Tampilkan postingan dengan label Trinitarian Vs Unitarian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Trinitarian Vs Unitarian. Tampilkan semua postingan

31 Januari 2011

TANGGAPAN ATAS KLARIFIKASI DUSTA FRANS DONALD

Perdebatan teologia antara tim Trinitarian (Pdt. Budi Asali, M. div dan Ev. Esra Alfred Soru, STh) melawam tim Unitarian (Frans Donald, dkk) telah berakhir lama dengan menyerahnya tim Unitarian pada pertemuan ke 9. Tetapi setelah kekalahan telak itu, Frans Donald justru memberikan klarifikasi dustanya menyangkut jalannya perdebatan tersebut maupun hasil akhirnya. Untuk itu maka kami pun (Pdt. Budi Asali, M. div dan Ev. Esra Alfred Soru, STh) memberikan jawaban/tanggapan balik atas klarifikasi dusta Frans Donald tersebut. Klarifikasi dusta Frans Donald dan tanggapan kami atasnya dapat dibaca dengan mengklik link di bawah ini :

I. KLARIFIKASI DUSTA FRANS DONALD

II. TANGGAPAN PDT BUDI ASALI & EV. ESRA SORU ATAS KLARIFIKASI DUSTA FRANS DOLAND.

22 Juni 2009

APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (6)

Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)

Oleh:Esra Alfred Soru


JS menulis : Ya, EAS terlalu jauh panggang dari api ketika menafsirkan Yoh. 14:14. Padahal konteks ayat-ayat di Yohanes pasal 14, menunjuk kepada kedudukan unik Yesus--bukan hubungan yang “tidak terpisahkan” pribadi dalam tritunggal.

Tanggapan saya : Rupanya anda tidak pernah membaca Yoh 14 dengan baik tapi omong besar saja. Lalu Yoh 14:7-11 artinya apa? Baca ayat 7, 9-10, 11. Bagaimana mungkin ayat-ayat itu tidak menunjukkan kesatuan Yesus dengan Bapa? Tentang ayat 10b : “Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya” harus diperhatikan penafsirannya. Calvin berpendapat bahwa ayat 10b diucapkan oleh Yesus sebagai manusia. Setiap kata dari Yesus merupakan pekerjaan Bapa! Ini tidak berarti bahwa Bapa bertindak seperti seorang pembicara dengan “suara perut” yang berbicara melalui bonekanya. Sebaliknya, Anak mengucapkan pikiran Bapa karena ini juga merupakan pikiranNya sendiri”

JS menulis : Tentang hal ini Encyclopedia of Biblical, Theological, and Ecclesiastical Literature (oleh John McClintock dan James Strong, 1981, Jil II, Grand Rapids, Michigan) menulis, “Tujuan doa adalah Allah sendiri, melalui Kristus Yesus sebagai Perantara. Oleh karena itu, semua permohonan, kepada orang-orang kudus atau kepada para malaikat tidak saja sia-sia, tetapi menghujat. Semua ibadah kepada makhluk ciptaan, tidak soal seberapa ditinggikan makhluk itu, adalah penyembahan berhala, dan dengan keras dilarang hukum kudus Allah”

Tanggapan saya : Saya setuju kata-kata buku ini. Tetapi ingat, yang dianggap penghujatan / penyembahan berhala adalah penyembahan terhadap orang-orang kudus, malaikat-malaikat dan makhluk ciptaan apapun / manapun. Masalahnya, Yesus tak termasuk yang manapun dari orang-orang itu. Dia adalah Allah, pencipta, bukan makhluk ciptaan (kecuali kalau kita bicara tentang Yesus sebagai manusia). Dan karena Dia adalah Allah, Dia juga merupakan obyek doa / penyembahan yang sah!

JS menulis : Jumlah orang-orang yang seperti Romo Tom Jacob, Frans Donald, dan lain-lain semakin hari bertambah banyak. Hanya EAS yang masih berkokoh dengan gagasan: Jauh panggang dari api; sehingga tidak matang.

Tanggapan saya : Apa maksud anda dengan ‘jauh panggang dari api’? Tadi anda katakan pengabaian konteks, sekarang anda katakan tidak matang! Saya kira untuk orang seperti anda ini cocok kalau dibuatkan ungkapan ‘jauh punguk dari sekolah’! (He…he…he…)

Doa Stefanus

Saya juga membuktikan bahwa doa boleh ditujukan pada Yesus dari doa Stefanus dalam Kis 7:59-60. Tetapi JS membantahnya : “…masalahnya, apakah Stefanus sedang berdoa? ….Namun kata “berdoa” di beberapa terjemahan, tidak ada”. JS lalu mengutip Alkitab Terjemahan Lama (1958 yang dicetak ulang 2003) dan Good News Bible lalu mengatakan : “Dua terjemahan Alkitab ini menerjemahkan kata “berdoa” di ayat 59 ini sebagai “berseru”. Jadi, mana yang benar? Stefanus sedang berdoa atau berseru? Js lalu membandingkannya dengan Alkitab The Kingdom Interlinear Translation of the Greek Scriptures (1969) lalu memberikan komentar : “Perhatikan terjemahan bebas kata “permohonan”/”appeal” dari terjemahan bahasa Yunani έлιкαλούμενον, yang jika diterjemahkan kata demi kata, calling upon/berseru kepada.

Jadi peristiwa Stefanus (ayat 59) tidak menyangkut doa, karena di ayat sebelumnya (ayat 56) Stefanus melihat Yesus dalam penglihatan dan berbicara kepadanya secara langsung. … Ingatlah bahwa semata-mata berbicara bahkan kepada Allah tidak dengan sendirinya merupakan doa. … Oleh karena itu, tidaklah benar untuk menyebutkan percakapan Stefanus dengan Yesus sebagai bukti bahwa sebenarnya dapat (harus) berdoa kepadanya.

Dari argumentasi JS di atas ini terlihat bahwa JS hanya membahas kata kerja ‘berseru / call on’ saja? Mengapa tidak membahas kata-kata yang diucapkan oleh Stefanus pada saat itu, yang jelas menunjukkan bahwa itu adalah suatu doa? Dalam hal ini anda mengabaikan konteks kan? Jadi kata-kata “Jauh panggang dari api” itu lebih cocok untuk anda sendiri. Sekarang lihat kembali Kis 7:59-60 - “(59) Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." (60) Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Dan dengan perkataan itu meninggallah ia”. Bukankah kata-kata dalam ayat 59 jelas merupakan doa? Lebih-lebih kata-kata dalam ayat 60 jelas meniru kalimat pertama Yesus di kayu salib yang merupakan doa Yesus sendiri! Selain itu kata ‘berseru’ / ‘memanggil’ di dalam Kitab Suci sering menjadi sinonim dari kata ‘berdoa’! Misalnya Kej 4:26 : “…Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN”, Kej 12:8 : “…lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi TUHAN dan memanggil nama TUHAN”, Kej 13:4 : “…di situlah Abram memanggil nama TUHAN.

Perhatikan bahwa dalam ayat-ayat ini tidak ditulis bahwa mereka berdoa melainkan memanggil nama Tuhan. Tapi tidak bisa tidak “memanggil nama TUHAN” di sini artinya adalah berdoa. Sekarang lihat Kel 14:10 : Ketika Firaun telah dekat, orang Israel menoleh, maka tampaklah orang Mesir bergerak menyusul mereka. Lalu sangat ketakutanlah orang Israel dan mereka berseru-seru kepada TUHAN..”, Kel 14:15 : “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? …”, 1 Sam 12:8 : “Ketika Yakub datang ke Mesir dan nenek moyangmu berseru-seru kepada TUHAN, maka TUHAN mengutus Musa dan Harun, yang membawa nenek moyangmu keluar dari Mesir, …”. Lihat juga 1 Sa 15:11; Maz 22:3; Maz 34:18 dan masih banyak ayat lainnya yang mencapai ratusan ayat. Kata “berseru-seru” dalam ayat ini tidak bisa tidak berarti berdoa.

Dengan demikian sesuai dengan kalimat yang keluar dari mulut Stefanus dihubungkan dengan ayat-ayat di atas ini maka tidak bisa tidak ditafsirkan bahwa Stefanus memang berdoa kepada Yesus. Rupanya JS ini buta terhadap ayat-ayat Kitab Suci yang saya kutip di atas. Jadi, orang yang namanya JS ini lagi-lagi bisa diberi ungkapan lain “Jauh serigala dari Kitab Suci”.

Berseru kepada Yesus

Ayat lain yang saya pakai untuk mengatakan bahwa kita boleh berdoa kepada Yesus adalah 1 Kor 1:2b : ‘dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.’ Tetapi JS menanggapinya : “EAS mirip orang gendut yang kepleset kulit pisang. Ia hendaknya memperhatikan bahwa dalam bahasa aslinya, pernyataan “έпικαλαυμέοις” (to call upon/berseru/menyerukan) dapat mengartikan hal-hal lain selain doa. Bagaimana nama Kristus ‘called upon’ (diserukan) di mana-mana (di segala tempat)? Satu cara adalah bahwa para pengikut Yesus dari Nazaret secara terang-terangan mengakui dia sebagai Mesias dan Juruselamat dunia, melakukan banyak perbuatan menakjubkan dalam namanya (bandingkan 1 Yoh. 4:14; Kis. 3:6; 19:5).

Karena itu, The Interpreter’s Bible (1990) menulis bahwa ungkapan “menyerukan nama Tu[h]an kita…berarti mengakui wewenangnya sebagai Tuan sebaliknya daripada berdoa kepadanya”. He..he…Saya mirip orang gendut yang kepleset kulit pisang? Kalau begitu anda seperti orang pendek yang ingin menjangkau pengertian yang lebih tinggi, tetapi tidak dapat mencapainya. Kasihan sekali??! Dan rupanya karena pendeknya, anda berusaha menggapai dengan meloncat-loncat, sampai punggungnya bongkok! Seandainya saja anda sama pendeknya, dan sama bertobatnya seperti Zakheus! Sayang, hanya pendeknya yang sama, bertobatnya tidak! Sekarang perhatikan kembali kata-kata anda di atas “…dapat mengartikan hal-hal lain selain doa”.

Coba pakai logika anda! Berarti bisa diartikan doa kan? Tetapi anda memaksakan arti yang lain, yang sebetulnya sama sekali bukan artinya. Kata-kata ‘call upon’ diartikan seperti ini oleh Bible Works 7: (1) to put a name upon, to surname 1a) to permit one's self to be surnamed (2) to be named after someone (3) to call something to one 3a) to cry out upon or against one 3b) to charge something to one as a crime or reproach 3c) to summon one on any charge, prosecute one for a crime 3d) to blame one for, accuse one of (4) to invoke 4a) to call upon for one's self, in one's behalf 4a1) any one as a helper 4a2) as my witness 4a3) as my judge 4a4) to appeal unto (5) to call upon by pronouncing the name of Jehovah 5a) an expression finding its explanation in the fact that prayers addressed to God ordinarily began with an invocation of the divine name” Perhatikan bahwa tidak ada arti ‘confess’ (mengakui) seperti yang diberikan anda dari buku tafsiran ngawur itu.

Satu hal lagi, anda kan guru bahasa Inggris. Lalu bagaimana mungkin anda menerjemahkan ‘called upon’ sebagai ‘diserukan’? Kecuali ada to be yang mendahuluinya, itu tidak bisa merupakan bentuk pasif! Dan dalam kalimatnya memang tidak didahului oleh to be. Jadi, itu bentuk aktif, tetapi dalam past tense! Lalu dari mana anda dapatkan -ed yang menjadikannya menjadi bentuk lampau itu? Kata itu dalam bahasa Yunani ada dalam bentuk present. Itu juga terlihat dari semua terjemahan bahasa Inggris. Aneh juga biasanya anda beri terjemahan bahasa Inggris tertentu, tetapi di sini tidak ada sama sekali.

Jadi saya saja yang berikan dari terjemahan KJV : “Unto the church of God which is at Corinth, to them that are sanctified in Christ Jesus, called to be saints, with all that in every place call upon the name of Jesus Christ our Lord, both theirs and ours”. Tidakkah terlihat bahwa terjemahan ini memakai bentuk aktif? Bentuk yang sama dipakai juga dalam terjemahan RSV maupun NIV. Lalu bagaimana anda yang adalah guru bahasa Inggris bisa menerjemahkannya menjadi bentuk pasif? Haruskah saya buat ungkapan lain lagi buat anda?

Satu hal yang perlu saya tambahkan tentang ayat ini adalah bahwa kata ‘nama’ di sini harus diartikan menunjuk kepada pemilik nama tersebut, yaitu Yesusnya sendiri. Ini sesuatu yang umum dalam Kitab Suci. Contohnya Yes 56:6 : “Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan untuk menjadi hamba-hambaNya,…” Mengasihi nama TUHAN artinya mengasihi TUHAN. Yer 23:27 : “….sama seperti nenek moyang mereka melupakan namaKu oleh karena Baal?”.

Melupakan nama TUHAN artinya adalah melupakan TUHAN. Jadi nama harus diartikan sebagai diri/pemilik nama itu. Dengan demikian “berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus” dalam 1 Kor 1:2b itu artinya adalah berseru/berdoa kepada Tuhan kita Yesus Kristus. He…he… sekarang apa argumentasi anda JS? Ternyata saya tidak mirip orang gendut yang kepleset kulit pisang tapi anda yang mirip orang pendek/bongkok yang mencoba menggapai kebenaran yang tinggi tapi tak bisa mencapainya.

Tanggapan-Tanggapan Lepas

JS menulis : “Menerima Kristus dan mempraktekkan iman dalam darahnya yang dicurahkan, yang memungkinkan pengampunan dosa, juga berarti menyerukan nama Tu[h]an kita, Yesus Kristus (bandingkan Kis. 10:43 dengan 22:16).

Tanggapan saya : He..he... JS, saya harap anda tidak asal-asalan dalam memberi ayat. Apa urusannya Kis 10:43 dengan menyerukan nama Yesus? Demikian juga apa urusannya Kis 22:16? Bagi saya kata “berseru kepada nama Tuhan” di sini pun bisa diartikan ‘berdoa’, dengan iman kepada Yesus! Kalau tidak diartikan demikian, maka akan menjurus pada ajaran sesat ‘keselamatan karena perbuatan baik’. Tapi sayangnya, saya yakin anda justru percaya ajaran sesat itu.

JS menulis : “Jadi secara harfiah menyebut nama Yesus, kapan saja seseorang berdoa kepada Allah melalui dia. Maka, meskipun memperlihatkan bahwa seseorang dapat menyerukan nama Yesus, Alkitab tidak menyatakan harus berdoa kepadanya (Ef. 5:20; Kol. 3:17).

Tanggapan saya : Saya setuju kita boleh berdoa / bersyukur kepada Bapa. Tetapi ayat-ayat itu TIDAK mengatakan bahwa kita tidak boleh berdoa kepada Yesus. Dan dari ayat-ayat yang sudah saya gunakan, jelas juga merupakan hal yang sah untuk berdoa kepada Yesus! Anda tidak bisa menggugurkannya! Itu hanya mimpi anda saja!!!

JS menulis : Setiap doa adalah suatu bentuk ibadat. The World Book Encyclopedia (1987, Vol. 2) menegaskan hal ini, “Doa adalah suatu bentuk ibadat yang melaluinya seseorang dapat menyatakan pembaktian, syukur, pengakuan, atau permohonan kepada Allah. Pada suatu kesempatan Yesus mengatakan, “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan [Yahweh], Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Yesus berpaut kepada pokok kebenaran bahwa ibadat--karena itu doa juga--harus ditujukan hanya kepada Bapanya, Allah Yahweh (Luk 4:8; 6:12).

Tanggapan saya : Lalu mengapa Yesus kok mau disembah berulangkali, dan Ia tak menyalahkan Stefanus yang berdoa kepada-Nya?

Bertekuk Lutut Dalam Nama Yesus

Bukti lain lagi yang saya pakai untuk mengatakan bahwa kita boleh berdoa kepada Yesus adalah Fil 2:9-11. Tapi JS membantahnya : “Apakah kata-kata “dalam nama Yesus bertekuk lutut” mengartikan bahwa kita harus berdoa kepada? Tidak. Ungkapan bahasa Yunani di sini mencakup “menunjukkan nama yang atasnya semua orang yang bertekuk lutut bersatu, yang atasnya semua [παν γόνυ] ibadat dipersatukan. Nama yang Yesus telah terima mendorong semua orang untuk bersatu dalam menyembah” (G.B. Winner, 1997:158, A Grammar of the Idiom of the New Testament, seventh ed., Andover).

Memang, agar suatu doa dapat diterima, doa harus disampaikan “dalam nama Yesus”, namun meskipun demikian, ditujukan kepada Allah Yahweh dan berperan untuk memuliakan-Nya. ….” He…he… Ini bertentangan dengan Mat 4:10 atau Luk 4:8 yang baru anda bicarakan. Kalau sembah hanya boleh kepada Allah, lalu mengapa Fil 2 mengatakan semua akan menyembah Yesus? Bagaimana penjelasan anda ini bisa diharmoniskan dengan ayat-ayat seperti Yes 42:8 : “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung”?, (Lihat juga Yes 48:11) Coba anda jawab!!! Kalau Yesus bukan Allah, dan Ia adalah pribadi yang berbeda secara total dari Bapa, maka penyembahan terhadap Yesus jelas bertentangan dengan kedua ayat di atas ini!

Tanggapan-Tanggapan Lepas

JS menulis : “Sama seperti sebuah jalan menuju ke satu tujuan, demikian pula Yesus adalah “jalan” yang membimbing kepada Allah Yang Mahakuasa… (Yoh. 14:6). Maka, hendaknya menyampaikan doa-doa kepada Allah melalui Yesus dan tidak langsung kepada Yesus sendiri. Yesus bukan Allah Yang Mahakuasa, namun Yesus adalah Putra Allah, dan ia sendiri beribadat kepada Yahweh, Bapanya (Yoh. 20:17).

Tanggapan saya : Saya tidak menentang doa melalui Yesus. Itu memang benar! Tetapi itu kalau Yesus ditinjau sebagai Allah yang menjadi manusia / pengantara. Kalau Ia disoroti sebagai Allah, maka Ia adalah obyek doa! Dan itu ayat-ayat yang saya bahas di atas. Saya memperhatikan kedua kelompok ayat, anda hanya memperhatikan salah satu, yang sesuai dengan teologia anda yang menyedihkan!

JS menulis : Yesus adalah orang yang suka berdoa…..Ya, doa adalah bagian yang penting dalam kehidupan Yesus.….Maka, mengakhiri rangkaian artikel ini, bisakah “triotunggal”, EAS, Nelson M. Liem dan James Lola, menjawab pertanyaan sederhana: Mengapa Yesus berdoa?

Tanggapan saya : Pertanyaan klasik dari Unitarian / Saksi-Saksi Yehuwa. Nelson dan James tak usah jawab. Saya yang jawab! Jawabnya mudah sekali, karena Ia bukan hanya sungguh-sungguh Allah, tetapi juga sungguh-sungguh manusia. Sebagai Allah, Ia adalah obyek doa; sebagai manusia, Ia berdoa. Gitu aja kok repot??? Gitu aja kok tidak ngerti!!!

Tantangan

Sdr. JS, mengakhiri tanggapan saya ini, saya ingin ingatkan anda tentang tantangan saya yakni debat dari Kitab Suci untuk membuktikan doktrin Tritunggal/keallahan Yesus diajarkan Kitab Suci atau tidak. Saya mengajukan dasar kepercayaan saya dari Yoh 20:28 : “Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Jadi Tomas yang adalah murid Yesus mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. Silahkan anda bantah ini. Jangan lari ke mana-mana dulu. Cukup bahas ayat ini saja sampai tuntas, sampai salah satu menyerah!!! Tantangan ini juga berlaku bagi semua Unitarian dan Saksi-Saksi Yehuwa di kolong langit ini. Saya tunggu !!! Sampai jumpa !!!

Habis.

* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)

APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (5)

Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)

Esra Alfred Soru


Lalu bagaimana dengan Justin Martyr sebagaimana yang dikutip JS? Sebagai bahan perbandingan, saya juga akan kutipkan beberapa pandangan tentang kepercayaan Justin Martyr. (Note : Saya tidak mengutip bahasa Inggrisnya demi menghemat tempat).

Philip Schaff menulis tentang kepercayaan Justin Martyr sebagai berikut : “Kristus adalah Akal dari akal, inkarnasi dari akal yang mutlak dan kekal. Ia adalah suatu obyek penyembahan yang benar. Dalam usahanya untuk mendamaikan pandangan ini dengan monoteisme, ia kadang-kadang menegaskan kesatuan moral dari kedua pribadi ilahi, dan kadang-kadang dengan jelas menundukkan Anak kepada Bapa / meletakkan Anak lebih rendah dari pada Bapa.

Dengan cara itu Justin mengkombinasikan hypostasianisme, atau teori tentang keilahian Kristus yang bersifat pribadi dan tak tergantung, dengan subordinationisme (pandangan yang mengatakan bahwa Anak lebih rendah dari Bapa); karena itu, ia bukanlah Arian ataupun Athanasian; tetapi seluruh kecenderungan teologianya, bertentangan dengan bidat-bidat, jelas mengarah pada sistim ortodoks, dan seandainya ia hidup belakangan, ia akan menganut Pengakuan Iman Nicea. Hal yang sama bisa dikatakan tentang Tertullian dan tentang Origen” (History of the Christian Church, vol II, hal 549-550).

Schaff juga menulis : “Begitulah dalam Justin, pelopor dari penemuan ilmiah dalam Pneumatologi maupun dalam Kristologi. Ia menolak / membantah tuduhan orang kafir tentang ateisme dengan penjelasan, bahwa orang-orang Kristen menyembah Pencipta dari alam semesta, di tempat yang kedua sang Anak, di ranking ketiga Roh nubuatan; menempatkan ketiga pribadi ilahi dalam tingkatan penyembahan yang menurun. ... ia meninggikan Roh jauh di atas semua makhluk ciptaan, dan menuntut untuk anggota-anggota dari Tritunggal ilahi suatu penyembahan yang dilarang untuk malaikat-malaikat” (History of the Christian Church, vol II, hal 561,562).

Selanjutnya : “Justin Martyr berulang-ulang menempatkan Bapa, Anak, dan Roh bersama-sama sebagai obyek dari penyembahan ilahi di antara orang-orang kristen (sekalipun tidak setara secara keseluruhan dalam kewibawaan)” (History of the Christian Church’, vol II, hal 569). Kutipan-kutipan di atas menunjukkan bahwa sekalipun Justin Martyr tidak menganggap bahwa ketiga pribadi (Bapa, Anak, Roh Kudus) itu betul-betul setara, dan dengan demikian doktrin Allah Tritunggalnya cacat, tetapi ia menganggap ketiga pribadi dalam Tritunggal itu sebagai obyek penyembahan ilahi, dan ia mengatakan bahwa penyembahan seperti ini dilarang untuk ditujukan kepada malaikat-malaikat! Berdasarkan hal ini, sukar dipercaya, bahkan mustahil untuk dipercaya, bahwa ia menganggap pra manusia Yesus sebagai malaikat, seperti yang dikatakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa! Data-data ini juga memperlihatkan bahwa doktrin Tritunggal memang tidak selalu dipahami dalam arti yang sama oleh para pemikir Kristen awal.

Adanya bidat dan pertikaian antara Gereja Timur dan Barat seputar kesamaan antara hakekat keilahian Bapa dan Kristus menunjukkan bahwa doktrin ini tidak selalu mudah untuk diterima. Bahkan setelah doktrin ini dirumuskan secara resmi dan cukup universal pun (setelah Konsili Nicea), berbagai bidat Tritunggal tetap bermunculan.

Bagaimanapun, hal ini cukup untuk meruntuhkan tuduhan pihak non-Trinitarian bahwa doktrin Tritunggal baru dirumuskan pada abad ke-4 dan perumusan ini dipengarahui oleh filsafat Yunani seperti nyata dari kata-kata Frans Donald. Kutipan kata-kata bapa-bapa gereja membuktikan bahwa dari semula para bapa gereja telah menerima doktrin Tritunggal.

Sumber sekuler & data arkheologis.

Beberapa sumber sekuler dapat saya tambahkan di sini untuk membuktikan bahwa kepercayaan bahwa Yesus adalah Allah sudah ada sangat jauh sebelum konsili Nicea. Bukti ini datang dari surat Pliny the Younger. Pliny the Younger adalah gubernur di daerah Pontus/Bythinia pada tahun 111-113.

Ia menulis surat kepada kaisar Trayanus mengenai orang-orang Kristen di propinsinya yang di dalam suratnya tersebut terdapat kalimat demikian : “...mereka (orang Kristen) sudah terbiasa berkumpul sebelum fajar pada hari yang telah ditetapkan, ketika secara bergantian mereka menyanyikan bait-bait dari sebuah himne kepada Kristus seperti kepada Allah” (Epistles 10.96). Bunyi surat lengkapnya dapat dilihat dalam buku “Documents of the Christian Church” (Ed. Henry Bettenson, Oxford University Press, 1975; hal.3-4) atau dalam buku karangan Josh McDowell yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Gandum Mas berjudul“Apologetika” (Vol. 3) hal. 60-62. Jika catatan ini diakui keasliannya, maka ini menjadi bukti objektif bahwa orang Kristen memang sejak awal sudah menganggap Yesus sebagai Allah. (Catatan : Untuk pembuktian bahwa kutipan Pliny the Younger adalah otentik, lihat F. F. Bruce, “Jesus & Christian Origin outside the New Testament”, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1974; Buku yang lebih baru tentang ini ditulis oleh Robert E. Van Voorst, “Jesus Outside the New Testament”, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 2000). Terhadap data ini Yakub Tri Handoko mengatakan : “Jika kita mempertimbangkan bahwa praktik ini merupakan kebiasaan orang Kristen, maka tindakan memuji Kristus sebagai Allah kemungkinan besar sudah ada sejak lama sebelum Pliny the Younger menjadi gubernur. Hal ini sesuai dengan berbagai kutipan ayat Perjanjian Baru yang mengajarkan penyembahan dan penghormatan kepada Yesus”. (Bahan PA GKRI Exodus tanggal 4 Maret 2008; “Doktrin Tritunggal : Perkembangan Konsep Tentang Tritunggal”, hal. 14).

Sumber sekuler lain yang juga dapat dilihat dalam “Apologetika” Josh McDowell seperti disebutkan di atas (hal. 71-72) adalah tulisan dari Lucianus dari Samosata, seorang pengarang syair sindiran yang hidup tahun 170. Ia menulis tentang orang-orang Kristen sebagai berikut : “Ketahuilah, orang-orang Kristen memuja seorang pria sampai pada hari ini – tokoh tersohor yang memperkenalkan tata ibadah baru, dan disalibkan karena hal tersebut. Orang-orang tersesat ini mulai dengan keyakinan yang umum bahwa mereka itu hidup kekal selamanya....dari saat mereka bertobat, dan menyangkal dewa-dewa Yunani, dan menyembah orang bijakasana yang disalibkan itu, serta hidup mereka menurut hukum-hukum-Nya...”. (The Death of Peregrine, 11-13). Perlu diketahui bahwa Lucianus ini adalah seorang yang memusuhi orang Kristen dan karenanya justru kesaksiannya menjadi sangat berharga untuk mengetahui iman orang-orang Kristen awal. Jelas bahwa orang-orang Kristen awal sudah memuja dan menyembah Kristus.

Yakub Tri Handoko dalam sumber yang sama yang sudah disebutkan di atas juga memberikan data arkeologis kuno berkenaan dengan topik ini. Ia menulis : “Pada tanggal 30 Oktober 2005 para napi di penjara Megiddo (Israel) yang sedang terlibat untuk renovasi penjara itu secara tidak sengaja menemukan sebuah peninggalan kuno yang sangat penting. (Catatan : Para ahli menyebut ini sebagai “tempat pertemuan orang Kristen yang tertua yang pernah ditemukan di Israel dan mungkin merupakan salah satu yang tertua di antara penemuan-penemuan seperti ini” atau “salah satu penemuan terpenting untuk sejarah kekristenan awal". Scott Wilson, “Site May Be 3-rd Century Place of Christian Worship”, Washington Post, November 7, 2005, A14). Agen yang mengawasi penggalian ini terdiri dari para arkheolog yang ingin memastikan bahwa renovasi ini tidak akan merusakkan peninggalan kuno yang mungkin ditemukan. Berdasarkan barang keramik yang ditemukan, model mozaik dan ciri khas bangunan, para arkheolog yakin bahwa peninggalan ini sangat mungkin berasal dari abad ke-3.

Ada beberapa peninggalan arkheologis penting yang ditemukan, namun yang berkaitan dengan pembahasan kita kali ini adalah suatu keramik yang bertuliskan “Akeptous, orang yang mengasihi Allah, mempersembahkan meja ini untuk Allah Yesus Kristus sebagai sebuah peringatan”. (Catatan : Untuk bukti ini saya dapatkan dari artikel Rich Deem, “Jesus Christ as God and the Trinity Was Not Invented Until the Fourth Century?”. http://www.godandscience.org/apologetics/trinity.html). Penemuan ini memberi bukti tambahan yang cukup objektif bahwa Yesus Kristus sejak lama sudah diakui dan diberi penghormatan sebagai Allah. Fakta bahwa tulisan ini ditemukan di sebuah gereja semakin mempertegas bahwa keyakinan seperti ini bukan hanya sekedar keyakinan individu. Keyakinan ini adalah milik orang-orang Kristen”. (Yakub Tri Handoko, hal.14-15). Semua data ini membuktikan bahwa sejak awal sekali orang-orang Kristen telah percaya dan menyembah Kristus sebagai Allah. Jadi tuduhan Frans Donald sama sekali tidak benar dan pembelaan JS terhadap Frans juga sama tidak benarnya. Karena itu kata-kata JS : “Untuk menanggapi sekitar hal ini, terasa sudah cukup, untuk membuktikan EAS telah memanipulasi ajaran bapa-bapa pra-Nicea ini, menjadi: Lebih ‘indah kabar dari rupa” dapat saya anggap sebagai pernyataan/kesimpulan yang tergopoh-gopoh dan boleh dikatakan juga sebagai “indah kabar dari rupa”. Ha…ha… Payah benar!!!

Beralih ke sumber primer -- tantangan

Saya sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk membuktikan doktrin Tritunggal atau keallahan Yesus dari segi sejarah. Mengapa? Karena sejarah hanyalah data/sumber tambahan/sekunder sebagaimana diakui juga oleh JS. Dan sejarah bisa salah. Dasar obyektif/primernya adalah Kitab Suci karena itu adalah Firman Allah. Karena itu sekarang saya mengajukan tantangan lagi kepada JS untuk debat dari Kitab Suci. Apakah Kitab Suci mengajarkan doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus atau tidak? Tidak peduli apa kata sejarah, apa kata bapa-bapa gereja, dll tapi kalau Kitab Suci mengajarkan doktrin Tritunggal atau tidak, itu harus diterima. Kalau Kitab Suci mengajarkan Yesus sebagai Allah atau bukan, itu harus diterima. Bagaimana? Debatnya juga harus per topik sampai tuntas.

Jangan lari kesana-kemari pakai jurus kutu loncat seperti Frans Donald, dkk. Biar jelas siapa menang dan siapa kalah, siapa benar siapa salah. Kalau anda tidak terima tantangan ini berikan alasan mengapa anda tidak mau berdebat dari Kitab Suci yang menurut anda sendiri adalah sumber terilham? Kalau anda terima, maka saya yang akan mulai lebih dahulu. Saya akan ajukan 1 ayat Kitab Suci yang membuktikan bahwa Yesus adalah Allah. Ayat ini adalah Yoh 20:28 : “Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Menurut saya ayat ini menunjukkan bahwa Tomas yang adalah murid Yesus sendiri memberikan pengakuan iman bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah. Yesus tidak membantahnya sama sekali dan itu menunjukkan bahwa Yesus menerima pernyataan Tomas itu. Jadi Dia adalah Tuhan dan Allah. Nah, silahkan anda membantahnya.

Ingat, hanya poin ini saja yang dibahas. Jangan lari kemana-mana. Nanti kalau tuntas baru kita pindah ke ayat lainnya. Tantangan ini juga saya ajukan kepada semua orang yang membaca tulisan ini terutama pihak Unitarian dan Saksi-Saksi Yehuwa. Siapa saja boleh menanggapinya dan saya akan ladeni semuanya tapi ingat, hanya poin ini dulu. Saya tunggu!!!

Berdoa Kepada Yesus (Yoh 14:14)

Dalam tulisan tanggapan saya kepada Frans Donald kali lalu, saya sempat mengajukan sejumlah ayat Kitab Suci yang menunjukan bahwa doa boleh ditujukan kepada Yesus untuk menanggapi kata-kata Rm. Tom Jacobs yang dikutip oleh Frans Donald. Tapi rupa argumentasi saya berdasarkan ayat-ayat itu dibantah oleh JS. Misalnya tentang Yoh 14:14 : “Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." Saya mengatakan : “Bukankah kata ‘kepadaKu’ ini menunjukkan bahwa doa bukan hanya boleh ditujukan kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus?” Tapi JS mengatakan : “...mengapa EAS hanya memperhatikan ayat 14 saja, dan mengabaikan ayat-ayat lain? Dengan berbuat begitu, jelas EAS melakukan penafsiran: Jauh panggang dari api; mengabaikan konteks ayat”. He..he… saya hanya bisa tertawa membaca kata-kata JS ini. JS rupanya mau menjadi seorang penyair tanpa mengerti apa yang dia ucapkan.

Apa hubungan ‘mengabaikan konteks’ dengan ‘jauh panggang dari api’? Betul-betul suatu perumpamaan yang tak ada hubungannya! Setelah memberikan sejumlah penjelasan tentang ayat ini, JS akhirnya menulis : ‘Tafsir yang dipaksa oleh EAS ini akan runtuh jika diadakan studi perbandingan ayat dari Alkitab lain. Kata ‘kepadaKu’ di ayat 14 ini yang menjadi tumpuan EAS, ternyata tidak ada di sejumlah Alkitab. Good News Bible (Alkitab Kabar Baik) (2004) menerjemahkan ayat ini menjadi, “If you ask me for anything in my name, I will do it” (“Apa saja yang kalian minta atas nama-Ku, akan Kulakukan”). Kitab Suci Komunitas Kristiani (2002) menerjemahkan, “Dan segala sesuatu yang kamu minta sambil menyerukan nama-Ku, akan Kubuat.” The Kingdom Interlinear Translation of the Greek Scriptures (1969) menerjemahkan, “έάν τι αίτήαητέ με έν τώ όνόματί μου τοûτο ηοιήσω/if ever anything YOU should ask me in the name of me this I shall do (If YOU ask anything in my name, I will do it/Jika kamu meminta apa pun dengan namaku, aku akan melakukannya). Dari perbandingan demikian, maka kata ‘kepada-Ku’, di tiga terjemahan tersebut, sekali lagi tidak ada”. He..he… lucu sekali saya membaca kata-kata JS :‘Tafsir yang dipaksa oleh EAS ini akan runtuh jika diadakan studi perbandingan ayat dari Alkitab lain”.

Anda mau meruntuhkan tafsiran saya dengan argumentasi murahan di atas? Tunggu dulu ! Anda mau mengadakan studi perbandingan ayat dari Alkitab lain ? Anda mengutip 3 terjemahan yang Alkitab yang tidak ada kata “kepadaKu”. Itu memang benar tapi anda juga harus ingat bahwa ada banyak juga terjemahan Alkitab yang ada kata “kepadaKu”. Misalnya New International Version (NIV) : ‘You may ask me for anything in my name, and I will do it’ (Kamu boleh meminta kepadaKu apa pun dalam namaKu, dan Aku akan melakukannya).

New American Standard Bible (NASB) : ‘If you ask Me anything in My name, I will do it’ (Jika kamu meminta apapun kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya). Contemporary English Version (CEV) : “I will do whatever you ask me to do” (Aku akan melakukan apapun yang kamu minta kepadaKu untuk melakukannya). Todays English Version (TEV) : “If you ask me for anything in my name, I will do it. (Jika kamu meminta kepadaKu segala sesuatu dalam namaKu, Aku akan melakukannya). Saya masih bisa menunjukkan banyak terjemahan lagi yang mempunyai kata-kata “kepadaKu” itu untuk mengimbangi 3 terjemahanmu yang tidak mempunyai kata “kepadaKu” itu.

Jadi jangan terlalu percaya diri dulu bahwa anda bisa begitu gampangnya meruntuhkan tafsiran saya. Jelas terlihat bahwa ada terjemahan yang tidak mempunyai kata “kepadaKu” itu seperti yang sudah anda kutip dan ada terjemahan yang mempunyai kata itu seperti yang saya kutip. Mengapa bisa begitu? Biar saya jelaskan kepada anda. Kata ‘kepadaKu’ dalam ayat ini memang diperdebatkan keasliannya.

Ada manuscript yang mempunyainya dan ada manuscript yang tidak mempunyainya. Sekarang pertanyaannya adalah apakah manuscript yang tidak mempunyai kata itu yang menghapusnya, atau manuscript yang mempunyai kata itu yang menambahinya? Pdt. Budi Asali berkata : “Saya setuju dengan Bruce M. Metzger, yang berpendapat bahwa beberapa manuscript menghapus bagian yang sebetulnya asli ini karena salah satu dari 2 alasan di bawah ini: (1) Kata-kata ‘meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu’ kelihatannya aneh. Seperti yang dikatakan oleh F. F. Bruce: “If something is asked for in Jesus’ name, the request is probably viewed as addressed to the Father” (= Jika sesuatu diminta dalam nama Yesus, permintaan itu mungkin dipandang sebagai ditujukan kepada Bapa) - hal 301. (2) Keinginan membuang kontradiksi antara ayat ini dengan Yoh 16:23, di mana doa dalam nama Yesus itu ditujukan kepada Bapa.

Metzger mengatakan bahwa kata ‘kepadaKu’ ini didukung oleh cukup banyak manuscript, dan kata ini kelihatannya didukung oleh / sesuai dengan kata-kata ‘Aku akan melakukannya’ pada akhir dari ay 14. (Bagaimana Menaklukan dan Membongkar Fitnah/Dusta/Kepalsuan Saksi-Saksi Yehuwa; Jilid II : 22). Jadi sebenarnya kata “kepadaKu” itu ada dalam teks aslinya dan dengan demikian terjemahan-terjemahan yang ada kata “kepadaKu” itulah yang benar dan terjemahan-terjemahan yang tidak ada kata “kepadaKu” yang anda kutip itu yang salah. Sekarang bagaimana? Apakah anda telah meruntuhkan pendapat saya? Hanya karena ada dua pembacaan (berarti ada 2 kelompok manuscripts), anda langsung menyatakan tanpa bukti/dasar apapun bahwa yang benar adalah yang tidak menggunakan kata ‘kepada-Ku’?!! Bagus sekali, tidak bisa lebih tidak ilmiah dari itu bung???

Tanggapan-Tanggapan Lepas

Sekarang saya akan memberikan tanggapan atas pernyataan-pernyataan JS yang masih ada kaitan dengan topik ini.

JS menulis : “EAS keliru berpendapat, “…bahwa doa bukan hanya boleh ditujukan kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus”, yang sangat mengekor pada penafsiran/pendapat Leon Morris”.

Tanggapan Saya : He…he… terus bagaimana tanggapan anda atas argumentasi saya di atas. Anda mengatakan saya mengekor tafsiran Leon Morris? Sekarang saya tanya balik pada anda. Apakah anda sendiri tidak mengekor pada penerjemah-penerjemah dari Kitab Suci-Kitab Suci yang membuang kata ‘kepadaKu’ itu??? Sebaiknya anda berkaca dulu sebelum menyerang biar itu tidak menjadi bumerang bagi diri anda sendiri!

Bersambung….

* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)

APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (4)

Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)

Oleh:Esra Alfred Soru


JS menulis : “….saya ingin mengutip pandangan Will Durant, yang adalah sejarawan mengakui dengan jujur tentang asal-usul doktrin Tritunggal dalam bukunya, The Story of Civilization: Part III, (1978:595), ‘Kekristenan tidak membuang kekafiran; melainkan menerimanya….Dari Mesirlah gagasan mengenai suatu tritunggal ilahi muncul (kursif, pen.). Jelas, doktrin Tritunggal tidak berdasarkan Alkitab, tetapi dengan resmi barulah ratusan tahun kemudian diterima pada Konsili Nicea tahun 325. Doktrin tersebut memasukkan gagasan kafir yang mempunyai asal-usul lama berselang di Babel dan Mesir zaman purba dan digunakan di negeri-negeri lain juga.

Tanggapan saya : Anda katakan sejarawan tersebut ‘mengakui dengan jujur’. Apa dasarnya anda mengatakan ‘dengan jujur’? Apakah hanya karena kata-kata dia sesuai pandangan anda? Alangkah subyektifnya! Buktikan bahwa doktrin Allah Tritunggal berasal dari agama kafir! Tunjukkan apa agamanya, dan bagaimana ajarannya, baru bicara!

Kepercayaan Pra Nicea

Dalam tanggapan saya terhadap Frans Donald, saya mengutipkan banyak pandangan dari bapa-bapa gereja untuk membuktikan bahwa kepercayaan terhadap doktrin Tritunggal sudah ada sebelum konsili Nicea. Namun beberapa data yang saya ungkapkan ini dibantah oleh JS misalnya tentang Aristidas, Justin Martyr dan Polycarp dan JS membuat kesimpulan : “Untuk menanggapi sekitar hal ini, terasa sudah cukup, untuk membuktikan EAS telah memanipulasi ajaran bapa-bapa pra-Nicea ini, menjadi: Lebih ‘indah kabar dari rupa’. He…he… lucu sekali kata-kata JS ini. Dalam tulisan saya, saya memberikan begitu banyak kutipan pandangan bapa-bapa gereja seperti Aristides, Justin Martyr, Mathetes, Tatian, Melito, Irenaeus, Theophilus, Clement, Tertullian, Hippolatus, Origenes, Novatian, Ignatius, Cyprian, Gregory the Wonder-worker, Methodius, Arnobius, dan Lactantius. Jadi ada 18 nama yang saya kutipkan.

Seandainya memang Aristides, Justin Martyr dan Polycarp memang tidak mengajarkan Tritunggal, berarti baru 3 pendapat yang digugurkan oleh JS. Lalu bagaimana dengan 15 pendapat yang lain? Karenanya kalau hanya menggugurkan 3 dan berkesimpulan semacam di atas, jelas sangat lucu. Katakanlah bahwa memang Aristides, Justin Martyr dan Polycarp tidak mengajarkan Tritunggal atau tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah, lalu bagaimana dengan kata-kata Mathetes : “Ini adalah Ia yang berada dari kekal, yang sekarang disebut Sang Putera”. Bagaimana dengan kata-kata Tatian the Syrian : “…Allah telah lahir dalam bentuk seorang manusia”.

Bagaimana dengan kata-kata Melito dari Sardis : “Aktivitas dari Kristus….memberikan indikasi dan jaminan pada dunia tentang keilahian-Nya yang tersembunyi di dalam daging. … Ia menyembunyikan tanda-tanda keilahianNya walaupun Ia adalah Allah yang sejati sebelum segala zaman”. Bagaimana dengan kata-kata Irenaeus : “Selanjutnya Ia (Allah) menciptakan segala sesuatu, bersama Firman-Nya yang dengan tepat disebut Allah dan Tuhan, …”, “…Kristus Yesus adalah Tuhan kami, dan Allah, …”. ““Yesus Kristus adalah satu dan sama, satu-satunya Anak Allah, Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna”.

Bagaimana dengan kata-kata Clement : “Anak-Nya Yesus, Firman Allah adalah instruktur kita…Ia adalah Allah dan pencipta”, “Aku mengerti bahwa tidak ada hal lain lagi yang lebih daripada Tritunggal Yang Kudus…Yang ketiga adalah Roh Kudus, dan Anak yang kedua, yang olehNya segala sesuatu diciptakan menurut kehendak Sang Bapa”.

Bagaimana dengan kata-kata Origen : “Tidak ada dalam Tritunggal yang dapat disebut yang terbesar atau lebih kecil, …”, “…Yesus Kristus sendiri berasal dari Allah Bapa sebelum segala ciptaan ada… Walaupun Dia Allah, Dia menjadi daging dan mengambil rupa manusia, namun DIA TETAP DIA ADANYA, yaitu ALLAH”. Bagaimana dengan kata-kata Novatian : “…Dia sebagai Anak Allah yang adalah Allah…. karena itu, biarlah mereka yang membaca bahwa Yesus Kristus Anak Manusia itu adalah manusia juga membaca bahwa Yesus yang sama juga adalah Allah dan Anak Allah”.

Bagaimana dengan kata-kata Ignatius : “Kita juga punya seorang tabib yaitu Tuhan Allah kita, Yesus Kristus,…”, “Bagi Allah kita Yesus Kristus, ada di dalam Bapa adalah penyataan yang lebih jelas” Bagaimana dengan kata-kata Cyprian : Siapa yang menyangkal Yesus sebagai Allah tidak dapat menjadi bait Roh Kudus”. Bagaimana dengan kata-kata Gregory the Wonder-worker : “…kita percaya bahwa 3 pribadi yang disebut Bapa, Anak dan Roh Kudus menyatakan memiliki satu ketuhanan”. Bagaimana dengan kata-kata : “Karena kerajaan Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu, bahkan substansi mereka adalah satu dan kedaulatanNya satu. Yang mana, dengan pemujaan yang satu dan sama, kita menyembah satu Allah dalam 3 pribadi”.

Bagaimana dengan kata-kata Arnobius : “Apakah Kristus Tuhanmu? Memang Dia Tuhan, dan Allah dari kuasa yang tersembunyi”. Bagaimana dengan kata-kata Lactantius : “…Jadi Dia Allah dan manusia..”. Silahkan gugurkan semua ini dulu baru bilang bahwa saya memanipulasi ajaran bapa-bapa gereja. Kalau anda hanya bisa gugurkan 3, paling-paling yang bisa anda buktikan adalah bahwa saya salah dalam memahami ajaran 3 tokoh ini tapi tidak pernah bisa meruntuhkan kesimpulan bahwa bapa-bapa gereja memang mengajarkan Tritunggal dan keallahan Yesus. Karena itu kesimpulan yang anda buat di atas terlalu tergesa-gesa. Peribahasa/ungkapan yang cocok untuk hal ini selain ‘Jauh Panggang Dari Api’ adalah ‘Jauh Julius Dari Pintar’.

Hanya Dua Subjek

Ketika saya mengutipkan kata-kata Justin Martyr, JS mengomentarinya dengan berkata : “…Kutipan ini, hanya menunjukkan dua subjek. Di mana subjek ketiganya?....Kutipan EAS pada kalimat terakhir, ‘Justin Martyr yang hidup pada tahun 150 M sudah percaya bahwa Yesus adalah Allah”, tentu tidak sama secara tersurat, ia percaya doktrin Tritunggal.

Ini namanya: Indah kabar dari rupa (kabar biasanya melebihi keadaan sebenarnya). Memang kalau diperhatikan kutipan-kutipan yang saya berikan, kebanyakan hanya menyatakan 2 subyek (Bapa dan Anak). Tetapi tidak semua kan? Ada juga kutipan yang membicarakan 3 subyek (Bapa, Anak dan Roh Kudus). Silahkan lihat kembali kutipan-kutipan tersebut! Apa jawabmu tentang yang 3 subyek itu? Lalu tentang kutipan yang hanya 2 subyek saja, he…he… kata-kata anda itu kata-kata yang ngawur. Sepertinya anda perlu latihan membaca dengan baik. Harusnya anda memahami dalam konteks apa bapa-bapa gereja itu berbicara. Kalau yang diperdebatkan adalah keilahian Kristus, maka tentu Roh Kudus tak dibicarakan di sana. Sama seperti dalam Sidang Gereja Nicea yang dibicarakan hanya keilahian Yesus, bukan Roh Kudus. Tetapi itu tak berarti mereka tak percaya bahwa Roh Kudus adalah Allah.

Mengikuti cara berpikir anda maka saya juga bisa mengatakan hal yang sama. Dalam buku tipis kalian berjudul ‘Saksi-Saksi Yehuwa, Siapakah Mereka? Apakah yang Mereka Percayai?’, hal 13, dituliskan ‘Inti Kepercayaan Saksi-Saksi Yehuwa’ sebanyak 42 point / hal, tetapi anehnya di sini sedikitpun tak disinggung apa pun berkenaan dengan ‘Roh Kudus’. Bolehkah karena itu saya berkata bahwa Saksi-Saksi Yehuwa tidak mempunyai ajaran apa pun tentang Roh Kudus?

He..he.. kalian memang mempunyai kebiasaan membuat aturan/rumus yang diterapkan kepada pihak lain tetapi tidak menerapkannya kepada diri sendiri atau melanggar aturan/rumus buatan sendiri itu. Karena itu wajar kalau yang disebutkan di sana hanya 2 subyek karena konteks yang dibicarakan bapa-bapa gereja itu adalah tentang Yesus. Yang jelas kalau bapa-bapa gereja itu mempercayai Yesus sebagai Allah, maka mereka pasti bukan Unitarian! Betuuullll tidak????

Masalah Kutipan

Mengenai masalah kutipan, JS menulis : “Akan tetapi, sebelumnya terus terang saya ragu terhadap kutipan yang dipakai? EAS mencantumkan dengan metode (cara) yang tidak lazim, sebagaimana sudah dikutip di atas seperti ini: Justin Martyr, First Apology, ch 63; Dialogue with Trypho, ch 56, dan 63; Justin Martyr in Chap. LXVI; Dialogue of Justin with Trypho, …. Memang benar Justin Martyr menulis beberapa buku seperti Dialogue With Trypo dan First Apology dalam bahasa Yunani. Tetapi apakah EAS memiliki buku-buku ini. Saya yakin tidak. Jadi secara metode, EAS harus mencantumkan sumber bahan yang menulis buku-buku Justin Martyr. Jika sumber itu berupa buku, apa nama judul bukunya. Kalau dalam bahasa asing, kutip pula bahasa aslinya.

Metode semrawut ini, apa memang disengaja untuk menutupi sesuatu sehingga pembaca bingung? Dengan demikian, pernyataan EAS pada tulisan terakhirnya (Timex, Jumat, 12/12/2008:4), “Saya sudah membuktikan bahwa hampir sebagian besar kutipan yang dilakukan oleh Frans Donald adalah hasil penipuan dan manipulasi…siapa bisa jamin bahwa dalam buku-buku…Frans mengutip dengan jujur kalau sebagian besar dengan cara tidak jujur?”, pantas dikembalikan pada EAS?” Sebelum saya menanggapi masalah kutipan ini, satu hal yang perlu saya katakan adalah bahwa kelihatannya logika JS ini sedikit payah.

Saya mengatakan kalimat di atas setelah membuktikan bahwa Frans Donald melakukan pengutipan sebagian yang sifatnya menipu. Tetapi JS belum membuktikan bahwa saya melakukan hal seperti itu. Ini adalah 2 hal yang berbeda, jadi jangan menyamakan keduanya. Penyamaan keduanya hanya memperlihatkan lemahnya logika anda.

Anda yakin bahwa saya tidak punya buku-buku itu? He..he..emangnya anda dukun? Biar saya beritahu pada anda bahwa saya memiliki semua buku itu walaupun tidak di dalam bahasa Yunaninya melainkan yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dalam bentuk e-book atau electronic book. Jadi saya tidak mengutip dari buku lain yang mengutip kata-kata bapa-bapa gereja itu melainkan mengutipnya dari buku bapa-bapa gereja itu sendiri yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Salahkah itu? Anehkah itu? Saya mempunyai sebuah CD yang namanya “New Advent CD-ROM” (Second Edition). Di sana diberikan keterangan sebagai berikut : Translated by Marcus Dods and George Reith. From Ante-Nicene Fathers, Vol. 1. Edited by Alexander Roberts, James Donaldson, and A. Cleveland Coxe. (Buffalo, NY: Christian Literature Publishing Co., 1885.) Revised and edited for New Advent by Kevin Knight. Saya juga mempunyai sebuah program Alkitab yang namanya PC.

Study Bible 5 yang di dalamnya memuat tulisan bapa-bapa gereja itu dalam bahasa Inggris. Saya juga mempunyai buku dengan judul “The Early Christian Fathers” yang ditulis oleh Henry Bettenson (Oxford University Press, 1969) yang berisi ajaran dari bapa-bapa gereja. Silahkan anda periksa di sana dan buktikan bahwa saya telah memanipulasi ajaran/iman bapa-bapa gereja seperti tuduhan anda. Anda menuntut saya memberikan kutipan dalam bahasa aslinya (Yunani)? Saya anggap anda terlalu mengada-ada.

Tetapi kalau kutipan dalam bahasa Inggris itu masih bisa diterima, dan bisa dilakukan, lalu disertai terjemahan. Tetapi masalahnya, tulisan jadi terlalu panjang, padahal menulis dalam koran Timex ini bukannya tak terbatas. Jadi, begini saja, yang mana yang anda tidak percayai, silahkan ditanyakan, dan saya akan buktikan. JS menulis : “Apakah ini juga bukan maling teriak maling? Tentu pembaca yang lebih tahu. Saya hanya ingin lagi menyatakan: Indah kabar dari rupa.

Soal kutip mengutip itu adalah masalah teknis yang bisa diperbaiki kemudian. Janganlah mengabaikan peribahasa yang sudah terbukti: Tiada gading yang tak retak. Silakan EAS memperbaiki sumber kutipan pada tanggapan berikut, pasti FD akan melakukan hal yang sama, maka selesailah masalah teknis ini. Itu namanya, etika dalam berargumen. He…he… anda belum membuktikan kesalahan saya tetapi sudah bilang “maling teriak maling”? Anda payah sekali dalam berargumentasi. Tepat sekali ungkapan yang saya buat sendiri “Jauh Julius Dari Pintar”.

Memang tidak ada gading yang tak retak tapi masalahnya dengan Frans Donald adalah ia telah dengan sengaja memanipulasi data-data untuk mendukung pandangannya. Apa itu tak layak disebut sebagai licik? Jadi peribahasa “tak ada gading yang tak retak” itu cocok untuk saya kalau memang saya salah karena tidak memberikan/melakukan kutipan seperti yang anda mau. Tapi jelas itu tidak cocok diterapkan pada Frans yang jelas secara sengaja memanipulasi data. Anda berkata : “Terasa kanak-kanak ungkapan EAS ini, “Salahkah jika Sdr. Anton Bele berkata ‘Anathema Sit!?’ Silahkan pembaca menilai sendiri!!! Saya hanya menghadirkan Frans Donald yang sudah ‘telanjang’ di hadapan para pembaca sekalian dan silahkan masing-masing orang memberikan penilaian kepada si Unitarian ini!!”.

Weleh-weleh ini namanya: Lain gatal lain digaruk (lain sakit lain obatnya). JS, ingatlah bahwa dalam tulisan saya kali lalu, saya membahas 2 hal yakni kepercayaan bapa-bapa gereja pra Nicea dan kutipan-kutipan palsu Frans Donald. Lalu bagaimana anda mempersoalkan masalah kutipan saya dari bagian pertama tulisan saya demi membela Frans yang memanipulasi kutipan dalam tulisan saya yang kedua? Tak nyambung bung!!! Weleh-weleh ini namanya lain gatal lain digaruk (lain sakit lain obatnya). He..he… Memang sudah terbukti Frans Donald ditelanjangi kok masih dibela. Lumrah, nabi palsu membela nabi palsu.

Perbandingan-Perbandingan

JS dalam melengkapi argumentasinya juga mengungkapkan beberapa data sebagai perbandingan dengan mengutip Dr. H.R. Boer (A Short History of the Early Church, 1976:110) yang mengomentari hakikat utama pengajaran Para Apoligis seperti Justin Martyr yang mengajarkan bahwa Anak (Yesus) sebenarnya adalah ciptaan dari Bapa di mana Ia lebih rendah dan bergantung kepada Bapa. Juga kutipan dari Didache dan beberapa sumber lain seperti termasuk tentang Polycarp. Sdr. JS, kalau anda meneliti tulisan saya kali lalu, saya mengatakan bahwa bapa-bapa gereja pra Nicea sudah mempercayai doktrin Tritunggal tetapi saya tidak mengatakan bahwa doktrin Tritunggal yang mereka pahami itu sudah sempurna. Bahkan saya mengatakan bahwa di akhir semua kutipan itu : “Demikianlah iman bapa-bapa gereja pada masa pra konsili Nicea.

Jelas terlihat bahwa mereka percaya akan doktrin Tritunggal dan keallahan Yesus. Walaupun ada beberapa di antara mereka yang mempunyai konsep Tritunggal yang tidak sempurna namun jelas bahwa iman kepada Allah Tritunggal itu sudah hidup dalam hati dan pikiran mereka jauh sebelum diselenggarakannya konsili Nicea.

Jadi saya mengakui bahwa pandangan bapa-bapa gereja itu belum sempurna. Louis Berkhof menggambarkan ajaran dari bapa-bapa gereja ini sebagai berikut : “…Di sana tidak ada kesegaran dan keorisinilan, kedalaman dan kejelasan yang sama. Dan ini tidak mengherankan, karena itu berarti perpindahan dari kebenaran yang diberikan oleh pengilhaman yang tak bisa salah kepada kebenaran yang direproduksi oleh pelopor-pelopor yang bisa salah” (The History of Christian Doctrines, hal 38). Berkhof melanjutkan : “Ajaran mereka bercirikan kemiskinan tertentu. Mereka pada umumnya sesuai sepenuhnya dengan ajaran Kitab Suci, sering dituliskan dalam kata-kata Kitab Suci sendiri, tetapi menambahkan sangat sedikit sebagai penjelasan dan sama sekali tidak sistematis” (Ibid, 38-39). Itulah gambaran tentang ajaran bapa-bapa gereja.

Tetapi apakah itu berarti bahwa mereka tidak mempercayai doktrin Tritunggal? Simak pendapat Pdt. Budi Asali tentang hal ini : “Adanya ajaran / kepercayaan sesat dalam kalangan bapa-bapa gereja pra-Nicea tidak berarti bahwa mereka tidak mempunyai ajaran / kepercayaan yang benar / baik. Sebetulnya ajaran yang benar tentang Kristologi dan tentang Allah Tritunggal, sudah ada dalam bapa-bapa gereja ini, tetapi mungkin tidak ada yang mempunyainya secara keseluruhan.

Jadi seandainya ajaran-ajaran tersebut dikelompokkan dalam 10 kelompok, maka mungkin bapa gereja A mempercayai pandangan kelompok 1,5,9,10; bapa gereja B mempercayai pandangan kelompok 2,4,7,8; bapa gereja C mempercayai pandangan kelompok 3,5,6,10, dst. Jadi seluruh pandangan yang benar tentang Kristologi dan Allah Tritunggal, sudah ada, tetapi terpencar-pencar dalam diri dari banyak bapa-bapa gereja.

Baru pada saat Sidang Gereja Nicea, yang melahirkan Pengakuan Iman Nicea dan selanjutnya, maka ajaran / kepercayaan tentang Kristologi dan Allah Tritunggal yang benar betul-betul menjadi solid dalam seluruh gereja yang benar”. (Bagaimana Menaklukan dan Membongkar Fitnah/Dusta/Kepalsuan Saksi-Saksi Yehuwa; Jilid IV : 65).

Jadi apakah aneh kalau untuk mempelajari Allah yang tidak terbatas gereja membutuhkan berabad-abad untuk mendapatkan kesimpulan yang betul-betul lengkap? Karena itu sekalipun Aristides maupun Polycarp tidak menyinggung kesatuan di antara ketiga pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus), sekalipun doktrin Justin Martyr cacat, tidak bisa disimpulkan bahwa mereka atau lebih daripada itu bapa-bapa gereja/apologist pra Nicea tidak percaya akan doktrin Tritunggal.

Polycarp sendiri dalam doa terakhirnya pada waktu api membakar dirinya mengatakan : “Tuhan Allah yang maha kuasa, Bapa dari AnakMu yang kekasih dan terpuji / diberkati, Yesus Kristus, ...Aku memuji Engkau karena menganggap aku layak untuk hari dan saat ini sehingga aku bisa ada di antara martir-martir-Mu dan meminum cawan dari Tuhanku Yesus Kristus, kepada kebangkitan hidup kekal dari jiwa dan tubuh dalam ketidakbusukan dari Roh Kudus. ... Untuk mana aku memuji Engkau untuk semua belas kasihan-Mu; Aku memuji Engkau, aku memuliakan Engkau, melalui Imam Besar yang kekal, Yesus Kristus, AnakMu yang kekasih, dengan siapa bagi diriMu sendiri dan Roh Kudus, kemuliaan sekarang dan selama-lamanya. Amin” (Philip Schaff; History of the Christian Church, vol II, hal 670). Perhatikan kata-kata ini kelihatannya menunjukkan kepercayaan kepada Allah Tritunggal, dan kekekalan Yesus.

Bersambung…

* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)

APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (3)

Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)

Oleh:Esra Alfred Soru


Dalam tulisan sebelumnya saya sudah membahas maksud dari kata-kata Dr. Eben Nuban Timo yang saya kira salah dipahami oleh JS. Yang dimaksudkan Dr. Eben sama sekali lain daripada yang dipahami JS. Karena ketidakpahaman inilah makanya JS mengeluarkan kalimat ngawur : ‘Jadi ‘karena tuntutan zaman’, berarti penyebabnya bukan dari dalam (tuntutan Alkitab), sebaliknya tuntutan (faktor) dari luar Alkitab.

Mengapa bukan tuntutan Alkitab? Karena Alkitab tidak pernah menulis tentang jati diri Allah Tritunggal/Trinitas’ dan juga kalimat ngawur lainnya : ‘Secara tidak langsung menunjukkan ajaran Trinitas telah mengalami desakan supaya sejalan dengan kecenderungan zaman (trend) memiliki sejarah yang panjang.

Hanya orang yang tidak mengerti Kitab Suci yang menganggap bahwa dasar dari doktrin Tritunggal bukanlah Alkitab melainkan tuntutan zaman. Kalau memang karena tuntutan zaman seperti yang dipahami JS, saya ingin bertanya, sekarang zaman sudah berubah, lalu mengapa doktrin itu tetap? Sedikit catatan untuk Dr. Eben Nuban Timo : Dr. Eben, saya rasa JS telah salah memahami apa yang pak Doktor katakan. Tapi yang tahu persis adalah pak Doktor sendiri sebagai penulisnya.

Kalau apa yang saya katakan ini benar, tolong pak Doktor mengklarifikasi dan meluruskan jalan pikiran si Saksi Yehuwa yang sok tahu ini. Tapi seandainya yang pak Doktor maksudkan memang seperti kesimpulan JS, maka saya menganggap bahwa pak doktor dan JS sama parahnya, sama kacaunya. Kembali ke persoalan tentang progressive revelation, saya sudah buktikan itu dari Kitab Suci. Dengan kata lain apa yang saya katakan ini ada dasar Kitab Sucinya.

Tetapi mana dasar Kitab Suci dari keberatan JS? Tidak ada? Jadi anda hanya memakai logika saja tanpa Kitab Suci? Masih ingat teori anda di awal tulisan anda agar kita membandingkan ayat-ayat dan mempertimbangkan artinya? Teori anda itu bagus sekali tapi pelaksanaannya nol besar (nol kaboak). Ungkapan yang cocok bagi kesenjangan antara teori anda dan pelaksanannya adalah : “Bagaikan Bumi dan Langit” atau boleh juga “Indah Kabar Dari Rupa” atau boleh juga “Jauh Panggang Dari Api”. Ha…ha…ha… Karena itu kata-kata Frans Donald sebagaimana yang anda kutip : “Bagi saya cukup jelas, sejarah tidak bisa disangkal lagi, Trinitas yang menyatakan Yesus sebagai Allah sejati adalah berasal dari alam pikir filsafat Yunani.

Filsafat Yunani memang sangat sesuai untuk kebudayaan debat (Apologet) dan adu filosofi karena memiliki multi tafsir dalam pemaknaannya. Dengan filsafat Yunani, hitam bisa dibilang putih, putih bisa dibilang hitam. Tiga bisa dibilang satu, satu dibilang tiga. Sangat berbeda dengan konsep Yahudi, tiga ya tiga, satu ya satu….” adalah kata-kata yang ngawur. Frans Donald sok mengerti Yunani dan Ibrani. Coba suruh dia beri contoh dari kata-katanya di atas. Jangan asal bicara!

Terhadap kata-kata Frans Donald itu JS menulis di bawah judul kecil “Fundamentalis-buta” : Pendapat FD yang bernuansa sejarah ini, senada dengan ENT yang adalah penganut Trinitas/Tritunggal, tetapi mengapa EAS bersikap tidak jujur dan membantah? Dalam tanggapan baliknya (Timex, Jumat, 25/1/2007:4), EAS menulis, “Apa yang dituduhkan oleh FD ini mirip sekali dengan tuduhan murahan aliran Saksi Yehovah....FD berkata ‘sejarah telah membuktikan?’ Mana sejarahnya? Coba buktikan! Jangan cuma ngomong dong!” Aneh pendapat EAS ini.

Sudah ada bukti sejarah yang menumpuk bahwa adanya ajaran Tritunggal ‘karena tuntutan zaman’ (pendapat Dr ENT) sebagai faktor luar (bukan Alkitab), tapi meminta bukti yang bagaimana lagi? Jelas ini mengada-ada. Hanya orang-orang fundamentalis-buta yang memang sering bersikap tidak masuk akal. He…he… maaf saya hanya bisa tertawa untuk hal ini karena sudah saya jawab di atas maupun dalam tulisan sebelumnya terutama tentang pandangan Dr. Eben Nuban Timo.

Seandainya memang yang dimaksudkan Dr. Eben Nuban Timo seperti yang anda maksudkan, itu hanya menunjukkan bahwa pandangan semacam itu adalah pandangan yang sangat konyol dan tak layak disebut sebagai bukti sejarah. Seandainya memang yang dimaksud Dr. Eben Nuban Timo seperti yang anda maksudkan sehingga anda pegang kata-katanya sebagai dasar, saya justru hendak bertanya.

Layakkah anda percaya pada kata-kata orang yang tidak percaya Alkitab sepenuhnya adalah Firman Allah? (Saya bisa buktikan bahwa Dr. Eben memang tidak percaya Alkitab sepenuhnya adalah Firman Allah). Layakkah anda percaya pada kata-kata orang yang menganggap bahwa Yesus bisa keliru? (Beberapa waktu lalu Dr. Eben menulis bahwa Yesus bisa keliru menilai orang).

Layakkah kata-kata dari orang seperti itu anda jadikan sebagai dasar pijakan dan menganggapnya sebagai bukti sejarah? Betapa menyedihkannya! Masih pada bagian yang sama JS berkata : “Pencetus doktrin Tritunggal/Trinitas adalah agama Katolik Roma, melalui New Catholic Encyclopedia, 1967:299, Volume 14, mengakui dengan terus terang, ‘Perumusan ‘satu Allah dalam tiga Pribadi’ tidak ditetapkan dengan tegas, dan pasti tidak dilebur sepenuhnya dalam kehidupan Kristen dan pengakuan imannya, sebelum akhir abad ke-4.

Namun tepatnya rumus inilah yang pertama-tama mendapat nama dogma Tritunggal. Di antara Bapa-Bapa Rasuli, tidak ada bahkan sedikit pun yang mendekati sikap atau pandangan seperti itu” (Catatan : Kutipan dari bahasa Inggrisnya saya hilangkan demi menghemat tempat). Sdr. JS, kalau saya mengaku sebagai presiden haruskah orang percaya bahwa saya adalah presiden? Hai JS, anda percaya karena anda mau percaya.

Anda percaya karena itu mendukung pandangan anda. Sekarang pikirkan, pada abad ke 4 itu belum ada Gereja Roma Katolik! Lalu bagaimana Gereja Roma Katolik bisa merupakan pencetusnya? Istilah PAUS saja baru mulai ada pada awal abad ke 7, sekalipun lalu digunakan secara surut, sehingga bishop Roma pada abad-abad sebelumnya lalu juga disebut Paus.

Anda mengatakan : “Jadi, pencetusnya sendiri (pemegang hak cipta) mengakui dengan jujur berdasarkan sejarah tentang asal-usul doktrin Tritunggal”. He…he…dari mana anda menyimpulkan mereka mengakui dengan jujur? Yang mana yang anda setujui dan tidak setujui, semua tergantung presupposition (pra anggapan) anda! Itu menunjukkan anda orang subyektif dan tidak jujur!

Jelas ada!

Dalam tulisan saya (Timex, 12 Des 2008) yang lalu saya katakan bahwa : “Kaum Trinitarian sendiri bukannya tidak tahu bahwa kata ‘Tritunggal’ tidak terdapat di dalam Alkitab. Walaupun kata tersebut tidak ada di dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa konsepnya juga tidak ada? Konsepnya jelas ada!” Nah, rupanya JS mempersoalkan kata “jelas” yang saya pakai ini dan berkomentar sebagai berikut : “Jika demikian, batasan dari kata-kata begitu jelas atau konsepnya jelas ada, sampai seberapa jauh? Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 2001:465 mencatat kata jelas (dalam definisi pertama) sebagai, “terang; nyata; gamblang”.

Perhatikan kata nyata yang diapit dengan dua kata terang dan gamblang. Dari definisi ini, doktrin Tritunggal/Trinitas sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai hal yang terang, nyata dan gamblang, karena memang istilah itu tidak ada secara tersurat di antara ayat-ayat Alkitab.

Karena sedang mewacanakan jati diri Allah, maka dalam perspektif ini, Allah sejati dari Alkitab dapat dipastikan bukan Allah Tritunggal/Trinitas. Komentar saya untuk kata-kata JS ini sebagai berikut : Pertama, Untuk mencari tahu arti kata “jelas”, JS menggunakan KBBI. Di bagian yang lain JS mengatakan bahwa : ‘Memang EAS sendiri menjawabnya (Timex, Sabtu, 27/1/2007:4, kolom pertama dan kedua) dengan mengutip panjang-lebar dari buku Westminster Confession of Faith dan juga dari buku Allah Tritunggal karya junjungan EAS, Stephen Tong. Dengan mengacu pada dua buku karangan manusia (jangan lupa ini hanya sumber data tambahan)”. Sekarang saya tanya pada JS, pada saat anda pakai KBBI, kok anda tidak bilang buku itu ditulis / dikarang manusia? Waktu anda mengutip Will Durant, kok anda tak bilang buku itu ditulis/dikarang manusia ? Mengikuti cara berpikir anda, saya juga bisa katakan “jangan lupa ini hanya sumber data tambahan”.

Kedua, konsep tentang Tritunggal jelas atau tidak, terang atau tidak, tergantung siapa yang melihat. Bagi kami (kaum Trinitarian), doktrin Allah Tritunggal sungguh-sungguh jelas dinyatakan dalam Kitab Suci, tetapi bagi orang yang buta / membutakan diri, itu pasti lain lagi. Saya tentu tidak memaksudkan ‘jelas/terang bagi orang yang buta / membutakan diri! Kalimat anda di atas : Karena sedang mewacanakan jati diri Allah, maka dalam perspektif ini, Allah sejati dari Alkitab dapat dipastikan bukan Allah Tritunggal/Trinitas” menunjukkan kesimpulan yang muncul dari pikiran yang begitu dangkal.

Lagi-lagi rumus dari mana? Kalau anda cukup punya nyali, saya tantang anda untuk debat tentang doktrin Tritunggal dari Kitab Suci. Apakah Alkitab memang mengajarkan doktrin Tritunggal atau tidak? Bukankah anda sendiri berkata bahwa : “Harus diingat, semua data sebagai dasar argumen, jika itu hanya samar-samar “atau indikasi yang mengarah”, bukanlah sumber primer (terilham), melainkan data tambahan (subsider). Jika sumber data tambahan dibalik atau dijadikan sebagai data primer, akan terjadi reduksi pemaknaan terhadap apa yang ditafsirkan”.

Itu berarti sejarah termasuk di dalamnya pandangan bapa-bapa gereja bukanlah sumber primer. Selain itu para penulis sejarah seringkali memberikan data sejarah yang berbeda bahkan bertentangan satu sama lainnya tergantung presuposisinya. Karenanya anda bisa mengungkapkan data sejarah yang menolak doktrin Tritunggal dan saya bisa mengungkapkan data sejarah yang mendukung doktrin Tritunggal. Jadi bagaimana kalau debatnya dari sumber primer saja yakni Kitab Suci dan kita akan lihat doktrin Trinitarian saya atau Unitarian anda yang akan tumbang. Bagaimana? Terima tantangan saya?

Tanggapan-Tanggapan Lepas

Mengingat banyaknya komentar JS yang agak sukar disistematiskan dalam tulisan saya ini, baiklah saya akan kutipkan kata-kata JS dan memberikan komentar saya atasnya.

JS menulis : Pasti tumbang! Jika dipermasalahkan lagi, konsep “berakar kuat” itu yang seperti apa? Lha istilah Tritunggal/Trinitas saja tidak ada, lalu bagaimana bisa disebut berakar kuat? Apa bedanya dengan pengakuan sebelumnya yang telah diuraikan pada bagian pertama bahwa konsep ajaran Tritunggal adalah “sangat jelas” ada dalam Alkitab? Tetapi kenyataan (bukti), bangunan itu dibangun di atas pasir yang tidak stabil. Boleh saja EAS dkk secara bombastis menyatakan sebagai berakar kuat, tetapi jika akarnya tumbuh di atas pasir yang rapuh, lambat atau cepat, pasti tumbang! Semua ini menunjukkan doktrin Tritunggal, “berakar” pada gagasan khayalan, bagaikan mimpi di siang hari bolong.

Tanggapan saya : He..he…orang ini lagi mimpi kali ye???? Dalam sejarah justru yang tumbang adalah Unitarian bukan Trinitarian!

JS menulis : “Dengan demikian, saya ingin tertawa membaca ungkapan selanjut EAS, ‘…supaya manusia tidak jatuh pada politeis.’ Artinya di luar dari doktrin Tritunggal, menurut EAS, ‘orang pasti jatuh pada politeis!’ Nah, pertanyaannya, apakah Patriakh Abraham yang sama sekali tidak mengenal doktrin Tritunggal/Trinitas, dan bahkan Allah Tritunggal/Trinitas, adalah termasuk politeis? Biarlah EAS menjawabnya sendiri.

Tanggapan saya : Ya iyalah masa iya dong!!! (ha..ha..) Saya akan jawab sendiri! Bahwa Abraham tidak jadi politeis, tak berarti kecenderungan seperti itu tak ada. Dia dipilih, sehingga otomatis dicerahi secara khusus. Mayoritas, bahkan hampir semua orang zaman Perjanjian Lama adalah politeis! Cara argumentasi anda ini sama dengan kalau ada orang mengatakan bahwa semua orang condong pada dosa, dan anda lalu tidak setuju dengan menunjukkan Yesus sebagai contoh orang yang tidak condong pada dosa. Di samping itu penekanan saya adalah bahwa dalam Perjanjian Lama yang ditekankan monoteismenya, dan ‘kejamakan’nya hanya samar-samar. Sedang dalam Perjanjian Baru, ‘kejamakan’nya menjadi jelas. Lagi-lagi, ‘jelas’ itu hanya bagi yang tidak buta / membutakan diri.

JS menulis : “…EAS berangkat dari “bawah”, kondisi riil yang mengikuti arus trend duniawi. Tidak usah heran jika banyak orang yang berhati tulus seperti Prof JB Banawiratma, Romo Tom Jacobs, dan Hortensius F. Mandaru serta Frans Donald, yang belakangan berbalik pendapat bahwa Yesus bukan Allah Anak, tetapi Putra/Anak Allah. Ya, ternyata Yesus memiliki iman kepada Allah Yahweh!

Tanggapan saya : Anda mengatakan tulus??? Setelah Frans Donald memberikan kutipan-kutipan yang dimanipulasi sebagaimana sudah saya buktikan dalam tanggapan saya kepadanya anda masih mengatakan dia tulus? He…he…he. Kelihatannya anda tak bisa bedakan antara tulus dan licik. Benar-benar “jauh panggang dari api” bahkan jauh sekali panggangnya dari apinya. (Ha…ha...ha…). Sdr. JS, bahkan seandainya mereka tulus, anda harus ingat bahwa orang bisa sesat dengan hati yang tulus! Mau bukti? Saya berikan dari Alkitab! Amsal 14:12 : ‘Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut’. Bandingkan juga dengan Yoh 16:1-3 : "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.

Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tidakkah “menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” menunjukkan adanya ketulusan hati? Roma 9:30-10:3 : Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu.

Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar.

Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. Perhatikan ayat ini dengan baik. Israel jelas tersesat. Dikatakan bahwa mereka “mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu”, “mereka tersandung pada batu sandungan” dan karenanya Paulus berdoa kepada Tuhan agar mereka diselamatkan. Tetapi bukankah hati mereka tulus sebagaimana dikatakan “mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah”? Lalu mengapa bisa demikian? Jawabnya adalah karena ketulusan mereka itu tak diimbangi dengan “pengertian yang benar”.

Jadi ayat ini menunjukkan bahwa orang bisa tersesat dengan hati yang tulus. Karena itu sekalipun Prof JB Banawiratma, Romo Tom Jacobs, dan Hortensius F. Mandaru serta Frans Donald adalah orang yang tulus, itu tak bisa menjamin bahwa mereka tidak tersesat. Kalau kondisi itu bisa dialami oleh Israel, tidakkah itu terjadi pada mereka yang tulus? Apalagi saya sama sekali tidak percaya bahwa Frans Donald tulus.

Ia telah bertindak licik dengan memberikan kutipan-kutipan yang telah dimanipulasi. Yang tulus saja bisa sesat apalagi yang licik? (He..he…). Sdr. JS, apa yang saya katakan ini ada dasar Kitab Sucinya. Lalu mana dasar Kitab Suci dari teori-teori anda? Atau teori-teori itu anda karang sendiri sewaktu tidur? Ah… “Jauh Panggang Dari Api”!!! Bahkan jauh sekali panggangnya dari apinya”!!!

JS menulis : Sejarah menunjukkan, tidak lama setelah kematian rasul-rasul Kristus, wajah “Kekristenan” yang sesungguhnya mulai berubah, tepat seperti yang Alkitab nubuatkan (Mat. 13:24-30, 37-43; Kis. 20:30). Seperti yang Yesus singkapkan melalui perumpamaan tentang lalang dan gandum, dan melalui ilustrasi tentang jalan yang lebar dan jalan yang sempit (Mat. 7:13, 14). Kekristenan asli akan terus dipraktekkan oleh sedikit orang saja dari zaman ke zaman. Akan tetapi, mereka seolah-olah tertelan oleh mayoritas orang yang seperti lalang, yang memperkenalkan diri dan ajaran sebagai wajah asli Kekristenan.

Tanggapan saya : Saya setuju bahwa mayoritas adalah lalang, tetapi perlu diingat bahwa ada banyak gereja dan golongan / aliran, baik yang besar maupun yang kecil. Baik yang besar maupun yang kecil bisa saja termasuk lalang. Jadi, Unitarian / Saksi Yehuwa jangan mentang-mentang kecil, lalu merasa dirinya pasti adalah gandum!

JS menulis : ‘Tetapi justru itulah kenyataannya yang terjadi pada sekitar abad ketiga dan keempat, pemimpin-pemimpin agama tertentu yang cukup berpengaruh, yang begitu gandrung pada ajaran trinitas dari filsuf kafir asal Yunani, Plato, mulai memodifikasi paham tentang Allah agar sesuai dengan rumus Trinitas. Catatan sejarah yang ternoda ini tidak dapat dipungkiri karena tersebar di berbagai literatur. Bagi orang yang berhati jujur yang ingin mencari kebenaran, tidak pantaskah ia bertanya, “Mungkinkah mereka telah melampaui perkara-perkara yang tertulis?”

Tanggapan saya : He…he… lalu mengapa dalam soal tuntutan zaman dan filsafat Yunani, anda tidak minta bukti tapi langsung percaya dan anggap sebagai kebenaran? Sungguh tidak konsisten !

Bersambung….

* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)

APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (2)

Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)

Oleh:Esra Alfred Soru


Tuntutan Tertulis

Pada bagian pertama tulisan ini saya menuntut JS untuk menunjukkan dasar Kitab Suci mana yang ia pakai yang melandasi pemahamannya bahwa jikalau sebuah kata/istilah tidak ditemukan dalam Kitab Suci maka itu berarti bahwa konsep/ajarannya/dasarnya juga tidak ada. Kelihatannya JS mempunyai argumentasi Kitab Suci tentang hal ini di bagian yang lain dari tulisannya. Ia menulis : ‘Tuntutan tertulis ini apakah tidak terlalu berlebihan? Tidak! Mari dilihat contoh-contohnya di Alkitab. Pertama, di Mat. 4:3-10, maka di ayat 4, 7, dan 10 Yesus mengatakan ‘Ada tertulis’. Jadi ada tiga kali Yesus mengungkapkan “ada tertulis”.

Kedua, di Mat. 12:1-8, ada dua kali (ayat 3 dan 5) Yesus berkata, ‘Tidakkah kamu baca”. Ketiga, Luk. 10:25-29, ada dua kali Yesus berkata (ayat 26), “Jawab Yesus kepadanya: ‘Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di sana?’” Keempat, Luk. 17:32, Yesus berkata, “Ingatlah akan isteri Lot!” (tentu Yesus sedang merujuk pada Kejadian 19:26 yang berbunyi, “...isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam).

Memang semua contoh-contoh ayat ini tidak sedang membicarakan tentang jati diri Allah dari Alkitab, tetapi bisa dijadikan pelajaran (aplikasi) yang menunjukkan bagaimana Tu(h)an Yesus sering kali mengutip, menyadur, atau menyinggung ayat-ayat Alkitab untuk menjawab pertanyaan dan menangani situasi yang dihadapinya.

Di ayat-ayat ini juga, Yesus balik bertanya, mempersilakan si penanya untuk menjelaskan pemahamannya tentang sebuah ayat, dan Yesus mengutip, menyadur, atau menyinggung ayat-ayat itu. Pada abad pertama, gulungan Tulisan-Tulisan Kudus biasanya disimpan di sinagoga. Tidak ada bukti bahwa Yesus mempunyai koleksi pribadi gulungan-gulungan itu, tetapi ia mengenal baik Alkitab yang sering dirujuknya secara leluasa sewaktu mengajar orang lain (Luk. 24:27, 44-47).

Bahkan di Yoh 8:26, Yesus dapat mengatakan bahwa apa yang diajarkannya tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan ia mendengar dari Bapa-Nya sewaktu ia masih di surga. Lalu bagaimana dengan wacana tentang ajaran Tritunggal yang katanya “Alkitabiah” itu, tidakkah seharusnya ingin meniru teladan Yesus? He…he…Sdr. JS, kalau memang tuntutan tertulis itu tidak berlebihan, mengapa kalian juga memakai istilah-istilah yang juga tidak tertulis dalam Alkitab seperti yang sudah saya contohkan pada bagian pertama tulisan ini ? Artinya kalian juga melanggar prinsip ini kan ? Berarti saya juga bisa berkata bahwa apa yang kalian (Saksi-Saksi Yehuwa) buat jelas juga di luar pola dari ajaran Yesus. Saya kembalikan kata-kata anda ‘tidakkah seharusnya kalian juga ingin meniru teladan Yesus?’ Kasihan sekali, kalian sebenarnya membuat peraturan yang menghantam kepala kalian sendiri. Ah, senjata makan tuan ! Senjata makan Julius !

Anda mengutip ayat-ayat di mana Yesus memberikan pengajaran-pengajaran yang eksplisit dan secara tergesa-gesa membuat kesimpulan bahwa semua ajaran harus ada secara eksplisit (ada kata/istilahnya). Anda lupa (atau mungkin tidak tahu ?) bahwa Yesus juga pernah membangun ajaran-Nya dari dasar Kitab Suci yang bersifat implisit. Kaget? Sekarang saya tanya, apakah doktrin tentang kebangkitan orang mati merupakan ajaran yang jelas dalam Kitab Suci atau tidak? Saya yakin orang yang waras akan menjawab ‘Ya !’ Tetapi coba perhatikan dari ayat yang bagaimana Yesus membuktikan hal itu kepada orang-orang Saduki? Coba perhatikan Mat 22:23-32 : “Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan.

Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seorang mati dengan tiada meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan isterinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati.

Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristerikan dia." Yesus menjawab mereka: "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup."”.

Perhatikan bahwa dari Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama yang berbunyi ‘Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub’, di mana dalam kalimat itu tak ada kata / istilah ‘kebangkitan’, ‘orang mati’ dan sebagainya tetapi ternyata Yesus sendiri menarik doktrin kebangkitan orang mati. Anda berani menyalahkan Yesus? Kalau Yesus bisa dan boleh menarik ajaran secara sangat implisit dari teks seperti itu, lalu apa dasarnya untuk mengatakan bahwa karena doktrin Allah Tritunggal tidak mempunyai ayat dasar yang eksplisit, maka doktrin itu salah atau tidak ada? Apa jawabmu JS? Kelihatan bahwa anda hanya memperhatikan sebagian data Kitab Suci lalu tergesa-gesa membuat kesimpulan tanpa memperhatikan bagian Kitab Suci yang lain.

Lalu di mana teori anda yang anda kemukakan di awal tulisan anda : “demi memahami apa yang dikatakan Pengarang Alkitab….perlu mengumpulkan semua ayat yang berhubungan erat dengan topik yang sedang dibahas. Inilah yang harus dilakukan, dalam upaya mencari kebenaran terhadap pokok ini, ingin mendapat kejelasan, dengan membandingkan ayat-ayat dan mempertimbangkan artinya dalam bahasa yang digunakan untuk menulis Alkitab, akan sampai kepada penafsiran yang sesuai dengan Alkitab”.

Teori anda kelihatan bagus, sayangnya anda tidak melakukannya. Jadi boleh dikatakan bahwa tuntutan anda itu adalah penafsiran yang tidak sesuai dengan Alkitab. Apa kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan inkonsistensi kalian ini ? Hmmm…Ya! Ungkapan yang tepat adalah : “Indah Kabar Dari Rupa” atau “Jauh panggang dari api”. Ha..ha..ha… (Maaf, saya tak bisa menahan tawa pada bagian ini). Sdr. JS, tuntutan-tuntutan anda itu ternyata tak ada dasar sama sekali atau membangun di atas dasar yang salah sehingga kata-kata anda layak saya kembalikan : “Sekalipun membuat “sejuta perkataan” atau “sejuta teori”, alangkah hambarnya pada tataran aplikasi, tidak ada pembuktiannya secara tertulis di dalam Alkitab. Ibarat sebuah rumah, “tukangnya” meyakinkan dengan mengatakan bangunan itu “sangat kuat” karena bertumpu pada struktur penyangga, atau fondasinya berdiri di atas batu karang. Tetapi kenyataan (bukti), bangunan itu dibangun di atas pasir yang tidak stabil”. Karena itu semua pernyataan anda di sekitar doktrin Tritunggal yang katanya tak ada dasar ternyata tak ada dasar juga. Merenunglah Julius!

Progressive Revelation

Dalam tulisannya JS juga mempersoalkan masalah Progressive Revelation yang saya ajarkan. Saya mengatakan bahwa : “Memang PL tidak berisikan suatu rumusan yang lengkap tentang tritunggal namun PL berisikan rujukan-rujukan atau indikasi yang mengarah pada doktrin tritunggal. Mengapa demikian? Karena hal ini berkaitan dengan wahyu Allah. Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia lewat Alkitab yang adalah wahyu khusus-Nya.

Meskipun demikian pewahyuan diri Allah ini terjadi secara bertahap. Inilah yang dalam teologi Kristen dikenal dengan istilah ‘Progressive Revelation’ (Wahyu progresif) artinya wahyu yang bersifat semakin maju, makin lama makin jelas, semakin lama muncul penjelasan-penjelasan yang semakin kompleks dan semakin sempurna.” Dan JS setelah mensistematiskan kata-kata saya itu menjadi 3 gagasan lalu berkomentar demikian pada gagasan kedua : “Pertanyaan yang dapat diajukan, mengapa hanya “berisi rujukan-rujukan atau indikasi yang mengarah pada doktrin tritunggal? Apakah sulit bagi pengarang Alkitab, Allah Yang Mahakuasa untuk membuat jelas jati diri-Nya walau itu pada zaman Perjanjian Lama? Pernyataan JS ini menunjukkan bahwa JS sama sekali tak memahami konsep “Progressive Revelation” ini.

Pertama-tama biarlah saya katakan bahwa benar sekali kalau PL berisi rujukan-rujukan atau indikasi-indikasi ke arah doktrin Tritunggal. Salah satu contohnya adalah Kej 1 :26 yang berbunyi demikian : ‘Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Kalau memang Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa digunakan kata ‘Kita’ dalam ayat ini ? Hal yang sama ada dalam Kej 3 :22 dan Kej 11 :7.

Kalau begitu apakah ayat itu bisa diartikan bahwa ada lebih dari 1 Allah? Tentu tidak bisa karena ada bagian Alkitab yang lain yang menekankan dengan tegas bahwa Allah itu esa. Menafsirkan seperti itu akan jatuh pada politeisme. Jadi tidakkah ini adalah indikasi ke arah doktrin Tritunggal? Dalam ayat hanya dipakai bentuk jamak (KITA) tetapi tidak diketahui jumlah dari KITA itu. Bisa 2, bisa 7, bisa 17, bisa 1000.

Tetapi doktrin Tritunggal mengajarkan bahwa ada 3 pribadi Allah seperti kesaksian PB. Jadi Kej 1:26 hanya bisa dianggap sebagai indikasi ke arah doktrin Tritunggal. Minimal lewat ayat itu kita bisa mengetahui adanya ‘kejamakan tertentu’ dalam diri Allah. Nah, indikasi-indikasi semacam ini muncul dalam PL.

Lalu mengapa PL hanya berisi rujukan-rujukan atau indikasi saja ? Apakah sulit bagi pengarang Alkitab, Allah yang Mahakuasa untuk membuat jati diri-Nya jelas sebagaimana yang dipertanyakan JS? Jawabannya adalah tidak sulit bagi Allah untuk melakukan itu.

Yang sulit adalah manusianya yang adalah penerima wahyu Allah. Allah adalah Allah yang berada di atas rasio dan pengertian manusia (Ayub 11:7-9) dan karenanya manusia dalam kapasitasnya yang terbatas tak mungkin memahami keseluruhan hakikat Allah. Itulah sebabnya Ia menyatakan diri-Nya secara bertahap di mana Ia menyatakan diri-Nya secara jelas di dalam PL sebagai Allah yang esa sambil memberikan sedikit indikasi tentang adanya kejamakan tertentu di dalam pribadi-Nya.

Jadi persoalan utama bukan pada Allah tetapi pada keterbatasan manusia. Bahwa Allah memang menyatakan diri-Nya secara progresif dapat dilihat dalam Ibr 1:1-2 : (1) Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, (2) maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta’.

Mengikuti cara berpikir JS maka pastilah JS akan bertanya apakah sulit bagi Allah yang Mahakuasa untuk berbicara sekali saja kepada nenek moyang kita sehingga harus melakukannya berulang kali ? Apakah sulit bagi Allah yang Mahakuasa untuk berbicara dalam satu zaman saja sehingga Ia perlu melakukannya lagi pada zaman akhir ini ? Apakah sulit bagi Allah yang Mahakuasa untuk berbicara dengan satu cara saja sehingga harus melakukannya dengan pelbagai cara ? Apakah sulit bagi Allah yang Mahakuasa untuk berbicara dengan perantaraan para nabi saja sehingga pada zaman akhir harus berbicara dengan perantaraan Anak-Nya ? He..he... So pasti jawabannya adalah tidak sulit. Kalau tidak sulit, lalu mengapa Allah harus melakukan seperti Ibr 1 :1-2 ? Lepas dari mengapa Allah melakukan itu, jelas bahwa Ia memang melakukan itu. Mau protes ? Silahkan protes pada Allah ! Ajukan pertanyaan-pertanyaan di atas kepada Dia ! Tapi ingat, menolak itu sama dengan mengabaikan Kitab Suci. Ibr 1 :1-2 jelas memperlihatkan kepada kita bahwa Allah tidak langsung memberitahukan kepada manusia di suatu zaman semua hal yang Ia ingin nyatakan.

Bahkan para malaikat pun mengenal Allah dan karya-Nya secara progresif, sebagaimana dikatakan dalam 1 Pet 1:12 : “...berita injil kepadamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh para malaikat”. Yakub Tri Handoko dalam materi Pemahaman Alkitab (PA) di GKRI Exodus tanggal 19 Februari 2008 dengan judul “Doktrin Tritunggal : Perkembangan Konsep Tentang Tritunggal”, hal. 6) memberikan contoh tentang hal ini sebagai berikut : “Salah satu contoh adalah tindakan Allah yang membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa (Kej 3:21). Tindakan ini menyiratkan bahwa akibat dosa harus ditutupi melalui sebuah korban. Pada zaman Musa konsep ini semakin jelas dalam bentuk korban pendamaian (Ul 30:10). Puncak dari konsep ini adalah Yesus Kristus yang menjadi “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29, 36; 1Kor 5:7; 1Pet 1:19).

Ia melanjutkan : “Ternyata yang progresif bukan hanya wahyu yang diberikan Allah, tetapi juga pemahaman (konsep) manusia terhadap wahyu tersebut. Titik tolak yang penting bagi perkembangan konsep ini adalah kehidupan dan karya Yesus Kristus di dunia. Apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus Kristus telah mengubah cara pandang orang-orang Yahudi Kristen abad ke-1 terhadap wahyu Allah sebelumnya. Dalam hal ini kita memiliki dua contoh yang konkrit, yaitu Apolos dan Paulus.

Apolos adalah orang Yahudi yang bersimpati terhadap Jalan Tuhan dan mahir dalam kitab suci, tetapi dia belum memahami ajaran kekristenan secara benar. Setelah mendapat penjelasan dari Priskila dan Akwila, ia semakin yakin dan berani berdebat dengan orang-orang Yahudi lain untuk membuktikan dari kitab suci bahwa Yesus adalah Mesias (Kis 18:24-28). Pengalaman Paulus bahkan lebih dramatis daripada Apolos. Paulus sebelumnya berpikir bahwa tindakannya menganiaya orang-orang Kristen adalah tindakan yang benar, karena mereka adalah orang-orang yang disesatkan oleh Yesus.

Setelah berjumpa sendiri dengan Yesus (Kis 9), dia mengalami pertobatan dan mengakui bahwa semua tindakannya yang dulu telah dia lakukan “tanpa pengetahuan” (1Tim 1:13). Sebagai gantinya, Paulus malah membuktikan bahwa berita injil berakar dari konsep kitab suci Perjanjian Lama (Rom 1:2; 3:21). (Ibid, hal. 7). Dan akhirnya berkesimpulan : “Pemaparan di atas menunjukkan bahwa wahyu (apa yang dinyatakan Allah) dan teologi (apa yang dipahami manusia terhadap wahyu Allah) mengalami perkembangan. Begitu pula dengan doktrin tentang Tritunggal. Allah telah menyatakan hal ini secara tersirat dalam Perjanjian Lama dan wahyu ini semakin jelas pada masa Perjanjian Baru.

Pemahaman orang-orang Kristen pun mengalami perkembangan. Ketika murid-murid bersama dengan Yesus, mereka tidak langsung memahami bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (band. Mat 16:16). Ketika Yesus bangkit dari kematian, murid-murid semakin mengerti bahwa Yesus adalah benar-benar Allah/Anak Allah (Yoh 20:28; Rom 1:4). (Ibid).

Tuntutan Zaman?

Perhatikan kata-kata Yakub Tri Handoko dalam kutipan di atas : “Ternyata yang progresif bukan hanya wahyu yang diberikan Allah, tetapi juga pemahaman (konsep) manusia terhadap wahyu tersebut.....“Pemaparan di atas menunjukkan bahwa wahyu (apa yang dinyatakan Allah) dan teologi (apa yang dipahami manusia terhadap wahyu Allah) mengalami perkembangan.

Begitu pula dengan doktrin tentang Tritunggal. Kelihatannya apa yang dikatakan Yakub Tri Handoko ini mirip dengan yang dikatakan Dr. Eben Nuban Timo seperti yang dikutip JS : “Kita lihat bahwa doktrin Trinitas itu berkembang. Ingat ajaran trinitasnya yang berkembang, bukan Tritunggalnya yang berkembang. Dia berkembang karena tuntutan zaman. Ada orang yang mempersoalkan keilahian Yesus Kristus.

Gereja memberikan jawaban melalui pengakuan iman Nicea. Setelah Nicea orang mempersoalkan lagi keallahan Roh Kudus. Para Patriakh datang lagi ke Konstantinopel. Mereka memberi jawaban dengan membuat pengakuan bahwa Roh itu adalah Allah yang keluar dari sang Bapa melalui Anak. Pengakuan iman Nicea (325) dikembangkan dan mencapai bentuknya di Konstantinopel (381)…”. Kata-kata Dr. Eben ini lalu dikomentari oleh JS : “Perhatikan kalimat ‘karena tuntutan zaman’, mengandung arti, ajaran Tritunggal/Trinitas berkembang ‘karena tuntutan zaman’ karena ada ‘yang mempersoalkan keilahian Yesus Kristus. Jadi ‘karena tuntutan zaman’, berarti penyebabnya bukan dari dalam (tuntutan Alkitab), sebaliknya tuntutan (faktor) dari luar Alkitab. Mengapa bukan tuntutan Alkitab? Karena Alkitab tidak pernah menulis tentang jati diri Allah Tritunggal/Trinitas. Saya kira kata-kata JS ini menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak becus di dalam memahami maksud suatu tulisan. Saya tidak tahu mengapa Dr. Eben Nuban Timo membedakan istilah “Trinitas” dan “Tritunggal” tetapi saya sendiri rasanya tidak melihat ada kesan dari kata-kata Dr. Eben bahwa dasar dari ajaran doktrin Trinitas bukanlah Alkitab.

Ia hanya mengatakan bahwa ajaran Trinitas berkembang dari tuntutan zaman. Tuntutan zaman yang bagaimana? Dr. Eben telah menjelaskannya : “Ada orang yang mempersoalkan keilahian Yesus Kristus. Gereja memberikan jawaban melalui pengakuan iman Nicea. Setelah Nicea orang mempersoalkan lagi keallahan Roh Kudus. Para Patriakh datang lagi ke Konstantinopel. Mereka memberi jawaban dengan membuat pengakuan bahwa Roh itu adalah Allah yang keluar dari sang Bapa melalui Anak…”.

Ini memang benar! Memang demikian sejarahnya. Tetapi atas dasar apa gereja dan para Patriakh itu membuktikan keallahan Yesus dan Roh Kudus ? Dr. Eben tidak mengatakannya tetapi biarlah saya katakan bahwa mereka membuktikan hal-hal itu dari ayat-ayat Kitab Suci PL dan PB. Kalau anda belajar sejarah anda akan tahu bahwa pergumulan tentang kedua doktrin ini selalu menggunakan ayat-ayat Kitab Suci.

Jadi sesungguhnya Kitab Suci telah mengajarkan tentang keallahan Yesus dan Roh Kudus tetapi perumusannya menjadi suatu konsep yang sistematis terjadi lewat perkembangan zaman ketika ada tantangan-tantangan yang bersifat doktrinal kepada gereja. Kalau begitu bagaimana seandainya tidak ada tantangan-tantangan doktrinal itu ? Apakah berarti doktrin Tritunggal tidak akan pernah ada ? Jangan salah, Allahlah yang bekerja dalam sejarah.

Justru Ia bekerja dengan cara sedemikian rupa sehingga muncullah tantangan-tantangan doktrinal terhadap gereja dan Ia juga bekerja sehingga para Patriakh dapat menemukan dasar-dasar kepercayaan Tritunggal itu dalam Kitab Suci (PL dan PB) yang sudah diwahyukan-Nya lalu selanjutnya menyusunnya secara sistematis lewat konsili-konsili.

Bersambung….

* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)

APOLOGETIKA TENTANG DOKTRIN TRITUNGGAL (1)

Tanggapan Untuk Julius Sangguwali (JS)

Oleh: Esra Alfred Soru


Pada tanggal 12-15 Januari 2009 lalu, harian Timex memuat tulisan Julius Sangguwali (selanjutnya disebut JS) di bawah judul “Ikut “Wacana” Doktrin Tritunggal”. JS dalam tulisannya hanya menyebut dirinya sebagai “Pemikir bebas, guru bahasa Inggris, tinggal di Kupang”. Tapi data yang saya temukan dari hasil pelacakan saya, JS sebenarnya adalah seorang anggota grup Saksi-Saksi Yehuwa atau yang lebih dikenal sebagai Saksi Yehovah.

Dulu (tahun 2004) pernah ada seorang Saksi Yehuwa bernama David Yohanes Meyners yang sempat berpolemik dengan saya di koran ini (tentu JS mengenalnya) tetapi entah mengapa sampai hari ini tidak nongol-nongol lagi. Dalam tulisannya JS menentang doktrin Tritunggal yang saya ajarkan atau jabarkan lewat koran Timex ini bahkan menuduhnya sebagai ajaran kafir sambil membela rekannya Frans Donald yang sampai hari ini masih tiarap, belum nongol-nongol juga. Untuk itu maka lewat tulisan ini saya akan memberikan tanggapan saya kepada JS di sekitar persoalan doktrin Tritunggal.

Dalam pembukaan tulisannya, JS menyinggung tentang pertentangan antara pihak Trinitarian dan Unitarian. JS merasa heran mengapa kedua pihak yang sama-sama menggunakan Kitab Suci yang sama kok bisa mempunyai pengertian yang berbeda bahkan bertentangan seperti langit dan bumi? JS mengajukan pertanyaan : “Lalu, siapa yang benar, pihak Trinitarian atau Unitarian? Ia melanjutkan : “Mengenai hal ini, catatan di 2 Ptr 1:20 dan 21, menyatakan bahwa yang menulis Alkitab adalah nabi Allah, maka tidak mungkin kesalahan ada pada pihak mereka”.

Jika demikian, para pembaca Alkitab-lah yang telah gagal mengikuti petunjuk roh Allah dalam membiarkan Allah menafsirkan Firman-Nya sendiri. Gagasan-gagasan pribadi telah menutupi pandangan mereka atas apa yang dikatakan Pengarang Alkitab sendiri. Ibarat domba yang terlihat di mata, tetapi sesungguhnya adalah serigala”. Dalam hal ini saya setuju dengan apa yang dikatakan JS. Alkitab memang adalah Firman Allah dan tak mungkin salah.

Yang jadi persoalan adalah para penafsir Alkitab itu yang seringkali menafsirkan secara sembarangan sehingga memunculkan ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah. Pihak Trinitarian menafsirkan Kitab Suci. Unitarian juga. Lalu yang mana yang sebenarnya memasukkan gagasan pribadi sehingga layak disebut “Ibarat domba yang terlihat di mata, tetapi sesungguhnya adalah serigala”? Kita lihat saja nanti.

Bahwa dalam 4 tulisannya JS juga terlibat dalam menafsirkan isi Kitab Suci (terutama bagian keempat tulisannya) maka JS juga harus dimasukkan ke dalam daftar yang mungkin saja memasukkan gagasan-gagasan pribadinya ke dalam Kitab Suci sehingga layak juga disebut “Ibarat domba yang terlihat di mata, tetapi sesungguhnya adalah serigala”. Meskipun demikian, ada hal yang menarik perhatian saya.

JS menulis : “Jika demikian, para pembaca Alkitab-lah yang telah gagal mengikuti petunjuk roh Allah dalam membiarkan Allah menafsirkan Firman-Nya sendiri”. JS jelas berbicara tentang petunjuk roh Allah. Sdr. JS, jadi anda percaya bahwa roh Allah bisa memberikan petunjuk? Kalau begitu anda percaya tidak bahwa Roh Allah adalah suatu pribadi? Bukankah Saksi-Saksi Yehuwa dan Unitarian tidak percaya bahwa Roh Allah adalah suatu pribadi. Mereka percaya bahwa Roh Allah hanyalah suatu kuasa/tenaga aktif dari Allah. Nah, bisakah suatu tenaga aktif memberikan petunjuk? Jadi sebenarnya anda percaya Roh Allah berpribadi atau tidak? Anda kan seorang anggota Saksi Yehuwa berarti anda percaya bahwa Roh Allah hanyalah sebuah tenaga aktif.

Bisa jelaskan bagaimana suatu tenaga dapat memberikan petunjuk ? Atau anda percaya Roh Allah adalah suatu pribadi ? Jika ya, maka anda bukan Saksi Yehuwa tapi Saksi Yehuwa palsu/imitasi.

Persoalan istilah “Tritunggal”

Hal pertama yang dipersoalkan oleh JS adalah masalah istilah atau kata “Tritunggal”. Dalam tulisan saya sebelumnya sebagaimana yang dikutip JS, saya katakan bahwa “Walaupun kata tersebut tidak ada di dalam Alkitab, itu tidak berarti bahwa konsepnya juga tidak ada? Konsepnya jelas ada!” Tapi ini ditolak oleh JS. Ia berkata : “Dari asumsi ini, maka mau tidak mau, langkah pertama yang perlu dipertanyakan, apakah kata Tritunggal/Trinitas ada dalam Alkitab?” Sdr. JS, saya ingin tanya pada anda.

Anda berkata ‘mau tidak mau’? He…he… kemauan siapa? (Maaf saya terpaksa tertawa cukup keras untuk bisa mengimbangi tertawa anda). Anda mengatakan : ‘apakah kata Tritunggal/Trinitas ada dalam Alkitab? Semua pihak setuju menyatakan: tidak ada! Kalau begitu, jika dasarnya tidak ada, mengapa doktrin ini: dari tiada menjadi ada?’. Bagian akhir itu yang saya garis bawahi muncul dari mana? Pandangan teologia anda bukan? Jadi, siapa yang subyektif? Coba anda renungkan! Tentu tidak salah kalau kita ingin membahas sebuah topik dengan terlebih dahulu mencari tahu apakah kata yang hendak dibahas itu ada di dalam Alkitab atau tidak.

Tetapi apakah kalau katanya tidak ada berarti konsep tentang itu juga tidak ada seperti pendapat anda? Sekarang saya tanya, dari mana peraturan semacam itu? Dari mana peraturan yang mengatakan bahwa kalau katanya tidak ada berarti konsep/dasarnya juga tidak ada? Dari mana rumus semacam itu? Apa dasarnya? Dari Kitab Suci sebelah mana? Anda membuat sendiri? Lalu mengapa saya harus peduli dengan rumus buatan manusia! Satu hal lagi, kelihatannya anda tidak bisa membedakan antara “KATA” dan “DASAR”.

Yang anda tanyakan “…apakah KATA Tritunggal/Trinitas ada dalam Alkitab? Tetapi dalam kalimat selanjutnya anda berkata “jika DASARNYA tidak ada,…” Kelihatannya anda beranggapan bahwa KATA adalah satu-satunya DASAR. Jadi tidak ada KATA berarti tidak juga ada DASARNYA. Saya tanya lagi, dari mana rumus ini? Anda ciptakan sendiri? Mengikuti cara berpikir anda maka kita tidak mungkin membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang “Keluarga Berencana” (KB) soalnya kata “Keluarga Berencana” tidak ada dalam Alkitab. Kita juga tidak bisa membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang “Pornografi” dan “Pornoaksi” soalnya dalam Alkitab tidak ada kata “Pornografi” dan “Pornoaksi”.

Kita juga tidak bisa membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang “Aborsi” soalnya kata “Aborsi” tidak ada dalam Alkitab sih. Kita juga tidak akan bisa membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang “Narkoba” soalnya tidak ada kata “Narkoba” dalam Alkitab sih. Kita juga tidak bisa membahas pandangan Kristen (sesuai Alkitab) tentang merokok soalnya dalam Alkitab tidak ada kata “rokok”. Begitukah? Kalau anda menjawab ya, betapa naif dan sempitnya pikiran anda.

Eh, bukankah Frans Donald sahabat anda itu juga dalam tulisannya kali lalu menyinggung-nyinggung kata “Sola Scriptura” dan itu sudah saya tanggapi dengan mengatakan bahwa Frans tidak konsisten karena menggunakan istilah yang juga tidak ada dalam Alkitab. Atau anda bisa bantu tunjukkan pada saya istilah “Sola Scriptura” dalam Alkitab? Kalau tidak, mengapa anda juga tidak memprotes Frans Donald dan menganggap bahwa ajaran “Sola Scriptura”nya tidak ada dasarnya? He…he… (maaf terpaksa saya tertawa lebih keras lagi hanya untuk mengimbangi tawa anda) tentu anda tak akan lakukan itu bukan karena dia adalah sahabat anda, sesama Unitarian bukan? Anda kan seorang Saksi Yehuwa.

Tentu anda tahu tempat ibadahnya Saksi Yehuwa disebut “Kingdom Hall” atau “Balai Kerajaan”. Coba tunjukkan pada saya 1 ayat yang ada kata “Balai Kerajaan”nya. Kalau tidak ada berarti pemberian nama tempat ibadah itu sama sekali tidak ada dasarnya. Kata/istilahnya saja tidak ada kok? Lalu diambil dari mana? Karang sendiri? Atau dapat dalam mimpi? Kalian kelihatannya berbakat sekali dalam hal mencipta. Lalu bagaimana dengan persoalan nama “Jehovah” dan “Yehuwa”? Bukanlah dalam Kitab Suci Ibrani hanya tertulis 4 huruf mati YHWH dan pada zaman ini tidak ada orang yang tahu dengan persis, bagaimana sebetulnya pengucapan (pronunciation) dari kata / nama itu? Bukankah kalian sendiri mengakui bahwa pada zaman ini tidak ada orang yang tahu bagaimana seharusnya mengucapkan nama ‘YHWH’ tersebut? Dalam buku “Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab” (hal. 420) kalian berkata : Orang-orang modern menyusun nama Yehuwa, yang tidak dikenal oleh semua orang pada jaman dulu, orang Yahudi ataupun orang Kristen; karena ucapan yang benar dari nama itu, yang ada dalam naskah Ibrani, karena sudah lama tidak digunakan, kini tidak diketahui lagi”.

Pada halaman 423, 424 kalian katakan : “Bentuk manakah dari nama ilahi yang benar - Yehuwa atau Yahweh? Tidak seorang pun dewasa ini dapat merasa pasti bagaimana nama itu mula-mula diucapkan dalam bahasa Ibrani. Mengapa tidak? Bahasa Ibrani dari Alkitab pada mulanya ditulis dengan huruf mati saja, tanpa huruf hidup. Ketika bahasa itu digunakan sehari-hari, para pembaca dengan mudah menyisipkan huruf-huruf hidup yang tepat.

Tetapi, lambat laun, orang Yahudi mempunyai gagasan takhyul bahwa adalah salah untuk mengucapkan nama pribadi Allah dengan keras, jadi mereka menggunakan ungkapan-ungkapan pengganti. ... Jadi ucapan yang semula dari nama ilahi sama sekali tidak diketahui lagi”. Kalau demikian, sekarang saya tanya pada anda, mengapa kalian mau menggunakan, dan bahkan menekankan keharusan untuk menggunakan, nama ‘Jehovah’ atau ‘Yehuwa’, padahal istilah itu tidak ada dalam Kitab Suci? Lebih parah lagi penyebutan/penggunaan nama ‘Yehuwa’ dalam kalangan Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia. Itu jelas salah, karena kalian membuang huruf ‘H’ (Ibrani: h) yang terakhir dari nama YHWH! Bukankah sesuai teori ciptaan anda sendiri artinya itu sama sekali tidak ada dasarnya? Ha…ha.. (maaf saya harus tertawa lagi) kelihatannya teori anda sementara memakan diri anda sendiri. Masih kurang? Baik, saya tambahkan lagi.

Bukankah grup kalian Saksi-Saksi Yehuwa memakai dan menerima istilah “Theokrasi” dalam organisasi dan publikasi-publikasi kalian? Coba tunjukkan pada saya kata tersebut dalam Alkitab. Ada? Kalau tidak ada lalu dari mana kalian mendapatkan kata tersebut? Mimpi atau bertapa? Bukankah anda berkata kalau katanya tidak ada berarti juga dasarnya tidak ada? Masih kurang lagi? Saya tambahkan lagi! Dalam kalangan kalian juga ada istilah-istilah dalam bahasa Inggris seperti "paradise earth", "governing body", "full-time service", "Worldwide Work", "body of elders", "regular pioneer", "auxililary pioneer", "special pioneer", "God's Channel", "the Society", "organization", "Bethelite", "Building Fund", "Presiding Overseer", "Theocratic Ministry School Overseer", "Congregation Book Study Overseer", "Circuit Overseer", "Service Overseer", "District Overseer", "Zone Overseer", "Branch Overseer", Chairman", dll. Bisakah anda tunjukkan kata-kata itu dalam Kitab Suci? Kalau tidak ada maka mengikuti logika anda semua ini tidak ada dasar sama sekali.

Kalau anda menolak doktrin Tritunggal dengan alasan kata “Tritunggal” tidak ada dalam Alkitab, lalu apakah ada kata “Unitarian” dalam Alkitab? Berarti doktrinnya Unitarian juga tidak ada dasar. “Kata”-nya tidak ada artinya dasarnya juga tidak ada. Begitukan teori konyol anda kan? Saya heran kok kalian bisa memakai begitu banyak istilah yang tak ada di dalam Alkitab tanpa peduli katanya sendiri ada dalam Alkitab atau tidak tetapi begitu kata Tritunggal/Trinitas tidak ada dalam Alkitab kalian menolaknya dengan menganggapnya sebagai tanpa dasar, kafir dan lain sebagainya.

Apakah peraturan semacam itu hanya berlaku bagi kami (kaum Trinitarian) dan tidak berlaku bagi kalian? Sungguh tidak konsisten!!! JS berkata : “Konsekwensi dari tidak adanya satu kata atau istilah Trinitas/Tritunggal, pasti berimbas pada penafsiran Alkitab yang bisa jadi, sangat dipaksakan dan mengada-ada. Dan saya pun ingin berkata : Konsekuensinya juga, sahabat anda Frans Donald ketika berkoar-koar tentang “Sola Scriptura” sebenarnya sementara menafsirkan Alkitab secara paksa dan mengada-ada.

Konsekuensinya juga, penggunaan nama “Jehovah” dan “Yehuwa” dalam kalangan Saksi-Saksi Yehuwa adalah penafsiran Alkitab yang dipaksakan dan mengada-ada. Konsekuensinya juga, penyebutan tempat ibadah “Balai Kerajaan” untuk grup kalian adalah mengada-ada. Konsekuensinya juga, semua istilah yang dipakai kelompok Saksi-Saksi Yehuwa seperti "paradise earth", "governing body", "full-time service", "Worldwide Work", "body of elders", "regular pioneer", "auxililary pioneer", "special pioneer", "God's Channel", "the Society", "organization", "Bethelite", "Building Fund", "Presiding Overseer", "Theocratic Ministry School Overseer", "Congregation Book Study Overseer", "Circuit Overseer", "Service Overseer", "District Overseer", "Zone Overseer", "Branch Overseer", Chairman", dll adalah mengada-ada. Setujukah anda? Kalau tidak setuju berarti ada yang tidak beres dengan pikiran anda. Yang dipaksakan dan mengada-ada itu adalah rumus/aturan yang anda buat bahwa kalau satu kata tidak ada dalam Alkitab berarti dasarnya/konsepnya juga tidak ada.

Saya percaya bahwa suatu konsep bisa saja ada secara jelas dalam Kitab Suci walaupun kata tersebut tidak muncul sama sekali dalam Kitab Suci. Pandangan ini justru lebih logis, masuk akal dan sesuai kenyataan daripada teori JS yang amburadul dan tak masuk akal itu. Contohnya kata “Ateisme” yang berarti ketidakpercayaan akan adanya Allah. Di bagian mana dalam Kitab Suci kata “Ateisme” ini muncul? Tidak ada kan? Tetapi ajaran/konsep tentang “Ateisme” jelas ada seperti yang dikatakan dalam Maz 14:1 : “…Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik”. Kata “Inkarnasi” yang berarti Firman (Allah) menjadi daging (manusia).

Di bagian mana dari Kitab Suci yang mencantumkan kata “Inkarnasi” ini? Tidak ada kan? Tetapi ini jelas diajarkan dalam Alkitab yakni Yoh 1:1, 14 : (1) Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Kata “Rapture” atau “Pengangkatan” juga tidak ada dalam Kitab Suci.

Tetapi Alkitab jelas mengajarkan bahwa orang percaya akan diangkat ke angkasa seperti dalam 1 Tes 4:16-18 : (16) Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; (17) sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan”. Kata “Sakramen” sendiri tidak ada dalam Alkitab tetapi jelas Alkitab mengajarkan adanya sakramen-sakramen yakni Perjamuan Kudus dan Baptisan Kudus.

Dan masih banyak lagi kata yang tak ada dalam Alkitab tetapi ajarannya ada seperti “Free Will”, pribadi dan hakekat dari Allah atau/dan Kristus, trikotomi dan dikotomi, infra dan supralapsarianisme, dll. Saya ingin tanya pada JS : Percayakah anda bahwa di dalam Alkitab ada ajaran tentang Monoteisme (Allah itu esa)? Kalau percaya, coba tunjukkan pada saya 1 kata “Monoteisme” saja dalam Alkitab.

Kalau tidak percaya mengapa ketika Frans Donald menggunakan kata itu : “Nah, masalahnya apakah kita harus berkiblat ke tradisi pikir Yunani yang melahirkan ajaran Trinitas dan menjadikan Yesus sebagai Allah sejati hasil rumusan konsili-konsili tahun 325 dan 381 M yang sangat sarat kepentingan politik, atau, berkiblat kepada Monoteisme Yahudi sebagai bangsa keturunan Yakub yang beriman kepada Allah yang Esa yaitu Yahweh?....” anda tidak protes dan menganggapnya sebagai gagasan yang dipaksakan saja? Kalau saya, saya percaya ajaran monoteisme ada di dalam Alkitab sebagaimana kata Ul 6:4 : “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! dan 1 Raj 8:60 : “supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa TUHANlah Allah, dan tidak ada yang lain” (dan masih banyak ayat lainnya) sekalipun kata “Monoteisme” sendiri tidak ditemukan 1 kali pun dalam Alkitab.

Jadi masuk akal dan Alkitabiah kalau dikatakan bahwa istilah/kata Tritunggal tidak ada dalam Alkitab tetapi konsepnya atau ajaran jelas ada. Kalimat ini jauh lebih masuk akal dari teori anda yang mengatakan bahwa kalau katanya tidak ada berarti konsep/ajarannya tidak ada. Apa ini hanya permainan kata-kata seperti tuduhan anda? Kalau begitu anda sama sekali tidak tahu apa artinya “bermain kata-kata”.

Apa kata-kata saya di atas mirip orang yang berkepribadian ganda yang menggunakan topeng seperti klaim anda? Ha…ha… andalah orang yang berkepribadian ganda. Di satu sisi menganggap doktrin Tritunggal tidak ada dasar hanya karena istilahnya tidak ada di Alkitab tetapi pada saat yang sama anda dan grup Saksi-Saksi Yehuwa juga melakukan hal yang sama. Anda anggap ini argumen yang ambigu, tidak matang dan ngambang? Lalu yang kalian lakukan juga tidak demikian ? Aneh sekali, pandangan saya ada dasar Kitab Sucinya anda anggap ambigu, tidak matang dan ngambang.

Lalu bagaimana dengan pendapat anda yang tak punya dasar Kitab Sucinya ? Bolehkah dikatakan itu pandangan yang bodoh, ngawur, tak pakai logika dan akal sehat? (Biar pembaca menjawabnya sendiri). Ingat, pendapat saya ini sudah saya buktikan dari Kitab Suci sebagaimana ayat-ayat yang saya berikan di atas lalu mana dasar Alkitabiah dari pendapat anda? Tolong jawab ini! (Jangan pura-pura lupa!!!) Anda menyebut diri anda “pemikir bebas”? Saya beritahu pada anda, dalam masalah kebenaran Alkitabiah, anda tidak layak ‘bebas sekali’ dalam artian tak pakai Kitab Suci sama sekali! Kalau anda tidak bisa membuktikan teori anda itu dari Kitab Suci maka sebaiknya anda tidak usah bicara masalah-masalah teologia. Tapi kalau anda bisa membuktikannya maka itu mencekik leher kalian sendiri karena kalian juga melakukan hal yang sama. Mana yang anda pilih?

Bersambung….


* Penulis adalah Gembala Jemaat “REVIVAL MINISTRY” (Jl. Pipit Kel. LLBK; Belakang Terminal Kota Kupang)