24 September 2012

SOLA FIDE


Oleh : James Lola, S.Th




Sadar atau tidak sadar, Kekristenan berkembang oleh karena adanya banyak persolan yang muncul entah itu persoalan yang datang dari luar kekristenan maupun persoaln yang muncul dalam internal Kekristenan. Persoalan yang muncul dari luar kekristenan kebanyakan lebih menyerang atau merongrong eksistensi kekristenan sebagai sebuah agama, sedangkan yang muncul dari dalam lebih banyak merongrong persoalan esensi kekristenan sebagai sebuah iman yang teguh yang mengakui percaya kepada Allah Tritunggal, kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan juga terhadap Alkitab yang dipercaya sebagai pemyataan Allah yang mutlak tidak dapat salali (Innerancy dan Infalibility)

Sejarah memperlihatkan, sejak kekristenan menjadi agama Negara atau lepas dari penganiayaan kekaisaran Romawi yaitu sejak Kaisar Konstantinus memerintah sebagai Kaisar Romawi pada tahun 312, maka pada saat itu juga persoalan internal mengenai kepercayaan dan ajaran kekristenan (dogmatika) mulai juga merebak. Dimulai dengan persolan mengenai kedua Kristus yang disulut oleh seorang uskup Aleksandria yaitu Arius dan dilawan oleh Athanasius yang pokok persoalannya adalah apakah Kristus adalah Allah seutuhnya dan juga manusia seutuhnya, menyusul pada persoalan mengenai kedua natur-Nya, apakah kedua natur itu bercampur menjadi satu atau terpisah.

Eksistensi Yesus sebagai Tuhan terus dipertanyakan sepanjang abad mula-mula hinggapada tahun 1095 sebelumPerang salib diserkan oleh Paus Urbanus II , tercatat ada begitu banyak konsili (pertemuan) yang diadakan untuk membahas mengenai keberadaan Kristus sebagai Tuhan, tetapi sejarah terus meperlihatkan bahwa Iman yang sejati akan tetap bertahan sekalipun terus diserang. Mengutip pernyatan Pdt. Dr. Stephen Tong bahwa kebenaran akanmembuktikan dirinya sendiri benar tanpaperlu dibantu.

Pada tahun 1095, ketika perang salib didengungkan maka konsentrasi kekristenan bukan lagi pada persoalan mengenai Kristus tetapi lebih kepada eksistensi Gereja dan Paus sebagai pemimpin tertinggi dan juga sebagai pengambil keputusan bagi semua umat manusia bahkan sebagai lembaga yang dapat mengampuni dosa manusia. Hal inilah yang pada akhimya nanti melahirkan sebuah gerakan reformasi di dalam Gereja yang dimulai oleh seorang bernama Marthin Luther (1483-1546) dengan lima seruannya yang terkenal yaitu Sola Gratia (hanya Karena anugerah, manusia diselamatakan), Sola Fide (hanya karena Iman manusia dibenarkan), Sola scriptura (hanya Alkitab wahyu Allah yang sejati), Sola Christo (hanya Kristus sumber keselamatan manusia) dan Soli Deo Gloria (segala kemuliaan hanya bagi Allah).

Berbicara tentang Sola Fide (hanya karena Iman) pada saat ini menimbulkan begitu banyak pertahyaan yang cukup pelik dalam iman Kristen karena defenisi iman (baca sola Fide) Martin Luther pada saat ini dianggap tidak relevan lagi bagi sebagian umat Kristen karena konsep sola Fide (pembenaran oleh iman) dianggap menimbulkan banyak kontroversi dan hanya menimbulkan perpecahan dalam persepsi dan kepercayaan iman kristen.

Persoalan pertama yang muncul dalam membicarakan tentang konsep sola fide Martin Luther adalah Apa itu iman? Pertanyaan ini muncul karena bagi sebagian orang konsep iman tidak lebih dari sekedar sebuah pelarian dari ketidakmampuan intelektual untuk mendefenisikan dan menjelaskan tentang semua fenomena yang terjadi di dalam dunia ini seperti konsep David Hume yang menganggap bahwa iman atau kepercayaan kepada Tuhan hanyalah hanya sebuah pelarian dari usaha manusia yang sia-sia karena ketidakmampuan memahami beberapa persoalan, atau dari keahlian takhayul rakyat yang karena tidak dapat membela diri secara terbuka. Hume menyebut usaha atau kepercayaan terhadap Allah ini sebagai suatu usaha menanam semak berduri yang merintangi kemampuan manusia dan yang menutup dan melindungi semua kelemahan manusia.

Persoalan kedua yang muncul ketika berbicara tentans; pembenaran oleh iman adalah Iman seperti apakah yam membenarkan manusia dihadap an Allah? Karenajika ditilik dengai kasat mata maka semua manusia dan semua agama mengakui bahw; mereka juga memiliki iman yang benar sehingga kita perlu meliha semua konsep iman tersebut dan di komparasikan dengan kebenarai dan bukti Alkitab bahwa iman Kristen berbeda dan unik dari semu; konsep iman yang berada di luar kekristenan. Persoalan ketig; adalah apakah iman dapat selaras dengan pemikiran logika manusia'.

A.    Pengertian Iman.

Apakah arti dari iman itu? Di dalam kebudayaan kita seringkali diartikan secara salah, yaitu sebagai kepercayaan yang membabi-buta atau percaya pada sesuatu yang tidak masuk akal. Apabila kita menyebut iman Kristen sebagai suatu "iman yang membabi-buta", hal ini bukan saja merendahkan orang Kristen tetap suatu penghinaan terhadap Allah. Pada waktu Alkitab berkatt tentang kebutaan, istilah itu digunakan untuk menggambarkan orang yang oleh karena dosa, orang itu berjalan di dalam kegelapan. Kekristenan mengeluarkan orang dari kegelapan, bukan ke dalam kegelapan. Iman merupakan lawan dari kebutaan, bukan penyebab dari kebutaan.

Akar dari istilah iman adalah "percaya." Percaya kepada Allah bukan merupakan suatu tindakan yang berdasarkan pada kepercayaan yang tidak beralasan. Allah menyatakan Diri-Nya sendiri sebagai Pribadi yang patut dipercayai. Dia memberikan alasan yang cukup bagi kita untuk mempercayai-Nya. Dia membuktikan bahwa Dia setia dan layak untuk mendapatkan kepercayaan kita.

Ada perbedaan yang sangat besar antara iman dan kesediaan untuk mempercayai walaupun tidak cukup meyakinkan. Kesediaan untuk mempercayai walaupun tidak cukup alasan untuk mempercayainya merupakan suatu hal yang bersifat takhyul dan spekulatif. Iman dibangun di atas dasar alasan yang sudah dipikirkan dengan matang, koheren, konsisten, dan bukti empiris yang absah. Petrus menulis : "Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dari kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai Raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya." (2Petrus 1:16).

Kekristenan tidak didasarkan pada mitos dan dongeng, tetapi atas dasar kesaksian dari mereka yang melihat dengan mata kepala sendiri dan mendengar dengan telinga mereka sendiri. Kebenaran dari Injil didasarkan pada peristiwa-peristiwa sejarah. Apabila kejadian dari peristiwa-peristiwa itu tidak dapat dipercayai, maka pada dasarnya iman kita itu sia-sia saja. Tetapi, Allah tidak meminta kita untuk mempercayai sesuatu berdasarkan suatu mitos.

Dalam bahasa Yunani kata iman" menggunakan kata Yunani pistis yang artinya kesetiaan {fidelity) atau conviction of the truth of anything (pendirian/keyakinan akan kebenaran sesuatu). Ibrani memberikan definisi tentang iman: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1) Iman merupakan esensi dari pengharapan kita akan masa yang akan datang. Hal itu berarti bahwa kita percaya kepada Allah untuk masa yang akan datang berdasarkan iman kita pada apa yang telah dicapai oleh Allah pada masa lampau. Untuk percaya bahwa Allah akan terus dapat dipercaya, bukanlah merupakan suatu iman yang didasarkan pada kemurahan kita. Ada alasan yang kuat bagi kita untuk percaya bahwa Allah akan setia untuk menggenapi janji-janji-Nya sama dengan kesetiaan-Nya di masa yang lalu. Ada alasan, yaitu suatu alasan yang pasti, bahwa pengharapan itu sudah pasti akan kita dapatkan.

Iman sebagai bukti dari segala sesuatu yang tidak terlihat memiliki keutamaan tetapi bukan suatu referensi eksklusif untuk masa yang akan datang. Tidak ada seorang pun yang memiliki sebuah bola kristal yang dapat bekerja dengan baik. Kita semua berjalan ke masa yang akan datang dengan iman, bukan dengan penglihatan. Kita dapat berencana dan membuat proyeksi-proyeksi, tetapi ramalan kita yang paling baik pun pada dasarnya di dasarkan pada prakiraan yang telah kita pelajari. Tidak ada seorang pun di antara kita mempunyai pengetahuan berdasarkan pengalaman di masa yang akan datang. Kita memandang saat ini dan dapat mengingat kembali masa yang lalu. Kita adalah ahli pengetahuan berdasarkan pada pengalaman yang telah terj adi. Satu-satunya bukti yang kuat untuk masa depan kita terdapat pada j anji-j anji Allah. Di sini iman menawarkan bukti untuk segala sesuatu yang tidak terlih'at. Kita percaya kepada Allah untuk hari esok.

Kita juga percaya bahwa Allah ada. Dan meskipun Allah sendiri tidak kelihatan, Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa Allah yang tidak terlihat ini telah menyatakan diri-Nya melalui apa yang dapat dilihat (Roma 1:20). Meskipun Allah tidak dapat dilihat oleh kita, kita percaya bahwa Dia ada oleh karena Dia telah menyatakan diri-Nya dengan jelas di dalam ciptaan dan di dalam sejarah. Iman mencakup percaya di dalam Allah. Namun, iman yang demikian tidaklah patut dipuji. Yakobus menulis: "Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar." (Yakobus 2:19). Hal ini merupakan tulisan yang cukup tajam dari Yakobus. Untuk percaya pada keberadaan Allah, hanya dapat disamakan dengan kepercayaan iblis. Adalah satu hal kita percaya kepada Allah, dan merupakan hal lain untuk mempercayai Allah. Percaya kepada Allah, berarti mempercayakan seluruh aspek kehidupan kita kepada Dia, ini merupakan esensi dari iman Kristen.

Jadi dalam hal ini konsep iman bukanlah hanya sekedar pelarian dari ketidakmampuan intelektual melainkan justru sebaliknya konsep pembenaran hanya oleh Iman (sola Fide) merupakan pemenuhan dan jawaban yang final terhadap semua persoalan yang terj adi dalam kehidupan.

B.     Iman Seperti Apa yang membenarkan manusia?

Luther melandasi pemikirannya bahwa manusia di benarkan oleh iman yang diberikan oleh Allah karena manusia telah mengalami kerusakan total (Total Depravity) sehingga manusia tidak dapat lagi memperoleh keselamatan, manusia hanya dapat memperoleh keselamatan dari Tuhan yaitu melalui iman yang dianugerahkan Allah. Tetapi konsep Martin Luther ini mendapat begitu banyak tantangan apa dengan iman saja sudah cukup membuat manusia dapat dibenarkan, dan bagaimana relasi antara konsep pembenaran oleh iman Martin Luther ini yang diambil dari konsep Rasul Paulus dapat disejajarkan dengan konsep perbuatan menurut Yakobus bahwa manusia dibenarkan oleh karena perbuatan? (Yakobus 2:24).

Bahkan menurut paham Roma-Katolik konsep pembenaran hanya oleh iman Martin Luther ini agak sedikit dipaksakan karena menurut mereka Alkitab sendiri melarang konsep Sola Fidenya Martin Luther. Sehingga pertanyaan iman seperti apakah yang menyelamatkan manusia menjadi begitu urgensi untuk mempertahankan kepercayaan Iman Kristen yang sejati bahwa manusia sesungguhnya manusia sebelum dilahirkankembali adalah manusia yang tidak dapat berbuat apa-apa karena original sin (dosa asal) telah membuat semua keinginan yang ada dalam diri manusia hanyalah keinginan untuk berbuat dosa saja, bahkan dapat dikatakan bahwa semua perbuatan baik manusia yang dilakukan diluar Kristus dipehitungkan sebagai dosa.

Sejak Martin Luther mengajarkan dan menyerukan bahwa pembenaran hanya berdasarkan iman, dan bahwa iman merupakan suatu kondisi yang diperlukan untuk keselamatan, maka merupakan suatu keharusan bagi kita untuk mengerti apa yang dimaksudkan dengan iman yang menyelamatkan itu. Yakobus menjelaskan dengan jelas apa yang bukan iman yang menyelamatkan: "Apakah gunanya saudara-saudara, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" (Yakobus 2:14). Di dalam ayat ini Yakobus membedakan antara iman yang diakui dengan realitas dari iman itu sendiri. Siapa saja dapat mengatakan bahwa ia memiliki iman. Memang kita diperintahkan untuk mengakui iman kita secara terbuka, namun pengakuan semata-mata tidak akan menyelamatkan siapa pun. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa seseorang mampu memuliakan Kristus dengan mulut mereka, tetapi pada saat yang sama hatinya jauh dari Dia. Pengakuan yang hanya dibibir saja, tanpa adanya manifestasi  dari buah iman, bukan merupakan iman yang menyelamatkan.

Iman bukanlah sesuatu yang berhenti pada konsep, ide dan gagasan; iman mesti membuah dalam tindakan. Paulus dan Yakobus telah melihat iman dalam konteks dan perpektif yang khas, sehingga mereka seolah-olah dipersepsi sebagai tokoh-tokoh yang membuat dikotomi antara iman dan perbuatan. Keduanya sebenarnya ingin memberi jawab secara kontekstual terhadap masalah yang dihadapi, sebab itu tidak boleh membawa kita yang hidup sekarang ini terj atuh pada sikap dikotomis antara iman dan perbuatan. Iman mesti berbuah dalam perbuatan dan perbuatan mesti berakar pada iman. Iman dan perbuatan adalah sesuatu yang inheren dan integral. Manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatan mereka bukan hanya karena iman (Yak. 2:24)".

Teologi protestan mengakui bahwa iman merupakan alat yang menyebabkan pembenaran, dengan demikian iman merupakan alat dimana karya Kristus teraplikasi di dalam diri kita. Teologi Roma Katolik mengajarkan bahwa baptisan merupakan penyebab utama untuk pembenaran dan bahwa sakramen pengakuan dosa merupakan penyebab kedua, dalam kaitan dengan pemulihan. (Teologi Roma Katolik melihat pengakuan doa sebagai tingkat kedua dari pembenaran bagi mereka yang telah menghancurkan jiwa mereka, yaitu mereka yang telah kehilangan anugrah pembenaran karena melakukan dosa yang fatal, seperti membunuh). Sakramen pengakuan dosa menuntut usaha pemuasan dimana umat manusia mencapai usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan pembenaran. Pandangan Roma Katolik menerima bahwa pembenaran berdasarkan iman, tetapi menyangkali bahwa pembenaran itu hanya berdasarkan iman. Dengan kata lain, perbuatan- perbuatan baik perlu ditambahkan untuk dapat dibenarkan.

Iman yang membenarkan adalah iman yang hidup, bukan iman pengakuan yang kosong. Iman merupakan kepercayaan yang bersifat pribadi yang bergantung kepada Kristus saja untuk keselamatan. lman yang menyelamatkan juga merupakan iman pertobatan yang menerima Kristus sebagai Juruselamat dari Tuhan. Alkitab mengatakan bahwa kita tidak dibenarkan oleh karena perbuatan- perbuatan baik kita, tetapi dengan apa yang diberikan kepada kita berdasarkan iman, yaitu kebenaran Kristus. Sebagai sintesis, sesuatu yang baru ditambahkan pada sesuatu yang dasar. Pembenaran kita merupakan sintesis, oleh karena kita memiliki kebenaran Kristus yang ditambahkan kepada kita. Pembenaran kita adalah berdasarkan imputasi (pelimpahan), yang artinya Allah memindahkan kebenaran Kristus kepada kita berdasarkan iman. Ini bukan merupakan "legal yang bersifat fiksi." Allah telah melimpahkan kepada kita karya Kristus yang nyata, dan sekarang kita telah menerima karya-Nya. Ini merupakan pelimpahan yang nyata. Iman Kristen adalah iman yang lahir dari Allah bukan karena hasil usaha manusia, Iman Kristen juga bukan hanya sekedar Iman yang mengaku di mulut saja tetapi justru merupakan Iman yang menyelamatkan karena Iman tersebut ditunjukkan melalui perbuatan sehari-hari atau dengan kata lain iman yang berbuah dalam perbuatan.

C.    Iman yang selaras dengan logika manusia

Iman tidak hanya berarti mempercayakan diri, jadi iman sejati berarti mempercayakan diri kepada Kristus. Apakah iman hanya meliputi unsur mempercayakan diri saja ? tiga unsur iman sejati yakni,

1.      Mengandung unsur kognitif/pengetahuan.

Banyak orang Kristen mengira bahwa iman tidak memerlukan rasio, karena rasio bertentangan dengan iman dan begitu sebaliknya. Tetapi benarkah demikian ? Unsur iman pertama ini jelas-jelas menentang konsep tersebut. Iman tidak meniadakan rasio. Di dalam iman ada rasio. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah mengajarkan bahwa iman adalah penundukkan/pengembalian rasio kepada Kebenaran Allah. Jadi, sangat tepatlah perkataan dua tokoh theolog besar ini, yaitu, Bapa Gereja Augustinus yang mengajarkan bahwa karena/melalui iman, saya dapat mengerti (Latin : credo ut intelligam) dan theolog Reformed, Dr. Francis A. Schaeffer, "I do what I think and I think what I believe." (saya melakukan apa yang saya pikir dan saya berpikir apa yang saya percaya) yang berarti iman membentuk pemikiran kita dan pemikiran kita akhirnya membentuk cara tindakan kita. Iman sejati yang bertumbuh bukan hanya bertumbuh di dalam kualitas kesucian, tetapi juga bertumbuh teras-menerus di dalam pengenalan akan Firman Allah (Efesus 4:13, "sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,").

Kedewasaan iman dapat diukur salah satunya dari keseriusan seseorang mempelajari dan menggali kebenaran Firman Allah (Alkitab) secara serius, teliti dan bertanggungjawab. Apakah ini berarti iman hanya mengandalkan rasio dan bukan pada afeksi, dll ? TIDAK. Iman perlu menggunakan logika/rasio, tetapi tidak memberhalakannya.

2.      Mengandung unsur persetujuan (approval).

Apakah iman hanya mengandung unsur kognitif atau menguasai rasio saja? TIDAK! Selain rasio, iman melangkah lebih dalam lagi yaitu meliputi unsur persetujuan (persetujuan terhadap sesuatu yang bersifat supranatural). Apa yang disetujui ? Persetujuan bahwa : pertama, ada Allah. Kedua, manusia yang telah diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya telah jatuh ke dalam dosa. Ketiga, Allah yang mengasihi manusia dengan mengutus Kristus untuk menebus dosa-dosa manusia pilihan-Nya. Keempat, Roh Kudus melahirbarukan umat pilihan-Nya sehingga mereka dapat menerima Kristus. Kelima, Roh Kudus yang sama memakai Alkitab sebagai satu-satunya Kebenaran yang memimpin iman kita semakin sempurna seperti Kristus. Kelima poin inilah yang harus disetujui oleh iman sejati. Ketika kelima poin ini tidak ada atau salah satunya tidak ada, maka itu bukan iman sejati.

3.      Mengandung unsur kepercayaan  /mempercayakan diri (trust).

Apakah iman sejati hanya cukup memikirkan hal-hal yang supranatural saja ? TIDAK! Iman sejati juga mengandung unsur mempercayakan diri. Inilah reaksi terakliir dari iman sejati. Iman bukan hanya menguasai rasio dan hal-hal supranatural, melainkan iman juga menuntut tindakan mempercayakan diri yang berkorban sebagai wujud kita benar-benar beriman. Kalau ada orang "Kristen" mengaku di dalam mulut bibir kita bahwa dirinya beriman di dalam Kristus, tetapi tidak ada kerinduan untuk mau mempercayakan diri kepada-Nya, menyangkal diri dan berkorban bagi-Nya (Matius 16:24 ; 10:38), maka orang tersebut tidak layak disebut Kristen, karena Tuhan Yesus bersabda, "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:38). Saya membagi hal ini menjadi dua macam sebagai syarat mengikut Kristus.

Pertama, mempercayakan diri. Pengikut Kristus sejati harus mempercayakan diri di dalam-Nya (Amsal 3:5). Mengapa ? Karena mereka mengerti benar bahwa status mereka adalah pengikut Kristus yang mengakui bahwa tidak ada pemerintah atau raja atau tuan lain di dalam hidupnya kecuali hanya satu, yaitu Kristus! Mempercayakan diri kepada dan di dalam-Nya inilah yang disebut oleh Pdt. Sutjipto Subeno sebagai men-Tuhan-kan Kristus, artinya menjadikan Kristus sebagi satu-satunya Penguasa, Pemerintah, Raja dan Tuhan yang memerintah dan menguasai hidup kita. Dengan kata lain, mereka yang sungguh-sungguh adalah pengikut Kristus akan menyuarakan kebenaran, keadilan, kesungguhan, kejujuran, kesetiaan, dll kepada dunia sebagai wujud Kristus bertahta di dalam hati mereka.

Kedua, mengikut Kristus juga berarti berkorban bagi-Nya. Wujud dari mempercayakan diri kepada dan di dalam-Nya adalah kita mau berkorban bagi-Nya. Perhatikanlah kalimat paradoks dari Tuhan Yesus ini, "Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akanmemperolehnya." (Matius 10:39). Maksud dari kalimat ini adalah kita diperintahkan untuk tetap taat, setia dan berhati-hati, ketika kita hams menderita, karena memang itulah seharusnya menjadi tanggungan kita yang telah mengikut Kristus. Ingatlah, Kristus tak pernah menjanjikan jalan yang lancar/lurus, kehidupan yang kaya, dll ! Barangsiapa yang mengajarkan "Kristus" yang demikian, itu jelas bukan Kristus yang Alkitab beritakan, tetapi "kristus-kristus" lain dan dapat disebut "injil-injil lain" yang diberitakan, sama seperti situasi yang terjadi di dalam jemaat Galatia ketika Paulus menuliskan suratnya (Galatia 1:6-10). Kepada mereka, Paulus memperingatkan dengan keras, "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia." (Galatia 1:8-9).

Jadi dalam hal ini konsep Martin Luther Pembenaran oleh Iman adalah suatu konsep yang bukan dibuat untuk kepentingan diri sendiri tetapi merupakan sebuah konsep yang lahir dari Alkitab sendiri. Dan Luther sebenarnya tidak mengajarkan hanya sebuah kebenaran yang parsial dari doktrin Alkitab karena konsep pembenaran hanya karena Iman (Sola Fide) Martin Luther adalah sebuah doktrin utuh yang diperoleh dari keseluruhan pengajaran Alkitab bahwa manusia dibenarkan hanya oleh Iman, dan Iman yang membenarkan manusia harus menghasilkan buah yang baik. Manusia yang ada di dalam Kristus adalah manusia yang benar secara status tetapi juga harus terus menerus dibenarkan dalam kehidupannya.

Pembenaran dibuktikan oleh kesucian hidup orang. "Sebab siapa yang telah mati (harfiah: dibenarkan), ia telah bebas dari dosa" (Rm. 6:7). Kita telah dibebaskan dari dosa, sehingga dosa tidak lagi menguasai diri kita. Pembenaran di hadapan pengadilan Allah ditujukkan dengan kesucian hidup di dunia ini dihadapan pengadilan manusia. Inilah yang dimaksudkan Yakobus ketika dia menuliskan bahwa kita dibenarkan karena perbuatan-perbuatan kita (Yak. 2:24). Iman yang tidak menghasilkan buah yang baik bukanlah iman yang sejati. Karena itu, keberadaan kita di dalam Kristus akan terlihat melalui keberadaan kita di depan orang. Salam Reformasi...!!! Sola Fide.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini