Tampilkan postingan dengan label Pembahasan 7 Jemaat di Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembahasan 7 Jemaat di Asia. Tampilkan semua postingan

19 Agustus 2013

LAODIKIA : JEMAAT YANG SUAM-SUAM KUKU (Part 4)

By Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.



Wah 3:14-22 – (14) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (16) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. (17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, (18) maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. (19) Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (20) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (21) Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. (22) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

K
ita sudah membahas 6 hal tentang jemaat Laodikia ini yakni kota dan jemaat Laodikia, gelar Kristus sang pemberi Surat, kondisi rohani jemaat Laodikia, respon Tuhan terhadap kondisi “suam-suam kuku”, penyebab dan akibat dari kondisi kesuaman rohani, bagaimana caranya menjadi panas secara rohani. Sekarang kita akan membahas point terakhir dari jemaat Laodikia ini yakni janji Tuhan kepada jemaat Laodikia.

VI.      JANJI TUHAN BAGI JEMAAT LAODIKIA.

Setelah Tuhan mengadakan penilaian terhadap jemaat Laodikia, mengecamnya, me-nunjukkan respon-Nya dan memberikan solusi terhadap kondisi mereka, Ia menutup surat-Nya kepada jemaat ini dengan memberikan janji bagi mereka.

Kalau kita perhatikan teks kita maka janji Tuhan kepada jemaat Laodikia ini terbagi menjadi 2 bagian :

a.      Janji Tuhan berkenaan dengan kehidupan di masa kini.

Pada bagian sebelumnya sudah saya jelaskan bahwa salah satu cara menjadi panas secara rohani adalah orang harus percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kondisi suam-suam kuku bisa diakibatkan oleh keadaan di mana orang hanya menjadi Kristen KTP saja tanpa pernah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Ini dibuktikan dengan Tuhan berada di luar mereka :

Wah 3:20 - Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, …”

Jadi orang-orang ini ada di dalam gereja tetapi Kristus tidak ada di dalam mereka / mereka ada di luar Kristus. Karena itulah mereka harus percaya dan menerima Dia di dalam hati / hidup mereka sebagai Tuhan dan Juruselamat. Nah, kalau orang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, ada janji Yesus bagi mereka :

Wah 3:20 - Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.

Dari ayat ini terlihat bahwa janji Tuhan kepada mereka yang menerima Dia adalah Ia akan masuk mendapatkan mereka dan makan bersama-sama dengan mereka. Tapi sebelum saya bahas janji ini, ada baiknya kita pelajari ayat ini lebih dalam dan saya akan bahas bagian ini frase demi frase :

·        Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok….

Kata-kata ini menunjukkan bahwa keselamatan sebenarnya adalah inisiatif Allah sendiri. Perhatikan bahwa di sini bukan digambarkan manusia yang berdiri di depan pintu Tuhan dan mengetuk, tetapi Tuhanlah yang berdiri di depan pintu manusia dan mengetuk.

Albert Barnes - Ungkapan ini membuktikan bahwa usaha perdamaian dimulai dengan Sang Juruselamat. Bukan orang berdosa yang keluar untuk menemui Dia atau mencari Dia, tetapi adalah Sang Juruselamat yang menunjukkan diri-Nya sendiri pada pintu hati, seakan-akan Ia ingin menikmati persahabatan manusia.... Keselamatan, dalam Kitab Suci, tidak pernah digambarkan dimulai oleh manusia.

Kata-kata Albert Barnes di atas : “Keselamatan, dalam Kitab Suci, tidak pernah digambarkan dimulai oleh manusia” tepat sekali. Dalam Kej 3, pada waktu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka mereka tidak mencari Allah (Kej 3:6-7). Sebaliknya pada waktu mereka mendengar kedatangan Allah, maka mereka justru bersembunyi (Kej 3:8). Allahlah yang mencari mereka dengan memanggil : “Di manakah engkau?” (Kej 3:9). Ini tentu tidak berarti bahwa Allah tidak tahu di mana mereka berada. Allah hanya mau mereka datang kepadaNya dan mengaku dosa. Tetapi bagaimanapun juga di sini kita melihat suatu prinsip yang sudah ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa untuk pertama kalinya, yaitu Allahlah yang mencari manusia dan bukan sebaliknya! Juga dalam Luk 19:10, Yesus berkata :

Luk 19:10 - Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Istilah ‘Anak Manusia’ menunjuk kepada Yesus, yang juga adalah Allah sendiri. Jadi ayat ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pada waktu manusia itu terhilang dalam dosa, Allah mencari manusia untuk menyelamatkannya. Dalam Roma 3:11 juga dikatakan bahwa :

Roma 3:11 - Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah.

Semua ini membuktikan bahwa memang bukan manusia yang mencari Allah tetapi Allahlah yang mencari manusia.

William Barclay - Kita melihat permohonan Kristus. Ia berdiri di ambang pintu hati manusia dan mengetuk. Fakta baru yang unik yang dibawa kekristenan ke dalam dunia ialah bahwa Allah adalah pencari manusia. Tidak ada agama lain yang mempunyai visi mengenai Allah yang mencari manusia. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 218-219).

Kata-kata Barclay ini juga benar sekali. Kekristenan adalah satu-satunya agama yang mengajarkan bahwa bukan manusia yang mencari Allah tetapi Allahlah yang mencari manusia. Ini salah satu perbedaan kekristenan dengan semua agama di seluruh dunia.

Thomas Arnold - Perbedaan antara kekristenan dan semua sistem agama lain sebagian besar terletak di sini, yaitu bahwa dalam agama-agama lain, manusia didapati mencari Allah, sedangkan Kekristenan adalah Allah mencari manusia. (‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal. 95).

Ya! Semua agama mengajarkan bahwa manusia harus mencari Allah. Dan sebetulnya ini tidak masuk akal. Jikalau dikatakan bahwa manusia mencari Allah, itu seolah-olah menunjukkan bahwa Allahlah yang hilang dan karenanya manusia berusaha menemukan Dia. Tetapi faktanya adalah manusialah yang terhilang dan Allahlah yang mencarinya. Juga kalau manusia mencari Allah, bagaimana ia bisa mene-mukannya? Mustahil! Tetapi kalau Allah yang mencari manusia, mustahil Ia tidak menemukannya.




12 Agustus 2013

LAODIKIA : JEMAAT YANG SUAM-SUAM KUKU (Part 3)


By. Pdt.. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.





Wah 3:14-22 – (14) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (16) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. (17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, (18) maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. (19) Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (20) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (21) Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. (22) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."
 
P
ada bagian pertama dan kedua pembahasan tentang jemaat Laodikia ini, saya sudah membahas sejumlah hal. Sekarang saya akan melanjutkan pembahasan tentang jemaat Laodikia dengan beberapa hal lagi :

VI.  BAGAIMANA CARANYA MENJADI PANAS SECARA ROHANI?

Kita sudah melihat bahwa yang menjadi masalah utama bagi jemaat Laodikia adalah mereka mengalami kesuaman secara rohani / suam-suam kuku. Kondisi semacam ini membuat Tuhan begitu muak terhadap mereka. Dikatakan bahwa Tuhan akan memuntahkan mereka dari mulut-Nya. Juga Tuhan lebih suka mereka dingin (kafir total) atau panas (bersemangat / serius dengan Tuhan) daripada mereka suam-suam kuku. Dan saya kira tidak ada orang yang ingin mendapatkan respon / reaksi dari Tuhan seperti ini. Hanya saja harus diakui bahwa ada begitu banyak orang Kristen atau bahkan boleh dikatakan mayoritas orang Kristen adalah orang Kristen yang suam-suam kuku. Jika demikian, apakah yang harus dilakukan untuk bisa keluar dari kondisi suam-suam kuku ini? Teks kita memperlihatkan beberapa hal :

a.  Kita harus sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Wah 3:18 - maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

Setelah Tuhan mengecam kondisi rohani dari jemaat Laodikia yang suam-suam ini, Ia lalu memberikan nasihat pada mereka agar mereka membeli dari pada-Nya emas, pakaian putih dan minyak untuk melumas mata mereka. Kelihatannya tekanan utama dari ayat ini adalah pada kata “membeli”. Dan “membeli” di sini dinyatakan “dari pada-Ku”. Artinya mereka harus membeli dari Tuhan.

Wah 3:18 - maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku….”

Kata “dari pada-Ku” juga ditekankan di sini. Mengapa? Karena kita tahu bahwa orang Laodikia merasa begitu hebat, begitu kaya, begitu makmur, begitu kuat, sehingga mereka tidak merasa membutuhkan apa-apa atau siapa-siapa di luar mereka. Ingat apa yang saya ceritakan di bagian I bahwa ketika kota mereka dihancurkan gempa bumi, mereka bahkan menolak bantuan apapun dari pihak luar. Mereka merasa mampu untuk membangun kota mereka sendiri. Ini menunjukkan bahwa mereka merasa tidak membutuhkan apa-apa atau siapa-siapa di luar diri mereka. Tapi justru di sini Tuhan menyuruh mereka membeli “dari pada-Ku” (dari Tuhan). Jadi mereka harus sadar bahwa sekalipun mereka anggap diri mereka kaya, hebat, tinggi, makmur, tetapi mereka ternyata miskin, melarat, buta dan telanjang di hadapan Tuhan dan karenanya mereka membutuhkan Tuhan.

John Stott - Kita harus melihat penekanan yang diberikan pada kata-kata ‘dari padaKu’. Di atas segala-galanya inilah yang harus dipelajari oleh jemaat Laodikia. Mereka menganggap diri mereka sendiri cukup; mereka harus dengan rendah hati mendapatkan kecukupan mereka dalam Kristus. Mereka berkata: Aku tidak membutuhkan / kekurangan apa-apa’; mereka harus mengakui bahwa mereka mempunyai kebutuhan yang besar dan bahwa hanya Kristus yang bisa memberikannya / menyuplainya. Mereka berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku, dan aku tidak membutuhkan / kekurangan apa-apa’. Yesus Kristus harus merendahkan kata ganti orang yang sombong (maksudnya kata ‘aku’ dalam ay 17a) dan meletakkannya di tanah dan berkata: dari pada-Ku….”.  (What Christ Think of the Church, hal.121-122).

Jakob P.D.Groen - “supaya engkau membeli dari pada-Ku”. Yesus menunjukkan diri sebagai satu-satunya sumber kekayaan. Hendaklah jemaat Laodikia mencari pertolongan dari Kristus. Alangkah baiknya jika mereka merendahkan diri dan membiarkan diri mereka dinasihati dan dipimpin oleh Kristus. (Aku Datang Segera, hal. 70).

Jadi mereka disuruh membeli dari Tuhan. Membeli apa? Emas, pakaian putih dan minyak untuk mata mereka. Ingat bahwa 3 hal ini diangkat dari apa yang menjadi kekayaan dan kebanggaan Laodikia. Mereka adalah kota yang kaya dengan emas yang banyak, tetapi mereka disuruh membeli emas dari Tuhan. Mereka mempunyai pabrik-pabrik pakaian, tetapi mereka disuruh membeli pakaian dari Tuhan. Mereka menjadi pusat kedokteran secara khusus memproduksi salep mata, tetapi mereka disuruh membeli minyak untuk melumas mata mereka dari Tuhan.

Jikalau sekarang Tuhan menyuruh mereka membeli 3 hal ini, tentu ini tidak boleh dipahami secara hurufiah. Ini mempunyai makna simbolik. Lalu simbol dari apa?

Selanjutnya.....

29 Juli 2013

LAODIKIA : JEMAAT YANG SUAM-SUAM KUKU (Part 2)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.




Wah 3:14-22 – (14) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (16) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. (17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, (18) maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. (19) Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (20) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (21) Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. (22) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."


Pada bagian pertama kita sudah membahas 2 hal yakni Kota dan Jemaat Laodikia dan Gelar Kristus Sang pemberi surat. Sekarang kita akan melanjutkan pembahasan tentang jemaat Laodikia ini :

III.     KONDISI ROHANI JEMAAT LAODIKIA.

Sebagaimana sudah saya jelaskan bahwa jemaat Laodikia ini adalah salah satu jemaat dari 2 jemaat yang hanya mendapat celaan dari Tuhan tanpa pujian sama sekali. Ini disebabkan karena Tuhan hanya menemukan keburukan di dalam jemaat ini. Ia tidak mendapati satu pun yang baik dari jemaat ini. Lalu apa sebenarnya keburukan mereka? Atau dengan kata lain bagaimana sebenarnya kondisi mereka sehingga Tuhan begitu mengecam mereka? Kondisi rohani jemaat Laodikia ini adalah mereka berada dalam kesuaman rohani.

Wah 3:15-16 – (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas…. (16) … engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, …”

Mereka “suam-suam kuku” karena mereka tidak dingin dan juga tidak panas. Sebagaimana sudah saya jelaskan pada bagian pertama bahwa gambaran ini diangkat Kristus dari apa yang ada di dalam kota Laodikia sendiri di mana di dalam kota ini mengalir suatu sungai yang airnya hangat / suam-suam kuku sebagai akibat pertemuan air panas dari Hierapolis dan air dingin dari Kolose. Jadi dengan kata lain Tuhan mau katakan bahwa sama seperti air Laodikia yang suam-suam, demikian juga kondisi rohani dari gereja Laodikia. Suam-suam kuku, tidak panas dan tidak dingin.

Lalu apa sebenarnya arti dari “suam-suam kuku” di sini? Karena “suam-suam kuku” adalah percampuran antara dingin dan panas, maka kita baru bisa mengerti artinya kalau kita tahu apa yang dimaksudkan dengan dingin dan apa yang dimaksudkan dengan panas. Herman Hoeksema menolak untuk menafsirkan bagian ini kata demi kata (dingin, panas, suam-suam kuku). Ia mengatakan bahwa bagian ini harus diartikan secara keseluruhan di mana artinya adalah Tuhan muak dengan keadaan mereka. Hanya itu saja! Tetapi mayoritas penafsir tidak beranggapan demikian. Mereka menganggap bahwa “dingin” berarti orang yang kafir secara total, tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan Tuhan sedangkan “panas” berarti orang Kristen yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan, bersemangat / berapi-api bagi Tuhan. Dasar dari penafsiran ini adalah bahwa kata Yunani yang digunakan untuk “dingin” dan “panas” di sini adalah kata yang menunjuk pada dingin dan panas secara ekstrim. Kata “dingin” di sini menggunakan kata Yunani “PSUCHROS” yang berarti dingin yang mendekati titik beku. Sedangkan kata “panas” menggunakan kata Yunani “ZESTOS” yang artinya panas pada titik didih. Bandingkan dengan Apolos yang dikatakan “bersemangat” yang dalam bahasa Yunaninya menggunakan kata “ZEO” yakni kata dasar yang sama dengan “ZESTOS” dalam Wah 3:15.

Kis 18:25 - Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat (Yun. ZEO) ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes.

Jadi Apolos adalah seorang yang benar-benar panas / mendidih (berapi-api) dalam berbicara. Bandingkan juga dengan nasihat Paulus bagi jemaat Roma.

Rom 12:11 - Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala (Yun. ZEO) dan layanilah Tuhan.

Jadi jemaat Roma harus panas / mendidih dalam roh mereka untuk melayani Tuhan.

John Stott – Kata-kata Yunani ini menarik perhatian, dan memberikan kepada kita suatu pengertian yang pasti. “Dingin” berarti sedingin es, dan “panas” berarti sepanas air mendidih. (Bagaimana Pandangan Kristus Akan Gereja?, hal. 130).

Dengan demikian dapat diartikan bahwa “dingin” menunjuk pada orang yang sama sekali kafir dan tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Tuhan (sedingin / sebeku es) dan “panas” berarti orang yang bersungguh-sungguh / bersemangat / berapi-api di dalam mengikuti dan melayani Tuhan.

Jikalau pengertian dari “dingin” dan “panas” seperti ini maka “suam-suam kuku” artinya suatu kondisi di antara kafir total dan kesungguhan bagi Tuhan. Orang yang suam-suam kuku bukanlah orang yang kafir total, yang tidak mengenal Tuhan sama sekali, yang tidak tahu beribadah, yang tidak tahu berdoa, dll. Tapi ia juga bukan juga orang yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, bukan orang yang bergairah untuk perkara rohani, bukan orang yang bersemangat di dalam melayani Tuhan. Orang ini tidak hitam legam tetapi juga tidak putih bersih. Orang ini abu-abu, setengah hitam setengah putih. Tidak panas, tidak dingin, suam-suam kuku. Seperti itulah kondisi rohani jemaat Laodikia.

Adam Clarke – Mereka bukannya orang kafir tetapi juga bukan Kristen, mereka bukan orang jahat dan juga bukan orang baik – mereka tidak disesatkan oleh ajaran palsu tetapi juga tidak sepenuhnya ketagihan terhadap apa yang benar. Singkatnya, mereka itu tidak bergairah dan acuh tak acuh, dan kelihatannya tak terlalu peduli apakah kekafiran atau kekristenan yang menang.

Jadi dari kata-kata Clarke ini, kalau saudara tidak sepenuhnya ketagihan terhadap apa yang benar / kebenaran, maka pada dasarnya saudara adalah orang yang suam-suam kuku seperti jemaat Laodikia. Perhatikan juga komentar-komentar berikut terkait dengan kondisi “suam-suam kuku” ini :

Agnes M. Layantara - Jemaat ini memang bukan orang kafir. Mereka percaya kepada Kristus, bahkan mereka rajin pergi ke gereja dan persekutuan. Jadi, mereka tidak dingin. Jika mereka tidak datang ke gereja, mereka merasa tidak enak hati. Mereka sangat melekat dan terikat pada gereja atau persekutuan. Tapi, mereka juga tidak panas. Artinya, roh mereka tidak bergelora. Tidak ada semangat melayani. (Wahyu Tuhan Yesus Bagi Gereja-Nya, hal. 98).

Budi Asali - Orang ‘dingin’ adalah orang yang menolak Kristus secara total. Ini menunjuk kepada orang yang di luar gereja secara total. Orang ‘panas’ adalah orang Kristen yang sungguh-sungguh / serius / bersemangat. Orang ‘suam-suam kuku’ adalah orang yang secara lahiriah adalah orang Kristen, ia pergi ke gereja, sudah dibaptis, membaca Kitab Suci / melakukan Saat Teduh, berdoa, dan bahkan melayani Tuhan. Tetapi semua itu dilakukan tanpa semangat / secara tidak sungguh-sungguh / asal-asalan.

Jadi singkatnya, orang yang suam-suam kuku itu adalah orang yang secara lahiriah ikut Tuhan, tetapi tidak ada keseriusan dalam hatinya. Pdt. Budi Asali memberikan contoh-contoh dari orang yang suam-suam kuku ini :

Budi Asali – Contoh tentang ketidaksungguhannya adalah : (1) Gampang sekali membolos dari kebaktian / Pemahaman Alkitab. Alasannya 1001 macam, seperti undangan kawin / HUT, repot, lembur, ada teman datang, harus keluar kota, hujan lebat, arisan, dsb. Tetapi alasan yang sebenarnya adalah dalam hatinya memang tidak terlalu niat! (2) Doa hanya 5 menit sehari atau bahkan kurang dari itu! Saat Teduhnya Senin Kamis / bogang-bogang. Juga banyak alasannya yang menyebabkan hal ini, seperti acara TV, pulang kemalaman dsb. (3) Dalam melakukan pelayanan ia tidak terlalu bertanggung jawab, sedikit-sedikit pelayanannya dioverkan ke orang lain / dibatalkan, dan kalaupun ia melakukan pelayanan itu, ia melakukannya asal-asalan, tidak dengan usaha terbaik / maksimal. Mungkin ada dari saudara yang berkata : ‘O, aku nggak pernah gitu’, soalnya nggak pernah pelayanan”. Itu tambah parah lagi! (4) Dalam pengudusan diri juga begitu. Baru godaan sedikit, sudah ndelosor / jatuh tersungkur!

Dari semua pengertian dan contoh-contoh yang diberikan ini, coba saudara renungkan, saudara termasuk yang mana? “Dingin” atau “panas” atau “suam-suam kuku?” Sudah pasti tidak ada yang “dingin” di sini karena kalau saudara “dingin”, saudara tidak ada di sini sekarang. Jadi tinggal 2 pilihan, saudara “panas” atau “suam-suam kuku?” Yang mana?

Kondisi “suam-suam kuku” ini juga bukan hanya menjadi problem orang-orang Kristen secara pribadi tetapi juga menjadi problem dari banyak gereja secara kolektif. Ada banyak gereja yang tidak “dingin” tetapi juga tidak “panas”. Gereja itu adalah gereja yang suam-suam. Mereka melakukan misi gereja tetapi tidak pernah melakukannya dengan sungguh-sungguh. Mereka bicara tentang Pemberitaan Injil tetapi tidak pernah serius di dalam memberitakan Injil. Mereka acuh tak acuh! Mereka berani mengeluarkan banyak uang untuk acara lain, tetapi untuk penginjilan dan pelayanan yang sungguh-sungguh sangat sukar.

William BarclayMasalah di dalam pemberitaan Injil masa kini bukanlah permusuhan terhadap kekristenan; malah akan lebih baik kalau ada permusuhan. Masalahnya justru terlalu banyak gereja dan aliran kekristenan yang tidak relevan dan orang menanggapi semua itu dengan sikap acuh tak acuh. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5. hal. 211).

Kiranya semua ini membuat kita menilai gereja-gereja yang ada termasuk gereja kita dan juga diri kita sendiri, apakah kita termasuk gereja / orang Kristen yang “suam-suam kuku”? Kalau saudara ternyata “suam-suam kuku”, saudara tidak bisa menipu Tuhan! Tuhan sendiri yang menilai saudara. Dia berkata:

Wah 3:15-16 – (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas…. (16) … engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, …”


15 Juli 2013

LAODIKIA : JEMAAT YANG SUAM-SUAM KUKU (Part 1)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.





Wah 3:14-22 – (14) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (16) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. (17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, (18) maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. (19) Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (20) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (21) Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. (22) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

D
alam serial khotbah kita tentang 7 jemaat, kita sudah selesai membahas 6 jemaat, dan sekarang kita akan membahas jemaat yang ketujuh (yang terakhir) yakni jemaat Laodikia. Mungkin kita perlu beberapa kali pembahasan untuk menyelesaikan Surat kepada jemaat Laodikia ini. Kita akan bahas jemaat Laodikia ini dalam beberapa point besar :

I.      KOTA DAN JEMAAT LAODIKIA.

Kota Laodikia terletak 60 km sebelah tenggara dari kota Filadelfia, berdekatan dengan Hierapolis dan Kolose. Kota ini sekarang sudah tidak ada lagi, dan hanya tinggal sebagai suatu wilayah kosong di Turkey yang bernama Denizli. Biarpun demikian kota purbakala ini masih bisa dikenali bentuknya dari puing-puing yang tertinggal.

Kota ini dibangun oleh raja Syiria bernama Antiochus II pada tahun 250 SM. Raja Antiochus II ini mempunyai isteri bernama Laodice dan karena itu kota yang dibangun itu diberikan nama Laodicea sesuai nama isterinya yang dalam bahasa Indonesia kita sebut Laodikia. Kota ini pertama kali didirikan dengan tujuan untuk menjadi kota benteng tetapi akhirnya diurungkan karena ada bahaya bagi kota ini yakni kota ini tidak mempunyai sumber air sendiri. Kebutuhan air didapatkan dari saluran air (aquaduc) besar maupun terowongan-terowongan air di bawah tanah yang dihubungkan dengan sumber-sumber air yang jauh berada di luar kota. Ini sangat berbahaya karena sewaktu perang karena musuh bisa saja memblokir aliran air ke dalam kota atau bahkan menebar racun ke dalam air dan membinasakan penduduk kota. Akhirnya kota dialihfungsikan menjadi kota perdagangan dan pusat perekonomian saja.

Sebagai kota pusat perdagangan dan perekonomian, Laodikia sangatlah maju dan menonjol :
 
a.     Kota ini adalah pusat perbankan dari seluruh wilayah di Asia Kecil.

William Barclay - Kota ini adalah pusat perbankan dan finansial yang besar. Pada saat Cicero mengadakan perjalanan di Asia Kecil, di Laodikialah ia menguangkan surat kreditnya. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 204).

Anonim - Laodikia secara luas dikenal sebagai pusat perbankan dan bisnis penukaran uang yang makmur. Laodikia mencetak koin sendiri beberapa abad sebelum zaman Kristen yang menyatakan penyembahan mereka pada dewa-dewa kuno. (www.biblicaltraining.org)

Ini membuat Laodikia menjadi kota yang sangat kaya.

Robert H. Mounce - Dalam zaman Romawi, Laodikia menjadi kota terkaya di Phrygia.  (New International Commentary of the NT, hal. 123).

William Barclay – Laodikia adalah salah satu kota terkaya di dunia. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 204).

Pada tahun 61 M ada gempa bumi besar yang meluluhlantahkan kota-kota di Asia kecil. Ini membuat kekaisaran Romawi mengucurkan dana besar untuk membantu pemulihan kota-kota itu di antaranya Sardis dan Filadelfia. Luar biasanya adalah Laodikia menolak semua bantuan yang datang dan mereka berusaha membangun kembali kota mereka dengan swadaya sendiri. 

Tacitus : Satu dari kota terkenal di Asia, yaitu Laodikia, pada tahun yang sama, ketika ia dijungkirbalikkan oleh gempa bumi, dan tanpa bantuan apapun dari kami, memulihkan dirinya sendiri dengan sumber dayanya sendiri. (Annals, 14:27)

Jakob P.D.Groen -  Pada tahun enam puluh sesudah Kristus, kota Laodikia dilanda gempa bumi yang hebat sampai musnah. Namun mereka menolak tawaran bantuan dari kaisar untuk membangun kembali kota mereka, karena mereka menganggap sanggup melakukannya sendiri. Dan sesungguhnya, pada tahun itu juga mereka segera mulai membangunnya kembali. (Aku Datang Segera, hal. 68).

Simon Kistemaker - Pada tahun 60 M, gempa bumi yang kedua menghancurkan kota ini dan Pemerintah Romawi menawarkan bantuan finansial untuk membangun kembali kota ini. Tetapi bapa-bapa kota itu memberikan jawaban yang berisi penolakan atas bantuan itu kepada pemerintah Romawi, dan memberitahukan bahwa mereka sendiri memiliki sumber-sumber yang cukup untuk pembangunan kembali kotanya. Bahkan mereka memberikan sumbangan untuk membangun kembali kota-kota tetangganya.

Menarik bahwa untuk jemaat-Nya yang tinggal di kota yang kaya seperti ini Tuhan Yesus berkata bahwa mereka melarat, malang dan miskin.

Wah 3:17-18 – (17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin (18) maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas…  agar engkau menjadi kaya,…”

b. Kota ini adalah pusat pembuatan kain wol yang terbesar di Asia Kecil.

Tanahnya yang subur menyebabkan banyak rumput untuk domba, dan ini menghasilkan wol, khususnya wol hitam. Karena itu di kota ini ada pabrik pakaian yang memproduksi pakaian dari wol hitam ini.

David Iman Santoso - Kota ini terkenal dengan pabrik tekstil, yang menghasilkan garmen, karpet dan semacam black wool dari bulu domba hitam yang bermutu tinggi. (Membaca dan Memahami Kitab Wahyu, hal. 70).

Agnes M. Layantara - Laodikia adalah kota perdagangan tekstil yang ramai. Pabrik-pabrik tekstil bermunculan karena kota ini menghasilkan kain "wol" yang bermutu. Warna wol yang dihasilkan sangat khas, yaitu biru mengkilat agak kehitaman. Produksi kain wol tidak hanya digunakan untuk jas atau karpet, tetapi juga dieksport ke luar kota Laodikia. Perdagangan wol membuat penduduk Laodikia menjadi kaya-raya. (Wahyu Tuhan Yesus Bagi Gereja-Nya, hal. 96).

William BarclayKota itu adalah pusat pembuatan pakaian yang besar. Domba yang merumput di sekitar Laodikia terkenal akan wolnya yang lembut, licin, berwarna ungu-hitam. Kota ini mempunyai produksi massal berupa pakaian luar yang murah. Kota ini secara khusus dikaitkan dengan pakaian seragam yang disebut trimita, sedemikian rupa kaitannya sehingga kadang-kadang ia dinamakan kota Trimitaria. Laodikia sangat bangga akan pakaian yang diproduksinya…” (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 205).

Menarik bahwa untuk jemaat-Nya yang tinggal di kota yang menjadi pusat kain dan pakaian ini Tuhan Yesus berkata bahwa mereka telanjang.

Wah 3:17-18 – (17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau…. Telanjang. (18) maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku…pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan…”

c.   Kota ini adalah pusat kedokteran terbesar di wilayah Asia Kecil.

Di Laodikia ada sekolah kedokteran yang terkenal.

William BarclayKota ini adalah pusat pengobatan yang sangat diperhitungkan. Tiga belas mil ke Barat, antara Laodikia dan Pintu Gerbang Frigia, ada kuil para dukun Caria.Sampai sekitar 100 tahun lalu pasar-pasar besar diselenggarakan di tempat itu. Secara khusus, kuil itu adalah pusat sekolah kedokteran yang kemudian beralih ke Laodikia. Para dokternya sangat terkenal sehingga sebagian dari mereka namanya muncul di uang logam Laodikia. Dua di antaranya bernama Zeuxis dan Alexander Philalethes. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 205).

Karena itu juga maka kota ini memproduksi obat-obatan secara besar-besaran. Meskipun demikian kota ini lebih dikenal karena obat telinga dan obat matanya, terutama obat matanya.

William BarclaySekolah kedokteran ini terkenal di seluruh dunia karena dua hal, minyak untuk telinga dan minyak untuk mata. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 205).

Simon Kistemaker - Kota ini memiliki sekolah kedokteran yang maju dengan spesialisasi dalam pengobatan mata dan telinga dan telah mengembangkan obat salep untuk penyembuhan radang mata. Karena obat salep mata ini, membuat sekolah ini terkenal di dunia.

Agnes M. Layantara - Kota Laodikia ini juga memiliki banyak apotek. Bahkan di kota ini terdapat pabrik obat mata yang terkenal. (Wahyu Tuhan Yesus Bagi Gereja-Nya, hal. 96).

Note : Barclay mengatakan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan “minyak” di sini bisa juga diartikan salep. Jadi ada kemungkinan juga bahwa obat telinga dan mata Laodikia ini berupa salep. Atau mungkin juga sebagaimana kata Robert H. Mounce bahwa salepnya mengandung campuran minyak.

Robert H. Mounce – Dua yang paling terkenal adalah salep dari sejenis tanaman untuk telinga, dan salep mata yang dibuat dari ‘bubuk Phrygia’ yang dicampur dengan minyak. (New International Commentary of the NT, hal. 123).

Sekali lagi menarik bahwa untuk jemaat-Nya yang tinggal di kota yang menjadi pusat kedokteran dan produksi obat mata,  Tuhan Yesus berkata bahwa mereka buta.

Wah 3:17 - Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau buta…”

Mereka terkenal dengan minyak / salep matanya, tetapi Tuhan Yesus berkata pada mereka :

Wah 3:18 – “…Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku … minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

BIS - Sebab itu Aku menasihati kalian supaya membeli daripada-Ku… obat untuk dioles di matamu supaya kalian dapat melihat.

Itulah 3 kelebihan dari kota Laodikia ini.






17 Juni 2013

FILADELFIA : JEMAAT YANG SETIA (Part 3)



By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.


Wah 3:7-13 – (7) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. (8) Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku. (9) Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau. (10) Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. (11) Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu. (12) Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru. (13) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

K
ita sudah mempelajari teks tentang jemaat Filadelfia ini dalam 4 point besar yakni :  Kota dan Jemaat Filadelfia, Gelar Kristus Sang Pemberi Surat, Pujian Kristus Bagi Jemaat Filadelfia dan Tindakan Kristus Bagi Jemaat Filadelfia. Dan sekarang kita akan membahas point yang terakhir.

V. JANJI KRISTUS KEPADA JEMAAT FILADELFIA.

Di bagian akhir dari Surat ini Kristus memberikan sejumlah janji kepada jemaat Filadelfia yang menang / setia sampai akhir.

Wah 3:12 – Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.

Dari ayat ini terlihat adanya 3 janji kepada jemaat Filadelfia.

a.      Mereka akan dijadikan sokoguru dalam Bait Suci.

Wah 3:12a – Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ;…”

Di sini Tuhan menjanjikan bahwa orang-orang yang menang akan dijadikan “sokoguru”. Kata “sokoguru” ini juga dipakai dalam Gal 2:9 di mana Yakobus, Petrus dan Yohanes disebut sebagai “sokoguru” jemaat.

Gal 2:9 - Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku…”

Lalu ”sokoguru” itu sendiri sebenarnya apa? “Sokoguru” itu sebenarnya adalah tiang penopang / pilar dari sebuah bangunan. Perhatikan Wah 3:12a ini dalam terjemahan yang lain :

KJV - Him that overcometh will I make a pillar in the temple of my God, and he shall go no more out:….”

BIS – Orang yang menang, akan Kujadi-kan sebagai tiang dalam Rumah Suci Allah-Ku, dan ia akan tinggal di tempat itu selama-lamanya….”

KSI - Orang yang menang akan Kujadi-kan tonggak dalam Bait Suci Tuhan-Ku, dan sekali-kali ia tidak akan keluar lagi dari situ. ….”                                                                       

Bandingkan :

1 Tim 3:15 - Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.

Catatan : Kata “tiang penopang” di sini di dalam KJV juga menggunakan kata “pillar” yang juga dipakai untuk “sokoguru”.


Kalau “sokoguru” artinya tiang penopang, maka di sini orang-orang yang menang dijanjikan untuk menjadi “sokoguru” dalam Bait Suci. Artinya mereka akan menjadi tiang yang menopang Bait Suci. Tetapi apa yang dimaksudkan dengan Bait Suci di sini? Apakah ini menunjuk pada Bait Suci orang Israel di bumi ini? 

Selanjutnya....