03 Mei 2009

IX. APLIKASI PRAKTIS DARI DOKTRIN TRITUNGGAL

Esra Alfred Soru

Kebenaran Tritunggal bukan saja merupakan suatu kebenaran dogmatis yang hanya berisi rumusan-rumusan tentang Allah yang bersifat teoritis seperti dituduhkan Joseph Bracken, bahwa ‘doktrin Trinitas tidak praktis dan tidak perlu …’(Bracken dalam Robert M. Bauman Jr; 1990:18) tetapi juga mengandung kebenaran praktis yang berguna bagi kehidupan. Boettner menulis, ‘Doktrin Trinitas tidak boleh dilihat sebagai spekulasi metafisika abstrak, ataupun teori tidak alamiah yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan praktis’ (Boettner, 1947: 132). Kebenaran praktis yang diperoleh dari kebenaran Tritunggal dapat dilihat dari beberapa sudut pandang yaitu:


1. Sudut Pandang Teologis-Soteriologis

Dari sudut pandang teologis-soteriologis ini, kebenaran Tritunggal mempunyai fungsi yang penting bagi kehidupan manusia, karena doktrin in adalah wahyu yang sangat penting tentang sifat Allah dan pekerjaan-Nya di dalam manusia. Perihal sifat Allah berkenaan dengan Ia yang hidup dan benar, sedangkan tentang pekerjaan-Nya berkenaan dengan misi soteriologis-Nya bagi umat manusia. Pengenalan akan sifat dan karya-Nya ini (Bapa adalah sumber penebusan, Anak yang melaksanakan penebusan, dan Roh Kudus yang menerapkan penebusan) adalah hidup yang kekal itu, yang membawa suatu pengertian dan kesadaran baru bahwa makhluk ciptaan tidak menyumbang apa-apa kepada keselamatan (Robert M. Bauman, Jr; 1990:19).


2. Sudut Pandang Etis-Praktis

Sudut pandang etis-praktis dari doktrin Tritunggal adalah bahwa doktrin Tritunggal mengajarkan aturan-aturan kehidupan praktis yang bermutu tinggi. Aturan-aturan itu antara lain:


a Kebenaran Tritunggal mengajarkan tentang kesatuan Kristiani

Dalam doktrin Tritunggal didapati kebenaran bahwa ketiga oknum Allah ini walaupun berbeda secara pribadi, tetapi merupakan kesatuan dalam hakikat-Nya. Perbedaan pribadi di dalam Allah Tritunggal tidak menyebabkan terjadinya ketegangan-ketegangan internal dalam relasi antara satu dengan yang lainnya, malah sebaliknya kesatuan dalam hakikat-Nya itu mengharmoniskan relasi di antara Mereka.

Harus diingat pula bahwa Allah Tritunggal bukan merupakan tiga Allah tetapi tiga pribadi dalam satu esensi/hakikat Allah. Kesatuan hakikat in mengakibatkan adanya kesatuan kehendak dan pikiran. Di antara pribadi-pribadi Tritunggal ini tidak terdapat pertentangan kehendak, pikiran dan pendapat sendiri-sendiri. Mereka tidak memiliki satu kehendak, tetapi memiliki kehendak yang satu. Mereka tidak memiliki kehendak yang sama tetapi memiliki kesamaan kehendak. Atau dengan kata lain terdapat kehendak yang berbeda (masing-masing memiliki kehendak pribadi), tetapi tidak terdapat perbedaan kehendak. Di sini dapat dilihat bahwa kesatuan hakikat di dalam Allah tritunggal itu tidal “terancam” dengan kejamakan pribadi di dalam-Nya, malah kesatuan hakikat itu membuat Mereka (pribadi-pribadi Allah Tritunggal) dapat berelasi dengan harmonis. Dengan kata lain Allah Tritunggal masih tetap berada dalam satu hakikat yang tak terpisahkan sekalipun dengan oknum-oknum atau pribadi-pribadi yang berbeda.

Kesatuan Kristiani seharusnya dibangun di atas dasar ini. Kesatuan yang dimaksud di sini adalah kesatuan yang melampaui segala perbedaan. Sama halnya dengan pribadi-pribadi Allah Tritunggal yang mempunyai keunikan dan kekhasan pribadi tetapi masih dapat hidup berdampingan dengan harmonis, maka kekristenan pun dapat mengalami hal yang sama.

Gereja Kristen adalah kumpulan orang yang percaya kepada Kristus Yesus (oknum kedua dari Allah Tritunggal) dengan berbagai latar belakang seperti latar belakang agama dan kepercayaan, latar belakang budaya, suku bangsa dan bahasa, latar belakang pendidikan dan tingkatan sosial ekonomi. Sekalipun demikian kesatuan yang dimaksud masih dapat terjadi dalam semua relasi di antara mereka sebagai saudara seiman di dalam Kristus Yesus. Kesatuan semacam ini adalah manifestasi dari kesatuan ilahi yang terjalin di antara pribadi-pribadi Allah Tritunggal.

Rasul Paulus menggambarkan kesatuan Kristiani ini dengan mempergunakan analogi tubuh manusia. Walaupun anggota-anggota tubuh itu berbeda satu dengan lainnya, tetapi semuanya itu diikat dalam satu kesatuan di dalam Kristus sebagai kepala tubuh (1 Korintus 12:12-31).

Dalam doa untuk murid-murid-Nya, Yesus meminta kepada Bapa agar murid-murid-Nya menjadi satu sama seperti Ia dan Bapa (pasti juga dengan Roh Kudus) adalah satu. “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita…” (Yohanes17:21)


b Kebenaran Tritunggal mengajarkan tentang kasih Kristiani.

Kebenaran Tritunggal selain mengajarkan tentang kesatuan Kristiani, juga mengajarkan tentang kasih Kristiani. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah sungguh mengasihi manusia, tetapi jauh sebelum Allah menciptakan manusia kasih Allah juga merupakan kasih yang aktif, kasih yang bersasaran dan kasih berobyek. Yohanes pasal 15:9 berkata : “Seperti Bapa telah mengasihi Aku…” dan selanjutnya ayat 10 berkata : “…Dan tinggal di dalam kasih-Nya.”

Doktrin Tritunggal menyatakan adanya tiga pribadi dalam satu esensi/hakikat Allah yaitu Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Ketiga-Nya itu esa dan kekal. Jadi, menurut ayat-ayat di atas dapatlah dipahami bahwa jauh di dalam kekekalan Allah Tritunggal berada, telah terjalin hubungan kasih yang mesra di antara ketiga-Nya. Sekalipun ayat-ayat di atas tidak menyebutkan pribadi Roh Kudus, tetapi bukan mustahil bahwa ketiga-Nya terlibat dalam tindakan dan relasi kasih ilahi (Devine Love) yang suci dan murni. Kasih ilahi yang suci dan murni in akhirnya direfleksikan dalam tindakan penciptaan dan kasih terhadap manusia.

Jika relasi di antara ketiga pribadi Allah Tritunggal dilandasi oleh kasih ilahi, maka ini mengajarkan kepada orang-orang percaya agar juga menghadirkan kasih ilahi di dalam setiap relasi-Nya, baik relasi dengan Allah, relasi dengan sesama, dan relasi dengan diri sendiri. Kasih ini harus merupakan kasih yang berasal dari Allah Tritunggal. Yesus berkata : “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”. (Yohanes 13:34-35)


c Kebenaran Tritunggal mengajarkan tentang kerja sama Kristiani

Dalam bagian “Karya Allah Tritunggal” secara khusus karya ekonomis, telah dilihat bahwa baik dari konteks wahyu maupun konteks sejarah keselamatan, ketiga oknum Allah Tritunggal berkarya di sana (Lihat kembali bagian “Karya Allah Tritunggal”). Akan tetapi hal yang lebih menarik dari itu adalah bahwa karya-karya Mereka menunjukkan adanya suatu kooperasi yang harmonis dan seimbang. Sebagai contoh dalam peristiwa penciptaan Bapa bertindak sebagai pencipta, dan itu dilakukan melalui Roh Kudus dengan Anak sebagai “sarananya”. Dalam peristiwa penyelamatan / penebusan, Bapa berfungsi sebagai perencana keselamatan itu, Anak sebagai pelaksana dan Roh Kudus yang mengerjakan keselamatan itu dalam diri manusia. Allah Bapa tidak mati di kayu salib. Roh Kudus juga tidak mati di situ. Hanya Yesus, Anak Allah, yang mati di Golgota. Namun keesaan, hakikat dan harkat Tritunggal seutuhnya terhisap dalam diri Yesus pada kematian-Nya di kayu salib. (R.J. Porter: Katekesasi Masa Kini; 1994: 116). Demikian juga dalam peristiwa pewahyuan, Bapa yang menurunkan Firman ke dalam dunia, Anak adalah Firman itu sendiri, dan itu dilakukan melalui Roh Kudus. Dengan demikian kooperasi in sungguh harmonis.

Jika pribadi-pribadi Allah Tritunggal itu dapat bekerja sama dengan baik dalam wahyu umum maupun khusus, maka ini juga harus menjadi dasar dari kerja sama Kristiani di dalam setiap aktifitas hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini