"PELANGI KASIH MINISTRY" adalah sebuah lembaga pelayanan yang berpusat di Kupang-NTT yang didirikan dan dipimpin oleh Esra Alfred Soru. Melayani dalam bidang pelayanan pemuda, pelayanan anak, pelayanan radio, internet, literatur-literatur Kristen, Pekabaran Injil dan pendidikan teologia bagi kaum awam.
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
25 Agustus 2015
16 Agustus 2015
12 Agustus 2015
11 Agustus 2015
26 Juni 2015
YESUS TELADAN KITA
By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.
Mat 14:13-21 – (13) Setelah Yesus mendengar berita itu
menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke
tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan
mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. (14) Ketika Yesus mendarat, Ia
melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas
kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. (15) Menjelang
malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: "Tempat ini sunyi dan
hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat
membeli makanan di desa-desa." (16) Tetapi Yesus berkata kepada mereka:
"Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan." (17)
Jawab mereka: "Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua
ikan." (18) Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku." (19)
Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima
roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu
memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu
murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. (20) Dan mereka
semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan
roti yang sisa, dua belas bakul penuh. (21) Yang ikut makan kira-kira lima ribu
laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
|
K
|
isah yang baru saja kita baca ini
adalah kisah yang tidak asing lagi, bahkan boleh dikatakan sebagai kisah yang
terkenal. Kisah ini adalah satu-satunya cerita mujizat yang diceritakan di
dalam 4 Injil. Dan karenanya nanti dalam pembahasan kisah ini, saya tidak hanya
mengacu pada catatan Injil Matius saja yang sudah kita baca tetapi juga pada
catatan Injil-Injil yang lain. Ya, kisah
di mana Yesus memberi makan 5000 orang dengan menggunakan 5 roti dan 2 ikan.
Jumlah 5000 orang ini hanyalah jumlah laki-laki, tidak termasuk perempuan dan
anak-anak.
Mat 14:21 - Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
Sehingga sudah pasti jumlah yang
makan melampaui itu. Barclay memperkirakan jumlah seluruhnya 12.000 orang. Saking
terkenalnya cerita ini sampai diciptakan lagu khusus tentangnya : “Lima roti dan dua ikan, Tuhan Yesus yang
memberkati. Dimakan 5000 orang, sisa 12 bakul”.
Memang ada juga orang yang
menafsirkan bahwa cerita ini bukanlah mujizat di mana Tuhan membuat 5 roti dan
2 ikan cukup untuk ribuan orang.
a. Barclay
mengatakan bahwa ada orang yang mengartikan cerita ini sebagai sebuah sakramen.
William Barclay - Banyak orang melihat dalam mukjizat ini suatu sakramen.
Mereka berpikir bahwa orang-orang yang hadir di sana waktu itu hanya menerima secuil
makanan, namun dapat menguatkan mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka
dan merasa puas. Orang yang memandang begitu merasa bahwa ini bukanlah makanan
yang dapat memuaskan rasa lapar jasmani mereka, melainkan makanan rohani
Kristus yang mereka makan. Jika memang demikian, ini merupakan suatu mukjizat
yang diulang kembali setiap kali kita duduk pada meja perjamuan Tuhan kita;
karena pada saat itu kita menerima makanan rohani yang memampukan kita berjalan
dengan langkah yang lebih tegap dan dengan tenaga yang lebih kuat, guna
menempuh perjalanan hidup yang menuju kepada Allah. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Matius
11-28, hal. 165).
Keberatan :
1. Kalau
pun setiap orang hanya menerima secuil roti, tetap 5 roti tidak bisa mencukupi
kebutuhan 12.000 orang. Bandingkan ini dengan kata-kata Filipus.
Yoh 6:7 - Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan
cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.
Kalau roti
seharga 200 dinar saja tidak bisa mencukupi kebutuhan yang ada sekalipun setiap
orang hanya dapat secuil, bagaimana bisa 5 roti cukup? Kecuali roti raksasa. Apalagi
5 ekor ikan kecil? Kecuali ikan paus / hiu raksasa.
2. Dalam
ayat 20 dikatakan bahwa orang-orang itu makan sampai kenyang.
Mat 14:20 - Dan mereka semuanya makan sampai kenyang…..
Jadi bukan hanya
secuil makanan.
b. Barclay
sendiri kelihatannya percaya bahwa ini adalah tindakan Yesus yang membuat
orang-orang mengeluarkan roti persediannya untuk dimakan bersama-sama.
William Barclay – Bayangkanlah kejadiannya. Ada orang banyak berkumpul, dan
hari sudah larut senja, dan mereka sudah lapar. Namun, apakah mungkin bahwa
orang banyak yang berkumpul di sekeliling danau itu sama sekali tidak punya
makanan? Tidakkah mereka membawa makanan, betapapun sedikitnya? Maka senja pun
tiba dan mereka mulai lapar. Namun, mereka sungguh egois. Tidak seorang
pun ingin memperlihatkan apa yang ia bawa, apalagi membagikannya kepada orang
lain sehingga dirinya sendiri akan kekurangan. Maka Yesus menjadi pelopor.
Makanan apa pun yang dimiliki Yesus dan para murid-Nya, Ia mulai saling berbagi
dengan ucapan berkat, tawaran, dan senyuman. Maka mereka pun mulai ikut
membagi-bagikan, dan sebelum mereka sadar akan apa yang sedang terjadi,
ternyata semuanya cukup, bahkan lebih dari cukup untuk semua orang.
Sesungguhnya bila ini yang terjadi, hal itu bukanlah mukjizat penggandaan roti
dan ikan; itu adalah mukjizat tentang perubahan hati manusia yang egois menjadi
murah hati karena sentuhan Kristus. Ini adalah mukjizat tentang lahirnya kasih
di dalam hati yang tidak rela memberi. Ini adalah mukjizat tentang laki-laki
dan perempuan yang diubah oleh sesuatu dari Kristus yang ada dalam hati mereka,
yang telah mengusir keegoisan mereka. Bila demikian, di dalam arti yang paling
nyata Kristus memberi mereka makan diri-Nya sendiri dan mengutus Roh-Nya untuk
tinggal di dalam hati mereka. Tidak menjadi persoalan bagaimana kita mengerti
mukjizat ini. Satu hal yang pasti: bila Yesus ada di sana, mereka yang letih
dapat beristirahat, dan mereka yang lapar jiwanya dikenyangkan. (Pemahaman
Alkitab Setiap Hari : Matius 11-28, hal. 165-166).
Keberatan :
1. Yoh 6:14
jelas menunjukkan bahwa ini adalah mujizat.
Yoh 6:14 - Ketika orang-orang itu melihat mujizat yang telah diadakanNya,
mereka berkata: ‘Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam
dunia.’
2. Juga
perhatikan argumentasi Wiersbe berikut ini :
Warren Wiersbe - Apakah Yesus benar-benar melakukan suatu mukjizat? Mungkin
kemurahan hati anak laki-laki itu hanya membuat malu orang lain sehingga mereka
mengeluarkan bekal makan siang yang mereka sembunyikan dan memberikannya kepada
orang-orang di dekat mereka? Bukan begitu kenyataannya. Yesus tahu hati manusia
(2:24; 6:61, 64, 70) dan Ia menyatakan bahwa orang-orang itu lapar. Ia tentu
akan tahu jika ada makanan yang disembunyikan. Selain itu, orang-orang
menyatakan bahwa ini adalah suatu mukjizat dan bahkan ingin menjadikan Yesus
sebagai raja (6:14-16). Seandainya peristiwa itu hanya suatu akibat dari
psikologi massa, orang-orang tidak akan memberi tanggapan seperti itu. Yohanes
tidak akan memilih peristiwa itu sebagai salah satu dari
"tanda-tanda" seandainya peristiwa itu bukan suatu mukjizat. (Hidup
di Dalam Kristus, hal. 95-96).
Jadi jelas bahwa ini benar-benar
adalah suatu mujizat penggandaan roti dan ikan dan kita tidak semestinya
meragukan apa yang diceritakan secara gamblang di sini.
Sebagaimana saya katakan di atas,
kalau ini bagian yang terkenal, saya yakin sudah banyak orang berkhotbah
tentang ini. Dan saudara juga pasti pernah mendengarkan khotbah dari kisah ini,
bahkan mungkin mendengarnya lebih dari satu kali. Tapi saya berharap bahwa itu
tidak menjadi halangan bagi kita untuk mendengarkannya sekali lagi karena
Firman Tuhan itu kaya. Dia bisa memberkati secara berlimpah dari kisah yang
sama. Ada banyak hal yang bisa disoroti dari kisah ini tapi pada kesempatan ini
saya hanya akan menyoroti apa yang dibuat oleh Yesus yang dapat menjadi teladan
bagi kita. Cerita ini memperlihatkan beberapa teladan dari Yesus yang dapat
kita tiru :
I. TELADAN DI
DALAM PELAYANAN.
Teladan Yesus
di dalam pelayanan ini nampak lewat beberapa fakta :
- Dia tidak menjadikan masalah pribadi-Nya sebagai alasan untuk mengabaikan pelayanan.
Sebelum
peristiwa mujizat 5 roti dan 2 ikan ini, Alkitab memberikan gambaran tentang
situasi yang terjadi berkaitan dengan Yesus. Matius memberikan keterangan bahwa
Yesus baru saja mendapatkan kabar tentang kematian Yohanes Pembaptis yang
dipenggal kepalanya oleh Herodes.
Mat 14:12 - Kemudian datanglah murid-murid Yohanes
Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya.
Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus.
Sudah pasti
Yesus merasa sedih karena Yohanes Pembaptis adalah sepupu-Nya. Itulah sebabnya
Ia menyingkir dan mengasingkan diri.
Mat 14:13 - Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak
mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.
Berarti saat itu
Yesus sedang berada dalam keadaan dukacita dan Ia mau mengambil waktu
menyendiri.
Tapi ada situasi
yang lain yang digambarkan oleh Markus.
Mark 6:29-32 – (29) Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal
itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.
(30) Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan
kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. (31) Lalu Ia berkata kepada
mereka: "Marilah ke tempat yang
sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab
memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.
(32) Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat
yang sunyi.
Jadi Markus
menceritakan ada banyak orang yang datang untuk dilayani oleh Yesus dan
murid-murid-Nya dan ini membuat mereka bahkan tidak sempat makan. Mereka sangat
lelah. Dan karena itu Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk beristrahat sejenak.
Note : Ini berarti para pelayan
Tuhan pun perlu waktu beristrahat dan refresing sejenak. Mungkin penting juga
gereja memikirkan pembiayaan bagi acara refresingnya para hamba Tuhan.
Dua situasi ini
tidak bertentangan karena dalam ayat 32 Markus juga memberikan keterangan
tentang kematian Yohanes Pembaptis. Bisa jadi sementara Yesus dan
murid-murid-Nya sibuk melayani sampai kelelahan, datanglah berita buruk bagi
Yesus bahwa sepupu-Nya Yohanes Pembaptis sudah dibunuh dan dikuburkan. Itu
berarti Yesus berada dalam situasi yang tidak bagus. Di satu sisi Ia dan
murid-murid-Nya sangat lelah, di sisi yang lain datang berita dukacita lagi.
Dan sangat wajar Yesus lalu mengajak murid-murid-Nya untuk mengasingkan diri,
menyendiri dan beristrahat. Bahkan bagi Yesus itu mungkin adalah waktu yang
penting untuk menenangkan diri dari perasaan dukacita-Nya. Tetapi apakah yang
terjadi?
Mat 14:13 – “…Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan
darat dari kota-kota mereka.
Mark 6:33-34 – (33) Tetapi pada waktu mereka bertolak
banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil
jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga
mendahului mereka. (34) Ketika Yesus
mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, ….
Coba bayangkan
situasi ini. Kalau saudara dalam posisi Yesus kira-kira bagaimana? Saudara baru
saja bekerja keras, melayani banyak orang sampai makan pun tidak sempat,
tahu-tahu datang berita duka dan saudara menjadi galau lalu mau menyendiri
sekalian beristrahat, ternyata belum juga beristrahat sudah datang begitu
banyak orang untuk dilayani. Apa reaksi saudara? Mungkin mood saudara akan
menjadi buruk, wajah menjadi cemberut, senyum menjadi hilang dan emosi tidak
stabil dan jengkel dengan situasi itu dan bahkan mengusir orang-orang itu. Tapi
perhatikan bagaimana reaksi Yesus? Dan apa yang Ia buat?
Mat 14:14 – “….maka tergeraklah
hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.
Mark 6:34 – “… maka tergeraklah
hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba
yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Luk 9:11 – “… Ia
menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah
dan Ia menyembuhkan
orang-orang yang memerlukan penyembuhan
Bahkan Ia melayani mereka sampai malam. (Mat
14:15; Mark 6:35; Luk 9:12). Dan itu berarti bahwa Ia dan murid-murid-Nya tidak
sempat makan siang padahal sebelumnya mereka sudah kelaparan. Mengapa Yesus mau
melakukan semua itu? Karena hatinya penuh kasih kepada orang banyak itu.
“Tergeraklah hati-Nya oleh belas
kasihan”. Di sini kita melihat bahwa Yesus, sekalipun lelah, bahkan dalam
keadaan berduka, tetapi tidak menjadikan itu menjadi alasan untuk tidak
melayani atau menghindar dari pelayanan.
Sikap Yesus ini
seharusnya menjadi teladan bagi kita semua pelayan Tuhan. Betapa sering kita
enggan untuk melayani atau menghindar dari pelayanan kita dengan berbagai
alasan yang bahkan adalah alasan-alasan yang lebih remeh dibandingkan dengan
yang dialami Yesus. Pelayanan kita seringkali macet karena alasan-alasan
seperti sibuk, lelah, ada masalah, galau, mood tidak bagus, lagi bete, dll.
Tapi pikirkan ini. Kalau saudara bekerja di kantor, apakah saudara bisa tidak
masuk kantor karena alasan lagi sibuk? Apakah saudara bisa tidak masuk kantor
karena alasan lagi galau? Apakah saudara bisa tidak masuk kantor karena lagi
ada masalah? Apakah saudara bisa tidak masuk kantor karena alasan mood lagi
tidak bagus? Tidak bukan? Kalau untuk pekerjaan sekuler saja saudara tetap
melaksanakannya tidak peduli ada masalah, tidak peduli mood buruk, tidak peduli
lagi galau / bete, dsb, mengapa untuk pekerjaan Tuhan saudara bisa dengan
gampang mengabaikannya karena alasan-alasan yang demikian? Mungkin saudara
berkata karena memang saudara bekerja di sana dan makan dari sana. Jadi
wajarlah kalau saudara bersikap seperti itu. Tapi bukankah saudara juga
memperoleh keselamatan kekal dari Tuhan? Bukankah saudara mendapatkan
pengampunan dosa dari Tuhan? Bukanlah saudara mendapatkan nafas dari Tuhan?
Bukankah saudara mendapatkan kesehatan dari Tuhan? Bukankah saudara mendapatkan
keamanan dan kenyamanan dari Tuhan? Kenapa terlalu banyak alasan di dalam
pelayanan? Apalagi bagi mereka yang memang hidup dari pelayanan itu (seperti
pendeta dan evangelis), seharusnya alasan-alasan demikian bisa dikesampingkan
demi pelayanan. Saya sendiri sebagai manusia memiliki banyak persoalan dan
pergumulan yang kadang-kadang membuat perasaan menjadi sangat tidak nyaman atau
tidak enak. Saya juga bisa galau. Tetapi apakah saya harus menjadikan itu
menjadi alasan untuk menunda atau tidak melaksanakan pelayanan-pelayanan yang
ada? Kalau saya bertindak demikian, gereja ini bisa bubar. Jadi apa pun yang
saya alami, bagaimana pun perasaan saya, semua harus dikesampingkan dan
pelayanan harus lebih diutamakan. Jikalau
kita menyadari bahwa pelayanan adalah tanggung jawab sekaligus hutang kita di
hadapan Tuhan maka kita seharusnya mengesampingkan berbagai macam alasan yang
ada dan terus berjuang untuk melayani Tuhan.
- Dia melibatkan murid-murid di dalam pelayanan-Nya.
Dalam peristiwa
pemberian makan ribuan orang itu, sekalipun Yesus tentu sanggup melaksanakan
itu sendiri, tetapi Ia justru mau melibatkan para murid-Nya dalam pelayanan
itu.
Mat 14:16,19 – (16) Tetapi Yesus berkata kepada mereka:
"Tidak perlu mereka pergi, kamu
harus memberi mereka makan. (19) Lalu disuruh-Nya orang banyak itu
duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah
ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya,
lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Luk 9:14-16
- (14)
“….Lalu Ia berkata kepada murid-muridNya: ‘Suruhlah mereka duduk
berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.’ (15) Murid-murid
melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. (16) Dan
setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit,
mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada
murid-muridNya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak.
Jadi pelayanan
hari itu memang luar biasa dan Yesus menjadi yang utama tetapi para murid pun
semua aktif di dalam pelayanan itu karena Yesus melibatkan mereka. Ini memang
harus dicontoh oleh banyak gereja. Ada banyak gereja dan pelayanan yang hanya
digerakkan oleh orang-orang tertentu saja sedangkan yang lain hanya pasif. Ini
sesuatu yang salah! Saya sendiri sedang berpikir bagaimana caranya agar gereja
kita pun tidak hanya bergantung pada beberapa orang saja tetapi agar semua
jemaat mendapatkan kesempatan untuk melayani. Ini juga berarti bahwa Tuhan senang kalau semua orang Kristen terlibat
dalam pelayanan. Tuhan tidak senang kalau sebuah pelayanan hanya bergantung
pada orang-orang tertentu saja dan yang lain hanya menonton seperti pemirsa
televisi atau seperti dalam stadion sepakbola, ada ribuan orang di sana tetapi
yang main hanya 22 orang sedangkan mayoritas adalah penonton yang kadang-kadang
suka mengkritik dan merasa lebih pintar dari para pemain sendiri.
Yesus berulang kali mengajar Firman Tuhan kepada
murid-murid-Nya tetapi Ia juga melibatkan para murid di dalam pelayanan yang
ada. Ia tidak hanya mengajar mereka dan mereka tidak dilibatkan dalam
pelayanan. Sebaliknya Ia tidak hanya melibatkan mereka dalam pelayanan tetapi
tidak mewajibkan mereka untuk belajar Firman Tuhan. Jadi belajar Firman Tuhan
dan pelayanan adalah 2 hal yang yang tidak terpisahkan dari kehidupan
murid-murid Kristus. Karena itu jangan saudara hanya mau melayani tetapi tidak
mau belajar Firman Tuhan. Ini bisa sesat dan pelayanan jadi tidak karu-karuan.
Banyak orang Persekutuan Doa seperti ini sehingga dalam pelayanannya suka
melakukan yang aneh-aneh seperti mlarang orang melayat, melarang orang makan /
minum di tempat duka, praktek penyembuhan yang aneh-aneh, dll. Perhatikan
nasihat kitab Amsal.
Ams 19:2 - Tanpa pengetahuan kerajinan pun tidak
baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.
Tetapi jangan juga hanya mau belajar Firman Tuhan
tetapi tidak mau melayani.
Di Israel ada laut yang namanya laut mati.
Keunikannya adalah orang bisa mengapung di atas laut itu. Dan lumpurnya
dipercaya mengandung zat obat yang bisa memuluskan kulit dan dari sana
dibuatlah banyak alat kosmetik dari lumpur. Sayangnya di laut ini tidak ada
kehidupan. Ikan-ikan maupun binatang laut satu pun tidak ada di sana. Karenanya
disebut laut mati. Mengapa? Karena kadar garam di laut ini begitu tinggi
sehingga tidak memungkinkan ada kehidupan. Lalu mengapa kadar garam begitu
tinggi? Karena laut ini sebenarnya seperti kolam luas yang hanya menerima air
dari sungai Yordan tetapi tidak pernah bisa menyalurkannya kemana-mana.
Banyak orang menggunakan gambaran ini untuk
menunjuk pada orang yang banya menerima berkat Tuhan tetapi tidak pernah
menyalurkannya bagi orang lain. Tetapi di sini saya katakan bahwa ini juga
berlaku bagi setiap kita yang hanya menerima Firman Tuhan tetapi tidak pernah
menyalurkannya kepada orang lain. Saudara menjadi tidak berguna untuk kehidupan
orang lain secara rohani. Demikian juga kalau saudara hanya menerima Firman
Tuhan terus tetapi tidak pernah menyalurkannya ke mana-mana maka saudara akan
menjadi seperti laut mati.
Dunia ini akan kacau kalau orang-orang yang giat
melayani justru tidak berpengetahuan sedangkan yang berpengetahuan justru tidak
melayani. Yesus mempersiapkan murid-murid-Nya dengan belajar Firman
Tuhan dan juga dengan melayani. Maukah kita meneladani-Nya?
II.
TELADAN DI
DALAM MENYIKAPI BERKAT.
Berkat yang
saya maksudkan di sini adalah 5 roti dan 2 ikan itu yang didapatkan dari
seorang anak kecil berdasarkan keterangan Injil Yohanes.
Yoh 6:9 - "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan;
tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"
Mendengar
tentang 5 roti dan 2 ikan itu. Yesus lalu memerintahkan agar itu dibawa
kepada-Nya.
Mat 14:18 - Yesus berkata: "Bawalah ke mari kepada-Ku.
Dan di tangan
Yesuslah 5 roti dan 2 ikan menjadi cukup untuk mengenyangkan ribuan orang itu.
Note : Ada perbedaan pandangan
apakah roti dan ikan itu menjadi banyak di tangan Yesus ataukah di tangan para
murid pada waktu membagi-bagikannya kepada orang banyak? Memang tidak ada
penjelasan eksplisit tetapi saya berpandangan itu terjadi di tangan Yesus dan
bukan di tangan murid-murid. Dasarnya adalah dari kata ‘memberikannya’ dalam Luk 9:16 (juga dalam Mark 6:41).
Luk 9:16 - Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua
ikan itu, ….lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya
dibagi-bagikannya kepada orang banyak
Kata “memberikannya” dalam ayat-ayat itu di
dalam bahasa aslinya ada dalam bentuk imperfect tense dan menunjukkan ‘he gave, and kept on giving’ (Ia memberikan, dan terus memberikan).
Ini menunjukkan bahwa mujizat itu terjadi di tangan Yesus.
Terlepas dari
masalah itu, yang ingin saya soroti adalah bagaimana sikap Yesus terhadap
berkat itu (roti dan ikan). Ada 2 hal yang perlu diperhatikan :
a. Dia
mengucap syukur untuk roti dan ikan itu.
Perhatikan :
Yoh 6:11 - Lalu
Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya
kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan
itu, sebanyak yang mereka kehendaki”.
Memang di dalam
Injil Matius, Markus dan Lukas tidak dikatakan mengucap syukur melainkan
mengucap berkat.
Mat 14:19 – “…. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan
dua ikan itu, Yesus menengadah ke
langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan
memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya
kepada orang banyak.
Ini sama dengan
Mark 6:41; Luk 9:16.
Tapi J.J de Herr
mengatakan :
J.J de Herr – Terjemahan LAI, bahwa Yesus “mengucap berkat” dapat menimbulkan
salah pengertian bahwa Yesus memberkati roti itu. Prof. W. Grundmann
menerjemahkan “Yesus mengucap syukur". Strack-Billerteck dan Prof. W.Beyer
dengan panjang lebar memperjuangkan terjemahan "Yesus mengucap
syukur" atau "mengucap pujian". (Tafsiran Alkitab Injil Matius, hal.287).
Jadi
kelihatannya terjemahan yang lebih tepat adalah mengucap syukur. Di sini Yesus
memberikan sebuah teladan penting bagi kita bahwa kita perlu bersyukur kepada
Tuhan untuk setiap makanan yang kita makan atau minuman yang kita minum serta meminta
berkat bagi makanan itu supaya bisa menguatkan kita secara jasmani. Dengan kata
lain Yesus mengajar kita untuk berdoa sebelum makan. Doa sebelum makan itu
adalah sebuah pengakuan bahwa segala makanan yang kita makan sumbernya adalah
dari Tuhan.
Warren Wiersbe - Perlu diperhatikan bahwa dua kali Yohanes menyebutkan Yesus mengucap syukur (6:11,23).
Matius, Markus, dan Lukas menyatakan
bahwa Yesus memandang ke langit pada waktu Ia mengucap syukur. Dengan tindakan itu, Ia mengingatkan
orang banyak yang lapar
bahwa Allah adalah sumber semua pemberian yang baik dan yang diperlukan. (Hidup di Dalam Kristus, hal. 98).
J.J de Herr – Orang Yahudi sangat mementingkan pengucapan syukur sebelum
makan. Mereka mengatakan bahwa tanpa pengucapan syukur itu "makanan
dicuri dari Tuhan". Dalam hal itu orang Yahudi merupakan teladan bagi
kita. (Tafsiran Alkitab Injil Matius, hal.287).
Karena itu
selalulah berdoa setiap kali saudara hendak makan. Dan juga ajarkanlah kepada
anak-anakmu untuk selalu berdoa sebelum makan.
Ada seorang tua dari kampung yang berkunjung
ke kota. Di sebuah warung makan sebelum makan makanan yang dipesannya, ia
tunduk dan berdoa. Tapi di sampingnya datang beberapa pemuda berandalan. Sambil
mengolok-olok si orang tua mereka berkata : “Pak
tua, apakah di kampungmu semua orang yang hendak makan selalu berdoa?” Pak
tua itu pun dengan tenang menjawab : “Ya,
kecuali babi”. Jadi yang makan tetapi tidak berdoa itu sama seperti….. (isi
sendiri titik-titiknya).
Perhatikan bahwa
di tangan Yesus hanya ada 5 roti dan 2 ikan, suatu jumlah yang sangat sedikit
tetapi itu tidak menjadi penghalang bagi-Nya untuk mengucap syukur. Karena itu
juga selalulah mengucap syukur atas makananmu sesederhana / sesedikit apa pun.
Jangan mengucap syukur hanya kalau ada se’i babi, sate babi, babi kecap, dll.
Jangan hanya mengucap syukur kalau ada capcay, kwetiau, fu yung hai, siomai, cahkwe, bakso,
bakpau, bakmi, dll. Tetapi mengucap syukur juga walau hanya ada
sayur kangkung, sayur putih, sayur marungga (daun kelor), sayur pepaya, tahu
tempe dan “kurus (lombok) garam” alias “ikan tunjuk”.
Matthew Henry - Meskipun makanan kita sederhana dan hanya sedikit
jumlahnya, sekalipun kita tidak mempunyai banyak dan juga tidak mewah dan
indah, namun kita harus se-nantiasa mengucap syukur kepada Allah atas apa yang
kita miliki. (Injil Yohanes 1-11, hal.355)
Warren Wiersbe - Itu adalah
suatu pelajaran yang baik
bagi kita: daripada mengeluhkan apa yang tidak kita miliki, seharusnya kita bersyukur kepada Allah
untuk apa yang kita miliki, dan Ia akan membuatnya lebih baik. (Hidup
di Dalam Kristus, hal. 98).
Ya, yang
didoakan adalah mengucap syukur atas makanan tersebut, meminta agar Tuhan
memberkatinya dan tak lupa pula orang-orang yang telah berjerih lelah hingga
makanan itu ada di hadapan saudara. Perhatikan doa makan yang ditulis oleh Andar
Ismail dalam bukunya “Selamat Berteduh” hal. 47-48.
Nasi, Sayur Asem dan Ikan Asin
Bapa kami yang di sorga,
tiap hari kami berdoa:
Berikanlah kami pada hari ini
makanan kami yang secukupnya.
Kami mengakui makanan sebagai berkat llahi.
Demikian juga apa yang tersaji saat ini,
nasi, sayur asem dan ikan asin.
Kami mensyukuri nasi ini
serta kisah yang ada di baliknya.
Sekian bulan lalu pak tani membajak sawah,
berhari-hari berlelah.
Lalu istrinya menanam benih padi,
berbulan-bulan mengairi sawah
Kemudian mereka menuai,
lalu menumbuk beramai-ramai.
Mereka bekerja keras
untuk menghasilkan beras
sehingga kini tersaji nasi di piring ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.
Kami mensyukuri sayur asem ini
serta kisah yang ada di baliknya.
Sekian bulan lalu para petani mencangkul,
menggemburkan dan menyuburkan tanah,
menanam jagung, labu, tomat, kacang, belinjo, nangka,
tiap hari mereka menyiram, memelihara kebun,
cemas-cemas harap
menunggu panen
yang menghasilkan sayur-mayur ini
sehingga tersajilah sayur asem ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.
Kami mensyukuri ikan asin ini
serta kisah yang ada di baliknya.
Bulan lalu seorang nelayan melaut,
sepanjang malam diterpa angin dingin,
di tengah ombak dan kegelapan malam,
menjala ikan,
lalu kembali ke darat dengan selamat.
Anak dan istrinya membersihkan ikan itu
menggarami dan menjemurnya
sehingga kini tersaji ikan asin ini.
Ajarlah kami menghargai karya mereka.
Bapa, Allah yang rahmani,
terima kasih untuk nasi yang pulen ini,
sayur asem yang sedap ini
dan ikan asin yang gurih ini.
Kiranya para nelayan dan petani
serta anak dan istri
juga menerima rezeki
seperti kami pada saat ini.
Bapa sorgawi,
berikanlah kami,
termasuk keluarga nelayan dan petani,
pada hari ini
makanan kami yang secukupnya.
Amin.
Menarik bukan? Maukah saudara melakukannya?
b.
Dia
menyuruh mengumpulkan sisa-sisa roti itu.
Injil-Injil bercerita
bahwa setelah orang banyak itu makan sampai kenyang, ternyata roti dan ikan itu
masih ada sisanya. Mengapa bisa
ada sisa?
William
Barclay – Mengapa sisa-sisa? Di dalam pesta-pesta orang Yahudi selalu
ada kebiasaan untuk meninggalkan sisa makan para pelayan. Sisa makanan seperti
itu disebut Peah. Dan atas dasar kebiasaan itu tentulah orang banyak tadi telah
menyisihkan sebagian dari roti yang dimakannya untuk para pelayan yang melayani
mereka waktu itu. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Yohanes 1-7, hal. 346).
Lalu apa yang dilakukan terhadap roti dan
ikan sisa itu? Ternyata mereka mengumpulkannya dan ada sisa 12 bakul.
Mark 6:43 - Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua
belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
Ini sama dengan penuturan Luk 9:17; Mat 14:20.
Tetapi Yohanes memberikan informasi yang
lebih jelas bahwa pengumpulan sisa-sisa itu adalah atas inisiatif Yesus.
Yoh 6:12 - Dan
setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-muridNya:
‘Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.’
Dan perhatikan bahwa tujuan Yesus menyuruh
mengumpulkan semua sisa itu adalah supaya tidak ada yang terbuang. Lalu
dikumpulkan untuk apa? Perhatikan bahwa sisa yang dikumpulkan adalah 12 bakul.
Dan murid Yesus ada 12 orang yang sangat mungkin sepanjang acara itu belum
makan karena sibuk melayani. Jadi 12 bakul itu adalah untuk 12 muridnya, 1
orang 1 bakul penuh. Tentu ini luar biasa dan indah karena Tuhan juga tahu
memperhatikan kebutuhan mereka yang sungguh-sungguh melayani. Tetapi poinnya di
sini adalah bahwa Tuhan menyuruh mengumpulkan sisa-sisa itu. Ia tentu saja bisa
membuat mujizat roti lagi khusus untuk 12 murid-Nya tetapi Ia tidak melakukan
itu karena nanti roti-roti yang sisa itu akan terbuang dengan percuma alias
mubazir. Di sini Yesus memberikan teladan bagi kita tentang bagaimana menghemat
dan tidak menghambur-hamburkan berkat yang ada karena ada orang lain
yang membutuhkan berkat-berkat itu.
Matthew Henry – "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih." Perhatikanlah, kita harus selalu berhati-hati sehingga
tidak memboroskan apa pun dari ciptaan Allah yang baik. Karena semua berkat
yang diberikan baik besar maupun kecil, diberikan dengan suatu syarat ini,
yaitu bahwa tidak boleh ada pemborosan. Kalau boros, Allah akan membuat
kita kekurangan akan hal-hal yang kita boroskan itu. Orang-orang Yahudi sangat berhati-hati
agar jangan sampai membuang-buang roti. Mereka tidak akan membiarkan roti jatuh
ke tanah untuk diinjak-injak. Qui panem contemnit in gravem incidit
paupertatem - Orang yang menghina roti akan jatuh miskin dan papah. Inilah
peribahasa mereka. Meskipun Kristus mampu mengadakan makanan jika Ia berkenan,
namun Ia lebih menghendaki agar mereka mengumpulkan potongan-potongan yang
lebih supaya tidak ada yang terbuang. (Injil Yohanes 1-11, hal.356).
Albert Barnes - ‘12
bakul penuh’.... Adalah
mungkin bahwa setiap rasul mempunyai satu bakul, dan semuanya penuh. Yohanes
(Yoh 6:12) mengatakan bahwa Yesus mengarahkan mereka untuk mengumpulkan
potongan-potongan ini, supaya tidak ada yang terbuang - suatu teladan dari
penghematan. Allah menciptakan semua makanan, dan karena itu makanan mempunyai
sifat kudus; itu semua dibutuhkan oleh orang-orang lain, dan karena itu tidak
ada yang boleh terbuang. (From e-Sword Bible Software).
Benar sekali!
Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan atau menghambur-hamburkan
semua berkat Tuhan yang ada pada kita. Ini termasuk makanan kita! Dan karenanya
jangan membuang-buang makanan terutama anak-anak. Dan saudara yang dewasa pun
harus mengajarkan hal ini pada anak-anak untuk menghargai semua makanan yang
mereka makan. Andar Ismail juga membuat doa tentang ini dalam bukunya yang sama
yang disebutkan di atas (hal. 53-54).
Tiap Butir
Nasi
Bapa kami dalam Kristus,
betapa mudah kami menundukkan kepala
dan begitu terbiasa untuk berdoa,
mengucapkan syukur bagi hidangan di meja.
Tidak disadari bahwa yang kami lakukan
sebetulnya adalah membuat pengakuan
bahwa semua makanan
adalah hasil ciptaan dan milik Tuhan.
Ajarlah kami menghargai makanan
dengan cara tidak menyia-nyiakan.
Biarlah tidak sebutir nasi pun tersisa,
terbuang dan tersia-sia.
Biarlah tidak ada sebatang toge atau kacang,
sehelai kangkung atau bawang,
sepotong pepaya atau pisang,
yang tersisa dan terbuang.
Tuhanlah yang empunya bumi
termasuk tiap butir nasi
yang patut kami hargai
dan syukuri.
Amin.
Tetapi ini
termasuk juga hal-hal lain selain makanan. Misalnya uang! Jangan bersikap boros
dan menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang bukan merupakan kebutuhan
kita. Belilah barang-barang yang merupakan kebutuhan saudara dan jangan membeli
yang tidak saudara butuhkan.
Yes 55:2 - Mengapakah kamu belanjakan uang untuk
sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak
mengenyangkan? …”
Kalau ada
kelebihan makanan atau uang, ingatlah bahwa orang lain begitu membutuhkan hal
itu. Salurkanlan pada mereka daripada itu dihambur-hamburkan dengan sia-sia. Kiranya kita dapat belajar dari sikap
Yesus ini.
AMIN
Info : Versi videonya dapat dilihat di sini : YESUS TELADAN KITA
20 Juni 2015
Cuplikan Khotbah Pdt. Esra Soru : ”BERJALAN DALAM LEMBAH KEKELAMAN”
Maz 23:4 : Sekalipun aku berjalan dalam
lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan
tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Jikalau tadi kita sudah melihat
apa yang dilakukan Tuhan sebagai Gembala, sekarang kita akan melihat bagaimana
seharusnya kita bersikap sebagai domba ketika berada di lembah kekelaman /
lembah bayang-bayang maut. Teks kita memperlihatkan 2 sikap yang harus kita
miliki / lakukan :
a. Kita
harus terus berjalan.
Perhatikan :
Maz 23:4 - Sekalipun aku berjalan
dalam lembah kekelaman….
Lembah
kekelaman memang berbahaya, menakutkan dan mengerikan serta menciutkan hati. Tetapi
domba tidak boleh kehilangan nyali untuk melewatinya karena ada gembala yang
menyertainya. Musuh memang banyak yang siap memangsanya tetapi bukankah ada
gada dan tongkat sang gembala yang akan menjamin keamananya? Karena itu domba
harus mau terus berjalan melewati lembah kekelaman / lembah bayang-bayang maut
itu.
Arti kiasan
yang pertama dari lembah bayang-bayang maut adalah kehidupan yang penuh dengan
kesulitan, tantangan, pergumulan, masalah, kesedihan, penderitaan, dsb. Dan
kita tahu ada banyak orang yang ketika berada dalam kondisi hidup semacam ini tidak
memiliki keberanian untuk terus berjalan maju. Mereka menjadi putus asa, hilang
pengharapan, hilang iman dan tidak sedikit yang memilih bunuh diri.
Contohnya : Seorang
gadis remaja bernama Jayah Shailyea (15 tahun) menerjunkan dirinya dari lantai
27 sebuah apartemen pada hari Valentine 2014. Mengapa ia membunuh dirinya? Karena
ia merasa sangat kesepian di hari Valentine. Seorang lain bernama Bellinda
Anggraini juga membunuh dirinya dengan menabrakan dirinya ke kereta api yang
sementara melaju lantaran putus cinta. Mereka adalah orang yang menyerah dan
tidak mau terus berjalan melewati lembah kekelaman / lembah bayang-bayang maut
itu. Tapi domba-domba Tuhan adalah mereka yang akan terus berjalan sekalipun
melintasi lembah bayang-bayang maut.
Dengarlah hai
orang-orang muda, kalau cintamu kandas di rerumputan, jangan terlalu kecewa
apalagi sampai putus asa dan bunuh diri. Itu mungkin adalah lembah kekelaman
bagimu, tapi ingatlah, kamu harus terus berjalan. Jangan bilang “I can’t live without you” tapi
bilanglah : “LIFE MUST GO ON WITH OR WITHOUT YOU”. Mungkin saja Tuhan mau
memberikan kepadamu yang lebih baik daripada dia.
Saudara yang
terkasih, saya tidak tahu apa yang menjadi lembah kekelaman saudara, saya tidak
tahu apa yang menjadi lembah bayang-bayang maut di mana saudara berada di
dalamnya. Saya tidak tahu apa pergumulan, masalah, kesulitan, kesedihan saudara,
tapi apa pun juga yang saudara alami, jangan pernah menyerah, jangan pernah
berputus asa. Teruslah berjalan maju melintasi lembah itu karena saudara tidak
sendiri. Ada Tuhan Sang Gembala yang menyertai dan menghibur saudara. Ya, teruslah
berjalan bersama Tuhan Sang Gembala yang baik itu karena tanpa itu engkau tidak
akan pernah mencapai rumput hijau dan air yang tenang.
b. Kita
tidak boleh takut.
Kita bukan
hanya dituntut untuk terus berjalan, tapi juga berjalan dalam keadaan tidak
takut.
Maz 23:4 - Sekalipun aku berjalan dalam lembah
kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang
menghibur aku.
Silahkan ikuti khotbah ini secara lengkap di sini : https://www.youtube.com/watch?v=9IowXbag3uU
11 Juni 2015
IRI HATI
By. Esra Alfred Soru
|
I
|
ri hati adalah bahasa yang tidak asing bagi
kita semua. Mungkin kita semua pernah mengalami perasaan iri hati tersebut
terhadap orang lain. Mungkin kita juga pernah “di-iri hati-i” orang
lain/menjadi sasaran iri hati orang lain. Bahkan mungkin di antara saudara ada
orang yang sudah layak digelari ‘PAKAR IRI HATI’. Namun hari ini kita akan membicarakan masalah “iri hati” ini dari sudut
pandang Alkitab.
Alkitab berisi banyak perintah/nasihat
berkenaan dengan masalah iri hati ini.
Maz 37:1 : “Jangan marah karena orang yang berbuat
jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang”
Ams 3:31 : Janganlah
iri hati kepada orang yang
melakukan kelaliman, dan
janganlah memilih satu pun dari jalannya”
Dan masih
banyak ayat lainnya!
Dan Alkitab
mengklasifikasikan orang-orang yang iri hati sebagai orang yang hidup
dalam kegelapan.
Rom 13:12-13 : (12)
Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan
dan mengenakan perlengkapan senjata terang! (13) Marilah kita hidup dengan
sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan
dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.
Dan juga manusia duniawi / kedagingan.
1 Kor 3:3 : Karena kamu
masih manusia duniawi. Sebab, jika di
antara kamu ada iri hati
dan perselisihan bukankah hal itu
menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara
manusiawi?
Gal
5:19-30 : Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir,
perseteruan, perselisihan, iri hati,
amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah…”
Hari ini kita akan membahas 3
hal penting berkenaan dengan masalah iri hati ini :
I.
APA ITU
IRI HATI?
Hal
pertama yang akan kita bahas adalah apakah iri hati itu? Apa sesungguhnya
iri hati itu? Apakah setiap kemarahan terhadap orang lain dapat disebut iri
hati? Apakah setiap kejengkelan terhadap orang lain dapat disebut iri hati? Apakah
setiap ketidaksenangan terhadap orang lain dapat disebut iri hati? Apakah
setiap ketidaksukaan terhadap orang lain dapat disebut iri hati? MAYBE YES, MAY
BE NO! Tergantung pada alasan atau motivasi. Untuk mendapat gambaran tentang
konsep iri hati ini, marilah kita perhatikan Mat 20:1-15 :
Mat
20:1-15 - (1) "Adapun hal Kerajaan
Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari
pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. (2) Setelah ia sepakat dengan
pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun
anggurnya. (3) Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi
orang-orang lain menganggur di pasar. (4) Katanya kepada mereka: Pergi jugalah
kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka
pun pergi. (5) Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula
dan melakukan sama seperti tadi. (6) Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi
dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu
menganggur saja di sini sepanjang hari? (7) Kata mereka kepadanya: Karena tidak
ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun
anggurku. (8) Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah
pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk
terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. (9)
Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka
menerima masing-masing satu dinar. (10) Kemudian datanglah mereka yang masuk
terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima
masing-masing satu dinar juga. (11) Ketika mereka menerimanya, mereka
bersungut-sungut kepada tuan itu, (12) katanya: Mereka yang masuk terakhir ini
hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk
bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. (13) Tetapi tuan itu
menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap
engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (14) Ambillah bagianmu dan
pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti
kepadamu. (15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak
hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
Konteks perikop ini
memang lain (hal kerajaan surga) tetapi perikop ini juga dapat mengajarkan
kepada kita tentang konsep iri hati. Perikop ini menceritakan tentang
pekerja-pekerja di kebun anggur yang sebenarnya terdiri dari 5 grup :
·
Yang didapat pagi-pagi
benar (ay 1-2). Perjanjian
tentang upah mereka adalah 1 dinar per hari.
Mat 20:1-2 - (1) "Adapun hal Kerajaan Sorga sama
seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi
benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. (2) Setelah
ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
·
Yang
didapat pukul 9 pagi (ay 3-4). Perjanjian tentang upah: apa yang pantas.
Mat 20:3-4 - (3) Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar
pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. (4) Katanya
kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun
pergi.
·
Yang
didapat pukul 12 siang (ay 5a). Perjanjian tentang upah sama dengan golongan
kedua (ay 5).
Mat 20:5 - Kira-kira pukul dua belas .... ia keluar
pula dan melakukan sama seperti tadi.
·
Yang
didapat pukul 3 siang (ay 5b). Perjanjian tentang upah sama dengan golongan
kedua (ay 5).
Mat 20:5 - Kira-kira .... pukul tiga petang ia keluar pula
dan melakukan sama seperti tadi.
·
Yang
didapat pukul 5 sore (ay 6-7). Tak ada perjanjian sama sekali!
Mat 20 :6-7 - (6) Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi
dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu
menganggur saja di sini sepanjang hari? (7) Kata mereka kepadanya: Karena tidak
ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
Setelah pekerjaan
selesai, pemilik kebun anggur ini lalu memanggil para pekerja itu untuk
membayar upah mereka. Yang masuk kerja pada jam 6 sore mendapatkan bayaran
terlebih dahulu yakni 1 dinar. Melihat ini yang bekerja lebih awal merasa bahwa
mereka akan mendapatkan bayaran lebih banyak. Tetapi ternyata mereka juga
mendapatkan bayaran 1 dinar.
Mat 20 :8-9 - (8) Ketika hari
malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan
bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka
yang masuk terdahulu. (9) Maka datanglah
mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima
masing-masing satu dinar. (10) Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu,
sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing
satu dinar juga.
Hal ini lalu
membuat para pekerja yang masuk kerja dari pagi bersungut-sungut.
Mat 20:11-12 - (11) Ketika mereka menerimanya, mereka
bersungut-sungut kepada tuan itu, (12) katanya: Mereka yang masuk terakhir ini
hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari
suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
Lalu tuan itu
menjawab :
Mat
20:13-15 - (13) Tetapi tuan itu menjawab
seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau.
Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? (14) Ambillah bagianmu dan
pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti
kepadamu. (15) Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak
hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
Jelas terlihat
bahwa pekerja-pekerja yang pertama (yang bekerja dari pagi-pagi benar) merasa
iri hati terhadap yang bekerja terakhir (jam 5 sore). Ini juga dibuktikan
dengan kata-kata tuan itu dalam ayat 15 : “atau
iri hatikah engkau…?” Mengapa mereka marah / tidak senang? Apakah memang
mereka dirugikan? Menurut perjanjian, mereka diupah 1 dinar 1 hari dan benar
bahwa mereka dibayar sesuai perjanjian. Jadi mereka tidak dirugikan sama
sekali! Mereka tidak senang karena yang bekerja belakangan digaji sama rata
dengan mereka. Jadi mereka marah karena yang lain diuntungkan.
Inilah konsep iri
hati. Iri hati itu bukanlah kemarahan karena kita dirugikan tetapi karena orang
lain diuntungkan. Iri hati itu bukanlah kemarahan karena kita diperlakukan
dengan tidak adil tetapi karena orang lain diperlakukan dengan kasih. Iri hati
bukanlah kemarahan karena kita diturunkan tetapi karena orang lain dinaikkan. Iri
hati bukanlah kemarahan karena kita dihina tetapi karena orang lain dipuji. Iri
hati bukanlah kemarahan karena kita direndahkan tetapi karena orang lain
disanjung.
Budi Asali : “Sesuatu yang
menarik dari rasa iri hati adalah bahwa orang yang iri hati itu seringkali
bukannya ingin lebih banyak untuk dirinya sendiri, tetapi ingin orang lain yang
dikurangi bagiannya”
Anonim : Iri hati tidak
menuntut lebih untuk dirinya sendiri, tetapi menginginkan supaya yang lain
mendapat lebih sedikit.
Jadi jika di kantor
anda menjadi marah karena perhatian lebih yang diberikan bos kepada rekan anda,
berarti anda sedang iri hati. Jika di sekolah / kampus anda menjadi marah
karena teman anda dipuji guru / dosen, berarti anda sedang iri hati. Jika di
pelayanan anda menjadi marah karena rekan sepelayanan disanjung, berarti anda
sedang iri hati, dll. Marilah kita koreksi diri, adakah kita termasuk
orang-orang yang iri hati?
II.
DAMPAK NEGATIF DARI IRI HATI.
Setelah mengetahui konsep iri hati, sekarang kita akan membahas dampak
negatif dari iri hati.
a.
Iri hati pada
prinsipnya merusak / merugikan diri sendiri.
Dampak negatif pertama dari perasaan iri terhadap orang lain adalah merusak
/ merugikan diri kita sendiri. Bahwa iri hati dapat merusak / merugikan diri
sendiri dibuktikan dengan beberarapa ayat Alkitab.
Ayub 5:2 : ‘Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh
sakit hati, dan orang bebal dimatikan
oleh iri hati.
Ams 14:30 : “Hati yang
tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”.
Ilmu antropologi
dan psikologi mengajarkan kepada kita tentang hubungan antara tubuh dan
jiwa. Hubungan ini merupakan sesuatu yang misterius dan tidak bisa dimengerti
sepenuhnya.
1)
Kadang jiwa mempengaruhi tubuh.
Kebanyakan gerakan
tubuh tergantung kepada jiwa, seperti berjalan, berolah raga, dsb. Tetapi ada
juga gerakan tubuh yang tidak tergantung kepada jiwa, seperti denyut jantung,
pencernaan yang dilakukan oleh usus, atau keluarnya keringat. Contoh tubuh
dipengaruhi oleh jiwa seperti kalau jiwa kacau (stress,
depresi), tubuh bisa sakit. Itulah sebabnya Ams
17:22 berkata : Hati yang
gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan
tulang. Kalau orang malu, mukanya menjadi merah. Kalau orang merasa
sukacita, matanya berbinar-binar sebagaimana kata Ams 15:13 : ‘Hati yang gembira membuat muka
berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.
2)
Kadang tubuh
mempengaruhi jiwa
Misalnya orang yang otaknya rusak maka pikirannya / jiwanya menjadi terganggu. Orang yang sudah
tua (otaknya tua) lalu menjadi pikun.
Jelas bahwa ada
hubungan saling mempengaruhi antara jiwa dan tubuh. Dengan demikian apabila
jiwa (hati bagian dari jiwa) kita dipenuhi dengan perasaan iri (juga dendam),
itu akan mempengaruhi tubuh dan bisa mengakibatkan orang menjadi sakit.
Perhatikan kutipan berikut ini :
Lianny Hendranata - Ya kebencian
sangat besar pengaruhnya dalam hidup ini, banyak orang tanpa sadar memelihara
kebencian dalam dirinya, hingga suatu hari kebencian bertunas menjadi dendam
dan membuat tubuhnya menjadi pabrik penyakit kronis….Kebencian membuat kita
selalu merasa kenyang, enggan makan, sulit tidur. Di situlah kebencian sudah
mulai membuat tubuh kita hancur sedikit demi sedikit, kebencian membuat maag
kita menjadi kanibal yaitu mencerna dirinya sendiri karena produksi asam
lambung yang berlebihan, dan akhirnya membuat imunsistem kita melemah, membuat
kita menjadi pelanggan flu ringan sampai berat, bahkan tidak tertutup
kemungkinan menjadi penderita kanker. (Suara
Pembaruan Edisi 26 Sept 2009).
Lianny Hendranata - Sangat menarik
melihat 'benang merah' antara kondisi jiwa kita dengan efek yang terjadi pada
fisik kita. Beberapa riset terlihat kenyataan kondisi darah yang mengalir dalam
tubuh menjadi kental dan berwarna merah gelap serta mengalir tersedat-sedat,
ketika seseorang memikirkan kembali, kejadian-kejadian yang membuatnya sakit
hati atau tersakiti secara psikis bukan fisiknya. Demikian juga riset pada pola
energi elektromagnetik tubuh menggunakan mesin AVS (Aura Video Station) di mana medan energi berwarna yang kita kenal
dengan sebutan aura, pancarannya menjadi susut, serta menjadi keruh dan
kehilangan cahayanya saat seseorang mengembalikan ingatannya pada hal-hal yang
membuatnya sakit hati, marah dan sedih…. kesimpulannya "Memelihara
ingatan (dendam) pada orang yang menyakiti kita, sama seperti kita sendiri yang
minum racun dan berharap orang lain yang akan mati.!" (Suara Pembaruan Edisi 26 Sept 2009)
Karena itu lalau
anda sakit dan tidak sembuh-sembuh, jangan cepat salahkan Tuhan atau menuduh
‘orang bikin’. Periksa diri jangan-jangan ada yang tidak beres dengan jiwa
saudara (dendam, kebencian, iri hati).
Iri hati juga
menghancurkan jiwa kita karena kita akan kehilangan sukacita dan damai
sejahtera. Pada akhirnya, iri hati itu juga akan menghancurkan iman kita.
b.
Iri hati mempengaruhi / merusak hubungan dengan orang
lain.
Selain merusak diri
sendiri, iri hati juga merusak hubungan dengan orang lain. Bukankah hubungan
Kain dan Habel menjadi rusak yang berujung pada pembunuhan Habel oleh Kain,
penyebabnya adalah iri hati (Kej 4)? Bukankah hubungan Yusuf dan dan
saudara-saudaranya menjadi rusak yang berujung pada dijualnya Yusuf ke Mesir,
penyebabnya adalah iri hati?
Kej 37:11 : “Maka iri
hatilah saudara-saudaranya
kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya.
Kis 7:9 : “Karena
iri hati, bapa-bapa leluhur kita
menjual Yusuf ke tanah Mesir, tetapi Allah menyertai dia”
Bukankah hubungan
Daud dan Saul menjadi rusak di mana Saul hendak membunuh Daud, penyebabnya
adalah iri hati?
1
Sam 18:7-8 : (7) dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan,
katanya: "Saul mengalahkan
beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa." (8) Lalu bangkitlah amarah Saul
dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya:
"Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku
diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun jatuh
kepadanya."
Semua contoh itu
sudah cukup memberikan pengertian kepada kita bahwa iri hati menyebabkan
hubungan kita dengan orang lain menjadi rusak. Entah berapa banyak relasi yang
baik menjadi hancur karena adanya virus iri hati ini.
c.
Iri hati mempengaruhi/merusak hubungan kita dengan
Allah
Bahwa iri hati
mempengaruhi hubungan dengan Allah dapat dijelaskan sebagai berikut. Firman
Tuhan melarang kita untuk iri hati terhadap orang lain. Jika kita iri hati
terhadap orang lain maka kita sedang melawan Firman Tuhan. Kalau kita melawan
Firman Tuhan maka itu adalah dosa. Dan dosa merusak hubungan dengan Tuhan.
Selain itu iri hati
juga dapat mendatangkan murka Tuhan atas kita.
Bil 12:1-9 - (1) Miryam
serta Harun mengatai Musa berkenaan dengan perempuan Kush yang
diambilnya, sebab memang ia telah mengambil seorang perempuan Kush. (2) Kata
mereka: "Sungguhkah TUHAN berfirman
dengan perantaraan Musa saja? Bukankah dengan perantaraan kita juga Ia
berfirman?" Dan kedengaranlah hal itu kepada TUHAN (3) Adapun Musa
ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di
atas muka bumi. (4) Lalu berfirmanlah TUHAN dengan tiba-tiba kepada Musa, Harun
dan Miryam: "Keluarlah kamu bertiga ke Kemah Pertemuan." Maka
keluarlah mereka bertiga. (5) Lalu turunlah TUHAN dalam tiang awan, dan berdiri
di pintu kemah itu, lalu memanggil Harun dan Miryam; maka tampillah mereka
keduanya. (6) Lalu berfirmanlah Ia: "Dengarlah firman-Ku ini. Jika di
antara kamu ada seorang nabi, maka Aku, TUHAN menyatakan diri-Ku kepadanya
dalam penglihatan, Aku berbicara dengan dia dalam mimpi. (7) Bukan demikian
hamba-Ku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumah-Ku. (8) Berhadap-hadapan
Aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki, dan ia
memandang rupa TUHAN. Mengapakah kamu tidak takut mengatai hamba-Ku Musa?"
(9) Sebab itu bangkitlah murka TUHAN
terhadap mereka, lalu pergilah Ia. (10) Dan ketika awan telah naik dari
atas kemah, maka tampaklah Miryam
kena kusta, putih seperti salju; ketika Harun berpaling kepada Miryam,
maka dilihatnya, bahwa dia kena kusta!
Dari kasus Miryam
ini nampak bahwa iri hati tidak membawa keuntungan apa-apa, malah kerugian dan
malapetaka atas diri sendiri. Allah murka terhadapnya, ia terkena penyakit
kusta, ia dikucilkan dan dipermalukan.
Bil
12:14-15 - (14) Kemudian berfirmanlah
TUHAN kepada Musa: "Sekiranya ayahnya meludahi mukanya, tidakkah ia mendapat malu selama tujuh hari?
Biarlah dia selama tujuh hari dikucilkan
ke luar tempat perkemahan, kemudian bolehlah ia diterima kembali."
(15) Jadi dikucilkanlah Miryam
ke luar tempat perkemahan tujuh hari lamanya, dan bangsa itu tidak berangkat
sebelum Miryam diterima kembali.
Seorang
guru mempunyai 2 orang murid. Yang satu adalah orang yang penuh iri hati, dan
yang satu lagi seorang yang sangat tamak. Suatu hari sang guru memanggil kedua
murid ini dan berkata kepada mereka bahwa ia akan mengasingkan diri dan tidak
akan bertemu dengan mereka lagi. Ia lalu memberi kesempatan kepada kedua
muridnya untuk meminta sesuatu darinya. Apa saja permintaan mereka akan
dikabulkan. Hanya saja yang meminta terakhir akan mendapatkan 2 kali lipat dari
yang meminta pertama. Jadi kalau yang pertama meminta uang 1 juta maka yang
kedua akan mendapatkan uang 2 juta. Apabila yang pertama meminta 1 buah rumah
maka yang kedua akan mendpaatkan 2 buah rumah. Ini lalu menjadi masalah karena
si iri hati dan si tamak ini tidak ada yang mau meminta terlebih dahulu karena
itu otomatis akan menguntungkan yang lain. Maka kedua murid itu bertahan
berhari-hari tanpa seorang pun yang mau meminta terlebih dahulu. Setelah
menunggu hingga 2 minggu, si tamak pun tidak dapat menahan diri lagi. Ia lalu
mengunjungi si iri hati dan mengancam untuk membunuhnya jika tidak meminta
terlebih dahulu. Si iri hati pun lalu berjanji besok dia akan menghadap guru
dan meminta terlebih dahulu. Tapi malam itu ia tidak bisa tidur, ia sibuk
berpikir bagaimana caranya meminta terlebih dahulu tanpa menguntungkan si
tamak? Akhirnya pada pagi harinya ia menghadap sang guru dan dia meminta agar
sang guru memenggal 1 buah tangannya. Dan guru pun memenggalnya. Otomatis yang
kedua yakni si tamak harus mendapatkan 2 kali lipat jadi guru pun memotong
kedua tangannya.
Cerita
ini menggambarkan kepada kita bahwa pada akhirnya iri hati hanya akan membawa
kerugian pada diri kita sendiri.
III.
CARA SUPAYA TIDAK IRI HATI.
Setelah melihat dampak negatif dari iri hati, kita juga perlu mengetahui
cara supaya terhindar dari perasaan iri terhadap orang lain. Bagaimana
caranya ? Saya berpendapat bahwa cara terbaik untuk terhindar dari iri
hati adalah kita meneladani prinsip Yohanes Pembaptis.
Yoh 3 :22-28 - (22)
‘Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di
sana bersama-sama mereka dan membaptis. (23) Akan tetapi Yohanes pun membaptis
juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke
situ untuk dibaptis, (24) sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke
dalam penjara. (25) Maka timbullah
perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang
penyucian. (26) Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan
engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi
kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya."
(27) Jawab Yohanes: "Tidak ada
seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan
kepadanya dari sorga. (28) Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa
aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.
Jelas ada nada iri
hati dari murid-murid Yohanes Pembaptis karena mendapati fakta bahwa guru
mereka mulai kalah pamor dari Yesus dan “semua orang pergi kepada-Nya”.
Yoh 3:26 - Lalu mereka datang
kepada Yohanes dan berkata kepadanya: "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan
yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua
orang pergi kepada-Nya."
Jawaban Yohanes
Pembaptis adalah :
Yoh 3 :27
- Jawab Yohanes: "Tidak ada seorang pun yang dapat
mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.
Maksud Yohanes
adalah, jika pada akhirnya banyak orang pergi meninggalkannya dan mengikut
Yesus, itu bukan karena Yesus mencuri murid-muridnya/domba-dombanya melainkan
karena itu sudah dikaruniakan bagi Yesus dari sorga (Bapa).
Ini prinsipnya!
Sadar bahwa "Tidak ada seorang pun
yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya
dari sorga” akan membuat kita terhindar dari rasa iri hati terhadap orang
itu. Jika ada orang lebih pintar dari saya, jika ada orang lebih ganteng/cantik
dari saya, jika ada orang lebih populer dari saya, jika ada orang lebih kaya
dari saya, jika ada orang lebih disenangi dari pada saya, jika ada orang lebih
menarik dari saya, jika ada orang lebih mampu dari saya, dll, SEMUA ITU KARENA
DIKARUNIAKAN KEPADANYA DARI SORGA. Iri hati terhadap mereka sama dengan melawan
keputusan sorga.
William Barclay
menceritakan tentang seorang pendeta di sebuah gereja bernama Dr. Spence. Ia adalah pengkhotbah yang sangat bagus dan gerejanya
dikunjungi banyak orang. Tapi dengan bertambahnya usianya, kemampuan
berkhotbahnya menjadi sangat menurun. Secara perlahan jumlah jemaatnya semakin
menurun dan terus menurun hingga pada suatu hari minggu ketika ia naik ke atas
mimbar untuk berkhotbah, ia tidak menemukan seorang jemaat pun di sana kecuali
para majelis gereja. Ia lalu bertanya kepada para majelis ‘di manakah jemaat kita semua ?’ Para majelis pun menjawab ‘mereka semua ada di gereja baru di
sxeberang jalan sana untuk mendengarkan seorang pengkhotbah muda yang sangat
bagus’. Dr. Spence tersenyum, ia turun dari mimbar dan berkata kepada semua
majelisnya ‘saya rasa hari ini kita perlu
mengikuti semua jemaat kita. Mari kita berkunjung ke gereja di seberang jalan
itu’. Dan pergilah mereka semuanya ke sana.
Ini sesuatu yang luar biasa ! Tidak ada rasa iri hati dalam diri Dr.
Spence. Ia sadar jikalau orang lain mempunyai kemampuan yang lebih daripadanya,
itu karena dikaruniakan kepadanya dari surga. Jikalau pikiran yang sama ada di
dalam kita, niscaya kita tidak akan menjadi iri hati dengan orang lain.
AMIN
Langganan:
Postingan (Atom)