12 Agustus 2013

LAODIKIA : JEMAAT YANG SUAM-SUAM KUKU (Part 3)


By. Pdt.. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.





Wah 3:14-22 – (14) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: (15) Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! (16) Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. (17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, (18) maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. (19) Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! (20) Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (21) Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. (22) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."
 
P
ada bagian pertama dan kedua pembahasan tentang jemaat Laodikia ini, saya sudah membahas sejumlah hal. Sekarang saya akan melanjutkan pembahasan tentang jemaat Laodikia dengan beberapa hal lagi :

VI.  BAGAIMANA CARANYA MENJADI PANAS SECARA ROHANI?

Kita sudah melihat bahwa yang menjadi masalah utama bagi jemaat Laodikia adalah mereka mengalami kesuaman secara rohani / suam-suam kuku. Kondisi semacam ini membuat Tuhan begitu muak terhadap mereka. Dikatakan bahwa Tuhan akan memuntahkan mereka dari mulut-Nya. Juga Tuhan lebih suka mereka dingin (kafir total) atau panas (bersemangat / serius dengan Tuhan) daripada mereka suam-suam kuku. Dan saya kira tidak ada orang yang ingin mendapatkan respon / reaksi dari Tuhan seperti ini. Hanya saja harus diakui bahwa ada begitu banyak orang Kristen atau bahkan boleh dikatakan mayoritas orang Kristen adalah orang Kristen yang suam-suam kuku. Jika demikian, apakah yang harus dilakukan untuk bisa keluar dari kondisi suam-suam kuku ini? Teks kita memperlihatkan beberapa hal :

a.  Kita harus sungguh-sungguh percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Wah 3:18 - maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat.

Setelah Tuhan mengecam kondisi rohani dari jemaat Laodikia yang suam-suam ini, Ia lalu memberikan nasihat pada mereka agar mereka membeli dari pada-Nya emas, pakaian putih dan minyak untuk melumas mata mereka. Kelihatannya tekanan utama dari ayat ini adalah pada kata “membeli”. Dan “membeli” di sini dinyatakan “dari pada-Ku”. Artinya mereka harus membeli dari Tuhan.

Wah 3:18 - maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku….”

Kata “dari pada-Ku” juga ditekankan di sini. Mengapa? Karena kita tahu bahwa orang Laodikia merasa begitu hebat, begitu kaya, begitu makmur, begitu kuat, sehingga mereka tidak merasa membutuhkan apa-apa atau siapa-siapa di luar mereka. Ingat apa yang saya ceritakan di bagian I bahwa ketika kota mereka dihancurkan gempa bumi, mereka bahkan menolak bantuan apapun dari pihak luar. Mereka merasa mampu untuk membangun kota mereka sendiri. Ini menunjukkan bahwa mereka merasa tidak membutuhkan apa-apa atau siapa-siapa di luar diri mereka. Tapi justru di sini Tuhan menyuruh mereka membeli “dari pada-Ku” (dari Tuhan). Jadi mereka harus sadar bahwa sekalipun mereka anggap diri mereka kaya, hebat, tinggi, makmur, tetapi mereka ternyata miskin, melarat, buta dan telanjang di hadapan Tuhan dan karenanya mereka membutuhkan Tuhan.

John Stott - Kita harus melihat penekanan yang diberikan pada kata-kata ‘dari padaKu’. Di atas segala-galanya inilah yang harus dipelajari oleh jemaat Laodikia. Mereka menganggap diri mereka sendiri cukup; mereka harus dengan rendah hati mendapatkan kecukupan mereka dalam Kristus. Mereka berkata: Aku tidak membutuhkan / kekurangan apa-apa’; mereka harus mengakui bahwa mereka mempunyai kebutuhan yang besar dan bahwa hanya Kristus yang bisa memberikannya / menyuplainya. Mereka berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku, dan aku tidak membutuhkan / kekurangan apa-apa’. Yesus Kristus harus merendahkan kata ganti orang yang sombong (maksudnya kata ‘aku’ dalam ay 17a) dan meletakkannya di tanah dan berkata: dari pada-Ku….”.  (What Christ Think of the Church, hal.121-122).

Jakob P.D.Groen - “supaya engkau membeli dari pada-Ku”. Yesus menunjukkan diri sebagai satu-satunya sumber kekayaan. Hendaklah jemaat Laodikia mencari pertolongan dari Kristus. Alangkah baiknya jika mereka merendahkan diri dan membiarkan diri mereka dinasihati dan dipimpin oleh Kristus. (Aku Datang Segera, hal. 70).

Jadi mereka disuruh membeli dari Tuhan. Membeli apa? Emas, pakaian putih dan minyak untuk mata mereka. Ingat bahwa 3 hal ini diangkat dari apa yang menjadi kekayaan dan kebanggaan Laodikia. Mereka adalah kota yang kaya dengan emas yang banyak, tetapi mereka disuruh membeli emas dari Tuhan. Mereka mempunyai pabrik-pabrik pakaian, tetapi mereka disuruh membeli pakaian dari Tuhan. Mereka menjadi pusat kedokteran secara khusus memproduksi salep mata, tetapi mereka disuruh membeli minyak untuk melumas mata mereka dari Tuhan.

Jikalau sekarang Tuhan menyuruh mereka membeli 3 hal ini, tentu ini tidak boleh dipahami secara hurufiah. Ini mempunyai makna simbolik. Lalu simbol dari apa?

Selanjutnya.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)