28 Februari 2012

ZAMAN IMPERIUM YUNANI

Tulisan ini adalah kutipan dari buku "ISRAEL : DULU, KINI DAN NANTI" karangan Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK. (Bab 24)


Dalam bagian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa telah terjadi ‘masa diam’ atau ‘Silent Years’ selama 400 tahun di mana Tuhan sama sekali tidak berbicara, berfirman atau pun membangkitkan seorang nabi. Jikalau selama 400 tahun Tuhan tidak berfirman/memberikan wahyu, dan karena itu tidak ada kitab baru setelah Maleakhi, maka kita tidak bisa mendapatkan informasi apa pun tentang apa yang terjadi pada masa itu. Ini menyulitkan pelajaran kita. Tentunya selama masa 400 tahun itu ada banyak hal yang sudah terjadi yang tidak dicatat dalam Alkitab. Misalnya, pada zaman Maleakhi, orang Yahudi masih berada di bawah kekuasaan imperium Persia. Tetapi 400 tahun kemudian, saat Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus lahir, bangsa Yahudi jelas berada di bawah imperium Romawi.

Luk 2:1 - Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.

Luk 3:1-2 – (1) Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus, saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene (2) …. datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia, di padang gurun

Jelas nama-nama dalam ayat-ayat di atas adalah nama-nama dari penguasa-penguasa Romawi. Jadi bagaimana terjadinya peralihan kekuasaan dari Persia ke Romawi ? Ini jelas terjadi dalam ‘Silent Years’ ini dan itu tidak ada di dalam Alkitab. Juga sepanjang Perjanjian Lama, kita tidak pernah jumpai satu kata pun tentang ”orang Farisi”, tetapi di Injil, ”Farisi” kelihatannya digambarkan sebagai sebuah aliran/kelompk tertentu yang sudah mapan. Darimana munculnya? Jadi bagaimana kita mengetahuinya ? Rasanya sayang kalau apa yang terjadi di dalam ‘Silent Years’ ini kita abaikan padahal ini dapat memberikan pengetahuan yang berharga bagi kita tentang latar belakang Perjanjian Baru, terutama demi kesinambungan pelajaran kita tentang sejarah bangsa Israel. Tapi kalau tidak ada data dalam Alkitab, lalu dari mana kita mengetahuinya ? Dengan terpaksa kita harus mengacu pada sumber-sumber non biblikal (catatan-catatan sejarah yang ada) maupun juga dari ‘Deutro Kanonika’. Ini tidak berarti bahwa saya mengangkat sumber-sumber ini menjadi setara dengan Alkitab. Ini hanya sumber-sumber pendukung karena tak ada data Alkitab pada masa ini. Dan karena itu otoritasnya di bawah Alkitab, dan juga bisa salah.

Sebagaimana sudah saya singgung pada bagian sebelumnya bahwa pada masa ‘Silent Years’ ini muncul kerajaan lain yang berkuasa yakni Yunani. Dan hari ini kita akan bahas kekuasaan Yunani ini saja. Kita akan mempelajari beberapa point penting :

I. KEMUNDURAN PERSIA HINGGA KEJAYAAN YUNANI.

Kita tahu bahwa sampai pada zaman Maleakhi, kerajaan yang masih berkuasa atas hampir seluruh dunia pada masa itu adalah kerajaan Persia. Di bawah kekuasaan raja-rajanya (Koresh, Kambises, Darius), Persia menjelma menjadi kerajaan yang sangat kokoh. Wilayahnya mencapai Iran, Irak, Mesir, Lybia, India, Turki, Afghanistan, Israel, dan hampir mencapai seluruh bagian Asia kecil. Mereka terus mengembangkan sayapnya ke bagian barat. Namun pada saat yang bersamaan, di Eropa juga muncul sebuah kerajaan lain yang tak kalah hebatnya bernama kerajaan Yunani yang mulai mengembangkan sayapnya ke wilayah timur. Akibatnya adalah mulai timbulnya persaingan antara kedua kerajaan ini. Persaingan ini terus memanas hingga pecahnya perang di antara kedua kerajaan ini. Perang terbesar di antara kedua kerajaan ini terjadi pada tahun 490 SM di mana kerajaan Persia di bawah komando langsung dari Darius mengadakan penyerangan ke Yunani dengan menggunakan armada angkatan lautnya yang terkenal. Angkatan laut Persia ini disambut oleh angkatan laut Yunani di teluk Marathon (sebelah timur Athena) sehingga terjadilah pertempuran maha dahsyat di sana.

Sepanjang sejarah dunia pada saat itu, belum ada perang yang lebih dahsyat seperti perang Persia vs Yunani ini. Beberapa saat kemudian pasukan Persia sangat terdesak dan akhirnya mereka mundur dan melarikan diri pulang ke Persia. Pada saat pasukan Persia terpukul kalah, salah seorang tentara Yunani yang ingin segera mengabarkan kemenangan Yunani ke ibukota berlari dari teluk Marathon menuju kota Athena (26 mil = 41, 84 km) tanpa berhenti sedikitpun. Karena itulah di kemudian hari lomba lari jarak jauh disebut ‘LARI MARATHON’.

Sejak peperangan Marathon ini selesai dan berakhir dengan kekalahan Persia, nyaris tidak ada peperangan lagi yang cukup besar (hanya perang kecil-kecilan saja). Baru setelah 10 tahun kemudian (480 SM), Persia di bawah raja Xerxes (anaknya Darius) kembali melakukan penyerangan yang besar ke Yunani. Menurut Herodotus (ahli sejarah Yunani), dalam peperangan ini Xerxes membawa pasukan sebanyak 5 juta orang. Dan menurut Josephus, di antara mereka terdapat juga banyak orang Yahudi. Pasukan Persia ini lalu menyerang Yunani dari darat dan laut (AD dan AL). Mereka lalu bisa menguasai kota Athena dan beberapa tempat penting di Yunani. Tapi sayang rupanya pasukan Yunani terlalu kuat bagi mereka. Di bawah jenderalnya yang terkenal yang bernama Themistocles, pasukan Persia pun dihabisi oleh pasukan Yunani, banyak kapal perang mereka yang tenggelam dan banyak tentara yang melarikan diri. Sejak saat itu Persia mengalami banyak kemunduran. Sebaliknya kerajaan Yunani justru semakin maju.

Puncak kejayaan Yunani terjadi setelah Alexander Agung dari Makedonia naik takhta (336 SM) pada usia 20 tahun. Ia adalah seorang pemberani seperti Philip ayahnya dan juga luar biasa pintar karena dididik oleh gurunya Aristoteles. Pada tahun 334 SM, Alexander memulai invasi ke berbagai wilayah terutama bagian timur. Ia membawa 65.000 tentara terpilih dan akhirnya berhasil menaklukan berbagai wilayah di Asia kecil dan Syiria. Tahun 331 SM, ia melancarkan serangan ke wilayah Palestina (tempat bangsa Yahudi) dan akhirnya Palestina pun tumbang dan takluk di bawah kerajaan Yunani. Menurut catatan Josephus (‘Antiquities of the Jews’), pada saat Alexander menaklukan Palestina, seorang imam Yahudi di Yerusalem bernama Jaddua datang menemuinya. Semula Jaddua memang sangat ketakutan, tapi karena disuruh oleh Allah dalam mimpi untuk menemui Alexander lengkap dengan pakaian imamnya disertai dengan rombongan orang Yahudi yang berpakaian putih-putih, maka ia pun menemui Alexander dengan rombongan orang Yahudi yang cukup banyak. Anehnya, secara mendadak Alexander justru sujud menyembah imam Jaddua. Dan ketika ditanya oleh pendampingnya, mengapa ia melakukan itu? Alexander menjawab bahwa ia telah melihat orang yang sama dengan jubah ini dalam mimpi ketika ia masih berada di Makedonia. Dalam mimpi tersebut imam besar menyuruh Alexander datang dengan tentaranya dan ia akan berkuasa atas bangsa Persia. Alexander juga membaca tulisan ‘KUDUS BAGI TUHAN’ (Kel 39 :30) yang yang dibawa oleh imam Jaddua. Alexander lalu mengaku bahwa ia pernah melihat label seperti itu dalam mimpinya. Alexander lalu pergi ke Bait Suci Yerusalem dan mempersembahkan korban bagi Allah. Selanjutnya imam Jaddua juga menyampaikan pada Alexander bahwa sebenarnya kemunculan dan keberhasilan Alexander sudah dinubuatkan dalam Kitab Suci orang Yahudi (kitab Daniel) dan Alexander berterima kasih untuk itu. Akibat dari pertemuan itu, sikap Alexander sepanjang pemerintahannya sangat baik pada orang Yahudi. Bahkan boleh dikatakan bahwa dalam banyak hal, ia mengistimewakan bangsa Yahudi. Misalnya dalam hal beribadah. Satu tahun kemudian (330 SM), Alexander membawa 42.000 pasukan dan menghantam kota Niniwe dan Susan (ibukota Persia) yang saat itu dipimpin Darius III, dan menaklukkannya. Ia membakar istana Persia. Sejak saat itu kerajaan Persia tumbang dan hilang dari sejarah sedangkan bangsa Yahudi dikuasai lagi oleh penjajah baru yakni Yunani. Sisa-sia bangsa kerajaan Persia ini yang dikemudian hari dikenal sebagai orang Partia dan Media.

Kis 2:8-9 – (8) Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: (9) kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,...”

Alexander terus mengadakan invasi ke Mesir lewat Palestina dan menaklukkannya. Dengan demikian ia menguasai seluruh perdagangan di laut tengah. Ia lalu membangun sebuah kota perdagangan dan bisnis di Mesir yang diberi nama sesuai dengan namanya yakni kota ‘ALEXANDRIA’. Kota ”ALEXANDRIA” ini lalu berkembang menjadi kota metropolitan pada masa itu. Pada tahun 60 SM jumlah penduduknya mencapai 500.000 orang. Kota ini disebut beberapa kali di dalam Alkitab.

Kis 18:24 - Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria….’

Kis 27:6 - Di situ perwira kami menemukan sebuah kapal dari Aleksandria yang hendak berlayar ke Italia. Ia memindahkan kami ke kapal itu.

Lihat juga : Kis 6:9 ; 28:11.

Setelah itu ia mengarah ke India dan Afghanistan dan menaklukkannya juga. Ia sempat berencana untuk menyerang ke Cina tetapi entah kenapa ia membatalkannya. Seandainya ia menyerang Cina maka kemungkinan besar ia akan berhadapan dengan raja Chin Se Huang yang terkenal itu. Dalam waktu 12 tahun invasi dari Alexander, ia menaklukan hampir seluruh dunia saat itu yang meliputi Asia kecil, Syiria, Palestina, Mesopotamia (Iran, Irak), Turki, Mesir, Persia, India, Afghanistan, Italia, Arab, dll.

Bahkan tatkala ia sampai di sungai Gangga di India, ia menangis di sana karena tidak ada tempat lagi yang dapat ditaklukkannya. Prestasi Alexander yang luar biasa inilah membuat ia lalu disebut sebagai ‘Alexander the Great’ (Alexander Agung). Karena dialah seluruh dunia lalu takluk di bawah imperium Yunani.

1 Makabe 1:2-4 – (2) Ia mengadakan banyak peperangan; kota-kota berbenteng direbutnya dan raja-raja berbagai negeri dibunuhnya (3) Ia maju sampai ke ujung-ujung bumi dan merampoki banyak bangsa. Seluruh dunia tidak berdaya terhadapnya. … (4) Ia mengumpulkan tentara yang kuat dan menjajah banyak negeri, bangsa dan penguasa, dan mereka diharuskan membayar upeti kepadanya.

Wikipedia Encyclopedia – Alexander Agung adalah seorang penakluk asal Makedonia. Ia diakui sebagai salah seorang pemimpin militer paling jenius sepanjang zaman. Ia juga menjadi inspirasi bagi penakluk-penakluk seperti Hannibal, Pompey dan Caesar dari Romawi, dan Napoleon. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, Alexander mampu menjadikan Makedonia sebagai salah satu kekaisaran terbesar di dunia.

Sayang sekali pada tahun 323 SM, ia mengalami sakit demam parah selama 11 hari yang berakhir dengan kematiannya dalam usia muda (33 tahun). Ia meninggal pada tanggal 10 Juni 323 SM.

II. HELENISME & PENGARUHNYA.

Satu hal yang patut dicatat dari sekian banyak prestasi Alexander adalah di setiap daerah yang ia taklukkan, ia selalu memperkenalkan dan mempublikasikan budaya Yunani.

Lukas Tjandra – Alexander bukan saja seorang jenderal yang selalu menang. Ia juga merupakan seorang duta kebudayaan Yunani. …dia juga menyebarkan kebudayaan Yunani di tempat-tempat yang pernah di datangnya. (Latar Belakang Perjanjian Baru 1, hal. 85)

Tri Harmaji - Aleksander Agung begitu mengagumi kebudayaan Yunani sehingga ia bermaksud untuk menyebarkan kebudayaan itu ke seluruh dunia. Di sini, nampaknya ia punya gambaran mengenai dunia baru yang satu (oiukumene), di mana tidak ada lagi perbedaan kebudayaan antar bangsa karena semuanya telah bersatu dalam budaya Yunani itu. (Mewujudkan Masa Depan Baru : Antara dengan Kekerasan dan Perdamaian - http://forumteologi.com).

Kebudayaan Yunani ini lalu bercampur dengan kebudayaan lokal sehingga memunculkan kebudayaan baru yang disebut ”HELENISME”. Walaupun demikian unsur Yunaninya sangat kuat. Kebudayaan Yunani yang disebarkan oleh Alexander ini juga diteruskan pada masa-masa selanjutnya sehingga hampir di seluruh dunia pada masa itu yang ditaklukan Alexander termasuk di Palestina (bangsa Yahudi), budaya Yunani menjadi sangat populer. Pengaruh ”HELENISME” pada masa itu merambah sampai berbagai bidang :

a. Bidang Filsafat.

Muncul dan populernyanya beberapa aliran filsafat Yunani yang terkenal seperti aliran Stoa dan Epikurean. Aliran Stoa ini didirikan oleh filsuf Yunani Zeno. Sedangkan Epikurean didirikan oleh filsuf Yunani Epikurus. Bahkan mereka berkembang menjadi sekolah/akademi khusus.

Lukas Tjandra – ”...lahirlah dua aliran filsafat Yunani pada masa itu. Yang satu disebut Stoic School”, yang lain disebut Epicurean School(Latar Belakang Perjanjian Baru 1, hal. 87).

Ini adalah peninggalan gedung akademi Stoa yang masih ada sampai sekarang di kota Athena Yunani. Dalam Perjanjian Baru mereka masih mempunyai pengaruh yang kuat dan bahkan Paulus pernah berdebat dengan mereka.

Kis 17:18 - Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia dan ada yang berkata: "Apakah yang hendak dikatakan si peleter ini?" ....”

b. Bidang seni dan arsitektur.

Dalam bidang seni mereka mengembangkan seni pahat dan seni lukis.

Bahkan karena Alexander juga mencapai wilayah India, maka budaya Helenisme juga mempengaruhi kebudayaan Hindu dan Budha di India.

J.I. Packer, dkk – Perpaduan yang ia (Alexander) lakukan terhadap budaya Timur dan budaya Helenis dari Barat dapat dilihat pada patung-patung Budha Gautama abad ke-3 SM yang dengan mencolok menampilkan ciri Helenis, terutama pada bagian bawah. (Dunia Perjanjian Baru, hal. 58).

Budaya Helenis juga merembes sampai pada Bait Allah pada zaman Herodes.

J.I. Packer, dkk – Rembetan halus pengaruh Helenisme menjalar ke berbagai bidang kehidupan Palestina. Salah satu di antaranya adalah bidang arsitektur, dan Bait Allah di Yerusalem yang dibangun Herodes adalah contoh konkret dari hal ini. Bait Allah itu dibangun seperti kuil-kuil Yunani lain di dunia Timur, berdiri di atas halaman yang dikelilingi oleh serambi-serambi, lengkap dnegan pilar-pilar gaya Korintus yang tegak bebas. (Dunia Perjanjian Baru, hal. 62).

Mereka juga mengembangkan seni drama dan membangun teater-teater pertunjukkan (bioskop) drama yang sangat mengagumkan.

Ini adalah gedung teater yang dibangun di kota Kaisarea Filipi. Model seperti ini masih ditiru pada zaman modern ini dalam membuat stadion-stadion olahraga. Gedung teater seperti ini pernah disinggung di dalam Alkitab.

Kis 19:29 - Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenian serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus.

BIS - Maka kerusuhan itu meluas sampai ke seluruh kota. Kemudian gerombolan perusuh-perusuh itu menangkap Gayus dan Aristarkhus, yaitu orang-orang Makedonia yang menemani Paulus dalam perjalanannya, lalu menyeret mereka ke stadion kota itu.

KJV - And the whole city was filled with confusion: and having caught Gaius and Aristarchus, men of Macedonia, Paul's companions in travel, they rushed with one accord into the theatre.

Dalam bidang arsitektur, mereka membangun gedung di berbagai tempat dengan model/gaya gedung-gedung Yunani. Bandingkan dengan bangunan-bangunan termasuk gereja di Indonesia yang bergaya arsitektur Belanda yang menjulang tinggi.

c. Bidang pengetahuan.

Dalam bidang ini mereka sangat menonjol.

David Hinson – Dalam bidang ilmu pengetahuan, mereka meletakkan landasan-landasan yang penting bagi penyelidikan-penyelidikan di bidang geometri (ilmu ukur), permesinan, geografi dan astronomi (ilmu falak). (History of Israel, hal. 238).

Bayangkan bahwa hampir semua cabang ilmu pengetahuan mempunyai asal usul etimologis dari bahasa Yunani. (biologi, psikologi, arkeologi, teologi, sosiologi, antropologi, kosmologi, meteorologi, dll). Dan salah satu kota Helenistik yang sangat berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan adalah kota Alexandria. Di kota Alexandria ini didirikan begitu banyak sekolah dan pusat pendidikan sehingga melahirkan banyak cendikiawan. Bahkan di Alexandria juga dibangun sebuah perpustakaan besar sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Sayang sekali bahwa perpustakaan ini dibakar habis oleh pasukan Islam oleh perintah Omar Kafilah II pada abad VII M karena menganggap bahwa semua perpustakaan itu kalah hebat dari Alquran.

Omar : Apakah buku-buku yang ada dalam perpustakaan itu setara dengan Alquran? Jika tidak, maka kita tidak mmerlukan perpustakaan itu. Jika ya, maka lebih baik memelihara 1 Quran daripada ribuan buku. Karena itu maka entah buku-buku itu setara dengan Quran atau tidak, ia layak dibakar.

Pada zaman itu ilmu matematika dikembangkan dan mencapai tingkatan yang luar biasa dan muncul banyak matematikawan di berbagai daerah jajahan Yunani.

Wikipedia Encyclopedia - Matematika Yunani merujuk pada matematika yang ditulis di dalam bahasa Yunani antara tahun 600 SM sampai 300 M. Matematikawan Yunani tinggal di kota-kota sepanjang Mediterania bagian timur, dari Italia hingga ke Afrika Utara, tetapi mereka dipersatukan oleh budaya dan bahasa yang sama. Matematikawan Yunani pada periode setelah Alexandar Agung kadang-kadang disebut Matematika Helenistik. Matematika Yunani lebih berbobot daripada matematika yang dikembangkan oleh kebudayaan-kebudayaan pendahulunya.

Matematikawan yang terkenal pada masa Helenistik ini antara lain Thales (yang memperkenalkan geometri/ilmu ukur bangun dan trigonometri/ilmu ukur sudut), Phytagoras (yang memperkenalkan teori ”Teorema Phytagoras”), Archimedes (yang terkenal dengan teori Archimedesnya. Ia juga seorang matematikawan, fisikawan, insinyur, astronom). Archimedes ini adalah jebolan akademi Alexandria. Karena itu maka orang yang berasal dari Alexandria rata-rata mempunyai pendidikan/ilmu pengetahuan yang baik. Bandingkan :

Kis 18:24 - Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci.

Juga dalam sejarah kita mengenal nama ”PHILO” dari Alexandria.

d. Bidang Olahraga.

Kebudayaan Helenistik juga mengembangkan bidang olahraga. Setiap 4 tahun sekali mereka mengadakan pertandingan olahraga yang dikenal sebagai ”Olimpiade Games”. Tujuan utamanya adalah menjalin kesatuan di antara semua wilayah Helenistik. Dan inilah yang diwariskan sampai jaman modern sekarang sebagai pesta olahraga dunia. Di kota Kaisarea, mereka juga membangun ”HIPODROM” yakni suatu area pacuan kuda. Bahkan di Yerusalem, mereka membangun gelanggang olahraga.

1 Makabe 1:14 - Di Yerusalem mereka membangun sebuah gelanggang olahraga seperti yang terdapat di kota-kota Yunani.

e. Bidang linguistik (bahasa)

Boleh dikatakan bahwa dari semua pengaruh Helenisme, faktor bahasalah yang sangat berpengaruh di mana bahasa Yunani dipopulerkan di seluruh daerah jajahan Yunani sehingga akhirnya bahasa Yunani menjadi bahasa internasional saat itu.

Merril C. Tenney - "Bahasa Yunani menjadi bahasa resmi di pengadilan dan bahasa pergaulan sehari-hari, seperti yang terlihat dalam tulisan-tulisan di atas papirus, surat-surat cinta, tagihan, resep, mantera, esai, puisi, biografi, dan surat-surat dagang, semuanya tertulis dalam bahasa Yunani, … bahkan tetap demikian hingga masa pendudukan Romawi" (Survey Perjanjian Baru, hal.23-24).

Ini berdampak buruk bagi bahasa-bahasa lokal di mana bahasa-bahasa itu semakin terdesak dan generasi-generasi yang baru nyaris tidak mengetahui lagi bahasa asli bangsa mereka sendiri dan hanya mengetahui bahasa Yunani saja. Termasuk orang-orang Yahudi.

Kis 6:1 - Pada masa itu, ketika jumlah murid makin bertambah, timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, ....”

Kis 9:29 - Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia.

Bandingkan dengan anak-anak sekarang yang lahir di kota tanpa bisa mengerti lagi bahasa daerah mereka sendiri (Rote, Sabu, Alor, dll). Hal ini bagi bangsa Yahudi adalah sebuah masalah yang jelas mempunyai dampak secara keagamaan terutama bagi bangsa Yahudi yang tinggal di Alexandria.

David Hinson – Orang-orang Yahudi di kota Alexandria ini mengakui buah-buah pikiran dan kebudayaan Yunani sebagai hal yang tinggi nilainya. Dengan demikian mereka pun berusaha untuk mempelajari agar dapat digunakan. Mereka segera melupakan bahasa dan tulisan yang digunakan di tanah air mereka, dan sebagai gantinya mereka menggunakan bahasa dan tulisan Yunani dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian mereka pun segera mengalami kesulitan dalam mempertahankan warisan-warisan sejarah dan iman mereka sebagai orang Yahudi karena buku-buku keagamaan yang menjadi Kitab Suci mereka masih tertulis dalam bahasa Ibrani, suatu bahasa yang sudah tidak lagi dimengerti oleh kebanyakan orang yahudi di kota tersebut. (History of Israel, hal. 241).

Ya benar sekali! Kita tahu bahwa Kitab Suci Perjanjian Lama tertulis dalam bahasa Ibrani. Lalu bagaimana generasi yang sudah tidak tahu bahasa Ibrani itu dapat memahami Kitab Suci Perjanjian Lama? Karena itulah pada masa Helenistik ini, dimulailah suatu proyek oleh Ptolomeus (raja Mesir) untuk menerjemahkan Kitab Suci Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani. Proyek ini dikerjakan di Alexandria. Kitab terjemahan inilah yang dikenal dengan nama “SEPTUAGINTA” atau “LXX”. Dinamakan LXX = 70 karena proyek tersebut dilakukan oleh 72 ahli agama Yahudi dan diselesaikan dalam tempo waktu 72 tahun. Septuaginta ini lalu disebarkan dan dipakai secara meluas di kalangan orang Yahudi hingga zaman Yesus di mana Yesus sendiri sering mengutipnya. Faktor ini jugalah yang menjadi alasan mengapa Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani dan bukan Ibrani.

Akibat dari semua kemajuan ini maka muncullah suatu gaya hidup yang baru yang bersifat perkotaan dan modern.

Lukas Tjandra – Perkembangan kebudayaan Yunani selalu berkonsentrasi pada kota, sebab itu peradaban Yunani pada dasarnya adalah semacam hasil produk perkotaan.....Hidup bangsa Yunani tenggelam sepenuhnya dalam suasana seni. ... syair, musik, tari-tarian, ramah tamah pada hari raya, .....pentas/arena, pertunjukkan,....busana yang indah dan tata rias yang modern. (Latar Belakang Perjanjian Baru 1, hal. 85, 86).

III. REAKSI ORANG YAHUDI TERHADAP KEBUDAYAAN HELENISME.

Perkembangan dan kemajuan budaya Helenisme itu membawa sejumlah masalah bagi orang Yahudi.

Lukas Tjandra – Masalah yang paling erat hubungannya dengan bangsa Yahudi adalah apakah mereka dapat menerima kebudayaan Yunani dengan tetap setia kepada agama dan kepercayaan nenek moyang mereka? (Latar Belakang Perjanjian Baru 1, hal. 87).

Pada titik ini terjadi pertentangan pendapat dan sikap di kalangan orang Yahudi. Ada golongan-golongan tertentu yang ”konservatif dan ortodoks” (kebanyakan ada di Yerusalem dan sekitarnya) yang menganggap bahwa mereka tidak bisa menerima budaya Yunani ini. Menerima budaya Yunani ini sama dengan murtad dari Yahweh. Contohnya di gelanggang olahraga yang dibangun di Yerusalem, biasa diadakan pertandingan gulat di mana pesertanya harus telanjang bulat. Kalau sampai telanjang bulat maka tentu auratnya (kemaluannya) akan kelihatan. Dan tentu akan terlihat perbedaan antara kemaluan orang Yunani asli dan kemaluan orang Yahudi karena orang Yahudi bersunat sedangkan orang Yunani tidak. Nah, rupanya ada orang-orang Yahudi yang ikut pertandingan ini dan mereka malu kalau ketahuan bahwa mereka bersunat dan karena itu maka mereka (entah bagaimana caranya, mungkin dengan pembedahan) menghilangkan dan menutup bekas sunat itu padahal sunat diperintahkan oleh Allah sendiri.

1 Makabe 1:15 - Mereka menghilangkan bekas sunat mereka dan meninggalkan perjanjian dengan Allah.

Karena itu golongan ”konservatif” ini mati-matian menentang, menolak bahkan mengutuk budaya Yunani ini. Bagi mereka, tidak ada kompromi antara iman Yahudi dan budaya Helenisme. Mereka menggalakkan gerakan anti Helenisme. Tetapi ada juga golongan tertentu yang ”modernis” dan ”liberal” (kebanyakan ada di perantauan, terutama di Alexandria) yang berpikiran bahwa budaya Helenisme tidak dapat ditolak dan karena itu mereka harus menerima semua itu kalau masih mau hidup di dalam dunia.

1 Mak 1:11 - Pada waktu itu di Israel muncul sekelompok orang yang tidak mempedulikan hukum Musa dan mempunyai pengaruh buruk atas banyak orang. Mereka berkata, "Lebih baik kita mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa tetangga kita. Sebab sejak kita tak mau bergaul dengan mereka, hanya kesusahan yang kita dapat."

Mereka menerapkan strategi kompromi dan karena itu mereka menerima dengan bulat dan terang-terangan semua produk dan gaya hidup Helenisme. Salah seorang tokoh mereka yang terkenal bernama Zadok. Maka pada saat itu orang-orang yang menolak budaya Yunani ini dikenal sebagai kaum ”HASIDIM” atau ”orang suci” sedangkan orang-orang yang menerima budaya Yunani disebut ”orang berdosa” atau ”orang duniawi”. Seiring dengan waktu maka golongan ”modernis” ini lalu menjadi warga menengah ke atas sedangkan golongan ”konservatif” menjadi warga menengah ke bawah. Ini menambah ketegangan dan kebencian di antara kedua kelompok ini. Grup ”modernis” benar-benar mengadopsi hampir segala sesuatu dalam budaya Helenisme. Dan karena pimpinan mereka bernama Zadok, maka akhirnya grup mereka dinamakan ”Zaduki”. Pada satu titik, grup ”HADISIM” ini lalu mengambil keputusan untuk benar-benar memisahkan diri/mengasingkan diri dari kehidupan sekuler dan hanya berkonsentrasi untuk mempelajari dan mentaati Taurat Tuhan. Karena mereka memisahkan diri maka mereka lalu dikenal sebagai grup ”PHARISEES” (Ibr. ”PARESH”) yang berarti ”The separated One” atau ”yang disisihkan / diasingkan / dipisahkan”. Dari kata ”PHARISEES” inilah lalu muncul kata ”Farisi” di dalam Perjanjian Baru

Lukas Tjandra – Mereka (orang Farisi) menyatakan diri sebagai orang benar yang disisihkan/diasingkan untuk dikuduskan, berlainan dengan umat pada umumnya, sebab itu mereka amat sombong..... mereka sangat kolot atau aliran konservatif. (Latar Belakang Perjanjian Baru 2, hal. 42).

Dua grup ini menjadi 2 aliran/partai besar dengan banyak pengikut pada masa Perjanjian Baru. Mereka sering bertentangan dengan Yesus.

Mat 22:23 - Pada hari itu datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya:...

Kis 23:8 - Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya.

Mengapa mereka tidak percaya kebangkitan, malaikat dan roh-roh? Karena itu adalah kepercayaan Yunani. Mereka adalah korban Yunanisasi.

Mat 9:11 - Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

Luk 18:11-12 – (11) Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; (12) aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Mengapa mereka memprotes ketika Yesus makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa? Mengapa si Farisi itu berdoa dengan sombongnya? Karena mereka anggap diri mereka orang suci. Rasul Paulus dulunya adalah seorang Farisi.

Fil 3:4-5 – (4) ”.... Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi (5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi

IV. PELAJARAN ROHANI

Setelah mengetahui semua kisah ini, lalu pelajaran rohani apa yang dapat kita petik dari sejarah ini ? Saya melihat ada satu hal penting yang perlu kita pelajari dalam terang Firman Tuhan yakni bagaimana sebenarnya sikap kita terhadap kebudayaan ? Kita sudah melihat bahwa konflik di antara bangsa Yahudi disebabkan oleh reaksi yang berbeda terhadap produk kebudayaan Yunani. Kalau misalnya saudara ada di sana saat itu, bagaimana sikap saudara ? Ikut Saduki atau Farisi ? Di sinilah kita harus mengerti bagaimana reaksi kita yang benar terhadap produk-produk kebudayaan karena kita sementara hidup dalam suatu dunia yang global di mana memungkinkan bertemunya berbagai kebudayaan dunia tanpa dapat dicegah. Untuk itu saya perlu menjelaskan pada saudara terlebih dahulu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kebudayaan.

Kata ‘kebudayaan’ berasal dari 2 kata yakni ‘budi’ (akal/pikiran) dan ‘daya’ (tenaga/kekuatan). Jadi ‘kebudayaan’ secara terminologi adalah seluruh produk dari akal dan kemampuan manusia yang digunakan untuk kepentingan kehidupan di dunia ini.

Herlianto - Kebudayaan adalah hasil manusia karena di dalamnya manusia menyatakan dirinya sebagai manusia, mengembangkan keadaannya sebagai manusia, dan memperkenalkan dirinya sebagai manusia. (www.yabina.org).

Dari definisi ini maka kebudayaan itu bisa meliputi berbagai bidang seperti bidang seni (musik, alat musik, tarian, puisi, lagu, pahatan, patung, ukiran, dll), bidang bahasa, termasuk di dalamnya membaca, menulis dan berbagai alat seperti buku, pensil, ballpoint, komputer, printer, dll. Bidang sandang, pangan dan papan seperti makanan minuman (se’i babi, sagu, jagung bose, jagung katemak, laru, dll), pakaian (baju, celana, koteka, ti’i langga, pakaian adat, dll). Bidang komunikasi (telepon, HP, internet, TV, dll), bidang transportasi (pesawat, kapal laut, mobil, motor, dll), dll (meja, kursi, jam, kalkulator, listrik, bangunan, jalan raya, sikat gigi, sandal, sepatu, tas, kaca mata, LCD, kaset, sound system, video, camera, stadion, dll. Jadi hampir segala sesuatu di sekitar kita adalah produk kebudayaan. Coba pikirkan berapa banyak produk kebudayaan yang anda pakai hari ini sejak anda bangun pagi hingga sampai tiba di gereja (keran air, sikat gigi, odol, gayung, sabun, shampoo, handuk, handbody, minyak rambut, sisir, parfum, bedak, lipstik, asedo, cukur, tisu, cermin, baju, celana, pakaian dalam, kaos kaki, sepatu, ikat pinggang, dasi, jepitan dasi, piring, sendok/garpu, gelas, Alkitab, dompet, uang, HP, mobil/motor, bensin/solar, gedung, tangga, kursi, alat musik, musik, lagu, speaker, laptop, LCD, AC, dst. Bayangkan kalau semua ini tidak ada.

Sewaktu Allah menciptakan manusia, Ia sudah memberikan perintah/mandat kebudayaan kepada manusia.

Kej 1:28 - Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Kej 2:15 - “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Karena inilah maka kebudayaan pada hakikatnya, sama sekali bukan dosa. Namun demikian, satu hal yang perlu kita sadari adalah bahwa karena semua manusia sudah berbuat dosa dan kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata maka ini berdampak pada produk-produk kebudayaan. Dampak dosa pada kebudayaan terlihat dalam 2 hal yakni ada produk kebudayaan yang dibuat dengan motivasi yang salah (misalnya pendirian menara Babel) dan aa produk kebudayaan yang difungsikan secara salah bukan untuk kemuliaan Tuhan tetapi untuk melakukan dosa bahkan melawan Tuhan). Misalnya buku, majalah, yang harusnya menjadi sumber pengetahuan dan informasi disimpangkan untuk mempublikasikan pornografi (Majalah Playboy), dll. Camera/Video yang berguna untuk mengabadikan moment-moment special justru digunakan untuk memproduksi video-video porno. TV yang harusnya menjadi alat hiburan dan informasi dipakai untuk menayangkan film-film dan sinetron-sinetron yang berbau prnografi, sadisme dan okultisme. Internet yang berfungsi untuk komunikasi dan informasi dipakai untuk menipu dan juga penyebaran pornografi. HP yang dipakai untuk alat komunikasi dijadikan alat kejahatan untuk menteror orang lain, berselingkuh, dll. Senjata yang harusya dipakai untuk membela diri dan keamanan malah digunakan untuk kejahatan (membunuh, dll). Patung yan seharusnya bernilai seni tinggi justru disembah. Musik yang bisa untuk memuliakan Tuhan dan kebaikan manusia malah digunakan untuk memuliakan manusia & dan menyembah dewa-dewi bahkan ada juga musik dan tarian-tarian tertentu yang sudah dilandasi dengan spirit dan filosofi iblis (misalnya tarian Kuda Kepang di Jawa dan Barongsai dalam tradisi Cina, dll), dll.

Jika kenyataannya demikian, lalu bagaimana seharusnya sikap kita terhadap kebudayaan ? Jika kita ingin menolak seluruh produk kebudayaan (seperti kaum Farisi), maka rasanya kita tidak akan bisa hidup di dunia ini. Sebaliknya jika kita menerima saja seluruh produk kebudayaan yang ada maka (seperti kaum Saduki) maka tidak mustahil kita akan terseret ke dalam banyak hal yang akan melemahkan iman kita. Kalau begitu bagaimana seharusnya sikap kita ?

a. Kita harus mempunyai sikap selektif terhadap produk-produk kebudayaan yang ada.

Kita tidak boleh seperti orang Farisi yang menolak semuanya (karena kita tidak akan bisa hidup lepas dari produk-produk kebudayaan) dan juga tidak boleh seperti orang Saduki yang menerima semuanya (karena jelas ada banyak kebudayaan yang tidak sesuai dengan Alkitab). Maka di sini yang diperlukan adalah sikap selektifitas untuk bisa melihat mana kebudayaan yang bisa kita terima dan mana kebudayaan yang harus kita tolak. Bahkan karena pemanfaatan sebuah hasil kebudayaan itu bermacam-macam, maka kita harus bisa menyeleksi mana cara yang boleh kita lakukan dan mana yang tidak boleh kita lakukan. Contohnya seperti gelanggang olahraga di Yerusalem yang mengharuskan orang telanjang bulat. Apakah itu harus diterima atau ditolak ? Olahraga dan gelanggang olahraga itu baik tetapi telanjang bulatnya tidak baik. Karena itu terima olahraganya dan tolak telanjang bulatnya. Kalau tidak bisa ya cari olahraga lain di luar gelanggang itu. Dalam hidup setiap hari kita tidak boleh anti buku dan TV (nanti jadi bodoh), tapi kalau mau membaca dan nonton, carilah bacaan dan acara TV/film yang baik dan membangun. Jangan menghabiskan waktu dan tenaga untuk bacaan dan tontonan yang tak ada manfaat. Kita tidak boleh anti HP, tapi pergunakanlah HP sesuai dengan fungsinya dan jangan pakai HP untuk menteror orang, mengkoleksi gambar porno, dsb. Kita tidak boleh anti komputer dan internet karena itu menolong kita dalam banyak hal tapi jangan pakai internet untuk menipu orang, menyusahkan orang (hacker), melihat gambar/video porno, dll. Kita tidak boleh anti mode pakaian, tapi jangan pakai mode-mode pakaian yang membuat orang lain jatuh dalam dosa, misalnya dengan pakaian wanita yang serba mini. Kita tidak boleh anti adat istiadat (nanti dibilang tidak tahu adat/biadab) tapi kita tidak boleh melakukan suatu adat istiadat yang jelas-jelas bertentangan dengan Firman Tuhan seperti budaya Sifon di Timor di mana setiap laki-laki diwajibkan mempunyai ’isteri rumah’ atau semacam selir. Atau budaya menghargai tamu di Afrika yang mengijinkan isteri tidur dengan tamu laki-laki sebagai bentuk penghargaan pada si tamu. Atau budaya Soja Kui di Cina yang menyembah arwah orang tua yang sudah meninggal. Atau budaya ‘belis’ (mas kawin) yang gila-gilaan, dsb. Intinya kita harus bisa menyeleksi semua budaya tersebut.

Rom 12:2 - Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

b. Kita harus memanfaatkan produk-produk kebudayaan yang ada untuk kemuliaan Tuhan.

Kita bukan hanya harus menyeleksi setiap produk kebudayaan yang ada tetapi juga bisa dituntut untuk bisa memanfaatkan semua produk kebudayaan yang ada untuk memuliakan Tuhan. Ini terjadi dalam sejarah Helenisme yang sudah kita bicarakan. Ketika budaya Yunani berkembang dengan bahasa Yunaninya yang menjadi bahasa internasional, para penulis Perjanjian Baru justru memanfaatkan bahasa Yunani (bahasa ilmu pengetahuan) ini untuk menulis Kitab Suci. Dan ini jelas membawa kemuliaan bagi Tuhan karena Injil cepat menyebar sampai ke berbagai tempat.

Merril C. Tenney - Melalui medium kebudayaan inilah Injil Kristus disebarluaskan dalam masa awal misi kerasulan Kristen. Dengan Kitab Suci berbahasa Yunani dan bahasa Yunani sebagai media komunikasi universalnya, dengan cepat mereka dapat menembus pusat-pusat kebudayaan dunia. (Survey Perjanjian Baru, hal. 24).

Ini menjadi sebuah contoh bagaimana suatu produk kebudayaan dapat dipakai dan dimanfaatkan untuk menyebarkan Firman Tuhan dan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Kita harus bisa melihat peluang-peluang untuk pekerjaan Tuhan dengan memanfaatkan semua produk kebudayaan yang ada. Misalnya TV dan radio, buku, koran, majalah, CD, internet (website, Face Book, Twiter, email, dll), komputer, laptop, LCD, HP, dll. Semua ini jelas bisa digunakan untuk memberitakan Injil, Firman Tuhan dan pengajaran yang benar. Karena itu kalau saudara mempunyai media-media ini atau bisa menggunakan media-media ini (terutama HP, komputer, internet), pikirkanlah cara bagaimana pekerjaan Tuhan dapat didukung lewat semua ini. Jangan hanya menggunakan media-media ini untuk tujuan-tujuan yang tidak ada hubungan dengan pekerjaan Tuhan. Kalau saudara bisa bermain musik, menyanyi, membuat/baca puisi, pikirkan bagaimana saudara dapat mempermuliakan Tuhan lewat semua yang ada itu. Firman Tuhan berkata :

1 Kor 10:31 – ‘ …Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah’.

Maukah saudara ?

- AMIN -



1 komentar:

  1. The Great Alexander!
    The Great Esra Alfred Soru, STh, MPdK.!
    The Great Artikel.

    sangat mencerahkan!

    Mamaki Rony Riwu Kaho. - Jakarta.

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Share it