26 Mei 2010

PENUH ROH KUDUS DAN MABUK ANGGUR

Oleh : Esra Alfred Soru


Mengapa kita perlu membahas atau membandingkan ke 2 hal ini (penuh Roh Kudus dan mabuk anggur)? Karena dalam peristiwa Pentakosta di Kis 2, murid-murid yang penuh Roh Kudus dianggap/disamakan dengan orang yang mabuk anggur.

Kis 2:13 : Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."

Dan juga karena Paulus mengkontraskan 2 keadaan ini dalam 1 ayat.

Efs 5:18 : Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.

Ini berarti bahwa dalam batas tertentu ada persamaan antara kepenuhan Roh Kudus dan mabuk anggur (karena itu murid-murid yang mengalami kepenuhan Roh Kudus disamakan dengan orang yang mabuk anggur) tetapi juga ada perbedaan antara kepenuhan Roh Kudus dan mabuk anggur (karena itu Paulus mengkontraskannya di dalam Efs 5:18).

Nah, apa persamaan antara penuh Roh Kudus dan mabuk anggur? Persamaannya adalah sama-sama dipengaruhi (under the influence). Orang yang dipenuhi Roh Kudus dipengaruhi/dikuasai oleh Roh Kudus. Orang yang mabuk anggur dipengaruhi/dikuasai oleh anggur. Lalu apa perbedaannya? Perbedaannya adalah kalau penuh Roh Kudus ada ‘self-control’ (penguasaan diri) sedangkan kalau mabuk justru kehilangan penguasaan diri.

Efs 5:18 : Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh.

Bukankah ada banyak gadis yang kehilangan kegadisannya karena pengaruh minuman keras. Bukankah ada banyak orang yang dalam keadaan mabuk melakukan hal-hal, yang dalam keadaan waras pasti tidak dilakukannya seperti si John teman saya yang sewaktu mabuk memeluk dan membelai serta mencium tiang listrik seolah itu adalah seorang wanita cantik. Tentu ia tidak akan melakukan hal gila seperti itu sementara tidak mabuk bukan? Jadi orang kehilangan penguasaan dirinya kalau sedang mabuk. Tetapi orang yang penuh dengan Roh Kudus pasti justru menunjukkan buah Roh Kudus, dan buah Roh Kudus ini antara lain adalah penguasaan diri.

Gal 5:22-23 : (22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. …”.

Dalam Kis 2 orang-orang penuh Roh Kudus dan berbahasa Roh lalu ada orang yang menyindir mereka bahwa mereka mabuk anggur.

Kis 2:13 : “Tetapi orang lain menyindir: ‘Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.’ Dikatakan “orang lain menyindir”.

Jadi mereka tidak sungguh-sungguh mabuk anggur. Ini hanyalah suatu sindiran/ejekan saja. Alkitab NIV memakai kata ‘made fun of them’ (mempermainkan mereka) sedangkan NASB memakai kata ‘mocking’ (mengejek). Terhadap sindiran/ejekan ini Petrus lalu memberikan bantahan sebagaimana tercatat dalam Kis 2:14-15 :

(14) “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. (15) Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan”.

Jadi jelas bahwa ‘mabuk’ berbeda dengan ‘penuh Roh Kudus’. Anehnya sekarang ini ada banyak orang mengaku dipenuhi Roh Kudus tetapi bertingkah laku seperti orang mabuk misalnya tumbang, berguling-guling di lantai, histeris, tertawa terbahak-bahak, mengoceh tidak karuan, berlari-lari sambil berteriak, dll. seperti yang terlihat dalam acara KKR maupun kebaktian-kebaktian banyak gereja. Sama sekali tidak terlihat adanya kontrol diri di sana malah sebaliknya mereka kehilangan kesadaran dan akal sehatnya. Saya katakan, ini bukan dipenuhi Roh Kudus tetapi ini benar-benar mabuk. Kepada jemaat di Korintus, Paulus berkata :

“Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?” (1 Kor 14:23).

Mengapa Paulus mengatakan seperti ini? Apakah memang kalau orang-orang Kristen berbahasa roh mereka terlihat seperti orang gila? Saya berpendapat kalau bahasa rohnya benar, seperti dalam Kis 2, maka tidak demikian. Tetapi bahasa roh dari orang-orang Kristen di Korintus sama seperti bahasa roh yang populer jaman sekarang di banyak gereja dan gerakan Kristen yang ini memang terlihat seperti orang gila / mabuk! Camkan ini! Pekerjaan Roh Kudus tidak pernah mematikan/menonaktifkan nalar kita. Anehnya ada banyak pendeta dan guru Kristen yang mengajarkan sebaliknya. Seorang bernama Peter Masters ketika membahas praktek-praktek dari John Wimber, berkata :

Ia (John Wimber) berkeras bahwa kita harus mengalahkan rasa takut kita, karena kontrol pikiran harus ditinggalkan supaya bahasa lidah / Roh bisa terjadi; supaya rasa gembira yang luar biasa dapat dirasakan dalam kebaktian; supaya pesan-pesan Allah dapat diterima langsung pada otak, dan supaya mujizat-mujizat, seperti kesembuhan, bisa terja¬di. (‘The Healing Epidemic’, hal. 181).

Peter Master melanjutkan :

Kebanyakan kebaktian kesembuhan Kharismatik dimulai dengan usaha keras untuk menolong jemaat untuk membuang kontrol pikiran mereka dan bertindak / bersikap tanpa rasa malu. Tujuannya adalah supaya jemaat terbuka untuk menerima apapun yang terjadi, tidak peduli betapa anehnya, tidak masuk akalnya, dan ajaibnya hal yang terjadi itu. Musik yang keras adalah dasar dari kebaktian / ibadah itu, dan semua orang yang hadir didorong untuk menggerak-gerakkan tangan, tubuh, kaki, dan bahkan berdansa dan melompat-lompat. Apapun yang terjadi, kontrol pikiran harus dibuang karena apapun yang terjadi tidak boleh dihalangi, diuji atau dievaluasi oleh pikiran yang benar-benar mengetahui / mengenal Firman Allah. (‘The Healing Epidemic’, hal. 182).

Ia melanjutkan lagi :

“Dengan membuang hukum akal sehat, orang-orang Kharismatik telah membuat diri mereka sendiri mudah tertipu dalam menghadapi ajaran sesat / palsu, cerita-cerita yang dilebih-lebih¬kan, dan dusta.
(‘The Healing Epidemic’, hal. 182).

Adanya pikiran adalah salah satu ciri manusia sebagai peta dan teladan Allah. Tanpa pikiran, manusia tidak berbeda dengan binatang.

Maz 32:9 : Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau”.

Maz 73:22 : aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu”.

Yud 10 : “Akan tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka”.

Jadi, orang yang berusaha membuang pikirannya, sebetulnya sedang berusa¬ha untuk menjadi binatang! Dan orang yang menyuruh saudara membuang pikiran/akal sehat saudara adalah orang yang sementara berusaha membuat saudara sama seperti binatang. Maukah saudara? Ingat, Alkitab tidak melarang kita menggunakan pikiran kita sebaliknya kita malah diwajibkan untuk menggunakan pikiran. Yang ditentang adalah kalau kita bersandar pada pikiran kita. Karena itu pakailah pikiran saudara waktu dengar Firman Tuhan. Jangan hanya terima begitu saja kata-kata pengkhotbah dan mengatakan amin-amin saja. Teladani sikap dan cara jemaat di Berea sebagaimana dikatakan Paulus dalam Kis 17:11 :

"Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

Pakai juga pikiran saudara waktu berdoa dan sewaktu saudara memuji Tuhan karena tidak semua lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang benar sesuai prinsip Alkitab. Ada lagu-lagu rohani populer yang memang enak di dengar telinga tetapi salah secara teologis. Misalnya lagu “Ku tak membawa apapun juga saat kudatang ke dunia….kutinggal semua pada akhirnya saat ku kembali ke surga…”. Kalau dikatakan “saat ku datang ke dunia” berarti aku sudah ada sebelum aku ada di dunia. Makanya dikatakan “ku datang”. Lalu aku dimana sebelum aku datang? Di surga? Mana ada ajaran Alkitab bahwa kita ada di surga sebelum kita muncul di dunia? Tidak ada! Karena ide di balik kata-kata “Aku datang” adalah ide tentang pra existence (keberadaan sebelumnya) dan karena itu hanya Kristuslah yang layak mengatakan “Aku datang….” (sebagaimana Dia mengatakan itu belulang kali) karena memang Dia sudah ada sebelum lahir. Kalau saudara baru ada saat saudara lahir (atau dalam kandungan ibu), maka saudara tidak layak berkata “aku datang”. Demikian juga kalimat “saat ku kembali ke surga..” Kata “kembali” berarti tadinya saudara ada di surga? Ini sama persoalannya dengan penjelasan di atas. Jadi lagu ini kelihatannya dan kedengarannya bagus tetapi salah secara teologis. Saudara memikirkan ini atau tidak sewaktu bernyanyi? Pakai pikiran saudara yang mengerti Kitab Suci untuk menyeleksi lagu-lagu waktu saudara menyanyi memuji Tuhan. Paulus berkata :

“Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku” (1 Kor 14:15).

Juga pakai pikiran saudara waktu menyetujui/menentang suatu ajaran. Jangan menyetujui satu ajaran atau menolak suatu ajaran hanya karena saudara merasa tidak enak. Pakai pikiran saudara dalam hal ini.

Inti dari point ini adalah pekerjaan Roh Kudus sama sekali tidak mematikan fungsi ratio. Karena berhati-hatilah terhadap berbagai ajaran yang mengesampingkan ratio dan pakailah rasio saudara di dalam ibadah maupun pelayanan. Bukankah Yesus sendiri berkata :

“Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37)?

Pdt. Stephen Tong dalam salah satu khotbahnya berkata :

“Roh Kudus tidak membunuh otak, dan Roh Kudus tidak meniadakan fungsi rasio. Allah yang mencipta rasio tidak mungkin membuang rasio. Memang rasio berdosa, tetapi rasio yang berdosa ini perlu dikembalikan, dinormalisasikan, bukannya dibuang. Ada pendeta yang mengatakan : "Jika mau dipimpin Roh Kudus, buanglah “bakpauw” (sejenis roti atau kue dari tepung berbentuk setengah bola) yang di kepala ini. Ia mengatakan bahwa jika kita memakai bakpauw otak ini, maka Roh Kudus tidak akan bekerja. Kalau Roh Kudus bekerja tidak pakai otak, dan jika pakai otak, Roh Kudus akan pergi. Sepertinya Roh Kudus takut kepada otak, sampai-sampai jika orang pakai otak, Ia akan pergi; atau sepertinya Roh Kudus menjadi musuh dari otak. Hal itu tidak benar. Roh Kudus lebih besar dari otak dan Roh Kudus lebih hebat dari otak. Letakkanlah orang yang paling pandai di bawah firman Tuhan, nanti Roh Kudus akan menaklukkan otaknya. Hanya pendeta-pendeta yang tidak mau belajar yang takut kepada otak yang pandai, lalu mereka mengatakan "di mana otak bekerja di situ Roh Kudus tidak bekerja." Alkitab tidak pernah mengatakan hal sedemikian. Yesus Kristus pernah mengatakan: "tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu, dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu" (Yoh 14:26). Iman yang sejati bukan melawan rasio, tetapi mengembalikan fungsi rasio ke arah yang benar. Pada waktu kebenaran tidak menguasai otak saudara, maka otak saudara menjadi "anak terhilang". Tetapi pada waktu "anak terhilang" itu dibawa kembali kepada kebenaran dan tunduk dengan setia kepada Tuhan dan kebenaran-Nya, itulah yang disebut iman. Maka iman tidak berlawanan atau di luar rasio. Iman justru arah yang benar untuk mengatur rasio kembali takluk kepada kebenaran. Roh Kudus bekerja melalui firman dengan memberikan pencerahan kepada rasio kita, sehingga kita mengerti kebenaran. (Dinamika Hidup Dalam Pimpinan Roh Kudus, hal. 55-56).

1 komentar:

  1. Coba baca artikel di blog ku..
    http://yowest.wordpress.com/2010/10/21/kesesatan-agama-yahudi-nasrani-dalam-pandangan-islam/

    kalau perlu email ke budhi_vespa76@yahoo.com...No.HP saya 081 510 521 107

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini