13 Juni 2012

PERGAMUS : GEREJA YANG BERDIAM DI TAKHTA IBLIS (1)

 By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK


Wah 2:12-17 – (12) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua: (13) Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam. (14) Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. (15) Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus. (16) Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini. (17) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya."


Kita sudah membahas 2 jemaat di Asia yakni Efesus dan Smirna. Sekarang kita akan melanjutkan pembahasan kita tentang jemaat Pergamus. Perlu diketahui bahwa ada perbedaan penyebutan terhadap nama kota Pergamus ini. Sebagian terjemahan Alkitab menyebutnya “Pergamus” seperti Alkitab Terjemahan Baru Indonesia, KJV, dll.

KJV - And to the angel of the church in Pergamos write; These things saith he which hath the sharp sword with two edges
sedangkan yang lain menyebutnya “Pergamum”.

CEV - This is what you must write to the angel of the church in Pergamum: I am the one who has the sharp double-edged sword! Listen to what I say.
TEV - "To the angel of the church in Pergamum write: "This is the message from the one who has the sharp two-edged sword.

Perlu diketahui bahwa bahasa Yunani mengenal sistem gender (jenis kelamin) kata di mana kata-kata mempunyai jenis kelamin maskulin (laki-laki), feminim (perempuan) dan neutral (banci). William Barclay memberikan keterangan bahwa “Pergamum” adalah bentuk feminim dari kata itu sedangkan “Pergamos” adalah bentuk netralnya. Dalam dunia kuno, kedua nama tersebut sama-sama dipakai hanya saja nama Pergamum lebih dikenal luas. Itulah sebabnya terjemahan-terjemahan Alkitab yang lebih baru lebih memilih menggunakan nama “Pergamum” daripada “Pergamus” atau “Pergamos”.

Kita akan membahas teks kita dalam beberapa bagian penting :

I.       KOTA DAN JEMAAT PERGAMUS.

Jikalau Efesus terkenal sebagai kota terbesar di Asia pada masa itu, Smirna terkenal sebagai kota yang paling indah, maka Pergamus dikenal karena ia adalah ibukota Propinsi Asia pada masa itu dan karena itu maka para pejabat Romawi banyak tinggal di kota ini. Kota Pergamus terletak sekitar 100 km di sebelah utara Smirna dan dikenal sebagai kota Bargama di Turki modern sekarang ini dan terletak di atas sebuah bukit berbentuk kerucut.

Ada 2 hal yang sangat menonjol dari kota Pergamus ini :

  1. Kota ini memiliki perpustakaan yang besar.

Pergamus memiliki sebuah perpustakaan yang besar pada saat itu, melebihi kota-kota yang lain kecuali Alexandria Mesir. Tetapi bagaimana ceritanya sampai Pergamus memiliki perpustakaan nomor 2 di dunia pada masa itu? Pada masa itu orang masih menulis di atas kertas papyrus yang dibuat dari pohon papyrus. Dari kata “papyrus” inilah diturunkan kata “paper” dalam bahasa Inggris yang artinya kertas. Pohon papyrus banyak tumbuh di sungai Nil Mesir dan karena itu produksi kertas papyrus juga berpusat di Mesir. Itu sebabnya perpustakaan terbesar justru ada di Alexandria Mesir. Mesir juga menjadi satu-satunya pengeksport kertas papyrus ke seluruh dunia pada masa itu.

Terdorong untuk menyaingi perpustakaan di Alexandria Mesir maka pada abad 3 SM, raja Pergamus yang bernama Eumenes membujuk salah satu cendikiawan dan pustakawan Alexandria bernama Aristhopanes untuk pindah bekerja di perpustakaan Pergamus dengan gaji yang sangat tinggi. Sayang sekali hal ini diketahui oleh raja Mesir Ptolomeus yang akhirnya memenjarakan Aristhopanes dan menghentikan eksport papyrus ke Pergamus. Ini secara perlahan-lahan akan mematikan perpustakaan Pergamus karena papyrus adalah satu-satunya bahan tulis yang dikenal pada zaman itu. Tapi raja Pergamus Eumenes tidak putus asa. Untuk mengganti bahan tulis papyrus yang sudah tidak didatangkan lagi dari Mesir, ia meminta para pegawainya untuk membuat bahan tulis yang lain. Mereka pun menemukan ide untuk membuat bahan tulis dari kulit binatang yang disamak dan diperhalus. Setelah melalui beberapa uji coba, mereka yakin itu dapat menjadi bahan tulis yang baik, bahkan lebih tahan lama daripada kertas papyrus. Mereka pun memproduksi bahan tulis dari kulit binatang ini secara besar-besaran di Pergamus dan lalu mengeksportnya ke mana-mana. Ini contoh bahan tulis dari kulit binatang yang disamak itu. Bahan tulis yang baru ini lalu diberi nama “perkament”sesuai dengan nama asalnya yakni “Pergamum”.

F.F. Bruce : Kata “perkamen” berasal dari nama kota “Pergamum”, di Asia Kecil, karena produksi bahan tulis ini pada suatu saat secara khusus dikaitkan dengan tempat tersebut.

Akhirnya perkament ini lalu menjadi bahan tulis yang lebih populer daripada papyrus dan digunakan secara luas. Bandingkan :

2 Tim 4:13 - Jika engkau ke mari bawa juga jubah yang kutinggalkan di Troas di rumah Karpus dan juga kitab-kitabku, terutama perkamen itu.
Perkament ini juga lalu mendominasi perpustakaan Pergamus di mana perpustakaan Pergamus ini menyimpan sekitar 200.000 literatur perkament dan ini membuat perpustakaan Pergamus menjadi perpustakaan terbesar nomor 2 di dunia pada masa itu di samping Alexandria – Mesir. Ini juga yang membuat Pergamus menjadi kota yang terkenal dengan kebudayaannya yang tinggi melampaui kota-kota lain di Asia Kecil pada masa itu.

Simon Kistemaker – Kota ini bukan hanya memasarkan kulit-kulit ini tetapi juga membuka sebuah perpustakaan yang menyimpan kira-kira 200.000 gulungan kitab. Kota ini telah menjadi pusat studi di mana pengetahuan diakumulasi, diterapkan dan disebarkan.

  1. Kota ini juga (seperti Efesus dan Smirna) menjadi pusat penyembahan berhala yang besar.

Tadi sudah saya katakan bahwa Pergamus adalah ibukota propinsi Asia yang berada di bawah pemerintahan Romawi. Akan tetapi Pergamus ini bukan hanya baru menjadi ibukota pada masa Romawi, jauh sebelum Romawi berkuasa, Pergamus juga menjadi ibukota kerajaan Seleucid, salah satu pecahan kerajaan Yunani setelah masa Alexander Agung. Karena itu Pergamus menganggap bahwa dirinya adalah pemelihara filsafat hidup Yunani.

Sekitar tahun 240 SM mereka berperang melawan bangsa Gauls dan mereka menang dalam perang itu. Mereka beranggapan bahwa kemenangan itu disebabkan oleh dewa-dewa Yunani yang berdiri di belakang mereka. Untuk “mengucap syukur” atas berkat para dewa Yunani yang membuat mereka menang perang itu, mereka lalu mendirikan sebuah kuil yang disebut kuil Atena (yang terletak di puncak gunung yang berbentuk kerucut itu). Tinggi kuil itu adalah 800 kaki (240 meter). Di bagian depan kuil itu dibuat sebuah altar pemujaan terhadap dewa Zeus setinggi 40 kaki (12 meter). Dan sisi-sisi altar ini dipenuhi dengan pahatan-pahatan bernilai seni tinggi yang menggambarkan kemenangan dewa-dewa Yunani atas dewa-dewa bangsa lain. Pahatan-pahatan ini dikenal dengan istilah “The Battle of Giants”. Di altar Zeus ini setiap hari diadakan korban bakaran bagi Zeus di mana asap mengepul sangat banyak. Dan karena letak altar ini di puncak bukit yang berbentuk kerucut maka kepulan asap korban itu sangat menyolok dan terlihat dari jarak yang amat jauh, bahkan dari Laut Tengah. Ini adalah pemandangan yang dapat dilihat setiap hari di Pergamus sampai pada zaman Yohanes.

Meskipun ada penyembahan terhadap dewa Zeus, tetapi Pergamus secara khusus dikaitkan dengan dewa Asclepius Dewa Asclepius ini disebut sebagai “Dewa Pergamus”. Seorang bernama Galen mengatakan bahwa di Pergamus, kalau orang mau bersumpah, maka mereka bersumpah demi nama Asclepius ini dengan mengatakan : “Aku bersumpah demi nama Asclepius, dewa orang Pergamus”. Jadi terlihat bahwa dewa Asclepius ini secara khusus dikaitkan dengan Pergamus walaupun dewa ini disembah juga di kota lain seperti Smirna. Dewa Asclepius ini dikenal sebagai dewa kesehatan dan pengobatan di mana ia biasa memegang seekor ular.

Simon Kistemaker – Asclepius adalah dewa penyembuhan yang menarik perhatian banyak orang yang sakit jasmani. Simbolnya adalah ular yang masih dipakai sebagai lambang kesehatan sampai saat ini.

Agnes Maria Layantara – “…Karena latar belakang inilah, ular digunakan apotek sebagai lambang kesembuhan. (Wahyu Tuhan Bagi Gereja-Nya, hal. 40).

Karena itu di Pergamus dibangun juga sebuah kuil penyembahan dewa Asclepius ini di mana banyak orang sering pergi ke situ untuk mendapatkan kesembuhan.

Agnes Maria Layantara –  Di kuil dewa Asclepius terdapat ular. Banyak orang yang menyembah di kuil itu, terutama orang-orang sakit. Orang sakiut berkumpul pada malam hari untuk minta kesembuhan. Mereka percaya jika malam hari dewa Asclepius datang dengan tanda ular yang mematuk, mereka akan sembuh. (Wahyu Tuhan Bagi Gereja-Nya, hal. 40).

Karena banyak orang datang ke Pergamus mencari kesembuhan, sehingga Steve Gregg mengatakan bahwa kota ini seperti ‘Lourdes’ (kota kesembuhan orang Katolik) bagi dunia purba. Mereka menganggap dan menyebut Asclepius dengan sebutan “SOTER” yang artinya juruselamat.

Herman Hoeksema - Karena kuasa, yang sebenarnya hanya merupakan khayalan, dari dewa ini, ia pada umumnya dikenal sebagai “SOTER”, yaitu Juruselamat. ... ular, simbol dari setan, dipanggil / disebut / diterima dan disembah sebagai juruselamat manusia. (Behold He Cometh, hal. 83).

Setelah Romawi menjadi penguasa dunia, Romawi pun menaklukan kota Pergamus ini dan merebutnya dari tangan Yunani dan lalu menjadikannya menjadi ibukota propinsi Asia sehingga di tangan Romawi Pergamus berkembang menjadi pusat politik dan agama. Orang-orang Romawi pun lalu membangun sebuah kuil untuk kaisar Romawi yakni kaisar Agustus pada tahun 129 SM dan lalu memperkenalkan sistem penyembahan kepada kaisar-kaisar Romawi. Memang hampir di semua daerah Asia Kecil pada waktu ada kuil penyembahan untuk kaisar-kaisar Romawi tetapi karena Pergamus adalah ibukota propinsi, maka ia menjadi pusat atau sentral penyembahan kepada kaisar.

Simon Kistemaker – Kuil-kuil yang dipersembahkan untuk Trajan dan Severus dibangun lebih banyak  kemudian hari. Pergamus telah menjadi pusat penyembahan terhadap kaisar dan untuk sementara waktu kota ini menjadi saingan bagi kota Smirna dan Efesus, bagi kota itu diberi hak istimewa untuk menunjuk penjaga-penjaga kuil atau pembersih kuil (neokoros). Kota ini juga menjadi pusat administrasi pemerintah Romawi di Propinsi Asia.

William Barclay – Pergamus adalah pusat administrasi Asia. Ini berarti Pergamus adalah pusat penyembahan kaisar untuk propinsi Asia. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 133). 

Penyembahan kepada dewa-dewa dan kaisar-kaisar Romawi adalah penyembahan berhala dan itu adalah pekerjaan iblis. Praktek tersebut ada di hampir seluruh Asia jadi boleh dikatakan bahwa iblis bekerja di seluruh Asia. Tetapi karena Pergamus adalah pusatnya maka Pergamus dianggap sebagai pusatnya Iblis di mana Iblis bertakhta di sana. Itulah sebabnya ayat 13 berkata :

Wah 2:13 - Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis;… di mana Iblis diam.
TL - Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di tempat Iblis bertakhta…. di tempat Iblis diam.
BIS - Aku tahu di mana kalian tinggal, yakni di tempat Iblis bertakhta….di markas Iblis, …”
Wycliffe Bible Commentary - Bukit yang tinggi di belakang kota penuh dihiasi dengan kuil, dan di antaranya terdapat  kuil yang  besar untuk  Zeus,  yang disebut  Soter Theos,  Allah Juruselamat. Pergamum merupakan kota pertama di propinsi Asia yang mendirikan kuil untuk Agustus. Kota ini terkenal karena sekolah-sekolah kedokterannya; dan Asklepius, dewa kesehatan, yang dilambangkan dalam bentuk ular dipuja di tempat ini. Ramsay mengatakan, "Jauh melebihi semua kota lainnya  di propinsi Asia Kecil, kota ini memberikan  kepada  seorang wisatawan kesan bahwa ini adalah rumah orang yang berkuasa." Jadi, sangat cocok bahwa di tempat ini dikatakan terdapat takhta Iblis. (Vol.3, hal. 1107)

Nah di tempat semacam inilah (tempat iblis bertakhta), jemaat Kristen di Pergamus hadir dan hidup. Tidak jelas asal usul dari jemaat ini tetapi kemungkinan besar jemaat ini didirikan oleh Paulus. Ini terlihat dari catatan Kisah Para Rasul dan 2 Korintus bahwa Paulus sempat mengadakan penginjilan di Troas :

Kis 16:8, 11 – (8) Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. (11) Lalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis

Kis 20:5-6 – (5) Mereka itu berangkat lebih dahulu dan menantikan kami di Troas. (6) Tetapi sesudah hari raya Roti Tidak Beragi kami berlayar dari Filipi dan empat hari kemudian sampailah kami di Troas dan bertemu dengan mereka. Di situ kami tinggal tujuh hari lamanya.

2 Kor 2:12 - Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana.

Troas adalah tetangga dari Pergamus jadi ada kemungkinan bahwa gereja di Pergamus merupakan hasil penginjilan rasul Paulus. Beradanya jemaat Pergamus di tengah kota Pergamus yang adalah pusat penyembahan berhala menunjuk pada gereja Tuhan yang  hidup di tengah-tengah dunia yang bejad atau gelap.

II.    PUJIAN TERHADAP JEMAAT PERGAMUS.

Jemaat Pergamus mendapat pujian dari Tuhan. Pujian ini muncul dalam ayat 13 :

Wah 2:13 - Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam.

Nah, apa saja pujian yang diberikan kepada mereka?

  1. Mereka dipuji karena mereka tinggal di tempat takhta Iblis.

Wah 2:13 - Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; …di mana Iblis diam.

Tentang “takhta Iblis” sudah saya jelaskan tadi bahwa kota Pergamus disebut demikian karena di kota inilah pusat penyembahan berhala di seluruh Asia. Di sini kita menemukan pujian Kristus kepada jemaat Pergamus karena mereka diam di takhta Iblis itu.

Kata “diam” di sini berarti “tinggal”. Tetapi di dalam bahasa Yunani ada 2 kata yang sama-sama berarti “tinggal” yakni “KATOKEIN” yang berarti tinggal permanen dan “PAROKEIN” yang berarti tinggal sementara. Nah, di dalam ayat ini, kata “diam” bukan menggunakan “PAROKEIN” tetapi “KATOKEIN” yang berarti tinggal secara tetap / permanent.

Wah 2:13 - Aku tahu di mana engkau diam (KATOIKEO), yaitu di sana, di tempat takhta Iblis;…

Ini berarti bahwa orang Kristen di Pergamus adalah masyarakat yang tidak hanya tinggal sementara yang setiap saat bisa pindah dari sana tetapi adalah masyarakat yang tinggal menetap untuk seterusnya di sana. Kemungkinan besar mereka adalah orang-orang asli Pergamus sendiri yang lalu menjadi percaya pada Yesus (jadi mereka bukan pendatang). Menariknya, kata yang sama dipakai untuk iblis dalam frase “di mana Iblis diam”.

Wah 2:13 - Aku tahu di mana engkau diam (KATOIKEO), yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; … di mana Iblis diam (KATOIKEO).

Berarti Iblis juga tinggal secara permanent di Pergamus dan itu berarti bahwa orang Kristen dan iblis sama-sama tinggal permanent di sana. Ini adalah salah satu alasan mengapa Tuhan memuji jemaat Pergamus. Mereka tahu bahwa Pergamus adalah takhta Iblis, tempat di mana Iblis tinggal secara permanent, tempat kekafiran berkuasa secara mutlak tetapi mereka tetap memilih tinggal secara permanent di sana dan tidak melarikan diri. Coba saudara pikirkan, jika saudara tinggal di satu rumah dan saudara lalu tahu bahwa rumah itu adalah rumah hantu dan hantu tinggal di situ secara permanent, apakah saudara tetap mau tinggal di situ? Jangankan hantunya tinggal permanent, jika dia tinggal sementara saja (kost) mungkin saudara tidak berani kost di sana. Jadi di sini Tuhan memuji keberanian jemaat Pergamus yang berani tetap tinggal secara permanent di kota Pergamus yang adalah takhta Iblis dan Iblis berdiam di sana. Tentu ini tidak bisa dibayangkan seperti suatu lokasi tempat Iblis membangun takhtanya melainkan kekuasaan Iblis yang sangat besar ada di Pergamus dan mereka tetap tidak takut / melarikan diri dari Pergamus.

Ini seharusnya membawa satu pelajaran penting bagi kita sebagaimana yang dikatakan Barclay :

William Barclay – Prinsip kehidupan Kristen bukanlah melarikan diri, melainkan menaklukan. Kita mungkin merasa bahwa akan lebih mudah bila kita menjadi orang Kristen di tempat lain atau di lingkungan lain, namun tugas orang Kristen adalah bersaksi bagi Kristus di mana pun kita berada….semakin sulit menjadi orang Kristen di lingkungan tertentu, semakin besar tanggung jawabnya untuk bertahan di lingkungan tersebut. Jika orang Kristen pada zaman gereja perdana melarikan diri setiap kali berhadapan dengan tugas sulit, maka kemungkinan untuk memenangkan dunia bagi Kristus sudah hilang pada masa itu juga. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 135).

Bandingkan kata-kata Barclay di atas dengan kata-kata Herman Hoeksema :

Herman Hoeksema: Bisa ditanyakan suatu pertanyaan apakah tidak sebaiknya gereja kecil itu pindah tempat keluar dari kota yang jahat di mana Iblis bertakhta dan berdiam. Adalah lebih aman baginya di kota lain di sekitarnya. Tetapi itu bukanlah pesan yang harus diberikan oleh Yohanes kepada gereja itu, juga itu bukan sikap dari Kitab Suci pada umumnya. ... Kitab Suci tidak pernah mengatakan kepada kita bahwa gereja Kristus seperti itu harus beremigrasi dari dunia dan secara hurufiah hidup di suatu tempat yang terpencil. (Behold He Cometh, hal. 85).

Benar sekali! Itulah prinsipnya! Orang Kristen dipanggil untuk bersaksi bagi Kristus di mana saja ia ditempatkan Tuhan. Namun seringkali ada banyak orang Kristen yang tidak betah berada di lingkungan yang tidak Kristiani, yang tidak mengenal Tuhan, apalagi kalau di lingkungan itu mereka mengalami kesukaran-kesukaran sebagai seorang Kristen. Dan mereka lebih memilih untuk keluar dari lingkungan tersebut dan mencari lingkungan yang lebih aman/nyaman dan kalau bisa bergabung bersama-sama orang Kristen lainnya. Barclay menceritakan tentang seorang wartawan sekuler yang begitu menjadi Kristen, langkah pertama yang dilakukannya adalah pindah tempat bekerja ke sebuah majalah Kristen. Pdt. Jusuf Roni pernah bercerita bahwa ia pernah diminta berdoa oleh seorang karyawan agar kalau bisa mendapatkan tempat kerja yang lain karena di tempat kerja dia saat itu hanya dia satu-satunya orang Kristen. Ia ingin bekerja di tempat di mana ada banyak saudara-saudara Kristen di sana. Ini adalah contoh dari orang-orang yang tidak berani hidup di lingkungan yang tidak mengenakkan bagi seorang Kristen. Tetapi tidak demikian dengan jemaat Pergamus. Mereka hidup di pusat takhta Iblis, yakni pusat penyembahan berhala, di mana sangat sukar untuk menjadi orang Kristen di sana, tetapi mereka tetap tinggal di sana secara permanent. Itulah sebabnya Tuhan memuji mereka.

Memang bisa dimengerti bahwa manusia berusaha mencari tempat yang lebih aman dan lebih menyenangkan, tetapi kita perlu ingat keamanan diri kita sebetulnya tidak tergantung tempat / sikon di mana kita berada, tetapi tergantung kepada Tuhan. Tuhan bisa melindungi dan membebaskan Petrus, yang dikelilingi oleh musuh-musuhnya (Kis 5:18-dst), dan Tuhan bisa membunuh Herodes ditengah-tengah para pendukung / pengagumnya (Kis 12:21-23). Ingat juga bahwa kita dipanggil oleh Kristus untuk menjadi “terang dunia” (Mat 5:14), dan kalau semua “terang” berkumpul bersama-sama, lalu siapakah yang akan menerangi kegelapan? Ingat bahwa semakin gelap suatu tempat, semakin dibutuhkan terang. Karena itu marilah kita memiliki keberanian seperti jemaat Pergamus yang tidak gampang lari dari persoalan / kesulitan melainkan tetap hidup di sana dan berjuang untuk menaklukannya.

Saya setuju dengan kata-kata Barclay dan Herman Hoeksema tetapi pada saat yang sama saya juga berpendapat bahwa kata-kata Barclay dan Hoeksema di atas tidak boleh dimutlakkan, seakan-akan dalam keadaan apa pun kita tidak boleh pindah/lari. Bandingkan dengan Kej 46:1-7 di mana Yakub pindah ke Mesir, dengan restu dari Allah, karena adanya bahaya kelaparan. Kis 9:22-26 menceritakan bahwa Paulus lari dari Damsyik ke Yerusalem, karena mau dibunuh. Mat 24:15-21, khususnya ayat 16 dan 20 di mana kata ‘melarikan diri’ muncul 2kali. Di sini / dalam situasi ini Tuhan bahkan memerintahkan untuk lari.

Mat 24:16,20 – (16) maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan. (20) Berdoalah, supaya waktu kamu melarikan diri itu jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat

Dari semua ini saya menyimpulkan bahwa kita boleh lari / pindah, kalau betul-betul mau dibunuh/akan mati kalau tidak pindah, bukan sekedar pada waktu mengalami keadaan sukar dan kita diyakinkan dalam pergumulan kita, bahwa Tuhan mengijinkan / menyuruh kita lari.

Menjadi Kristen tidak mudah, apalagi menjadi Kristen yang taat dan sungguh-sungguh. Seringkali kita berhadapan dengan berbagai macam kesukaran, penderitaan, perlawanan, sikap permusuhan, dll di negara kita atau di kota kita atau di lingkungan kita atau di tempat kerja kita atau bahkan dalam rumah kita sendiri sebagaimana kata Yesus :

Mat 10:36 - dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya

Tetapi itu semua tidak boleh membuat kita melarikan diri dan mencari aman. Kita harus tetap berada di sana untuk menunjukkan kualitas kekristenan kita dan menjadi terang di tengah-tengah kegelapan itu.

Simon Kistemaker - Hidup dekat dengan tempat tinggal Iblis, maka pengikut-pengikut Yesus Kristus dapat berharap untuk bertahan baik dalam penganiayaan maupun kematian. Tempat tinggal mereka dan tempat tinggal Iblis itu sama, demikianlah sehingga orang jahat selalu hadir.  Kecenderungan orang percaya untuk melarikan diri dari domisili  Iblis bukan bayangan semata. Tetapi Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridnya bahwa mereka ada dalam dunia tetapi bukan dari dunia (Yoh. 17:14-18). Dia menugaskan umat-Nya untuk membawa berita keselamatan  dimana saja di atas muka bumi ini. Dia sebagai pemenang telah berkata, “tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).  Dengan kemenangan ini, Tuhan Yesus membagi kemenangan-Nya  kepada para pengikut-Nya yang pergi ke dunia dengan pengetahuan bahwa Firman Allah tidak pernah kembali dengan sia-sia karena Firman Allah tidak pernah terbelenggu (Yes. 55:11; 2 Tim 2:9).

Jikalau saudara berani bertindak seperti itu maka sebagaimana Tuhan memuji jemaat Pergamus, Ia juga akan memuji saudara.

  1. Mereka dipuji karena mereka setia kepada Kristus.

Wah 2:13 – “….engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu,…”

Kata-kata “berpegang kepada nama-Ku” artinya sama dengan “tidak menyangkal imanmu kepada-Ku” yang keduanya boleh disebut dengan satu kata yakni setia. Jadi jemaat Pergamus dipuji Tuhan karena mereka setia kepada Kristus. Mereka bukan hanya tetap tinggal di Pergamus tetapi mereka juga setia kepada Kristus. Apa artinya jikalau mereka tetap tinggal di Pergamus, tidak melarikan diri dari sana tapi pada saat yang sama mereka menyangkal nama Kristus di sana? Itu tidak ada artinya! Tetapi jemaat Pergamus tidak demikian! Mereka tetap tinggal di Pergamus, takhta Iblis itu dan pada saat yang sama tetap mempertahankan kesetiaan mereka kepada Kristus. Kesetiaan ini sangat berarti karena kesetiaan itu ditunjukkan di dalam lingkungan yang sama sekali tidak bersahabat dengan kekristenan bahkan memusuhi Kristen.

Pada masa itu praktek penyembahan kepada kaisar Romawi diwajibkan di seluruh daerah jajahan Romawi, dan sebagai ibukota propinsi Asia, Pergamus adalah pusatnya. Karena itu penekanan terhadap penyembahan kaisar sangat kuat di Pergamus dan penolakan terhadap hal itu harus dibayar dengan nyawa.

William Barclay - Menolak untuk membakar dupa dan menolak mengatakan, "Kaisar adalah Tuhan", bukanlah suatu tindakan agama, tetapi tindakan politik, yaitu dianggap tidak setia pada kekaisaran Romawi. Itu sebabnya pemerintah Romawi menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada orang yang menolak mengata­kan "Kaisar adalah Tuhan". (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 24).

William Barclay –  “…Pergamus adalah pusat agama kafir, penyembahan berhala dan dewa-dewi. Di sana ada penyembahan Atena dan Zeus, yang altar raksasanya menjulang menguasai kota. Di sana juga ada penyembahan Asclepios yang membuat orang sakit berdatangan dari tempat yang jauh maupun dekat. Dan di atas semua ini, ada penyembahan Kaisar yang penuh tuntutan, bagai pedang beracun yang melayang-layang siap menebas kepala orang Kristen. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 134).

Pada waktu itu gubernur-gubernur Romawi terbagi menjadi 2 bagian. Ada gubernur yang mempunyai hak untuk menghukum mati seseorang yang disebut hak pedang atau “Ius Gladi”dan ada gubernur yang tidak mempunyai hak ini. Pontius Pilatus adalah gubernur yang memiliki hak “Ius Gladi” ini. Itulah sebabnya ia mempunyai kuasa untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus. Nah pada saat itu gubernur propinsi Asia yang tinggal di Pergamus sebagai ibukota propinsi adalah gubernur dengan hak “Ius Gladi” ini dan karena itu ia mempunyai kuasa untuk menghukum mati seseorang dengan perkataannya. Persoalannya adalah bagi seorang Kristen, tidak ada Tuhan lain selain Yesus Kristus. Bagi orang Romawi, ketidakmauan untuk mengakui kaisar sebagai Tuhan adalah ketidaksetiaan terhadap Romawi tetapi bagi orang Kristen, pengakuan terhadap orang lain sebagai Tuhan selain Yesus adalah ketidaksetiaan dan bahkan pengkhianatan terhadap Yesus. Orang Romawi mau agar orang Kristen mengakui kaisar sebagai Tuhan sebagai bentuk kesetiaan kepada Romawi tetapi orang Kristen mau setia kepada pemerintah Romawi tapi tidak dengan cara mengakuinya sebagai Tuhan apalagi menyembahnya. Karena itu banyak orang Kristen Pergamus yang menolak menyebut kaisar sebagai Tuhan apalagi memberi korban / persembahan di kuil kaisar. Akibatnya banyak dari antara mereka yang dihukum mati dengan hak pedang / “Ius Gladi” nya gubernur. Mungkin karena latar belakang inilah maka Yesus dalam surat-Nya kepada jemaat Pergamus memperkenalkan diri-Nya sebagai yang memakai pedang tajam bermata dua.

Wah 2:12 - "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Pergamus: Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua:
Salah seorang dari Pergamus yang dihukum mati adalah Antipas.

Wah 2:13 – “… Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu,…”
Siapa sebenarnya Antipas ini? Tidak ada informasi yang cukup dan akurat. Dari beberapa sumber yang mengacu pada tradisi Kristen, hanya dikatakan bahwa Antipas ini adalah bishop / uskup di jemaat Pergamus. Dalam sebuah pertentangan dengan para imam Asclepius, ia dihukum mati dengan cara dibakar di dalam sebuah sapi kuningan. Hanya itu saja informasinya. Kisah Antipas ini jelas berbeda dengan kisah uskup Smirna (Polycarpus) yang kisahnya lebih dikenal dan lebih akurat. Tetapi tentang fakta tidak terkenalnya Antipas inia ada hal yang menarik :

Pulpit Commentary - Tentang Antipas kita tidak mengetahui apa pun lebih dari yang disebutkan di sini. Tidak ada catatan sejarah, kecuali ini, yang menunjuk kepadanya. Tetapi Kristus tidak pernah lupa. Diingat oleh Dia adalah sesuatu yang sudah cukup masyhur.

Jadi maksudnya adalah biar pun sejarah tidak mencatat dan mengingat si Antipas ini, tapi Tuhan Yesus Kristus mengingat dia. Demikian juga Tuhan pasti mengingat setiap penderitaan dan pengorbanan saudara karena iman saudara kepada Dia sekalipun manusia mungkin melupakannya. Bukan hanya itu saja. Yang menarik adalah bahwa Yesus menyebut Antipas sebagai “Saksi-Ku yang setia”.

Wah 2:13 – “… Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu,…”

Dan ini adalah sebuah penghormatan yang besar dan pujian yang sangat tinggi bagi Antipas karena sebutan itu sesungguhnya adalah sebutan Kristus untuk diri-Nya sendiri.

Wah 1:5 - dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini….”
Jadi Kristus memuji kesetiaan Antipas tetapi pada saat yang sama Ia juga memuji jemaat Pergamus yang pada saat Antipas menjadi martir (dibunuh di hadapan mereka), mereka tidak goyah iman dan kesetiaannya kepada Kristus melainkan tetap berpegang pada nama Kristus dan setia kepada-Nya.

Wah 2:13 – “…engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, …”

Semua ini mengajarkan kepada kita betapa Tuhan begitu senang dan menghargai orang-orang yang setia kepada-Nya, apalagi mereka yang setia kepada-Nya di dalam penderitaan, kesukaran, bahaya dan ancaman. Lebih lagi mereka yang setia sampai mati. Bandingkan dengan fakta bahwa Alkitab berkata Yesus naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, tetapi pada saat Stefanus mau mati syahid, justru dikatakan bahwa Yesus berdiri.

Kis 7:55-57 – (55) Tetapi Stefanus,…menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. (56) Lalu katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah." (57) Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia. (58) Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. …”

Mengapa Yesus berdiri?

Wycliffe Bible Commentary – Yesus biasanya dilukiskan sebagai duduk di sebelah kanan Allah (Maz 110:1; Ibr 1:13). Mungkin di sini Dia digambarkan sebagai berdiri dari takhta-Nya untuk menerima sang martir ini. (Vol 3, hal. 427).

Jadi kelihatannya ini semacam penghormatan berupa “Standing Ovation” bagi hamba-Nya yang setia. Demikianlah Tuhan Yesus menghargai, menghormati dan mumuji hamba-hamba-Nya yang setia kepada-Nya di dalam segala kesulitan dan penderitaan dan kematian.

Dalam pengiringan kita kepada Tuhan Yesus Kristus di dunia ini, kita pasti akan diperhadapkan dengan begitu banyak tantangan, penderitaan, kesulitan, permusuhan, perlakuan yang tidak menyenangkan, bahkan aniaya. Jika demikian bagaimana sikap saudara? Maukah saudara setia dan terus berpegang pada nama-Nya?

Ada sebuah kisah tentang Ignatius dari Antiokhia. Ia adalah murid dari Rasul Yohanes. Dikatakan bahwa pada masa pemerintahan kaisar Trajan, Ignatius dengan keras menolak dan menentang praktek penyembahan kepada kaisar-kaisar Romawi. Akibat dari itu, ia ditangkap dan dikirim ke Roma untuk dihukum mati di sana. Dalam suratnya kepada jemaat Roma, ia menulis demikian :  

“Aku siap menghadapi binatang buas yang siap melahapku sekarang. Sekarang aku menjadi murid Kristus. Aku tidak memandang segala sesuatu, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan yang membuat kagum dunia ini. Cukuplah bagiku jika aku ikut ambil bagian dalam Kristus. Biarlah iblis dan orang-orang jahat menyakitiku dengan segala macam sakit dan penyiksaan, dengan api, dengan salib, dengan bertarung melawan binatang buas, dengan tercerai berainya anggota tubuhku, aku tidak terlalu menghargai semuanya itu, karena aku menikmati Kristus”.

Di depan Senat Roma yang mengadilinya, Ignatius selalu berbicara tentang Yesus. Hampir semua kalimatnya ada nama Yesus disebutkan di dalamnya. Ini membuat para anggota Senat menjadi marah dan bertanya kepadanya “mengapa kamu selalu saja menyebut nama Yesus itu?” Ignatius pun menjawab :

“Yesus yang kukasihi, Juruselamatku, tertulis sangat dalam di hatiku, sehingga aku merasa yakin, jika hatiku dibelah dan dipotong-potong, nama Yesus akan ditemukan tertulis dalam setiap potongan tersebut”.

Akhirnya Ignatius pun dihukum mati dengan cara membiarkannya menjadi mangsa binatang buas. Sebelum 2 ekor binatang buas dilepas untuk memangsanya, Ignatius sempat berkata :

“Aku adalah biji mata Tuhan. Aku digertak oleh gigi-gigi binatang buas  supaya aku menjadi roti Kristus yang murni, yang bagiku merupakan roti kehidupan”.

2 ekor binatang buas pun dilepas dan langsung segera memangsa Ignatius. Seluruh tubuhnya dimakan habis binatang buas itu hingga hanya tertinggal beberapa potongan tulangnya saja. Demikianlah kisah Ignatius yang berhadapan dengan binatang buas dan menjadi martir Kristus.

Lalu bagaimana dengan saudara? Bagaimana jika saudara yang diperhadapkan dengan binatang buas? Bagaimana jika binatang buas itu adalah suami / isteri saudara sendiri? Bagaimana kalau binatang buas itu adalah orang tua / kakak adik / anak saudara? Maukah saudara tetap setia mengiring Tuhan dan berpegang pada nama-Nya? Kalau ya, Tuhan menghargai dan menghormati saudara!


- AMIN -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)