15 Januari 2013

DARI SIARAN “KUTAHU YANG KUPERCAYA” (14 Jan 2013)


By. Pdt. Esra Soru


PERTANYAAN : Jikalau Tuhan sudah mengatur seluruh jalan hidup kita, semua yang terjadi dalam kehidupan kita, entah sukacita ataupun malapetaka, mati dan hidup kita, lalu untuk apa lagi kita perlu bertanggung jawab untuk berbuat ini dan itu? Misalnya kalau kita sakit mengapa kita harus repot2 pergi ke dokter? Bukankah kalau Tuhan menetapkan saya mati, pergi ke dokter pun tidak akan menyelamatkan saya. Atau jika Tuhan menetapkan saya sembuh, tanpa pergi ke dokter pun saya pasti akan sembuh?

JAWABAN :

Saya setuju bahwa Allah tetlah menetapkan segala jalan hidup manusia.

Maz 139:16 - “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.

Amsal 20:24a - “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN”.

Bahkan termasuk segala hal yang terjadi di dunia ini entah yang baik maupun yang buruk, entah sukacita atau malapetaka.

Pengkh 7:14 - “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya”.

Yes 45:6b-7 - “(6b) Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, (7) yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini”.

Rat 3:37-38 - “(37) Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya? (38) Bukankah dari mulut Yang Mahatinggi keluar apa yang buruk dan apa yang baik?”.

Amos 3:6 - “Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?.

Nah, jika segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Tuhan dan pasti terjadi, lalu di mana peranan kita manusia? Di mana kebebasan kita? Tidakkah itu menjadikan kita seperti robot yang sudah diprogram untuk melaksanakan semua ketetapan Tuhan itu tanpa bisa berbuat yang lain dari yang sudah ditetapkan? Tidakkah ini membuat manusia jatuh pada fatalisme di mana manusia akan hidup secara apatis / acuh tak acuh dan secara tak bertanggung jawab karena segala sesuatu memang sudah ditetapkan Tuhan? Bahkan jika dosa sudah ditentukan oleh Tuhan, mengapa Tuhan lalu menghukum kita kalau kita berdosa? Tidakkah kalau saya berdosa, itu juga ada dalam ketetapan Tuhan?

Pertama-tama kita perlu melihat dari Alkitab bahwa sekalipun untuk sesuatu hal yang sudah ditentukan oleh Tuhan, sama sekali itu tidak membuang tanggung jawab manusia. Perhatikan ayat-ayat berikut :

Mat 18:7 - “Celakalah dunia dengan segala penyesatan­nya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya!”

Kata-kata  “memang penyesatan harus ada” menunjuk pada ketetapan Tuhan tetapi kata-kata : “celakalah orang yang mengadakannya” menunjuk pada tanggung jawab manusia.

Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Kata-kata  “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan,” menunjuk pada ketetapan Tuhan tetapi kata-kata : “celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan” menunjuk pada tanggung jawab manusia.

Dari sini terlihat bahwa sekalipun ada penetapan Tuhan, itu sama sekali tidak melepaskan manusia dari tanggung jawab. Tuhan menentukan langkah-langkah orang tapi kalau orang itu melangkah salah, ia harus bertanggung jawab. Tetapi mengapa harus demikian? Ini kelihatannya tidak adil! Kalau memang Tuhan yang menentukan saya melakukan ini dan itu, mengapa saya harus bertanggung jawab atau bahkan dihukum karena melakukan hal tersebut? Memang ini sukar dijelaskan, tapi begitulah yang diajarkan Alkitab. Minimal ada 2 alasan mengapa hal ini terjadi :

1. Karena sekalipun Tuhan menentukan terjadinya segala sesuatu, tetapi manusia tetap melaksanakan semuanya dengan kehendak bebasnya.

Maksudnya adalah penentuan Tuhan tidak pernah menghilangkan kebebasan manusia di dalam bertindak. Manusia tetap bertindak sesuai kebebasannya sendiri tetapi pada akhirnya ia hanya akan melakukan apa yang sudah Tuhan tetapkan sebelumnya. Perhatikan ayat ini :

Ams 16:1 - Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN.

Kata-kata “jawaban lidah berasal dari pada TUHAN” menunjukkan adanya ketetapan Tuhan. Tetapi kata-kata “manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati” menunjukkan adanya kebebasan manusia di dalam bertindak di mana ia menimbang-nimbang. Jadi sekalipun ada ketetapan Tuhan tetapi kebebasan manusia tetap ada.

Ams 16:9 - Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

Kata-kata “TUHANlah yang menentukan arah langkahnya” menunjukkan adanya ketetapan Tuhan. Tetapi kata-kata “hati manusia memikir-mikirkan jalannya” menunjukkan adanya kebebasan manusia di dalam bertindak di mana ia memikir-mikirkan jalannya. Jadi sekalipun ada ketetapan Tuhan tetapi kebebasan manusia tetap ada.

Termasuk dalam hal dosa, biar pun Tuhan menetapkan terjadinya dosa tetapi pada saat manusia itu berdosa, ia berdosa dari kehendak sendiri. Ia tidak dipaksa oleh Tuhan untuk berbuat dosa. Dan karena itu ia bertanggung jawab atas dosanya itu. Contohnya adalah Firaun. Allah telah menentukan bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun.

Kel 7:3 - Tetapi Aku akan mengeraskan hati Firaun, dan Aku akan memperbanyak tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang Kubuat di tanah Mesir.

Tetapi pada waktu ketetapan Allah itu terlaksana, ternyata Firaun mengeraskan hatinya sendiri.

Kel 7:13 - Tetapi hati Firaun berkeras, sehingga tidak mau mendengarkan mereka keduanya -- seperti yang telah difirmankan TUHAN.
Kel 8:32 - Tetapi sekali ini pun Firaun tetap berkeras hati; ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

Karena itu Firaun harus bertanggung jawab atas kekerasan hatinya.

Contoh lain adalah bangsa Asyur. Tuhan telah menetapkan Asyur untuk menyerang Israel tetapi sewaktu Asyur menyerang Israel, mereka tidak dipaksa oleh Tuhan. Mereka melakukannya dengan keinginannya sendiri dengan motivasi yang jahat.

Yes 10:5-7 – (5) Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murka-Ku dan yang menjadi tongkat amarah-Ku! (6) Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murka-Ku, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan. (7) Tetapi dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa

Ayat 6 menunjukkan ketetapan Tuhan. Ayat 7 menunjukkan bahwa kebebasan Asyur dalam bertindak dengan motivasi yang jahat. Karena itu mereka harus bertanggung jawab atas perbuatannya (ayat 5).

Demikian juga dengan Yudas Iskariot. Tuhan memang telah menetapkan bahwa Yesus akan dijual oleh Yudas tetapi pada saat itu terjadi, Tuhan tidak memaksa Yudas untuk menjual Yesus. Yudas menjual karena keinginannya sendiri dan juga bahwa Yudas tidak menjual Yesus agar rencana Tuhan tergenapi. Dia menjual Yesus karena alasan yang lain. Karena itu Yudas harus bertanggung jawab atas perbuatannya.

Demikian juga untuk hal-hal yang lain. Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu tetapi itu sama sekali tidak merampas kebebasan manusia. Karena kebebasan manusia tidak dirampas maka manusia harus tetap bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Tentang bagaimana Tuhan sudah menentukan dan mengatur segala sesuatu tetapi manusia masih bisa mempunyai kebebasan, itu memang sukar dijelaskan. Tetapi jelas Alkitab mengajarkan kedua hal itu dan karena itu kita wajib mengajarkan dan mempercayai 2 hal itu sekalipun kita tidak mampu menjelaskannya.

Charles Haddon Spurgeon - Manusia, bertindak sesuka hatinya, tetapi  bagaimana pun juga ia akan dikalahkan / dikuasai oleh pemerintahan Allah yang berdaulat dan bijaksana ... Bagaimana dua hal ini bisa benar? Saya tidak bisa mengatakan. ... Saya tidak yakin bahwa di surga kita akan bisa mengetahui di mana tindakan bebas manusia dan kedaulatan Allah bertemu, tetapi keduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu tetapi manusia bertanggung jawab. (‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol. 7, hal. 10).

Charles Haddon Spurgeon  (tentang tentara yang tidak mematahkan kaki Kristus tetapi menusuk-Nya dengan tombak - Yoh 19:33-34) : Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran ini bahwa predestinasi dan kebebasan manusia merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang bagaimana mendamaikan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kau kemukakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan. (‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol. VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal. 670-671).

Arthur W. Pink: Dua hal tidak perlu diperdebatkan : Allah itu berdaulat, manusia itu bertanggung jawab. ... Menekankan kedaulatan Allah, tanpa juga memelihara pertanggungan jawab dari makhluk ciptaan, cenderung kepada fatalisme; terlalu memperhatikan pemeliharaan tanggung jawab manusia, sehingga tidak mengindahkan kedaulatan Allah, sama dengan meninggikan makhluk ciptaan dan merendahkan sang Pencipta. (‘The Sovereignty of God’, hal. 9).

2.  Karena yang menjadi pedoman hidup manusia adalah Firman Tuhan dan bukan ketetapan Allah yang bersifat rahasia.

Perhatikan ayat ini :

Ul 29:29 - Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.

Ayat ini berkata bahwa : ‘hal-hal yang tersembunyi’ itu ialah ‘bagi Tuhan’. Jadi, Rencana Allah yang tidak kita ketahui itu bukan untuk kita, dan karenanya itu bukan pedoman hidup kita. Tetapi ‘hal-hal yang dinyatakan’ ialah ‘bagi kita’. ‘Hal-hal yang dinyatakan’ ini ialah hukum Taurat, atau Firman Tuhan. Ini dikatakan ‘bagi kita’, dan karenanya inilah pedoman hidup kita. Karena itu tanggung jawab manusia adalah mempelajari Firman Tuhan dan melakukannya. Jangan peduli dengan ketetapan Tuhan yang rahasia itu. Itu urusan Tuhan dan bukan urusan kita! Urusan kita adalah melakukan seperti yang ada di dalam Firman Tuhan.

Charles Haddon Spurgeon: Biarlah providensia Allah melakukan apa pun, urusanmu adalah melakukan apa yang kamu bisa. (‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol. 7, hal. 43).

Contoh :

Dalam persoalan keselamatan. Tuhan sudah menentukan / memilih orang-orang tertentu untuk selamat (Ef 1:4,5,11) dan orang-orang tertentu untuk binasa / masuk neraka (Yoh 17:22  Ro 9:22), tetapi kita tidak tahu siapa yang dipilih untuk selamat dan siapa yang dipilih untuk binasa. Jadi itu adalah kehendak Allah yang tersembunyi dan tidak boleh kita jadikan dasar / pedoman hidup kita, misalnya dengan berpikir / bersikap seperti ini : “Sekarang ini saya tidak perlu percaya kepada Yesus. Kalau saya memang ditentukan selamat, nanti saya pasti akan percaya dengan sendirinya. Atau : “Mungkin orang itu bukan orang pilihan, sehingga hanya membuang-buang waktu dan tenaga untuk menginjili dia. Biarkan saja dia, kalau ternyata dia orang pilihan, toh nanti dia akan percaya dengan sendirinya”. Sebaliknya, kita harus hidup berda­sarkan Firman Tuhan (kehendak Allah yang dinyatakan bagi kita), misalnya Kis 16:31 merupakan perintah untuk percaya kepada Yesus. Jadi, apakah saya dipilih untuk selamat atau binasa, itu tidak saya ketahui, dan karenanya bukan urusan saya dan bukan pedoman hidup saya. Pedoman hidup saya adalah Firman Tuhan, dan Firman Tuhan dalam Kis 16:31 menyuruh saya percaya kepada Yesus. Dan Mat 28:19-20 merupakan perintah untuk memberitakan Injil kepada semua orang. Jadi pada waktu saya bertemu dengan seseorang, bukanlah urusan saya apakah orang itu dipilih untuk selamat atau binasa. Itu tidak saya ketahui dan karenanya bukan pedoman hidup saya. Urusan saya adalah melakukan perintah Firman Tuhan dalam Mat 28:19, yaitu menjadikan semua bangsa murid Yesus.

Dalam persoalam kemurtadan. Misalnya kalau saudara tertarik dengan cewek/cowok beragama lain dan saudara baru bisa mendapatkan dia kalau saudara pindah agama, saudara tidak boleh berpikir bahwa mungkin saya ditetapkan untuk pindah agama. Persoalannya saudara tidak tahu apakah memang Tuhan tetapkan itu atau tidak. Pedoman saudara adalah Firman Tuhan yang menyuruh saudara untuk tetap setia kepada Tuhan.

Dalam persoalan kematian / kesehatan. Misalnya saudara terkena suatu penyakit. Dan saudara lalu berpikir : ‘Mungkin saya sudah ditetapkan untuk mati, jadi percuma saya berusaha untuk sembuh’. Ini sikap yang salah! Memang Tuhan sudah menentukan saat kematian saya, dan juga apakah saya akan sembuh atau tidak, dan kalau Tuhan menentukan saya sembuh maka saat kesembuhannya juga sudah ditentukan, dan semua ketentuan Allah itu pasti terjadi. Tetapi persoalannya adalah saya tidak tahu akan ketetapan Allah itu! Itu merupakan ‘hal yang tersembunyi’ bagi saya dan karena itu maka hal itu bukan pedoman hidup saya. Pedoman hidup saya adalah Kitab Suci, dan Kitab Suci menyuruh saya mengasihi diri saya sendiri (Mat 22:39)

Mat 22:39 - Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Karena itu saya harus berusaha untuk sembuh, selama saya tidak mencari kesembuhan itu dengan jalan yang salah, misalnya dengan pergi ke dukun.

Dalam persoalan studi. Kita tidak boleh berpikir bahwa karena Tuhan sudah menentukan segala sesuatu berarti Dia sudah menentukan saya lulus ujian atau tidak. Jadi untuk apa belajar? Kalau belajar giat pun tetapi Tuhan menentukan tidak lulus maka pasti saya tidak lulus.  Tetap kalau Tuhan menentukan saya lulus, biar pun tidak belajar pasti akan lulus. Persoalannya adalah saudara tidak tahu apakah Tuhan menentukan saudara lulus atau tidak. Kalau begitu itu masih rahasia dan jangan dijadikan sebagai pedoman hidup. Pedoman hidup saudara adalah Firman Tuhan yang menyuruh saudara untuk rajin belajar/berusaha.

Dalam persoalan jodoh. Kita tidak boleh berpikir bahwa karena Tuhan sudah menentukan segala sesuatu berarti Dia sudah menentukan saya akan dapat jodoh atau tidak. Jadi untuk apa cari jodoh? Kalau cari pun tetapi Tuhan menentukan saya tidak akan dapat jodoh maka pasti saya tetap jomblo.  Tetap kalau Tuhan menentukan saya dapat jodoh, biar pun tidak usaha pasti akan datang dengan sendirinya seperti Adam yang ketika bangun tidur sudah ada Hawa. Persoalannya adalah saudara tidak tahu apakah Tuhan menentukan saudara dapat jodoh atau tidak. Kalau begitu itu masih rahasia dan jangan dijadikan sebagai pedoman hidup. Pedoman hidup saudara adalah Firman Tuhan yang menyuruh saudara untuk berusaha. Ingat ini bukan zaman Adam dan Hawa. Zaman sekarang banyak saingan.

Dalam hal yang bersifat dosa. Kalau ada orang yang berbuat jahat kepada saudara, dan saudara digoda setan untuk membalasnya, maka saudara tidak boleh berpikir: ‘Barangkali saya ditentukan untuk membalas’. Faktanya adalah saudara tidak mengetahui ketentuan Allah dalam persoalan itu, lalu mengapa menebak-nebak apa yang tidak saudara ketahui? Dan kalau menebak, mengapa tidak menebak sebaliknya? Karena hal itu tidak diketahui, maka itu bukan pedoman hidup saudara. Pedoman hidup saudara adalah apa yang dinyatakan kepada saudara dalam Kitab Suci :

Mat 5:44 - Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Kalau saudara mencari pasangan hidup, dan lalu jatuh cinta kepada seseorang yang belum percaya kepada Kristus, maka jangan berpikir: ‘Barangkali saya ditentukan untuk kawin dengan orang kafir’. Pedoman hidup saudara adalah Kitab Suci yang berkata :

2 Kor 6:14 - Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?

Kalau saudara sudah menikah dan lalu bentrok dengan pasangan saudara, jangan berpikir: ‘Mungkin saya ditentukan untuk bercerai’. Pedoman saudara adalah Kitab Suci :

Mat 19:6 – “…apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Semua ini mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan menetapkan segala sesuatu tetapi kita tetap harus bertanggung jawab atas semua perbuatan kita. Karena itu ajaran tentang providensi Allah ini tidak boleh membawa kita pada fatalisme di mana kita hidup secara apatis dan tidak bertanggung jawab. Ingat bahwa pedoman hidup kita bukanlah rencana rahasia Allah itu melainkan Firman Tuhan. Belajarlah Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dan hiduplah sesuai dengan perintah Firman Tuhan itu tanpa memikir-mikirkan rencana rahasia Allah itu. Ingatlah bahwa semua perbuatan kita akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan suatu kali kelak.

Rom 14:12 - Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.


*******************







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)