02 Mei 2009

MENJAWAB KEBERATAN KAUM “ANTI NATAL” (Part 2)

Yesus Tidak Dilahirkan Pada 25 Desember ?

Bagian Kedua Dari Tiga Tulisan

Esra Alfred Soru

Kaum anti Natal juga menolak nerayakan Natal dengan alasan bahwa sesungguhnya Yesus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember, tanggal kelahiran-Nya tidak diketahui. Lihatlah kutipan dari artikel ‘5 Alasan Mengapa Anak-Anak TUHAN Seharusnya Tidak Merayakan Natal’ berikut ini : Ensiklopedia manapun akan memberitahu saudara bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Ensiklopedia Katolik pun menyatakan fakta ini dengan jelas. Tanggal lahir Yesus TIDAK DIKETAHUI dengan pasti. Hampir tidak ada orang yang benar-benar percaya bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember. Semua itu merupakan dugaan orang-orang pada abad ke-4 dan ke-5 dan hampir setiap orang tidak sependapat dengan yang lainnya. Lihatlah dalam "Smith's Dictionary of Christianity Antiquities", vol. 1, halaman 358. Tetapi orang-orang tetap merayakannya. Tidak ada orang yang mengetahui apa-apa mengenai hari kelahiran-Nya. (www.st-andreas.org). Bandingkan ini dengan pendapat Herbert W. Armstrong dalam tulisannya “The Plain Truth About Christmas” : Di ensiklopedi mana pun atau juga di Kitab Suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini. Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan Kitab Suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur yang diperkirakan jatuh pada bulan September atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah. www.geocities.com/pakguruonline/kebohongan_natal). Bagi kaum anti Natal, karena Allah tidak memberitahu kita tanggal kelahiran Kristus, atau karena Allah menyembunyikan tanggal kelahiran Kristus, itu merupakan bukti bahwa Ia tidak menghendaki kita untuk merayakannya. Perhatikan kata-kata Amstrong selanjutnya : Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya (ibid) dan bandingkan dengan kalimat berikut : ‘Jika TUHAN menginginkan orang-orang Kristen merayakan kelahiran-Nya, Dia pasti memberitahu KAPAN IA LAHIR! Jika TUHAN merencanakan supaya kita memperhatikan dan merayakan hari lahir Yesus, Ia tidak akan MENYEMBUNYIKAN tanggal yang sebenarnya! (5 Alasan Mengapa Anak-Anak TUHAN Seharusnya Tidak Merayakan Natal ; www.st-andreas.org). Karenanya menurut kaum anti Natal, kita berdusta kalau kita merayakan hari kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember. Brian Schwertley berikut ini : “Jika Allah memang menghendaki supaya orang-orang Kristen merayakan hari kelahiran-Nya, Dia tentu sudah memberitahu umat-Nya KAPAN KRISTUS DILAHIRKAN! Inilah suatu bukti bahwa jika ALLAH TELAH MERENCANAKAN agar supaya kita merayakan hari kelahiran Kristus, maka Ia tidak akan menyembunyikan tanggal kelahiran-Nya secara sempurna!”. (www.prcedm.netfirms.com). Ia melanjutkan: “Tahun demi tahun, para orang tua menghukum anak-anaknya jika mereka berbohong. Kemudian, pada saat Natal, mereka sendiri bercerita kepada anak-anaknya tentang kebohongan Sinterklas ini. Apakah mengherankan jika banyak dari mereka, setelah mereka tumbuh dewasa, mulai mempercayai Allah hanya sebagai sebuah dongeng? Apakah KEKRISTENAN mengajarkan kebohongan dan dongeng-dongeng kepada anak-anak kecil? Jika engkau sudah tidak mengajarkan kebohongan Sinterklas kepada anak-anakmu, lalu ingatlah, bahwa adalah SAMA BOHONGNYA jika engkau mengatakan kepada anak-anakmu bahwa Yesus dilahirkan pada hari Natal!”. (ibid). Demikianlah pandangan kaum anti Natal.

Kapan sesungguhnya Yesus dilahirkan?

Harus diakui bahwa sukar mengatakan bahwa Yesus lahir pada tanggal 25 Desember bahkan sukar menetapkan dengan pasti tanggal kelahiran Yesus. Dari kutipan-kutipan di atas terlihat bahwa Herbert W. Armstrong memperkirakan tanggal kelahiran Kristus jatuh pada bulan September atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah. (
www.geocities.com/pakguruonline/kebohongan_natal) sedangkan grup Saksi Yehovah memberikan tanggal 1 Oktober (www.watchtower.org) sebagai tanggal kelahiran Yesus. Baiklah saya kutip kembali tulisan saya dari harian Timor Express edisi Natal tahun lalu : “Tidak ada satu sumber pun yang mengacu pada tanggal tersebut. Kalau kita membaca Alkitab dengan seksama maka kita mempunyai satu acuan yang baik yakni dalam Luk 2:8 : “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”. Jadi waktu Yesus dilahirkan bertepatan dengan saatnya para gembala tinggal di padang untuk menjaga kawanan ternak. Dari fakta ini rasanya sulit untuk mengatakan bahwa kelahiran Kristus terjadi pada bulan Desember. Mengapa? Karena bulan Desember adalah musim dingin di Israel. (Catatan : Israel terletak pada garis lintang yang sejajar dengan Jepang dan Korea Selatan). Herlianto dalam website Yayasan Bina Awam (www.yabina.org) berkata : “Kelihatannya bulan dan tanggal itu (25 Desember) tidak tepat, soalnya pada bulan Desember – Januari, di Palestina, iklimnya cukup dingin dengan beberapa tempat bersalju, sehingga agaknya tidak mungkin ada bintang terang di langit dan para gembala bisa berada di padang Efrata dalam keadaan musim demikian (Luk.2:8), demikian juga tentunya kaisar Agustus tidak akan mengeluarkan kebijakan sensus dan menyuruh penduduk Yudea melakukan perjalanan jauh dalam suasana dingin yang mencekam sehingga Maria yang hamil mesti melakukannya”. Dengan demikian Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember. Klemens dari Alexandria juga pernah mengatakan bahwa Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon (20 Mei) namun ini juga bukan suatu kepastian. Lalu bulan apa? Kita memiliki data lain dari Alkitab yakni waktu ketika Zakharia masuk ke Bait Allah dan bertugas di sana. Waktu itu berkisar bulan Siwan (Mei – Juni) dan dengan memperhitungkan lama kandungan Elizabeth dan Maria, maka diperkirakan kelahiran Yesus terjadi pada sekitar Hari Raya Pondok Daun yakni di bulan Tishri (September – Oktober). Bulan ini sepertinya lebih dapat diterima daripada bulan Desember meskipun ini bukanlah suatu kepastian. (Esra Alfred Soru: “Kapan Sesungguhnya Yesus Dilahirkan?”; Timex, 23 Desember 2004). Jadi Yesus memang tidak mungkin dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Tanggal kelahiran Yesus tetap tidak pasti. (Catatan : Lalu mengapa Natal sekarang menjadi 25 Desember? Baca kembali tulisan saya “Kapan Sesungguhnya Yesus Dilahirkan?”; Timex, 23 Desember 2004).

Bukti Allah tidak menghendak iperayaan Natal?

Tanggal kelahrian Yesus memang tidak pasti. Sejauh ini kaum anti Natal benar. Namun hal yang perlu dipikirkan adalah benarkah kalau Allah tidak memberi tahu kita kapan Kristus dilahirkan merupakan suatu bukti bahwa Allah tidak menghendaki kita untuk merayakan/memperingatinya? Menurut saya: tidak! Kita memang tidak tahu kapan persisnya Yesus dilahirkan. Tidak ada orang yang tahu dengan pasti tanggal dan bulan kelahiran Kristus, dan mungkin bahkan tahun kelahiran-Nya. Tetapi itu belum bisa dijadikan suatu bukti bahwa Ia tidak menghendaki kita merayakan/memperingati kelahiran Kristus tersebut. Memang kadang-kadang Allah mengatur sesuatu supaya tidak diketahui oleh manusia, dan Ia melakukan ini karena Ia tidak menghendaki manusia untuk berurusan dengan hal itu. Misalnya dalam persoalan kubur dari Musa. Ini sengaja disembunyikan, karena mungkin Allah tahu bahwa seandainya bangsa Israel tahu tempat itu, mereka mungkin akan melakukan penyembahan terhadapnya. Tetapi tidak selalu seperti itu. Dalam PL Allah memperkenalkan nama-Nya kepada Musa (Kel 3:14-15), dan ini jelas menunjukkan bahwa pada saat itu Allah menghendaki orang-orang Israel untuk menggunakan nama itu asal tidak dengan sembarangan. Tetapi Allah mengatur sehingga jaman sekarang tidak ada orang yang tahu bagaimana mengucapkan nama Allah tersebut. Akibatnya, jaman sekarang orang Kristen menyebut-Nya sebagai TUHAN, LORD, YEHOVAH, YAHWEH, dsb, yang merupakan sebutan-sebutan yang belum tentu benar.

Sebetulnya, tanpa dijelaskanpun, ‘fakta sudah berbicara sendiri’ bahwa Natal memang tidak terjadi pada tanggal 25 Desember. Fakta jaman sekarang di mana banyak orang sudah merayakan Natal pada awal Desember, dan ada orang-orang yang masih merayakan Natal pada bulan Januari dan bahkan Februari, sudah menunjukkan kepada siapapun yang tidak membutakan dirinya, bahwa Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dan bahwa kita tidak mengetahui tanggal kelahiran-Nya. Tetapi kalau itu dirasa kurang cukup, maka dalam merayakannya, kita bisa menjelaskan hal itu kepada jemaat dan khususnya anak-anak Sekolah Minggu, bahwa itu sebetulnya bukan tanggal kelahiran yang sebenarnya, dan dengan demikian kita bukan mendustai orang sebagaimana tuduhan
Brian Schwertley. Kita mungkin sering mendengar tentang orang kuno yang tidak mengetahui tanggal kelahirannya sendiri, dan karena itu keluarganya menciptakan tanggal kelahiran baginya, dan merayakannya setiap tahun pada tanggal tersebut. Apakah ini merupakan dusta? Mengapa keluarga tersebut tetap merayakan hari ulang tahun dari orang itu padahal mereka tidak mengetahui tanggal sebenarnya? Saya kira, karena kecintaan mereka terhadap orang itu, sehingga mereka ingin menunjukkan kasih yang khusus terhadap orang itu sedikitnya satu kali setahun. Hal ini tidak terlalu berbeda dengan Natal! Yang penting bukan saat kelahiran Kristus, tetapi fakta bahwa Ia sudah lahir untuk kita. Kita ingin membalas kasih-Nya sedikitnya sekali setahun, dengan merayakan hari kelahiran-Nya, pada hari yang kita sendiri tentukan.

Kebohongan kaum anti Natal

Menarik untuk menyimak kata-kata
Brian Schwertley yang dikutip di atas. Ia menuduh perayaan Natal sebagai sebuah dusta atau kebohongan padahal kata-katanya sendiri mengandung dusta/fitnahan. (1) Ia mengatakan bahwa Natal merupakan suatu kebohongan yang sama dengan Sinterklaas. Pertanyaannya adalah apakah semua orang Kristen/gereja menggabungkan Natal dengan Sinterklaas? Belum tentu! Ada banyak orang yang merayakan Natal tanpa embel-embel Sinterklaas. Menganggap bahwa semua yang merayakan Natal pasti setuju dengan Sinterklass jelas merupakan fitnahan dan kebohongan. Memang saat ini ada orang yang merayakan/menyambut Natal dengan embel-embel Sinterklass (terutama took-toko, supermarket-supermarket dan stasiun-stasiun TV) tetapi itu jelas keliru. Saya juga tidak setuju hal itu! Mengapa? Karena meskipun Sinterklass (Santa Klaus) dianggap sebagai lambang semangat memberi hadiah khususnya untuk anak-anak, namun karena sifat pencampurannya dengan cerita-cerita magis kafir, misalnya kehadiran Santa Klaus yang penuh mujizat & naik kereta ditarik rusa terbang, dan peri bertongkat sihir dalam perayaan ‘Magic Christmas’, jelas tidak sesuai dengan semangat Natal. Perhatikan kata-kata Herlianto berikut ini : Mengenang maraknya perayaan Natal ... yang lebih menonjolkan figur Santa Klaus daripada figur Tuhan Yesus, sudah tiba saatnya umat Kristen sadar dan menempatkan dirinya lebih berpusat Injil dan berhati Tuhan Yesus, dan tidak makin jauh terpengaruh komersialisasi yang sudah begitu jauh sudah dimanfaatkan oleh toko-toko mainan, makanan & minuman, dan bisnis hiburan itu. (Santa Claus; www.yabina.org). Dari sini terlihat bahwa ada banyak orang yang merayakan Natal tetapi tidak setuju dengan tradisi Sinterklass. Karenanya menyamakan Natal dengan Sinterklass atau memakai kekeliruan/kesalahan tradisi Sinterklass dalam Natal untuk mengatakan bahwa Natal adalah kebohongan adalah sebuah kebohongan yang lain. (2) Ia mengatakan ‘Apakah mengherankan jika banyak dari mereka, setelah mereka tumbuh dewasa, mulai mempercayai Allah hanya sebagai sebuah dongeng?’. Ini juga jelas adalah tuduhan tak berdasar. Tuduhan itu jelas merupakan suatu exaggeration (tindakan melebih-lebihkan), dan sama sekali bukan merupakan suatu fakta/kebenaran. Siapa, yang karena dari kecil merayakan Natal, akhirnya tumbuh sebagai orang yang mempercayai bahwa Allah itu hanya sekedar dongeng? Dan kalau ada orang-orang seperti itu bagaimana mereka bisa membuktikan bahwa orang-orang itu mempercayai Allah sebagai dongeng karena mereka pada waktu kecilnya diajar merayakan Natal? Orang-orang yang anti Natal ini menuduh kita yang merayakan Natal telah berdusta, sementara mereka sendiri melakukan dusta seperti ini. Mungkin mereka sebaiknya memperhatikan kata-kata Yesus dalam Mat 7:1-5.

Lihat bagian 3 : Merayakan Natal = Kafir?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini