21 Juni 2009

MEMAHAMI KEMESIASAN YESUS

Tanggapan Terhadap Tulisan Frans Donald

Esra Alfred Soru



Salah satu argumentasi yang dipakai FD untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah sejati adalah gelar Kristus atau Mesias yang dikenakan oleh Yesus. Simak kata-kata FD : “…dari nama “YESUS KRISTUS” sebenarnya [kalau mau jujur], sudah cukup jelas nama tersebut merepresentasikan bahwa dia bukanlah Allah Sejati, sebab arti dan makna kata “KRISTUS” itu = “orang yang diurapi / disahkan / dilantik oleh Allah (Bapa / Yahweh)”. Yesus Kristus = Yesus yang diurapi oleh Allah (Bapa / Yahweh). Maka, karena Yesus “diurapi / disahkan / dilantik oleh Allah (Bapa)”, tentu dia bukanlah Allah (Yahweh) itu sendiri. Yesus adalah pribadi “yang diurapi / dilantik”, sedangkan Allah (Bapa / Yahweh) adalah “yang mengurapi / melantik”. Yesus adalah utusan, sedangkan Allah adalah “yang mengutus. Kalau Yesus dipandang sebagai Allah sejati, maka akan membuat nama (gelar) “Kristus” pada diri Yesus itu gugur maknanya, sebab “YESUS KRISTUS” = “YESUS YANG DIURAPI OLEH ALLAH”. Maka artinya: kalau andai kata benar “Yesus = Allah Sejati” maka nama Yesus Kristus akan menjadi bermakna sebagai “ALLAH SEJATI YANG DIURAPI OLEH ALLAH SEJATI”. FD melanjutkan : Allah Sejati mengurapi Allah Sejati??? Jadi di sini akan ada 2 pribadi Allah sejati di mana Allah yang satu mengurapi / mengesahkan / mengutus Allah yang lain. Nah, pertanyaannya: Apakah benar adanya Allah sejati harus diurapi oleh Allah sejati yang lainnya? Kalau Allah sejati musti diurapi / dilantik / disahkan oleh Allah yang lain maka dengan sendirinya hal itu justru akan menggugurkan kesejatiannya! Seperti ungkapan “masa jeruk minum jeruk?”, begitu pula mana ada “Allah sejati diurapi oleh Allah sejati?”. Artinya, dia (Yesus) yang diurapi (Kristus) itu jelas bukan Allah sejati adanya, sebab Allah sejati tidaklah perlu diurapi. Allah sejati tidak butuh pengurapan / pengesahan dari siapa pun. Demikian jalan pikiran FD dan memang sepintas lalu memang apa yang dikatakan FD ini masuk akal. Tapi ingat, yang masuk akal belum tentu Alkitabiah.

Kata “Mesias” atau “Kristus” artinya adalah “yang diurapi”. Di dalam PL ada sejumlah orang yang diurapi seperti raja-raja (1 Sam 16:6; 2 Sam 1:14), imam-imam (Kel 30:30; Im 4:5) maupun nabi (1 Raj 19:16) dan bahkan bagi seorang kafir seperti raja Koresy (Yes 45:1). Konsep tentang Mesias ini makin lama makin berkembang dalam pemikiran orang Yahudi hingga muncullah satu gagasan bahwa pada suatu hari nanti akan tampil seseorang tertentu yang diurapi untuk melaksanakan kehendak Allah yang istimewa (Dan 9:25-26) dan “Mesias” yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi akan membawa masa depan yang cerah bagi umat Allah (Yes 26-29; 40 dst; Yeh 40-48; Dan 12; Yoel 2:28-3:21). Dan PB memperlihatkan dengan jelas kepada kita bahwa Yesus adalah Mesias yang dinanti-nantikan itu. Ia adalah Kristus (Yoh 1:41; Mat 16:16; Luk 2:11; Kis 4:27; 10:38, dll). Lalu untuk apa seseorang perlu diurapi? 1 Sam 16:13 misalnya menyatakan kepada kita bahwa Daud diurapi untuk melaksanakan tugas sebagai seorang raja. Keluaran 30:30 menjelaskan kepada kita bahwa Harun diurapi untuk memegang jabatan imam. 1 Raj 19:16 menjelaskan bahwa Elisa diurapi untuk menjadi seorang nabi dan Yes 45:1 menjelaskan bahwa Koresy diurapi untuk melaksanakan sejumlah kehendak Allah yang berkaitan dengan bangsa Israel. Semua ini memperlihatkan kepada kita bahwa pengurapan terhadap seseorang dimaksudkan agar orang tersebut secara resmi dikhususkan bagi pelayanan Allah. Dengan demikian jika dikemudian hari Yesus tampil sebagai Mesias itu berarti bahwa Ia diurapi untuk melaksanakan tugas khusus dari Allah dan tugas khusus itu adalah menyelamatkan umat manusia dari dosa.

Nah, persoalannya sekarang adalah kalau Yesus memang diurapi oleh Allah, bagaimana mungkin Ia adalah Allah? Masakan Allah mengurapi Allah? Bukankah ini seperti jeruk minum jeruk sebagaimana yang dikatakan FD? Di atas telah dijelaskan bahwa pengurapan itu berkaitan dengan pemberian tugas khusus. Dan Yesus diurapi untuk sebuah tugas khusus yakni menyelamatkan manusia dari dosa. Tetapi bagaimana cara supaya Ia bisa menyelamatkan manusia dari dosa? Yoh 3 :16-17 adalah jawabannya : ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, …. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Hal ini ditegaskan lagi di dalam 1 Yoh 4:9-10 : “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, …tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”. Jadi untuk melaksanakan tugas khusus ini maka Allah Bapa mengutus Anak-Nya menjadi manusia dan tinggal di antara manusia.

Dalam tulisannya FD mengatakan demikian : ‘Benarkah ide pikiran yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia? Benarkah jawaban-jawaban para teolog dan pendeta-itu sesuai dengan kesaksian Alkitab?” Ia juga menambahkan : “Hari ini banyak orang mengatakan: “Yesus adalah Allah sejati” atau “Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia”. Itu pandangan-pandangan banyak orang yang mengaku Kristen hari ini. Tetapi Saya tegaskan, bahwa sebenarnya orang yang berpandangan semacam itu bukan didasarkan pada Alkitab, melainkan semua itu hanya dihasilkan dari tradisi dan filsafat-filsafat hasil ide-ide pikiran manusia. FD lalu mengutip Mat 16:16 di mana Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Saya kira pikiran FD terlalu picik/sempit. Ia memfokuskan perhatiannya pada Yesus sebagai Mesias/Kristus dan lupa bahwa Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati (seperti yang sudah saya buktikan) dan dengan berlimpah ruah menyatakan bahwa Yesus memang datang sebagai manusia hingga melahirkan kalimat-kalimat konyol seperti di atas. Bahwa Yesus memang datang sebagai manusia ditunjukkan lewat ayat-ayat berikut : Yoh 1:14 : “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, …” 1 Tim 3:16 : “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: "Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; …” Ibr 2:14 : “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka,…” 1Yoh 4:2 : “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,..” Rom 8:3 : Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, …”. Fil 2:7-8 : “…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, …”. Sekarang saya bertanya kepada anda sekalian, itu semua kata Alkitab atau kata para teolog dan pendeta atau kata tradisi maupun filsafat manusia seperti yang dituduhkan FD? Saya kira FD memang buta atau sengaja membutakan diri terhadap ayat-ayat itu. Jika dalam bagian sebelumnya sudah saya buktikan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati dan sekarang sejumlah ayat Alkitab mengatakan bahwa Yesus datang sebagai manusia yang sungguh-sungguh/sejati maka tidak bisa dihindari kesimpulan bahwa Yesus memang adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia. Jadi Ia adalah Allah sejati sekaligus manusia sejati. Silahkan anda semua menilai mana yang sesuai kesaksian Alkitab. Kepercayaan orang Kristen secara umum atau kepercayaan FD dan kelompok Unitariannya. Kita tunggu bagaimana FD menjawab argumentasi-argumentasi ini. Semoga dia tidak pengecut lagi seperti dulu!!!

Nah, karena Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia yang sejati juga dan tujuanNya menjadi manusia untuk melaksanakan tugas yang diemban dari BapaNya maka Ia perlu diurapi sebelum melaksanakan tugasNya itu. Jadi itu berarti bahwa JABATAN MESIAS ATAU KRISTUS YANG DIKENAKAN PADA YESUS HARUS DIPAHAMI DALAM KEDUDUKAN-NYA SEBAGAI MANUSIA. Bahwa hal ini benar dapat dilihat dalam Roma 9:5 : ‘Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu…’ Di dalam Mazmur 45 yang terkenal sebagai Mazmur Mesianik, dikatakan dalam ayat 8 bahwa : “Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu”. Ayat ini dikutip dalam Ibr 1 :9. Siapakah teman-teman sekutu dari Mesias ini ? Jelas adalah manusia, lebih khusus orang-orang percaya. Dan ini bisa dibuktikan dari bagian Alkitab yang lain bahwa memang Yesus diurapi lebih dari orang/manusia yang lain. Yoh 3:34 - “Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan RohNya dengan tidak terbatas”. Ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada orang/manusia lain yang mendapat pengurapan Roh Kudus sebanyak yang Yesus terima. Jadi jelas bahwa pengurapan terhadap Yesus harus dilihat dari posisiNya sebagai manusia yang akan melaksanakan tugas dari BapaNya. Kesalahan FD adalah menjadikan apa yang menunjuk kepada kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah. Dan memang kesalahan seperti ini adalah kesalahan yang sering dilakukan oleh bidat-bidat dalam bidang Kristologi. Saya kutipkan kata-kata Pdt. Budi Asali : “Sesuatu yang penting sekali untuk diwaspadai / diperhatikan adalah: Ada banyak ayat yang menunjukkan keilahian Kristus, dan ada banyak ayat yang menunjukkan kemanusiaan Kristus. Kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Kristus untuk membuktikan bahwa Ia bukanlah manusia, dan kita juga tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kema­nusiaan Kristus untuk membuktikan bahwa Ia bukanlah Allah! Pdt. Budi Asali lalu memberikan ilustrasi sebagai berikut : “Saya adalah seorang pendeta, tetapi pada saat yang sama saya juga adalah seorang olahragawan. Kadang-kadang saya memakai toga dan memimpin Perjamuan Kudus, sehingga saya terlihat sebagai pendeta. Tetapi kadang-kadang saya memakai celana pendek, kaos, dan sepatu olahraga, sehingga saya terlihat sebagai olahragawan. Tidak ada orang yang pada waktu melihat saya memakai toga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan olahragawan, dan sebaliknya, pada waktu melihat saya memakai pakaian olahraga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan pendeta! Analoginya, karena Yesus adalah Allah dan manusia, maka kita tidak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan manusia, atau menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah! Dalam terang ini maka semua argumentasi FD yang menggunakan sebutan Mesias atau Kristus bagi Yesus untuk membuktikan bahwa Yesus bukan Allah yang sejati menjadi gugur karena memang yang diurapi bukannya Yesus dalam keadaanNya sebagai Allah sejati melainkan dalam keadaanNya sebagai manusia untuk melaksanakan tugas yang diberikan BapaNya. Jadi ini bukan jeruk minum jeruk tapi jeruk minum semangka. Hanya FD saja yang tak bisa membedakan mana jeruk mana semangka sehingga semangka dianggap jeruk. Jadilah jeruk minum jeruk made in Frans Donald.

Jelas sudah bahwa Kristus diurapi itu harus disoroti dari sisi kemanusiaanNya. Tetapi kalau demikian bukankah ini membuktikan bahwa Ia adalah manusia dan bukan Allah? Tidak! Itu memang membuktikan bahwa Ia adalah manusia tapi tidak membuktikan bahwa Ia bukan Allah karena Ia memang adalah Allah dan Manusia seperti yang sudah dijelaskan di atas. Kita tidak boleh menafsirkan satu ayat dan mengabaikan ayat-ayat yang lain. Nanti bisa jadi Unitarian seperti FD. Sudah saya buktikan dalam tulisan sebelumnya bahwa Yesus adalah Allah yang sejati. Selain itu menarik untuk diamati bahwa ternyata dalam ayat-ayat yang menyatakan kemesiasan Yesus juga terkandung konsep bahwa Ia adalah Allah juga. Pertama mari kita lihat Roma 9:5 : ‘Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! Perhatikan bahwa Mesias dikaitkan dengan kemanusiaan tetapi setelah itu ayat ini berkata ‘Ia adalah Allah’. Charles Hodge berkata : ‘Kalau Paulus sekedar membicarakan bahwa Mesias itu diturunkan dari bangsa Yahudi, dan ia tidak berkeinginan untuk membicarakan keilahian Mesias itu, untuk apa ia menambahkan kata-kata ‘sebagai manusia? Adanya kata-kata ‘sebagai manusia’ / ‘menurut daging’ ini menuntut kontrasnya, yaitu penggambaran tentang Mesias itu menurut hakikatNya yang lebih tinggi, yaitu sebagai Allah’ (Romans, hal. 300). Juga Ibr 1:8-9 : (8) Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. (9) Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu." Frase ‘Allah, Allah-Mu mengurapi engkau’ dan ‘teman-teman sekutu’ dalam ayat 9 jelas menunjukkan Mesias sebagai manusia tetapi kalimat itu didahului oleh ayat 8 yang berkata ‘Takhta-Mu ya Allah’. Juga dalam pengakuan Petrus di Mat 16 :16 yang dipakai FD sebagai dasar ajaran miringnya dikatakan bahwa : ‘Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Perhatikan bahwa Petrus mengakui Yesus sebagai Mesias. Ini menunjukkan kemanusiaanNya tetapi pada saat yang sama Petrus melanjutkan ‘Anak Allah yang hidup’. Dan ingat bahwa istilah ‘Anak Allah’ yang dikenakan pada Yesus menunjukkan kesamaan hakikat antara Ia dan BapaNya sama seperti anak anjing adalah anjing, anak monyet adalah monyet, anak buaya adalah buaya, anak manusia adalah manusia, dll maka Anak Allah adalah Allah. Jadi dalam satu ayat tercakup kemanusiaan sekaligus keallahan Yesus. Kata-kata Petrus ini cocok dengan pernyataan-pernyataan lain dalam catatan Injil seperti Luk 4:41 : Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: "Engkau adalah Anak Allah." Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias. Yoh 11:27 : Jawab Marta: "Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, …" Yoh 20:31 : ‘tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, … ‘ Jelas bahwa Mesias juga harus dilihat sebagai Anak Allah/Allah. Kesalahan FD adalah ia stop sampai frase ‘Engkau adalah Mesias’ dan lupa melihat lanjutannya ‘Anak Allah yang hidup’ padahal kalimat itu belum titik (.) tapi masih koma (,). Mat 22:41-46 : “(41) Ketika orang-orang Farisi sedang berkumpul, Yesus bertanya kepada mereka, kataNya: (42) ‘Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?’ Kata mereka kepadaNya: ‘Anak Daud.’ (43) KataNya kepada mereka: ‘Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: (44) Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kananKu, sampai musuh-musuhMu Kutaruh di bawah kakiMu. (45) Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?’ (46) Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabNya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepadaNya”. Kata-kata “tuan” di atas (ay 43,44,45) di dalam Alkitab KJV/RSV/NIV/NASB semuanya diterjemahkan dengan ‘Lord’ (Tuhan). Dan ini adalah terjemahan yang benar karena dalam Mat 22:41-46 itu Yesus sedang berusaha untuk membuktikan keilahianNya kepada orang-orang Yahudi. H. P. Liddon berkata : ‘Anak dari Daud’ adalah ‘Tuhan dari Daud’. ... Daud menggambarkan keturunannya yang agung, Mesias, sebagai ‘Tuhan’nya (Maz 110:1). ... Ia adalah keturunan dari Daud; orang-orang Farisi mengetahui kebenaran itu. Tetapi Ia juga adalah ‘Tuhan dari Daud’. Bagaimana Ia bisa adalah keduanya jika Ia hanya manusia semata-mata? Hanya kepercayaan dari orang-orang Kristen yang bisa menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh Tuhan kita kepada orang-orang Farisi. ‘Anak dari Daud’ adalah ‘Tuhan dari Daud’ karena Ia adalah Allah; ‘Tuhan dari Daud’ adalah ‘Anak dari Daud’ karena Ia adalah Allah yang berinkarnasi / menjadi manusia” (The Divinity of the Lord and Saviour Jesus Christ, hal 43). Satu ayat terakhir. Mat 26:63 : “…Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak." Dan Yesus menjawabnya dalam ayat 64 : "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Yang terjadi selanjutnya adalah hukuman mati diberikan kepada Yesus karena Ia dianggap menghujat Allah (ayat 65). Perhatikan ini. Jika Mesias bukanlah Allah juga mengapa imam besar harus menuduh Yesus menghujat Allah dan memberikan kepadaNya hukuman mati? Dan mengapa juga Yesus tidak membantah dengan berkata Aku hanya Mesias tapi bukan Anak Allah/Allah? Sebaliknya Ia mengatakan “engkau telah menyatakannya” yang sama dengan jawaban “ya” bagi orang Yahudi. Jadi Yesus selain sebagai manusia yang diurapi (Mesias) juga adalah Allah.

Kesimpulan akhir

Memang kata “Tuhan” (adonay/kurios) bisa dikenakan pada yang bukan Allah. Bahkan kata “Allah” sendiri bisa dikenakan pada yang bukan Allah yang sejati. Tetapi karena konteks dari penyebutan Yesus sebagai Allah menunjukkan bahwa Ia adalah Allah yang sejati maka secara otomatis kata “Tuhan” yang dikenakan kepadaNya harus diartikan dalam pengertian yang setinggi-tingginya. Jadi Yesus adalah Tuhan dan Allah yang sejati. Ia memang disebut sebagai Kristus/Mesias. Tapi itu bukan menunjukkan bahwa Ia bukan Allah yang sejati. Itu menunjuk kepada pengurapanNya sebagai manusia yang menjalankan tugas dari BapaNya di dunia ini. Meskipun demikian dalam kemesiasanNya itu Ia juga diperlihatkan sebagai Allah yang sejati. Ini konsep Alkitab yang jauh lebih dalam dari pikiran sempit dan dangkalnya Frans Donald. Jelas bahwa yang diajarkan Frans Donald bukanlah ajaran Alkitab tapi ajaran yang menyimpang dari Alkitab. Saya ulangi lagi kata-kata FD : “Seorang Kristen sejati pasti mendasarkan segala ajarannya berdasar Alkitab’ karena itu jelas bahwa Frans Donald bukan Kristen sejati tapi KRISTEN PALSU!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini