03 Mei 2009

VI. KARYA ALLAH TRITUNGGAL

Esra Alfred Soru

Untuk memahami karya Allah Tritunggal dengan sistematis, maka bagian ini dapat dibagi menjadi dua bagian :

1. Karya Allah Secara Ontologis

Karya Allah Tritunggal secara ontologis ini Menunjuk pada “masa” sebelum penciptaan (precreated). Pada masa ini jelas bahwa dunia dan isinya (termasuk manusia di dalamnya) belum ada. Oleh sebab itu maka karya Allah Tritunggal pada masa ini lebih merupakan karya internal semata diantara ketiga-Nya saja. Karya ini dapat disebut sebagai karya kasih, karena ketiga-Nya terlibat dalam kasih ilahi, (Divine love) yang suci dan murni.

Keberadaan kasih yang bersifat relasional itu menuntut adanya pribadi lain yang dapat menjadi sasaran dan objek kasih. Pada “masa” itu manusia belum diciptakan, maka ketiga pribadi Tritunggal inilah yang menjadi objek sekaligus subjek kasih. Jadi kasih ilahi telah terjalin di antara dan di dalam Mereka jauh sebelum dunia diciptakan. (Uraian lebih luas tentang hal ini dapat dilihat dalam bagian kedua dari topik “Aplikasi praktis dari Doktrin Tritunggal”).


2. Karya Allah Secara Ekonomis

Secara ekonomis, Allah Tritunggal mempunyai karya yang agung dalam dunia ini, dan karya agung inilah yang dikenal sebagai cara ekonomis Allah. Witness Lee mengatakan bahwa ekonomi Allah tak lain adalah rencana-Nya untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia. Ekonomi Allah ialah penyaluran (dispensi) Allah atau Allah membagikan diri-Nya sendiri ke dalam umat manusia. (Witness Lee, Ekonomi Allah; 1993:3). Menurutnya Allah itu sangat kaya ibarat seorang pengusaha yang mempunyai modal besar. Modal-Nya adalah diri-Nya sendiri, dan dengan modal itu a bermaksud membuat diri-Nya menjadi “produk” masal yang Ia sendiri sebagai “pengusaha”, “modal”, dan “produk”. Ia ingin agar Ia dapat memasukkan diri-Nya ke dalam manusia dan untuk itu Ia membutuhkan suatu cara, dan cara ini tak lain adalah cara ketritunggalan. Inilah yang disebut “Ekonomi Allah” yang berkembang dari Bapa, di dalam Anak, dan melalui Roh Kudus.

Sebenarnya pengertian Lee tentang ‘”ekonomi Allah” tidak salah, tetapi ketika ia mengaitkannya dengan fakta ketritunggalan Allah dengan berkata, “…maka Ia membutuhkan suatu cara, dan cara ini tak lain adalah cara ketritunggalan”, maka terciptalah suatu bahaya besar, sebab ketritunggalan Allah hanya dilihat sebagai sebuah cara untuk mencapai suatu tujuan. Jika ketritunggalan itu hanyalah suatu cara untuk memenuhi tujuan-Nya, maka cara itu (ketritunggalan) harus ada setelah ada tujuan. Atau dengan kata lain adanya cara itu (ketritunggalan) disebabkan oleh adanya tujuan. Jika cara (ketritunggalan) itu bermula atau berawal, maka jelas itu bertentangan dengan konsep yang benar tentang Tritunggal, sebab fakta Tritunggal bersifat kekal. Maksudnya adalah bahwa ketritunggalan Allah itu tidak pernah menjadi ada, atau diadakan, atau disebabkan untuk menjadi ada. Justru Allah Tritunggallah yang menjadi penyebab dari semua akibat, pengada dari semua yang “ada” atau penyebab adanya semua yang “ada”. Bukan ketritunggalan ekonomi Allah yang kemudian “melahirkan” ketritunggalan Allah tetapi ketritunggalan Allahlah yang “melahirkan” ekonomi Allah. Jadi pengertian tentang karya ekonomis adalah sebagai berikut : “Ekonomi Allah adalah cara ilahi untuk mengatur kepentingan-kepentingan manusia, atau suatu sistem hukum, peraturan ritual dan upacara; rencana suci yang berkaitan dengan penciptaan dan penebusan; secara khusus hal-hal yang menyangkut pemerintahan ilahi …” (Funk & Wagnalis [Ed] : New Desk Standard Dictionary; 1954: 248).

Jika pengertian ini dikaitkan dengan ketritunggalan Allah, maka dapatlah dikatakan bahwa ekonomi Allah adalah sesuatu yang menghubungkan dengan atau manifestasi dalam ekonomi penciptaan sebagai Trinitas ekonomi, atau Trinitas yang dinyatakan pada manusia dalam perbedaan dengan Trinitas esensial. Tritunggal ekonomi ini dibedakan dari Tritunggal ontologis di mana Tritunggal ontologis adalah Tritunggal pada hakikat Allah, sedangkan Tritunggal ekonomi adalah Tritunggal penyataan. (Ichwei G. Indra: Teologi Sistematis; 1999:64) Dalam kerangka ini karya Allah Tritunggal dapat dilihat dari dua konteks yakni :


a. Konteks wahyu

Wahyu adalah tindakan Allah memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk-makhluk-Nya, dan demi terlaksananya hal ini, maka pribadi-pribadi Allah Tritunggal memainkan peranan yang sangat penting di dalamnya: Allah Bapa sebagai pewahyu, Allah Anak sebagai wahyu itu sendiri, dan Roh Kudus sebagai yang terwahyu.

Wahyu terbagi menjadi dua bagian yaitu wahyu Allah secara umum (General revelation of God) yang dilakukan melalui karya penciptaan dunia ini, dan wahyu allah secara khusus (Special revelation of God) yang dinyatakan melalui inkarnasi Yesus Kristus.


Karya Allah Tritunggal dalam wahyu umum.

Karya Allah Tritunggal dalam wahyu umum menunjukkan suatu kooperasi yang menarik. Allah Bapa yang mencipta, Allah Anak sebagai “agen” penciptaan itu, dan semuanya itu dikerjakan melalui Allah Roh Kudus. Dapat juga dikatakan bahwa Bapa bertindak sebagai sumber, Anak sebagai Mediator, (Pengantara), dan Roh sebagai pewujud atau pelaksana. (Departemen Kependetaan Masehi Advent Hari Ketujuh se-Dunia; Apa Yang Anda Perlu Ketahui Tentang …; 1998: 37), atau dengan kata lain Allah Bapa mencipta “di dalam” Anak dan melalui Roh Kudus.


Karya Allah Tritunggal dalam wahyu khusus.

Di dalam wahyu khusus, pribadi kedua dari Allah Tritunggal dinyatakan. Dalam penyataan ini ketiga oknum Allah Tritunggal bekerja sama: Allah Bapa yang mengutus Allah Anak ke dalam dunia, dan Roh Kudus yang mengerjakan cara penyataan itu yaitu melalui inkarnasi (Lihat Matius 1:18; Lukas 1:35).

Buku pedoman teologia Masehi Advent Hari Ketujuh tang telah dikutip di atas memberikan uraian yang sangat jelas mengenai karya Allah Tritunggal dalam wahyu khusus dari awal hingga akhir karya Kristus di Bumi ini. Di sana dikatakan: “Indahnya penjelmaan menunjukkan hubungan kerja ketiga oknum keallahan itu. Allah Bapa memberikan Anak-Nya, Kristus menyerahkan diri-Nya sendiri, dan Roh mengaruniakan kelahiran Yesus (Yoh. 3:16; Mat.1:18, 20). Setiap anggota keallahan itu hadir pada saat Kristus dibaptiskan: Bapa memberikan dorongan yang menguatkan (Mat. 3:17), Kristus menyerahkan diri-Nya dalam baptisan untuk menjadi teladan bagi kita (Mat. 3:13-15), dan Roh memberikan Diri-Nya sendiri kepada Yesus untuk memberi kuasa kepada-Nya (Luk. 3:21, 22). Menjelang akhir tugas-Nya di atas dunia ini, Yesus berjanji akan mengirim Roh Kudus sebagai penasihat atau penolong (Yoh. 14:16).


b. Konteks sejarah keselamatan

Di dalam sejarah keselamatan, Allah Tritunggal pun memainkan peranan yang sangat penting. Allah Bapa sebagai perencana keselamatan, Allah Anak sebagai pelaksananya, dan Roh Kudus mengerjakan keselamatan dalam diri manusia. Dalam buku pedoman teologia Masehi Advent Hari Ketujuh ditulis: “Pada saat-saat puncak sejarah keselamatan itu, Bapa, Anak dan Roh Kudus menjadi bagian dalam seluruh keadaan ini. Sekarang Bapa dan Anak menjangkau kita melalui Roh Kudus. Yesus berkata, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh. 15:26). Bapa dan Anak mengirimkan Roh untuk menyatakan Kristus kepada setiap orang. Beban berat Tritunggal adalah membawa Allah dan suatu pengetahuan mengenai Kristus kepada setiap orang (Yoh. 17:3) dan membuat Yesus hadir dan nyata (Mat. 28:20; bandingkan Ibrani 13:5) … Allah berhubungan dengan manusia. Walaupun ketiga oknum tritunggal itu bekerja sama untuk mengadakan karya keselamatan, hanya Kristuslah yang hidup sebagai manusia, mati sebagai manusia dan kemudian menjadi Juruselamat kita (Yoh. 6:47; Mat 1:21; Kis. 4:21). Akan tetapi, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka” (2 Kor. 5:19), maka Alah dapat juga dinyatakan sebagai Juruselamat kita (bandingkan Titus 3:4) karena Ia menyelamatkan kita melalui Kristus Juruselamat (Efesus 5:23; Filipi 3:20; bandingkan Titus 3:6). Dalam penghematan fungsi, anggota keallahan dengan pribadi yang berbeda menjalankan tugas-tugas yang jelas dalam upaya menyelamatkan manusia. Pekerjaan Roh Kudus tidak menambahkan sesuatu apapun untuk melayakkan pengorbanan yang diadakan Yesus Kristus di kayu salib. Melalui Roh Kudus tujuan pendamaian di kayu salib pada pokoknya menyatakan Kristus sendirilah pendamaian itu. Oleh karena itulah Paulus mengatakan, “Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan” (Kolose 1:27). Itulah karya Allah Tritunggal, yang bukan saja menampilkan karya itu sendiri, melainkan juga cara berkarya dari ketiga oknum keallahan yang memainkan peranan penting dengan nuansa kooperasi yang harmonis”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini