15 Juni 2009

YESUS BUKAN ALLAH? (3)

Telaah Teologis Atas Buku “ALLAH DALAM ALKITAB & ALQURAN” Karangan Frans Donald (FD)

Esra Alfred Soru


Filipi 2:6

Fil 2:6 : “…yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,..” Sama seperti ayat-ayat sebelumnya, Fil 2:6 juga adalah ayat yang sering dipakai untuk membuktikan keallahan Yesus tapi FD menolaknya. FD berkata :“Apakah benar Paulus menganggap Yesus setara dengan Yahweh (Bapa)? Kesimpulan ini tampak janggal……Setelah membandingkan Fil 2:6 dengan bahasa aslinya dan versi bahasa Inggris, penulis tidak setuju dengan bunyi Fil 2:6 terjemahan LAI karena kurang tepat. Dalam Revised Standard Version dikatakan ‘thought it not robbery to be equal with God”. Jadi sama sekali tidak ada kata ‘dipertahankan’. Yang ada adalah kata ‘perampasan’ (robbery). Terjemahan seharusnya berbunyi : ‘Yesus, walaupun memiliki rupa ilahi, tidak memikirkan perampasan untuk menjadi setara dengan Allah. Jika diterjemahkan seperti ini, barulah isi Fil 2:5-11 secara utuh mengungkapkan ketaatan dan kerendahan hati Yesus kepada Yahweh”. (hal. 48-49). Jadi dengan apa yang dikatakannya, FD menolak kesetaraan Yesus dengan Bapa.

Untuk menjawab FD, pertama-tama perlu diketahui bahwa kalimat ‘walaupun dalam rupa Allah’ (ay 6a) ini dalam KJV diterjemahkan ‘being in the form of God’ (berada dalam bentuk Allah). Kata ‘being’ (berada) itu dalam bahasa Yunani adalah HUPARCHON dan ini ada dalam bentuk present participle. Bentuk present dari kata HUPARCHON ini menunjuk pada ‘continuance of being’ (keberadaan yang terus-menerus). Walter Martin dalam bukunya “The Kingdom of the Cults”, hal. 94 mengatakan bahwa kata HUPARCHON itu berarti ‘remaining or not ceasing to be’ (tetap atau tidak berhenti sebagai). William Barclay mengatakan bahwa : “Kata kerja bahasa Yunani HUPARKHEIN….kata itu menjelaskan tentang seseorang di dalam hakikatnya yang tidak dapat berubah”. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Surat Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika; hal. 59). Dengan data ini Budi Asali menyimpulkan : Karena itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu ‘being in the form of God’, maka itu berarti bahwa Yesus adalah Allah, dan Ia tetap adalah Allah, dan ini tidak bisa berubah. (Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; www.members.tripod.com/gkri_exodus). Budi Asali melanjutkan : Selanjutnya kata ‘form’ (bentuk) dalam bahasa Yunaninya menggunakan kata MORPHE. Dalam bahasa Yunani ada 2 kata yang bisa diterjemahkan ‘bentuk’ / ‘rupa’, yaitu MORPHE dan SKHEMA. Kedua kata ini kadang-kadang dalam literatur Yunani, seperti yang ditunjukkan dalam berbagai lexicon mempunyai arti ‘penampilan lahiriah’, ‘wujud’, ‘bentuk’. Dalam konteks-konteks tertentu kedua kata itu bisa dibolak-balik. Tetapi pada saat-saat lain ada perbedaan arti yang jelas. Jadi konteks dalam setiap peristiwalah harus menentukan. Nah, dalam Fil 2:6 ini kata MORPHE itu berbeda dengan SKHEMA. Mengapa? Mari kita melihat ayat 6-7 ini dalam terjemahan dari NASB : ‘ who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped, but emptied Himself, taking the form of a bond-servant, and being made in the likeness of men” (yang, sekalipun Ia berada dalam bentuk (MORPHE) Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu untuk dipertahankan, tetapi telah mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil bentuk (MORPHE) seorang hamba, dan dijadikan dalam bentuk (SKHEMA) manusia). Perhatikan kata-kata yang digaris bawahi itu. Untuk dua kata yang pertama digunakan kata Yunani MORPHE (Yesus sebagai Allah dan sebagai hamba), sedangkan untuk kata yang ketiga digunakan kata Yunani SKHEMA (Yesus sebagai manusia). Perubahan dari MORPHE ke SKHEMA menunjukkan bahwa di sini ada perbedaan arti antara kedua kata itu. Memang sebagai manusia Yesus tidak terus sama. Ia bertumbuh makin besar, makin tua dalam usia, sehingga tentu berubah dalam wajah / bentuk badan. Ia bisa menjadi kurus (misalnya pada saat berpuasa), dan kembali menjadi gemuk (setelah puasa), dsb. Karena itu di sini digunakan SKHEMA. Tetapi sebagai Allah, Ia tidak berubah. Karena itu digunakan MORPHE. Juga sebagai hamba, Ia tidak berubah. Ia boleh menjadi dewasa, tua, kurus, gemuk, dsb., tetapi Ia tetap adalah hamba. Dan karena itu di sini juga digunakan MORPHE. Jadi, baik penguraian tentang kata ‘being’ (ada / berada) maupun kata ‘form’ (bentuk), menunjukkan ketidak-berubahan Yesus sebagai Allah. Allah memang mempunyai sifat tidak bisa berubah (Mal 3:6, Maz 102:26-28, Yak 1:17), karena kalau Ia bisa berubah, itu menunjukkan Ia tidak sempurna! (Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; www.members.tripod.com/gkri_exodus).

Lalu bagaimana dengan terjemahan ala FD di atas? Untuk jelasnya saya kutipkan kembali kata-kata FD : “Dalam Revised Standard Version dikatakan ‘thought it not robbery to be equal with God”. Jadi sama sekali tidak ada kata ‘dipertahankan’. Yang ada adalah kata ‘perampasan’ (robbery). Terjemahan seharusnya berbunyi : ‘Yesus, walaupun memiliki rupa ilahi, tidak memikirkan perampasan untuk menjadi setara dengan Allah. Jika diterjemahkan seperti ini, barulah isi Fil 2:5-11 secara utuh mengungkapkan ketaatan dan kerendahan hati Yesus kepada Yahweh”. (hal. 48-49). Terjemahan ala FD ini sangat mirip dengan terjemahan kelompok Saksi Yehuwa dalam Alkitab mereka, New World Translation (NWT) : “…yang, walaupun ada dalam wujud Allah, tidak pernah mempertimbangkan untuk merebut kedudukan, yakni agar ia setara dengan Allah”. Benarkah apa yang dikatakan FD dan aliran Saksi Yehuwa? Mari kita lihat beberapa terjemahan bahasa Inggris. KJV: ‘…Who, being in the form of God, thought it not robbery to be equal with God’ (“…yang ada dalam bentuk Allah, menganggapnya bukan sebagai perampokan untuk menjadi setara dengan Allah). RSV : ‘who, though he was in the form of God, did not count equality with God a thing to be grasped’ (“…yang sekalipun Ia ada dalam bentuk Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah suatu hal yang harus direbut / dipegang erat-erat). NIV: “…who, being in very nature God, did not consider equality with God something to be grasped’ (“…yang ada dalam hakekat Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu untuk direbut / dipegang erat-erat). NASB : ‘…who, although He existed in the form of God, did not regard equality with God a thing to be grasped’ (“…yang sekalipun Ia berada dalam bentuk Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sesuatu untuk direbut / dipegang erat-erat). Perhatikan bahwa RSV, NIV, NASB menggunakan kata bahasa Inggris ‘grasp’ yang bisa diartikan ‘merebut’ atau ‘memegang erat-erat’. Oleh KJV kata itu diterjemahkan ‘robbery’ (perampokan). Dari terjemahan-terjemahan bahasa Inggris ini kelihatannya apa yang dikatakan FD dan Saksi Yehuwa benar tapi kita tidak boleh berhenti di situ. Kita harus meneliti bahasa Yunaninya. Simak keterangan yang diberikan Budi Asali : Kata bahasa Yunani yang digunakan di sana adalah HARPAGMON yang berasal dari kata HARPAGMOS. Kata HARPAGMOS ini merupakan suatu kata benda, yang bisa diartikan secara aktif, atau secara pasif. Kalau diartikan secara aktif, maka itu menjadi ‘an act’ / ‘suatu tindakan’ (suatu tindakan perampokan/perebutan kekuasaan) sedangkan jika diartikan secara pasif, maka itu menjadi ‘a thing’ / ‘suatu hal’ (suatu rampasan / harta / kekayaan untuk dipegang erat-erat). (Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; www.members.tripod.com/gkri_exodus). Rupanya arti aktiflah yang diambil KJV dan RSV (yang diacu FD) yang menerjemahkannya dengan ‘robbery’ / ‘perampokan’), tetapi terjemahan seperti ini ditolak oleh mayoritas penafsir Kristen (termasuk William Hendriksen) karena tidak sesuai dengan konteks yang mendahului ayat ini, yang menekankan supaya kita menjadi rendah hati dan tidak berpegang pada hak kita tetapi lebih memikirkan kepentingan orang lain. Jadi, mayoritas penafsir justru memilih arti pasif. Jika kata HARPAGMOS ini diartikan secara pasif, maka ada dua kemungkinan bagi arti ayat tersebut yaitu : (1) Itu adalah sesuatu yang sudah dimiliki, dan dipertahankan. (2) Itu adalah sesuatu yang belum dimiliki, dan diusahakan / dicari dengan sungguh-sungguh. Dari konteks Fil 2 maka arti kedua jelas bertentangan dengan kata-kata ‘walaupun dalam rupa / bentuk Allah’ dalam Fil 2:6a, yang menunjukkan bahwa Yesus sudah adalah Allah (ini sudah dibahas di atas). Jadi, jelas bahwa kita harus mengambil arti pertama. Dan ini menjadi cocok dengan terjemahan Kitab Suci Indonesia.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa Fil 2:7 di awali dengan kata “melainkan” / ‘tetapi’ (Yun : ‘alla’). Ini jelas menyatakan kontras antara ayat 6 dan ayat 7. Dalam Pulpit Commentary (hal. 59) dikatakan bahwa : “Kata penghubung ‘tetapi’ (Yun : ‘alla’) di ayat 7 secara implicit menunjukkan bahwa kedua pernyataan itu bertentangan satu sama lain. Ia tidak memegang erat-erat, tetapi, sebaliknya, Ia mengosongkan diri-Nya sendiri. ... Tidak merebut kesetaraan dengan Allah bukanlah suatu contoh kerendahan hati, tetapi hanya menunjukkan tidak adanya suatu ketidak-salehan yang gila, dalam diri seseorang yang bukan Allah”.A. T. Robertson menulis : “Suatu hadiah (HARPAGMON). Semula kata-kata yang berakhiran MOS menandakan tindakannya, bukan hasil dari tindakan tersebut (-MA). Beberapa contoh dari HARPAGMOS (Plutarch, dsb.) mengijinkan kata itu untuk dimengerti sebagai kata yang sama artinya dengan HARPAGMA, seperti BAPTISMOS dan BAPTISMA. Itu berarti bahwa Paulus memaksudkan suatu rampasan / hadiah untuk dipegang erat-erat dan bukannya sesuatu untuk didapatkan / ‘perampokan.’ (Word Pictures in the New Testament; vol. 4, hal 444). Dari semuanya itu jelas bahwa kita tidak boleh menafsirkan seakan-akan Fil 2:6 itu berarti Yesus itu lebih rendah dari Allah, dan Ia tidak mempertimbangkan untuk merampas kesetaraan dengan Allah itu, seperti terjemahan/tafsiran FD dan Saksi Yehuwa. Mengapa? Karena kalau kita memilih penafsiran mereka maka Fil 2:6b ini akan bertentangan dengan Fil 2:6a, yang menunjukkan keilahian Kristus (yang sudah dijelaskan di atas). Demikian juga Fil 2:6b ini akan bertentangan dengan Yoh 5:18 - “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah”. Perlu juga diperhatikan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan ‘kesetaraan’ dalam Fil 2:6b, sama dengan kata Yunani yang diterjemahkan ‘menyamakan’ dalam Yoh 5:18. Fil 2:6b menggunakan kata Yunani ‘ísa’ sedangkan Yoh 5:18 menggunakan kata Yunani ‘íson’. Kedua kata Yunani itu jelas mempunyai kata dasar yang sama. (Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; www.members.tripod.com/gkri_exodus). Jadi, Yesus jelas sudah mempunyai kesetaraan dengan Allah, dan karena itu Fil 2:6b itu tidak mungkin diartikan sebagaimana FD dan Saksi Yehuwa mengartikannya.

Selanjutnya, tafsiran/terjemahan FD dan Saksi Yehuwa semakin tidak mungkin jika kita meneliti dengan seksama konteks dari Filipi pasal 2. Dalam Fil 2:1-4 Paulus sedang menasehati supaya jemaat Filipi mempunyai kerendahan hati dan kasih / ketidakegoisan. Fil 2:1-4 : “Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga”. Selanjutnya dalam ayat 5 dst, Paulus menunjuk kepada Yesus sebagai teladan dalam hal kerendahan hati dan kasih / ketidakegoisan. Nah, jika terjemahan FD dan Saksi Yehuwa mengatakan bahwa Yesus lebih rendah dari Allah dan tidak ingin merebut/merampas/merampok kesetaraan dengan Allah, maka itu bukan merupakan suatu contoh kerendahan hati ataupun kasih / ketidak-egoisan, tetapi hanya merupakan absennya suatu kegilaan! (Bandingkan dengan kata-kata dari Pulpit Commentary yang telah dikutip di atas). Budi Asali memberikan ilustrasi : andaikata anda adalah warga negara Indonesia, dan anda tidak berusaha untuk melakukan kudeta, menggulingkan presiden, dan menjadi presiden menggantikan presiden yang sah, maka apakah itu menunjukkan bahwa anda adalah warga negara yang baik dan rendah hati? Tentu saja tidak! Itu hanya menunjukkan bahwa anda tidak gila! Demikian juga kalau Yesus lebih rendah dari Allah, dan Ia hanya tidak berusaha untuk menjadi setara dengan Bapa, itu sama sekali tidak menunjukkan suatu kerendahan hati ataupun kasih. Itu hanya menunjukkan bahwa Ia tidak gila. (Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; www.members.tripod.com/gkri_exodus). Dengan demikian terjemahan/tafsiran FD ini menjadi tidak cocok dengan konteksnya (Fil 2:1-4). Sebaliknya terjemahan LAI justru menunjukkan bahwa Yesus yang setara dengan Allah itu, rela direndahkan dengan menjadi manusia, supaya bisa mati menebus dosa kita sangat cocok dengan konteks Filipi 2 ini yang menunjukkan suatu kerendahan hati dan kasih / ketidak-egoisan. Jadi, terjemahan LAI lebih cocok dengan konteksnya sedangkan terjemahan FD sama sekali tidak cocok dengan konteksnya!

Yohanes 20:28

Yoh 20:27-28 berbunyi : “Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Pernyataan Tomas ini oleh orang Kristen dipercaya sebagai sebuah pengakuan iman terhadap siapa Yesus sebenarnya di makna Ia adalah Tuhan dan Allah. Bagaimana pendapat FD terhadap ayat ini? Ia menulis : “Sama halnya pada saat kita terkejut melihat peristiwa tsunami, banyak di antara kita yang kaget sekali dan berkata “Ya Allah, ya Robbi!” atau “ya Tuhan dan Allahku!” Bukan berarti gelombang tsunami itu adalah Tuhan atau Allah kita, tapi kita berkata “ya Tuhan dan Allahku!” karena kita sangat terkejut dan heran akan sesuatu yang kita saksikan di depan kita. Demikian juga halnya dengan perkataan Tomas di Yoh 20:28 tersebut. Kita mesti hati-hati saat membaca ayat, kita harus sangat memperhatikan konteksnya agar tidak salah paham” (hal. 50-51). Jadi FD percaya bahwa Ungkapan Tomas itu hanyalah suatu ungkapan keterkejutan belaka. Sekali lagi, pendapat FD ini mirip dengan pendapat aliran sesat Saksi Yehuwa. Sepertinya mereka sangat bersahabat dalam doktrin mereka. Dalam buku “Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal?”, hal 29 dikatakan bahwa : “Bagi Tomas, Yesus adalah seperti ‘allah,’ terutama dalam mukjizat yang ia lihat yang mendorongnya untuk mengeluarkan seruan itu. Beberapa sarjana mengatakan bahwa Tomas mungkin hanya mengucapkan seruan keheranan yang emosional, …” Benarkah pandangan FD dan ‘sahabatnya’ Saksi Yehuwa? Kita simak argumentasi Budi Asali. Hal pertama yang harus kita perhatikan adalah bahwa Tomas mengucapkan kata-kata itu kepada Yesus. Alkitab NASB : “Thomas answered and said to Him, ‘My Lord and my God!’” (Tomas menjawab dan berkata kepada-Nya : ‘Tuhanku dan Allahku!’). Perhatikan bahwa dalam terjemahan NASB dikatakan bahwa ‘Tomas menjawab dan berkata kepada-Nya’. Kalau seseorang mengucapkan kata-kata seperti ‘Ya Allah’, karena kaget, ia sebenarnya tidak menujukan kata-kata itu kepada siapa pun. Jadi, ini bukan sekedar ucapan orang, yang karena kaget, lalu berkata : ‘Tuhanku dan Allahku’. Tidak, ia betul-betul mengucapkan kalimat itu kepada Yesus. Jelas bahwa Tomas mengakui Yesus sebagai Tuhan dan sebagai Allah. (Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; www.members.tripod.com/gkri_exodus). Ini jelas juga menentang penerjemahan / penafsiran dari FD dan Saksi-Saksi Yehuwa di atas, karena ayat itu menunjukkan bahwa Tomas mengucapkan kata-kata itu kepada Yesus. Selain itu apa yang dikatakan FD dan Saksi Yehuwa ini menjadi lebih tidak mungkin jika dikaitkan dengan konteks orang Yahudi yang sangat menghargai nama Allah. A.H. Strong mengatakan bahwa kebiasaan seperti itu tidak ada dalam kalangan Yahudi, karena adanya larangan untuk menggunakan nama Allah dengan sembarangan / sia-sia (Systematic Theology, hal. 306). Jadi kata-kata Tomas harus dimengerti dalam konteks orang Yahudi seperti yang digambarkan Strong dan bukan dalam konteks orang Indonesia pada masa kini. Apa yang dikatakan FD membuktikan bahwa ia sama sekali tidak paham makna ayat tersebut.

Selanjutnya, ada 3 hal lain yang perlu diperhatikan dalam pembahasan tentang kata-kata Tomas dalam Yoh 20:28 ini, yaitu: (1) Kata-kata yang sama dengan kata-kata Tomas ini diucapkan oleh Daud terhadap YAHWEH dalam Maz 35:22-23 : “Engkau telah melihatnya, TUHAN (YAHWEH), janganlah berdiam diri, ya Tuhan, janganlah jauh dari padaku! Terjagalah dan bangunlah membela hakku, membela perkaraku, ya Allahku dan Tuhanku!”. (2) Kata-kata Tomas ini dapat dikatakan paralel dengan Wah 4:11 : “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”, hanya saja di sini digunakan ‘kami’ bukan ‘ku’, dan kata ‘kami’ digunakan satu kali, sedangkan kata ‘ku’ digunakan dua kali. Sebagai tambahan perlu diingat bahwa yang mencatat kata-kata Tomas dalam Yoh 20:28 adalah rasul Yohanes, yaitu orang yang sama dengan yang menuliskan Wah 4:11. Dan karena itu sangat besar kemungkinannya bahwa ia menuliskan dalam arti yang sama. Robert M. Bowman Jr. mengatakan : “Orang yang sama, rasul Yohanes, adalah pengarang dari Injil Yohanes dan kitab Wahyu. Dalam terang ini, lebih memungkinkan bahwa Yoh 20:28 ditafsirkan dengan cara yang sama seperti Wah 4:11”. (Jehovah’s Witnesses, Jesus Christ, and the Gospel of John’, hal 134). (3) Yesus bukan saja tidak menegur / memarahi Tomas atas kata-katanya itu, Ia bahkan berkata kepada Tomas : “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Ini jelas menunjukkan bahwa Yesus menerima dan membenarkan, penyebutan ‘Tuhan’ dan ‘Allah’ terhadap diri-Nya itu. (Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; www.members.tripod.com/gkri_exodus). Simak juga apa yang dikatakan A. H. Strong : “Dalam Yoh 20:28, penyebutan Tomas “Ho Kúriós mou kaí ho Theós mou” - ‘Tuhanku dan Allahku’ - karena hal itu tidak ditegur / dimarahi oleh Kristus, maka itu sama dengan suatu penegasan dari diri-Nya tentang klaim atas keallahan”. (Systematic Theology, hal 306). Jadi jelas bahwa kata-kata Tomas adalah ungkapan keterkejutan hanyalah teori omong kosong dari FD dan Saksi Yehuwa. Bersambung....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini