02 Maret 2013

JIKA YESUS DI DALAM KITA



Saya seorang ahli bedah di Angkatan Tentara Amerika Serikat sewaktu Perang Saudara. Sesudah pertempuran Gettysburg, terdapat beratus-ratus prajurit yang terluka di rumah sakit tempat saya bertugas. Banyak yang harus diamputasi kaki atau lengannya karena luka-luka yang terlalu parah. Ada kalanya kedua-duanya harus diamputasi. Salah seorang dari mereka adalah seorang anak belasan tahun yang baru tiga bulan bergabung dengan angkatan tentara. Karena masih terlalu muda untuk menjadi prajurit, ia didaftarkan sebagai pemain drum. Sewaktu para perawat mau memberikan obat bius sebelum operasi amputasi, ia membalikkan kepalanya dan menolak untuk menerimanya. Ketika mereka memberitahunya bahwa itu adalah perintah dari dokter, ia berkata, "Panggil dokter ke mari." Saya menghampiri tempat tidurnya dan berkata, "Anak muda, mengapa kamu menolak untuk menerima obat bius? Ketika menemukan kamu di medan pertempuran, saya hampir tidak mengangkat kamu karena kamu sudah sekarat. Tapi ketika kamu mencelikkan mata, saya melihat matamu yang biru dan besar. Terlintas di benak saya bahwa entah di mana ada seorang ibu yang sedang memikirkan anaknya. Saya tidak mau kamu mati di medan tempur, jadi saya membawa kamu ke sini. Tapi, kamu sudah kehilangan terlalu banyak darah dan terlalu lemah untuk menjalani operasi ini tanpa obat bius. Sebaiknya kamu izinkan saya untuk memberimu obat bius."

Ia meletakkan tangannya di atas tangan saya, memandang wajah saya dan berkata, "Dokter, suatu hari Minggu, ketika berumur sembilan setengah tahun, saya menyerahkan hidup saya kepada Kristus. Sejak itu saya belajar untuk memercayai-Nya. Saya tahu saya dapat mempercayai-Nya sekarang. Dialah kekuatan saya. Dia akan menopang saya saat Dokter memotong lengan dan kaki saya."

Saya bertanya apakah ia mau meminum sedikit minumum keras untuk meringankan rasa sakitnya. Sekali iagi ia memandang saya dan berkata, "Dokter, ketika saya berumur sekitar 5 tahun, ibu saya berlutut di samping saya seraya merangkul saya dan berkata, 'Charlie, saya berdoa kepada Yesus agar kamu tidak akan pernah mencicipi setetes pun minuman keras. Ayahmu meninggal karena ia pemabuk. Dan saya telah meminta Allah untuk memakai kamu untuk memperingatkan orang lain tentang bahaya minuman keras, dan mendorong mereka agar mengasihi dan melayani Tuhan.' Saya sekarang berusia 17 tahun, dan tidak pernah meminum minuman yang lebih keras dari teh atau kopi. Kemungkinan saya mati dan bertemu dengan Tuhan sangatlah tinggi. Apakah kamu mau mengutus saya ke sana dengan mulut yang berbau minuman keras?"

Saya tidak akan pernah melupakan pandangan anak remaja itu saat ia menatap saya pada waktu itu. Pada waktu situ, saya membenci Yesus, tapi saya menghormati kesetiaan anak remaja itu kepada Juruselamatnya. Tatkala saya melihat betapa ia mengasihi dan mempercayai Dia sampai pada akhirnya, sesuatu menyentuh hati saya. Saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan untuk prajurit lain. Saya bertanya apakah ia mau bertemu dengan pendetanya. Pendeta resimen sangat mengenal anak kecil itu karena ia sering mengikuti pertemuan doa di kamp. Ia memegang tangannya dan berkata, "Charlie, saya kasihan melihat keadaan kamu seperti ini." "Oh, saya tidak apa-apa, Pak," jawab Charlie. "Dokter telah menawarkan obat bius kepada saya, tapi saya memberitahunya saya tidak membutuhkannya. Lalu ia mau memberi saya minuman keras, yang juga saya tolak. Jadi sekarang, jika saya dipanggil Juruselamat saya, saya dapat pergi dengan akal budi yang waras dan sehat." "Kamu tidak boleh mati, Charlie," kata pendeta, "tapi jika Tuhan memanggil kamu pulang, apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan bagimu?" "Pak Pendeta, tolong ambilkan Alkitab yang ada di bawah bantal. Alamat ibu saya ada di dalam dan tuliskan surat kepadanya. Beri tahu dia bahwa sejak saya meninggalkan rumah, tidak sehari pun, baik ketika sedang berbaris di lapangan, di medan tempur, atau di rumah sakit, yang berlalu tanpa saya membaca sebagian kecil firman Allah. Setiap hari saya berdoa agar Tuhan memberkati dia." "Apakah ada hal lain yang dapat saya lakukan bagimu, Anakku?" tanya Pak Pendeta. "Ya, tolong tuliskan surat kepada guru Sekolah Minggu di Gereja Sands Street di Brooklyn, New York. Beri tahu dia bahwa saya tidak pernah melupakan dorongan, nasihat, dan doanya bagi saya. Mereka telah membantu dan menghibur saya selama saya melewati marabahaya di medan pertempuran. Sekarang, saat menjelang kematian saya, saya bersyukur kepada Tuhan untuk guru tua yang sangat saya kasihi, dan meminta Tuhan agar memberkati dan menguatkan dia. Itu saja."

Lalu, ia menoleh kepada saya dan berkata, "Saya siap Dok. Saya berjanji tak akan mengerang ketika Anda memotong lengan dan kaki saya, jika Anda tidak menawarkan saya obat bius." Saya berjanji kepadanya. Tetapi, saya sendiri tidak memiliki nyali untuk mengangkat pisau bedah tanpa terlebih dahulu masuk ke kamar saya dan meminum sedikit minuman keras. Ketika memotong dagingnya, Charlie Coulson tidak pernah mengerang kesakitan. Tetapi ketika saya mengambil gergaji untuk menggergaji tulangnya, ia menggigit ujung bantalnya dan saya dapat mendengarnya berbisik, "O Yesus, Yesus! Sertailah aku sekarang." Ia memenuhi janjinya. Ia tidak mengerang sama sekali.

Malam itu saya tidak dapat tidur. Tidak peduli ke arah mana saya berpaling, saya melihat mata birunya yang lembut itu. Kata-katanya, "Yesus, sertailah aku sekarang," terus berdengung di telinga saya. Sedikit melewati tengah malam, saya akhirnya meninggalkan tempat tidur dan mengunjungi rumah sakit, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya kecuali ada kasus gawat darurat. Saya mempunyai satu kerinduan yang kuat dan aneh untuk melihat anak itu. Ketika tiba di situ, saya diberi tahu oleh perawat bahwa 16 dari prajurit yang luka parah sudah meninggal dunia. "Apakah salah seorang darinya Charlie Coulson?" tanya saya. "Tidak, Pak," ia menjawab, "Charlie sedang tidur manis seperti bayi." Ketika saya mendekati tempat tidurnya, salah seorang perawat memberi tahu saya bahwa sekitar pukul 9 malam, dua anggota YMCA mengunjungi rumah sakit dan menyanyikan lagu-lagu pujian. Pak Pendeta menyertai mereka. Ia berlutut di samping tempat tidur Charlie dan menaikkan doa yang berapi-api dan menyentuh jiwa. Lalu, tetap dalam keadaan berlutut, mereka menyanyikan lagu "Yesus, kekasih jiwaku." Charlie bernyanyi bersama mereka. Saya tidak dapat mengerti bagaimana anak itu, yang dalam kondisi sangat kesakitan, dapat menyanyi."

Lima hari setelah saya melakukan operasi tersebut, Charlie memanggil saya, dan dari dialah saya pertama kali mendengar pesan Injil. "Dokter," ia berkata, "Waktu saya sudah hampir tiba. Saya tidak mungkin dapat melihat mata-hari terbit besok. Saya mau mengucapkan terima kasih dengan segenap hati saya untuk kebaikan Dokter. Saya tahu Dokter seorang Yahudi dan tidak percaya pada Yesus. Tetapi, saya mau Dokter tetap tinggal bersama saya dan melihat saya mati dan terus mempercayai Juruselamat saya hingga ke saat terakhir hidup saya." Saya mencoba untuk tetap bersamanya, tetapi saya tidak dapat. Saya tidak punya nyali untuk berdiri di situ melihat anak Kristen bersukacita dalam kasih Yesus yang saya benci, saat maut menjemputnya. Jadi saya terburu-buru meninggalkan kamar itu. Sekitar 20 menit kemudian, seorang perawat menemukan saya di kamar dengan tangan saya menutupi wajah saya. Ia memberi tahu saya bahwa Charlie mau bertemu dengan saya. "Saya baru saja menjenguknya tadi," saya menjawab, "Dan saya tidak dapat melihatnya lagi." "Tapi Dokter, dia berkata dia harus melihat Dokter sekali lagi sebelum mati." Jadi saya memutuskan untuk pergi dan bertemu dengan Charlie, mengucapkan sedikit kata-kata kasih sayang dan membiarkan dia mati. Bagaimana pun, saya bertekad bahwa tidak ada apa pun yang dia katakan tentang Yesusnya yang akan memengaruhi saya.

Ketika masuk kembali ke rumah sakit, saya melihat fisiknya melemah cepat sekali, jadi saya duduk di sampingnya. Dia meminta saya memegang tangannya. Dia berkata, "Dokter, saya mengasihi Dokter karena Dokter orang Yahudi. Teman saya yang paling akrab di dunia ini adalah orang Yahudi." Saya bertanya, siapa teman akrabnya itu. Dia menjawab, "Yesus Kristus, dan saya mau memperkenalkan Dokter kepada-Nya sebelum mati. Apakah Dokter mau berjanji bahwa apa yang akan saya katakan kepada Dokter, tidak akan Dokter lupakan?" Saya berjanji, dan ia berkata, "Lima hari yang lalu, ketika Dokter memotong kaki dan lengan saya, saya berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus dan meminta Dia untuk menunjukkan kasih-Mya kepada Dokter." Kata-kata itu sangat menyentuh hati saya. Saya tidak mengerti bagaimana, saat saya sedang menimbulkan rasa sakit yang begitu dahsyat pada dirinya, ia dapat melupakan dirinya dan tidak memikirkan apa-apa kecuali Juruselamatnya dan jiwa saya yang belum bertobat. Yang dapat saya ucapkan pada dia adalah, "Baiklah, Anakku sayang, kamu akan segera sembuh."

Dengan kata-kata itu saya meninggalkan dia, dan sekitar 12 menit setelah itu, ia tertidur, "aman dalam pelukan Yesus." Beratus-ratus prajurit mati di rumah sakit saya sepanjang perang itu, tetapi saya hanya menghadiri satu pemakaman, yaitu pemakaman Charlie Coulson. Saya bersepeda sejauh 3 blok untuk melihat dia dikuburkan. Saya mengenakan pakaian seragam yang baru pada tubuhnya dan menempatkan dia dalam peti jenazah khusus untuk perwira, dan menutupi peti itu dengan bendera Amerika Serikat. Kata-kata terakhir anak ini meninggalkan satu kesan mendalam dalam diri saya. Saya kaya pada waktu itu. Namun, saya lebih dari rela untuk menyerahkan segala kekayaan saya untuk dapat merasakan perasaan yang Charlie miliki terhadap Kristus. Tetapi, perasaan tersebut tidak dapat dibeli dengan uang. Tidak lama setelah itu saya melupakan khotbah prajurit Kristen ini, tetapi tidak dapat melupakan orangnya. Saat memandang ke belakang, saya sekarang tahu bahwa waktu itu saya berada di bawah cengkeraman rasa bersalah yang sangat mendalam.

Selama hampir 10 tahun saya melawan Kristus dengan segala kebencian seorang Yahudi Ortodoks, sehingga akhirnya doa anak remaja tercinta ini terjawab, dan saya menyerahkan hidup saya kepada kasih Yesus. Sekitar satu setengah tahun setelah pertobatan saya, saya menghadiri satu persekutuan doa pada suatu sore di daerah Brooklyn. Dalam pertemuan ini, orang Kristen sering menyaksikan kasih sayang Tuhan. Setelah beberapa orang selesai menyak¬sikan pengalaman mereka, seorang perempuan tua berdiri dan berkata, "Teman-teman yang kukasihi, ini mungkin kali terakhir saya membagikan kebaikan Tuhan kepada kalian. Kemarin dokter memberi tahu saya bahwa paru-paru kanan saya sudah hampir rusak dan, dan paru-paru kiri juga demikian. Saya hanya tinggal memiliki waktu yang sedikit bersama kalian. Namun, apa yang tersisa pada saya semuanya milik Yesus. Satu sukacita yang besar bagi saya karena tidak lama lagi saya akan bertemu dengan anak saya bersama Yesus di surga. Charlie bukan hanya seorang prajurit bagi negaranya, tetapi juga prajurit Kristus. Dia terluka di pertempuran di Gettysburg, dan dirawat oleh seorang dokter Yahudi, yang mengamputasi kaki dan lengannya. Dia mati 5 hari setelah operasinya. Pendeta resimennya menulis surat kepada saya dan mengirimkan Alkitab anak saya. Saya diberi tahu bahwa saat menjelang kematiannya, Charlie memanggil dokter Yahudi tersebut dan berkata kepada dia, "Lima hari yang lalu, ketika dokter memotong kaki dan lengan saya, saya berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus bagi Dokter." Ketika mendengar perempuan tua itu berbicara, saya tidak dapat berdiam diri. Saya meninggalkan tempat duduk saya, berlari ke arahnya dan memegang tangannya dan berkata, "Tuhan memberkati engkau, saudari yang terkasih. Doa anakmu sudah didengar dan terjawab! Sayalah dokter Yahudi yang didoakan Charlie. Sekarang Juruselamatnya adalah Juruselamat saya juga! Kasih Yesus telah memenangkan jiwa saya!"

UNTUK DIRENUNGKAN: Saat Anda membaca kisah di atas dan meneteskan air mata, Anda tidak sendirian. Saat membaca dan mengedit tulisan ini pun, saya meneteskan air mata. Namun, tetesan air mata yang terindah di hadapan Tuhan adalah air mata pertobatan.

UNTUK DILAKUKAN: "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak balk waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran" (2 Timotius 4:2).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini