Tampilkan postingan dengan label Buku Harian Nayla. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku Harian Nayla. Tampilkan semua postingan

10 Juni 2009

BUKU HARIAN NAYLA (Part 1)

Esra Alfred Soru


“Buku Harian Nayla” (BHN) adalah judul sebuah sinetron yang ditayangkan di RCTI tahun 2006 yang lalu. Sinetron ini mendapat perhatian yang luar biasa dari banyak kalangan sekaligus memicu berbagai kritik dan komentar. Pada saat seperti inilah Esra Alfred Soru menuliskan opininya dengan judul “Buku Harian Nayla” yang dimuat di Harian Pagi Timor Express awal 2007 yang lalu. Tulisan ini layak dibaca lagi mengingat pihak RCTI kembali menayangkan sinetron BHN di tahun 2008 ini.


“Buku Harian Nayla” (BHN). Itulah judul sebuah Sinetron produksi SinemArt yang ditayangkan stasiun televisi RCTI menjelang Natal tahun 2006 yang lalu (mulai tanggal 11-26 Desember 2006). Sebuah Sinteron yang banyak mendapat perhatian penonton (terutama kaum ibu dan remaja putri) selain karena jalan ceritanya yang sangat bagus dan menyedihkan (entah ada berapa banyak orang terutama ibu-ibu yang telah mengeluarkan air matanya ketika menonton sinetron ini terutama di bagian endingnya) juga karena mungkin inilah pertama kalinya ada sinetron yang ditayangkan di TV swasta Indonesia yang bernuansa spiritual Kristiani.

Sinopsi

Sinetron BHN yang disutradarai Maruli Ara ini bercerita tentang kisah perjuangan hidup seorang gadis remaja bernama Nayla (Chelsea Olivia Wijaya) menghadapi penyakit ataxia yang dideritanya, penyakit yang mengancam tak hanya keceriaan masa mudanya, tapi juga harapannya di masa depan. Bukan sebuah persoalan mudah, bagi seseorang bila tiba-tiba ia divonis mengidap penyakit ataxia, penyakit yang menyebabkan kemunduran kemampuan fisik seseorang. Secara bertahap ataxia akan membuat penderitanya lumpuh tanpa daya. Padahal selama ini Nayla dikenal sebagai gadis yang selalu ceria, rajin, pintar, jago basket dan aktif dalam berbagai kegiatan termasuk rajin beribadah.

Awalnya kehidupan Nayla memang terlihat sempurna. Hingga deraan cobaan itu datang. Berulang kali Nayla mengalami insiden jatuh, yang tak diketahui penyebabnya. Nayla yang bingung, berkonsultasi kepada dr. Fritz (Steve Emmanuel) yang akhirnya berhasil mendiagnosis bahwa ataxia-lah sebagai penyebabnya. Namun begitu, dr. Fritz merasa tidak tega memberi tahu Nayla apa sesungguhnya yang dideritanya. Ia hanya menyarankan agar Nayla menuangkan hari demi hari yang dilaluinya ke dalam sebuah buku harian (sebenarnya agar ia bisa memantau perkembangan kesehatan Nayla). Hari demi hari Nayla lalui dengan kepasrahan. Kondisinya kian lama kian parah. Namun ia tetap tegar. Termasuk ketika akhirnya ia mengetahui penyakit dan efek samping yang harus dihadapinya kelak. Beruntung Nayla memiliki teman-teman yang selalu setia menemani. Salah satu teman yang akhirnya jatuh cinta pada Nayla dan senantiasa menemaninya adalah Moses (Glen Allinske). Karena itu Nayla pun kian termotivasi untuk terus bertahan hidup, tetap menimba ilmu seperti biasa meskipun harus dibantu kursi roda. Ia pun tetap tegar menghadapi cibiran dan cemoohan orang-orang yang memandang sinis terhadap kondisinya.

Waktu berlalu dengan cepat. Nayla berhasil lulus sekolah. Semua teman Nayla sibuk memikirkan kuliah. Nayla sedih, hal yang bisa menghiburnya hanya menulis buku harian. Sementara itu, Moses akhirnya masuk kuliah kedokteran untuk satu alasan yaitu ingin menyembuhkan Nayla. Sementara itu, walau penyakit Nayla semakin parah, ia tetap tegar menjalani hidup dan tetap menggunakan waktunya untuk mengukir prestasi. Nayla, dibantu Moses mengirimkan tulisan dari buku hariannya ke majalah-majalah hingga akhirnya diterima dan dipublikasikan. Suatu hari di malam Natal, Moses datang membawa surat dari pembaca Nayla. Saat itu Nayla sudah benar-benar lelah berperang dengan penyakitnya. Ternyata banyak pembaca yang menjadi lebih tegar menghadapi hidupnya setelah membaca tulisan Nayla. Itu menjadi bukti bahwa sekalipun sudah tak berdaya secara fisik, Nayla tetap berguna dan menjadi penolong bagi orang lain, sesuai keinginan terbesarnya. Nayla tersenyum bahagia. Tak ada lagi yang perlu dia cari di dunia ini…..Nayla akhirnya menikah dengan Moses meski hubungan cinta mereka awalnya ditentang orang tua Moses. Sayang sekali, ataxia membuat Nayla tidak dapat bertahan lebih lama lagi hingga akhirnya Nayla menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Moses tepat pada hari pernikahan mereka. Nayla pun ’pergi’ dalam iman dan damai. Demikianlah jalan cerita sinetron BHN.

Reaksi Positif

Tak pelak lagi, jalan cerita semacam ini menarik begitu banyak perhatian penonton selain tentunya pula ’menarik’ begitu banyak air mata. Selain itu tembang rohani indah ciptaan Jonathan Prawira (Seperti Yang Kau Ingini) yang dilantunkan Nikita ”...Kutelah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama, semuanya sia-sia dan tak berarti lagi, hidup ini kuletakkan pada mezbah-Mu ya Tuhan, jadilah padaku seperti yang Kau ingini” turut memberikan warna tersendiri bagi drama ini dan tentunya mendapatkan tempat di hati para penonton. Simaklah salah satu surat pembaca yang dimuat di koran Kompas, tanggal 26 Desember 2006 :

”Saya bukanlah orang yang gemar menonton sinetron Indonesia karena menurut saya sinetron Indonesia terlalu bertele-tele yang menyebabkan episodenya sampai puluhan, sangat membosankan, dan juga terlalu ”over” terlebih lagi kebanyakan nyontek dari luar negeri. Kadang saya menemani keponakan saya menonton televisi, saya berpikir apa ada anak SD sampai sejahat itu? Atau anak SMP yang menyiram air keras ke temannya, apakah ada anak sekecil itu bisa berbuat demikian? Apakah ada seorang ibu tiri atau seorang suami yang demikian kejamnya? Tetapi pada saat saya menonton ”BHN”, saya sungguh kagum. Tidak ada yang dibuat-buat, semuanya alami, tidak ada yang ”terlalu jahat”, tidak ada yang ”terlalu baik”, jalan ceritanya tidak bertele-tele. Biasanya seisi rumah paling enggan nonton sinetron, sekarang ini semua menunggu Nayla. Semoga sinetron Indonesia yanhg lain bisa meniru sinetron ”BHN”.

Demikian juga salah satu komentar di internet :

”Saya tertarik dengan ceritanya (BHN) yang tidak mengumbar emosi dan nafsu yang menggambarkan perjuangan anak manusia. Salut buat RCTI ada sinetron mendidik .....Daripada kita nonton sinetron yang tidak bermutu dan tidak mendidik yang isinya cuma selingkuh, kawin cerai, kekerasan dalam rumah tangga, foya-foy,a kehidupan metropolis, tidak ada unsur pendidikannya. Sekali lagi salut buat RCTI ...”

Dan masih banyak lagi komentar-komentar positif yang dapat dijumpai di internet seperti :

”BHN….intinya aku suka hikmah dan pesan yang ada di dalamnya dan aku bersyukur pada Tuhan karena BHN bisa membuat aku lebih bersyukur lagi atas semua berkat-berkat-Nya dalam hidupku. Aku berharap masih masih banyak lagi film-film kayak gini (sinetron Nasrani) yang akan di putar di semua stasiun TV ...”

”Menurutku, BHN memang film yang bagus. Film ini menginspirasikan aku untuk tidak putus asa dalam hal-hal yang bisa aku kerjakan”

”Yach…film ini menurutku bagus banget karena dari film ini kita bisa belajar untuk bersemangat dan bersikap optimis. ...film ini bisa berguna buat orang-orang. Aku sangat suka film ini. Kalo bisa di buat jadi VCD atau DVD ya?”

Itulah sebagian kecil dari komentar-komentar positif tentang sinetron ”BHN”. Bahkan, sebegitu tertariknya sampai-sampai pihak RCTI disesak untuk kembali menayangkan sinetron tersebut sekali lagi sebagaimana bunyi email berikut yang dikirimkan pada pihak RCTI : ”Saya mewakili teman-teman saya memohon agar sinetron ”Buku Harian Nayla” diulang lagi, lagian kan cuma singkat ya....paling 2 mingguan lah. Please... saya mohon, soalnya sinetron itu membuat saya belajar....tolong RCTI ....saya mohon sekali....” Dan akhirnya pihak RCTI pun menayangkan ulang sinetron tersebut.

Hal lain yang menarik adalah meskipun sinetron tersebut bernuansa Kristiani namun rupanya bukan hanya umat Kristiani yang sangat tertarik dengan sinetron tersebut bahkan ada banyak umat agama lain yang tidak melewatkan jalan ceritanya bahkan turut juga ”menyumbang” air mata. Seorang teman saya di Surabaya yang bekerja sebagai guru SD bercerita bahwa hampir setiap hari ia mendengar murid-muridnya yang beragama Muslim bernnyanyi ”...Kutelah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama, semuanya sia-sia dan tak berarti lagi, hidup ini kuletakkan pada mezbah-Mu ya Tuhan, jadilah padaku seperti yang Kau ingini”. Mungkin karena itulah beberapa organisasi Islam menuntut agar pihak RCTI tidak lagi menayangkan sinetron-sinetron bernuansa religius Kristiani seperti BHN. Sungguh, belum ada sinetron yang sangat diminati, ditunggu dan dibicarakan seperti ini sampai-sampai saya pun mengangkatnya dalam opini saya di awal tahun 2007 ini. (Ha...ha...ha...)

Antara BHN & IRnN

BHN memang mendapat sambutan positif sebagaimana yang saya jelaskan di atas, namun sayang sekali bahwa di balik semua keindahan dan pesonanya itu terdapat noda yang membuat BHN juga ditolak, dikritik dan dihujat habis-habisan. Mengapa? Karena ternyata BHN tidak lebih dari sebuah jiplakan/bajakan. Sinetron BHN sebenarnya adalah hasil jiplakan dari sebuah drama Jepang berjudul ”Ichi Rittoru no Namida” (1 リットル) atau yang dalam bahasa Inggrisnya ”One Litre of Tears” (1 Liter Air Mata) yang ditayangkan di Jepang pada tahun 2005 lalu oleh stasiun Fuji TV. Drama ”Ichi Rittoru no Namida” (IRnN) bercerita tentang Aya Ikeuchi, gadis SMU berusia 15 tahun yang menderita penyakit Spinocerebellar Degeneration (Ataxia) yang membuat dirinya kehilangan fungsi otak kecilnya. Penyakit ini mengakibatkan menurunnya kemampuan Aya untuk melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana orang normal. Mula-mula Aya harus keluar dari tim basket karena kemampuannya berjalan dan keseimbangannya kian menurun, kemampuan bicara, berjalan kian merosot hingga akhirnya Aya bahkan tidak dapat memegang pena sekalipun. Penyakit Aya ini berkembang sangat cepat dan Aya perlahan namun pasti menghadapi kematian. Drama ini menceritakan perjuangan Aya untuk tetap bisa menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya, walaupun halangannya bukan main… apalagi menjelang akhir cerita, ketika penyakitnya semakin parah sehinga untuk berbicara saja dia tak mampu dan harus menggunakan papan kata yang ditunjuk memakai jari untuk berkomunikasi. Aya menghembuskan nafas terakhirnya di usia 25 tahun, setelah 10 tahun berjuang melawan penyakitnya. Drama ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Kitou Aya. IRnN atau “One Liter of Tears” (A Diary of with Tears) adalah judul buku diary yang ditulis oleh Aya (1962-1988). Buku harian ini ditulis oleh Aya Kitou selama ia menghadapi penyakitnya itu, ia terus menulis sampai akhirnya ia tak lagi mampu lagi memegang pena dan meninggal pada tanggal 23 Mei 1988 dalam usia 25 tahun. Buku harian Aya ini kemudian diterbitkan dan banyak menginspirasi orang-orang, baik yang menghadapi penyakit yang sama maupun yang bersyukur masih diberi nikmat kesehatan oleh-Nya. Kabarnya buku ini telah terjual 18 juta copy.



Buku “One Litre of Tears”

Dari jalan ceritanya dapat dipastikan bahwa BHN memang telah menjiplak IRnN namun menurut informasi di situs resminya, cerita dan skenario BHN dikatakan ditulis oleh Serena Luna. Sungguh sebuah tindakan yang tidak terpuji. Begitu ketatnya jiplakan tersebut sampai detail-detail dari kisah IRnN tidak terlewatkan. (Lihat gambar di bawah ini : sebelah kiri : Ichi Rittoru no Namida” dan sebelah kanan : BHN).


BUKU HARIAN NAYLA (Part 2)

Esra Alfred Soru


Lebih menariknya lagi adalah bahwa ”Buku Harian Nayla” memilih tokoh Nayla (Chelsea Olivia Wijaya) dan Moses (Glen Allinske) yang wajahnya memang mirip dengan tokoh utama dalam drama aslinya IRnN.

Bukan hanya itu. Hal yang paling fatal dalam Sinetron ”Buku Harian Nayla” (BHN) adalah bahwa cerita tersebut dikatakan sebagai sebuah cerita fiktif belaka sebagaimana yang tertulis di layar RCTI : ”Cerita/tokoh/karakter/nama dan hal lainnya dalam tayangan ini, baik seluruhnya maupun setiap bagiannya, adalah fiktif belaka” padahal ”Ichi Rittoru no Namida” (IRnN) jelas adalah sebuah kisah nyata dan itu diinformasikan secara jelas dalam tayangan Fuji TV dengan kalimat : ”This drama is based on the original story” (Drama ini didasarkan atas kisah nyata). Perhatikan cuplikan tayangan BHN di RCTI dan IRnN di Fuji TV.



Hal ini membuat beberapa kalangan menjadi begitu marah dan emosional sebagaimana bunyi sebuah komentar terbuka di internet terhadap Serena Luna (’penulis’ skenario BHN) :

Hei Serena Luna (siapa sih nama aslimu?) tahu ngak sih kalau cerita yang kamu bajak itu adalah kisah nyata? Care ngak sih kalau tokoh yang kamu bajak itu bukanlah hasil karangan semata? Ada orang sebenarnya, (yang kini telah beristirahat di alam sana), ada keluarganya juga, ada perjuangan yang sesungguhnya, dan ada penderitaan yang sesunguhnya! At least berikan credit ke mereka. Kita harus banyak belajar dari mereka, bukan malah membajak habis. ….”

Demikian juga berbagai tanggapan negatif lainnya seperti :

”Saya lebih menghargai sinetron yang original dengan isi cerita super jelek yang isinya cuma ibu tiri atau peri-peri aneh daripada jiplak karya orang laIn.. sampai mati saya tidak akan mau memberi kredit untuk orang-orang seperti mereka kalau alasannya cuma ingin bikin sinetron lain dari yang lain. Kalau mau nyontek boleh aja, at least mengakulah kalau sinetron itu nyontek!”

”Untuk yang mendukung BHN harus berpikir dewasa dan objektif juga kenapa banyak yang protes dan mencerca, pikirkan bagaimana perasaan Shioka, ibu kandung Aya Kitou yang dengan susah payah menyampaikan pesan perjuangan anak kandungnya semasa hidup dan 10 tahun di rumah sakit, dan menjadi inspirasi bagi drama ”1 Litre of Tears” ternyata dijiplak oleh BHN dan bahkan disebut kisah fiktif. Menurut saya ini sangat memalukan. Akan lebih baik kalau sinemart dalam memproduksinya menambahkan tulisan “diadaptasi / diinspirasi dari ”1 litre of Tears” bukannya malah menulis “kisah fiktif”.

Dalam website resmi Istitut Teknologi Sepuluh November ditulis sebuah artikel berjudul Nayla, Potret Parahnya Budaya Pertelevisian Kita” yang sebagian kalimatnya berbunyi :

Tayangan yang patut membuat dunia pertelevisian Indonesia malu ini adalah Buku Harian Nayla.... Sungguh tidak berperi kemanusiaan, membajak cerita hidup orang lain yang berjuang menghadapi penyakit yang sulit disembuhkan. Bahkan hingga dialog dan adegan per adegan sama dengan versi aslinya di Jepang sana. Yang paling menyedihkan pihak Production House (PH) Buku Harian Nayla dengan entengnya memasang disclaimer bahwa cerita ini hanya fiksi, padahal kejadian ini benar-benar adalah kejadian nyata yang terjadi di Jepang....Pembajakan ini benar-benar tidak menghargai penderitaan seorang Aya Kitou, tidak menghargai kerja keras kru ”One Litre of Tears”, dan melukai perasaan ribuan penggemar drama televisi dan drama Jepang di Indonesia....Kabar tentang pembajakan ini juga sudah sampai ke tingkat internasional, hingga sampai masuk ke Wikipedia, ensiklopedi berbahasa Inggris terbesar di internet”.

Demikianlah sebagian dari kritik-kritik pedas atas sinetron BHN yang memang nyata-nyata menjiplak drama Jepang IRnN.

Satu di antara puluhan

Memang apa yang dilakukan oleh BHN tersebut patutlah disesalkan. Ini juga merupakan sebuah ironi karena untuk meyemarakkan Natal yang merupakan hari raya yang disucikan umat Kristen, pihak televisi menayangkan acara yang membajak karya orang lain, dan menyebut kisah kehidupan penuh perjuangan Aya Kitou hingga akhir hayatnya sebagai ‘hanya fiksi belaka’. Meskipun demikian kita juga harus menyadari bahwa apa yang dilakukan BHN hanyalah salah satu contoh dari budaya plagiarisme yang bertumbuh subur di Indonesia, secara khusus dalam bidang pertelevisian/perfilman kita. Dalam perkembangan terakhir ini saja dapat didata puluhan sinetron kita yang adalah hasil jiplakan dari drama-drama luar negeri. Yang membedakan mereka hanyalah hal itu diinformasikan atau tidak. Beberapa di antaranya adalah :

Sinetron ”Siapa Takut Jatuh Cinta” yang sebenarnya jiplakan dari “Meteor Garden”, sebuah drama Taiwan.

”Benci Bilang Cinta” diambil dari drama Korea ”Goong / Princess Hours”.

”Benci Jadi Cinta” dari drama Korea ”My Girl”, ”Impian Cinderella” dari drama Taiwan

”Prince Who Turns Into Frogs”, ”Cowok Impian” dari drama Taiwan

”It Started With A Kiss”, ”Putri Kembar” adalah 100% jiplakan dari drama Taiwan ”Twins”.

”Dua Hati Satu Cinta” diambil juga dari drama Taiwam ”Qin Shen Shen Yu Meng Meng”.

”Sumpeh Gue Sayang Loe” dari ”Smile Pasta” (drama Taiwan)

”Kau Masih Kekasihku” dari ”At The Dolphin Bay (drama Taiwan)

”Pangeran Penggoda” dari ”Devil Beside You” (drama Taiwan)

”Rahasia Pelangi” dari ”Love Apart A Moment” (drama Taiwan)

”2 Hati” dari ”Snow Angel” (drama Taiwan)

”Bukan Diriku dari ”Anything For You”, (drama Jepang)

”Pengantin Remaja” dari ”My Little Bride” (drama Koera)

”Bintang” dari ”HZGG” (drama Taiwan)

”Pacarku Besar Sekali” dari ”My Name is Kim Sam Soon” (drama Korea)

”Cincin” dari ”Beautiful Days” (drama Korea)

”Liontin” dari ”Glass Shoes (drama Korea)

”Wulan” dari ”Term of Endearment”

”Hari Potret” dari ”Harry Potter”

dan masih kira-kira 10 sinetron lainnya yang adalah adaptasi dan jiplakan drama-drama luar negeri. (Silahkan lihat di : http://aspal.blogdrive.com/archive/59.html). Dari sini kita melihat bahwa BHN adalah salah satu saja dari sekian banyak sinetron yang yang menjiplak drama-drama luar negeri tetapi mengapa semuanya itu tidak terlalu diributkan? Mengapa justru semua pada ribut luar biasa ketika BHN melakukan hal yang sama? Apakah karena BHN menjiplak sebuah drama yang diangkat dari kisah nyata? Ataukah juga ada alasan lain karena ternyata BHN bernuansa religius Kristiani? Mungkinkah ada pihak-pihak tertentu yang merasa kebakaran jenggot karena ada sinetron yang dengan blak-blakan mengungkapkan iman Kristiani? Apa yang saya katakan dan paparkan ini tidak untuk membuat BHN kelihatan benar atau menyamarkan kesalahan BHN. Bagaimana pun juga perbuatan menjiplak tanpa menginformasikan sumbernya dan juga mengatakan bahwa sebuah kisah nyata hanyalah sebuah fiktif belaka sebagaimana yang dilakukan BHN adalah kesalahan yang tidak bisa ditolerir. Meskipun demikian kejujuran motivasi kita dalam memberikan komentar dan penilaian perlu dipikirkan kembali. Jika yang dikutuk semata-mata karena ’dosa’ plagiarisme itu sendiri, mengapa itu tidak pernah dilakukan secara serius terhadap puluhan sinetron lainnya seperti yang saya ungkap di atas? Mengapa justru ’keributan besar’ baru terjadi saat ditayangkannya BHN? Sekali lagi, mungkinkah ada pihak-pihak yang kehilangan ’sejahteranya’ karena BHN mengangkat nilai-nilai iman Kristiani ke permukaan? Mungkinkah ada pihak-pihak yang menjadi marah karena anak-anak non Kristen mereka begitu menghafal, menggemari, dan sering bernyanyi : ”Bukan dengan barang fana, Kau membayar dosaku, dengan darah yang mahal tiada noda dan cela. Bukan dengan emas perak, Kau menebus diriku, oleh segenap kasih dan pengorbanan-Mu. Kutelah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama, semuanya sia-sia dan tak berarti lagi, hidup ini kuletakkan pada mezbah-Mu ya Tuhan, jadilah padaku seperti yang Kau ingini” sebagaimana yang diceritakan seorang teman di Surabaya pada saya? Ya, mungkin saja! Kejujuran kita dalam menilailah yang menentukan semuanya.


BUKU HARIAN NAYLA (Part 3)

Esra Alfred Soru

Dalam bagian pertama dan kedua dari seri tulisan ini sudah saya paparkan tanggapan-tanggapan atau reaksi terhadap sinetron ”Buku Harian Nayla” (BHN), baik yang bersifat positif maupun yang bernada kritikan terutama karena praktek plagiarisme BHN dari drama Jepang ”Ichi Rittoru no Namida” (IRnN) atau ”One Liter of Tears”. Satu hal yang perlu diketahui juga bahwa sebagian orang, meskipun mengetahui bahwa BHN adalah jiplakan dari IRnN namun itu tidak mengurangi minat mereka untuk menonton dan mengikuti setiap detail cerita dalam BHN. Perhatikan beberapa komentar di bawah ini yang ditulis secara terbuka di internet :

”Aku ngak pernah nonton tuh ”A Litre of Tears” jadi ngak pernah tahu. Tapi aku ngak peduli mau dijadikan replika atau ngak. Yang penting aku exciting nontonnya, memahami ceritanya sampai kayak aku saja yang terserang penyakit itu. Sampai nangis pula. Kayaknya di setiap sad even aku nangis dech. Apa aku yang lemah atau filmnya memang sedih. ..”,

”Buku Harian Nayla…aku tidak peduli kalau itu jiplakan or bukan. Intinya aku suka hikmah dan pesan yang ada di dalamnya...”

”Wah..wah...kasian juga BHN dicela melulu. Memangnya segitu ‘najis’??? Kalau mau marah, jangan marah sama pemerannya donk. Menurutku aktingnya bagus semua kok apalagi Chelsea (Nayla). Malah lebih bagus dari Sawajiri Erika (Aya). Kita lihat positifnya saja dari sinetron ini, walaupun menjiplak, tetap saja banyak orang yang bisa berubah, banyak yang bisa kita ambil dari sinetron ini. Kita mau mencaci maki juga gak ada gunanya kan?”

Kita doakan saja semoga sinetron Indonesia gak menjiplak lagi”, ”Yach…aku gak peduli nich film BHN mau ditiru dari Jepang kek, dari Inggris kek, yang pasti nich film bisa membuat kita sadar kalau kita tuh harus tetap semangat dan bersikap optimis. Yang pasti nih film bisa berguna bagi kita-kita...”.

Demikianlah beberapa komentar yang diberikan. Menurut saya kita tidak boleh tidak peduli kalau sinetron BHN adalah sebuah jiplakan namun demikian kita juga harus dapat menarik pelajaran dari sinetron BHN (atau IRnN) tersebut terutama pelajaran rohani bagi umat Kristen karena jalan ceritanya atau kisah hidup Aya Kitou di Jepang penting untuk di jadikan teladan hidup. (Catatan : Dalam cerita aslinya IRnN sama sekali tidak bernuansa Kristiani. Nuansa Kristiani ditambahkan oleh BHN dalam rangka menyambut Natal). Apa artinya kita menghabiskan banyak waktu, tenaga dan banyak mencucurkan air mata ketika menonton sinetron BHN tanpa dapat menarik hikmah di balik itu? Jelas isi cerita BHN (kalau tidak mau disebut IRnN) jauh lebih bermutu daripada sinetron/film lainya yang banyak ditayangkan oleh televisi kita seperti ”Wiro Sableng”, ”Jaka Tarub”, ”Jaka Tingkir”, ”Misteri Gunung Merapi” (Mak Lampir) apalagi film-film lepas di Indosiar yang ceritanya melulu setan-setan (heran, ’setan’ pun sekarang main film), dukun-dukun, manusia setengah binatang (buaya, ular, kalajengking, babi hutan, macan, dll), mayat bangkit dari kuburan, pak Kyai tangkap setan, peri dari khayangan, orang bisa terbang, dan cerita-cerita aneh lainnya. Meskipun ceritanya bermutu rendah seperti itu toh Ustad Jeffry Albuqori sering tampil dan memberikan hikmat di balik cerita-cerita itu. Jika demikian (lepas dari praktek plagiarismenya) mengapa kita tidak menarik hikmah di balik sinetron BHN? Karena itu di bagian terakhir tulisan ini saya akan mengangkat beberapa pelajaran rohani yang penting dari BHN sebagaimana yang saya yakini bahwa jalan cerita BHN sarat dengan nilai-nilai Kristiani.

Pelajaran tentang cinta

Pelajaran pertama yang dapat kita petik dari BHN (IRnN) adalah tentang cinta sejati. Pelajaran ini secara khusus terlihat dari apa yang dilakukan Moses di mana Moses, karena cintanya pada Nayla rela melakukan hal-hal yang tidak mau dilakukan oleh orang lain. Perhatiannya pada Nayla, kehadirannya di saat-saat mana Nayla sangat membutuhkannya dan juga kesediaannya untuk menikahi Nayla meski dia tahu bahwa hidup Nayla tidak akan panjang lagi dan dengan demikian ia dalam usia yang sangat muda akan menjadi seorang duda. Jika dipikir secara rasional, keuntungan apa sih yang dapat diperoleh Moses dalam hubungannya dengan Nayla? Tidak ada! Justru sebaliknya ia mendapatkan sejumlah kesulitan. Namun di sinilah kita dapat melihat makna cinta yang sesungguhnya. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang kita peroleh melainkan apa yang kita berikan. Cinta sejati tidak berpikir ”apa yang saya dapatkan” melainkan ”apa yang dapat saya berikan”. Yang dipikirkan oleh cinta sejati hanyalah ”MEMBERI” bukan ”MENDAPAT”. Andaikata cinta harus didefinisikan dengan satu kata saja maka kata itu adalah ”MEMBERI”. Demikian juga kesaksian Alkitab bahwa karena cinta-Nya akan dunia ini maka Allah MEMBERIKAN Yesus bagi dunia ini sebagaimana kata Yoh 3:16 : ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Jadi Allah mencintai dunia ini dan karena itu Ia melakukan sebuah pemberian. Itulah cinta sejati.

William Barclay pernah menceritakan sebuah kisah menarik tentang sepasang suami isteri, Jim dan Della. Ketika hari Natal tiba masing-masing dari antara mereka sibuk memikirkan apa yang dapat mereka berikan kepada pasangannya masing-masing. Della memiliki rambut yang sangat panjang dan indah dan karena itu secara diam-diam Jim berpikir untuk memberikan sebuah sisir perak yang cantik untuk menghiasi rambut panjang sang isteri. Sayangnya ia tidak punya cukup uang. Ia mempunyai sebuah jam tangannya yang terbuat dari emas yang sudah tidak memiliki ’talinya’. Ia berpikir daripada ia tidak bisa mengenakan jam emas itu pada tangannya karena tidak memiliki ’tali’nya sebaiknya itu dijual. Ia akhirnya menjual jam tangan emasnya dan uangnya dibelikan sisir perak untuk rambut sang isteri. Sementara itu Della pun sibuk memikirkan apa yang harus ia berikan pada sang suami? Ia teringat bahwa Jim mempunyai sebuah jam tangan dari emas tapi ’tali’nya sudah tidak ada. Della memutuskan untuk membelikan ’tali’ emas buat jam tangan suaminya. Namun ia juga tidak mempunyai cukup uang. Ia akhirnya pergi salon kecantikan dan menjual rambut panjangnya (dipotong) dan dari uang itu dibelilah ’tali’ emas buat jam tangan Jim. Sepanjang hari Natal itu mereka tidak bertemu hingga malamnya, masing-masing mempersiapkan hadiahnya dan ketika bertemu mereka terpaku. Sisir perak untuk rambut panjang Della tidak lagi berguna karena rambut Della telah dipotong dan ’tali’ emas untuk jam tangan Jim juga tidak berguna karena ’kepala’ jam itu telah dijual demi membeli sisir perak. Demikianlah cerita William Barclay. Ya, benar bahwa pemberian mereka tidak lagi berguna tetapi mereka telah menunjukkan makna cinta yang sebenarnya bahwa cinta sejati selalu berpikir untuk memberikan yang terbaik bagi yang dicintai meskipun harus mengorbankan banyak hal.

Moses juga dengan tulus mencintai Nayla MESKIPUN Nayla sakit parah dan akan meninggal. Ini juga pelajaran penting tentang cinta sejati. Cinta sejati hanya mengenal kata ”MESKIPUN” dan bukan ”JIKA”. Cinta sejati tidak pernah berkata ”Aku mencintaimu JIKA kamu.....”. Cinta sejati justru akan berkata ”Aku mencintaimu MESKIPUN kamu....” Aku mencintai kamu MESKIPUN kamu miskin. Aku mencintai kamu MESKIPUN kamu sakit. Aku mencintai kamu MESKIPUN kamu bodoh. Aku mencintai kamu MESKIPUN kamu jahat. Aku mencintai kamu meskipun kamu menjengkelkan. Aku mencintai kami MESKIPUN kamu begini dan begitu. Itulah cinta yang sejati. Richard Neighbur pernah berkata ”Aku mencintai kamu bukan karena kamu begini atau begitu tetapi karena kamu ada di sini”.

Pelajaran tentang doa

Ketika mengetahui bahwa Nayla menderita sakit yang parah maka ada begitu banyak doa/permohonan yang dinaikkan kepada Tuhan demi kesembuhannya, terutama doa kedua orang tua Nayla. Namun apakah yang terjadi? Nayla bukannya sembuh tetapi justru meninggal dunia. Doa mereka untuk kesembuhan ternyata tidak dikabulkan oleh Tuhan. Bukankah apa yang dialami Nayla dan orang-orang di sekitarnya juga sering dialami dalam hidup kita? Bukankah kita sering mengalami yang sebaliknya daripada yang kita doakan? Di manakah Tuhan saat doa-doa yang sungguh dinaikkan kepada-Nya? Di manakah Tuhan saat anak-anak-Nya berseru minta tolong? Tidakkah Ia mendengar jeritan anak-anak-Nya? Tidakkah Ia peduli dengar deraian air mata orang-orang yang dikasihi-Nya? Apakah Ia sudah tidak peduli lagi? Ataukah Ia tidak mampu menyembuhkan? Ataukah Ia sudah kehilangan kuasa-Nya?

Tidak! Allah bukannnya tidak peduli. Ia juga bukan telah kehilangan kuasa-Nya. Tetapi Ia tahu mana yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Ini juga mengajarkan pada kita bahwa Allah bukanlah ’budak’ kita yang dapat kita perintah seenaknya dan harus menuruti segala yang kita mau. Ia adalah Allah yang berdaulat yang berhak penuh untuk mengabulkan permohonan kita ataupun tidak. Bahwa Ia tidak mengabulkan permohonan kita tidak selamanya karena kita kurang beriman tetapi semata-mata karena Ia tidak mau. Bandingkanlah apa yang dialami oleh rasul Paulus : ”... maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri. Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Kor 12:7-9). Mengapa doa Paulus tidak dikabulkan? Apakah Paulus kurang beriman? Tidak! Doa Paulus tidak dikabulkan bukan karena ia kurang beriman melainkan karena Allah mempunyai rencana yang lain dan bahwa Ia-lah yang berdaulat untuk mengabulkan permohonan Paulus atau tidak.

Jika demikian, satu hal yang perlu kita pahami bahwa doa bukanlah menyuruh/memaksa Allah mengikuti kehendak kita melainkan menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak-Nya. Doa bukanlah meminta Allah mengikuti kemauan kita tetapi meminta kekuatan dari-Nya untuk dapat mengikuti kemauan-Nya. Doa tidak semata-mata meminta Ia mengangkat salib dari pundak kita tetapi meminta Ia memberikan kita pundak yang kuat untuk memikul salib kita. Yesus menjadi teladan dalam hal ini ketika di taman Getsemani sebagaimana kesaksian Matius : ”Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." (Mat 26:39). Ya, doa yang benar, iman yang benar adalah doa dan iman yang bersandar pada kehendak Tuhan. Apa pun yang mau Ia buat terhadap kita, semuanya jadi sesuai kehendak-Nya sebagaimana yang dilantunkan Nikita dalam BHN : ”Jadilah padaku seperti yang Kau ingini”.

Pelajaran tentang mujizat

Pada saat menonton salah satu episode BHN ketika Nayla diketahui menderita sakit ataxia, beberapa orang mengatakan bahwa akan terjadi mujizat di mana Nayla akan disembuhkan secara ajaib oleh Tuhan. Saat itu saya belum menyadari bahwa BHN adalah jiplakan dari IRnN namun saya berkata alangkah indahnya sinetron ini jika berakhir dengan kematian Nayla. Demikian juga saat menonton episode terakhir banyak teman harap-harap cemas agar terjadi mujizat dan Nayla sembuh tapi saya dengan yakin mengatakan bahwa Nayla akan mati. Dan benar sekali, BHN berakhir dengan kematian Nayla. Seorang teman yang menonton bersama saya berkata : ”Sayang sekali Nayla tidak sembuh. Andaikata Nayla sembuh maka itu menjadi kesaksian bagi banyak orang bahwa Tuhannya orang Kristen itu hidup”. Lalu saya berkomentar : ”Jadi kalau Nayla tidak sembuh maka Tuhannya orang Kristen mati? Dari sini nampak bahwa masih ada orang dan saya kira ada banyak orang yang tidak memahami Allah dengan benar. Mereka berpikir bahwa Allah itu baru ’hidup’ kalau Ia melakukan mujizat dan Ia akan menjadi Allah yang ’mati’ kalau Ia tidak melakukan mujizat. Komentar saya lanjutan adalah ”Andaikata Nayla sembuh (tidak jadi mati) maka itu memang mujizat tetapi adalah mujizat yang lebih besar daripada sekedar kesembuhan fisik jika Nayla mati dalam iman, dalam pengharapan, tanpa ketakutan dan dengan keyakinan bahwa Allah sangat mengasihi dia”. Ya! Bagi saya itulah mujizat yang lebih besar daripada sekedar kesembuhan dari penyakit. Tapi tidakkah banyak orang akan menjadi percaya dan dikuatkan imannya jika Nayla sembuh? Mungkin saja tetapi Alkitab juga menyaksikan bahwa iman yang sejati tidak lahir dari melihat/mengalami mujizat. Tidak ada bangsa di dunia ini yang lebih banyak melihat mujizat seperti bangsa Israel tetapi Alkitab mencatat bahwa bangsa Israel juga adalah bangsa yang tegar tengkuk dan melawan Tuhan. Demikian juga dalam cerita orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31). Ketika orang kaya itu meminta Abraham untuk mengirimkan Lazarus kepada saudara-saudaranya yang masih hidup dengan keyakinan bahwa mereka akan percaya/beriman kalau ada orang mati yang bangkit, Abraham justru menolaknya dan berkata : ”Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." (ay.31). Dengan kata lain Abraham mau berkata bahwa mujizat terbesar sekalipun (kebangkitan orang mati) tidak akan melahirkan iman yang sejati. Justru sebaliknya kita melihat iman sejati dapat tumbuh ketika tidak ada mujizat. Trio Ibrani (Zadrak, Mesak dan Abednego) ketika hendak dimasukkan ke dalam dapur api berkata : ”Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Dan 3:17-18). Menarik, mereka berani menyatakan iman kesetiaan mereka pada Allah Yahweh sekalipun Yahweh tidak menyelamatkan mereka (tidak terjadi mujizat). Di atas salib golgota seorang penjahat menjadi percaya pada Yesus dan jaminan Yesus ”Hari ini engkau bersama-sama dengan Aku di taman Firdaus” membuat dialah orang pertama yang dibasuh dengan darah Yesus. Ia percaya pada Yesus. Tetapi mujizat apakah yang ia lihat? Sama sekali tidak ada mujizat. Yang ia lihat hanyalah Kristus yang tergantung, yang ditinggalkan oleh Allah dan manusia. Kembali ke BHN, justru kita melihat bahwa setelah Nayla mati justru ada kesaksian dari orang-orang yang telah membaca buku harian Nayla. Mereka dikuatkan, dihibur, diberi semangat baru dalam menghadapi hidup ini. Bukankah ini juga sebuah mujizat? Munculnya hidup yang baru, hati yang remuk disembuhkan, kecewa dan putus asa menjadi sirna, munculnya harapan baru, hadirnya semangat hidup adalah mujizat yang jauh lebih besar dari melihatnya seorang buta, berjalannya seorang lumpuh, mendengarnya seorang tuli, bicaranya seorang bisu bahkan bangkitnya seorang mati.

Pelajaran tentang hidup

Pelajaran terakhir yang dapat kita terima dari kisah BHN adalah pelajaran tentang hidup. BHN memberitakan kepada kita bahwa makna hidup yang sesungguhnya tidak terletak pada BERAPA LAMA KITA HIDUP tetapi APA YANG KITA BUAT DALAM HIDUP. Usia Nayla dalam hidup ini begitu singkat, begitu pendek Jika mengacu pada kisah aslinya maka Aya Kitou pun tidak diijinjkan oleh Sang Pencipta hidup ini untuk menatap mentari lebih lama. Ia tidak diijinkan untuk dapat lagi melihat gemerlapnya bintang langit dan merdunya kicauan burung di pagi hari. Ia tidak diijinkan untuk dapat lagi tersenyum pada orang-orang yang dicintainya. Ia hanya diijinkan untuk menarik nafas selama 25 tahun itu pun ia lakukan dalam penderitaan selama 10 tahun terakhirnya. Meskipun demikian Aya Kitou (IRnN) atau Nayla (BHN) telah melakukan sesuatu yang sangat berharga bagi orang-orang yang ia tingglkan. Buku hariannya. Buku harian yang telah memberi inspirasi bagi banyak orang, buku harian yang telah membangkitkan semangat hidup, optimisme dan jiwa besar, buku harian yang membuka mata untuk melihat hidup dengan cara yang berbeda. Buku harian yang mengajarkan bahwa hidup ini lebih dari sekedar tarikan-tarikan nafas.

Ya, makna hidup yang sesungguhnya tidak terletak pada berapa lama kita hidup melainkian pada apa yang kita buat dalam hidup ini. Untuk apa bangga dengan umur 100 tahun jika yang bisa kita hadirkan dalam dunia ini hanyalah kekacauan, kehancuran dan keonaran? Untuk apa bangga dengan umur 100 tahun jika kita tidak pernah menghasilkan nilai-nilai hidup yang dapat diwariskan pada generasi selanjutnya. Hidup Nayla begitu singkat tapi ia telah memberikan nilai-nilai yang sangat berharga bagi orang-orang di sekitarnya bahkan orang-orang yang tidak pernah ia kenali. Firman Tuhan menasihati kita : ”Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus” (Efs 5:15-21). Nayla (atau lebih tepatnya Aya Kitou) sudah kembali kepada penciptanya namun keteguhannya, kegigihannya, semangat hidupnya, tetap hidup dalam sanubari setiap orang yang pernah mengenalnya. Terima kasih Nayla, terima kasih Aya Kitou.