Tampilkan postingan dengan label Doktrin Tritunggal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doktrin Tritunggal. Tampilkan semua postingan

26 Mei 2014

DOKTRIN ALLAH TRITUNGGAL

By. Pdt. Esra Alfred Soru


Islam menyebut kepercayaan pada Allah Tritunggal sebagai kafir. Aliran Unitarianisme dan Saksi Yehovah menganggapnya sebagai doktrin sesat yang tidak Alkitabiah. Kaum yang mengaku rasionalis menganggapnya sebagai tidak masuk akal.

Benarkah semua tudingan itu? Ikuti pembahasan Pdt. Esra Soru tentang doktrin ini di sini :

Part 1

Part 2

19 Januari 2013

TRINITAS

By. Gordon H. Clark


Trinitas Bagian 1 
Kekristenan selalu mempunyai musuh, di antaranya adalah mereka yang mengaku Kristen. Sebagian musuh iman tersebut menolak doktrin dan mengagungkan perbuatan dan mendorong orang Kristen lebih aktif bekerja dan tidak membuang waktu belajar, berspekulasi, dan belajar doktrin yang mengakibatkan perpecahan. Yang lain menolak doktrin dan menekankan bahwa kesucian sebenarnya adalah mendengarkan Allah berbicara melalui gereja, teman, dan kata hati sendiri. Baca kelanjutannya di sini

Trinitas Bagian 2 
Setiap orang yang menghadiri kebaktian gereja injili yang hanya sedikit saja ortodoks pasti pernah mendengar tentang Trinitas. Kalau bukan karena lagu, “Suci, Suci, Suci, Allah Tritunggal, Agung nama-Mu,” pendeta mungkin mengakhiri kebaktian dengan berkat apostolik trinitarian. Namun bahkan mereka yang rajin ke gereja sekalipun jarang sekali (kalau pernah) mendengar khotbah tentang Trinitas. Selama tiga puluh tahun, penulis telah menghadiri kebaktian di banyak tempat di antara Philadelphia dan San Diego: Indianapolis; St. Louis; Vinita, Kansas; Minco, Oklahoma; Grand Junction; Alamagordo; Las Cruces; Tucson; dan Seattle. Di Gereja-gereja, Baptis, Presbyterian, Lutheran, dan independen, saya tidak pernah mendengar khotbah tentang Trinitas. Baca kelanjutannya di sini

Trinitas Bagian 3 
Untuk memulai topik ini, tulisan saya akan dimulai dengan pendekatan kronologis atau historis, walaupun secara berangsur-angsur akan lebih mengambil pendekatan logis daripada historis. Apapun pendekatannya, kita akan memulai dengan Perjanjian Lama. Pendekatan historis ini bukan hanya mempermudah; namun secara pedagogis harus diambil. Mahasiswa seminari saat ini biasanya memiliki pemahaman yang kurang tentang bahan-bahan Alkitab atau katekismus, kecuali mereka berasal dari sekolah kristen. Karena itu, mengingat materi yang digunakan untuk meyusun doktrin Trinitas adalah data Alkitab, maka pasal-pasal yang digunakan harus tetap diingat atau kalau tidak maka diskusi ini tidak akan bermanfaat. Baca kelanjutannya di sini

Trinitas Bagian 4 
Kegagalan orang Yahudi untuk melihat adanya lebih dari satu Pribadi Allah terbawa sampai ke dalam gereja Kristen – tetapi dengan perbedaan besar yaitu bahwa: [gereja] harus mengatakan sesuatu tentang Kristus. Pandangan [tentang Kristus] yang mungkin adalah: Ada tiga Allah yang independen; hanya ada satu Allah yang menampakkan diri dan bekerja dengan tiga cara berbeda; hanya satu Pribadi yang adalah Allah dan Kristus adalah Ciptaan Pertama; dan akhirnya ada satu Allah yang terdiri dari tiga Pribadi. Tulisan ini hanya akan sedikit berbicara tentang Sabellianisme dan akan berbicara banyak tentang pertentangan antara pengikut Arius dan Athanasius. Baca kelanjutannya di sini

Trinitas Bagian 5

Pada fase manapun diskusi tentang doktrin Trinitas, keilahian Kristus selalu termasuk bahan diskusi dan bahan Kitab Suci yang akan dibahas sekarang ada kaitan dengan keilahian Kristus. Bahkan kalau orang ingin menulis tentang Roh Kudus saja, dengan cara tertentu Keilhaian Kristus selalu diprasyaratkan. Bahkan doktrin tentang Roh Kudus harus menunggu ajaran tentang Anak [untuk selesai]. Adalah teka-teki pribadi Kristus yang memaksa gereja abad kedua dan ketiga untuk memformulasi doktrin Trinitas pada awal abad ke-empat. Daftar berikut adalah beberapa bahan yang teolog jaman itu harus pelajari. Baca kelanjutannya di sini

03 Mei 2009

I. ARTI TRITUNGGAL

Esra Alfred Soru

Sebelum kita membahas arti Tritunggal, maka pertama-tama yang harus dipikirkan adalah tentang masalah terminologi (penggunaan istilah) dalam konteks ini. Selain Tritunggal, kata lain yang sering dipakai adalah kata Trinitas (Ing: Trinity). Louis Berkhof berkata bahwa kata bahasa Inggris Trinity tidaklah seefektif kata bahasa Belanda Drie enheid sebab kata itu bisa saja hanya untuk menunjukkan arti tiga tanpa adanya implikasi kesatuan dari ketigaannya. (Louis Berkhof; Teologi Sistematika (Doktrin Allah); 1993: 145). Karena itu selain kata ini banyak digunakan, tetapi demi ketidaksimpangan pengertian, lebih baik digunakan kata Tritunggal.

Secara etimologi, kata Tritunggal berasal dari kata bahasa Latin Trinitas yang terdiri dari dua kata, yaitu tres yang artinya tiga, dan unus yang berarti esa, tunggal atau satu. (Thomas N. Raltson: Elements of Divinity; 1924: 58). Jadi, Tritunggal artinya tiga satu. Tiga satu apa? Atau apa yang tiga satu ? Memang sulit mengartikan kata ini di luar konteks kekristenan, sebab kata ini secara eksklusif hanya digunakan dalam dunia teologia Kristen, sehingga arti yang dikenakan kepadanya menjadi eksklusif pula.

Adapun pengertian Tritunggal (tiga satu) ini dalam konteks teologia Kristen adalah pengertian yang seimbang antara tiga dan satu. Penekanan terhadap tiga dan mengabaikan satu ataupun penekanan terhadap satu dan mengabaikan tiga, menjadikan kata ini kehilangan pengertiannya yang benar di dalam teologia Kristen. Pandangan para teolog Injili biasanya adalah pandangan dengan konsep seperti di jelaskan di atas. Seperti pandangan yang dikemukakan oleh Warfield bahwa ada satu Allah yang benar dan satu-satunya, tetapi di dalam keesaan dari keallahan ini ada tiga pribadi yang sama kekal dan sepadan, sama di dalam hakikat, tetapi berbeda di dalam pribadi (Charles C. Ryrie; Basic Theology; 1988: 53). Pandangan A.W.Tozer mengatakan bahwa di dalam Tritunggal ini tidak ada yang lebih dahulu atau lebih kemudian, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, tetapi ketiga pribadi itu sama-sama kekal, bersama-sama, dan setara (A.W.Tozer: Mengenal Yang Maha Kudus; 1995: 35; lihat juga Peter Wongso: Doktrin Tentang Allah (Diktat); 1988: 31). Mungkin pandangan yang paling lengkap adalah pandangan atau pengertian yang disampaikan oleh Stephen Tong : “Doktrin Tritunggal termasuk doktrin monoteisme yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Dan Allah Yang Maha Esa itu mempunyai tiga pribadi, bukan satu. Pribadi pertama adalah Allah Bapa, pribadi kedua adalah Allah Anak (Yesus Kristus) dan pribadi ketiga Roh Kudus. Tiga pribadi bukan berarti tiga Allah, dan satu Allah bukan berarti satu pribadi. Tiga pribadi itu mempunyai satu esensi atau sifat dasar (Yunani: Ousia; Inggris : substance) yang sama, yaitu Allah. Allah Bapa adalah Allah, Allah Anak adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah, namun ketiga-Nya mempunyai satu ousia, yaitu esensi Allah”. (Stephen Tong ; Allah Tritunggal; 1990 : 20-21).

Dengan demikian dalam konteks teologia Kristen yang memahami Allah sebagai tiga pribadi dalam satu kesatuan, maka penekanan terhadap “keesaan” atau “ketigaan-Nya” saja, membuat doktrin ini kehilangan artinya, sekaligus menyebabkan kejatuhan ada dua ekstrim. Yaitu, pandangan yang menganggap adanya tiga Allah, dan pandangan yang menganggap adanya satu Allah dan menyatakan diri dalam tiga keadaan yang berbeda. Jadi, pengertian yang benar adalah pengertian yang mampu mengakomodasi kedua konsep ini (keesaan dan ketigaan), atau dengan kata lain mampu menyeimbangkan antara keesaan (ketunggalan) dan ketritunggalan Allah.

II. KEDUDUKAN DOKTRIN TRITUNGGAL DALAM TEOLOGIA KRISTEN

Esra Alfred Soru

Doktrin Tritunggal adalah doktrin yang sangat penting dalam teologia Kristen. Jatuh bangunnya iman Kristen sungguh-sungguh bergantung pada benar-tidaknya doktrin ini. Semua doktrin kekristenan secara otomatis akan runtuh, jika doktrin Tritunggal runtuh. Sebab, hampir semua pokok penting dalam agama Kristen, bergantung pada ajaran bahwa Allah adalah tiga dalam satu. (Bruce Milne : Mengenal Kebenaran ; 1993, hal.90). Henry B. Smith berkata , “Ketika doktrin tentang Trinitas ditinggalkan, bagian-bagian lain dari iman, seperti pendamaian dan regenerasi selalu juga ditinggalkan.” (Henry B. Smith dalam buku A.H. Strong: Systematic Theology, Vol. I: The Doctrine of God); 1907: 351). Jadi dengan kata lain dapat dikatakan bahwa doktrin Tritunggal adalah fondasi teologia Kristen.

Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan hubungan doktrin Tritunggal dengan beberapa doktrin pokok dalam kekristenan di antaranya adalah teologia (doktrin Allah), Kristologi (doktrin Kristus), pneumatologi (doktrin Roh Kudus), dan soteriologi (doktrin keselamatan).


1. Hubungan Doktrin Tritunggal Dengan Teologia

Dalam doktrin tentang Allah secara umum (teologia), yang dikaitkan dengan Tritunggal maka hal yang menarik untuk disoroti adalah masalah wahyu (revelation). Sebab wahyu adalah satu-satunya cara manusia untuk dapat memahami Allah yang transenden. Tanpa wahyu manusia tak mungkin mengenal Allah, apalagi mengenalnya dengan benar.

Wahyu (revelation) adalah tindakan Allah keluar dari “selubung-selubung-Nya” untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Pertama-tama Allah melakukannya melalui apa yang disebut sebagai wahyu umum (General revelation of God) yaitu melalui penciptaan dunia ini. Tetapi karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, mengakibatkan terjadinya distorsi dalam keseluruhan aspek hidup yang membuat manusia tak mampu mengenal Allah melalui wahyu umum-Nya. Karena itu Allah memberikan wahyu khusus (Special revelation of God), yaitu melalui pribadi kedua dari Allah Tritunggal. Demi kepentingan wahyu khusus ini, maka ketiga oknum Allah terlibat di dalamnya. Allah Bapa sebagai “Yang dinyatakan”, Allah Anak sebagai “Yang menyatakan” dan Allah Roh Kudus sebagai “Yang memungkinkan penyataan”. Dalam konteks ini, penting juga untuk memikirkan apa yang dikatakan oleh Augustus Hopkins Strong bahwa Trinitas adalah cara yang paling inteligen untuk mengerti Allah sebagai pribadi.


2. Hubungan Doktrin Tritunggal Dengan Kristologi

Sebenarnya agak sulit untuk memberikan garis pemisah yang jelas antara doktrin Tritunggal dan doktrin Kristologi, sebab keduanya mempunyai hubungan atau keterkaitan yang sangat erat satu dengan lainnya. Kristus adalah salah satu oknum dari Allah Tritunggal., di samping Sang Bapa dan Roh Kudus. Itulah sebabnya Otto Weber berkata, “Memang kita tak dapat membahas soal Trinitas tanpa menyinggung soal Kristologi.” (Otto Weber dalam buku Andar Tobing: Apologetika Tentang Trinitas: 1972:19).

Memang secara historis perdebatan Kristologi terjadi lebih dahulu daripada perdebatan tentang doktrin Tritunggal, namun secara hakiki sebenarnya ada hubungan timbal balik antara kedua doktrin ini. Doktrin Tritunggal tak dapat dibenarkan jika ternyata doktrin Tritunggal keliru. John F. Walvoord mengaitkan Kristologi dengan doktrin Tritunggal dengan mengatakan bahwa setiap serangan terhadap doktrin Tritunggal merupakan serangan pula terhadap pribadi Kristus. Sebaliknya setiap serangan terhadap pribadi Kristus merupakan serangan terhadap doktrin Tritunggal, karena keduanya berdiri dan jatuh bersama. (John F. Walvoord, Yesus Kristus Tuhan Kita ; tt :25), Jelas hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Andar Tobing bahwa ajaran Trinitas timbul dari Kristologi (Andar Tobing; 1972:19).


3. Hubungan Doktrin Tritunggal Dengan Pneumatologi

Mungkin hubungan Pneumatologi dengan doktrin Tritunggal tak berbeda jauh dengan hubungan Kristologi dengan doktrin Tritunggal, sebab sama seperti Kristus, Roh Kudus pun adalah salah satu dari oknum-oknum Tritunggal. Dengan demikian, kekeliruan doktrin Tritunggal menggugurkan Pneumatologi, dan kekeliruan pneumatologi menggugurkan doktrin Tritunggal. Sama seperti pandangan Walvoord di atas, walaupun ia hanya mengaitkan doktrin Tritunggal dengan Kristologi, tetapi tak dapat dipersalahkan kalau hal inipun dikaitkan dengan pneumatologi. Setiap serangan terhadap pribadi Roh Kudus adalah serangan terhadap doktrin Tritunggal, dan setiap serangan terhadap doktrin Tritunggal juga merupakan serangan terhadap pribadi Roh Kudus. Selain itu perlu ditambahkan pula bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang aktif dalam semua tindakan ilahi. Ia terlibat dalam tindakan penciptaan, Ia terlibat dalam karya penebusan dan memberi hidup baru, Ia juga terlibat dalam tindakan pewahyuan dengan menurunkan Firman ke dunia. (Stephen Tong: Roh Kudus, Doa dan Kebangunan, 1995: 10).


4. Hubungan Doktrin Tritunggal Dengan Soteriologi

Selain hubungan dengan teologi, kristologi dan pneumatologi, doktrin Tritunggal pun memiliki hubungan yang sangat erat dengan doktrin keselamatan (soteriologi). Keeratan hubungan ini dapat dijelaskan melalui peranan ketiga oknum Allah ini dalam rencana keselamatan manusia.

Seluruh tindakan Allah harus dilihat dari kaca mata soteriologi, karena segala sesuatu yang dilakukan Allah seperti tindakan penciptaan, (oleh Allah Bapa), penebusan (oleh Allah Anak), dan pewahyuan (oleh Allah Roh Kudus) merupakan “isi” dari sejarah keselamatan yang telah dirancang-Nya sejak kekekalan. Jadi, rencana atau sejarah keselamatan manusia tak dapat dilepaskan dari keterlibatan ketiga oknum Allah ini. Inilah arti praktis dari dogma ketritunggalan. (Niftrik & Boland : Dogmatika Masa Kini ; 1984: 553). Memang dalam semua tindakan ilahi ini ketiga-Nya terlibat secara aktif, tetapi secara khusus dapatlah dikatakan bahwa Allah Bapa adalah perancang keselamatan, Allah Anak adalah pelaksana karya keselamatan, dan Allah Roh Kudus adalah mediator dalam karya keselamatan itu. Jadi seluruh pengertian keselamatan Kristen dan penerapannya pada pengalaman manusia, tergantung pada ketritunggalan Allah (Bruce Milne; 1993:91). Boettner mengatakan bahwa jika tidak ada trinitas, maka tak akan ada penjelmaan, tidak ada penebusan yang obyektif, dan karena itu tak ada penyelamatan; karena tak akan ada oknum yang mampu bertindak sebagai pengantara antara Allah dan manusia. (Boettner dalam buku Thiessen: Teologi Sistematika ; 1992: 152). Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh A.H. Strong bahwa : “Jika Allah itu hanya satu secara absolut, maka tidak ada perantaraan atau pendamaian, karena antara Allah dan makhluk ciptaan tertinggi ada jurang pemisah yang kekal. Kristus tidak dapat membawa kita lebih dekat kepada diri-Nya sendiri. Hanya Allah sajalah yang dapat memperdamaikan kita dengan Allah. Demikian juga hanya Allah sajalah yang dapat menyucikan jiwa kita. Allah yang hanya satu, tetapi di dalam-Nya tidak ada pluralitas, dapat menjadi hakim kita, tetapi – sejauh kami lihat – tidak bisa menjadi Juruselamat atau yang menyucikan kita”. (A.H. Strong; 1907: 350).

III. KESULITAN DALAM MEMPELAJARI DOKTRIN TRITUNGGAL

Esra Alfred Soru


Setiap orang yang pernah belajar doktrin Tritunggal pasti setuju bahwa doktrin tersebut adalah doktrin yang sangat sulit dipahami atau dimengerti. Boettner mengatakan bahwa ketika kita memandang Allah Tritunggal, kita merasa seperti orang yang memandang langsung matahari pada tengah hari (Loraine Boettner, Studies in Theology; 1960: 124). Sedangkan A.W. Tozer mengatakan bahwa : “Untuk merenungkan ketiga pribadi Allah itu berarti di dalam pikiran kita melangkah ke arah timur melalui Taman Eden dan memijakkan kaki kita di tempat yang suci. Usaha kita yang paling tulus untuk mencoba memahami rahasia Tritunggal yang tak dapat dimengerti itu akan tetap tinggal sia-sia, dan hanya rasa takut dan hormat saja yang dapat mencegah kita membuat sesuatu yang semata-mata merupakan sangkalan saja”. (A.W. Tozer, 1995: 29). Itulah sebabnya dalam pembahasannya tentang Tritunggal, ia mengawalinya dengan sebuah doa yang berbunyi demikian : “Ya, Allah nenek moyang kami, yang bertakhta di dalam terang, betapa merdunya bahasa kami! Namun, apabila kami mencoba menceritakan keajaiban-Mu, bahasa kami terasa miskin dan sumbang. Apabila kami merenungkan misteri Allah Tritunggal, kami hanya terpesona. Di hadapan takhta-Mu, kami tidak meminta supaya kami mengerti, kami hanya ingin supaya kami selayaknya mengasihi dan menyembah Engkau, Allah yang Tritunggal, yang mempunyai tiga pribadi. Amin”.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka betapa pentingnya melihat hal-hal yang menjadi kesulitan dalam mempelajari doktrin Tritunggal.


1. Kesulitan Teologis

Teologia Kristen mempunyai pandangan yang unik tentang Allah (God is the Whole Other). Di dalam Alkitab, Allah dinyatakan dengan begitu jelas yang meliputi diri atau esensi Allah, keberadaan Allah, sifat-sifat atau karakter Allah, atribusi Allah, dan karya-karya-Nya. Secara khusus tentang diri atau esensi Allah yang dikaitkan dengan sifat-sifat-Nya maka akan ditemukan dua konsep di dalamnya yaitu:

(1) Allah itu esa

(2) Ada tiga pribadi Allah yang memiliki kualitas yang sama dalam segala hal.

Dua kenyataan in mengharuskan para teolog untuk menyusun dasar-dasar teologia yang seimbang dan tidak menekankan atau mengutamakan salah satu aspek saja (lihat bagian tentang Arti Tritunggal). Tetapi bagaimanakah hal itu dapat dilakukan? Inilah kesulitan teologis dalam mempelajari dan merumuskan doktrin Tritunggal dengan benar (Penjelasan lengkap tentang masalah ini dapat dilihat dalam bagian “Dasar alkitabiah doktrin Tritunggal”).


2. Kesulitan Filosofis

Bukan hanya kesulitan teologis yang dihadapi dalam mempelajari doktrin Tritunggal, tetapi juga kesulitan filosofis. Thiessen mengatakan bahwa ajaran tentang Tritunggal Allah adalah suatu rahasia yang besar sekali. Seakan-akan ajaran in merupakan teka-teki intelektual yang sulit dipecahkan atau bahkan merupakan suatu kontradiksi (Thiessen; 1992: 139). Rasio tak mampu memecahkan misteri ini. ”Bagaimana mungkin sesuatu itu tiga sekaligus satu atau satu sekaligus tiga?” Pemikir-pemikir Islam sering terjebak dalam kesulitan in akhirnya menuduh agama Kristen sebagai agama yang mempunyai konsep Allah (monoteisme) yang tak masuk akan (kontra rasional). Mereka sering memakai analogi matematika untuk maksud itu, yaitu 1+1+1 = 1 (Andar Tobing; 1972: 9-10). Memang inilah kesulitan filosofis dalam mempelajari doktrin Tritunggal.


3. Kesulitan Empiris.

Kesulitan empiris yang dimaksud di sini adalah sebuah kesulitan yang dihubungkan dengan kenyataan bahwa Allah itu Ada meski tidak kelihatan dan tidak ada yang sama dengan keberadaan-Nya. Allah itu adalah ia yang tidak pernah identik dengan apa yang disebut sebagai Allah, yang dialami sebagai Allah, yang dirindukan dan disembah… (Barth dalam buku Horst G. Poehlmann: Allah itu Allah (Potret 6 Teolog Besar Kristen Protestan Abad Ini); 1998: 15). Floyd C. Woodworth, Jr dan David D. Duncan mengatakan bahwa : “Dalam pengalaman kita, tidak ada sesuatu yang sebanding dengan ketritunggalan dalam keesaan dan keesaan dalam ketritunggalan. Kita tahun bahwa tidak ada tiga orang yang secara struktur adalah satu. Tidak ada tiga orang yang masing-masing mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang apa yang dibuat atau dipikirkan oleh yang lainnya. Setiap orang memagari dirinya sendiri dengan kebebasan pribadi. Tidak ada manusia yang memiliki kepribadian jamak seperti yang dinyatakan tentang Allah”. (Floyd C. Woodworth, Jr & David D. Duncan, Dasar-Dasar Kebenaran; 1989: 27).

Kenyataan ini mengakibatkan kesulitan dalam memahami Allah, sebab tidak ada sesuatu apapun yang dapat dipakai sebagai analogi untuk mendekati-Nya. Kesulitan inilah yang menjadi dasar kelemahan semua analogi tentang doktrin Tritunggal. Itulah kesulitan-kesulitan dalam mempelajari dan memahami doktrin ini. Setelah melihat kesulitan-kesulitan di atas, maka sekarang penting juga untuk melihat alasan-alasan yang menyebabkan doktrin Tritunggal ini sulit dipahami, atau dengan kata lain, “Mengapa doktrin ini sulit dimengerti?” Sekurang-kurangnya ada tiga alasan untuk menjawab pertanyaan itu, yaitu :


1. Alasan Teologis

Di dalam alasan teologis ini, terdapat tiga fakta yang menyebabkan kebenaran Tritunggal sulit dimengerti atau dipahami (Stephen Tong; Allah Tritunggal; 1990: 13-18). Ketiga fakta ini antara lain :


a. Kebenaran Tritunggal ini adalah kebenaran yang bersifat dan berdasarkan wahyu Allah

Yang dimaksud dengan kebenaran yang bersifat dan berdasarkan wahyu Allah di sini adalah bahwa kebenaran Tritunggal bukanlah hasil spekulasi manusia, tetapi merupakan anugerah dari Allah yang tidak bisa kita mengerti, juga tidak bisa kita bantah (tolak), hanya bisa kita terima.

Dalam kerangka berpikir tentang wahyu (pernyataan dari Allah) ini, kita mengenal adanya wahyu bertingkat (Progressive Revelation) yaitu wahyu yang mengalami kemajuan dari yang sangat tidak jelas, menjadi tidak jelas, kemudian menjadi kurang jelas, dan akhirnya menjadi jelas bahkan sangat jelas. Wahyu progresif ini dibagi dalam dua jenis wahyu, yaitu wahyu Allah secara umum (General Revelation of God), dan wahyu Allah secara khusus (Special Revelation of God). Wahyu Allah secara umum dinyatakan melalui peristiwa penciptaan dunia ini, dan wahyu Allah secara khusus dinyatakan melalui pribadi kedua dari Allah Tritunggal (Yesus Kristus) pada saat inkarnasi-Nya. Dalam konteks ini, kebenaran Tritunggal adalah kebenaran yang bersifat atau berdasarkan wahyu Allah secara khusus (Special Revelation of God). Dengan demikian jika kebenaran yang bersifat wahyu ini tidak diterima dengan iman, maka ini pasti akan menimbulkan kesulitan di dalam memahami-Nya. Ds. S.C. Hofland menulis : “Jangan sekali-kali kita berspekulasi mengenai Allah. Jangan sekali-kali mengemukakan pertanyaan yang nadanya untuk mencari tahu, bagaimana gerangan keberadaan Allah itu sebenarnya, di balik pernyataan-Nya kepada manusia. Manusia hanya dapat berbicara mengenai Allah dalam keterkaitannya dengan Allah sendiri, yaitu dalam suatu hubungan yang bersifat sangat ‘relasional’. (Ds. A.C. Hofland; dkk: Allah Beserta Kita; 1991:23).


b. Kebenaran Tritunggal adalah kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta

Berbicara tentang Tritunggal adalah berbicara tentang Allah sebagai Sang Pencipta. Manusia berusaha untuk memahami Allah Tritunggal. Siapakah manusia yang mau memahami-Nya? Manusia adalah makhluk (ciptaan), dan Tritunggal adalah Allah (pencipta). Jadi yang ingin mengetahui adalah ciptaan, dan yang ingin diketahui adalah pencipta. Pertanyaannya adalah, “Mungkinkah ciptaan memahami pencipta dengan sempurna?” Niftrik dan Boland mengatakan bahwa : “Apabila kita mau berbicara tentang soal “ketritunggalan” maka haruslah terlebih dahulu kita insafi, bahwa kita berbicara tentang Allah. Allah itu Allah yang hidup, bukan sesuatu pengertian atau persoalan yang dapat diselidiki dengan akal budi kita sampai menjadi “terang”. Bila kita mau memecahkan suatu persoalan, maka paham kita harus melebihi persoalan itu, sehingga dapat kita tangkap dan kuasai. Tetapi sebaliknya yang terjadi, bila kita bertemu dengan Allah yang hidup, yakni kita “ditangkap” dan “dikuasai” oleh Dia”. (Niftrik & Boland: Dogmatika Masa Kini; 1984: 547-548).

Selain itu pula, tak dapat dipungkiri bahwa ada perbedaan kualitatif atau perbedaan sifat dasar di antara pencipta dan yang dicipta (Stephen Tong: Allah Tritunggal; 1990:15). Perbedaan ini menghadirkan gap atau jurang pemisah antara Allah dan manusia. Dengan demikian ketika seseorang hendak mempelajari doktrin Tritunggal, berarti ia sedang berbicara tentang Ia (Allah) yang luput dari segala usaha manusia untuk memahami-Nya. Pencipta adalah kekal, dan yang dicipta adalah fana. Tak mungkin yang fana memahami yang kekal dengan sempurna. Pencipta adalah “Yang tak terbatas” dan yang dicipta (ciptaan) adalah “yang terbatas” maka secara natural tak mungkin “yang terbatas” dapat memahami “Yang tak terbatas” sampai tuntas. Yang mungkin adalah bahwa “yang terbatas” dapat memahami “Yang tak terbatas” dalam batas-batas tertentu sesuai dengan keterbatasannya. Semuanya ini akan mengakibatkan kesulitan dalam memahami Allah, dalam hal ini adalah kebenaran Tritunggal.


c. Kebenaran Tritunggal adalah kebenaran mengenai Allah yang satu-satunya, Allah Yang Maha Esa (The Only One God)

Kenyataan bahwa Allah adalah Ia yang satu-satunya, dan tak ada yang lain seperti Dia, membuat tak mungkin menemukan sesuatu yang dapat menggambarkan tentang diri-Nya secara sempurna. Stephen Tong mengatakan : “Biasanya kita mengerti sesuatu karena sesuatu itu mempunyai persamaan dengan sesuatu yang lain, sehingga melalui persamaan itu kita menemukan analoginya. Karena ada persamaan, kita mempunyai jembatan analogis untuk pengertian kita, sehingga dari sesuatu yang sudah dimengerti kita loncat ke sesuatu yang belum kita mengerti, akhirnya kita mengerti semuanya. Tetapi di dalam kita mengerti Allah, tidak ada pembanding-Nya, tidak ada persamaan-Nya, sehingga tidak bisa dimengerti dengan rasio sepenuhnya”. (Stephen Tong: Allah Tritunggal; 1990: 16). Jikalau terpaksa ada sesuatu yang dipakai untuk menggambarkan diri-Nya, maka biasanya digunakan kata “seperti” untuk hal itu (A.W. Tozer: Mengenal Yang Maha Kudus; 1995: 15). Yang ”seperti” tentu bukanlah yang “disepertikan”. Jadi apa pun analogi yang digunakan untuk menjelaskan diri Allah, tentunya tak dapat menjelaskan realitas yang sebenarnya. Apabila mencoba membayangkan Allah itu seperti apa, maka harus menggunakan sesuatu yang bukan Allah sebagai bahan untuk diolah oleh pikiran; bagaimanapun membayangkan Allah, sebenarnya Allah itu tidak demikian. Hal inilah yang menyebabkan doktrin Tritunggal menjadi doktrin yang sulit dipahami.


2. Alasan Filosofis

Ketika ilmu pengetahuan mulai berkembang dan mencapai puncaknya pada abad ini, timbullah kecenderungan untuk menganggapnya sebagai segala-galanya. Kebenaran-kebenaran religius yang dianggap tidak masuk akal, dilihat sebagai suatu kebohongan belaka yang harus dibuang dan ditinggalkan. Filsuf Inggris, John Locke membagi pengetahuan menjadi 3 macam yaitu : (1) Yang masuk akal (rasional) yang menyangkut hal-hal yang kebenarannya dapat ditemukan melalui menguji, dan menelusuri pikiran-pikiran yang dimiliki dari sensasi dan refleksi itu; dan melalui deduksi secara alamiah mengetahui benar atau mungkin. (2) Yang tak masuk akal (kontra rasional), yaitu hal-hal yang tidak sesuai, atau tidak dapat dipadankan dengan pikiran maupun ide-ide yang jelas dan nyata. (3) Yang berada di atas kemampuan akal atau melampaui akal (supra rasional), yaitu hal-hal yang kebenaran atau kemungkinannya tidak dapat diperoleh dari prinsip-prinsip sebagaimana yang terdapat dalam pengetahuan yang rasional. (Colin Brown: Filsafat dan Iman Kristen I; 1994: 84; lihat juga Stephen Tong: Siapakah Kristus (Sifat & Karya Kristus); 1992, hal.3).

Contoh untuk ketiga pembagian ini adalah seperti keberadaan Allah yang esa adalah sesuai dengan (masuk) akal; keberadaan lebih dari satu Allah bertentangan dengan akal; kebangkitan orang mati melampaui kemampuan akal. Jika demikian, maka pertanyaan yang harus dipikirkan adalah, “Apakah doktrin Tritunggal itu tidak masuk akal (kontra rasional) atau berada d atas kemampuan akal (supra rasional)?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, haruslah dimulai dari fakta bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah. Atau dengan kata lain, manusia adalah “ada” karena diadakan oleh “Sang Mahaada” yang tidak pernah menjadi ada (Allah) dan ii menyangkut keseluruhan aspek dalam diri manusia termasuk rasionya. Jadi, rasio manusia itu adalah hasil ciptaan Allah dengan rasionya. Atau dengan kata lain Allah dengan rasio-Nya yang sempurna itu menciptakan rasio manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rasio manusia (yang ada pada manusia) itu adalah rupa atau gambar (replika) dalam kualitas yang lebih rendah dari Rasio Sempurna yang ada pada Allah itu sendiri.

Jika rasio manusia mempunyai kualitas yang lebih rendah dari “Rasio Sempurna”, maka tentunya Rasio Sempurna (Allah) harus diklasifikasikan ke dalam wilayah supra rasional. Tentu tak dapat dipungkiri bahwa di antara apa yang rasional dan apa yang supra rasional terdapat gap, ruang kosong, daerah vakum, atau daerah es seperti konsep Barth Gap, ruang kosong atau daerah vakum inilah yang mengakibatkan kesulitan-kesulitan rasional-filosofis di dalam memahami doktrin Tritunggal. Paul Tillich mengatakan bahwa iman akan Allah tak masuk akal, paradoks, namun bukan absurd. Dengan kata lain: hanya akal yang mengalami dapat mencapai Allah dan bukan akal yang menelaah. (Tillich dalam buku Poehlmann: Allah itu Allah; 1998: 64).


3. Alasan Empiris

Kesulitan empiris di dalam mempelajari doktrin Tritunggal adalah tidak adanya sesuatu (apa pun maupun siapapun) di dalam alam ini yang dapat dipakai sebagai gambaran yang sempurna terhadap konsep yang sempurna dari Allah Tritunggal. Hal ini disebabkan karena segala sesuatu yang ada di dunia (apa pun atau siapapun) ini bersifat alamiah (natural), sedangkan Allah Tritunggal bersifat supra alamiah (supra natural).Tentu hal ini masuk akan bahwa yang natural tak dapat menggambarkan Yang supra natural dengan sempurna seperti apa yang dikatakan Boettner : “Tidak perlu heran bahwa di dalam keallahan kita menemukan bentuk kepribadian yang unik dan berbeda dengan yang ditemukan di dalam manusia. Di dalam tingkat yang berkembang di dalam dunia, kita berpindah dari yang sederhana ke yang kompleks. Tanaman hidup tetapi tidak memiliki kesadaran. Binatang memiliki perasaan. Manusia jauh lebih tinggi dari binatang dengan memiliki akal budi, kesadaran moral dan jiwa kekal. Tingkatan yang tinggi di dalam manusia tidak dimengerti sama sekali oleh binatang, burung, dll. Maka tidak perlu heran apabila kita tidak bisa mengerti Allah Tritunggal”. (Boettner 1960: 108). Dengan demikian, maka tak dapat dielakkan lagi kesulitan-kesulitan empiris di dalam usaha memahami dengan sempurna kenyataan Allah Tritunggal.

IV. SIKAP DALAM MEMPELAJARI DOKTRIN TRITUNGGAL

Esra Alfred Soru

Seperti dikatakan di atas bahwa doktrin Tritunggal ini sulit dipahami, maka menemukan sikap yang tepat dalam mempelajari atau memahaminya merupakan hal yang sangat penting. Tanpa sikap yang benar dalam mempelajari kebenaran ini, maka konsep yang benar tentang kebenaran ini akan tetap merupakan suatu misteri tak terpecahkan. Sikap-sikap itu antara lain:


1. Penghargaan yang Tinggi Terhadap Kemisteriusan dan Keunikan Allah

Allah adalah misterius dan unik (God is the mystery and unique Being). Jikalau Ia misterius dan unik, maka tentunya ada sisi dalam diri-Nya yang tak terjangkau oleh akal dan pikiran manusia. Jikalau ia terjangkau oleh akal dan pikiran manusia, maka Ia bukanlah pribadi yang misterius dan unik. Jikalau Ia bukan pribadi yang misterius dan unik, maka pada dasarnya Ia bukanlah Allah, sebab Allah harus memiliki sisi misteri dan keunikan dalam diri-Nya. Allah akan kehilangan nilai keallahan-Nya jikalau sisi misteri dan keunikan menjadi hilang dari diri-Nya. Barth berkata, “Allah bukanlah Allah, seandainya Dia bukan Dia yang sama sekali lain, Dia Yang Asing, Yang tak terpahami, seandainya Dia Cuma perpanjangan dunia.” (Barth dalam buku Horst G. Poehlmann; 1998: 13-14). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Allah yang dapat dipahami seluruhnya adalah bukan Allah (Robert Crossley: Tritunggal Yang Esa; 1983: 40)

Dalam ajarannya tentang Allah, Luther memaparkan dua aspek yang unik dari diri Allah yaitu Allah yang diwahyukan (Revelated God) dan Allah yang disembunyikan (The Hidden God). Menurutnya, Allah yang disembunyikan (The Hidden God) adalah seperti bulan di langit yang hanya dapat dilihat bagian depannya, tanpa dapat dilihat bagian belakangnya. Demikianlah Allah itu begitu ajaib dan besar sehingga ada bagian yang tersembunyi yang belum pernah diwahyukan kepada kita. Inilah sisi misterius dari Allah itu. Jadi “Deus Revelatus” (Allah yang dinyatakan) masih merupakan “Deus Apconditus” (Allah yang tersembunyi). Senada dengan Luther, Calvin pun berkata bahwa : “Allah dalam keberadaan-Nya yang terdalam tak terselami, Kecuali melalui wahyu Allah, hakikat Allah itu tak terpahami sehingga keilahian-Nya sepenuhnya luput dari pengertian manusia”. Dengan demikian di dalam mempelajari dan memahami doktrin Tritunggal, sikap yang harus dimiliki adalah sikap penghargaan yang tinggi terhadap sisi kemisteriusan dan keunikan Allah ini. Dengan mengakui dan menghargai serta mempertahankan sisi misteri dan keunikan dalam diri Allah, maka hal itu sama dengan tetap menjadikan Allah sebagai Allah. Tetapi sebaliknya, setiap usaha untuk memahami-Nya dengan sempurna dan menghilangkan sisi kemisteriusan dan keunikan-Nya adalah sama dengan mencoba menjadikan Allah menjadi bukan Allah, menurunkan-Nya dari takhta, serta menobatkan pikiran atau akal manusia menjadi Allah. Barth menulis dalam bukunya “Der Romerbrief” bahwa keunikan pada Allah akan lenyap, apabila orang tidak melihat jurang, daerah es, wilayah gurun yang harus diseberangi, jika kita sungguh ingin melangkah dari kefanaan dan kebakaan. (Karl Barth dalam buku Poelhmann; 1998:14). Biarkanlah Allah tetap menjadi Allah dengan membiarkan atau menghargai ruang gelap dalam diri-Nya tanpa usaha untuk menjadikan-Nya seterang mungkin. Michael de Milinos berkata : “Kita akan dapat mengunjung Allah lebih tinggi, jikalau kita mengetahui bahwa Allah itu tak dapat dimengerti dan berada di luar jangkauan pengertian kita…” (A.W.Tozer, 1995: 31-32).


2. Sikap Iman yang Mendahului Pengertian

Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kebenaran Tritunggal adalah kebenaran yang bersifat dan berdasarkan wahyu. Jika demikian maka pada saat seseorang belajar tentang Tritunggal, berarti orang tersebut sementara belajar dari Dia dan tentang Dia. Pengenalan tentang Allah hanya dapat terjadi sepanjang hal itu dinyatakan oleh Allah sendiri. Bahkan Martin Luther berkata bahwa Deus Revelatus (Allah yang dinyatakan) sekalipun, masih merupakan Deus Abconditus (Allah yang tersembunyi). Dalam keberadaan yang terbatas, tak mungkin dapat memahami yang sepenuhnya Allah Yang Tak Terbatas. (Floyd C. Woodworth, Jr & David D. Duncan; 1989:27). Jadi pengenalan itu adalah “inadaequaat”, oleh karena seperti apa yang dikatakan oleh Calvin bahwa “finitum non capax infiniti” (Yang fana tidak mungkin memahami yang tidak fana/kekal) (R. Sudarmo: Ikhtisar Dogmatika;1985: 93; lihat juga Poehlmann; 1998:15). Wahyu adalah cara dan tindakan Allah yang keluar dari selubung-selubung-Nya, serta memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Jadi dalam hal pengertian tentang kebenaran Tritunggal, Allah selalu bertindak sebagai Subyek dan tidak pernah sebagai obyek, dan Ia selalu mengawasi setiap orang sementara orang tersebut mempelajari-Nya. (Stephen Tong; 1990:13). G. Van Schie: Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani Dalam Konteks Sejarah Agama-Agama Lain (Buku 1); 1994:55).

Jikalau kebenaran ini bersifat dan berdasarkan wahyu, maka satu-satunya jalan untuk memahami-Nya adalah dengan sikap iman dan kepasrahan dan kebenaran. Iman inilah yang nantinya menuntun kepada pengertian tentang Kebenaran itu, seperti apa yang dikatakan oleh Anselmus dalam “I believe in order to know and not I know in order to believe” (Aku percaya supaya aku mengerti dan bukan aku mengerti supaya aku percaya). Sikap yang demikian tidak memerlukan bukti lebih lanjut, sebab meminta bukti berarti menunjukkan kebimbangan dan memperoleh bukti berarti menyatakan bahwa iman itu sia-sia. (A.W.Tozer; 1995: 32). Ini cocok dengan pendapat Jaspers bahwa ‘bukti berarti kematian iman’. (Jaspers dalam buku Poehlmann; 1998: 18). A.W.Tozer mengawali pembahasan tentang “Allah yang tak dapat dimengerti” dengan sebuah kalimat doa yang berbunyi : “Tuhan, dilema yang kami hadapi besar sekali! Di hadirat-Mu kami patut berdiam diri, tetapi kasih bergelora di hati kami dan memaksa kami untuk berbicara. Seandainya kami berdiam diri, maka batu-batu akan berseru; namun apabila kami harus berbicara, apa yang harus kami katakan? Ajarlah kami untuk mengetahui apa yang belum kami ketahui, karena tidak ada manusia yang dapat mengetahui hal-hal tentang Allah, hanya Roh Allah yang dapat. Apabila akal yak berdaya, biarlah iman yang menyangga kami, dan kami akan berpikir bahwa kami sudah percaya, bukan supaya kami percaya. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin”.

Dalam bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa salah satu kesulitan dalam mempelajari doktrin Tritunggal adalah kesulitan filosofis, di mana kebenaran Tritunggal tergolong ke dalam hal yang supra natural. Supra rasional berarti berada di atas jangkauan kemampuan akal, dengan demikian rasio akan mengalami kesulitan untuk memahami hal-hal yang supra rasional. Tentunya hal ini menimbulkan kesulitan rasional-filosofis untuk memahami doktrin Tritunggal. Bukankah hal ini rasional? Jika ingin sungguh-sungguh rasional, maka harus berani menerima keberadaan yang supra rasional berarti gagal menjadi orang yang rasional.


3. Sikap Hormat dan Berbakti Kepada-Nya

Selain dua sikap di atas, sikap praktis lain yang harus dimiliki dalam mempelajari doktrin Tritunggal adalah sikap hormat, berbakti dan memuliakan keagungan dan kebesaran-Nya seperti yang dilakukan Barth. Ia membiarkan rahasia Allah dengan seluruh kesungguhannya tak tersentuh, dan tidak berusaha membongkarnya dengan akal budi. Ia tidak berikhtiar untuk membedah rahasia ilahi dengan pisau rasio, melainkan menyembah-Nya. (Sebuah penilaian terhadap Barth oleh Poehlmann; 1998:22). Anselmus berkata, “Biarkanlah aku mencari Engkau di dalam kerinduan, dan merindukan Engkau di dalam mencari Engkau; biarkanlah aku menemukan Engkau di dalam kasih, dan mengasihi Engkau di dalam menemukan Engkau” (St.Anselm dalam A.W.Tozer; 1995:33).

Kebenaran Tritunggal yang jauh melampaui akal dan pengertian manusia, seharusnya menuntun manusia untuk masuk ke dalam puji-pujian kepada-Nya. Dogma tentang ketritunggalan itu tidak memecahkan rahasia hakikat Allah, melainkan mau mengajak untuk turut serta memuliakan Allah dengan lagu pujian gereja segala abad…(Niftrik & Boland; 1984: 560). Doa pada perayaan ulang tahun yang ketujuh puluh dari Krister Stendahl pada tanggal 21 April 1991 berbunyi : “Ya, Engkau Hikmat abadi, sebagian saja yang kami tahu; Ya, Engkau Keadilan abadi yang sebagian saja kami akui tetapi tidak sepenuhnya kami turuti; Ya, Engkau Kasih abad yang kami hanya kasihi sebagian, tetapi takut mengasihi sepenuh-penuhnya; bukalah pikiran kami agar kami mengerti; bekerjalah dalam kehendak hati kami, agar kami menuruti; nyalakanlah hati kami agar kami dapat mencintai-Mu”. (Hans Ucko: Akar Bersama (Belajar tentang iman Kristen dari dialog Kristen-Yahudi); 1995; viii).

V. ALLAH TRITUNGGAL : SEBUAH PEMBAHASAN TEOLOGIS-ALKITABIAH

Esra Alfred Soru


Setelah mengetahui sejarah lahirnya doktrin Tritunggal dan kontroversi yang terjadi di sekitar perumusannya, maka pada bagian ini akan dipaparkan suatu dasar teologis-alkitabiah yang menjadi landasan doktrin ini.


1. Perjanjian Lama

Karena kebenaran Tritunggal adalah wahyu Allah, dan wahyu Allah itu bersifat progresif, maka haruslah disadari bahwa Perjanjian Lama tidak memberikan bukti-bukti secara eksplisit tentang ketritunggalan Allah, melainkan hanya memberikan indikasi-indikasi ke arah kenyataan ini. Berkhof berkata : “Alkitab tak pernah berhubungan dengan doktrin Tritunggal sebagai suatu kebenaran yang abstrak, akan tetapi Alkitab mengungkapkan kehidupan Tritunggal dalam berbagai hubungan sebagai suatu kenyataan yang hidup....” (Louis Berkhof, 1993: 148). Oleh sebab itu maka konsep yang akan dipaparkan di dalamnya tentu hanya bersifat indikatif saja.

Satu ayat yang mengindikasikan adanya semacam kejamakan dalam diri Allah adalah Kej 1:26 : “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kitadan ayat-ayat lainnya seperti Kejadian 3:22; 11:7; Yesaya 6:8, dan lain-lain. Harus diakui bahwa sebenarnya bentuk jamak (plural) dalam ayat ini tidak secara langsung menunjuk kepada Allah Tritunggal, sebab dalam corak Perjanjian Lama penggunaan bentuk jamak adalah untuk menggambarkan atau merupakan suatu jamak kehormatan “plural maiestaticus” (Walter Lempp: Tafsiran Kejadian; 1974: 36). Sekalipun demikian tak dapat disangkal bahwa ayat-ayat itu mengandung petunjuk tentang adanya perbedaan pribadi dalam diri Allah dan juga menunjuk kepada keadaan jamak dari pribadi-pribadi itu. (Louis Berkhof, Op.cit: 149).

Mungkin hal menarik yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memikirkan kebenaran Tritunggal adalah bahwa ada pribadi lain yang sangat jelas dibedakan dari Allah (Bapa). Contoh dalam Alkitab yang memaparkan kebenaran ini adalah Kejadian 1:1-2 : “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air”.

Selain itu Alkitab juga mencatat adanya pribadi lain di samping Allah yang esa dan memiliki kualitas yang sama dengan Allah dalam segala hal, tetapi sekali lagi semuanya ini masih bersifat indikasi-indikasi ke arah doktrin Tritunggal.


a. Ada penyataan tentang pribadi lain di samping Allah (Bapa)

Yang dimaksud di sini adalah bahwa dalam Alkitab dibedakan juga tentang Tuhan yang dibedakan dari Tuhan (Allah) (Thiessen; 1992, hal. 140). Contohnya seperti yang terdapat dalam beberapa ayat di bawah ini :

“Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan, dari langit.” (Kejadian 19:24)

“Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka.” (Hosea 1:7)

“Lalu berkatalah malaikat TUHAN kepada iblis itu: ‘TUHAN kiranya menghardik engkau, hai iblis!’” (Zakharia 3:2)

Jadi ayat-ayat di atas sungguh menunjukkan perbedaan yang jelas antara Tuhan (Allah) dengan Tuhan.


b. Ada penyataan tentang pribadi kedua dari Allah Tritunggal

Selain mengungkapkan suatu perbedaan antara TUHAN dan TUHAN (Allah) secara umum, Alkitab juga memberi penyataan tentang pribadi kedua dari Allah Tritunggal. Di dalam Perjanjian Lama sering digunakan istilah atau sebutan “Malaikat Tuhan” yang sering menampakkan diri kepada orang-orang tertentu seperti pada Hagar (Kejadian 16:7-14), Abraham (Kejadian 22:11-18), Yakub (Kejadian 31:11-13), Musa (Keluaran 3:2-5), Israel (Keluaran 14:19), Bileam (Bilangan 22:22-35), Gideon (Hakim-Hakim 6:11-23), Manoah (Hakim-hakim 13:2-25), Elia (I Raja-raja 19:5-7), dan Daud (I Tawarikh 21:15-17). Menurut R. Soedarmo istilah atau sebutan “Malaikat Tuhan” ini tidaklah menunjuk kepada malaikat biasa (R. Soedarmo; 1985: 94-95) karena: (1) Ia berfirman atas nama-Nya sendiri (Kejadian 16:10), (2) Ia mau disembah oleh orang (Yosua 5, Hakim-hakim 2) padahal malaikat biasa tidak boleh dan tidak mau disembah (Wahyu 19:10 ; 22:9), (3) Ia juga disebut Allah (Kejadian 16:13) tetapi merupakan petunjuk khusus kepada pribadi kedua dari Allah Tritunggal pada masa pra inkarnasi. Penampilan-Nya dalam Perjanjian Lama ini merupakan pertanda dari kedatangan-Nya sebagai manusia di kemudian hari. (Thiessen, Op.cit:140)


c. Ada penyataan tentang pribadi ketiga dari Allah Tritunggal.

Dalam Perjanjian Lama, pribadi ketiga dari Allah Tritunggal yaitu Roh Kudus pun dinyatakan dan dibedakan dari Allah (Bapa).

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi…dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” (Kejadian 1:1-2)

“Berfirmanlah Tuhan kepada Musa…dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah.” (Keluaran 31:1-3)

Itulah beberapa indikasi yang mengarah kepada konsep Tritunggal yang nampak dalam Perjanjian Lama.


2. Perjanjian Baru

Kalau dalam Perjanjian Lama konsep Tritunggal tidak terlalu jelas dan hanya bersifat indikatif saja, maka dalam Perjanjian Baru,

a. Ada tiga pribadi (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang sering disebutkan secara bersama-sama.

Ayat-ayat di bawah ini memperlihatkan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus disebutkan secara bersama-sama.


“Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan : “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku (Bapa) berkenan.” (Matius 3:16-17)

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Matius 28:19)

“Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” (2 Korintus 13:13)

Bandingkan juga dengan ayat-ayat lain seperti 1 Korintus 12:4-6; Efesus1:13-14; 1 Petrus 1:2; 3:18 dan Wahyu 1:4-5.


b. Ada tiga pribadi yang dinyatakan sebagai Allah dan memiliki kualitas ilahi yang sama dalam berbagai hal.

Setelah melihat ayat-ayat di atas, maka pertanyaan penting yang harus dipikirkan adalah “Siapakah Anak (Yesus Kristus) dan Roh Kudus ini sehingga Nama “Mereka” layak disejajarkan dengan Nama Allah (Bapa)?” Tentang Allah Bapa, tentunya tidak ada masalah lagi yang berkaitan dengan keilahian-Nya, sebab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dengan sangat jelas berbicara tentang Ia sebagai Allah, dan juga bahwa dalam kerangka doktrin Tritunggal, pribadi Bapa sangat jarang dipersoalkan. Tetapi bagaimana dengan Anak dan Roh Kudus? Kedua oknum ini sungguh-sungguh menjadi persoalan dan titik pusat perdebatan (terutama Sang Anak). Siapakah Mereka? Apa hubungan Mereka dengan Allah (Bapa)? Untuk lebih jelasnya, betapa perlu melihat kedua pribadi ini (Anak dan Roh Kudus) satu per satu secara khusus tentang keilahian Mereka:


Anak (Yesus Kristus)

Iman Kristen yang ortodoks berdiri dengan kokoh di atas dasar keilahian Kristus. Jikalau Yesus Kristus ternyata bukan Allah, maka runtuhlah fondasi iman Kristen. Itulah sebabnya betapa penting untuk memahami pribadi Kristus dengan benar.

Di Kaisarea Filipi Yesus pernah mengajukan suatu pertanyaan tantangan, “Kata orang banyak siapakah Aku ini?” (Lukas 9:18-21). Lalu murid-murid pun menjawab sesuai dengan pendapat orang banyak bahwa ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, Yeremia atau seorang dari para nabi. Tetapi setelah itu Yesus melanjutkan pertanyaan-Nya yang sangat bersifat pribadi, “Menurut kamu siapakah Aku ini?” Lalu Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup.” Menanggapi jawaban Petrus, Yesus berkata “…engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Kata “di atas batu karang ini” sebenarnya tidak menunjuk kepada Petrus secara pribadi melainkan kepada pengakuannya itu. Jadi dengan kata lain gereja berdiri atas dasar pengakuan terhadap keilahian Kristus. ”Apakah pendapatmu tentang Kristus?” merupakan pertanyaan utama dalam kehidupan setia orang Kristen. (Thiessen, Op.cit: 142). Atas kebenaran inilah maka betapa pentingnya memikirkan keilahian Kristus.

Secara ringkas iman Kristen mengakui keilahian Kristus karena beberapa hal :

Ia memiliki nama ilahi : di mana Ia disebut Allah (Ibrani 1:8), Ia disebut Anak Allah (Matius 16:16-17), Ia disebut Raja segala raja, Tuhan segala tuan (Wahyu 19:16)

Ia memiliki sifat-sifat ilahi : Ia kekal (Yohanes 1:15; 8:58; 17:5, 24; Kolose 1:15, dll), Ia maha hadir (Matius 18:20; 28:20, dll), Ia maha tahu (Yohanes 2:24-25; 16:30; 21:17; Lukas 6:8; 11:17, dll), Ia maha kuasa : aas penyakit (Lukas 4:39), aas setan (Lukas 4:34-35), aas segala yang hidup (Yohanes 17:2), aas alam semesta ((Matius 8:26), aas kematian (Lukas 7:12-17), Ia suci (Ibrani 7:26-28), Ia tidak berubah (Ibrani 13:8; 1:12)

Ia melakukan tindakan-tindakan ilahi & tidak menolak diperlakukan sebagai yang ilahi : Ia mencipta (Yohanes 1:3; Kolose 1:16; Ibrani 1:10), Ia menopang segala sesuatu (Kolose 1:17), Ia mengampuni dosa (Matius 9:2, 6; Lukas 7:47-48), Ia membangkitkan orang mati (Lukas 7 :11-17), Ia menghukum manusia (2 Timotius 4 :1 ; Yohanes 5 :22-23), Ia memberi hidup yang kekal (Yohanes 10:28; 17:2), Ia menerima penyembahan dari manusia (Matius 14:33; Lukas 24:52; Ibrani 1:6; Yohanes 20:28; Wahyu 5:8).


Roh Kudus

Sama seperti Kristus, Roh Kudus juga adalah oknum ilahi yang berada di samping dan bersama-sama dengan Allah. Tetapi sebelum melihat bukti-bukti alkitabiah tentang keilahian Roh Kudus, haruslah diingat bahwa doktrin Roh Kudus juga mendapat tantangan yang sangat berat. Roh kudus tidak diakui sebagai suatu pribadi, seperti pandangan Schleirmacher yang melihat Roh Kudus hanya sebagai suatu gerakan dan inspirasi yang bersifat agama saja. (Stephen Tong; 1195:2). Oleh sebab itu, sangatlah penting melihat dan meneliti apa kata Alkitab tentang hal ini. Sebab, sama seperti apa yang dikatakan oleh Loraine Boettner bahwa setelah kepribadian Roh Kudus didirikan, hanya sedikit orang yang menyangkal keilahian-Nya. Jelas Ia bukan makhluk ciptaan, maka kalau mengakui kepribadian-Nya, haruslah menerima keilahian-Nya juga (Loraine Boettner, 1947: 89).

Alkitab juga jelas memberikan bukti-bukti tentang kepribadian Roh Kudus antara lain:

Bukti melalui keberadaan-Nya : Ia memiliki pikiran (Roma 8:27), Ia memiliki perasaan (Efesus 4:30), Ia memiliki kehendak (1 Korintus 12:11)

Bukti melalui karya-karya-Nya : Ia mengajar (Yohanes 14:26), Ia memimpin (Roma 8:14), Ia memerintah (Kisah Para Rasul 8:29), Ia berkata-kata (Yohanes 15:26; 2 Petrus 1:21).

Bukti melalui pengakuan yang dikenakan kepada-Nya : Ia bisa ditipu (Kisah Para Rasul 5:3), Ia bisa ditentang (Kisah Para Rasul 7 :51), Ia bisa dihujat (Matius 12 :31), Ia bisa didukakan (Efesus 4:30), Ia bisa dihina (Ibrani 10:29).

Dengan demikian Roh Kudus adalah suatu pribadi, namun bukan hanya pribadi saja tetapi pribadi ilahi. Keilahian-Nya ini dapat dilihat dari kenyataan-kenyataan bahwa:

Ia memiliki nama-nama ilahi : Ia disebut Allah (1 Korintus 6:11), Ia disebut Roh Kristus (Roma 8:9), Ia disebut Roh yang kekal (Ibrani 9:11), Ia disebut Roh kebenaran (Yohanes 16:13), Ia disebut Roh kemuliaan (1 Petrus 4:14), Ia disebut Roh kekudusan (Roma 1:4)

Ia disetarakan dengan Bapa dan Anak : (Matius 28:19; 2 Korintus 13:13)

Ia memiliki sifat-sifat ilahi : Ia maha tahu (Yohanes 14:26; 16:13; 1 Korintus 2:10-11), Ia maha kuasa (Lukas 1:35; Kisah Para Rasul 1:2), Ia maha hadir (Mazmur 139 :7-10), Ia memberi hidup (Roma 8:2), Ia kekal (Ibrani 9:14).

Ia melakukan tindakan-tindakan ilahi : Ia turut terlibat dalam karya penciptaan (Kejadian 1:2), Ia mengilhamkan Firman Allah (2 Petrus 1 :21), Ia berkarya dalam proses inkarnasi (Lukas 1:35), Ia meyakinkan orang percaya (Yohanes 16:8), Ia melahirbarukan manusia (Yohanes 3:5-6), Ia memberi penghiburan (Yohanes 14:26), Ia menyucikan /menguduskan (2 Tesalonika 2:13).

Fakta-fakta di atas (tentang Anak dan Roh Kudus) telah membuktikan bahwa Anak dan Roh Kudus memiliki kualitas ilahi yang sama dengan Bapa. Dengan demikian dapat dilihat bahwa ada tiga pribadi ilahi yang hidup berdampingan dari kekal hingga kekal, yakni Bapa, Anak dan Roh Kudus. Inilah Tritunggal.

Hal berikut yang tak boleh dilalaikan adalah tentang masalah keesaan dari ketiga pribadi ilahi itu. Memang ada tiga pribadi ilahi, tetapi doktrin tritunggal tidak berhenti sampai di situ. Doktrin tritunggal menyatakan bahwa ketiga-Nya itu esa. Jika pembahasan tentang konsep Allah hanya berhenti sampai pada adanya tiga pribadi ilahi, maka hal ini sama dengan berkata bahwa ada tiga Allah. Itu berarti konsepsi tersebut telah jatuh ke dalam salah satu ekstrim, yaitu politeisme. Untuk itu maka sangatlah perlu menyoroti aspek keesaan ini secara khusus.

Allah itu “Tritunggal”. Dari pembahasan sebelumnya telah jelas bahwa “tri-Nya” terletak pada adanya tiga pribadi ilahi, atau seperti konsep Boettner bahwa ada tiga pusat pengetahuan, kesadaran, kasih dan kehendak yang terpisah satu dari yang lain, sedangkan “tunggal-Nya” (keesaan-Nya) terletak pada esensi-Nya. Secara singkat, pengertian esensi secara umum adalah hakikat barang sesuatu (Louis O. Kattsoff: Pengantar Filsafat; 1986: 51). Maksudnya adalah bahwa esensi itu merupakan sesuatu yang menjadikan sesuatu itu seperti dirinya sesuatu itu. Contohnya sebuah segi tiga merupakan sebuah segi tiga.

Jika pengertian ini dikaitkan dengan konteks teologis, dapatlah dikatakan bahwa esensi itu hakikat dasar atau “unsur pembentuk” keallahan, atau mungkin lebih dapat dikatakan sebagai “inti dasar” keallahan. Selanjutnya sesuai dengan konsepsi Tritunggal yang mengatakan bahwa letak keesaan pribadi-pribadi Allah Tritunggal adalah pada esensi-Nya, maka esensi di sini mempunyai pengertian sebagai apa yang sama (“unsur pembentuk” atau “inti dasar”) di antara Mereka bertiga (pribadi-pribadi Allah Tritunggal) di dalam keallahan (Boettner, Op,cit: 106). Maksudnya adalah bahwa : ‘Setiap pribadi itu memiliki “in toto” esensi yang tak terbagi atau terpisahkan dari ilahi di mana sifat dan kuasa ada di dalamnya, maka setiap pribadi memiliki pengetahuan ilahi, hikmat, kuasa, kesucian, keadilan, kebaikan dan kebenaran yang sama. Mereka bekerja sama dalam suatu harmonisasi yang sempurna dan bersatu, sehingga kita boleh mengatakan bahwa Allah Tritunggal bekerja dengan satu pikiran dan satu kehendak’.

Karena ketiga pribadi dari Tritunggal ini memiliki esensi yang sama, dan karena sifat-sifat yang ada tak dapat dipisahkan dari esensi, maka berarti bahwa semua sifat ilahi dimiliki bersama oleh masing-masing pribadi, dan bahwa ketiga pribadi memiliki tingkatan yang sama dan sama-sama kekal. Setiap pribadi adalah Allah, memakai kuasa yang sama, mengambil bagian di dalam kemuliaan yang sama dan sama-sama berhak disembah. Dengan demikian maka doktrin Tritunggal tidak dapat membawa kepada “Triteisme”, karena meskipun ada tiga pribadi di dalam keallahan, tetapi hanya ada satu esensi. Dengan demikian maka hanya ada satu Allah. Satu esensi hidup yang berada dalam tiga pribadi. Ketiga pribadi yang dihubungkan dengan esensi ilahi bukan sebagai 3 individu seperti Abraham, Ishak dan Yakub kepada sifat manusia. Mereka hanya satu Allah, buka triad tetapi trinitas.

Beberapa ayat Alkitab yang membuktikan kesamaan esensi di antara pribadi-pribadi Allah Tritunggal antara lain:

Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9)

“Aku dan Bapa adalah satu”. (Yohanes 10 :30)

"Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku...” (Yohanes 14 :11)

“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus…” (2 Korintus 5:19)