14 Juni 2009

BEBAS DARI LUKA BATIN

Pdt. Jack Messakh, STh


Hampir setiap orang, dalam hidup ini pernah mengalami yang namanya sakit hati. Mungkin pernah di sakiti, dilukai, di khianati, digosipkan, difitnah atau diperlakukan tidak adil oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Apabila sakit hati tersebut tidak secara cepat di atasi, maka akan menimbulkan masalah-masalah yang lebih serius dalam hidup orang yang bersangkutan. Ia akan menjadi orang yang hidup dalam kehampaan, kesepian dan dendam kesumat. Ia gampang marah, mudah tersinggung, berpikiran negative, pasif, dan cenderung menganggap hidupnya tidak berharga dan berakhir pada bunuh diri.

Luka batin adalah suatu keadaan dalam batin seseorang yang menimbulkan perasaan marah, benci, kecewa dan pahit hati yang begitu mendalam sebagai akibat dari penolakan atau perlakuan semena-mena dari orang lain. Keadaan ini biasanya timbul sebagai akibat dari kegagalan dalam membina hubungan dengan satu atau sekelompok orang tertentu yang di hormati sebelumnya. Misalnya, dengan orang tua, kekasih, orang-orang dekat, pemimpin rohani atau atasan langsung di tempat kerja.

Pada dasarnya, luka batin muncul bukan karena perbuatan orang lain yang membuat kita sakit hati, tetapi justru terletak pada respon kita terhadap perbuatan orang tersebut. Alkitab memberikan contoh dari kehidupan Yusuf yang begitu pahit akibat ulah saudara-saudaranya yang kecewa dan sakit hati sehingga mereka memperlakukan Yusuf dengan tidak adil. Tetapi Yusuf tidak menjadi pahit hati, benci dan dendam kepada saudara-saudaranya ketika ia telah sukses menjadi pemimpin di Mesir. Ia juga tidak memberontak dan membela diri ketika di fitnah oleh isteri Potifar. Ia juga tidak mengeluh dan mengomel ketika dilupakan oleh juru minum raja Firaun. Justru ia memberi pengampunan. Ini terjadi karena Yusuf memilih untuk merespon secara positif terhadap setiap masalah yang dihadapinya. Yusuf memiliki roh yang kuat. Ia tidak pernah mengizinkan kemarahan dan sakit hati menguasai dirinya, sehingga ia bebas dari luka batin.

Hal yang sama juga kita lihat dalam kehidupan raja Daud. Ia mengalami kekecewaan dan sakit hati yang sangat. Ia lari dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian yang lain untuk menghindari raja Saul yang marah. Bahkan Alkitab mencatat dalam 1 Samuel 21:12-15; “ia berpura-pura menjadi orang gila” ketika dipergoki oleh Akhis, raja kota Gat. Suatu pergumulan yang teramat berat. Dan ia layak untuk membalas sakit hatinya ketika ia mendapatkan beberapa kesempatan membunuh Saul. Mengapa Daud tidak melakukannya? Karena ia merespon secara positif setiap peristiwa dalam hidupnya. Begitu juga dengan Hana, Ayub dan lain-lainnya. Respon kita terhadap setiap permasalahan yang di alami adalah rahasia sukses dalam mengatasi sakit hati (luka batin).

Ada tiga (3) macam reaksi yang akan muncul ketika seseorang mengalami sakit hati (luka batin);

Pertama: sikap mengalah. Sikap ini kelihatannya baik, karena yang bersangkutan tidak memberikan perlawanan yang bersifat negative, yang dapat berakibat jelek terhadap dirinya. Tetapi sesungguhnya sikap menyerah terhadap penolakan dapat menimbulkan rasa kesepian. Kesepian menimbulkan rasa sedih. Rasa sedih menimbulkan pengasihan diri. Pengasihan diri menimbulkan depresi, dan depresi menimbulkan keputus asaan yang berakhir pada bunuh diri.

Kedua: Sikap mengabaikan. Sikap ini mencoba menyembunyikan keadaan yang sesungguhnya dengan cara menahan perasaan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak peduli terhadap lingkungan. Ia berlagak gembira, senang padahal sesungguhnya tidak. Hatinya sedang menangis.

Ketiga: Sikap melawan. Sikap yang dimaksud disini adalah sikap melawan secara negative terhadap penolakan yang akhirnya menimbulkan kekesalan. Kekesalan menimbulkan kebencian. Kebencian menimbulkan pemberontakkan. Dan pemberontakkan menjurus kepada perbuatan okultisme.

Sadar atau tidak, sebenarnya ada di antara kita yang ketika mengalami masalah yang membuat sakit hati, kita terjebak dalam satu dari tiga sikap tersebut. Hanya waktu yang membuktikannya. Dan ketika semuanya terjadi orang menjadi kaget dengan perubahan yang terjadi pada diri kita. Oleh karena itu kejujuran sangat perlu. Bahkan jika mungkin Anda tidak perlu memilih salah satu dari 3 sikap itu, karena nantinya Anda akan kehilangan damai sejahtera dan sukacita.

Ketika seseorang mengalami luka batin, perasaan dan pikirannya dipenuhi dengan ketidakpercayaan, kekuatiran, ketakutan dan tekanan. Ia sulit bertahan dalam mengatasi berbagai cobaan, kelemahan dan sakit penyakit. Oleh karena itu apabila luka batin yang dialami tidak segera disembuhkan, maka akan menjadi tempat pijakan empuk bagi iblis untuk menguasai orang tersebut. Membuatnya rohnya terbelenggu oleh roh-roh jahat dan lama kelamaan ia menjadi lemah dan hancur. Beberapa akibat yang akan muncul karena kepahitan hati (luka batin) :

Adanya keinginan untuk membalas dendam. Kebencian terhadap Yusuf oleh saudara-saudaranya berakhir pada rencana untuk membunuhnya (Kej 37:18).

Mengasihi diri sendiri secara berlebihan. Apabila ia tidak memiliki kemampuan untuk membalas dendam, maka ia bersikap sebagai korban dan mengasihani dirinya sendiri serta mencari perhatian orang lain. Ia merasa sering diperlakukan tidak adil, akhirnya ia mengalami depresi yang berat dan keinginan bunuh diri.

Menimbulkan pemberontakan. Kepahitan tidak hanya membawa pemberontakkan, tetapi menjadi racun dalam hati orang yang bersangkutan, dan ketika kepahitan itu telah berakar, maka akan menimbulkan kebutaan rohani, yang membuatnya tidak bisa melihat kebenaran dengan jelas. Pada saat seseorang terluka hatinya sering terdengar keluhan-keluhan yang pahit dan menimbulkan pemberontakkan terhadap Tuhan dan orang lain (Ayub 23:2-3).

Meracuni orang lain. Kepahitan tidak hanya meracuni diri sendiri, tetapi menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang (Ibrani 12:15). Kepahitan akan menyebar dan meracuni orang lain. Menaburkan benih perselisihan, pertengkaran, fitnah, gossip dan saling menjatuhkan.

Dengan menyadari betapa menyedihkannya ketika seseorang terjebak dalam sakit hati, maka seyogianya ketika seseorang mengalami kepahitan hati janganlah dibiarkan sampai menimbulkan masalah yang serius. Kita memiliki Allah yang menjanjikan damai sejahtera yang berlimpah (Yohanes 14:27; Yes. 48:18). kepadaNya kita datang ketika hati ini terasa amat pahit.

Waktu tidak dapat menyembuhkan luka batin. Kesembuhan luka batin hanya bisa terjadi ketika kita menginjinkan kuasa kasih Kristus menguasai hati kita. Bukankah Alkitab berkata bahwa Dialah yang menanggung segala beban hidup kita? (Matius 28:11, Yesaya 53:4-6). Ada beberapa cara penyembuhan luka batin:

1. Menyadari bahwa Anda sedang terluka. Berlakulah jujur dan terbukalah terhadap Tuhan. Seringkali kesombongan menjadi penghalang untuk mengakui bahwa kita sedang terluka. Mintalah agar Tuhan memberikan kekuatan untuk Anda mengakuinya.

2. Berusahalah untuk membuang perasaan-perasaan negative yang masuk dalam hati Anda, sepeerti; kekesalan, kebencian dan pemberontakan. Apabila Anda terus menyimpannya maka itu dapat menjadi racun yang mematikan. Katakana dengan tegas: “saya mengusir segala kebencian, kekesalan, kemarahan, dan dendam dari dalam hati saya.”

3. Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sukacita bukanlah suatu perasaan senang atau sedih semata, tetapi merupakan suatu keputusan iman. Memang tidaklah mudah bersukacita ketika kita sedang berada dalam kepahitan hati. Tetapi Tuhan memerintahkan supaya kita bersukacita senantiasa. Mengapa? Sebab sukacita memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menyembuhkan luka batin (Amsal 17:22).

4. Berilah pengampunan kepada orang yang melukai Anda. Ini hal yang paling sulit, tetapi harus di lakukan. Anda tidak akan pernah sembuh dari luka batin jika tidak mau mengampuni, bahkan Tuhan pun tidak mau mengampuni Anda (Mrk 11:25-26). Jika Anda punya keinginan tetapi tidak mampu menjalankannya, berdoalah agar Tuhan memberi Anda kekuatan. Pergunakanlah tekad yang baik, jangan perasaan Anda. Mulailah mengasihi orang tersebut dengan kasih Kristus, maka Kristus akan melembutkan hati Anda untuk menikmati hubungan yang lebih baik dengan orang tersebut. Pengampunan yang sejati harus di dasarkan atas kasih Kristus yang terus menerus dan total, tidak bergantung pada tindakan orang lain (Kolose 3:12-13). Berdoalah dengan tulus dari hati yang paling dalam untuk orang yang telah menyakiti Anda. Sebutkan nama mereka satu per satu. Dan mulai bebaskan kesalahan-kesalahan atau hutang-hutang mereka kepada Anda, kemudian mintalah Tuhan Yesus mengalirkan kasihNya dalam hati Anda ( Yeremia 30:17). Mengampuni menjadi kata kunci dalam kehidupan orang Kristen, karena:

a. Mengampuni adalah salah satu ajaran utama dan contoh dari kehidupan Kristus. Ketika Ia di hina, di ludahi, di siksa, di pukul, di dera, di lupakan, di salib dan mati. Ia masih bisa berkata: Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya.” ( Lukas 23:34).

b. Mengampunilah adalah bukti dari sebuah pertobatan. Orang yang tidak dapat mengampuni orang lain secara tuntas, berarti ia belum dapat merasakan pengampunan Allah. Dan tidak hidup dalam kebahagiaan yang sesungguhnya. Kita harus mengampuni orang lain karena kita telah di ampuni Tuhan Yesus. Pengampunan adalah bukti pertobatan (Matius 6:14-15).

c. Sebab mengampuni adalah sebuah kesaksian dari kasih Allah yang sudah kita terima. Ujian yang terbesar dari kasih adalah pengampunan.

d. Sebab mengampuni adalah cara penyelesaian masalah dari suatu konflik yang berkepanjangan yang telah menimbulkan kebencian, kemarahan, dendam, kepahitan dan depresi.

e. Sebab mengampuni adalah sesuatu yang mendesak yang harus di lakukan. Tidak boleh di tunda-tunda (Matius 5:23-24). Apabila akar kepahitan itu dibiarkan, maka semakin lama semakin menyebarkan virus perpecahan dan pertengkaran (Ibrani 12:14-15).

Anda ingin bebas dari luka batin? Berilah pengampunan kepada orang yang menyakiti Anda, maka Anda temukan damai sejahtera, sukacita dan kekuatan yang berlimpah untuk menjalani kehidupan ini. Matius 6:15,16 berkata: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” . Amin


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini