09 Juni 2013

PENYALAHGUNAAN PENYERAHAN ANAK, SAKRAMEN BAPTISAN DAN PERJAMUAN KUDUS OLEH PDT. YESAYA PARIADJI

By. Pdt. Budi Asali, M. Div


Selain Penyalahgunaan minyak urapan (Baca pembahasannya di sini : http://id.scribd.com/doc/143854524/MINYAK-URAPAN-PARIADJI-pdf), Pdt. Yesaya Pariadji juga melakukan kesalahan dalam hal upacara penyerahan anak, sakramen baptisan dan perjamuan kudus.

Catatan: Gereja-gereja yang menentang baptisan anak, menggantinya dengan ‘penyerahan anak’. Ini tentu saja tidak ada dalam gereja-gereja yang pro pada baptisan anak. Saya sendiri pro pada baptisan anak, dan saya menganggap bahwa ‘penyerahan anak’ tidak mempunyai dasar Kitab Suci.

Penyalahgunaan yang dilakukan oleh Pdt. Yesaya Pariadji dalam hal-hal ini :

1  Perjamuan Kudus yang penuh kuasa / mujizat untuk membuktikan kuasa darah Yesus.

Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “saya diberikan pelajaran tentang Per-jamuan Kudus dengan ciri-ciri penuh kuasa dan penuh mujizat untuk membuktikan kuasa ‘Darah Yesus’” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi III / Tahun I, hal 10.

Tanggapan saya: Ini sama sekali menyimpang dari tujuan Perjamuan Kudus, karena 1Kor 11:23-26 berkata sebagai berikut: “(23) Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti (24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’ (26) Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”.

Jelas bahwa Perjamuan Kudus bertujuan untuk memperingati dan mem-beritakan kematian Tuhan Yesus bagi kita, bukan untuk menunjukkan kuasa darah Yesus dalam melakukan mujizat!

Juga sepanjang yang saya ketahui dari Kitab Suci, darah Yesus memang mempunyai kuasa dalam mengampuni dosa kita, tetapi tidak pernah dikatakan mempunyai kuasa dalam melakukan mujizat.

2  Sakramen (Baptisan / Perjamuan Kudus) untuk melakukan kesem-buhan.

Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “Jadi kenapa orang sakit bisa sembuh dengan menerima Perjamuan Kudus? Karena darahku telah diurapi dengan darah Yesus yaitu otomatis darah Yesus yang mengalir dalam tubuh kita, itulah yang menyembuhkan” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi V / 2001, hal 13.

Tanggapan saya: Anggur dalam Perjamuan Kudus bukan betul-betul darah Kristus, tetapi hanya merupakan simbol dari darah Kristus. Bagaimana mungkin dengan orang minum anggur itu lalu darah Yesus betul-betul mengalir dalam tubuhnya? Setelah kenaikan Yesus ke surga, manusia Yesus (tubuh, tulang, darah) ada di surga (Kis 3:21), tidak di dunia! Sebagai Allah, Yesus memang maha ada, tetapi sebagai manusia, Ia tidak maha ada.

Kis 3:21 - “Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulih-an segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan peran-taraan nabi-nabiNya yang kudus di zaman dahulu”.

Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “Ir. Chen Ying dari Beijing, bertobat dan dibaptis. Sejak lahir tuli sebelah. Cukup dalam Nama Tuhan Yesus dan dibaptis langsung disembuhkan, langsung mendengar. Dia mencari Boksu di Tiberias untuk di baptis, sebelum kembali ke Beijing” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi II / Tahun I, hal 2.

Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “Lukas, dibebaskan daripada sakit Leuke-mia, setelah Penyerahan Anak dan Perjamuan Kudus” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi II / Tahun I, hal 2.

Tanggapan saya: Ini aneh, belum dibaptis, tetapi hanya diserahkan, kok boleh ikut Perjamuan Kudus? Dalam Perjanjian Lama (Kel 12:44 & 48), orang yang belum disunat (sakramen 1), tidak boleh mengikuti Perjamuan Paskah (sakramen 2). Bukankah ini seharusnya juga berlaku untuk jaman Perjanjian Baru?

Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “Vicky, dinubuatkan Pdt. Pariadji dibebas-kan daripada kutuk pisau operasi pada perutnya, dengan diberikan Perjamuan Kudus” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi II / Tahun I, hal 2.

Tanggapan saya: Lagi-lagi lucu, mengapa pisau operasi disebut sebagai kutuk? Kelihatannya Pdt. Yesaya Pariadji menganggap bahwa penggunaan dokter dan obat merupakan dosa. Kitab Suci tidak pernah menentang penggunaan dokter dan obat.

Selanjutnya.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Share it