Tampilkan postingan dengan label Koleksi Tulisan Norman Geisler. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Koleksi Tulisan Norman Geisler. Tampilkan semua postingan

18 September 2012

APA YANG DILAKUKAN ALLAH SEBELUM IA MENCIPTAKAN DUNIA?


By. Norman Geisler


P
ertanyaan sulit lainnya yang sering ditanyakan mengenai Allah adalah : Apa yang Allah lakukan dengan seluruh waktu yang dimiliki-Nya sebelum Ia menciptakan? Sang guru Kristen terkenal abad ke-5 A.D. bernama Agustinus meniiliki dua jawaban terhadap pertanyaan ini, satu jawaban yang bersifat humor dan satu jawaban yang serius. Jawaban pertama adalah bahwa Allah menghabiskan waktu-Nya mempersiapkan neraka bagi orang-orang yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini! Jawaban yang serius adalah bahwa Allah tidak memiliki waktu di dalam tangan-Nya, karena belum ada waktu sebelum waktu diciptakan. Waktu berawal dari penciptaan. Sebelum penciptaan, waktu tidak ada. Jadi Allah tidak memiliki waktu di tangan-Nya. Dunia tidak dimulai dengan sebuah penciptaan di dalam waktu tetapi penciptaan waktu. Namun, Anda mungkin berpikir jika tidak ada waktu sebelum waktu itu dimulai, apa yang ada di sana? Jawabannya adalah, kekekalan. Allah adalah kekal, dan satu-satunya hal yang ada sebelum waktu ada adalah kekekalan.

Lebih jauh, pertanyaan itu mengisyaratkan bahwa makhluk sempurna yang tak terbatas seperti Allah dapat menjadi bosan. Kebosanan, bagaimana pun, adalah sebuah tanda ketidaksempurnaan dan ketidakpuasan, dan Allah benar-benar terpuaskan secara sempurna. Oleh sebab itu, tidak mungkin Allah dapat dibuat bosan, sekalipun jika Ia memiliki kurun waktu yang lama dalam tangan-Nya. Pikiran yang memiliki kreativitas tidak terbatas dapat selalu menemukan sesuatu yang menarik untuk dilakukan. Hanya pikiran yang terbatas yang kehabisan hal-hal menarik untuk dilakukan dan menjadi bosan.

Akhirnya, Allah Kristen memiliki tiga pribadi yang berada di dalam persekutuan yang sempurna. Tidak mungkin keberadaan semacam ini dapat menjadi bosan dan kesepian. Tidak hanya selalu ada seseorang yang dapat "diajak bicara," tetapi seseorang yang juga memiliki pengertian, kasih, dan rasa kesetiakawanan yang sempurna. Kebosanan tidaklah mungkin berada di dalam keberadaan semacam ini.



 

BAGAIMANA ALLAH DAPAT MEMBUAT SESUATU DARI TIDAK ADA APA-APA?


By. Norman Geisler


J
ika Allah saja dan tak satu pun yang ada sebelum penciptaan dunia, alam semesta menjadi ada dan tidak ada apa-apa. Namun bukankah hal ini absurd untuk mengatakan bahwa sesuatu dapat muncul dan kondisi tidak ada apa-apa? Merupakan hal yang absurd untuk menga­takan bahwa tidak ada apa-apa menyebabkan sesuatu, karena tidak ada apa-apa berarti tidak ada dan tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun. Namun tidaklah absurd untuk mengatakan bahwa seseorang (yaitu Allah) membuat dunia menjadi ada dari ketidak-beradaan. Tidak ada tidak dapat membuat sesuatu, tetapi seseorang (yaitu Allah) dapat membuat sesuatu dari tidak ada.

Sebenarnya, jika alam semesta memiliki permulaan (seperti yang telah didemonstrasikan sebelumnya), maka ada keadaan di mana tidak ada alam semesta dan kemudian menjadi ada - setelah Allah menciptakannya. Ini yang dimaksudkan dengan penciptaan "dari tidak ada apa-apa" (Latin, ex nihilo). Hal ini tidak berarti bahwa Allah mengambil "segenggam tidak ada apa-apa" dan membuat sesuatu darinya, seolah-olah bahwa "tidak ada apa-apa" itu adalah sesuatu yang darinya Allah menciptakan dunia. Pada saat itu hanya Allah saja yang ada dan tidak ada lainnya. Kemudian Allah menjadikan sesuatu lainnya menjadi ada yang sebelumnya belum pernah ada pada saat itu.

Atau dengan kata lain, penciptaan "dari tidak ada apa-apa" secara sederhana berarti bahwa Allah tidak menciptakan dari sesuatu yang lain yang sudah ada sebelumnya bersama-sama dengan Allah, seperti dalam bentuk-bentuk dualisme tertentu di mana ada dua substansi entitas yang kekal. Ini benar-benar penciptaan ex materia, yaitu, dari suatu benda yang sudah ada sebelumnya di luar Allah. Filsuf Yunani Plato memegang pandangan ini.

Juga Allah tidak menciptakan dunia dari diri-Nya sendiri (yaitu ex Deo). Maksudnya, Allah tidak mengambil sebagian dari diri-Nya sendiri dan membuat dunia darinya. Sebenarnya, Allah orang-orang Kristen ortodoks tidak memiliki bagian-bagian. Ia adalah kesatuan yang sederhana dan menyeluruh dan esa. Oleh sebab itu tidak mungkin Allah mengambil sebagian dari diri-Nya sendiri dan menciptakan dunia. Allah tidak terbatas dan dunia terbatas. Dan tidak ada jumlah bagian-bagian yang terbatas dapat menghasilkan suatu yang tidak terbatas, karena berapa pun bagian atau banyaknya yang dimiliki seseorang, pastilah habis juga.Tetapi tidak mungkin ada sesuatu yang lebih daripada tak terhingga atau tak terbatas. Oleh sebab itu, tidak ada jumlah bagian yang akan sama dengan tak terhingga. Jadi Allah tidak mungkin telah menciptakan dunia dari bagian diri-Nya sendiri (yaitu ex materia).

Dunia ada karena Allah, bukan dari diri Allah. Ia adalah penyebabnya bukan substansinya. Dunia menjadi ada karena-Nya, bukan terbuat dari-Nya. Bagaimanapun, jika dunia tidak diciptakan dari Allah (ex Deo) atau dari sesuatu yang lain (ex materia) yang ada di samping Allah, pastilah dunia diciptakan dari tidak ada (ex nihilo). Tidak ada alternatif lainnya. Allah men­ciptakan sesuatu di mana sebelum Dia menciptakannya maka sesuatu itu tidak ada, baik di dalam diri-Nya maupun dalam hal-hal lainnya. Satu-satunya tempat di mana dunia itu "berada" sebelum Allah menciptakannya adalah di dalam pikiran Allah. Seperti seorang pelukis yang memiliki ide untuk lukisannya, lukisan tersebut berada dalam pikirannya sebelum ia melukisnya jadi Allah memiliki ide mengenai dunia sebelum Ia menciptakannya. Dalam hal ini, dunia sudah ada dalam pikiran Allah sebagai ide sebelum Ia menciptakannya menjadi ada.


 

MENGAPA DUNIA TIDAK MUNGKIN TELAH DAN SELALU ADA?


By. Norman Geisler


O
rang-orang Kristen secara alami percaya bahwa pasti ada Allah karena dunia memiliki awal atau permulaan. Dan segala sesuatu yang memiliki awal mula memiliki sesuatu yang memulainya. Tetapi per­tanyaan yang sulit untuk dijawab adalah bagaimana kita mengetahui dunia memiliki permulaan. Mungkin dunia telah dan selalu ada.

Seorang agnostik terkenal Bertrand Russell mengajukan dilema ini : Hanya ada dua kemungkinan di mana dunia itu memiliki permulaan atau dunia tidak memiliki permulaan. Jika tidak, dunia tidak membutuhkan penyebab (Allah). Jika dunia memiliki permulaan, kita dapat bertanya, "Siapa yang menyebabkan Allah?" Tetapi jika Allah memiliki sebab, ia bukan Allah. Dalam kasus manapun, kita tidak sampai kepada penyebab pertama yang tidak disebabkan (the first uncaused cause).

Jawaban terhadap pertanyaan sulit ini adalah, pertanyaan ini menanyakan hal yang tak berarti pula : Siapa yang menciptakan Allah? Dengan kata lain, kalimat tersebut secara salah mengasumsikan bahwa "segala sesuatu harus memiliki penyebab" ketika apa yang diklaimnya adalah bahwa "segala sesuatu yang memiliki permulaan memiliki sebab." Ini sebuah permasalahan yang berbeda. Tentu, segala sesuatu yang me­miliki permulaan memiliki sesuatu yang memulai. Tidak ada tidak dapat menciptakan sesuatu. Seperti yang pernah dinyanyikan Julie Andrews, "Tak satu pun datang dari tidak ada. Tak akan pernah mungkin." Jadi Allah tidak membutuhkan sebuah penyebab karena ia tidak memiliki awal atau permulaan.

Dalam hal ini, kita hanya perlu menunjukkan bahwa alam semesta memiliki sebuah permulaan, yang artinya menunjukkan bahwa pastilah ada penyebabnya (misalnya Allah). Dua argumen kuat akan ditawarkan sebagai bukti bahwa alam semesta memiliki permulaan. Pertama adalah dari ilmu pengetahuan - hukum keduaTermodinamika. Yang kedua adalah dari filsafat, sebut saja, kemustahilan dari kejadian yang tak berhingga.

Menurut hukum kedua Termodinamika, alam semesta kehabisan energi yang bermanfaat. Tetapi jika alam semesta itu menurun, maka berarti ia tidak kekal. Karena kalau tidak, alam semesta telah benar-benar habis sekarang ini. Ketika Anda tidak pernah kehabisan sejumlah energi yang tak terbatas, maka tidak memerlukan waktu yang lama untuk kehabisan sejumlah energi yang terbatas. Oleh sebab itu alam semesta pastilah memiliki permulaan. Untuk mengilustrasikannya, setiap mobil memiliki sejumlah energi yang terbatas (bahan bakar). Itulah sebabnya kita mengisi ulang bahan bakar tersebut dari waktu ke waktu - lebih sering dari yang kita harapkan. Jika kita memiliki tangki bahan bakar besar yang tak terbatas (tak terhingga), kita tidak akan perlu berhenti untuk mengisi bahan bakar lagi. Fakta bahwa kita harus mengisi ulang menunjukkan bahwa tangki tersebut awalnya telah diisi penuh. Atau, dengan contoh lain, sebuah jam dinding tua yang perlahan mengendor dan harus diset ulang tidak akan kendor kecuali hal tersebut telah diset awalnya. Singkatnya, alam semesta memiliki permulaan. Dan apa pun yang memiliki permulaan pastilah memiliki sesuatu yang memulainya. Oleh sebab itu, alam semesta pastilah memiliki sesuatu yang memulai (Allah).

Beberapa orang telah berspekulasi bahwa alam semesta memiliki sifat memperbaiki diri sendiri dan terus kembali kepada kondisi semula. Tetapi posisi ini benar-benar merupakan spekulasi murni tanpa bukti nyata. Sebenarnya, hal tersebut bertentangan dengan hukum kedua Termodinamika. Bahkan jika alam semesta memiliki sifat berulang kembali ke bentuk dan posisi asalnya seperti sebuah bola yang memantul-mantul, hal tersebut lama kelamaan akan habis. Jadi sama sekali tidak ada bukti yang dapat diamati bahwa alam semesta bersifat memperbaiki diri sendiri terus menerus ke posisi asalnya. Bahkan para astronom agnostik seperti Robert Jastrow telah memperlihatkan: "Ketika hidrogen telah terbakar di dalam diri bintang itu dan terkonversi menjadi elemen-elemen yang lebih berat, ia tidak mungkin dikembalikan ke keadaan semula." Oleh sebab itu, "menit demi menit dan tahun demi tahun, ketika hidrogen telah terkonsumsi di dalam bintang, pasokan dari elemen tersebut semakin berkurang."

Jika jumlah keseluruhan dari energi yang sebenarnya tetap sama tetapi alam semesta kehabisan energi yang berguna, maka alam semesta tidak pernah memiliki jumlah yang tak terbatas - karena jumlah energi yang tak terbatas tidak akan pernah habis. Ini berarti bahwa alam semesta tidak dapat sudah ada selamanya di masa lampau. Alam semesta pastilah memiliki sebuah permulaan. Atau dengan kata lain, menurut hukum kedua, karena alam semesta menjadi semakin tidak teratur, maka hal tersebut tidak mungkin bersifat kekal. Kalau tidak, alam se­mesta pastilah sudah kacau balau sepenuhnya sekarang ini, di mana tidak demikian adanya. Jadi alam semesta pasti memiliki permulaan - sesuatu yang sangat teratur.

Argumentasi kedua mengenai alam semesta yang memiliki permulaan - dan oleh sebab itu memiliki sesuatu yang memulai – datang dari filsafat. Argumen tersebut mengatakan bahwa tidak mungkin ada sejumlah kejadian yang tak terhingga sebelum hari ini; karena kalau tidak hari ini tidak akan pernah ada (di mana sebenarnya ada). Ini karena, secara definisi, sesuatu yang tak berhingga tidak dapat dilampaui - karena ia tidak memiliki akhir (atau awal). Namun karena kejadian-kejadian sebelum hari ini telah berlalu - maka, kita telah tiba pada hari ini - dan oleh sebab itu pastilah hanya ada sejumlah kejadian yang terbatas sebelum hari ini. Jadi, waktu memiliki permulaan.Tetapi jika alam semesta ruang-waktu memiliki permulaan, hal tersebut mengindikasikan bahwa keberadaannya pastilah disebabkan. Penyebab dari segala sesuatu yang lain yang ada ini disebut Allah. Allah ada.

Bahkan seorang skeptik yang luar biasa David Hume memegang kedua premis argumentasi mengenai Allah ini. Terlebih lagi, Hume sendiri tidak pernah menyangkali bahwa segala sesuatu memiliki sebab untuk keberadaannya. Ia menulis, "Saya tidak pernah menyatakan hal yang begitu tidak masuk akal; sebuah proposisi yang mengatakan bahwa segala sesuatu mungkin muncul tanpa sebab." Ia juga menulis bahwa tidaklah masuk akal untuk percaya adanya kejadian-kejadian yang tak berhingga : "Dunia yang sementara ini memiliki permulaan. Sebuah bagian waktu yang tak berhingga, silih berganti dan habis satu demi satu, kelihatan begitu nyata suatu kontradiksi di mana seseorang harus berpikir bahwa tak seorang pun yang pertimbangannya tidak memiliki kecacatan, alih-alih selalu dibuat maju oleh ilmu pengetahuan, yang dapat mengakuinya." Sekarang jika kedua premis itu benar, pastilah ada pencipta dari alam semesta ruang-waktu yang ada yang kita sebut kosmos - oleh sebab itu, Allah ada.