07 Januari 2011

TELAAH TEOLOGIS TERHADAP AJARAN DOKTRIN TRITUNGGALNYA ABUNA PROF. DR. K.A.M.JUSUF RONI (Part 2)

By. Esra Alfred Soru


Benarkah Allah itu tunggal secara mutlak?

Jusuf Roni percaya Allah itu tunggal secara mutlak dalam arti hanya ada 1 PRIBADI Allah dan tentu berdasarkan Ul 6:4 : “SHEMA' YIS'RA'EL ADONAI ELOHEINÛ ADONAI EKHAD” (Dengarkanlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa!) dan beberapa ayat lainnya. Tentang Ul 6:4, mengapa Jusuf Roni yang kelihatannya begitu hebat dalam bahasa Ibrani itu tidak meneliti dengan baik kata “esa” yang dipakai dalam ayat tersebut? Kata Ibrani yang diterjemahkan “esa” di sana berasal dari kata bahasa Ibrani “ECHAD” dan kata “ECHAD” ini sering berarti 'satu gabungan / a compound one', bukan 'satu yang mutlak / an absolute one', bisa terlihat dari contoh-contoh berikut ini. Kej 1:5 : Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Kata “pertama” dalam ayat ini menggunakan kata “ECHAD” yang merupakan gabungan dari petang dan pagi yang membentuk satu (ECHAD) hari. Kej 2:24 : Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Kata “satu” di dalam ayat ini memakai kata “ECHAD” di mana Adam dan Hawa menjadi satu (ECHAD) daging. Ezr 2:64 : Seluruh jemaah itu bersama-sama ada empat puluh dua ribu tiga ratus enam puluh orang,…” Kata “bersama-sama” dalam ayat ini memakai kata “ECHAD” di mana seluruh jemaat itu satu (ECHAD) tapi terdiri dari banyak orang. Juga Yeh 37:17 : “Gabungkanlah keduanya menjadi satu papan, sehingga keduanya menjadi satu dalam tanganmu. Kata “satu” dalam ayat ini memakai kata “ECHAD” di mana dua papan digabung menjadi satu (ECHAD) papan. Jadi terlihat bahwa kata “ECHAD” ini sering diartikan sebagai “'satu gabungan” / a compound one'. Sebenarnya ada sebuah kata lain dalam bahasa Ibrani yang berarti 'satu yang mutlak' atau 'satu-satunya'. Kata itu adalah YACHID yang dipakai misalnya dalam Kej 22:2,16 : (2) Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal (YACHID) itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." (16) kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri -- demikianlah firman TUHAN --: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal (YACHID) tunggal kepada-Ku. Nah, kalau Musa memang mau menekankan tentang 'kesatuan yang mutlak' dari Allah dan bukannya 'kesatuan gabungan' (a compound unity), maka dalam Ul 6:4 itu ia pasti menggunakan kata “YACHID” dan bukannya “ECHAD”. Tetapi ternyata Musa menggunakan kata “ECHAD”, dan ini menunjukkan bahwa Allah itu tidak satu secara mutlak, tetapi ada kejamakan dalam diri Allah.

Fakta lain yang bisa kita lihat adalah penggunaan kata “ELOHIM” yang dikenakan pada Allah. Kata “ELOHIM” ini sebenarnya ada bentuk tunggalnya yakni “ELOAH”. Memang harus diakui bahwa “ELOHIM” sering dianggap sebagai bentuk tunggal, tetapi yang perlu dipertanyakan adalah kalau memang Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa tidak digunakan ”ELOAH” saja terus menerus? Mengapa digunakan “ELOHIM”, dan lebih lagi, mengapa digunakan “ELOHIM” jauh lebih banyak dari “ELOAH”?

Fakta Alkitab lainnya adalah ada penggunaan kata bentuk jamak untuk Allah atau dalam hubungannya dengan Allah. Misalnya Kej 1:26 : Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Juga Kej 3:22 : Berfirmanlah TUHAN Allah: "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” Dan Kej 11:7 : Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing." Memang kata “KITA” dalam ayat-ayat ini ditafsirkan secara bermacam-macam ada yang mengatakan bahwa pada waktu Allah menggunakan “KITA” dalam Kej 1:26, maka saat itu Ia berbicara kepada para malaikat. Jadi itu tidak menunjukkan 'kejamakan dalam diri Allah'. Tetapi ini tidak mungkin, sebab kalau dalam Kej 1:26 diartikan bahwa “KITA” itu menunjuk kepada Allah dan para malaikat, maka haruslah disimpulkan bahwa manusia juga diciptakan menurut gambar dan rupa malaikat dan Allah mengajak para malaikat untuk bersama-sama menciptakan manusia, sehingga kalau Allah adalah pencipta / creator, maka malaikat adalah co-creator (rekan pencipta) dan jelas ini salah. Ada juga yang mengatakan bahwa penggunaan kata “KITA” ini adalah bentuk jamak kehormatan (Plural Majestaticus) dengan maksud untuk menghormati Allah saja tetapi persoalannya adalah yang berkata-kata di situ adalah Allah sendiri, lalu apakah mau diartikan Allah sedang menghormati diri-Nya sendiri? Lagi pula bagaimana jamak kehormatana itu dipakai untuk mengartikan kata-kata dalam Kej 3:22 “salah satu dari Kita”? Jelas bahwa adanya penggunaan kata “KITA” dalam ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa di dalam Allah yang esa itu ada kejamakan tertentu, ada lebih dari 1 pribadi. Jikalau Jusuf Roni mengatakan bahwa Roh Kudus dan Firman bukanlah pribadi/dzat melainkan hanya sifat Allah saja, lalu pada saat Allah mengatakan kata “KITA”, Ia sementara berbicara pada siapa? Berbicara pada sifat yang ada dalam diri-Nya? Ini sama seperti manusia. Manusia kan mempunyai roh dan kata-kata/firman. Pada saat saudara mau makan, masuk akalkah kalau saudara mengajak roh dan kata-kata (sifat) saudara dengan mengatakan “mari “kita” makan?” Pada saat saudara mau tidur, masuk akalkah saudara mengajak roh dan kata-kata (sifat) saudara dengan mengatakan “mari “kita” tidur?” Ini kegilaan namanya, tetapi itu wajar kalau memang ada pribadi lain di samping saudara yang saudara ajak berbicara. Di samping itu, kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk menyatakan Allah, keluar sekaligus dalam satu ayat, yaitu dalam Yes 6:8 yang dalam versi NASB menerjemahkan : "Whom shall I send and who will go for Us?" (Siapa yang akan Kuutus dan siapa yang mau pergi untuk Kami?). Bagaimana mungkin Allah yang tunggal secara mutlak bisa mengatakan “siapa yang mau pergi untuk Kami? Bisakah Jusuf Roni seorang diri mengatakan siapakah yang mau pergi untuk kami (saya dan sifat-sifat saya?). Lagi-lagi itu kegilaan namanya. Kalimat itu baru masuk akal kalau memang ada lebih dari 1 pribadi yang melakukan pengutusan itu dan itulah yang dipercayai orang Kristen pada umumnya di mana benar-benar ada 3 pribadi di dalam Allah esa yakni Bapa, Anak dan Roh Kudus, itulah doktrin Tritunggal.

Di dalam Alkitab juga kita menemukan adanya kata kerja dalam bentuk jamak. Misalnya Kej 20:13a :- “Ketika Allah menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku, berkatalah aku kepada isteriku: ...”. Kata-kata ‘menyuruh aku mengembara’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak. Kej 35:7 : “Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel, karena Allah telah menyatakan diri kepadanya di situ, ketika ia lari terhadap kakaknya”. Kata ‘menyatakan’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak. 2 Sam 7:23a : “Dan bangsa manakah di bumi seperti umatMu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umatNya. ....”. Kata ‘pergi’ dalam bahasa Ibraninya adalah kata kerja bentuk jamak. Maz 58:12 : “Dan orang akan berkata: ‘Sesungguhnya ada pahala bagi orang benar, sesungguhnya ada Allah yang memberi keadilan di bumi.’. Kata ‘memberi keadilan’ dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak (sebetulnya ini bukan kata kerja tetapi parti¬ciple). Padahal dalam ayat-ayat di atas ini, subyeknya adalah kata ‘ELOHIM’ yang digunakan untuk menyatakan Allah yang esa. Kata-kata bentuk jamak lainnya seperti dalam Pengkh 12:1 : “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: ‘Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!’”. Kata ‘pencipta’ (creator), dalam bahasa Ibraninya ada dalam bentuk jamak, sehingga seharusnya terjemahan¬nya adalah ‘creators’ (pencipta-pencipta). Yos 24:19 : “Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: ‘Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu”. Dalam bahasa Ibraninya, kata ‘kudus’ ada dalam bentuk jamak, tetapi kata ‘cemburu’ ada dalam bentuk tunggal. Jadi, kalau dalam Yes 6:8a digunakan kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk menunjuk kepada Allah dalam 1 ayat, maka dalam Yoh 24:19 digunakan kata sifat bentuk tunggal dan jamak terhadap diri Allah dalam 1 ayat.

Selanjutnya beberapa ayat dalam Alkitab membedakan Allah yang satu dengan Allah yang lain (seakan-akan ada lebih dari satu Allah) misalnya Maz 45:7-8. Karena dalam ayat ini Alkitab Indonesia kurang tepat terjema¬hannya, mari kita lihat terjemahan NASB berikut ini : “Thy throne, O God, is forever and ever ... Therefore God, Thy God has anointed Thee” (Tahta-Mu, Ya Allah, kekal selama-lamanya. ... Karena itu, Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau). Bandingkan dengan Ibr 1:8-9 yang mengutip ayat ini : (8) Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. (9) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu." Terlihat semacam ada lebih dari Allah bukan? Lalu Maz 110:1. Juga untuk ayat ini perhatikan terjemahan NASB : “The LORD says to my Lord ...” (TUHAN berkata kepada Tuhanku ...). Silahkan lihat Mat 22:44-45 yang mengutip ayat ini. Terlihat semacam ada dua Tuhan bukan? Lalu Hos 1:7 : “Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka. Aku akan menyelamatkan mereka bukan dengan panah atau pedang, dengan alat perang atau dengan kuda dan orang-orang berkuda.’”. Ayat ini dalam terjemahan NASB berbunyi : “But I will have compassion on the house of Judah and deliver them by the LORD their God, and will not deliv¬er them by bow, sword, battle, horses, or horseman” (Tetapi Aku akan berbelaskasihan kepada kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka dengan / oleh TUHAN Allah mereka, dan tidak akan menyelamatkan mereka oleh / dengan busur, pedang, pertempuran, kuda-kuda, atau penunggang-penunggang kuda). Bukankah yang berkata-kata dalam ayat ini adalah Allah sendiri? Tetapi mengapa Allah itu mengatakan bahwa Ia akan menyelamatkan mereka dengan/oleh TUHAN Allah mereka? Jadi ada berapa Allah atau Tuhan? Lalu Kej 19:24 : “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit”. TUHAN (YHWH), yang saat itu ada di bumi, menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN (YHWH), dari langit. Jadi kelihatannya ada 2 TUHAN (YHWH), satu di bumi, satu di langit bukan? Pertanyaan kita sekarang adalah jika Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa lalu muncul ayat-ayat yang aneh seperti ini? Tidakkah lebih masuk akal dan alkitabiah untuk berkesimpulan bahwa Allah itu tidaklah tunggal secara mutlak?

Firman dan Roh Kudus bukan pribadi?

Jusuf Roni percaya bahwa Yesus dalam ke-pra-ada-an-Nya sebagai Firman bukanlah suatu pribadi/dzat melainkan hanya sifat saja, sifat dari dzat itu. Demikian juga dengan Roh Kudus. Benarkah demikian? Dalam Injil Yohanes pasal Yoh 17:23-24 Yesus berkata : (23) “Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku. (24) Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, agar mereka memandang kemuliaanKu yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan”. Jadi Yesus mengatakan bahwa di antara Ia dan Bapa sudah ada tindakan saling mengasihi dan itu terjadi sebelum inkarnasi-Nya. Berarti itu terjadi pada saat Yesus belum berpribadi melainkan hanya sifat saja/kata-kata di dalam diri dzat Allah menurut ajaran Jusuf Roni. Kalau memang Firman itu hanyalah kata-kata Allah yang tidak berpribadi, bagaimana mungkin Bapa mengasihinya dan sebaliknya? Bisakah atau masuk akalkah seseorang mengasihi dan dikasihi oleh kata-katanya sendiri?

Alkitab juga mengisahkan tentang adanya pengutusan terhadap Anak/Yesus dan Roh Kudus. Yoh 14:26 :- “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”. Yoh 15:26 : “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku”. Yoh 17:3 :- “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. Jika Yesus dalam ke-pra-ada-an-Nya sebagai Firman bukanlah pribadi melainkan kata-kata/sifat Allah, bagaimana Allah bisa mengutus kata-kata-Nya atau sifat-Nya saja? Masuk akalkah jika saudara mengutus sifat saudara pergi ke Jakarta?

Tentang Roh Kudus, apakah Roh Kudus hanya sekedar sifat/kuasa Allah dan bukan suatu pribadi? Perhatikan ayat ini. Kis 13:2 : “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: ‘Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.’ Jikalau Roh Kudus bukan suatu pribadi dan hanya sekedar sifat Allah, bisakah suatu sifat dan berkata-kata dan bahkan disebut dengan kata ganti orang “Ku” / “Aku”? Bisakah sifatnya Jusuf Roni berkata-kata dan disebut sebagai “ku” / “aku”? Charles Hodge berkata : Argumentasi yang pertama untuk kepribadian dari Roh Kudus didapatkan dari penggunaan kata-kata ganti orang dalam hubungan dengan Dia. Seorang pribadi adalah ia yang, pada waktu berbicara, berkata ‘aku’; pada waktu diajak bicara disebut ‘kamu / engkau’; dan pada waktu dibicarakan, disebut ‘ia’ atau ‘nya’. ... Karena itu dalam Kis 13:2, ‘berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.’. (‘The Holy Spirit’, hal 4-5). Bandingkan dengan Ibr 10:15-17 : “(15) Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, (16) sebab setelah Ia berfirman: ‘Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,’ Ia berfirman pula: ‘Aku akan menaruh hukumKu di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, (17) dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka”. Argumentasi lainnya yang menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah suatu pribadi adalah bahwa mempunyia ciri-ciri suatu pribadi di mana Roh Kudus memiliki pikiran. Yoh 14:26 : “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”.Jadi ayat ini mengatakan bahwa fungsi Roh Kudus adalah mengajar dan mengingatkan orang percaya akan Firman Tuhan. Bahwa Roh Kudus itu bisa mengajar / mengingatkan, menunjukkan bahwa Ia mempunyai pikiran. Jika Jusuf Roni menganggap Roh Kudus bukan pribadi dan hanya sifat, apakah sifatnya Jusuf Roni bisa mengajar atau mengingatkan? Roh Kudus juga digambarkan mempunyai perasaan. Ef 4:30 : “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan”. Yes 63:10 : “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh KudusNya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka”. Kedua ayat ini mengatakan bahwa kita tidak boleh mendukakan / menyedihkan Roh Kudus, dan itu menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai perasaan. Jika Jusuf Roni tidak percaya bahwa Roh Kudus adalah pribadi melainkan hanya sifat, bisakah sifat seseorang merasa berduka? Juga dalam Rom 15:30 dikatakan : “Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku”. Kata-kata “kasih Roh” di atas diterjemahkan oleh KJV sebagai ‘the love of the Spirit’ (kasih dari Roh). Roh Kudus tidak mungkin mempunyai kasih, kalau Ia adalah sesuatu / suatu kuasa/ suatu sifat dan bukan suatu pribadi. Atau bisakah sifatnya Jusuf Roni mempunyai kasih? Yang mempunyai kasih itu Jusuf Roninya atau sifatnya Jusuf Roni? Roh Kudus juga digambarkan mempunyai kehendak. 1 Kor 12:11 : “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya”.Ayat ini jelas menunjukkan bahwa Roh Kudus mempunyai kehendak. Bukankah yang mempunyai kehendak hanyalah suatu pribadi? Ataukah sifatnya Jusuf Roni bisa mempunyai kehendak? Yang bisa berkehendak itu Jusuf Roninya atau sifatnya Jusuf Roni? Bersambung…..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini