22 Agustus 2012

TIATIRA : GEREJA YANG BERKOMPROMI DENGAN KESESATAN (2)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.



Wah 2:18-29 – (18) "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: (19) Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. (20) Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. (21) Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. (22) Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. (23) Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya. (24) Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu. (25) Tetapi apa yang ada padamu, peganglah itu sampai Aku datang. (26) Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepadanya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa; (27) dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk -- sama seperti yang Kuterima dari Bapa-Ku – (28) dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur. (29) Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."


P
ada bagian pertama dari pembahasan tentang jemaat Tiatira ini, kita sudah belajar tentang latar belakang kota dan jemaat Tiatira, juga pujian Tuhan bagi jemaat Tiatira di mana Tuhan memuji kasih mereka, iman mereka, pelayanan mereka, ketekunan mereka dan kemajuan mereka di mana dikatakan bahwa pekerjaan mereka yang terakhir lebih banyak daripada yang pertama. (Wah 2:19). Sekarang kita akan melanjutkan pembahasan tentang jemaat Tiatira ini pada bagian yang ketiga.

III. KESESATAN DI DALAM JEMAAT TIATIRA.

Dalam point ini ada 2 hal yang akan saya bahas :

a.      Ajaran sesat dalam jemaat Tiatira.

Ajaran sesat di dalam jemaat Tiatira ini nampak dalam ayat 20 :

Wah 2:20 - Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.

Dari ayat ini terlihat bahwa kesesatan dalam jemaat di Tiatira berkaitan dengan seorang wanita yang bernama Izebel. Terhadap wanita yang disebut Izebel ini, ada banyak penafsiran diberikan. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah isteri dari uskup Tiatira, ada juga yang berkata bahwa ini adalah sebutan untuk Lidia (penjual kain ungu yang bertobat karena pemberitaan Injil rasul Paulus) yang kemudian menjadi murtad, ada pula yang mengatakan bahwa ini menunjuk pada seorang ahli nujum di Tiatira yang bernama Sambathe. Tetapi kelihatannya dugaan-dugaan ini tidak mempunyai dasar sama sekali. John Stott dan Herman Hoeksema berpendapat bahwa Izebel ini benar-benar adalah seorang wanita hanya saja namanya di sini tidaklah bersifat hurufiah melainkan simbolis. Maksudnya adalah dia tidak benar-benar bernama Izebel tetapi disebut demikian karena memiliki kemiripan dengan Izebel (Saya setuju dengan penafsiran ini). Kalau begitu kita perlu menelusuri dulu Izebel yang asli yang mana sifatnya dikaitkan dengan wanita di Tiatira ini.

William Barclay – Perempuan ini dinamakan Izebel, dan oleh karena itu, ciri-cirinya harus disingkapkan dalam diri Izebel yang asli. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 156).

Nama Izebel muncul dalam Perjanjian Lama, ia adalah anak perempuan dari Etbaal (raja Sidon) yang adalah seorang kafir / penyembah berhala dan dengan demikian dia (Izebel) juga adalah seorang kafir / penyembah berhala. Dia lalu diambil menjadi isteri oleh seorang raja Israel yang bernama Ahab. Pada waktu menikah dengan Ahab, ia membawa dewa-dewanya dari Sidon ke Israel dan lalu mempengaruhi Ahab sehingga Ahab akhirnya terlibat di dalam penyembahan berhala.

1 Raj 16:31-33 – (31) “….ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya. (32) Kemudian ia membuat mezbah untuk Baal itu di kuil Baal yang didirikannya di Samaria. (33) Sesudah itu Ahab membuat patung Asyera, dan Ahab melanjutkan bertindak demikian, sehingga ia menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, lebih dari semua raja-raja Israel yang mendahuluinya.
1 Raj 21:25-26 – (25) Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. (26) Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala,…”

Di bawah pengaruh Izebel, penyembahan berhala pada zaman Ahab berkembang dengan pesat dan menyeret banyak orang Israel ke dalam penyembahan berhala.

William Barclay – Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk memusnahkan penyembahan Yahweh, seandainya para nabi Yahweh mau menerima Baal sebagai tambahan atas Yahweh. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 156).

Jadi ia ingin menawarkan semacam iman pluralisme di dalam kehidupan bangsa Israel. Tapi karena para nabi Yahweh ini menolak Baal, Izebel ini lalu membunuh banyak nabi Yahweh dan mengangkat nabi-nabi kafirnya.

1 Raj 18:4,13,19 - (4) Karena pada waktu Izebel melenyapkan nabi-nabi TUHAN, Obaja mengambil seratus orang nabi, lalu menyembunyikan mereka … (13) Tidakkah diberitahukan kepada tuanku apa yang telah kulakukan pada waktu Izebel membunuh nabi-nabi TUHAN, bagaimana aku menyembunyikan seratus orang nabi-nabi TUHAN dalam gua,… (19) Sebab itu, suruhlah mengumpulkan seluruh Israel ke gunung Karmel, juga nabi-nabi Baal yang empat ratus lima puluh orang itu dan nabi-nabi Asyera yang empat ratus itu, yang mendapat makan dari meja istana Izebel."
Nanti nabi-nabi Baal inilah yang berlomba dengan Elia untuk menurunkan api dari langit dan lalu dibunuh oleh Elia. (1 Raj 18:23 dst). Izebel ini lalu dikenang sebagai nama terkenal untuk orang-orang sundal dan para penyihir.

2 Raj 9:22 - Tatkala Yoram melihat Yehu, bertanyalah ia: "Apakah ini kabar damai, hai Yehu?" Jawabnya: "Bagaimana ada damai, selama sundal dan orang sihir ibumu Izebel begitu banyak!"
Ada penafsir yang mengatakan bahwa “sundal” (seharusnya “zinah”) di sini menunjuk pada perzinahan rohani.

Dari sekian data ini terlihat bahwa Izebel adalah orang yang mempengaruhi / menyeret / menyebabkan orang lain jatuh ke dalam penyembahan berhala / perzinahan secara rohani. Karena itu maka nama Izebel lalu akhirnya dikaitkan dengan setiap orang yang menyebabkan orang lain jatuh ke dalam penyembahan berhala dan perzinahan sama seperti nama Yudas Iskariot dikaitkan dengan setiap orang yang berkhianat atau mencuri uang dari kas.

William Hendriksen - Namanya merupakan sinonim untuk bujukan kepada penyembahan berhala dan kehidupan yang tidak bermoral. (The Book of Revelation, hal. 72).

Karena itu wanita di Tiatira ini disebut Izebel bukan karena nama aslinya adalah Izebel melainkan dia memiliki kesamaan dengan Izebel di Perjanjian Lama yakni menyeret orang banyak ke dalam penyembahan berhala dan perzinahan.

Wah 2:20 – “…. wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.

Jakob P.D. Groen – Orang di jemaat Tiatira yang disebut dengan nama ini rupanya mempunyai pengaruh yang sama dengan pengaruh Izebel pada zaman Ahab. Seperti Izebel merusak jemaat Perjanjian Lama, demikian juga orang yang berciri “Izebel” akan merusak jemaat di Tiatira. (Aku Datang Segera, hal. 53).

Kelihatannya dia adalah wanita yang cukup terpandang di dalam jemaat Tiatira dan menarik karena dikatakan bahwa ia “menyebut dirinya nabiah”. Kita tahu bahwa orang menjadi nabi, rasul, pendeta tidak boleh karena kehendaknya sendiri, tetapi harus ada panggilan Tuhan (1 Kor 1:1; 2 Kor 1:1; Gal 1:1,15-17; Efs 1:1; Kol 1:1) tetapi ‘wanita Izebel’ ini menjadikan / menyebut dirinya sendiri nabiah.

Lalu apa sebenarnya yang dia ajarkan di dalam jemaat Tiatira? Hal ini terkait dengan apa yang sudah saya jelaskan pada bagian 1 bahwa Tiatira adalah sebuah kota dengan banyak serikat kerja seperti serikat kerja di bidang wol, kulit, lenan, dan perunggu, para pengrajin pakaian luar, para ahli celup, pengrajin tembikar, pembuat roti, pedagang budak, tukang cat, tukang besi, tukang tenun, dll. Setiap serikat kerja ini mempunyai dewa pelindung / penjaganya sendiri-sendiri, dan karena itu setiap serikat kerja berhubungan dengan penyembahan terhadap dewa pelindung / penjaga tersebut. Demi kesuksesan suatu usaha, maka upacara-upacara tertentu harus dilaksanakan oleh semua anggota serikat terhadap dewa mereka dan seringkali dalam upacara-upacara itu dilakukan juga pesta-pesta kafir di mana makan makanan berhala dan perzinahan fisik sukar dihindari. Di sinilah muncul persoalan bagi orang-orang Kristen Tiatira. Jika mereka tidak mau terlibat di dalam upacara-upacara dan pesta-pesta kafir itu maka mereka akan dikucilkan dari serikatnya, dan kalau tidak menjadi anggota dari sebuah serikat dagang, mereka sama sekali tidak bisa berdagang / mencari nafkah.

William Barclay – Menjauhkan diri dari serikat dagang ini atau tidak menjadi anggotanya sama saja dengan bunuh diri di bidang bisnis. (Pemahaman Alkitab Setiap Hari : Wahyu 1-5, hal. 158).

Tetapi kalau mereka harus terlibat di dalamnya, berarti mereka akan didesak untuk makan makanan berhala dan terlibat dalam perzinahan. Nah, dalam dilema semacam ini, muncullah Izebel ini dengan ajarannya. Dari ayat 20 jelas bahwa ajarannya Izebel ini lalu menyereret banyak jemaat ke dalam perzinahan dan makan persembahan berhala.

Wah 2:20 – “…. wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.

Tetapi bagaimana ajaran atau argaumentasi dari Izebel ini? Kelihatannya ini ada kaitan dengan ayat 24 :

Wah 2:24 - Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, …”

KJV : ‘the depths of Satan’ (kedalaman dari Setan).

RSV/NASB : ‘the deep things of Satan’ (hal-hal yang dalam dari Setan).

NIV : ‘Satan’s so-called deep secrets’ (yang disebut rahasia-rahasia yang dalam dari Setan).

Berarti ajaran Izebel itu disebut “seluk beluk Iblis”. Dan Izebel mengajar agar mereka mau “menyelidiki” seluk beluk Iblis itu atau rahasia-rahasia setan. Apa maksudnya? Perhatikan komentar Hendriksen :

William Hendriksen - Dalam situasi yang sukar ini nabiah Izebel menganggap dirinya tahu pemecahan yang sebenarnya dari problem itu, jalan keluar dari kesukaran. Kelihatannya ia berargumentasi demikian : untuk mengalahkan Iblis, engkau harus mengenal dia. Engkau tidak bisa mengalahkan dosa kecuali engkau telah mengenalnya sepenuhnya dengan mengalaminya. Singkatnya, seorang Kristen harus belajar untuk mengenal ‘hal-hal yang dalam dari Iblis / seluk beluk Iblis’. Hadirilah selalu pesta / perayaan dari serikat kerja dan lakukanlah perzinahan ... dan tetaplah sebagai orang Kristen, bahkan jadilah orang Kristen yang lebih baik. (The Book of Revelation, hal. 71-72).

Dengan kata lain Izebel mengajarkan bahwa orang Kristen harus menjadi “musuh dalam selimut” bagi Iblis. Orang Kristen harus bisa menyusup ke dalam organisasi-organisasi Iblis, terlibat di dalam praktek-praktek / upacara-upacara Iblis, dan bahkan melakukan semua aktifitas Iblis (dosa). Dengan demikian ia bisa benar-benar mengenal Iblis, sang musuh itu secara detail. Pengajaran seperti ini pernah saya dengar dari seseorang. Orang itu berkata bahwa untuk bisa menyelamatkan manusia, Allah lalu menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Karena itu untuk bisa mengetahui pergumulan seorang pemabuk, kita juga harus menjadi pemabuk. Untuk bisa menolong para pelacur, kita juga harus menjadi pelacur., dsb. Ada kemungkinan juga bahwa ini Izebel dipengaruhi oleh ajaran Gnosticisme yang mengajarkan bahwa apa pun yang dilakukan oleh tubuh tidak ada pengaruhnya pada jiwa / roh seseorang.

Robert Mounce - Di sisi yang lain, ‘seluk beluk iblis’ bisa merupakan suatu petunjuk pada pandangan yang mengatakan bahwa untuk bisa menghargai sepenuhnya kasih karunia Allah, pertama-tama seseorang harus tenggelam ke kedalaman kejahatan. Para pengikut Gnosticisme yang belakangan membanggakan bahwa justru dengan masuk ke dalam benteng dari setanlah yang menyebabkan orang-orang percaya bisa mempelajari batas dari kuasanya dan muncul sebagai pemenang. Berdasarkan pandangan bahwa kerohanian orang percaya tidak dipengaruhi oleh apa yang ia lakukan dengan tubuhnya, Izebel bisa berargumentasi bahwa orang-orang Kristen Tiatira harus ikut ambil bagian dalam pesta serikat kerja kafir (bahkan jika mereka berhubungan dengan hal-hal yang dalam dari setan) dan dengan demikian membuktikan betapa tak berdayanya kejahatan untuk mengubah sifat dari kasih karunia. (New International Commentary of the New Testament, hal. 105-106).

Demikianlah banyak jemaat yang terseret ke dalam perzinahan dan makan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala dengan anggapan bahwa toh semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa pada kondisi rohani mereka. Demikianlah ajaran sesat ini bertumbuh dengan subur di dalam jemaat Tiatira.

Di bagian pertama kita sudah melihat bahwa jemaat Tiatira ini adalah jemaat yang baik dan karena itu mereka dipuji oleh Tuhan.

Wah 2:19 - Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama.

Tetapi sekarang kita melihat bahwa di dalam jemaat yang bagus ini ternyata bisa tumbuh dengan subur suatu ajaran yang begitu menyesatkan. Semua ini menunjukkan bahwa setan bekerja dengan sangat hebat. Ia bisa menyusupkan pengajar-pengajarnya (seperti Izebel) ke dalam gereja yang bagus bahkan kaki tangan setan itu bisa mendapatkan kedudukan yang tinggi di dalam jemaat seperti pendeta dan bisa menjadi pengajar (nabi / nabiah).

2 Pet 2:1-3 – (1) Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. (2) Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. (3) Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.

Banyak gereja sebenarnya sudah disusupi oleh para pengajar sesat ini hanya saja mereka tidak menyadarinya. Mengapa? Karena sepintas lalu ajaran para guru palsu itu sangat mirip dengan ajaran yang benar. Tetapi ini sebenarnya adalah strategi setan. Setan tidak akan menyuruh kaki tangannya itu menyebarkan ajaran yang sama sekali frontal dengan ajaran Kristen. Justru mereka akan mengajarkan ajaran yang nyaris mirip dengan kekristenan yang alkitabiah tetapi lalu disusupi dengan sedikit kesesatan. Coba dipikirkan, jika kita ingin meracuni seseorang, apakah kita akan mencampurkan sedikit racun pada nasi atau sedikit nasi pada racun? Tentu kita akan memberikan sedikit racun pada nasi bukan? Jadi nasinya harus lebih banyak dari racunnya. Begitu juga, setan tidak akan menyuruh guru-guru palsu untuk memberikan full ajaran sesat dalam setiap khotbah dan pengajaran mereka. Bisa jadi ada banyak ajaran yang benar (95%), sedangkan sisanya (5%) adalah ajaran sesat. Karena itu jangan heran kalau ajaran dari guru-guru palsu akan terlihat sangat mirip dengan ajaran yang benar. Perhatikan juga bahwa kalau kita ingin membuat uang palsu maka kita akan membuat uang itu semirip mungkin dengan uang asli bukan? Kita akan membuat uang dengan warna, ukuran, gambar dan font yang sama. Hanya orang bodoh yang membuat uang palsu yang sama sekali berbeda secara menyolok dengan uang asli. Misalnya jika uang kertas Rp. 1000 seperti ini :



 












Tentu kita tidak akan membuat uang palsunya seperti gambar di bawah ini bukan?



 












Jadi jangan heran kalau ajaran sesat justru kelihatran sangat mirip dengan ajaran benar. Karena itu gereja kita harus sangat hati-hati agar kita tidak mengalami nasib yang sama dengan gereja Tiatira yang lalu dikuasai oleh pengajar sesat.

b.      Mengapa Jemaat  Tiatira bisa kecolongan seperti ini?

Tadi sudah disinggung bahwa gereja Tiatira adalah gereja yang bagus tetapi mereka lalu disusupi oleh ajaran sesat dari Izebel ini. Mengapa mereka bisa kecolongan seperti itu? Atau mengapa mereka bisa melakukan kesalahan sebesar itu? Herman Hoeksema menjawab :

Herman Hoeksema - Bagaimana mungkin bahwa jemaat kecil Tiatira yang sangat rajin / bergairah ini mendengar dengan sabar pada kesaksian yang gelap dari alat neraka ini? Hanya dalam satu jalan : gereja yang manis dan memikat ini secara bertahap telah lupa untuk menerapkan standard yang obyektif dari wahyu Allah dan telah mengizinkan pengalaman pribadi untuk menjadi kriteria utama dari kebenaran. Jika mereka melakukan pengujian dengan Firman Allah terhadap ucapan dan kehidupan dari wanita Izebel ini, mereka pasti telah mendeteksi kesesatannya dengan segera dan akan membuangnya keluar jika ia tidak bertobat. Tetapi mereka condong pada mistisime yang salah. Dan setan, yang menyadari kecenderungan dalam jemaat ini, menggunakan seorang wanita, yang pada umumnya hidup berdasarkan intuisi / gerakan hati, lebih condong untuk dihanyutkan oleh perasaan dan pengalaman yang bersifat subyektif, dan yang secara alamiah emosinya lebih kuat dan lebih bergairah dari pada laki-laki, untuk menarik kepada kecenderungan ajaran mistisime dalam gereja Tiatira, supaya bisa memikatnya dari kebenaran. ... Singkatnya, kami menemukan dalam jemaat Tiatira suatu gereja dengan kecenderungan pada mistisisme yang salah, suatu gereja yang kuat dalam kehidupan ibadah / doa, tetapi yang menobatkan pengalaman pribadi sebagai kriteria untuk kebenaran. (Behold He Cometh, hal.102-103).

Webster’s New World Dictionary mengatakan bahwa mysticism / mistisisme adalah suatu ajaran yang mengatakan bahwa kita bisa mendapatkan : (1) Persekutuan dengan Allah melalui perenungan dan kasih, tanpa penggunaan akal. (2) Pengetahuan tentang kebenaran rohani melalui intuisi / gerakan hati yang didapatkan melalui meditasi. Herman Hoeksema mengatakan bahwa dalam sejarah gereja sering terjadi saat-saat di mana ada banyak orang Kristen condong pada ‘cold intellectualism’ (intelektualisme yang dingin) atau ‘dead orthodoxy’ (keortodoksan yang mati), dan pada saat seperti itu lalu muncul reaksi yang ekstrim ke arah yang berlawanan, yaitu mysticism (mistisisme). Itulah sebabnya banyak orang yang hidup kerohaniannya selalu bergantung pada penglihatan-penglihatan / suara roh / dsb, dan akal sehat mereka sama sekali tidak dipakai. Saya pernah melayani bersama satu kelompok Persekutuan Doa yang pada malam sebelum mau diadakan acara KKR, mereka berkata bahwa mereka mendapatkan perintah dari Tuhan untuk mengadakan doa tempala (suatu istilah yang saya tidak tahu darimana diambil juga) yakni doa mengelilingi gedung gereja sambil berjalan berputar. Celakanya adalah ‘Tuhan’ memerintahkan kepada mereka agar tidak boleh ada yang memakai alas kaki padahal gedung gereja itu belum selesai di bangun dan potongan-potingan seng, kaca, paku, dll bertebaran di mana-mana. Ini jelas sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak bermanfaat. Selain itu darimana mereka tahu kalau memang Tuhan yang memerintahkan demikian? Juga seperti yang pernah terjadi di kota Kupang di mana sekelompok team doa yang melayani seorang yang sakit ayan, mereka mengatakan bahwa mereka mendapatkan suara roh yang mengatakan bahwa tubuh orang yang sakit ayan itu sementara dihuni oleh setan dan setannya hanya bisa diusir dengan menggunakan kayu damar, dengan cara memukul-mukulkan kayu damar di seluruh tubuh orang sakit itu. Mereka pun melakukannya dan memukul sekeras-kerasnnya sambil berteriak “dalam nama Yesus” dan apa yang terjadi? Si ayan tersebut dipukul sampai mati. Mereka lalu masuk penjara. Salah satunya bertobat dan terima Yesus sewaktu saya berkhotbah di dalam penjara. Dalam kesaksiannya dia berkata “saya kira sekian lama saya dipakai Tuhan padahal sebenarnya saya dipakai setan”. Inilah contoh-contoh di mana orang lebih mengandalkan aspek mistisisme ini di dalam hidup kekristenannya. Jadi benar kata Heoksema bahwa inteletualisme yang dingin akan membawa/menjatuhkan orang pada mistisisme. Karena itu Hoeksema berkata :

Herman Hoeksema - Karena itu, gereja harus waspada terhadap kedua ekstrim ini. Gereja harus berjaga-jaga terhadap bahaya dari intelektualisme yang dingin, tetapi pada saat yang sama menolak untuk menobatkan pengalaman subyektif sebagai tuan / penguasa yang tertinggi. Pengalaman pribadi kita harus terus menerus diuji oleh Firman Allah. Dan jika seseorang mengalami sesuatu yang tidak sesuai dengan wahyu yang obyektif itu, ia harus menyimpulkan bahwa pengalaman itu datang dari si jahat. Dan lagi, jika seorang anggota gereja berdasarkan pengalaman menyebarkan suatu ajaran yang tidak sesuai dengan Kitab Suci, ia harus dikoreksi; dan jika ia tidak mau bertobat, ia harus dikucilkan tanpa penundaan yang tidak benar. (Behold He Cometh, hal.103-104).

Hal yang sama terjadi pada masa kini, ada begitu banyak kesesatan terjadi karena orang lebih banyak memakai pengalaman rohani mereka sebagai standard dan bukannya Kitab Suci. Ada orang yang percaya bahwa roh orang mati masih bisa gentayangan. Apa dasarnya? Karena mereka pernah bertemu dengan roh orang mati. Jadi pengalamannya menjadi dasar ajarannya dan bukan Alkitab. Padahal Alkitab mengajarkan bahwa orang yang mati akan langsung ke surga atau neraka tergantung dia beriman atau tidak seperti dalam kasus orang kaya dan Lazarus, juga penjahat di samping Yesus yang dijamin hari itu juga akan bersama Yesus di dalam firdaus (surga) dan masih banyak bagian Alkitab yang membuktikan hal itu. Ada orang yang percaya bahwa di neraka iblis berkuasa dan menyiksa orang-orang berdosa. Mengapa? Karena dia atau orang lain mengaku bahwa roh mereka pernah dibawa Tuhan mengunjungi neraka dan mereka lihat di sana demikian. Jadi dasar kepercayaan mereka adalah pengalaman dan bukan Kitab Suci padahal Kitab Suci mengatakan bahwa setan baru akan masuk neraka pada akhir zaman nanti (Wah 20:10) lalu setan apa yang mereka lihat di sana? Juga kalau setan masuk neraka, mereka akan di siksa dan bukan menyiksa (Wah 20:10). Lalu siapa yang mengangkat setan jadi algojo di neraka? Kitab Suci tidak pernag mengajarkan yang demikian. Banyak orang Kharismatik, kalau ajarannya / prakteknya (seperti Toronto Blessing, tumbang dalam roh, bahasa roh, dsb) diserang menggunakan Kitab Suci, mereka sering berkata: ‘Serangan seperti itu tidak usah ditanggapi. Itu merupakan serangan dari orang yang belum mengalami, dan hal ini tak bisa dimengerti oleh orang yang belum mengalaminya’. Betul-betul lucu! Kalau pengalaman pribadi mereka tidak bisa dijelaskan berdasarkan Kitab Suci, dari mana mereka bisa yakin bahwa itu merupakan pengalaman yang diberikan oleh Tuhan, dan bukan oleh setan? Tetapi inilah orang yang menggunakan pengalaman pribadi, dan bukannya Kitab Suci, sebagai standard. Ini tidak berarti bahwa kita anti pengalaman rohani tetapi pengalaman rohani tidak boleh menjadi standard kebenaran. Yang menjadi standard kebenaran haruslah Alkitab. Jadi sebuah pengalaman hanya bisa diterima kalau itu cocok dengan Alkitab. Jika tidak, sebagus apa pun pengalaman itu, harus dibuang. Selain itu pengalaman pribadi tidak bisa dijadikan standard karena pengalaman pribadi itu bersifat subyektif yang bisa saja berlaku bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. Juga seringkali pengalaman pribadi seseorang dan orang yang lain bisa bertentangan. Ada orang yang setelah percaya Yesus lalu menjadi kaya tetapi ada orang yang setelah percaya Yesus lalu menjadi miskin. Ada orang yang setelah dibaptis selam lalu hidup menjadi lebih baik, tetapi ada orang yang setelah dibaptis selam malah hidupnya menjadi rusak. Nah, kalau kepercayaan seseorang harus ditarik berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadi ini maka muncullah ajaran yang kacau balau. Seseorang akan percaya bahwa kalau orang miskin percaya Yesus akan menjadi kaya, sedangkan yang seorang lagi akan percaya bahwa kalau orang kaya percaya Yesus, dia akan menjadi miskin. Yang satu percaya bahwa baptisan selam bisa membuat hidupnya lebih baik sedangkan yang satu lagi percaya bahwa baptisan selam membuat hidup menjadi lebih buruk. Lagi pula darimana mengetahui bahwa pengalaman-pengalaman itu diakibatkan oleh apa yang terjadi sebelumnya? Maksudnya adalah darimana mereka tahu bahwa menjadi kaya atau menjadi miskin itu disebabkan oleh iman mereka kepada Yesus? Darimana mereka tahu bahwa hidup yang menjadi lebih baik atau lebih buruk itu disebabkan oleh baptisan selam? Sesungguhnya akan muncul banyak kekacauan kalau kita menjadikan pengalaman-pengalaman kita dan bukan Kitab Suci sebagai standard kebenaran. Kiranya kita berhati-hati untuk tidak menjadikan pengalaman pribadi kita atau orang lain sebagai standard kebenaran, demikian juga dengan segala sesuatu yang bersifat mistisisme dan hanya menjadikan Alkitab saja sebagai standard kebenaran kita. Dengan demikian kita akan terhindari dari segala macam bahaya penyesatan.

IV. CELAAN TUHAN TERHADAP JEMAAT TIATIRA.

Perlu diketahui bahwa sekalipun ada ajaran sesat di dalam jemaat Tiatira tetapi tidak semua jemaat Tiatira terpengaruh dengan ajaran sesat ini. Ada juga yang tetap berpegang pada kebenaran.

Wah 2:24 - Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu.

Meskipun demikian, untuk orang-orang yang tidak mengikuti ajaran sesat itu, Tuhan tetap mencela mereka. Mereka dicela karena sekalipun mereka tidak mengikuti ajaran sesat itu tetapi mereka membiarkan ajaran sesat itu ada dan berkembang di tengah-tengah mereka. Atau dengan kata lain mereka bertoleransi terhadap ajaran sesat itu.

Wah 2:20 - Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.

ESV -  I have this against you, that you tolerate (mentoleransi) that woman Jezebel, who calls herself a prophetess and is teaching and seducing my servants to practice sexual immorality and to eat food sacrificed to idols.

Ingat, bahwa Tuhan mencela sikap membiarkan / seperti ini jelas menunjukkan bahwa membiarkan suatu ajaran sesat diajarkan atau bertoleransi terhadap suatu ajaran sesat adalah dosa.

Homer Hailey - Seseorang bukan hanya tidak boleh mempunyai persekutuan dengan pekerjaan / perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi bahkan harus memarahi mereka (Efs 5:11). (Revelation, an Introduction and Commentary, hal.138).

Efs 5:11 - Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.
Pulpit Commentary - Tidak dikatakan bahwa Izebel menerima simpati atau dorongan dari jemaat Tiatira, tetapi semata-mata bahwa ia dibiarkan : kejahatannya dibiarkan tanpa dicegah, dan itu merupakan dosa. (hal. 65).

Jadi kalau kita membiarkan nabi palsu secara leluasa menyebarkan ajarannya, kita bersalah! Kita harus menentangnya supaya ia tidak leluasa dalam mengajarkan ajaran sesatnya. Karena itu saya sering debat dengan banyak orang / kelompok sesat seperti Saksi-Saksi Yehuwa, aliran Pluralisme, Unitarian, Katholik, Islam yang menyerang Kristen, dll). Saya juga membuat banyak tulisan untuk menanggapi ajaran-ajaran yang sesat seperti ajaran Paulus Tribrata, Jusuf Roni, Eben Nuban Timo, dll. Demikian juga dengan Pdt. Budi Asali yang berdebat dengan banyak orang sesat dan menulis tanggapan terhadap begitu banyak aliran / orang sesat seperti Yesaya Pariadji, Andreas Samudera, Gerakan Pria Sejati, Yahwehisme, Insan Mokoginta, Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, Pdt. Eka Darma Putera, dll. Anehnya, banyak orang ketika melihat kami berdebat dengan orang-orang sesat itu malah mencela / memusuhi kami, menuduh kami tidak punya kasih, arogan, dsb. Ingat, dengan membiarkan orang-orang sesat itu menyebarkan ajaran sesatnya saja, saudara pasti dicela Tuhan dan itu dosa. Apalagi kalau saudara menyalahkan orang yang menyerang ajaran-ajaran sesat. Saudara akan dicela Tuhan 2 kali dan dosa saudara dobel! Kalau kita sudah mengusahakan pelurusan teologia tetapi tidak berhasil, maka baru kita boleh membiarkan (Tit 3:10).

Tit 3:10 - Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.
Tetapi tentu saja kalau orang yang melakukan penyesatan itu ada di bawah otoritas kita, kita harus melakukan tindakan lebih keras, seperti pemecatan, pengucilan, dsb. Dari sini terlihat bahwa toleransi, sekalipun memang harus dilakukan dalam banyak hal, tetapi tidak selalu merupakan hal yang baik. Kita memang tidak bisa hidup tanpa toleransi sama sekali. Tetapi toleransi (atau mungkin lebih tepat disebut kompromi) terhadap dosa yang hebat atau penyesatan dalam gereja, jelas merupakan hal yang salah. Tetapi zaman sekarang ini, dalam gereja ada banyak toleransi yang salah, sama seperti dalam gereja Tiatira pada abad pertama.

Theodore H. Epp : Kita dapat melihat adanya sikap yang serupa dalam banyak gereja pada masa kini. Kita seolah-olah dibuat ‘toleran’ terhadap orang-orang yang tidak sepandangan dengan kita. Dan ‘mengasihi’ orang-orang semacam itu hanya berarti toleransi terhadap dosa. (Kristus Berkata-kata kepada GerejaNya, hal. 70-71).

Toleransi yang salah yang dimaksudkan oleh Theodore H. Epp ini biasanya banyak dijumpai dalam kalangan Liberal, yang sering berlagak sebagai orang yang bijaksana, toleran, penuh kasih, dsb, tetapi sebetulnya tidak menghargai otoritas dari Kitab Suci. Misalnya seperti apa yang nampak dari tulisan Pdt. Dr. Eka Darma Putera berikut ini :

BOLEH DIPERBANDINGKAN, JANGAN DIPERTANDINGKAN

“Sebuah dongeng Hindu. Ada seorang raja yang adil, arif lagi bijaksana. Tiga orang puteranya, semua serba gagah, tampan dan perkasa. Konon menyadari usianya yang kian uzur, sri baginda ingin mempersiapkan segala sesuatu sebaik-baiknya sebelum ajal tiba. Demikianlah ia memutuskan untuk membagi semua harta di kerajaannya menjadi tiga. Semua, tanpa boleh ada yang tersisa atau terlupa. Masing-masing puteranya harus menerima persis sepertiga. Tak ada yang lebih atau kurang. Supaya jangan ada yang bangga, dan ada yang kecewa. Titah ini segera dilaksanakan tanpa masalah. Sampai sang raja sendiri menyadari, bahwa ternyata masih ada satu yang tersisa. Yaitu cincin yang selama ini melingkar di jari manisnya. Bagaimana membaginya? Namun bukan sri baginda namanya bila tidak menemukan jalan keluar juga pada akhirnya. Dengan diam-diam dan amat rahasia, pada suatu hari, dipanggilnya pandai mas yang paling ahli di seluruh kerajaannya. Pandai mas itu dititahkannya membuat dua buah cincin lagi. Syaratnya: sama persis dalam segala hal dengan cincin yang semula. Ringkas cerita, persoalan teratasi. Namun sementara. Sebab akhirnya, lama setelah baginda wafat, tiga pangeran itu toh mafhum juga bahwa tidak semua dari tiga cincin yang ada itu ‘asli’. Mereka segera bertengkar hebat sekali, masing-masing mengklaim bahwa cincin yang lain adalah ‘tiruan’, dan cuma cincinnya sendiri yang ‘asli’. Pertengkaran itu pasti akan berkelanjutan, bila mereka tidak segera menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu pasti membuat hati mendiang ayah mereka terluka dan amat berduka. Terlebih lagi, alangkah bodohnya yang mereka lakukan itu! Bertengkar menguras enerji dan emosi untuk hal yang tak dapat mereka buktikan! Akhirnya kembali ke akal sehat mereka. Mereka masing-masing bertekad merawat cincin mereka masing-masing. Tanpa mempersoalkan, apalagi mempertengkarkan, mana yang ‘asli’ dan mana yang ‘palsu’. Sebab mengenai ini, hanya ayahanda tercinta saja yang mengetahuinya. Untuk apa ‘dongeng’ tersebut? Untuk menolong kita memasuki pembicaraan yang akan cukup rumit dan peka. Yaitu, ketika Redaksi Penuntun meminta saya menunjukkan mana di antara ketiga ‘cincin’ itu yang ‘asli’. Melalui dongeng di atas saya telah memberikan pratanda apa yang bakal menjadi jawab saya nanti. Yang pertama-tama ingin saya katakan adalah, permintaan itu aneh tetapi wajar. Bahkan, saya yakin, apa yang diminta itu, adalah pertanyaan sebagian besar pembaca juga. Yaitu, setelah artikel-artikel mengenai ajaran keselamatan dari pelbagai macam agama / kepercayaan itu, kita pasti bertanya: manakah yang benar di antara ajaran yang berbeda-beda itu? Begitu lazimnya pertanyaan itu, sehingga banyak orang tidak merasa perlu bertanya terlebih dahulu: Tepatkah pertanyaan itu? Dan mungkinkah menjawab pertanyaan itu? Ternyata cukup banyak juga yang menjawab: ‘Ya! Pertanyaan itu bukan cuma tepat, tetapi juga perlu!’ Termasuk dalam kelompok ini, adalah sebagian besar pemimpin serta penganut agama (Anda juga?). Yaitu ketika dengan keyakinan yang tidak dibuat-buat, mereka berkata, ‘Anda mau tahu mana yang benar dari antara ajaran yang bermacam-macam itu? Ya agama saya! Apa lagi?!’ Bila Anda mendengar jawaban seperti itu, anjuran saya adalah jangan mendebatnya. Mengapa? Sebab yang saya bayangkan adalah, Anda pasti akan bertanya: ‘Dari mana dan bagaimana Anda tahu bahwa cuma agama Anda yang benar?’. Iya ‘kan?” (hal 170,171).

“Orang-orang ini (dalam ilmunya) ‘memperbandingkan’ agama-agama tapi tidak ‘mempertandingkan’nya. Mereka tidak berminat untuk mencari mana yang lebih benar dan lebih unggul. Dan semua itu dilakukan dengan seilmiah serta seobyektif mungkin. Sebab itu biasanya enak dan mengasyikkan berdiskusi dengan orang-orang dari kelompok ini! Toleran, terbuka, dan simpatik! Berbeda dengan kelompok pertama.” (hal 173).

“Dengan tetap menghormati kekhasan masing-masing agama, kita harus tetap mengatakan bahwa semua agama ada pada dataran yang sama. Ada perbedaan, namun (dalam bahasa Inggris) ‘they are different in degree, but not in kind’. Berbeda dalam banyak hal, tapi tidak dalam hakikat. Secara hakiki, semua adalah satu kategori.” (hal 174).

“Dengan membuat perbandingan itu, kita dipaksa dan dilatih untuk terbuka dan rendah hati. Di samping itu, manfaat yang sering tidak kita sadari adalah: kita tidak hanya dibuat lebih mengenal kepercayaan orang lain, tetapi juga kepercayaan kita sendiri. Kita hanya dapat membuat perbandingan, apabila kita mengenal dengan baik dan dengan benar ajaran sendiri maupun ajaran orang lain, bukan? Sayang sekali, bagi banyak penganut agama polemik dan apologetik masih lebih digemari ketimbang perbandingan dan dialog. Padahal, dengan polemik dan apologetik, tanpa sadar kita terdorong untuk melebih-lebihkan diri sendiri dan mencari-cari atau menekan-nekankan kelemahan orang lain. Sikap yang tidak kristiani, bukan? Tanpa sadar kita tergiring untuk semakin menutup diri. Kehilangan kesempatan untuk belajar dari kekurangan diri sendiri dan kelebihan orang lain. Kehilangan kesempatan untuk diperkaya oleh orang lain dan sekaligus menjadi berkat bagi orang lain! Sayang sekali! Tapi itu yang sering terdengar. ‘Orang Kristen tidak perlu belajar apa-apa dari siapa-siapa! Kita sudah punya Yesus!’ Menarik sekali kata-kata ini! Tetapi naif! Sebab justru bila Anda benar-benar sudah punya Yesus maka, seperti Dia, Anda akan tahu apa artinya kerendahan hati dan ‘mengosongkan diri’, terbuka untuk belajar dari siapa saja! Justru bila Anda benar-benar sudah punya Yesus, Anda akan dapat mendemonstrasikan iman yang seperti kanak-kanak bukan iman Farisi yang penuh dengan keangkuhan hati!” (hal 174-175).

Terlihat bahwa Eka Darma Putera sangat toleran bukan? Tetapi sekarang perhatikan tanggapan Pdt. Budi Asali terhadap tulisan itu :

  1. Cerita tentang raja, 3 anaknya dan cincin, dikatakan oleh penulis ini sebagai pratanda terhadap jawabannya terhadap pertanyaan: ‘mana agama yang benar?’ Ini secara implicit menunjukkan bahwa penulis sesat ini beranggapan bahwa kita tidak bisa mengetahui mana agama yang benar dan mana agama yang salah. Pandangan semacam ini jelas merupakan pandangan sesat yang bukan hanya bertentangan dengan Alkitab, tetapi juga merendahkan dan tidak mempercayai Alkitab. Alkitab sendiri menyatakan bahwa Kitab Suci kita bermanfaat untuk menyatakan kesalahan dan mendidik orang dalam kebenaran (2Tim 3:16). Dan Alkitab juga menyatakan bahwa Yesus mengclaim diriNya sebagai ‘jalan, kebenaran dan hidup’ sehingga tanpa Dia tak seorangpun sampai kepada Bapa (Yoh 14:6). Saya bertanya-tanya dalam hati saya sendiri: apa makna ayat-ayat seperti itu bagi Eka Darmaputera?
  2. Orang sesat ini mengatakan bahwa ‘berapologetik’ merupakan ‘sikap yang tidak Kristiani’! Ada 2 hal yang ingin saya persoalkan tentang hal ini. Yang pertama: mungkin karena ia terlalu banyak belajar dari orang agama lain, maka ia tidak mempunyai waktu untuk membaca / mempelajari Kitab Sucinya sendiri, sehingga ia belum pernah membaca atau menyelidiki 1Pet 3:15b yang berbunyi: “Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu”. Perlu diketahui bahwa kata ‘pertanggungan jawab’ dalam 1Pet 3:15b ini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani APOLOGIAN, dari mana kata ‘Apologetik’ berasal! Ini berarti bahwa ayat ini justru mengharuskan orang Kristen untuk berapologetik! Juga kalau kita melihat kehidupan dan pelayanan Paulus maupun Stefanus dalam Kisah Para Rasul, maka kita akan melihat bahwa mereka sering berdebat / berapologetik (Kis 6:8-10  Kis 9:22,29 dsb). Yang kedua: sebetulnya dengan mengatakan bahwa berapologetik merupakan sikap yang tidak Kristiani, dan juga dengan memberikan cerita tentang raja dan ke 3 anaknya itu, maka ia sendiri sudah berapologetik. Ia berapologetik bahwa orang Kristen tidak boleh berapologetik! Bukankah ini menggelikan dan bodoh? Tidak usah heran bahwa ia bisa sampai pada kesimpulan bodoh seperti itu, karena apologetiknya tidak menggunakan Kitab Suci tetapi hanya menggunakan sebuah dongeng Hindu!
  3. Juga ‘berapologetik’ sama sekali tidak berarti ‘melebih-lebihkan diri sendiri, ataupun mencari-cari dan menekan-nekankan kelemahan orang lain’, tetapi ‘membela ajaran Kristen terhadap serangan pihak non Kristen’, bukan hanya dengan tujuan menguatkan orang-orang Kristen terhadap serangan pihak luar, tetapi sekaligus untuk memberitakan Injil terhadap si penyerang dan mempertobatkannya / menyelamatkannya (ini jelas mempunyai motivasi kasih!). Dan dalam berapologetik harus ada sikap jujur dan tulus, bukan ‘melebih-lebihkan diri sendiri, ataupun mencari-cari dan menekan-nekankan kelemahan orang lain’, yang secara implicit menunjukkan suatu sikap yang tidak jujur. Dengan memberi definisi seenaknya tentang apologetik, penulis ini ingin orang mempercayainya bahwa berapologetik itu tidak baik!
  4. Orang sesat ini mengatakan bahwa ‘semua agama ada pada dataran yang sama. ... Berbeda dalam banyak hal, tapi tidak dalam hakikat. Secara hakiki, semua adalah satu kategori.’. Ini menunjukkan bahwa ia tidak mengerti inti kekristenan maupun agama lain, yang jelas bukan hanya berbeda tetapi bahkan bertolak belakang!
  5. Hal lain yang perlu dibahas dari kata-kata di atas adalah kata-kata “justru bila Anda benar-benar sudah punya Yesus maka, seperti Dia, Anda akan tahu apa artinya kerendahan hati dan ‘mengosongkan diri’, terbuka untuk belajar dari siapa saja!”. Lagi-lagi orang sesat ini rupanya tidak pernah mempelajari kata-kata Yesus yang berkata kepada murid-muridNya : “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepa-damu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Mat 7:15). “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki” (Mat 16:6). Bandingkan juga dengan Mat 16:12 yang menunjukkan bahwa kata ‘ragi’ di sini menunjuk pada ‘ajaran’. “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!” (Mat 24:4). Dari ayat-ayat ini terlihat dengan jelas bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan ‘kerendahan hati / pengosongan diri’ dalam arti ‘terbuka untuk belajar dari siapa saja’! Bdk. juga dengan 1Yoh 4:1-3.
  6. Mengatakan bahwa kita perlu belajar dari orang beragama lain, sekalipun seolah-olah merupakan sikap yang rendah hati tetapi sebetulnya merupakan sikap yang merendahkan Kitab Suci kita sendiri. Kitab Suci kita adalah Firman Allah yang sudah lengkap, dan juga merupakan satu-satunya Firman Allah. Karena itu, dalam persoalan kebenaran rohani, kita tidak perlu belajar dari orang yang beragama lain! Kita tentu harus terbuka dalam arti mau mengadakan diskusi / dialog dengan orang beragama lain, tetapi tujuannya bukan untuk belajar kebenaran rohani dari mereka, tetapi sebaliknya untuk mengajarkan kebenaran rohani kepada mereka, atau dengan kata lain, untuk memberitakan Injil dan mempertobatkan mereka!

Jadi jelas apa yang diajarkan Eka Darma Putera adalah toleransi yang salah! Bertoleransilah dalam hal-hal yang lain, tetapi janganlah bertoleransi dalam urusan kebenaran dan kesesatan. Ingat, dalam menghadapi para pengajar sesat, Paulus sama sekali tidak bertoleransi dengan mereka. Bahkan ia mengutuk mereka.

Gal 1:8-9 – (8) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. (9) Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.
Jangan sampai kita seperti jemaat Tiatira yang dikecam oleh Tuhan maupun jemaat Korintus yang dikecam oleh Paulus karena sabar terhadap pengajar-pengajar sesat.

2 Kor 11:4 - Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima

Tetapi hendaklah kita seperti jemaat Efesus yang dipuji oleh Tuhan :

Wah 2:2 – “… Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.

Maukah saudara?


- AMIN -







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Share it