21 Juni 2009

YESUS BUKAN ALLAH SEJATI? (1)

Tanggapan Balik Atas Jawaban Frans Donald (FD)

Esra Alfred Soru


Pada tanggal 15-16 Januari yang lalu Timex menurunkan 2 tulisan Frans Donald (penulis buku ”Allah Dalam Alkitab dan Alqura, Sesembahan Yang Sama atau Berbeda”) dengan judul ”Apakah Tuhan Yesus = Allah Sejati?”. Tulisan FD tersebut adalah jawabannya terhadap tanggapan saya atas buku yang ditulisnya (Timex, 13-017 November 2996), yang menyerang doktrin Trinitas/Tritunggal dan Kristologi Kristen. Untuk itu saya perlu mengucapkan terima kasih pada FD atas jawabannya.

Debat di Surabaya : Sebuah alasan

Meskipun saya berterima kasih atas tanggapan FD tetapi saya juga sekaligus ingin mengungkapkan kekecewaan saya atas tulisannya di mana FD dengan sangat kelihatan berusaha menghindar dan tidak menjawab semua argumentasi yang saya ajukan dalam menentang ajarannya. Salah satu alasan mengapa FD tidak mau menjawab semua argumen saya adalah karena ia ingin langsung berdebat dengan saya saja sebagaimana kalimatnya : “Mengapa saya tidak mau menanggapi seluruhnya melalui tulisan ini.....Saya sangat berharap di tahun 2007 ini saya dengan tim semoga bisa secepatnya berdialog dengan Esra Alfred Soru untuk adu argumen tentang Trinitas, disaksikan masyarakat umum islam-kristen dan wartawan-wartawan, ....” ”Harapan saya, secepatnya saya dan Esra dapat bertemu untuk dialog / debat terbuka khusus membahas siapakah Yesus dan doktrin Trinitas. Info yang perlu pembaca ketahui juga, saya sudah menghubungi Pdt. Esra untuk menggelar debat terbuka untuk umum tersebut, yang akan diselenggarakan di Surabaya, kapan watunya? Esra merencanakan pada bulan Juni 2007. Tapi saya dan Tim mengharapkan secepatnya, semoga! FD juga menulis : ”Saya tidak akan menanggapi semua teori Esra melalui tulisan karena jika kembali membahas ayat-ayat itu lagi hanya akan menjadi debat kusir saja ... tetapi sebagaimana saya sudah sampaikan, bahwa harapan saya, semoga secepatnya antara saya dan Esra bisa 'temu darat' untuk adu argumen di depan masyarakat dan wartawan. Saudara Frans, saya memang bersedia berdebat/adu argumentasi dengan anda di mana pun juga tetapi saya sangat tidak setuju jika anda memakai alasan rencana debat tersebut untuk tidak memberikan jawaban terhadap semua argumentasi saya di harian Timex. Anda harus ingat beberapa hal (1) Tanggapan saya pada buku anda dimuat dalam harian Timex. Itu berarti bahwa sekian ribu pembaca Timex di seluruh NTT sementara menunggu-nunggu jawaban anda via Timex juga (2) Rencana debat itu di Surabaya (bukan di Kupang). Itu berarti sangat kecil kemungkinan masyarakat NTT untuk hadir dalam acara debat tersebut dan mengetahui jawaban anda atas semua serangan saya. Dua alasan ini seharusnya membuat anda sungguh-sungguh memberikan jawaban terhadap sanggahan saya di Timex dan bukannya beralasan tidak perlu memberikan jawaban seluruhnya karena toh nanti juga ada debat terbuka di Surabaya. Saudara Frans, alasan anda itu oleh beberapa orang di Kupang hanyalah sebuah cara atau taktik halus untuk menghindar saja dan saya terbiasa menghadapi orang-orang seperti itu. Saat ini yang lebih membutuhkan jawaban anda bukan orang Surabaya tetapi orang Kupang, orang NTT. Karenanya tidak memberi jawaban bagi orang NTT dengan alasan akan ada debat di Surabaya adalah alasan yang tidak kena sasaran. Ingat, acara debat di Surabaya adalah acara terpisah dari polemik di Timex. Alasan anda baru masuk akal jika debatnya direncanakan di Kupang, bukan di Surabaya. Atau bagaimana, apakah anda tertarik untuk debat di Kupang? Jika ya kita dapat mengatur waktunya. Silahkan datang dengan tim di Kupang dan saya kira masyarakat kota Kupang akan menunggu acara langka itu. Jika anda tidak serius dalam memberikan jawaban di Timex, lupakanlah acara debat di Surabaya. Saudara Frans, menilik isi tulisan anda di Timex ternyata sangat jauh dari sms yang anda tujukan pada saya. Anda berkata : ”Saya tidak yakin apakah pihak Timex akan mau menurunkan tulisan saya karena tulisan saya akan membongkat trinitas habis-habisan.....” Setelah sms anda seperti itu bahwa anda akan membongkar trinitas habis-habisan lalu sekarang anda berkata tidak perlu menjawab semuanya karena ada acara debat di Surabaya? Lalu mana tulisan yang mau membongkar trinitas habis-habisan itu? Saudara Frans, saya berharap anda lebih serius dalam menjawab di Timex tanpa mengait-ngaitkannya dengan acara debat di Surabaya.

Alam pikir /filsafat Yunani?

Alasan lain (alasan utama) FD tidak mau menjawab semua argumentasi saya adalah karena saya dianggap memakai konsep alam pikir Yunani sedangkan ia sendiri memakai konsep alam berpikir Yahudi. Berikut ini tulisan FD : ”...tampak sekali Esra telah memakai konsep telaah teologi alam pikir Yunani, bukan Yahudi. Karena alam pikir dan filsafat Yunani memang bisa multi tafsir sehingga cocok untuk debat apologet, arti dan makna ayat-ayat bisa dipelintir, ditafsirkan sesuka hati si penafsir. Alam pikir Yunani yang metafisik dan politheis sangat berbeda dengan konsep Yahudi yang Monotheis. Jadi kalau saya bicara soal Allah dengan konsep Monotheis Yahudi (karena kitab suci awalnya turun untuk bangsa Yahudi dan Monotheis maka harus dipahami dengan konsep Yahudi pula), sementara Esra menanggapi dengan konsep filsafat alam pikir Yunani, maka sulit untuk menemukan titik temu”. Di bagian kedua tulisannya FD juga menulis : ”...kalau pembaca jujur teliti dan mencermati tulisan Esra tersebut, maka justru argumen-argumennya tampak lemah, terlalu dipaksakan, sangat tidak sesuai kontekstual Yahudi, sarat filsafat Yunani dan bertele-tele, bisa membingungkan pembaca. Saya tidak akan menanggapi semua teori Esra melalui tulisan karena jika kembali membahas ayat-ayat itu lagi hanya akan menjadi debat kusir saja karena Esra memakai pikiran Yunani, sedangkan saya memakai pikiran Monotheis Yahudi...” Apa yang ditulis FD ini membuat saya menjadi lucu. Saya berpikir lagi, apakah mungkin ini juga sebuah cara yang lain bagi FD untuk menghindar? FD berkata : ” kalau pembaca jujur teliti dan mencermati tulisan Esra tersebut, argumen-argumennya tampak lemah, terlalu dipaksakan”. Nah, jika argumentasi saya lemah, kenapa tidak menanggapinya? Mengapa tidak meruntuhkannya? Apakah argumentasi FD begitu lemah sehingga tidak mampu menjawab/.meruntuhkan argumentasi saya yang lemah? Tentu tidak bukan? FD tidak mau menjawab karena akan ada debat di Surabaya. Wah-wah, lagi-lagi alasan debat di Surabaya. Sesuai dengan yang dikatakan FD, silahkan pembaca meneliti dengan jujur dan mencermatinya.

Mengapa kira-kira FD menganggap saya memakai konsep, filsafat dan alam pikir Yunani? Jawabannya tidak lain karena saya telah mengadakan telaah bahasa Yunani (bahasa asli Perjanjian Baru) terhadap ayat-ayat yang dipakai FD untuk membuktikan bahwa Yesus bukan Allah. Telaah yang dalam terhadap penggunaan kata Yunani dalam ayat-ayat bukti FD itu akhirnya meruntuhkan semua kesimpulan FD bahwa Yesus bukan Allah. Nah, seharusnya yang dilakukan FD adalah membantah/menggugurkan semua argumentasi saya demi mempertahankan ayat-ayat buktinya, dan bukannya menuduh saya memakai alam pikir/filsafat Yunani dan karenanya merasa tidak perlu menjawabnya. Persoalan lain yang perlu diketahui pembaca adalah bahwa kitab Perjanjian Baru kita secara umum ditulis dalam bahasa Yunani. Karenanya untuk mengetahui makna sebuah ayat yang sesungguhnya maka kita harus mengacu pada bahasa Yunani. Yulia Oeniyati Buffet dalam diktat ”Pengantar ke dalam Hermeneutik Alkitabiah; Prinsip-prinsip Penafsiran Alkitab yang Bertanggungjawab” menjelaskan tentang prinsip-prinsip penafsiran Alkitab sebagai berikut : ”Prinsip kedua dalam menafsir adalah menafsirkan sesuai dengan arti kata(-kata) yang tepat sebagaimana dimaksudkan oleh penulis aslinya. Masalah utama yang harus diperhatikan adalah bagaimana menemukan definisi kata itu dan apa artinya yang tepat sesuai dengan konteks jaman/budaya waktu penulisan. Satu hal yang perlu diingat dalam melakukan studi kata adalah bahwa kata-kata dalam Alkitab kita sekarang adalah hasil terjemahan dari bahasa asli Alkitab (Ibrani/Yunani), oleh karena itu penyelidikan lebih lanjut harus dilakukan dengan membandingkan kata-kata yang ada dalam Alkitab bahasa Ibrani/Yunani. (hal. 24). Dengan demikian penelitian terhadap bahasa Yunani sebagai bahasa asli Alkitab mutlak diperlukan.

Lalu apakah sebuah telaah bahasa Yunani yang adalah bahasa asli Alkitab PB serta merta berarti telah memakai alam berpikir/filsafat Yunani? Jika begitu maka hal itu juga berlaku bagi FD. Dalam bukunya FD memberikan penjelasan tentang ayat Yoh 1:1 : “Ada perbedaan makna yang sangat fatal jika kita telah meneliti makna yang sebenarnya dari aspek tata bahasa. Perhatikan bahwa dalam ayat tersebut di atas kata “theos” ada yang dilekati kata sandang “ton”, sementara ada yang berdiri sendiri. Secara tata bahasa, dilekati kata sandang berarti kata “theos” mengacu pada satu hal yang pasti. Sama seperti “the” dalam bahasa Inggris. Sementara, kata “theos” yang tidak memperoleh kata sandang cenderung dimaknai sebagai kata sifat. Jadi “ton Theos” (dengan kata sandang) berarti “Sang Allah”, sedangkan “Theos” (tanpa kata sandang) berarti “sifat ilahi”. Seperti istilah “si hitam” tidak sama dengan “hitam”, begitu juga “ton Theos” Berbeda dengan “Theos”. Yang pertama adalah kata benda, yang kedua kata sifat. (hal. 46-47). Nah bukankah FD telah menjelaskan Yoh 1:1 dari aspek tata bahasa Yunani? Lalu apakah itu berarti bahwa ia telah memakai alam pikir dan filsafat Yunani? Aneh, kalau saya mengadakan telaah bahasa Yunani disebut telah memakai alam pikir/filsafat Yunani tetapi kalau FD sendiri yang melakukannya tidak berarti dia telah memakai alam pikir/filsafat Yunani sebaliknya ia menganggap diri memakai alam pikir Yahudi. Mungkin sebaiknya FD membaca ayat berikut : ”Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat 7:3-5). FD lupa satu hal bahwa penggunaan bahasa suatu bangsa/daerah tidak identik dengan penggunaan pola pikir/filsafat dari bangsa/daerah tersebut. Menjelaskan suatu konsep dengan menggunakan bahasa Jawa tidak berarti konsep tersebut adalah konsep Jawa. Menjelaskan suatu konsep dengan bahasa Madura tidak selalu berarti konsep tersebut adalah konsep Madura. Orang bisa saja menjelaskan konsep Timor dengan menggunakan bahasa Jawa, konsep Madura dengan bahasa Timor atau konsep Jawa dengan bahasa Timor. Demikian juga penjelasan konsep dengan menggunakan bahasa Yunani tidak berarti bahwa konsep tersebut adalah konsep/pola pikir/filsafat Yunani. Buktinya Alkitab PB yang sarat dengan konsep Yudaisme justru ditulis dengan menggunakan bahasa Yunani dan sebagian kecil dengan bahasa Aram. Bahkan sebelum Kristus lahir, PL yang aslinya dalam bahasa Ibrani sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang dikenal dengan Septuaginta. Lalu apakah itu berarti PL dan PB lantas berubah menjadi pola pikir/filsafat Yunani? Hanya orang yang berpikir sempit yang dapat berkesimpulan seperti itu.

Bahasa Yunani

Perhatikan kata-kata FD : ”Karena alam pikir dan filsafat Yunani memang bisa multi tafsir sehingga cocok untuk debat apologet, arti dan makna ayat-ayat bisa dipelintir, ditafsirkan sesuka hati si penafsir. Ini lagi satu pernyataan FD yang konyol. Multi tafsir dari sebuah ayat Alkitab sebagaimana yang saya tunjukkan bukan disebabkan karena penggunaan alam pikir dan filsafat Yunani melainkan karena penggunaaan bahasa Yunani. Dan memang fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa satu kata bahasa Yunani biasanya dapat mempunyai lebih dari satu arti. Misalnya kata Yunani ”arkhe” dapat berarti ”permulaan”, ”pemerintah/kepala”, ”asal-usul” juga dapat berarti ”sumber” (W.E. Vine : “An Expository Dictionary of New Testament Word” hal.103). Kata ”bapto” dengan kata kerjanya ”baptizo” dapat berarti ”menenggelamkan”, ”membersihkan”, ”mencuci”, ”memercik”, ”membasuh”. Silahkan FD dan pembaca sekalian dapat melihat kamus-kamus bahasa Yunani seperti ‘A Greek-English Lexicon of the New Testament’, ”Fausset’s Bible Dictionary”, ”International Standard Bible Encyclopaedia”, ”Nelson's Bible Dictionary”, ”New Unger's Bible Dictionary”. Atau juga dapat menyimaknya dalam ”Strong’s Greek/Herbrew Definitions”, ”Thayer’s Definitions” dan masih banyak kamus / lexicon Yunani lainnya. Selain itu satu kata dalam bahasa Indonesia bisa saja ditunjukkan oleh lebih dari satu kata bahasa Yunani yang mempunyai pengertian yang berbeda. Misalnya kata ”mengasihi”, dalam bahasa Yunani ditunjukkan dengan 4 kata sekaligus yakni ”agape”, ”philea”, ”eros” dan ”storge”. Kata ”waktu”, dalam bahasa Yunani ada dua yakni ”kronos” dan ”kairos”. Kata ”miskin”, dalam bahasa Yunani ada dua yakni ”penes”/ ”penichros” dan ”ptochos” dan masih banyak contoh lainnya. Perhatikan keterangan yang diberikan Hasan Sutanto : ”Dalam Alkitab sering terdapat kata-kata yang sama, tetapi mengandung pengertian yang berlainan (Polyonymy – bahasa Inggris). Ini berarti satu kata mungkin mengandung banyak arti. ...Sebaliknya, sering juga terdapat kata-kata berlainan tetapi menunjukkan pengertian yang sama/mirip. (Homonymy – bahasa Inggris)....dalam kasus-kasus demikian, konteks berperan menentukan artinya”. (Hermeneutik : Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab; SAAT, 2001:214). Jika demikian ciri khas bahasa Yunani dan bahwa kitab PB aslinya di tulis dalam bahasa Yunani maka studi makna sebuah kata/ayat yang cermat tidak bisa terlepas dari telaah mendalam atas kata bahasa Yunani, termasuk di dalamnya adalah memperhitungkan kejamakan makna dari sebuah kata. Dan inilah yang saya lakukan. Bahwa FD tidak memahami hal ini dan malah studi kata ini dianggap pekerjaan yang bertele-tele maka itu membuktikan bahwa ia belum mengerti hermeneutika/ilmu tafsir Alkitab. Lalu haruskah kita ’menelan’ mentah-mentah kesimpulan FD bahwa Yesus bukan Allah sedangkan ia tidak memahami ilmu tafsir Alkitab dengan benar? Silahkan pembaca mempertimbangkannya. Selain itu jika FD menganggap studi seperti ini sebagai ”bertele-tele” maka apa saja yang ia lakukan sewaktu menulis bukunya? Perhatikan penjelasan saya di atas. Semua itu semata-mata adalah persoalan bahasa atau studi kata dan bukannya penggunaan alam pikir/filsafat Yunani seperti tudingan konyol dari FD. Karenanya kalimat FD : ”makna ayat-ayat bisa dipelintir, ditafsirkan sesuka hati si penafsir” hanya menunjukkan kedangkalan pemahamannya dan sebaliknya justru prinsip ini telah menjatuhkannya pada praktek yang ia tuduhkan sendiri yakni FD telah memplintir dan menafsirkan ayat-ayat Alkitab sesuka hatinya sendiri seperti yang ia lakukan pada Wah 3:14 dan Kol 1:15; Ams 8:22-30; Yoh 1:1; Fil 2:6 dan masih banyak ayat lainnya dan itu sudah saya buktikan dalam tanggapan awal saya. Lalu mana jawaban FD sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas ayat-ayat yang telah ia plintir dan selewengkan itu? Tidak ada satu pun! Sekali lagi, Tidak ada satu pun! Jadi Frans telah menggunakan sejumlah ayat untuk menunjukkan bahwa Yesus bukan Allah namun setelah argumentasinya diruntuhkan lewat analisis kata bahasa Yunani yang saya lakukan, ia lantas menuduh saya menggunakan alam pikir/filsafat Yunani tanpa sama sekali mempertanggungjawabkan/memberi jawaban atas semuanya itu. Mengapa? Alasannya tetap sama, karena akan ada debat di Surabaya. Saudara Frans, saya hanya mau ingatkan anda pada kalimat yang anda tulis dalam buku anda : “Suatu kebenaran semakin pasti terbukti ‘benar’ jika tidak bisa dibuktikan salah. Dan suatu (yang tampak seperti) kebenaran tidak perlu dipertahankan sedikitpun jika telah terbukti keliru”. (hal. 17). Jadi sekarang, dapatkah anda membuktikan bahwa ayat-ayat dasar yang anda pakai untuk membuktikan Yesus bukan Allah tidak bisa dibuktikan salah? Ataukah justru anda telah memilih untuk melakukan seperti kalimat anda yang kedua :“Dan suatu (yang tampak seperti) kebenaran tidak perlu dipertahankan sedikitpun jika telah terbukti keliru”. Silahkan pilih salah satu!!! Sekali lagi (bukan bertele-tele tetapi hanya mau menegaskan) kalau anda merasa tafsiran anda atas ayat-ayat bukti itu benar silahkan buktikan bahwa tafsiran anda tidak keliru dalam tanggapan anda berikutnya di Timex. (Note : Tidak usah memakai alasan nanti ada debat atau ‘temu darat’ di Surabaya. Lupakan dulu rencana itu. Itu gampang diatur. Sekarang kita ‘temu udara’ dulu di Timex). Saya tunggu!!! Tapi kalau anda sudah merasa bahwa tafsiran anda itu keliru tidak usah menjawab lagi dan orang Timor (NTT) sudah mengerti dengan sendirinya. Bersambung….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini