22 Juni 2009

SIAPA YANG AKAN BENAR-BENAR ‘TERKUTUK!’ ???

Menjawab tulisan Anton Bele yang berjudul ‘Anathema Sit!’ (Terkutuklah dia!) yang diterbitkan TIMEX pada 24 September 2008 lalu.

Frans Donald


Pengantar:

Pada tanggal 23 Oktober 2008, dari website Timor Expres, saya membaca tulisan saudara Anton Bele (Dosen Kitab Suci, Sekolah Tinggi Pastoral [STIPAS] Keuskupan Agung Kupang) yang berjudul: Anathema Sit!, yang berarti Terkutuklah dia!, yang berisi tanggapan atas tulisan saya di TIMEX pada 11 dan 12 Agustus 2008 yang lalu, yang berjudul: BENARKAH YESUS ITU TUHAN? Ditinjau dari Perspektif Alkitab.

Sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa: Adanya perbedaan paham atau pertentangan tentang sosok Yesus atau doktrin Tritunggal, adalah suatu realita yang tak bisa dipungkiri dalam dunia keber-agama-an berabad-abad lamanya. Tetapi hendaknya, ketika beradu argumen tentang perbedaan keyakinan itu (khususnya bagi orang-orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus yang mengajarkan untuk mengasihi sesama bahkan ‘mengasihi musuh’), apapun kasusnya pertentangan itu selayaknya dikemukakan dengan saling bertukar data-data dan fakta, dan bukan dengan emosi.

Oleh karena itu harapan saya, siapa pun yang membaca tulisan-tulisan saya, adalah orang-orang yang berintelektual, yang tidak emosional, dewasa alias tidak kekanak-kanakan, dan sanggup menerima perbedaan-perbedaan pendapat dengan hati dingin dan pikiran yang jernih, bahkan sekalipun itu perbedaan yang sangat fundamental adanya.

Nah, tulisan ini adalah jawaban saya atas beberapa pernyataan dan pertanyaan saudara Anton Bele dalam tulisannya yang ditujukan pada saya tersebut. Pernyataan dan pertanyaan saudara Anton Bele di antaranya saya kutipkan sebagai berikut, dan berikut pula, dengan segala hormat, saya berikan tanggapan dan jawaban saya:

Kutipan pernyataan Anton Bele: Karena bagi Umat Katolik (Roma), kalau melawan ajaran tentang Yesus itu Allah lalu menyatakan bahwa Yesus Kristus itu bukan Allah, maka ia akan terkena kutukan yang dalam bahasa Latin, ada rumusan ’anathema sit’, artinya: ’terkutuklah dia’. (Dr. Nico Syukur Dister, OFM, ’Theologi Sistematika’, Kanisius, Yogyakarta, 2004). Dan dalam Konsili Vatikan II, (1962-1965) tetap ditegaskan ulang ajaran ini, bahwa Yesus Kristus itu adalah Allah. Titik.

Tanggapan saya: Saudara Anton Bele yang saya hormati, banyak orang sudah mengetahui bahwa jika ada orang yang berani melawan doktrin-doktrin gereja Roma Katolik, sudah menjadi tradisi gereja bahwa orang-orang itu akan dicap sebagai ‘terkutuk’ atau ‘sesat’ atau ‘bidat’ (Misal Martin Luther dan para penerusnya, Galileo Galilei, dsbnya).

Perlu saya nyatakan bahwa, bagi kami (para penolak doktrin Tritunggal), doktrin kutukan dari Katolik Roma tersebut tidak perlu kami hiraukan samasekali, sebab itu kan hanya kutukan dari Penguasa Roma, bukan dari Penguasa Semesta Alam yaitu Yahweh, Allahnya Yesus dan Allah kami yang memiliki Kerajaan Surga, yang terlalu mulia jika dibandingkan dengan Katolik Roma yang hanya berkuasa di kerajaan duniawi.

Kutukan itu hanya bisa mempengaruhi psikologis orang-orang yang sangat mendewakan gereja Katolik Roma, tetapi bagi orang-orang yang tidak sepandangan dengan doktrin Katolik Roma (kaum Protestan, termasuk saya), maka kutukan ala Katolik Roma itu tentu tidak akan dipercayai. Saya berikan sebuah contoh analogi: Saya tentu tidak perlu merasa cemas jika dibenci oleh Lurah sementara disayangi oleh Presiden. Presiden jauh lebih berkuasa dari pada Lurah. Lurah hanya bisa berkuasa di kelurahannya saja, jauh berbeda dengan Presiden.

Wewenang Lurah tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kewenangan Presiden. Nah, kira-kira seperti ‘Lurah dengan Presiden’ itulah keberadaan wewenang Roma Katolik dengan wewenang Allah Yahweh, andai mau diperbandingkan. Artinya, kutukan (Anathema Sit!) oleh Katolik Roma itu hanyalah angin lalu saja bagi seorang Kristen Protestan seperti saya.

Dan perlu diketahui dengan benar pula; sebagai seorang protestan yang terus terang jelas memprotes dogma-dogma Katolik yang tidak Alkitabiah, saya samasekali tidak membenci Katolik. Baik Katolik Roma maupun Katolik Timur, samasekali tidak saya benci, justru sebaliknya saya sangat mengasihinya. Analoginya: Ketika saya tahu bahwa ‘orang tua saya’ ternyata masih kolot terlena dengan dongeng-dongeng tradisional dari nenek moyangnya, padahal saya yakin itu bukan kebenaran, maka saya akan berusaha menegur (memprotes)nya dengan tulus, kasih tanpa kebencian sedikitpun.

Begitulah kira-kira perasaan saya sebagai seorang Kristen Protestan terhadap dogma-dogma Katolik yang saya pandang tidak Alkitabiah. Dan jika Martin Luther dulu pernah memprotes 95 doktrin-doktrin Katolik Roma yang tidak Alkitabiah, maka saya pun jika mendapat kesempatan pada tulisan yang lain, saya juga akan menyampaikan beberapa ‘doktrin tidak Alkitabiah’ (selain doktrin Tritunggal), yang juga telah diajarkan oleh Roma Katholik pada masyarakat dunia selama ini.

Kutipan pernyataan Anton Bele: Setiap warga negara Republik Indonesia harus ingat bahwa di Negara ini ada Undang-undang, yaitu: Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 156a, yang berbunyi, ”Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalah-gunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.” …. melalui tulisan ini saya secara pribadi dan bersama kawan-kawan yang sempat membaca tulisan dari Bapak Frans Donald menyatakan rasa penyesalan yang dalam bahwa Bapak Frans Donald secara sengaja dan tahu dan mau telah menodai inti ajaran Iman Kristiani tentang Tritunggal Yang Mahakudus. Bapak Frans Donald tidak percaya bahwa Yesus Kristus itu bukan Allah, adalah urusan Bapak sendiri.

Tanggapan saya: Saudara Anton Bele yang saya hormati, saudara sebaiknya janganlah keburu menuduh saya sebagai telah menodai inti Iman Kristiani. Sebab, apa itu inti Iman Kristiani? Doktrin Tritunggal hasil konsili itukah yang anda maksud sebagai inti Iman Kristiani?
Kristen (kristiani) berasal dari kata ‘Kristus’. Pengikut Kristus disebut kristen atau kristiani.

Kristus yang dimaksud adalah Yesus. Artinya jelas, dasar Iman Kristiani musti berdasar dari ajaran Yesus, maka jika ada orang-orang yang mengaku beriman Kristiani tetapi ternyata dasar imannya diketahui sebagai bukan ajaran Yesus dan Para Rasul, maka tentu patut dipertanyakan kekristianiannya. Sekali lagi saya sampaikan, dasar Iman Kristiani jelas harus berdasar dari ajaran-ajaran Yesus Kristus, yaitu adalah kesaksian-kesaksian ayat-ayat Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, 66 Kitab dari Kejadian sampai Wahyu.

Dan tulisan saya di Timex pada tanggal 11 dan 12 Agustus yang lalu tersebut berbicara dalam Perspektif Iman Kristiani yang Alkitabiah, dan bukan Iman Kristiani hasil konsili-konsili gereja yang melahirkan rumusan Tritunggal. Artinya, bicara soal kekristenan, tentu harus dibedakan antara ‘Kristen Alkitabiah’ dengan ‘Kristen Konsiliah’.

Jelas antara ‘Kristen Alkitabiah’ dengan ‘Kristen Katolik Roma’ sangat berbeda! Kristen Alkitabiah adalah Kristen seperti jemaat yang mula-mula yaitu yang bisa disebut juga sebagai Judeo-Kristen, orang Yahudi yang percaya Yesus, seperti para rasul. Dalam Perjanjian Baru tampak jelas bahwa mereka membedakan figur Bapa (Yahweh, Allahnya Yesus) dengan Yesus, utusan Allah.

Sedangkan Kehadiran Gereja Roma Katolik merupakan hasil kompromi antara Kekristenan dengan Romawi yang bertradisi pagan, yang kemudian dalam perkembangan sejarah imannya dibangun melalui putusan konsili-konsili yang penuh muatan politis. Jadi kalau andaikan mau dihakimi berdasar konsili, maka saya (dan para penolak doktrin Tritunggal, Unitarian, Saksi Yehuwa, Mormon, Islam, Yahudi, Kristen Liberal, dllnya yang tegas menolak Tritunggal) bisa saja anda sebut sebagai ‘Anathema Sit!’ (terkutuklah dia!).

Tapi kalau suatu ‘Iman Kristiani’ dibangun bukan atas dasar konsili-konsili, melainkan atas dasar Alkitab (sola scriptura), maka jika kemudian diukurkan, mungkin saudara Anton Bele dkk.lah yang bisa jadi dianggap terkutuk karena telah memberitakan injil yang lain (baca Galatia 1:8). Jadi, terkutuk menurut siapa, tentu ini harus dipahami dengan benar. Tapi bagaimana bisa dipahami dengan benar jika standar ukuran kebenaran yang dipakai saja masih berbeda? Kami (Unitarian) pakai ukuran Alkitab saja, sementara para Trinitarian memakai ukuran konsili-konsili.

Jelas ‘kebenaran’ yang diyakini tentu berbeda, sebab ukuran (timbangan / parameter)nya berbeda pula! Perlu pula saya tambahkan. Hati-hatilah juga dengan tuduhan terhadap saya bahwa saya telah melakukan ‘penodaan agama’. Hati-hati. Apakah dengan hanya beropini melalui tulisan dan buku-buku saya yang ‘mengkritisi dogma-dogma gereja yang tidak Alkitabiah’ kemudian saya bisa dikenakan ancaman ‘penodaan agama’?

Kutipan pertanyaan Anton Bele: Tetapi saya mau bertanya, apa tujuan Bapak Frans Donald menyiarkan pendapat Bapak itu dalam media harian ’Timor Express’? Mau menyadarkan kami yang percaya bahwa Yesus Kristus itu Allah untuk tidak percaya lagi? Atau hanya mau sekedar mengolok, mengoreksi dan menghina inti ajaran iman kami ini? Niat baik apa yang tersurat dan tersirat dalam tulisan Bapak itu? Surat kabar ’harian’ seperti ’Timor Express’ ini dibaca oleh banyak orang dari berbagai kalangan dengan latar belakang pendidikan dan agama yang berbeda.

Jawaban saya: Tujuan dan niat saya menulis dalam kolom ‘OPINI’ tentu saja jelas adalah untuk beropini alias menyampaikan pandangan saya tentang BENARKAH YESUS ITU TUHAN? DARI PERSPEKTIF ALKITAB, guna menjadi wacana mengklarifikasi kesalahpahaman orang-orang Kristen (serta juga Islam) terhadap istilah kata ‘TUHAN’, ‘Tuhan’, ‘Allah’ serta ‘Tuhan Yesus’ yang banyak bertaburan di Alkitab; juga sekaligus guna menyadarkan orang yang mengaku Kristen berdasar Alkitabiah; mengoreksi doktrin gereja berdasarkan Alkitab, menjernihkan ketuhanan Yesus, berdasarkan Alkitabiah pula.

Dan samasekali bukan bertujuan untuk mengolok atau mengejek atau menghina iman umat tertentu. Perlu dan sangat penting dipahami oleh semua orang bahwa, doktrin Tritunggal samasekali tidak perlu untuk dihina atau diolok-olok, tetapi yang perlu dilakukan adalah dibongkar keberadaannya, benarkah ia (Tritunggal) itu adalah Iman Kristiani yang sejati, atau bukan?

Poin yang perlu saya garis bawahi adalah: OPINI saya (11 dan 12 Agustus 2008) tersebut saya tulis berdasar DARI PERSPEKTIF ALKITABIAH. Sekali lagi: DARI PERSPEKTIF ALKITABIAH! Artinya jelas opini saya mengenai ketuhanan Yesus dan doktrin Tritunggal tidaklah saya dasarkan dari doktrin gereja hasil konsili Nikea, Kalkedon, atau pun konsili-konsili lainnya dari gereja yang berkuasa saat menciptakan doktrin tersebut. Nah, oleh karena opini saya tidak berdasar atas putusan-putusan konsili, maka wajar saja jika opini saya kemudian tidak selaras dengan hasil konsili-konsili gereja yang melahirkan doktrin Tritunggal tersebut.

Soal penolakkan saya terhadap rumusan doktrin Tritunggal hasil konsili Nikea, Konstantinopel dan Kalkedon, sebenarnya bagi orang-orang ‘Kristen Protestan’ (yang protes / menentang dogma-dogma Katolik Roma) ataupun orang-orang Kristen Katolik, yang dewasa, berhati dingin dan tulus, tentu tidaklah perlu disambut dengan ‘kebakaran jenggot’ atau suatu kemarahan, atau suatu ketersinggungan yang berlebih, sebab adalah sangat perlu dipahami betul bahwa kritik-kritik “Penolakkan terhadap doktrin Tritunggal” ini sebenarnya sudah bukan rahasia atau hal baru lagi bagi para pengajar dan pemikir teologi di berbagai dunia. Di sini saya berikan contoh bukti-bukti akurat penolakkan-penolakkan tersebut, misalnya:

The Encyclopedia of Religion menuliskan: “para teolog dewasa ini setuju bahwa Alkitab Ibrani tidak memuat doktrin tentang Tritunggal”. The Encyclopedia of Religion, juga mengatakan: “Para teolog setuju bahwa Perjanjian Baru juga tidak memuat doktrin yang jelas mengenai Tritunggal.” New Catholik Encyclopedia mengakui: “Doktrin Tritunggal tidak diajarkan dalam Perjanjian Lama”.

Imam Jesuit Edmund Fortman dalam bukunya The Triune God, juga mengakui: “Perjanjian Lama … tidak secara tegas ataupun samara-samar memberi tahu kepada kita mengenai Allah Tiga Serangkai yang adalah Allah, Anak dan Roh Kudus … Bahkan mencari di dalam ‘Perjanjian Lama’ kesan-kesan atau gambaran di muka atau ‘tanda-tanda terselubung’ mengenai Tritunggal dari pribadi-pribadi, berarti melampaui kata-kata dan tujuan dari para penulis tulisan-tulisan suci”.

Imam Jesuit Fortman juga menegaskan: “Para penulis Perjanjian Baru … tidak memberi kita doktrin Tritunggal yang resmi atau dirumuskan, juga tidak ajaran yang jelas bahwa dalam satu Allah terdapat tiga pribadi ilahi yang setara… Di manapun kita tidak menemukan doktrin Tritunggal dari tiga subyek kehidupan dan kegiatan ilahi yang berbeda dalam keilahian yang sama”.

The New Encyclopedia Britanica mengatakan: “Kata Tritunggal atau doktrinnya yang jelas tidak terdapat dalam Perjanjian Baru”. Bernard Lohse dalam A Short History of Christian Doctrine menegaskan: “Sejauh ini menyangkut Perjanjian Baru, seseorang tidak menemukan di dalamnya doktrin Tritunggal yang aktual”.

The New International Dictionary of New Testament Theology, dan teolog Protestan Karl Barth, mengatakan: “Perjanjian Baru tidak memuat doktrin Tritunggal yang diperkembangkan”. “Alkitab tidak memuat deklarasi yang terus terang bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah dari zat yang sama”.

Profesor E. Washburn Hopkins dari Yale University, menekankan: “Bagi Yesus dan Paulus doktrin Tritunggal jelas tidak dikenal; … mereka tidak mengatakan apa-apa mengenai itu (Origin and Evolution of Religion).

Sejarahwan Arthur Weigall menyatakan: “Yesus Kristus tidak pernah menyebutkan perwujudan demikian, dan di manapun dalam Perjanjian Baru tidak terdapat kata ‘Tritunggal’. Gagasannya baru diterima oleh gereja tiga ratus tahun setelah kematian tuan kita”. (The Paganism in Our Christianity).

L.L. Paine dalam A Critical History of The Evolution of Trinitarianism, mengatakan: “Perjanjian Lama tegas monotheistik. Allah adalah pribadi tunggal (bukan tritunggal!) … Tentang hal ini tidak ada pemisahan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ajaran Monoteistik terus berlanjut, dan Yesus lahir sebagai orang Yahudi. Ajarannya memiliki inti Yahudi (Allah Tunggal); Benar dia mengajarkan sebuah injil baru tetapi bukan sebuah teologi baru”.

The New International Dictionary of New Testament Theology, mengatakan: “Kekristenan yang mula-mula tidak mempunyai doktrin Tritunggal seperti yang setelah itu dirinci dalam kredo-kredo”.

The Paganism in Our Christianity, juga mengatakan: “Namun orang-orang Kristen yang pertama pada awal mula tidak pernah mempunyai pikiran untuk menerapkan gagasan [Tritunggal] kepada kepercayaan mereka sendiri. Mereka memberikan pengabdian mereka kepada Allah Bapa dan kepada Yesus Kristus, Anak Allah, dan mereka mengakui .. Roh Kudus; tetapi tidak ada buah pikiran bahwa ketiga pribadi ini adalah suatu Tritunggal,”; “Asal usul Tritunggal sepenuhnya kafir”.

Encyclopedia of Religion and Ethics, mengatakan: “Pada mulanya kepercayaan Kristen bukan kepada Allah Tiga Serangkai [Tritunggal] … Halnya tidak demikian pada zaman rasul-rasul atau sebelumnya, seperti diperlihatkan dalam Perjanjian Baru dan tulisan-tulisan Kristen awal lainnya”.

New Catholik Encyclopedia: “Perumusan ‘satu Allah dalam tiga pribadi’ tidak ditetapkan dengan tegas, dan pasti belum dilebur sepenuhnya ke dalam kehidupan Kristen dan pengakuan imannya, sebelum akhir abad ke-4. …Di antara bapa-bapa rasuli, tidak pernah bahkan sedikitpun ada yang mendekati sikap atau pandangan seperti itu”.

Chief Rabbi J.H Herzt, dalam Pentateuch and Haftorahs, mengatakan: “Kepercayaan tentang Allah yang terdiri dari beberapa pribadi (Tritunggal) keluar dari konsep Allah yang Esa”.
Romo Tom Jacobs, SJ., Guru Besar Emeritus Tafsir Kitab Suci, sanata Dharma Yogyakarta, pada 28 April 2007, di Seminar ‘Keilahian Yesus’ di Semarang, mengatakan dengan sangat tegas: “Saya keberatan dengan istilah Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus.

Yang benar ya Bapa itu Allah, Yesus itu jalan menuju Allah”; “Rumusan bahwa Yesus 100% Allah 100% manusia, itu tidak tepat”; “Rumusan 100% Allah 100% manusia, ini hasil konsili Kalkedon, bukan kitab suci”; “[di alkitab] Yesus tidak pernah disebut sebagai Allah [sejati]”; “Dulu sebelum tahun 1974, …saya yakin Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia, …tetapi setelah 1974 sampai sekarang, saya tidak lagi berdoa kepada Yesus, tapi saya berdoa kepada Allah, bersama-sama dengan Yesus dengan dorongan Roh Kudus. … Saya lebih kristiani sejak percaya Yesus bukan Allah daripada sebelumnya”.

Pakar Alkitab yang menjabat sebagai Pembina Penerjemah di Departemen Penerjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, Hortensius Florimond Mandaru SSL (gelar Sacred Scripture Licenciate, didapat dari Pontifical Biblical institute, Roma, 1999), juga menegaskan: “Yesus tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai Allah. Paulus tidak pernah menyebut Yesus Kristus sebagai Allah! Perjanjian Baru berbicara Yesus sebagai Anak Allah dan tidak pernah Allah Anak”.
Profesor J.B. Banawiratma, dosen Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, juga mengatakan dengan tegas: “Rumusan konsili Nikea (325) inilah yang yang menjadikan Yesus sebagai Allah Anak. Yesus bukan Allah! Tapi jalan menuju Allah. Daripada bahasa dogma, saya lebih memilih bahasa Alkitab!”.

Nah, jadi, dari data dan fakta tersebut, jelas bukan cuma saya (Frans Donald) serta sedikit orang saja yang tegas-tegas menolak doktrin Tritunggal, melainkan sangat banyak orang!
Kutipan pernyataan Anton Bele: Bapak Frans Donald sadar atau tidak akibat dari tulisan Bapak itu? Bapak Frans Donald menyatakan diri seorang ’Unitarian (Kristen Tauhid)’. Itu keyakinan Bapak, tetapi tidak pada tempatnya diwartakan sambil mempersalahkan kami yang percaya bahwa Yesus Kristus itu adalah Allah.

Jawaban saya: Tulisan saya, saya ibaratkan seperti pisau yang sangat tajam. Di tangan orang yang baik, pisau itu tentu akan sangat bermanfaat bagi kebaikan, tetapi di tangan para penjahat, pisau itu bisa jadi sangat berbahaya. Jadi hasil akhirnya tentu bergantung dari masing-masing pembacanya.

Dan perlu dipahami betul, saya tidak akan mempersalahkan kaum Trinitarian kalau saudara-saudari Trinitarian mau mengakui dengan jujur bahwa doktrin Tritunggal tidak didirikan atas dasar Alkitabiah, sebagaimana pengakuan beberapa orang Katolik yang jujur berterus terang mengakui telah menempatkan posisi Alkitab berada di bawah otoritas tradisi dan dogma-dogma ciptaan manusia (dogma gereja dan tradisi diposisikan lebih tinggi otoritasnya dari pada Alkitab).

Tetapi, kalau kemudian ada orang-orang Trinitarian yang terang-terangan mengklaim bahwa Alkitab mengajarkan Tritunggal, apalagi kemudian berani mengklaim Unitarian (dan golongan lain yang tidak menganut Tritunggal) sebagai ‘kaum sesat’ (seperti misalnya Stephen Tong yang dalam bukunya yang tersebar ke berbagai pelosok, telah tegas-tegas mengklaim Unitarian dan kelompok lain yang menolak doktrin Tritunggal sebagai golongan ‘sesat’), maka saya berhak untuk memberikan opini pandangan ‘Perspektif Alkitabiah’ guna membuktikan berdasar Alkitab apakah Tritunggal itu benar atau tidak keberadaannya.

Dan pembahasan khusus tentang Tritunggal perihal keallahan Yesus, sudah saya tuangkan panjang lebar dalam buku ‘Menjawab Doktrin Tritunggal’ yang bisa didapatkan di toko buku.

Kutipan pertanyaan Anton Bele: Apakah tulisan Bapak itu menyatukan atau mencerai-beraikan? Rentetan pertanyaan ini saya kemukakan agar Bapak Frans Donald jawab untuk diri sendiri dan kalau Bapak Frans Donald tulis dan siarkan lagi di media ini atau media lain, terserah, asal jangan lagi membuat ulasan tentang Yesus Kristus itu Allah atau tidak.

Saya secara pribadi menyatakan ’jangan’ karena ulasan seperti itu sudah menyangkut inti ajaran iman Kristiani yang saya dan banyak kawan lain imani.
Jawaban saya: Pak Anton Bele yang saya hormati, apakah tulisan-tulisan saya bisa menyatukan atau memisahkan? Ini bicara soal hasil atau akibat. Jawabannya tentu tergantung pemahaman dari masing-masing pembaca tulisan tersebut. Kedatangan para Nabi, Rasul dan Kristus, adalah untuk membawa damai antara manusia dengan Allah (Yahweh).

Manusia yang salah jalan dikoreksi, diperbaiki, diluruskan agar bisa kembali selaras dengan jalan Allah dan akhirnya berdamai / bersatu dengan Allah. Tetapi soal hubungan manusia dengan manusia lainnya yang berbeda ideologi atau berbeda prinsip atau berbeda doktrin, Yesus pun berkata tegas: Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang (pemisahan)! (selengkapnya baca Matius 10:34-36).

Kemudian soal iman saudara Anton Bele dkk., saudara mau terus beriman pada doktrin Tritunggal sampai kapanpun, silakan saja. Setiap orang tentu bebas berkeyakinan. Sebab sebagai penganut/pewaris dogma Gereja Katolik, mungkin saudara memang telah menempatkan posisi kesaksian Alkitab berada di bawah otoritas dogma-dogma gereja anda (Artinya, posisi dogma hasil konsili lebih kuat daripada kesaksian Alkitab.

Alkitab ditaklukkan di bawah dogma. Apalagi diperteguh dengan sebuah dogma yang sangat terkenal dan ‘mengerikan’, yaitu bahwa ‘Paus tidak bisa salah’). Tetapi jika kemudian mungkin ada kawan-kawan anda yang menjadi Protestan (memprotes dogma-dogma katolik) dan berpandangan bahwa iman “Kristen sejati” adalah musti berdasar pada Alkitab saja (sola scriptura) dan bukan pada hasil konsili-konsili yang penuh muatan politis, dengan demikian ingin membuktikan bahwa doktrin Tritunggal tidak Alkitabiah adanya, maka anda dkk.

tidak perlu harus keberatan, bukan? Bukankah sudah sangat jelas bahwa ditinjau DARI IMAN YANG BERDASAR ALKITAB (PERSPEKTIF ALKITABIAH), doktrin Tritunggal tidaklah benar adanya. Tetapi jika ditinjau DARI DOGMA HASIL PUTUSAN KONSILI-KONSILI, maka doktrin Tritunggal tentu akan dianggap ‘benar’ adanya.

Akhirnya, tapi bukan yang terakhir. Artinya, wahai saudara-saudari yang budiman, jika ditinjau atau didasarkan atau diukur (atau mau dihakimi berdasar) dari rumusan konsili-konsili Nikea, Konstantinopel, Kalkedon, dsbnya, maka: Saya Frans Donald, Unitarian, Saksi Yehuwa, Mormon, Kristen Liberal, Islam, Yahudi, juga kaum katolik Unitarian seperti misalnya Romo Tom Jacobs SJ, Profesor Banawiratma, dan para pengikut-pengikutnya, yang semua itu telah menolak doktrin Tritunggal, mungkin akan bisa saja dicap sebagai “Terkutuklah dia!” atau “Anathema Sit!” oleh kaum Trinitarian (seperti Anton Bele, Stephen Tong, dkknya.).

Tetapi jika kemudian dasar atau ukuran yang dipakai bukan lagi rumusan konsili-konsili, melainkan Alkitab (66 kitab-kitab dari Kejadian sampai Wahyu), maka siapakah nanti yang akan benar-benar “Terkutuk!” ???

Rasul Paulus pernah mengingatkan para pengikutnya, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil [berita gembira yang berisi kesaksian tentang Yesus dan ajaran-ajarannya] yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia” (Galatia1:8). Nah. Apakah doktrin Tritunggal adalah berasal dari Injil yang sejati atau injil yang lain? Musti diuji berdasar Alkitab! Dan bagi para pembaca sekalian yang telah terdoktrinasi oleh doktrin Tritunggal, dan jika Yesus, Paulus dan para rasul di Alkitab tidak pernah ada yang mengabarkan atau mengajarkan “Allah yang Tritunggal” atau “Yesus yang Allah Sejati” adanya, maka renungkanlah ayat 2 Korintus 11:4 berikut:

“Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, …”. Sabar saja jika kini banyak teolog-teolog atau pendeta-pendeta yang nyata-nyata telah mengajarkan sosok ‘Yesus yang lain’ dari pada yang telah diberitakan oleh Para Rasul di Alkitab. Sabar saja. Tetapi, saudara-saudari, ketahuilah dengan pasti, dengan penuh kesadaran dan kejujuran bahwa: sosok Yesus yang diberitakan oleh doktrin Tritunggal adalah sosok Yesus yang adalah Yahweh yang menjelma menjadi manusia, Yesus yang adalah Allah sejati adanya, Yesus yang adalah Allah Anak, Yesus yang setara dengan Bapa, Yesus yang merupakan pribadi kedua dalam rumusan Tritunggal hasil konsili Nikea tahun 325 dan Konstantinopel 381, Yesus yang adalah 100% Allah juga 100% manusia hasil rumusan konsili Kalkedon tahun 451, yang semua-muanya itu adalah sosok ‘Yesus yang lain’ dari pemberitaan Alkitab!

Sekian. Sampai jumpa di lain kesempatan. Shalom aleikhem.
* Seorang Unitarian, penulis buku “Menjawab Doktrin Tritunggal – perihal ke-allah-an Yesus”. No. HP. 081 7971 99 91


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini