02 Mei 2009

SURAT “CINTA” BUAT CHERY NAIT

Esra Alfred Soru

Surat cinta ini adalah surat terbuka yang dimuat di koran Timex di Kupang-NTT (10-12 November 2004). Surat ini secara khusus ditujukan kepada seorang gadis yang bernama Chery Nait yang kasus foto bugilnya menghebohkan kota Kupang dan menjadi berita utama di koran-koran lokal NTT. Chery dimaki-maki, dihujat, diadili dan bahkan dikhianati oleh orang-orang di sekitarnya bahkan oleh masyarakat luas. Tulisan ini bertujuan untuk memberi kekuatan kepadanya. Tulisan ini mendapat sambutan yang sangat luas dari masyarakat dan bahkan oleh Chery sendiri. Berikut komentar Chery yang dikirimkan ke Timex via email pada tanggal 17 Nov : ‘Syukur kepada ALLAH dan terima kasih kepada bapak Esra Alfred Soru karena lewat tulisan ‘SURAT CINTA BUAT CHERY NAIT’ saya mendapatkan pencerahan dan kekuatan baru’. Tulisan ini bukan hanya ditujukan buat Chery Nait tetapi juga bagi setiap insan yang mengalami nasib yang sama dengan Chery.

Buat Chery Nait yang kukasihi….!

Salam Kasih !

Chery, mungkin engkau kaget membaca tulisan atau suratku ini apalagi judulnya mungkin membuat hatimu terganggu. ‘Aku tidak pernah kenal orang ini!’ Itu mungkin yang kau katakan. Memang engkau tidak pernah mengenal aku demikian pula aku tidak pernah mengenalmu. Namamu saja baru kukenal lewat pemberitaan media massa terkait kasus foto bugilmu. Kita tidak pernah saling berjumpa bahkan dalam mimpi sekalipun. Itu memang benar namun apakah kasih baru bisa dan baru boleh terjadi kalau kita saling mengenal? Teman-temanku bilang tak kenal maka tak sayang namun itu bukan prinsip Kristiani. Bagiku kasih Kristiani tidak pernah dibatasi oleh tembok apapun termasuk “tidak mengenal”. Aku harus tetap mengasihimu, mengasihinya, mengasihi mereka meskipun aku tidak pernah bertemu denganmu, dengannya dan dengan mereka.

Terus terang aku kaget membaca beritamu di koran pertama kali dan setelah itu ada satu bagian Alkitab yang kupikirkan dan renungkan dengan serius. Kejadian pasal 3 ketika manusia berdosa kepada Allah. Manusia yang berdosa itu akhirnya sadar akan ketelanjangan (kebugilan) mereka dan berusaha menutupi ketelanjangan/kebugilan itu dengan menyemat daun pohon ara menjadi cawat (Kej 3:7). Jadi manusia yang bugil (tak berpakaian) berusaha untuk berpakaian. Dan bahkan Allah pun setelah berurusan dengan masalah pelanggaran manusia itu justru membuat pakaian bagi manusia itu. Alkitab berkata: Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka (Kej 3:21). Jadi Allah merasa bahwa pakaian (cawat) yang dibuat oleh Adam dan Hawa belumlah cukup untuk menutupi kebugilan mereka dan karenanya Ia membuat pakaian dari kulit binatang untuk menutupi kebugilan manusia itu. Jadi manusia berdosa berusaha untuk berpakaian, demikian pula yang diinginkan Allah. Renungan ini membuatku kaget dan heran karena manusia pertama yang telanjang (bugil) berusaha menutupi kebugilan mereka dengan berpakaian namun mengapa engkau yang sudah berpakaian kok malah melepaskan pakaianmu dan menjadi bugil? Apalagi difoto. Kukatakan ini dengan jujur sebagai reaksi awalku ketika membaca berita tentang kasusmu.

Setiap hari kuikuti perkembangan kasusmu mulai dari kesaksian teman-teman dekatmu sampai kepada pemecatanmu. Mulai dari kata-kata Pak Sekertaris Kota sampai kata-kata pengacara keluargamu. Entahlah, aku sendiri tidak tahu apakah teman-teman dekatmu sudah berkata jujur atau tidak. Apakah Pak Sekot hanya membelai rambutmu atau mencium keningmu, itu pun tidak kuketahui? Apakah pemecatanmu oleh Pak Walikota sudah sesuai prosedur atau tidak, juga tidak kuketahui. Hanya kau, mereka dan Tuhan yang tahu dengan pasti. Namun demikian dari semua yang kubaca dan kudengarkan, aku mendapatkan kesan adanya dua kelompok yang berbeda pendapat terhadap kasusmu. Kelompok yang pertama memandangmu begitu hina dan bahkan menyetarakan engkau dengan seorang pelacur. Di antara mereka adalah sahabat-sahabat dekatmu yang sekian lama memujamu. Ketika engkau tertawa dan rembulan tersenyum, mereka selalu bersamamu namun ketika engkau menangis dan rembulan termenung, merekapun berpaling. Saat kau tak harapkan kehadiran mereka, mereka selalu berada di sisimu namun saat kau harapkan kehadiran mereka, tak seorangpun ada di sana. Di dalam kelompok ini juga ada orang-orang yang tidak mengenalmu namun mereka mengecammu. Kecaman-kecaman itu begitu kuat dan hebat baik lewat obrolan-obralan ringan di warung kopi maupun sms-sms yang dimuat di harian Pos Kupang. Mereka begitu mengecammu sebagai artis bugil dan merasa bahwa semua kasus ini kaulah penyebabnya. Kecaman terhadapmu tanpa disadari telah melupakan dan memberi tempat yang aman bagi orang-orang lain yang sebenarnya tidak kalah bejatnya seperti juru fotomu itu. Selain kelompok ini ada juga kelompok yang berusaha membelamu (tentu saja termasuk pengacara keluargamu). Mereka memusatkan perhatian untuk mencari siapa sebenarnya pengedar foto-foto bugilmu. Mereka sibuk membuktikan dugaan bahwa ada banyak pembesar kota ini yang sering ‘memakai’mu. Mereka juga sibuk mempersoalkan masalah pemecatanmu oleh Pak Walikota. Mereka melakukan semuanya itu karena prihatin dan membelamu namun tanpa disadari juga bahwa semua upaya pembelaan terhadapmu telah mengesampingkan satu hal yang penting dan sangat mendasar bahwa engkau telah bersalah dan berdosa. Jadi kedua kelompok ini menekankan satu hal dan mengabaikan hal yang lain. Kelompok yang pertama mengecammu dan melupakan orang-orang lain yang terlibat dalam kasus ini sedangkan kelompok yang kedua membelamu dan mengesampingkan fakta bahwa engkau juga bersalah. Dan inilah yang mengganggu jiwaku serta mendesakku untuk berbicara atau menulis surat ini buatmu. Aku berbicara sekarang dan bukan kemarin karena kemarin ada yang banyak yang berbicara. Kalau aku pun bicara, siapa lagi yang mendengar? Kubiarkan semua diam baru aku angkat bicara agar semua dapat mendengarnya.

Aku merasa betapa penting bagiku untuk mengatakan sesuatu hal bagimu karena ini adalah tugas dan panggilanku sebagai seorang hamba Tuhan. Haruskah aku diam dan menahan kata-kataku kepadamu padahal setiap hari minggu sehabis pengakuan dosa di gereja selalu kuserukan kepada jemaat : ‘Sebagai Hamba Yesus Kristus, saya memberitakan pengampunan dosa bagi setiap orang.... ‘. Karena itu ada hal yang ingin kukatakan padamu. Aku mengatakannya bukan karena apa-apa, bukan karena ingin mencari keuntungan apapun tetapi semata-mata karena aku ‘mencintai’mu sebagaimana Kristus mencintaimu. Apa yang ingin kukatakan padamu adalah sebuah hasil perenungan satu bagian Firman Tuhan yang terdapat dalam Injil Yohanes 8:1-11 tentang seorang perempuan yang kedapatan berzinah. (Kuharap sebelum engkau membaca tulisan ini lebih lanjut, ambilah Alkitabmu dan bacalah bagian ini, dan kalau perlu berdoalah sejenak).

Seorang perempuan kedapatan berzinah dan dibawa oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kehadapan Yesus (Yoh 8 :3). Mereka selanjunya berkata : "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" (Yoh 8 :4-5). Sebenarnya apa yang dibuat oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini adalah sebuah jebakan bagi Yesus (Yoh 8 :6) di mana Yesus diperhadapkan pada dilema yang rumit. Jika Yesus mengijinkan perempuan tersebut dilempar maka Yesus melanggar hukum kasih yang telah diajarkan-Nya. Sedangkan jika Yesus tidak mengijinkan mereka melemparnya maka Yesus telah melanggar hukum Musa dan dengan demikian mereka memperoleh jalan untuk menyalahkan Yesus. Namun menariknya adalah bahwa Yesus tidak memerintahkan mereka untuk melempar wanita itu namun juga tidak memerintahkan mereka melepaskan wanita itu. Yesus justru melakukan sesuatu yang aneh. Yoh 8 :6 berkata : ‘...Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.’ Pertanyaan bagi kita adalah mengapa Yesus menulis di tanah? Ada kemungkinan bahwa Yesus tidak ingin tergesa-gesa memberi jawaban. Ia mungkin dalam waktu yang singkat memikirkan hal itu dan membawanya persoalan itu kepada Bapa. Kalau ini benar maka menarik sekali bahwa Sang Juruselamat itu sebelum memberikan penilaian kepada perempuan yang kedapatan berzinah itu masih memikirkanya dengan matang dan mengkomunikasikannya dengan Sang Bapa. Ada juga yang berpendapat bahwa Yesus meremehkan mereka dan menganggap mereka tidak layak didengar. Seeley dalam Ecce Homo juga memberi pendapat yang menarik bahwa Yesus telah dipenuhi oleh rasa malu yang tidak tertahan. Dia tidak dapat memandang mata orang banyak atau mata para penuduh, dan mungkin pada saat itu wanita yang terhina….Sambil menahan rasa malu yang membara dan rasa kacau Dia menyembunyikan diri untuk menyembunyikan muka-Nya dan menulis dengan jari-jari-Nya di atas tanah. Mungkin sekali bahwa lirikan mata yang penuh gairah pada muka para ahli Taurat dan orang Farisi, kejahatan yang suram di dalam mata mereka, nafsu orang banyak yang ingin tahu, rasa malu wanita itu, campuran dari semuanya itu membingungkan hati Yesus yang dipenuhi dengan rasa kesedihan yang mendalam dan belas kasihan, sehingga Dia menyembunyikan mata-Nya. Namun ada hal menarik yang perlu diperhatikan. Dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab PB) kata “menulis” adalah “graphein”. Namun ternyata dalam ayat 6 in tidak memakai kata “graphein” melainkan “katagraphein”. “Katagraphein” juga berarti menulis namun secara khusus berarti menulis untuk melawan seseorang. Jadi dapatlah kita tafsirkan bahwa ketika para ahli Taurat dan orang Farisi membawa seorang berdosa dan menuntut hukuman atasnya, Yesus justru menulis sesuatu untuk melawan mereka. Ada yang menganggap bahwa Yesus sementara menuliskan Kel 23:1b : “jangan menjadi saksi palsu”. Ada yang menganggap bahwa Yesus sementara menuliskan nama-nama para tokoh agama itu dengan dosa-dosa mereka. Ada juga yang menganggap bahwa Yesus sementara menuliskan 10 hukum Tuhan maupun peringatan yang ditujukan kepada para tokoh agama itu. Lepas dari mana yang benar namun yang pasti adalah bahwa tulisan Yesus itu adalah untuk menentang para penuduh.

Namun para penuduh itu rupanya tidak sabaran karenanya mereka mendesak Yesus untuk segera memberi jawab. Maka Yesus pun berdiri dan menjawab : "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" (Yoh 8:7) dan Yesus pun melanjutkan aktifitas-Nya menulis di tanah (Yoh 8:8). Sesuatu yang aneh terjadi. Yoh 8:9 berbunyi : “Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.” Mengapa orang banyak yang tadinya begitu bernafsu dengan tuduhan-tuduhan mereka justru sekarang pergi meninggalkan wanita pezinah itu? Ini jelas sebagai akibat dari pernyataan Yesus sebelumnya bahwa barangsiapa di antara mereka yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu. Bahwa mereka akhirnya pergi menyatakan satu hal yang penting bahwa mereka juga tahu diri, mereka mengakui dalam diri mereka bahwa mereka juga berdosa, mereka juga sama bejatnya dengan wanita pezinah itu hanya bedanya adalah bahwa wanita itu tertangkap basah dan mereka tidak. Mungkinkah dosa-dosa mereka inilah yang ditulis Yesus di tanah? Entahlah, tapi yang pasti adalah bahwa mereka juga sadar bahwa mereka berdosa dan meninggalkan wanita itu. Sekarang tinggal Yesus dan wanita itu sendirian.Yesus pun berdiri dan berkata kepada perempuan itu : "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" (Yoh 8:10) dan wanita itu menjawab : "Tidak ada, Tuhan." (Yoh 8 :11) lalu Yesus pun mengeluarkan satu pernyataan yang sangat penting : "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (Yoh 8 :11).

Chery yang kukasihi, demikianlah ceritaku ! Jika kau renungkan cerita ini dengan dalam maka bukankah semuanya cocok dengan apa yang kau alami? Engkau laksana wanita yang kedapatan berzinah itu. Bahkan mungkin apa yang kau alami lebih tragis. Wanita yang kedapatan berzinah itu tidak diekspos lewat koran-koran dan surat kabar karena memang waktu itu belum ada harian ‘POS YERUSALEM’ ataupun ‘YAHUDI EXPRESS‘ maupun ‘RADAR ISRAEL’. Waktu itu belum ada HP sehingga penduduk Yerusalem tidak bisa saling ber-sms ria tentang wanita itu. Jelas apa yang kau alami lebih tragis. Siapakah di sudut kota ini yang tidak mengenalmu? Popularitasmu jauh melebihi Pak Lurah di kampungku. Dengan singkat engkau jadi terkenal dan itulah sebabnya beberapa orang menyebutmu sebagai ‘artis’. Semua orang menganggapmu pendosa dan harus ‘dirajam’ atau ‘dilempar’ dan memang kulihat dengan mataku sendiri bahwa ribuan ‘batu’ telah dilontarkan kepadamu setiap harinya. Engkau tertunduk malu dan tidak bisa mengangkat wajahmu di hadapan para penuduhmu. Kata-kata mereka laksana pedang yang merobek sukmamu. Matamu sayu dan senyummu manismu hilang diterbangkan sang duka ke padang belantara. Namun ada satu hal menarik. Meskipun motivasi para penuduh itu untuk menjebak Yesus, namun sekilas terlihat bahwa sebelum hukuman mereka jatuhkan bagi wanita itu, mereka datang menanyakan pada Yesus : "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Demikianlah tanya mereka pada Yesus. Chery, aku tak tahu apakah semua orang yang menuduh dan menghakimimu sudah menanyakan pada Yesus tentang apa pendapat-Nya? Ya, aku berharap demikian! Aku berharap semoga semua orang yang berkomentar tentang foto bugilmu sudah membawa hal itu dalam doa kepada Bapa di sorga. Aku berharap semoga doa Pak Walikota sudah mengawali pemecatanmu. Aku berharap semoga doa Pak Sekot sudah mengawali setiap tindakannya padamu. Aku juga berharap semoga teman-teman dekatmu sudah berdoa sebelum memberi kesaksian di hadapan Pak Polisi.

Chery, kalau kau renungkan ceritaku tadi, akan kau dapati motivasi yang buruk dari para penuduh itu. Mereka ingin menjebak Yesus dengan kasus wanita itu. Wanita itu memang bersalah karena berzinah namun ia juga telah menjadi korban niat jahat para penuduh. Mereka menghalalkan cara apapun asal tujuan mereka tercapai. Mereka tidak peduli dengan nasib wanita itu kalaupun ia harus dirajam mati yang penting tujuan mereka menjebak Yesus bisa berhasil. Di antara rombongan penuduh itu, mungkin ada yang pernah ‘memakai’ wanita itu. Mungkin ada yang pernah jatuh ke dalam pelukan wanita itu namun sekarang dari mulut merekalah keluar kata-kata tuduhan itu. Dari mulut yang pernah berkata : ‘I LOVE YOU’ sekarang keluar kata-kata : ‘RAJAMLAH DIA’. Chery, mungkinkah itu menjadi pengalamanmu juga? Aku tak tahu! Mungkin engkau merasa bahwa semua orang yang pernah dekat denganmu terbang menjauh seolah tak pernah mengenalmu. Mungkin engkau merasa bahwa mereka yang sekian lama memujamu bahkan mengemis cintamu kini menatapmu dengan sinis. Mungkin engkau merasa terkhianati karena kata-kata ‘I LOVE YOU’ yang pernah keluar dari mulut kekasih gelapmu yang membelai kalbumu kini berubah menjadi petir yang menyambar kembali jiwamu. Mungkin engkau sering mendengar setiap minggu Pendetamu berkata : “Sebagai hamba Yesus Kristus saya memberitakan pengampunan dosa kepada setiap orang.…” namun ketika engkau berdosa, kata-kata itu berubah menjadi cacian dan makian. Mungkin hatimu sementara berkidung duka seperti syair Ebid G. Ade : “Kemanakah sirnanya nurani embun pagi yang biasanya ramah kini membakar hati”. Kalau itu yang kau rasakan, dengarlah kata-kataku ini bahwa bukan kau satu-satunya orang yang pernah mengalami hal itu dan bukan kau orang pertama yang mengalaminya. Tahukah kau bahwa Yesus Kristus Juruselamat dunia itu pernah mengalami hal yang sama? Ia pernah hidup bersama dengan Yudas Iskariot murid-Nya namun yang akhirnya menjual-Nya. Sekian lama Ia dipuji dan diikuti karena mujizat-mujizat dan tanda-tanda heran-Nya dan ketika Ia memasuki kota Yerusalem, banyak orang yang berseru : “HOSANA…HOSANA…HOSANA…!” namun beberapa hari kemudian dari mulut-mulut yang sama terdengar teriakan berirama kebencian : “SALIBKAN DIA…SALIBKAN DIA…SALIBKAN DIA….!” Seorang murid-Nya yang lain yang sangat Ia kasihi yakni Simon Petrus yang sebelumnya dengan lantang berkata : “Meskipun yang lain meninggalkan Engkau, aku sekali-kali tidak” namun beberapa saat kemudian berkata : “Aku tidak mengenal orang itu”. Yesus pernah mengalami semua pengkhianatan itu dan Ia tabah menjalaninya bahkan yang lebih indah adalah dari atas salib Ia masih berseru : “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Karena itu Chery, janganlah bersedih dan menangis karena semua pengkhianatan itu. Engkau tidak sendiri ! Itulah sebabnya Yesus pernah menjadi manusia agar Ia bisa mengerti dan bersimpati terhadap perasaanmu yang berduka (Baca : Ibrani 2 :17-18 ; 4 : 15). Chery, dengarlah kata-kataku, engkau punya seorang sahabat sejati yang pernah mengalami pengkhianatan yang sama, dan nama-Nya adalah YESUS KRISTUS. Kuharap kalbumu dapat mendengar laguku ini yang kunyanyikan khusus buatmu : ‘Yesus ada sobat kita, sangat tulus dan benar, Ia dengan sukacita, hentar kita berlelah... ‘.

Bahwa para penuduh itu tidak ada yang berani melontarkan batu kepada wanita yang kedapatan berzinah itu ketika Yesus menantang mereka : "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu" membuktikan bahwa sebenarnya mereka mengakui dalam hati mereka bahwa mereka juga berdosa, mereka juga sama bejatnya dengan wanita itu namun bedanya adalah bahwa wanita itu tertangkap basah dan mereka tidak. Chery, bagaimanapun juga engkau harus bersedih karena engkau telah berdosa kepada Tuhan namun terhadap penuduh-penuduhmu, ahli-ahli Taurat dan orang Farisi modern itu, tidak usahlah kau malu karena pada prinsipnya ada banyak orang yang sama dengan engkau. Yang membedakanmu dari mereka adalah engkau ketahuan dan mereka tidak namun bukankah tidak ada hal pun yang tersembunyi di hadapan Bapa di sorga ?

Ketika para penuduh itu sudah pergi, sekarang tinggallah Yesus dan wanita itu. Ya, tinggal mereka berdua ! Benar bahwa pada akhirnya semua orang berdosa hanya dan harus berhadapan dengan Yesus Kristus. Demikian juga engkau Chery. Lalu apakah yang terjadi ketika tinggal wanita itu dan Yesus saja? Yesus bertanya kepadanya : "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" dan wanita itu menjawab : "Tidak ada, Tuhan." Lalu dialog ini berakhir dengan kalimat indah yang keluarlah dari mulut Yesus : "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang". Kalimat Yesus ini mengandung dua hal yang sangat penting. Yang pertama adalah kalimat anugerah, kalimat pengampunan. "Aku pun tidak menghukum engkau" namun yang kedua adalah kalimat perintah atau amanat. "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang". Jadi wanita yang kedapatan berzinah ini menerima pengampunan dan perintah. Ia mendapatkan sesuatu dan harus melakukan sesuatu. Ia bukan melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu tetapi ia mendapatkan sesuatu karenanya ia harus melakukan sesuatu. Ia telah mendapatkan pengampunan dan karenanya ia HARUS tidak berdosa lagi.

Chery, satu hal yang harus kau sadari adalah bahwa kata-kata agung yang pernah keluar dari mulut Yesus itu bukan hanya berlaku bagi wanita itu namun juga berlaku bagi semua orang berdosa termasuk engkau. "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang". Pertama-tama yang harus harus kau sadari adalah bahwa ada pengampunan melimpah yang tersedia bagimu oleh Bapa di sorga. Aku mengerti bahwa perasaan orang berdosa selalu mengatakan bahwa : ‘aku tidak layak di hadapan Tuhan’ namun aku juga mengerti bahwa tangan Sang Juruselamat itu senantiasa terbuka dan menunggu setiap orang berdosa untuk datang pada-Nya sama seperti sang bapa yang menanti kepulangan anak yang terhilang. Karenanya, janganlah engkau menyembunyikan diri dari hadapan-Nya, janganlah engkau melarikan diri dari hadirat-Nya. Kemanakah engkau dapat lari menjauhi Roh-Nya? Kemanakah engkau dapat lari dari hadapan-Nya ? Sekalipun engkau terbang dengan sayap fajar dan membuat kediaman di ujung laut, di sana pun Ia ada. Datanglah pada-Nya karena Ia tidak pernah memandang hina hati yang hancur. Alkitab berkata : “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina, ya Allah” (Maz 51:19). Pengampunan yang melimpah telah tersedia bagimu asal engkau melemparkan dirimu dalam pelukan kasih-Nya. Ingatlah kata-kata-Nya : ‘Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba’ (Yes 1 :18). ‘Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan’. (1 Yoh 1 :9). Chery, janganlah kau ragukan pengampunan-Nya. Keraguanmu akan pengampunan-Nya laksana kekuatiran seekor ikan bahwa air laut akan habis diminumnya atau seperti kekuatiran seekor burung bahwa udara akan habis dihirupnya. Resapkanlah kata-kata Yesus itu di hatimu : "Aku pun tidak menghukum engkau" sambil membiarkan dirimu tersungkur di kaki salib-Nya seraya bernyanyi : ‘Kendati kulemah, tenaga Kau beri, Kau hapus aib dosaku, hidupku pun bersih, aku datanglah, Tuhan pada-Mu, dalam darah-Mu kudus, sucikan diriku’ dan percayalah kata-kataku ini bahwa pintu mutiara firdaus terbuka bagimu dan kau akan lihat berlaksa malaikat dengan gegap gempita menyambutmu, anak yang terhilang itu.

Sudah selesai? Belum Chery ! Masih ada satu hal lagi dan itulah yang harus kau lakukan. Ingatlah kata-kata Yesus : "Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang". Hal ini sangat penting karena itu sebagai penghargaan atas pengampunan yang diberikan bagimu. Yesus menyuruh engkau untuk tidak berdosa lagi bukan supaya engkau diampuni tapi karena engkau sudah diampuni. Engkau tidak boleh berdosa lagi ! Engkau tidak boleh mengulangi apa yang telah kau lakukan ! Engkau harus meninggalkan semua dosamu sebagai cerita masa lalu. Biarlah pengalaman foto bugilmu adalah pengalaman yang awal dan yang akhir. Itu tidak mungkin kembali lagi karena Chery sudah mati. Ya, sudah mati bersama Kristus di puncak kalvari. Andai saja suatu hari kujumpai kau di sudut kota ini, kuharap yang kutemui adalah Chery yang telah hidup kembali, Chery yang baru, Chery yang berbeda, Chery yang telah merdeka, Chery yang akan bersaksi tentang hidup yang dibaharui dan Chery yang akan menuntun orang berdosa kepada Tuhan sebagaimana kata raja Daud : ‘Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu’. Maukah engkau melakukan itu ?

Chery, semua yang ingin kukatakan sudah kukatakan. Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar kalau aku dapat menuntunmu kembali ke pangkuan Bapa di sorga. Mencari domba yang tersesat, itulah kerinduan jiwaku. Kuharap setelah kau membaca suratku ini, sesuatu terjadi padamu, dalam jiwamu sehingga engkau mulai menatap dunia ini dengan cara yang berbeda. Aku tahu dunia serasa gelap bagimu beberapa waktu ini namun aku yakin sebentar lagi awan hitam kan berlalu, mentari dan rembulan akan tersenyum, bintang-gemintang akan bersorak dan pelangi pun berkidung di hadapan mekarnya bunga-bunga karena senyuman, ya senyuman manismu yang akan kembali menghiasi dunia.

Chery, satu hal yang perlu kau sadari, kulakukan ini bukan karena apa-apa, bukan karena ingin mencari untung apa pun namun karena kasih bergelora dalam jiwaku. Meskipun kita tidak saling mengenal namun itu bukanlah alasan untuk tidak mengasihimu. Aku mengasihimu bukan karena engkau begini atau engkau begitu tetapi karena engkau ada di sini. Bagiku, meskipun orang tidak mengenal aku, meskipun orang tidak pernah mengucapkan kata-kata terima kasih kepadaku, namun aku akan terus bekerja karena sangat nikmatnya rasanya membawa manusia itu ke jalan bahagia. Akhirnya, kuharapkan suatu hari nanti aku melihatmu di pangkuan Bapa. Inilah suratku, surat yang lahir dari hati yang mengasihi bahkan sementara jemariku menari-nari ketika menulis surat ini, ia menari dengan irama cinta. Terimalah suratku ini Chery! Ya, terimalah, SURAT CINTA BUATMU.

1 komentar:

  1. Komentar yang sempat muncul

    1
    Blogger It's me, berkata...

    Sang Pencinta, hhmmmmm, baru tau kalo EG puitis juga... Sering - sering ya buat tulisan seperti ini...

    2
    Jessica berkata...

    dear sang pecinta,,

    tulisan yang mengagumkan rasanya pengen nangis aja....
    ternyata kk bukan hanya hebat tapi care ma semua org......he5x
    yang sering ya tulis ke gini...
    god bless you all the way of life.

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini