Tampilkan postingan dengan label Apa Kata Alkitab Tentang Manusia?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apa Kata Alkitab Tentang Manusia?. Tampilkan semua postingan

13 November 2012

APA KATA ALKITAB TENTANG MANUSIA? (Part 3)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK




D
alam bagian 1-2, kita sudah membahas 4 hal seputar penciptaan manusia :
1.      Manusia diciptakan melalui perundingan ilahi.
2.      Manusia diciptakan langsung dan segera.
3.      Manusia diciptakan pada hari ke enam
4.      Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Sekarang kita akan melihat fakta-fakta yang lain lagi :

V.    MANUSIA DICIPTAKAN DENGAN MULTI ASPEK.

Mengamati catatan Alkitab tentang penciptaan manusia maka akan terlihat bahwa sewaktu Allah menciptakan manusia, Ia telah menggabungkan 2 unsur penting di dalam diri manusia yakni debu tanah dan nafas hidup/roh.

Kej 2:7 - Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Bandingkan :

Kej 3:19 – “… sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Ayub 33:4 - Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.

Penggabungan antara debu tanah dan nafas hidup inilah yang disebut sebagai manusia. Debu tanah saja bukan manusia (paling-paling bisa dibentuk menjadi patung). Nafas / roh Allah saja bukan manusia tetapi roh. Manusia adalah debu yang bernafas sehingga lalu disebut makhluk hidup. Debu bersifat jasmaniah sedangkan nafas hidup / roh bersifat rohaniah. Akibat penggabungan ini maka manusia menjadi semacam dikotomi yang terdiri dari tubuh (yang berasal dari debu) dan jiwa/roh (yang berasal dari nafas Allah).

Memang ada juga pandangan trikotomi yang mengatakan bahwa manusia terdiri dari 3 bagian yakni tubuh, jiwa dan roh. Salah satu dasarnya adalah 1 Tes 5:23.

1 Tes 5:23 - Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Tetapi studi yang cermat tidak memberikan dukungan yang kuat pada pandangan trikotomi ini. Bahwa dalam 1 Tes 5:23 kata jiwa dan roh muncul bersamaan tidak harus berarti bahwa jiwa dan roh memang adalah 2 elemen berbeda. Ini sama seperti kata “gambar” dan “rupa” dalam Kej 1:26 juga muncul bersamaan tetapi seperti yang sudah dijelaskan, itu mempunyai makna yang sama. Jadi maksud dari kata-kata ‘roh, jiwa dan tubuhmu’ adalah menekankan seluruh dirimu’ (bandingkan dengan bagian awal dari 1Tes 5:23 itu). Itu saja!

1 Tes 5:23 - Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Selain itu Alkitab secara berulang-ulang menunjukkan bahwa manusia terdiri dari 2 bagian saja (dikotomi) sekaligus memperlihatkan bahwa kata jiwa dan roh dipergunakan secara “interchangeable” (dibolak-balik).

·         Pada waktu diciptakan, manusia hanya terdiri dari 2 bagian saja, yaitu ‘tubuh yang dibuat dari debu tanah’, dan ‘nafas hidup’ yang Allah hembuskan.

Kej 2:7 - ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

·         Ada ayat-ayat yang menyebutkan 2 elemen saja yakni tubuh dan roh.

Pengkh 12:7 - dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.

Mat 26:41 - Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging (= tubuh) lemah."

Rom 8:10 - Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.

1 Kor 5:5 - orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.

Yak 2:26 - Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

·         Ada ayat-ayat yang menyebutkan 2 elemen saja yakni tubuh dan jiwa.

Mat 6:25 - "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu (Yun. PSUCHE = jiwa), akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai….”

Mat 10:28 - Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Perhatikan bahwa kalau pandangan trikotomi yang benar, maka ayat ini akan jadi aneh sekali, karena ayat ini akan berkata: jangan takut kepada manusia yang bisa membunuh tubuh (1/3 dari kamu), takutlah akan Allah yang bisa membunuh tubuh dan jiwamu (2/3 dari kamu). Bukankah lebih cocok kalau pandangan dikotomi yang benar, sehingga ayat ini akan berkata: jangan takut kepada manusia yang bisa membunuh tubuh (1/2 dari kamu), takutlah kepada Allah yang bisa membunuh tubuh dan jiwamu (seluruh dirimu)?

·         Ada ayat yang menyebut 2 unsur saja dengan sebutan jasmani dan rohani.

2 Kor 7:1 – “… marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.

Bahwa 2 elemen manusia itu kadang-kadang dinyatakan sebagai ‘tubuh dan jiwa’, dan kadang-kadang sebagai ‘tubuh dan roh’, menunjukkan bahwa ‘jiwa’ dan ‘roh’ adalah 2 kata yang bersifat interchangeable (bisa dibolak-balik). Dan dengan demikian jiwa dan roh adalah elemen yang sama. Jadi jelas bahwa manusia adalah dikotomi yang dibentuk dari unsur jasmaniah yakni debu tanah dan unsur rohaniah yakni roh Allah.

Bahwa Allah menghembuskan nafas atau roh-Nya sehingga manusia yang dibentuk dari debu tanah itu menjadi makhluk yang hidup tentu wajar dan dapat dipahami, tetapi yang harus dipikirkan adalah mengapa Allah harus membentuk manusia dari debu tanah? Bukankah penciptaan dari debu tanah ini menjadikan manusia sama atau selevel dengan binatang?

Kej 2:19 - Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara….”

Pengkh 3:19-20 – (19) Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain…. (20) Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu.

Memang derajat manusia lebih tinggi daripada binatang karena adanya gambar dan rupa Allah yang diberikan ke dalam manusia, juga penghembusan roh Allah kepada manusia itu, tetapi yang menjadi persoalan adalah mengapa harus dari debu tanah yang adalah elemen yang sama dengan binatang? Saya memahami bahwa di sini Allah hendak membuat keseimbangan bagi manusia. Hal-hal yang sudah diberikan / dilakukan terhadap manusia sebagaimana yang sudah kita bahas (diciptakan melalui perundingan ilahi, diciptakan pada hari ke enam, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga menjadi mirip/hampir sama seperti Allah) dan juga bahwa ia diberikan kuasa untuk mengatur segala ciptaan (Kej 1:28), semuanya dapat saja membuat manusia menjadi menjadi sombong / besar kepala dan merasa diri seperti Tuhan Allah dan pada akhirnya melawan Tuhan Allah.  Tuhan tidak ingin manusia merasa seperti itu dan karena itu Ia menciptakan manusia dari debu tanah yang fana dan tak berarti, persis seperti elemen yang dipakai-Nya untuk menciptakan binatang agar manusia selalu mengingat hal itu ketika ia merasa diri begitu hebat di hadapan Tuhan Allah. Dia harus ingat bahwa segala yang baik yang ada padanya, yang membedakannya dari binatang berasal dari Tuhan dan Tuhan kalau Tuhan menarik semuanya, ia tidak ada beda dengan binatang.

John J. Davis – Agar manusia tidak memberi penilaian yang terlalu tinggi terhadap manusia yang pertama, di sini dicatat bahwa meskipun manusia mempunyai kedudukan tinggi karena Allah dijadikan menurut gambar Allah, manusia memiliki bagian pokok dalam susunannya yang selalu melarang timbulnya kebanggaan diri yang tidak pantas ...” (Paradise to Prison, hal. 79)

Ini perlu diingat oleh setiap kita supaya kita jangan menjadi sombong dan merasa tidak perlu Tuhan atau menganggap remeh Tuhan. Abraham sangat menyadari ini sehingga ketika ia menghadap Tuhan dan hendak mengajukan permohonan terkait dengan nasib Sodom, ia berkata :

Kej 18:27 - Abraham menyahut: "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.

Berbeda dengan Abraham, Yehu tidak menyadari hal ini dan karena itu firman Tuhan datang kepadanya :

1 Raj 16:2 - "Oleh karena engkau telah Kutinggikan dari debu dan Kuangkat menjadi raja atas umat-Ku Israel, tetapi engkau telah hidup seperti Yerobeam dan telah menyuruh umat-Ku Israel berdosa, sehingga mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan dosa mereka.

Jadi kenyataan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah seharusnya membuat manusia sadar diri dan tidak menjadi sombong atau kurang ajar dengan segala apa yang ada padanya dan merasa tidak perlu Tuhan. Setiap kali kita merasa diri hebat, setiap kali kita merasa diri terlalu berarti, setiap kali kita merasa diri benar di hadapan Tuhan, ingatlah bahwa kita adalah debu tanah dan dalam aspek itu, kita tidak lebih daripada binatang.

Ayub 25:4-6 – (4) Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih? (5) Sesungguhnya, bahkan bulan pun tidak terang dan bintang-bintang pun tidak cerah di mata-Nya. (6) Lebih-lebih lagi manusia, yang adalah berenga, anak manusia, yang adalah ulat!"

Bandingkan bunyi ayat ini dalam Terjemahan Lama :

TL – (4) Maka bagaimana gerangan manusia benar di hadapan Allah? bagaimana gerangan orang yang diperanakkan oleh perempuan itu suci dari pada salah? (5) Bahwasanya bulan juga tiada terang betul dan segala bintangpun tiada suci kepada pemandangan-Nya; (6) istimewa pula manusia, yang ulat adanya, dan anak Adam, yang seperti cacing tanah!

Tetapi kenyataan bahwa kita diciptakan dari debu tanah juga tak selamanya bermakna negatif. Itu bisa bermakna positif. Tuhan yang menciptakan kita dari debu tanah, berarti Dia tahu persis siapa kita sebenarnya. Dia sadar bahwa tanpa Dia kita hanyalah debu dan tidak ada artinya apa-apa. Dia bisa mengerti bahwa sebagai debu terlepas dari providensi-Nya, kita adalah makhluk yang lemah dan mudah jatuh dalam dosa. Karena itu Dia juga dapat menjadi Allah yang peduli dan bersimpati pada kita, bisa memahami kelemahan-kelemahan kita. Dia memang tidak bisa kompromi dengan dosa, tetapi Dia bisa mengerti kelemahan manusia. Dia bisa mengerti bagaimana Daud yang begitu cinta kepada-Nya bisa melakukan perzinahan yang hebat bahkan pembunuhan. Dia bisa mengerti mengapa semangat yang menyala-nyala dalam diri Petrus bisa berubah menjadi sebuah penyangkalan. Demikian juga Dia bisa mengerti pergumulan saudara di dalam menghadapi dosa. Mengapa Dia bisa mengerti kelemahan-kelemahan kita? Jawabannya :

Maz 103:14 - Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

Yesus juga pernah berkata : “Roh memang penurut tetapi daging (tubuh yang dibentuk dari debu tanah) lema”. Jikalau Dia saja ingat bahwa kita ini debu, kita juga musti selalu ingat bahwa kita ini debu dan karena itu kita perlu bergantung sepenuhnya pada Dia. Kita tidak mungkin bisa tetap kuat iring Dia, taat pada Dia, setia pada Dia tanpa Dia menopang kita.

Kembali pada pembahasan utama kita, manusia adalah makhuk yang diciptakan secara multi aspek yakni aspek jasmaniah (debu tanah) dan aspek rohaniah (nafas/roh Allah). Ini berarti bahwa manusia adalah penggabungan/kombinasi antara debu tanah dan nafas/Roh Allah. Debu dari bawah dan nafas dari atas. Maka manusia adalah kombinasi antara ‘atas’ dan ‘bawah’. Debu bersifat fana dan nafas/Roh Allah bersifat kekal/baka. Maka manusia adalah kombinasi antara kefanaan dan kebakaan/kekekalan. Debu dari bumi dan nafas dari surga. Maka manusia adalah kombinasi antara bumi dan surga. Karena itu manusia barulah memahami hakikat diri sesungguhnya dalam kesadaran dan keseimbangan 2 aspek ini. Manusia harus sadar bahwa dirinya di satu sisi adalah fana tapi di sisi yang lain adalah kekal. Manusia harus senantiasa melihat ke atas sambil sadar bahwa ia ada di bawah. Manusia harus belajar menatap ke surga sementara ia ada di bumi.

Ada banyak orang hidup secara tidak seimbang dalam hubungan dengan 2 aspek ini. Ada orang yang terlalu peduli dengan urusan jasmaniah (kekayaan, harta, uang, kesehatan, pekerjaan, dll) tetapi tidak peduli dengan urusan yang bersifat rohani. Sebaliknya ada orang yang terlalu peduli dengan urusan rohani dan lupa bahwa dia masih ada di bumi. Ingat, manusia tidak boleh merasa sudah di atas dan lupa bahwa ia masih di bawah. Tetapi manusia juga harus belajar melihat ke atas selagi ia masih ada di bawah. Yesus pernah berkata : “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Mat 4:4). Itu berarti bahwa dalam hidupnya manusia membutuhkan 2 hal ini. Roti (jasmani) dan firman (rohani). Sudahkah 2 hal ini ditekankan secara seimbang di dalam hidup anda?

VI. MANUSIA DICIPTAKAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN.

Fakta berikutnya dari penciptaan manusia adalah bahwa manusia diciptakan laki-laki dan perempuan.

Kej 1:27 - Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Dalam Kej 2, penciptaan jenis perempuan ini didahului dengan kata-kata Tuhan sendiri : “tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”.

Kej 2:18 – “…"Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Ini pertama kalinya muncul kata-kata “tidak baik” dalam kisah penciptaan setelah sebelumnya berkali-kali dikatakan bahwa “Allah melihat segala yang diciptakan itu baik”. Tetapi kata-kata ‘tidak baik’ di sini tidak bertentangan dengan kata-kata ‘sungguh amat baik’ dalam Kej 1:31 karena Kej 1:31 terjadi setelah Hawa ada, sedangkan Kej 2:18 diucapkan oleh Allah sebelum Hawa ada. Juga ‘tidak baik’ di sini tidak berarti ‘jelek’, tetapi ‘tidak lengkap’. Jadi Tuhan menciptakan perempuan untuk laki-laki guna melengkapi apa yang belum lengkap. Karena itu laki-laki tidak boleh meremehkan perempuan karena tanpa mereka hidup saudara belum lengkap. Tetapi perempuan juga jangan menjadi sombong karena saudara hanyalah pelengkap, tanpa laki-laki apa yang akan saudara lengkapi?

Kita sudah belajar bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dan itu berarti bahwa Allah telah memasukkan sebagian sifat diri-Nya ke dalam manusia sehingga sampai pada taraf tertentu, manusia menjadi mirip dengan Allah. Kita sudah menyinggung sejumlah aspek yang berkenaan dengan itu tetapi juga dapat ditambahkan bahwa salah satu sifat Allah yang lain adalah sifat sosial. Maksudnya adalah Allah bukanlah suatu “makhluk” dengan 1 pribadi yang menyendiri tanpa pribadi lain di samping-Nya. Ia adalah Tritunggal. Ia adalah Allah yang esa yang memiliki 3 pribadi yakni Bapa, Anak dan Roh Kudus dan dengan demikian dari kekekalan hingga kekekalan, Allah hidup dalam suatu persekutuan antar pribadi Tritunggal ini. Allah adalah Allah yang berelasi, Allah yang berinteraksi, Allah yang bergaul, Allah yang bersahabat. Nah, karena Ia menciptakan manusia seturut dengan gambar dan rupa-Nya maka sifat sosial dari Allah ini lalu dimanifestasikan dalam penciptaan manusia dalam 2 jenis berbeda agar manusia dapat juga menjadi makhluk sosial seperti Allah. Dengan adanya jenis perempuan di samping jenis laki-laki, maka manusia laki-laki dan perempuan itu dapat berelasi, berinteraksi, bergaul, bersahabat, seperti yang terjadi di antara pribadi-pribadi dari Allah Tritunggal. 

Kembali pada penciptaan manusia laki-laki dan perempuan, terlihat bahwa Allah dengan jelas memberi perbedaan antara jenis laki-laki dan jenis perempuan itu : “diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27). Ia menciptakan manusia laki-laki, Ia juga menciptakan manusia perempuan. Ia menciptakan manusia laki-laki sedemikian rupa sehingga ketika orang melihatnya, orang tahu bahwa itu adalah jenis laki-laki. Ia menciptakan manusia perempuan sedemikian rupa sehingga ketika orang melihatnya, orang tahu bahwa itu adalah jenis perempuan. Jadi Tuhan tidak pernah menciptakan 1 jenis yang “abu-abu” atau 1 jenis “campuran” yakni setengah laki-laki dan setengah perempuan yang sering disebut sebagai “waria”. Tidak!!! Kalau ada seperti itu, itu jelas sebuah penyakit psikologis. Begitu tegasnya Tuhan dalam hal ini sehingga Tuhan melarang semua upaya pengaburan jenis kelamin ini.

Ul 22:5 - "Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.

Ayat ini seringkali dipakai oleh orang-orang Persekutuan Doa untuk melarang perempuan memakai celana panjang. Tetapi ini jelas salah! Celana panjang itu bukan dominasi laki-laki. Perempuan kan bisa memakai celana panjang khusus perempuan. Tujuan ayat ini bukan semata-mata terletak pada jenis pakaian melainkan jenis pakaian yang dapat mengaburkan perbedaan jenis kelamin. Jadi maksudnya adalah bahwa seorang perempuan tidak boleh memakai pakaian laki-laki sehingga identitas keperempuannya menjadi kabur. Demikian juga seorang laki-laki tidak boleh memakai pakaian perempuan sehingga identitas kelaki-lakiannya menjadi kabur. (Ini tentu tidak dimaksudkan jika ada tujuan tertentu seperti ketika orang bermain drama/film atau sementara menyamar). Jadi intinya adalah Tuhan menciptakan manusia 2 jenis yakni laki-laki dan perempuan dan Tuhan tidak mau jenis ini dikaburkan. Karena itu seorang laki-laki tidak boleh berpakaian dan berperilaku seperti perempuan, sebaliknya seorang perempuan tidak boleh berpakaian dan berperilaku seperti laki-laki. Lebih daripada itu, tidak boleh melakukan operasi penggantian kelamin seperti yang dilakukan Dorce Gamalama, cs. Itu adalah dosa!

Selanjutnya, manusia laki-laki dan perempuan itu diberkati oleh Tuhan, dan Tuhan mengawinkan mereka. Inilah perkawinan pertama di dunia. Dan saya percaya bahwa perkawinan pertama yang digagas langsung oleh Allah ini boleh menjadi pola bagi pernikahan Kristen selanjutnya dan banyak hal tentang pernikahan dapat ditiru dari pernikahan/perkawinan Adam dan Hawa ini, tetapi dalam kaitan dengan tema kita tentang manusia, saya hanya akan memberikan beberapa saja yang relevan :

a.       Perkawinan haruslah terjadi antara manusia dengan manusia.

Karena Allah mengawinkan Adam dan Hawa yang adalah manusia maka ini menjadi pola bahwa seorang manusia haruslah kawin dengan sesama manusia. Manusia tidak boleh kawin dengan yang bukan manusia seperti binatang. Perkawinan / hubungan seks dengan binatang adalah kelainan seksual yang disebut sebagai bestiality / zoophilia, dan ini dilarang oleh Alkitab bahkan diancam dengan hukuman mati.

Kel 22:19 - Siapapun yang tidur dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati.

Im 18:23 - Janganlah engkau berkelamin dengan binatang apa pun, sehingga engkau menjadi najis dengan binatang itu. Seorang perempuan janganlah berdiri di depan seekor binatang untuk berkelamin, karena itu suatu perbuatan keji.

Im 20:15-16 – (15) Bila seorang laki-laki berkelamin dengan seekor binatang, pastilah ia dihukum mati, dan binatang itu pun harus kamu bunuh juga. (16) Bila seorang perempuan menghampiri binatang apa pun untuk berkelamin, haruslah kaubunuh perempuan dan binatang itu; mereka pasti dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.

Karena itu janganlah kawin dengan binatang (babi, ayam, kambing, dll). Itu untuk dipelihara / dimakan, bukan dikawini. Kawinlah dengan sesama manusia!

b.       Perkawinan haruslah antara manusia laki-laki dan manusia perempuan.

Karena Allah mengawinkan manusia laki-laki dan perempuan, maka ini juga menjadi pola bahwa sebuah perkawinan harusnya adalah antara seorang manusia laki-laki dan seorang manusia perempuan. Jadi laki-laki tidak boleh kawin dengan laki-laki dan perempuan tidak boleh kawin dengan perempuan (lesbian). Ini dosa! Hukumannya menurut Taurat adalah hukuman mati!

Im 20:13 - Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.

Rom 1:26-27 – (26) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar (LESBIAN). (27) Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki (HOMOSEKSUAL), dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.

Karena itu janganlah sekali-kali kita melakukan dosa homoseksual dan lesbian ini. Ini adalah penyimpangan dari apa yang Tuhan tetapkan!



John J. Davis - “… perkawinan harus di antara orang yang berbeda jenis kelamin; pasangan yang Allah ciptakan bagi Adam, seorang laki-laki, adalah Hawa, seorang perempuan. Meskipun "gerakan pembebasan orang homoseksual" dengan gigih mengemukakan alasan agar homoseksualitas disahkan, alasannya tak dapat bertahan bila dipandang dari sudut penyataan alkitabiah. Seandainya Allah merencanakan perkawinan homoseksual, tentu Kejadian 2 akan mengatakan sesuatu mengenai Adam dan Bambang. Perkawinan pertama yang diselenggarakan oleh Allah jelas merupakan pola. Orang-orang yang berusaha menyusun alasan yang alkitabiah untuk homoseksualitas harus meninggalkan sama sekali hermeneutik yang masuk akal. (Paradise to Prison, hal. 82).

Saudara mungkin sukar mendapatkan jodoh, tetapi apapun terjadi janganlah sampai kawin dengan jenis yang sama dengan saudara. Seorang teman yang kesulitan mendapatkan jodoh sampai usia 40 berkata pada saya : “bagaimanapun juga tahun depan saya harus menikah. Saya tidak akan pilih-pilih orang lagi. Saya tidak peduli kaya atau miskin, putih atau hitam, berpenbdidikan atau tidak, laki-laki atau perempuan, yang penting baik hatinya”. Jelas ini pandangan orang yang stress. Mario Teguh pernah mengatakan kalimat seperti dalam gambar di bawah ini :




Walaupun saya tidak setuju bahwa perbedaan agama tidak penting, tetapi saya setuju bahwa perbedaan kelamin adalah hal yang penting.

Atas dasar ini pula maka orang Kristen apalagi gereja harus menolak sama sekali pernikahan orang sesama jenis. Kita tidak boleh berpandangan seperti Presiden Amerika Serikat Barak Obama maupun artis Madonna yang mendukung perkawinan sejenis. Kita juga tidak boleh setuju dengan apa yang dilakukan oleh sejumlah gereja gila dan sesat yang melakukan pemberkatan terhadap pasangan sejenis. Sampai tahun 2009 sudah ada 13 negara yang melegalkan pernikahan sejenis di antaranya adalah Denmark, Belanda, Belgia, Spanyol, Kanada, Afrika Selatan, Swedia, Portugal, Meksiko, Argentina. Tetapi yang paling liberal adalah Swedia.

www.eramuslim.com - Pernikahan sejenis (homoseksual) telah disahkan menjadi undang-undang di Swedia. Swedia menjadi negara ketujuh yang melegalkan pernikahan ala kaum Luth ini. Dalam jajak pendapat terakhir 71% dari penduduk Swedia menyetujui pernikahan ini. Bahkan hasil jajak pendapat yang dilakukan Sveriges Television (SVT) di kalangan gereja menunjukkan 68% dari 1700 pastur melegalkan pernikahan sejenis di gereja mereka, 21% menolak, dan 11% abstain. Ini menjadikan Swedia menjadi negara pertama yang melagalkan perkawinan sejenis di mayoritas gereja.

www.jawabannews.com - Dewan Gereja Swedia akhirnya menyetujui sakramen pemberkatan netral untuk para gender baru ini setelah diadakannya voting dengan hasil yang cukup jauh, 176-62. Uskup Agung Swedia, Anders Wejryd, mengatakan bahwa dukungan atas gerakan gereja tersebut adalah ‘sebuah keputusan yang tepat'.




Gereja Kristen yang benar tidak boleh setuju dengan praktek pernikahan homoseksual seperti ini.
                                                                                              
a.       Perkawinan haruslah antara 1 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.



Perhatikan bahwa Tuhan hanya memberikan 1 orang Adam untuk 1 orang Hawa dan setelah itu mengukuhkan perkawinan mereka. Itu berarti bahwa pernikahan tidak boleh bersifat poligami maupun poliandri. Memang ada tokoh Alkitab yang berpoligami (Abraham, Daud, Salomo, Yakub, dll) tapi itu bukan teladan yang harus diikuti. Itu adalah kesalahan yang tidak boleh ditiru! Karena itu adalah salah juga orang-orang dari sekte-sekte tertentu yang mengawini banyak perempuan dengan dalih perintah Tuhan.  Misalnya :

§  Ziona Chana.

www.terselubung.blogspot.com - Seorang pria India dari Mizoram, di bagian timur laut negara itu, memiliki keluarga terbesar di dunia dengan jumlah 181 jiwa yang meliputi 39 istri, 94 anak-anak dan 14 anak menantu dan 33 cucu. Ziona Chana 67 tahun dan keluarganya tinggal di rumah dengan 100 kamar, rumah berlantai empat di tengah-tengah perbukitan Baktwang di desa Mizoram. Keluarga ini menerapkan disiplin mirip militer, dengan istri tertua Zathiangi pengorganisasian mitra rekan-rekan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti membersihkan, mencuci dan menyiapkan makanan. Satu makan malam bisa melihat mereka memotong 30 ayam, 132 kulit dari kentang dan menanak sampai 220 liter beras. Ziona menjaga istri muda di dekat kamar tidurnya dengan anggota keluarga yang lebih tua tidur lebih jauh. Istri-istrinya mengunjungi kamar tidurnya secara bergiliran. Ziona bertemu istrinya tertua, yang tiga tahun lebih tua daripada dirinya, ketika ia berusia 17 tahun. 'Saya pernah menikah 10 wanita dalam satu tahun,' ia mengatakan. 'Bahkan saat ini, saya siap untuk memperluas keluarga saya dan bersedia untuk pergi ke batas tertentu untuk menikah. Aku punya begitu banyak orang untuk merawat dan memperhatikanku, dan saya menganggap diri saya orang beruntung”. Ziona adalah kepala sebuah sekte Kristen agama setempat yang disebut 'Chana', yang memungkinkan poligami. Dibentuk pada Juni 1942, bagian dari keyakinan sekte adalah bahwa mereka akan segera memerintah dunia dengan Kristus.

Berikut ini adalah foto Ziona Chana dengan para isteri dan anak-anaknya serta rumah tempat mereka tinggal.




§  Bello Maasaba (Nigeria)





www.terselubung.blogspot.com - Bello Maa-saba ternyata seorang pria yang memiliki istri terbanyak yang berjumlah 107 orang. Saat ini dia telah berusia 87 tahun. Saat ini dia tinggal bersama 87 orang istrinya. sementara 9 orang istrinya sudah meninggal dan 12 diantaranya sudah bercerai…. Selama masa 21 tahun Bello Maasaba hanya memiliki 2 orang istri. Kemudian pada tahun 1970, ia mengklaim memperoleh 'pencerahan'. Katanya dia dikunjungi malaikat Jibril. Ia menyatakan disuruh jibril untuk terus menikah. "Saya mendapat wahyu dari Tuhan yang meminta saya untuk menikahi wanita yang ingin saya nikahi. Jika tidak dari Tuhan, saya tak akan menikah lebih dari dua kali," ujar Maasaba. Maka menikahlah Maasba dengan para wanita. Ia melamar istri ketiganya setelah melihatnya sekali saja. "Saya melihatnya, lalu menyukainya. Kemudian saya temui orang tuanya dan melamarnya," katanya. Maasaba tak kesulitan hidup bersama puluhan istri. Sebagai kepala keluarga, ia dapat membuat suasana damai penuh kasih sayang dalam keluarga besarnya itu. …Lalu, bagaimana ia memenuhi kebutuhan seksual istri-istrinya itu? "Inilah rahmat Tuhan. Ia telah memberi saya tenaga untuk memenuhi kebutuhan seks mereka” katanya dengan bangga.


Inilah implikasi-implikasi dari kenyataan bahwa Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan.

Satu hal lagi yang perlu ditambahkan adalah bahwa sekalipun laki-laki dan perempuan ini berjenis kelamin berbeda, tetapi mereka sesungguhnya adalah jenis yang sama yakni manusia. Ini berarti bahwa manusia laki-laki dan perempuan sebenarnya adalah sederajat. Laki-laki tidak lebih tinggi derajatnya daripada perempuan dan perempuan tidak lebih rendah derajatnya daaripada laki-laki. Memang dalam kebudayaan tertentu termasuk kebudayaan Yahudi, perempuan dianggap mempunyai derajat yang lebih rendah tetapi dilihat dari sudut pandang penciptaan, juga di dalam Kristus, laki-laki dan perempuan sama derajatnya.

Gal 3:28 - Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.

Kalau ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan di dalam kehidupan berumah tangga di mana laki-laki ditetapkan sebagai kepala keluarga, maka itu adalah perbedaan fungsi dan bukan derajat. Karena itu seorang laki-laki tidak boleh menganggap dirinya lebih penting atau lebih tinggi derajatnya daripada seorang perempuan, sorang perempuan tidak boleh menganggap dirinya lebih rendah derajatnya daripada seorang laki-laki. Demikian juga para orang tua tidak boleh memperlakukan anak laki-laki lebih istimewa daripada anak perempuan.



- AMIN -


APA KATA ALKITAB TENTANG MANUSIA? (Part 2)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK



P
ada bagian sebelumnya (Part 1) kita sudah belajar 2 fakta tentang penciptaan manusia yakni :
1.      Manusia dicipta melalui suatu perundingan ilahi.
2.      Manusia dicipta langsung dan segera.

Sekarang kita akan melanjutkan pembahasan kita dengan melihat fakta-fakta yang lain dari penciptaan manusia.

III. MANUSIA DICIPTAKAN PADA HARI YANG KEENAM.

Jika kita memperhatikan urut-urutan / ordo penciptaan, kita akan mendapati bahwa manusia diciptakan pada hari keenam, hari terakhir dari 6 hari penciptaan oleh Allah.

Kej 1:27,31 – (27) Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (31) Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Jika kita membaca sejak ayat 24 maka terlihat bahwa manusia bukan satu-satunya yang diciptakan pada hari keenam. Pada hari yang sama Allah juga menciptakan segala binatang.

Kej 1:24-25 – (24) Berfirmanlah Allah: "Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar." Dan jadilah demikian. (25) Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Hanya penciptaan manusia baru dilakukan setelah penciptaan binatang-binatang ini. Jadi manusia diciptakan paling akhir di hari terakhir dari rangkaian 6 hari penciptaan. Hal ini seharusnya membuat kita bertanya. Mengapa Allah menciptakan manusia paling akhir dari seluruh rangkaian penciptaan-Nya? Apakah ini kebetulan ataukah ada maksud tertentu dari Tuhan? Ingat bahwa Allah bukanlah manusia yang sering membuat sesuatu tanpa tujuan. Apalagi bahwa di akhir dari penciptaan manusia itu dikatakan bahwa “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik”. (Kej 1:31).

Pertama-tama perlu kita ketahui bahwa jikalau Alkitab menyebutkan beberapa hal secara berurutan, kadang-kadang yang ditempatkan paling belakang adalah yang kurang penting / kurang besar / kurang mulia tetapi kadang-kadang justru yang paling penting, paling baik, paling besar itulah yang ditempatkan paling belakang. Contoh di mana hal yang kurang penting diletakkan paling belakang adalah daftar karunia-karunia Roh di mana karunia bahasa roh dan karunia menafsirkan bahasa roh di bagian paling akhir.

1 Kor 12:29-30 – (29) Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

Dari sejumlah dasar yang dapat dikemukakan, ini menunjukkan bahwa karunia bahasa roh memang adalah karunia terkecil / terendah.

Karena itu kita jangan mengagung-agungkan karunia bahasa roh lalu mengabaikan karunia-karunia yang lain. Ingat, itu dianggap karunia yang kurang penting. Mengapa? Karena tanpa salah satunya, yang satunya tidak ada guna. Tanpa karunia menafsirkan bahasa roh, bahasa rohnya tidak ada manfaat. Tanpa karunia bahasa roh, lalu untuk apa karunia menafsirkan bahsa roh? Tetapi karunia yang lain bisa berfungsi tanpa terikat karunia yang lain.

Contoh di mana hal yang terpenting diletakkan paling akhir adalah seperti dalam 1 Kor 13:13.

1 Kor 13:13 - Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Karena itu Paulus berkata :

1 Kor 13:1-3 – (1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. (2) Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Nah, di dalam memikirkan tentang ordo penciptaan ini di mana manusia diletakkan paling akhir, apakah contoh pertama yang harus kita terapkan yakni manusia menjadi kurang penting dibandingkan dengan ciptaan lain ataukah contoh kedua yang kita terapkan sehingga manusia lalu menjadi yang paling penting dari semua ciptaan? Saya kira yang kedualah yang lebih tepat! Manusia diciptakan pada hari terakhir dan dalam urutan terakhir setelah segala ciptaan yang lain menunjukkan bahwa manusia adalah yang paling penting dari semua ciptaan yang ada. Mengapa ia dianggap penting?

Esra Alfred Soru - Ia menciptakan manusia pada hari terakhir di mana segala sesuatu telah diciptakan karena manusia sangat berharga di mata-Nya lebih daripada ciptaan-ciptaan-Nya yang lain, dan karena semuanya itu diciptakan bagi manusia dan bukan manusia bagi semuanya itu. (Mengapa Allah…?, hal. 58).

Stephen Tong - Apakah artinya Tuhan Allah menciptakan segala sesuatu, baru kemudian menciptakan manusia? Manusia dicipta terakhir, apakah itu berarti manusia tidak penting? Justru pemikiran yang sedemikian adalah pemikiran yang terbalik. Tuhan Allah justru menciptakan se­gala sesuatu, baru akhirnya mencipta manusia, karena Allah menghargai manusia. Allah mencipta manusia dengan kemuliaan dan hormat yang tertinggi, sehingga Ia mencipta manusia terakhir. Terakhir, karena segala sesuatu yang dicipta sebelumnya, dipersiapkan untuk manusia. Terakhir, untuk manusia dapat menikmati dan menguasai semua itu. Pikiran ini bagaikan seorang ibu hamil yang segera mempersiapkan ranjang kecil dan pakaian kecil untuk bayinya. Bukan sebaliknya, ibu itu menunggu sampai anaknya lahir, lalu menggeletakkan' nya untuk pergi membeli ranjang dan pakaian. Seorang ibu yang baik berupaya untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk bayinya yang akan lahir. Ia akan memikirkan untuk mempersiapkan ranjang, mempersiapkan popok, selimut, bantal, guling, bahkan mungkin sampai kelambu dan kereta dorong bayi. Seorang ibu yang akan melahirkan berusaha sebaik mungkin mempersiapkan yang terbaik untuk anaknya yang akan dilahirkan. Adam dicipta terakhir karena Allah memandang manu­sia sebagai ciptaan yang paling penting. Manusia lebih penting dari segala sesuatu. Manusia lebih penting dari bumi, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Manusia lebih penting dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Manusia lebih penting dari semua materi yang ada, karena manusia dicipta terakhir, dicipta seba­gai puncak ciptaan. Manusia adalah ciptaan yang paling hormat dan paling mulia. Itu sebabnya manusia dicipta terakhir, sehingga setelah dicipta, dia bisa menikmati segala sesuatu yang baik, yang telah Allah cipta dan persiapkan sebelumnya. Puji Tuhan. Inilah hikmat dan bijaksana Allah. (Yesus Kristus Juruselamat Dunia, hal. 2-4).

Dari penjelasan ini jelas bahwa penempatan manusia pada akhir dari ordo penciptaan bukanlah suatu kebetulan. Lewat ordo ini Tuhan mau menjelaskan kepada manusia bahwa ia adalah ciptaan termulia, ciptaan terhormat, ciptaan tertinggi, ciptaan terbaik dan ciptaan terpenting. Karena manusia adalah yang termulia, terhormat, tertinggi, terbaik dan terpenting maka segala sesuatu disiapkan terlebih dahulu untuk menyambut kehadiran manusia itu. Allah tidak akan menghadirkan manusia di bumi ini jika segala sesuatu belum disiapkan untuk kebutuhan manusia itu.

Esra Alfred Soru - Sewaktu manusia membuka mata untuk pertama kalinya, ia sudah dapat melihat segala sesuatu yang serba teratur dan indah. Ia dapat melihat langit, matahari, bulan dan bintang. Ia dapat melihat ikan, bunga, pohon dan binatang serta tumbuhan yang lainnya. Ia dapat melihat lautan luas dan sungai yang mengalir. Segala sesuatu telah selesai barulah manusia itu hadir. Allah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kehadiran manusia laksana suatu wilayah disiapkan, diperindah dan dipercantik untuk menyambut kehadiran “Very Important Person” (VIP). Sungguh betapa berharganya dan betapa pentingnya manusia. Segala sesuatu diciptakan untuk manusia dan bukan manusia untuk segala sesuatu. (Mengapa Allah Menciptakan manusia?, hal. 32)

Sekarang pikirkan ini :

Esra Alfred Soru - Jika manusia diciptakan terlebih dahulu dari penciptaan terang maka dapat dibayangkan apa yang akan terjadi. Manusia tentu akan hidup dalam kegelapan yang sangat gelap karena terang belum diciptakan, demikian pula benda-benda penerang lainnya apalagi saat itu gelap gulita menutupi samudera raya (Kej 1:2). Jika manusia diciptakan terlebih dahulu dari pemisahan laut dan darat maka di mana ia akan tinggal? Bukankah bumi sedang ditutupi oleh samudera raya? Manusia ditetapkan untuk hidup di darat, sedangkan saat itu darat belum ada. Manusia bukanlah ikan yang dapat hidup di air. Jika manusia diciptakan terlebih dahulu dari tumbuh-tumbuhan maka apakah yang akan dimakannya? Mungkinkah manusia akan mempertahankan hidupnya hanya dengan meminum air yang memang saat itu begitu melimpah? Allah menciptakan manusia pada bagian akhir ordo penciptaan justru demi kebaikan dan keamanan manusia itu sendiri. (Mengapa Allah Menciptakan manusia?, hal. 34)

Jadi memang adalah masuk akal untuk mengatakan bahwa Allah menyediakan segala sesuatu untuk kebutuhan manusia, ciptaan-Nya yang termulia itu.

Stephen Tong - Kita mengetahui bahwa segala sesuatu diciptakan untuk manusia. Manusia dicipta untuk bisa menikmati semua yang sudah diciptakan sebelumnya, sehingga dengan de­mikian manusia lebih tinggi daripada semua ciptaan sebelumnya…. Manusia justru memerlukan segala sesuatu. Manusia perlu udara, cahaya, makanan, dll. Maka semua itu dicipta terlebih dahulu oleh Tuhan, dan barulah kemudian Tuhan mencipta manusia. Oleh karena itu, munculnya manusia adalah untuk menikmati apa yang Tuhan telah ciptakan sebelumnya, sehingga manusia berada di tempat yang paling tinggi… (Ujian, Pencobaan dan Kemenangan, hal. 7-8).

Budi Asali - Allah mencipta atau mengatur segala sesuatu untuk manusia, sebelum manusia diciptakan. Tempat sudah diatur dengan baik. Bayangkan andaikata Tuhan menciptakan manusia sebelum Ia memisahkan air dengan daratan. Makanan yaitu tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan (Kej 1:29), sudah disediakan lebih dulu”. (Eksposisi Kitab Kejadian, hal. 10).

Semua ini menunjukkan bahwa Allah sangat memperhatikan kebutuhan manusia. Bahkan Ia memperhatikan kebutuhan manusia sudah sejak manusia itu muncul pertama kali di bumi ini.

Fakta ini seharusnya membuat kita bersyukur dan tidak perlu mencemaskan berbagai hal di dalam kehidupan kita terutama kebutuhan primer kita (makanan, minuman dan pakaian). Jikalau Tuhan sejak dari awal dunia ini sudah begitu memperhatikan dan menyediakan kebutuhan hidup kita, mengapa Ia tidak akan memenuhi kebutuhan hidup kita selanjutnya?

Budi Asali - Banyak orang hidup dengan penuh ketakutan / kekuatiran, seolah-olah Allah menciptakan manusia pada hari pertama. Tetapi ini tidak benar! Allah menciptakan manusia pada hari ke 6 setelah semuanya siap untuk menerima kehadiran manusia. Ini menunjukkan bahwa Ia sangat memperhatikan kebutuhan hidup manusia. Karena itu, janganlah kuatir akan kebutuhan hidup saudara, baik rumah, pakaian, maupun makanan (bdk. Mat 6:25-34). Memang dalam kasus Adam dan Hawa, Allah tidak memberi mereka pakaian, karena pada saat itu mereka tidak membutuhkannya. Tetapi pada saat mereka membutuhkannya, Allah memberi mereka pakaian (Kej 3:21). (Eksposisi Kitab Kejadian, hal.10)

Karena itu memikirkan semua fakta ini seharusnya membuat kita menyingkirkan segala kekuatiran hidup kita. Ingat, kita lebih penting daripada semua ciptaan, termasuk binatang-binatang yang dicipta sebelum manusia. Alkitab berkata bahwa Tuhan juga memberi makan dan minum dan memenuhi kebutuhan hidup dari binatang-binatang :

Mat 6:26 - Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga…”

Maz 147:9 - Dia, yang memberi makanan kepada hewan, kepada anak-anak burung gagak, yang memanggil-manggil.

TL - Yang memberi makan akan segala binatang, akan anak gagakpun apabila ia berteriak.
Maz 104 : (10) Engkau yang melepas mata-mata air ke dalam lembah-lembah, mengalir di antara gunung-gunung, (11) memberi minum segala binatang di padang, memuaskan haus keledai-keledai hutan;… (14) Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan … (18) gunung-gunung tinggi adalah bagi kambing-kambing hutan, bukit-bukit batu adalah tempat perlindungan bagi pelanduk. … (25) Lihatlah laut itu, besar dan luas wilayahnya, di situ bergerak, tidak terbilang banyaknya, binatang-binatang yang kecil dan besar. (27) Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tangan-Mu, mereka kenyang oleh kebaikan.

Sekarang pikirkan, jikalau manusia lebih penting dari segala ciptaan termasuk bintang, dan Tuhan ternyata menyediakan makanan, minuman dan kebutuhan dari binatang-bintang, masakan Ia tidak melakukan itu bagi kita? Mustahil! Karena itu kekuatiran sebenarnya adalah sebuah fitnahan kepada Allah.

Anonim - Kekuatiran sebenarnya adalah sebuah fitnahan terhadap karakter Allah. Kekuatiran menunjukkan bahwa Tuhan lebih tertarik pada hewan peliharaan-Nya daripada anak-anaknya. (www.cc-vw.org)

Di dalam Maz 104 di antara deretan catatan-catatan bahwa Allah memberi makan dan minum kepada berbagai binatang, terselip juga catatan bahwa Ia memberi makan dan minum kepada manusia.

Maz 104:14-15 – (14) Engkau yang menumbuhkan rumput bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah (15) dan anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia.

BIS – (14) Engkau menumbuhkan rumput untuk hewan, dan bagi manusia segala macam tanaman. Maka ia dapat bercocok tanam, (15) dan menghasilkan air anggur yang menyenangkan. Juga minyak zaitun yang membuat mukanya berseri, dan makanan yang memberi dia tenaga.

Karena itu menyadari akan hal ini membuat kita harus berhenti dari semua kekuatiran hidup kita terutama yang berkaitan dengan apa yang kita makan, minum dan pakai. Ingatlah bahwa kita adalah ciptaan terpenting, termulia, tertinggi daripada ciptaan-ciptaan yang lain.

Luk 12:6-7 – (6) Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dari padanya yang dilupakan Allah, (7) bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.

Saking berharganya sampai-sampai rambut kita pun dihitung oleh Tuhan. Ini luar biasa, bahkan kita sendiri tidak tahu berapa jumlah rambut kita dan lebih dari itu kita pun tidak peduli berapa rambut kita yang rontok. Jadi seharusnya kita memang tidak perlu kuatir akan segala kebutuhan dasar kita. Ini tentu saja tidak berarti kita tidak bekerja. Perhatikan bahwa Tuhan memang memberi makan dan minum kepada binatang-binatang tetapi Ia tidak memberikan semuanya itu di dalam sarang / “tempat tidur” mereka bukan? Mereka semua harus mencarinya tetapi tanpa rasa kuatir karena Tuhan sudah menyediakannya. Demikian juga manusia.

Maz 104:14 - Engkau yang menumbuhkan… tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, yang mengeluarkan makanan dari dalam tanah

BIS – Engkau menumbuhkan…. bagi manusia segala macam tanaman. Maka ia dapat bercocok tanam.

Jadilah rajinlah bekerja tetapi jangan kuatir karena semua berkat sudah disediakan Tuhan untuk saudara.

IV. MANUSIA DICIPTAKAN MENURUT GAMBAR DAN RUPA ALLAH.

Fakta lain dari penciptaan manusia yang dapat kita lihat adalah bahwa manusia dikatakan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Kej 1:26 - Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,

“Gambar” di sini dalam bahasa aslinya adalah “TSELEM” dan “rupa” dalam bahasa aslinya adalah “DEMUTH”. Nah, apa artinya gambar dan rupa di sini? Ada banyak pandangan sudah diberikan yang mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan “gambar” dan apa yang dimaksud dengan “rupa” di sini. Tetapi saya tidak setuju dengan semua pandangan itu. Menurut saya “gambar” dan “rupa” di sini pengertiannya sama sehingga ini hanya menunjuk pada 1 hal dan bukan 2 hal. Ini sama seperti kita sering berkata : maksud dan tujuan saya adalah…” padahal “maksud” dan “tujuan” sama pengertiannya bukan? Lalu apa dasarnya saya mengatakan demikian?

  1. Kata penghubung “dan” di dalam ayat ini sebenarnya tidak ada di dalam bahasa aslinya. Jadi ayat ini di dalam bahasa aslinya hanya berbunyi : Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar rupa Kita,…
Kata “dan” ini dimasukkan oleh Septuaginta dan Vulgata yang lalu diikuti oleh banyak terjemahan Alkitab sehingga menimbulkan kesan bahwa ”gambar” dan “rupa” adalah 2 hal yang berbeda.

  1. Kedua kata ini sering dipakai secara sinonim dan “interchangeable” (bergantian).
Dalam Kej 1:26 kedua kata ini muncul secara bersama-sama.

Kej 1:26 - Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita,…

Tetapi 1 ayat setelah itu yakni dalam Kej 1:27, yang muncul hanya “gambar” sedangkan “rupa” sudah tidak ada.

Kej 1:27 - Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia;…

Selanjutnya dalam Kej 5:1 hanya digunakan kata “rupa” sedangkan “gambar” tidak disebutkan.

Kej 5:1 - “… Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah

Tetapi 2 ayat setelah itu yakni Kej 5:3, kedua kata ini muncul bersama-sama lagi walaupun tidak secara langsung dikaitkan dengan Allah.

Kej 5:3 - “Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya”.

Lalu dalam Kej 9:6 hanya kata “gambar” yang muncul sedangkan “rupa” tidak.

Kej 9:6 - Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri”.

Di dalam PB kita juga menemukan hal yang sama. 1 Kor 11:7 mencatat kata “gambar” tetapi tanpa kata “rupa”.

1 Kor 11:7  - Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaranAllah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.

Demikian juga Kol 3:10 yang hanya menggunakan kata “gambar” tanpa kata “rupa”.

Kol 3:10 - “dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya”.

Tetapi Yak 3:9 hanya menggunakan kata “rupa” dan tanpa kata “gambar”.

Yak 3:9 - “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah

Kesimpulannya adalah : gambar itu sama artinya dengan rupa. Gambar adalah rupa dan rupa adalah gambar. Jadi ini hanya menunjuk pada 1 hal saja dan bukan 2 hal. 

Anthony Hoekema“menurut gambar Kita” hanyalah suatu cara lain untuk mengatakan “menurut rupa Kita”. (Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah, hal. 18).

Nah, kalau dikatakan bahwa manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah, berarti ada sesuatu di dalam diri Allah (yang disebut gambar dan rupa itu) yang menjadi patokan / pola di mana manusia dicipta seperti itu. Sesuatu itu apa? Jelas tidak bisa bersifat materi karena Allah adalah Roh (Yoh 4:24) di mana Ia tidak bertubuh. Sesuatu itu pastilah bersifat rohani juga. Lalu apa? Saya percaya ini menunjuk pada sejumlah sifat Allah yang memang bisa diberikan kepada manusia.

Berbicara tentang sifat Allah, maka ada 2 jenis sifat Allah : (1) Incommunicable attributes (sifat-sifat yang tidak bisa diberikan). Ini adalah sifat-sifat Allah yang hanya bisa menjadi milik Allah, dan sama sekali tidak bisa diberikan kepada makhluk ciptaan-Nya, dan karena itu tidak mempunyai analogi / persamaan dalam diri makhluk ciptaan-Nya. (2) Communicable attributes (sifat-sifat yang bisa diberikan). Ini adalah sifat-sifat Allah yang bisa diberikan kepada makhluk yang lain, sekalipun tidak secara sempurna sebagaimana sifat-sifat itu ada dalam diri Allah sendiri. Jadi menurut saya gambar dan rupa Allah itu menunjuk pada communicable attributes (sifat-sifat yang tidak bisa diberikan) yang diberikan kepada manusia pada saat ia diciptakan. Maksudnya adalah pada saat Allah menciptakan manusia, Ia memasukkan sejumlah sifat-Nya ke dalam manusia sehingga manusia itu lalu mewarisi sifat-sifat-Nya dalam batas tertentu dan ini menyebabkan manusia menjadi mirip dengan Allah.

Maz 8:5-6 – (5) apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (6) Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

Budi Asali - Manusia adalah gambar dan rupa Allah. Artinya semua manusia adalah copy dari Allah, dan karenanya manusia mirip dengan Allah. (Antropology, hal.5).

Anthony HoekemaKedua kata itu memberi tahu kita bahwa manusia merepresentasikan Allah dan menyerupai Dia dalam hal-hal tertentu.  (Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah, hal. 18).

Kalau kita memperhatikan seorang anak, anak itu jelas memiliki kemiripan fisik maupun psikis dengan orang tuanya. Bisa mirip ayahnya, atau mirip ibunya, atau perpaduan antara ayah dan ibunya. Kalau 3 keungkinan ini tidak ada, mungkin dia adalah anak tetangga. Nah, kalau seorang anak mirip dengan orang tuanya maka dapatlah dikatakan bahwa anak itu “diciptakan” menurut gambar dan rupa dari orang tuanya. Jadi gambar dan rupa berhubungan dengan kemiripan.

Lalu sifat apa saja yang Allah masukkan dalam diri manusia?

a.       Sifat pribadi.

Allah adalah suatu pribadi (memiliki pikiran, perasaan dan kehendak). Maka sewaktu Ia menciptakan manusia, Ia menjadikan manusia itu sebagai makhluk berpribadi seperti diri-Nya.

b.       Sifat Roh.

Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Manusia adalah gambar dan rupa / copy dari Allah. Jadi, manusia adalah makhluk rohani. Kej 2:7 juga menunjukkan pemberian nafas hidup kepada manusia yang menyebabkan ia menjadi makhluk rohani. Ini menyebabkan manusia bisa berhubungan / bersekutu dengan Allah, berdoa, mendengarkan Firman Tuhan, berbakti kepada Tuhan, dsb. Binatang bukan makhluk rohani, sehingga tidak bisa berhubungan dengan Allah, berdoa, dsb. Kalau saudara tidak berusaha untuk berhubungan / bersekutu dengan Allah, saudara menjadikan diri saudara sendiri seperti binatang.

c.       Sifat moral.

Allah adalah “makhluk” bermoral di mana Ia mempunyai sifat kesucian. Nah sifat kesucian ini diberikan kepada manusia sehingga manusia lalu menjadi makhluk yang bermoral. Karena manusia adalah makhluk bermoral maka manusia mempunyai kemampuan untuk membedakan yang baik dan yang jahat. Atas dasar kemampuan membedakan yang baik dan yang jahat inilah manusia selalu diperhadapkan dengan pilihan moral antara yang baik dan yang jahat. Ini membedakan manusia dengan binatang. Binatang bukanlah makhluk bermoral dan karena itu untuk binatang tidak ada dosa atau suci, baik atau jahat. Tetapi manusia adalah makhluk bermoral (seperti Allah, malaikat, setan), karena itu ada dosa / suci, baik / jahat. Kalau saudara tidak memperdulikan dosa / suci, baik / jahat, dsb, maka saudara menjadi seperti binatang.

d.      Sifat kekal.

Allah adalah kekal. Ketika Ia menciptakan manusia maka Ia memasukkan sifat kekal itu ke dalam manusia sehingga manusia lalu memiliki sifat kekal ini.

Pengkh 3:11 – “…. Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Tentu saja kekekalan antara Allah dan manusia ada bedanya. Allah kekal dari selamanya sampai selamanya sedangkan manusia hanya kekal sampai selamanya tetapi tidak dari selamanya (karena ia diciptakan / memiliki permulaan). Kekekalan ini pada mulanya meliputi juga tubuhnya (sebelum ada dosa) dan meliputi jiwa / rohnya yang tidak ada akhirnya. Tetapi setelah manusia berdosa, tubuhnya tidak menjadi kekal lagi. Tubuhnya menjadi rusak dan kembali kepada debu tetapi jiwa / rohnya tidak bisa berakhir. Kematian tubuh tidak berarti hilangnya jiwa. Di sinilah bedanya manusia dengan binatang. Binatang ada sewaktu ia hidup tetapi ia menjadi tidak ada setelah ia mati. Tetapi jiwa manusia akan tetap ada setelah ia mati, entah di surga atau di neraka.

e.       Sifat rasional.

Allah adalah makhluk berakal / rasional. Pada saat ia menciptakan manusia, Ia menjadikan manusia juga sebagai makhluk yang berakal. Binatang tidak mempunyai akal. Mereka hanya mempunyai naluri, bukan akal (Ayub 39:16-20; Maz 32:9; Maz 49:21; Maz 73:22; Yudas 10). Karena itu binatang tidak bisa mengembangkan kemampuannya sendiri. Contoh:
§  Ikan / katak dalam berenang. Bandingkan dengan manusia yang bisa berenang dalam bermacam-macam gaya yang mereka ciptakan sendiri.
§  Harimau / singa dalam menangkap mangsa. Bandingkan dengan manusia dalam mencari nafkah.
§  Burung berkicau. Bandingkan dengan manusia dalam menyanyi yang bisa menggunakan suara 1, 2, 3, dan 4. Tidak ada burung-burung di manapun yang bisa melakukan hal itu
§  Burung / binatang dalam membuat sarang. Bandingkan dengan manusia dalam membuat rumah yang begitu bervariasi.
§  Binatang makanannya terus sama. Bandingkan dengan manusia dalam menciptakan bermacam-macam makanan.
§  Dll.

Jadi, akal adalah sesuatu yang sangat membedakan manusia dari binatang! Ada banyak orang Kharismatik yang mengatakan bahwa kita harus membuang akal, karena kalau tidak maka kita tidak akan terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus, persekutuan terindah dengan Tuhan tidak bisa terjadi, dan juga mujizat-mujizat tidak bisa terjadi. Ini salah dan tidak Alkitabiah! Pembuangan akal seperti ini menjadikan kita seperti binatang! Kita memang tidak boleh bersandar pada akal (Ams 3:5), tetapi itu tidak berarti bahwa kita harus membuang akal.

f.        Sifat mencipta.

Allah adalah pencipta dan sewaktu Ia menciptakan manusia, ia lalu memasukkan sifat ini ke dalam manusia sehingga manusia lalu memiliki apa yang disebut sebagai daya cipta (kreatifitas). Itulah sebabnya manusia bisa menciptakan berbagai hal yang dapat memudahkan hidup manusia itu sendiri. Kalau kita amati dalam hidup kita maka kita sering terkagum-kagum dengan perkembangan teknologi ciptaan manusia. Ada teknologi kedokteran yang melakukan pembedahan, pencangkokan organ tubuh, dll. Ada teknologi komunikasi (televisi, radio streaming, telepon/HP, internet, satelit, google earth, holografic laser, dll). Ada teknologi transportasi (kapal laut, kapal selam, helikopter, pesawat, mobil, dll). Bahkan sekarang ini sudah ada mobil yang akan rem sendiri kalau mobil di depannya berhenti mendadak. Sejak tahun 1950-an Inggris dan Perancis sudah menciptakan pesawat supersonic Concorde yang kecepatan terbangnya 2 kali kecepatan suara yakni 2.200 km / jam. (Bandingkan dengan pesawat komersil biasa yang kecepatannya hanya 600 km / jam). Pesawat ini mampu terbang dari Paris ke New York hanya dalam 2 jam padahal pesawat biasa menempuhnya dalam 7 jam. 



Sekarang sudah diuji coba pesawat hypersonic yang kecepatannya adalah 5 kali kecepatan suara. Tetapi pesawat ulang alik yang ada sekarang berkecepatan 25 kali kecepatan suara. Teknologi komputer juga tidak kalah canggihnya. Sekarang sudah dimunculkan computer yang bahkan hanya berbetuk pulpen saja dan pengoperasiannya bergantung pada sistem pencahayaan yang akan membentuk monitor maupun keybordnya, seperti nampak dalam gambar berikut :  




Teknologi robotik juga maju secara luar biasa. Profesor Tomomasa Sato dari Jepang menciptakan Robot Humanoid dari Jepang bisa menari, berjalan, menyajikan teh dan mencuci gelas bahkan ia bisa belajar dari kesalahan. 



 
Robot Asendro (Jerman) adalah robot pengintai dan penjinak bom, pemadam kebakaran, menangani teroris, bisa merayap dan naik tangga untuk memotong sumbu peledak. Ada kamera dan bisa mengirimkan gambar sampai jarak 2 km. 



 
Sedangkan robot Spyke (Jepang) diciptakan khusus untuk mematai-matai musuh, mendeteksi maling dan membunyikan alarm. Ada kamera untuk memotret maling dan mengirimkan gambarnya via email. Juga ada robot-robot lain yang bisa mengganti saluran TV, mengganti dokter untuk mengoperasi manusia, main sepak bola, push up, menyelamatkan prajurit yang terluka di medan perang, mengidentifikasi korban masih hidup atau sudah mati, robot pelayan, dll.




g.      Dan beberapa sifat lainnya.

Dengan semua sifat yang dimiliki itu maka manusia menjadi mirip dengan Allah hingga batas tertentu. Manusia menjadi miniaturnya Allah. Inilah yang dimaksud dengan manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah.

Sekarang perhatikan hal penting ini. Manusia mirip dengan Allah. Kenyataan ini berimpikasi pada 2 hal :

a.       Manusia bukan Allah.

Gambar dan rupa Allah membuat manusia menjadi mirip dengan Allah. Tetapi karena manusia mirip Allah maka manusia bisa saja menganggap diri sebagai Allah. Ini tidak mungkin terjadi dalam dunia binatang karena mereka tidak dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Tetapi bukankah kalau manusia mirip Allah berarti manusia bukan Allah? Pdt. Stephen Tong pernah berkata bahwa bila wajahmu mirip presiden, kemana-mana orang memperhatikanmu engkau merasa senang. Tetapi lama kelamaan kalau engkau merasa sebagai presiden, itu gila namanya! Engkau hanya mirip! Mirip berarti bukan! Mirip siapa pun berarti engkau bukan orang itu. Alkitab mengatakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, berarti manusia seperti Allah, tetapi seperti Allah berarti manusia bukan Allah. Ini harus disadari oleh manusia / kita supaya di dalam hidup ini kita jangan lupa diri sebaliknya tahu diri dan jangan menganggap diri / menjadikan diri sebagai Allah. Kita tidak boleh berperan sebagai Allah atau mengganti dan menganggap diri sebagai Allah. Tetapi mungkin saudara bertanya “kapan dan bagaimana saya menganggap diri sebagai Allah / menggantikan Allah?” Jawabannya adalah pada waktu engkau ingin bebas dan tidak mau diatur oleh firman Allah / Allah. Misalnya Allah menyuruh saudara untuk mengasihi dan mengampuni tetapi saudara tidak mau. Saudara maunya membenci dan membalas dendam. Allah menyuruh saudara untuk beribadah tetapi saudara tidak mau, maunya bekerja terus. Allah menetapkan hanya boleh bersuami / beristeri 1 tetapi saudara memberontak dan maunya beristeri / bersuami 7.  Allah memanggil saudara menjadi pelayan Tuhan full time tetapi saudara maunya jadi bisnisman atau politikus. Allah memanggil saudara untuk melayani tetapi saudara maunya dilayani, dll. Semua itu menunjukkan bahwa suadara tidak ingin diatur dan dikuasai oleh Allah. Saudara ingin mengatur diri sendiri dan hidup dengan aturan sendiri. Pada saat seperti itu saudara sebenarnya menggantikan posisi Allah, saudara mengambil peranan Allah, saudara menjadikan diri saudara sebagai Allah. Ingat bahwa raja Tirus pernah menganggap diri sebagai Allah.

Yeh 28:2 - "Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Allah! Aku duduk di takhta Allah di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Allah, walau hatimu menempatkan diri sama dengan Allah.

Dan lihatlah bagaimana Tuhan bersikap terhadap dia :

Yeh 28:6-10 – (6) Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah (7) maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau, yaitu bangsa yang paling ganas, yang akan menghunus pedang mereka, melawan hikmatmu yang terpuja; dan semarakmu dinajiskan. (8) Engkau diturunkannya ke lobang kubur, engkau mati seperti orang yang mati terbunuh di tengah lautan. (9) Apakah engkau masih akan mengatakan di hadapan pembunuhmu: Aku adalah Allah!? Padahal terhadap kuasa penikammu engkau adalah manusia, bukanlah Allah. (10) Engkau akan mati seperti orang tak bersunat oleh tangan orang asing. Sebab Aku yang mengatakannya, demikianlah firman Tuhan ALLAH."

Ingat juga bahwa Herodes pernah tidak menolak disebut Allah dan lihatlah bagaimana Allah bertindak terhadap dia.

Kis 12:21-23 – (21) Dan pada suatu hari yang ditentukan, Herodes mengenakan pakaian kerajaan, lalu duduk di atas takhta dan berpidato kepada mereka. (22) Dan rakyatnya bersorak membalasnya: "Ini suara allah dan bukan suara manusia!" (23) Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing.

Dari sini terlihat bahwa Allah paling tidak suka / benci dengan manusia yang menganggap diri sebagai Allah. Mungkin kita tidak membuat pengakuan eksplisit bahwa kita adalah Allah seperti yang dilakukan raja Tirus, mungkin juga kita tidak secara diam-diam menerima perlakuan terhadap Allah seperti yang dilakukan Herodes, tetapi perilaku kita yang tidak mau diatur oleh Allah / firman Allah mengisyaratkan bahwa kita mau menjadi Allah atas diri kita sendiri. Berhati-hatilah bahwa Tuhan paling tidak suka dengan sikap seperti ini. Ia bisa menghukum / menghajar saudara.

b.       Manusia harus hidup seperti Allah.

Kita memang diciptakan mirip Allah dan kita memang mirip Allah. Hanya saja perlu disadari bahwa dosa telah menyebabkan manusia mengalami kebejadan total (Total Depravity) sehingga seringkali hidup manusia bukan mirip Allah lagi tetapi mirip binatang bahkan lebih rusak dari binatang. Apakah ada orang yang sifatnya lebih rusak dari binatang? Jelas ada! Saya pernah membaca di koran cerita tentang seorang anak yang memperkosa ibu kandungnya sendiri juga ada ayah yang memperkosa anak kandung sendiri. Itu perilaku yang mungkin lebih buruk daripada binatang. Bahkan seringkali binatang tertentu bisa masih “lebih baik” daripada manusia.

Andar Ismail dalam salah satu tulisannya “Hewan Sebagai Kawan” bercerita banyak tentang hubungan anjing dan manusia dan di bagian akhir dari tulisannya, ia menyebutkan beberapa sifat anjing yang dapat ditiru oleh manusia sehingga menurut saya jikalau manusia tidak bersikap seperti anjing itu maka manusia sebenarnya lebih buruk dari anjing.

Andar IsmailAnjing bersifat setia. Ia tidak akan meninggalkan kita. Ia ingin mendekat. Kita duduk di ruang depan, ia ikut duduk di bawah kita. Kita ke kebun, ia akan turut ke kebun, ia selalu ingin dekat. Selanjutnya anjing mudah memaafkan. Ia tidak mendendam. Ketika ia jengkel pada kita, ia akan menjauh. Tetapi satu jam kemudian ia sudah berbaik lagi pada kita. Anjing selalu ingin memberi dan menerima kasih sayang. Setiap kali kita pulang, ia akan menyambut kita dengan gembira. Kalau kita pergi terlalu lama, ia akan menyambut dengan raungan seakan-akan ia memprotes, "Mengapa pergi begitu lama? Aku sudah rindu padamu." Tetapi sifat anjing yang agaknya paling perlu kita pelajari adalah sifat tahu berterima kasih. Ketika ia menerima sepotong tulang, langsung mengibas-ibaskan ekornya dengan luapan rasa terima kasih. Padahal itu cuma sepotong tulang. Sedangkan yang kita terima dari Tuhan dan orang-orang di sekitar kita jauh lebih banyak. Apakah kita mengibas-ibaskan ekor kita? Coba jawab. Pernahkah kita menggoyang-goyangkan ekor kita? (Selamat Berteman, hal. 82).

Jadi apabila kita tidak setia, apabila kita tidak suka memaafkan dan suka mendendam / menyimpan amarah yang lama, tidak mau menerima / memberi kasih sayang, dan tidak tahu berterima kasih, maka sesungguhnya sifat kita lebih buruk dari anjing.

Lebih jauh dari itu bahkan ada orang yang sikap / sifatnya seperti setan. Itulah sebabnya Yesus berkata : “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu….” (Yoh 8:44). Semua itu jelas karena dosa. Gambar dan rupa Allah di dalam diri manusia menjadi corrupt atau tercemar atau rusak. Ini berlaku untuk semua manusia. Karena itulah maka Yesus Kristus datang ke dalam dunia ini. Dia adalah gambar Allah yang sesungguhnya.

Kol 1:15 - Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan

Ibr 1:3 - Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah… 

Dan untuk orang-orang pilihan-Nya, Allah telah mempredestinasikan mereka untuk satu tujuan yakni pemulihan gambar Allah di dalam diri mereka melalui Kristus.

Rom 8:29 - Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

2 Kor 3:18 - Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.

Karena itu bagi orang-orang yang percaya, sesungguhnya Kristus sudah memulihkan gambar dan rupa Allah yang telah rusak karena dosa itu. Pemulihan sudah dikerjakan oleh Kristus. Oleh sebab itu orang-orang percaya mempunyai tanggungjawab untuk hidup sedemikian rupa sehingga menjadi mirip dengan Allah sesuai dengan citra diri / fitrahnya sebelum jatuh ke dalam dosa. Memang di dalam dunia ini kita masih berdosa tetapi kita harus tetap berjuang agar semakin hari hidup kita semakin mirip dengan Allah. Misalnya :

·         Dengan mengasihi dan mendoakan musuh kita.

Mat 5:44-45 – (44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (45) Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

Jadi dengan mengasihi dan mendoakan musuh, maka sebenarnya kita hidup mirip dengan Allah.

·         Dengan menjadi pembawa damai.

Mat 5:9 - Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Allah disebut Allah damai sejahtera (1Tes 5:23  Ibr 13:20). Ia juga disebut sebagai sumber damai sejahtera (Ro 15:33  2Kor 13:11). Ia juga mengusahakan damai (Ef 2:14-16  Kol 1:20). Karena itu orang-orang yang membawa / mengusahakan perdamaian menjadi mirip dengan Allah. Itulah sebabnya mereka disebut anak-anak Allah.

·         Dengan menolong orang yang susah tanpa mengharapkan imbalan.

Luk 6:35 – “… berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

·         dll.

Intinya adalah karena kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah maka kita menjadi mirip Allah. Dosa memang merusak gambar dan rupa Allah itu di dalam diri kita tetapi Kristus sudah memulihkannya. Tanggung jawab kita adalah berusaha agar hidup mirip seperti Allah.

Stephen TongDi dalam dirimu ada peta dan teladan Allah. Di dalam dirimu engkau harus berjuang seperti Allah. Di dalam dirimu diberikan potensi. Di dalam dirimu diberikan tanggung jawab. Di dalam dirimu diberikan suatu kemungkinan untuk hidup seperti Allah karena engkau diciptakan menurut peta dan teladan Allah. Sudahkah engkau bersedia untuk hidup baik-baik memancarkan kemuliaan Allah? (Peta dan Teladan Allah, hal. 23-24).

Kiranya dengan belajar bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, kita selalu ingat 2 hal ini yakni kita tidak boleh menganggap diri sebagai Allah, kita tidak boleh menggantikan Allah, kita tidak boleh bersikap seolah-olah kita adalah Allah. Dan kita harus berjuang untuk hidup seperti Allah sebagaimana yang diajarjan Firman Tuhan.


- AMIN -