tidak mati dibunuh, tetapi sebaliknya berkata bahwa mereka harus setia sampai mati. Ini menunjukkan bahwa bisa saja Tuhan membiarkan seorang Kristen dalam kemiskinan dan penganiayaan / penderitaan, sampai mati! Bandingkan :

Ibr 11:35-37 – (35) “…Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik. (36) Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. (37) Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan.

Jakob P.D. Groen  Hendaklah engkau setia : orang yang tetap setia mengakui Yesus sebagai Knstus, harus sadar bahwa ada kemungkinan ia akan dibunun oleh karena kesetiaannya. Orang Kristen tidak perlu mengharapkan penghormatan atau kekayaan di dunia. Mereka harus selalu bersedia menderita bahkan mati bagi nama Yesus. (Aku Datang Segera – Tafsiran Kitab Wahyu, hal. 46).

Kata-kata ‘hendaklah engkau setia sampai mati’ di ini tidak sekedar berarti ‘setialah sampai kamu mati’ tetapi ‘setialah sekalipun itu harus dibayar dengan nyawamu’. Dan kesetiaan yang harus dibayar dengan nyawa ini bukanlah perkara mudah.

Homer Hailey - Seperti yang diperhatikan oleh Lenski, adalah mudah untuk menulis tentang hal-hal seperti ini pada saat sedang duduk dalam ruangan belajar yang menyenangkan, dikelilingi oleh kesenangan hidup modern dan keadaan hidup yang menyenangkan, tetapi akan sangat berbeda untuk mempraktekkan nasihat ini di depan penderitaan dan ancaman kematian. (Revelation, an Introduction and Commentary, hal.127).

Karena itu jangan terlalu percaya diri pada saat enak / aman, dan sesumbar bahwa saudara berani mati syahid untuk Kristus. Petrus melakukan itu, dan ia justru menyangkal Yesus sebanyak 3 kali. Memang di sini diperintahkan untuk setia sampai mati tetapi tanpa kekuatan dari Tuhan, tidak ada kita yang bisa bertahan. Nasihat untuk setia ini diberikan kepada kita semua tetapi secara khusus diberikan kepada jemaat Smirna. Dan beberapa tahun setelah surat kepada jemaat Smirna ini diterima, terjadilah sebuah peristiwa besar di jemaat Smirna. Ini terkait dengan seorang yang bernama Polycarpus yang mati syahid. Kematian syahid dari Polycarpus merupakan ketaatan terhadap kata-kata “hendaklah engkau setia sampai mati” ini. Berikut ini kisah tentang Polycarpus yang saya ambil dan gabungkan dari beberapa sumber.

Polycarpus adalah murid teman sekaligus murid dari rasul Yohanes (cucu murid Tuhan Yesus) yang pada saat itu menjabat sebagai uskup di gereja Smirna (Ia sudah sangat tua pada saat itu yakni sekitar 101 tahun). ia juga adalah guru dari salah seorang bapak gereja yang terkenal yakni Irenaeus. Pada tahun 156 M propinsi Asia dipimpin oleh seorang Gubernur Romawi bernama Statius Quadratus. Dan pada saat itulah terjadi penganiayaan besar terhadap jemaat-jemaat Kristen di wilayah Asia Kecil termasuk jemaat Smirna karena mereka menolak mengakui kaisar Romawi sebagai Tuhan. Ada banyak orang Kristen yang dibunuh pada masa itu. Sebagai pemimpin jemaat, Polycarpus menjadi sasaran penganiayaan dari orang-orang kafir dan karena itu maka murid-muridnya lalu mengasingkan dia ke sebuah tempat persembunyian yang aman walaupun sebenarnya ia tidak mau. Sepanjang dalam masa persembunyian ini, Polycarpus menghabiskan waktunya untuk berdoa bagi jemaatnya yang sementara berada dalam aniaya.

Pada suatu hari ada acara perlombaan umum di stadion olahraga kota Smirna dan entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja orang-orang mulai berteriak "Enyahlah kaum ateis; tangkap Polycarpus". Tetapi ketika mereka menyerbu gereja Smirna, Polycarpus tidak didapatnya di sana. Para serdadu Romawi lalu menangkap salah seorang budak dan menyiksanya sampai ia terpaksa memberitahukan tempat persembunyian Polycarpus. Pasukan Romawi pun lalu bergerak menuju tempat persembunyian Polycarpus tetapi sebelum mereka tiba di tempat tersebut, para murid Polycarpus sudah mendahului mereka dan hendak membawa lari Polycarpus tetapi kali ini Polycarpus menolak. Ia berkata pada murid-muridnya bahwa ia telah mendapat penglihatan dalam mimpinya semalam bahwa bantal yang ditidurinya terbakar api dan itu sebagai simbol bahwa ia akan dibakar hidup-hidup. Dengan sangat berani Polycarpus menunggu kedatangan para tentara Romawi yang hendak menangkapnya. Dan pada saat para tentara itu sudah tiba di depan rumahnya, Polycarpus yang saat itu berada di lantai 2 menengadahkan wajahnya ke atas sambil berkata : “Jadilah kehendak-Mu”. Ia lalu turun menemui para tentara yang hendak menangkapnya itu. Satu hal yang menarik adalah ketika mereka hendak menangkapnya, Polycarpus memerintahkan murid-muridnya untuk menyediakan makanan dan minuman bagi semua tentara itu dan apa saja yang mereka perlukan. Ia lalu meminta waktu kepada pemimpin pasukan itu untuk berdoa selama 1 jam. Tetapi ia berdoa dengan sangat bersungguh-sungguh sehingga mencapai 2 jam. Ia berdoa sedemikian rupa sampai dikatakan bahwa orang-orang kafir yang mengawasinya pun tersentuh hati pemandangan penyembahan seperti itu. Selesai berdoa ia pun digiring menuju pusat kota Smirna. Sementara dalam perjalanan, kepala tentara yang sudah jatuh kasihan kepada Polycarpus berkata kepada : "Apa ruginya mengatakan 'Kaisar adalah Tuhan' dan memberikan persembahan lalu kau dibebaskan?" Namun, Polycarpus tetap tegak dalam pendiriannya. Ia berkata kepada kepala tentara itu : “Bagiku hanya Yesus Kristuslah Tuhan”. Akhirnya kereta yang membawa Polycarpus ke kota pun tiba. Ia digiring ke tengah-tengah stadion olahraga kota Smirna dan diadili di sana langsung oleh Gubernur Statius Quadratus. Berikut ini adalah gambar stadion kota tempat diadilinya Polycarpus. Dan juga gambar tentang Polycarpus yang diadili di antara massa yang ada.

Pada saat ia memasuki arena itu ada suara dari sorga yang mengatakan, "Kuatkan hatimu Polycarpus dan hadapi orang itu." Gubernur Statius Quadratus lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab secara berani oleh Polycarpus. Berikut ini dialognya :

Gubernur : Polycarpus, maukah engkau mengakui bahwa Kaisar Romawi adalah Tuhan?

Polycarpus : Tidak!

Gubernur : Tahukah engkau bahwa penolakanmu bisa saja mengakhiri nyawamu hai orang tua? Kasihilah usia lanjutmu sendiri”. Jadi katakanlah bahwa Kaisar adalah Tuhan!

Polycarpus : Sekali lagi aku katakan tidak!

Gubernur : Engkau keras kepala hai orang tua busuk! Sekarang Bersumpahlah, kutukilah Kristus, dan aku akan membebaskan engkau’.

Polycarpus : "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia, dan Dia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepadaku. Bagaimana aku dapat menghujat Rajaku yang menyelamatkan aku?"

Gubernur : Jadi engkau menolak?

Polycarpus : Ya! Sia-sia engkau mendesak aku supaya aku bersumpah demi nasib baik kaisar, dan berpura-pura untuk tidak tahu siapa dan apa aku ini. Dengarlah! Aku menyatakan dengan keberanian, aku adalah seorang Kristen!

Gubernur : Aku akan melemparkan engkau kepada binatang-binatang buas, jika engkau tidak mengubah pikiranmu!

Polycarpus : Bawalah binatang-binatang buas itu kemari karena aku tidak akan mengubah pikiranku dari yang baik kepada yang lebih jelek.

Gubernur : Apakah engkau meremehkan / menghina binatang-binatang buas itu? Aku akan menaklukkan semangatmu dengan nyala api. Aku akan membakarmu hidup-hidup!

Polycarpus : Engkau mengancamku dengan api yang menyala sebentar saja lalu setelah itu segera padam tetapi engkau tidak tahu ada api yang menantikan orang-orang jahat seperti engkau, api penghakiman yang akan datang dari penghukuman kekal’. Apa lagi yang kau tunggu? Mengapa engkau berlambat-lambat? Ayo, lakukan kehendakmu! Wujudkanlah apa yang engkau inginkan’.

Segera setelah kata-katanya ini, sang Gubernur menjatuhkan hukuman mati kepada Polycarpus dengan cara dibakar hidup-hidup. Masyarakat pun beramai-ramai mengumpulkan kayu (terutama orang Yahudi dari Synagoge of Satan / Jemaat Iblis itu) dan membuat kobaran api yang besar. Mereka hendak mengikatkan Polycarpus pada sebatang kayu agar ia tidak bisa meloncat keluar dari dalam api itu tetapi Polycarpus menolaknya dan berkata kepada mereka : "Biarkan aku seperti ini, tidak diikat. Karena Dia yang memberikan aku kemampuan untuk menantang api, Dia juga akan memberiku kekuatan untuk menahan keganasannya”. Polycarpus pun melepaskan jubahnya dan menghadap pada kobaran api itu, dan ia memanjatkan doa agung dengan suara yang lantang :

“Ya Tuhan Allah Yang Mahakuasa, Bapa dari Anak yang Kau kasihi dan berkati, Yesus Kristus, yang melalui-Nya kami telah menerima pengetahuan penuh mengenai Engkau, Allah para malaikat dan kuasa, dan semua ciptaan, dan semua orang benar, yang hidup di hadapan-Mu, aku mengucap syukur kepada-Mu karena Engkau telah mempercayaiku pada hari dan jam ini, bahwa aku boleh minum, bersama para martir, dari cawan Kristus, untuk mengalami kebangkitan masuk ke kehidupan kekal, baik jiwa maupun tubuh di dalam keabadian Roh Kudus. Dan semoga hari ini aku diterima di antara mereka yang ada di hadapan-Mu, sebagai korban yang baik dan layak dite­rima, sebagaimana Engkau, Allah tanpa kesalahan dan Allah kebenaran, telah mempersiapkannya sendiri dan telah memperlihatkan serta memenuhinya. Karena inilah aku juga memuji Engkau, aku memuliakan Engkau melalui Imam Besar, Yesus Kristus Anak-Mu yang terkasih, yang abadi dan sorgawi, yang melalui-Nya kemuliaan ada pada-Mu beserta Dia dan Roh Kudus, sekarang dan zaman-zaman yang akan datang. Amin!”

Segera setelah doa ini, Polycarpus pun berjalan masuk dengan penuh keberanian dan keterangan ke dalam kobaran api yang besar itu. Polycarpus pun hangus terbakar dan mati tetapi memuliakan Tuhan lewat kematiannya. Ada juga kisah yang mengatakan bahwa kobaran api itu ditiup oleh angin sehingga mengarah ke tempat lain dan karena itu tidak menyentuh tubuh Polycarpus secara menyeluruh dan karena itu maka seorang tentara menusukkan tombaknya ke arah Polycarpus dan membunuhnya dan selanjutnya ia terbakar dalam nyala api itu. Polycarpus, pemimpin gereja Smirna itu telah meneladani dan melaksanakan kata-kata Tuhannya dalam surat kepada gerejanya di Smirna ‘hendaklah engkau setia sampai mati’. Demikianlah kisah kemartiran Polycarpus.

Bagaimana dengan kita? Beranikah kita setia sampai mati?

V.    JANJI TUHAN BAGI JEMAAT SMIRNA.

Setelah nasihat diberikan bagi jemaat Smirna agar mereka jangan takut dan juga setia sampai mati, Tuhan lalu memberikan satu janji. Janji apakah itu?

  1. Mereka akan diberikan mahkota kehidupan.

Wah 2:10 – Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! …. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.

Inilah janji Kristus bagi setiap orang yang setia kepada-Nya di dalam penderitaan sekalipun. Di dalam bahasa Yunani ada 2 kata yang sama-sama berarti “mahkota” yakni “DIADEMA” dan “STEPANOS”. “DIADEMA” menunjuk kepada mahkota kerajaan yang dipakai oleh raja-raja karena jabatan / warisan yang mereka terima. “STEPANOS” adalah mahkota yang diberikan kepada orang biasa karena prestasi tertentu. Kata “STEPANOS” ini sama artinya dengan nama Stefanus atau Stefani sehingga Stefanus atau Stefani artinya adalah mahkota. Nah, kata “mahkota” di dalam Wah 2:10 ini menggunakan kata “STEPHANOS”.

Berarti ini bukan menunjuk pada mahkota sebagai seorang raja melainkan mahkota yang dimiliki oleh seseorang karena suatu prestasi atau kemenangan. Latar belakang penggunaan kata ini kepada jemaat di Smirna adalah sebagaimana sudah saya jelaskan bahwa di kota Smirna ada gelanggang / stadion olahraga di mana banyak perolombaan dilakukan di sana, maka setiap pemenang dari perlombaan-perlombaan itu selalu diberikan suatu mahkota yang yang dibuat dari daun salam dan bunga-bunga. Dari tradisi semacam inilah Yesus Kristus berkata bahwa untuk jemaat-Nya yang telah menang di dalam berbagai macam pencobaan dan penderitaan, Ia akan mengaruniakan mahkota kehidupan kepada mereka, sebuah mahkota yang tidak bisa rusak seperti yang diberikan kepada para pemenang di stadion Smirna.

Jakob P.D. Groen  Mahkota kehidupan: bukan mahkota raja, melainkan mahkota kemenangan. Pada zaman itu, orang yang menang dalam pertandingan olahraga menerima mahkota dari daun hijau dan bunga-bunga. Demikian pula orang Kris­ten yang menang dalam pencobaan akan menerima pahalanya. Mereka akan menerima mahkota yang tidak dapat rusak atau hilang, yaitu kehidupan. Ti­dak sia-sia mereka mengorbankan diri. Walaupun kita mati demi nama Ye­sus, kita memperoleh kehidupan kekal. Itulah penghiburan besar bagi orang yang hidup dalam bayang-bayang maut. (Aku Datang Segera – Tafsiran Kitab Wahyu, hal. 46).

Apakah saudara mau menerima mahkota seperti itu? Kalau ya, belajarlah setia kepada Tuhan walaupun di dalam mengiring Dia, di dalam melayani Dia saudara harus banyak menderita bahkan nyawa menjadi taruhannya.

William Barclay - Dalam kehidupan ini mungkin kesetiaan orang Kristen akan menghasilkan mahkota duri, namun dalam kehidupan yang akan datang kesetiaannya pasti akan nendatangkan baginya mahkota kemuliaan. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu Kepada Yohanes Pasal 1-5, hal. 124).

Agnes Maria Layantara – Tuhan menjanjikan mahkota kehidupan hanya diberikan kepada orang-orang yang setia sampai mati. Kalau suatu saat Anda diperhadapkan oleh dua pilihan, yaitu Yesus atau nyawa, jangan berpikir dua kali. Kristus harus Anda pertahankan. Kita harus setia sampai mati. Jangan takut mati karena kalau memang belum waktunya mati, Anda tidak akan mati walaupun pedang sudah menancap di tubuh Anda. Seperti Rasul Paulus pada waktu dirajam batu. Semua orang mengira dia sudah mati sehingga orang-orang meninggalkannya. Ketika orang-orang pergi, Rasul Paulus bangkit dan menginjil kembali. (Wahyu Tuhan Bagi Gereja-Nya, hal. 26).

Maukah saudara? Beranikah saudara?

  1. Mereka tidak akan menderita oleh kematian kedua.

Wah 2:11 – “Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua."

Istilah “kematian kedua” ini hanya ada dalam kitab Wahyu (Wah 20:6,14; 21:8). Kelihatannya istilah ini menunjuk pada penghukuman kekal di dalam neraka. Ide tentang adanya kematian kedua ini jelas berhubungan dengan kematian pertama yakni saat seseorang meninggal dunia. Demikian juga dengan kelahiran, ada kelahiran pertama yakni saat seseorang lahir dari rahim ibunya dan ada kelahiran kedua saat seseorang lahir dari Roh. Karena Yesus kristus berkata bahwa “jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” maka dapatlah dikatakan bahwa :

Pulpit Commentary - Ia yang dilahirkan dua kali hanya bisa mati satu kali, tetapi ia yang dilahirkan hanya satu kali akan mati dua kali.

Maksudnya adalah jika seseorang hanya dilahirkan 1 kali (yakni dari rahim ibunya) tanpa dilahirkan yang kedua kalinya (yakni dari Roh), maka ia akan mengalami kematian 2 kali yakni saat meninggal dunia dan kebinasaan di neraka. Sedangkan bagi yang lahir 2 kali yakni lahir dari rahim ibunya dan lahir dari Roh, maka ia hanya akan mengalami kematian pertama (meninggal dunia) dan tidak akan mengalami kematian kedua (binasa di neraka). Nah, orang-orang yang setia sampai akhir adalah orang-orang pilihan Tuhan. Atau orang-orang pilihan Tuhan adalah orang-orang yang akan setia sampai akhir. Karena itu untuk orang-orang yang setia sampai akhir / menang dalam pencobaan dan penderitaan, jaminan dari Tuhan adalah mereka tidak akan mengalami kematian kedua atau binasa di neraka.

Inilah 2 janji Kristus bagi gereja atau jemaat-Nya yang berada di tengah penderitaan yang hebat. Saya tidak tahu apa penderitaan yang saudara hadapi di dalam pengiringan saudara kepada Yesus dan di dalam pelayanan saudara, saya juga tidak tahu penderitaan macam apa yang akan dialami oleh gereja kita (GKIN “REVIVAL”) di waktu-waktu yang akan datang, tetapi marilah kita semua bertekat untuk setia sampai mati kepada Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita sambil berpegang pada janji Firman Tuhan :

2 Kor 4:17 - Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

Maukah dan beranikah saudara?


- AMIN -


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)