10 Juni 2009

BUKU HARIAN NAYLA (Part 1)

Esra Alfred Soru


“Buku Harian Nayla” (BHN) adalah judul sebuah sinetron yang ditayangkan di RCTI tahun 2006 yang lalu. Sinetron ini mendapat perhatian yang luar biasa dari banyak kalangan sekaligus memicu berbagai kritik dan komentar. Pada saat seperti inilah Esra Alfred Soru menuliskan opininya dengan judul “Buku Harian Nayla” yang dimuat di Harian Pagi Timor Express awal 2007 yang lalu. Tulisan ini layak dibaca lagi mengingat pihak RCTI kembali menayangkan sinetron BHN di tahun 2008 ini.


“Buku Harian Nayla” (BHN). Itulah judul sebuah Sinetron produksi SinemArt yang ditayangkan stasiun televisi RCTI menjelang Natal tahun 2006 yang lalu (mulai tanggal 11-26 Desember 2006). Sebuah Sinteron yang banyak mendapat perhatian penonton (terutama kaum ibu dan remaja putri) selain karena jalan ceritanya yang sangat bagus dan menyedihkan (entah ada berapa banyak orang terutama ibu-ibu yang telah mengeluarkan air matanya ketika menonton sinetron ini terutama di bagian endingnya) juga karena mungkin inilah pertama kalinya ada sinetron yang ditayangkan di TV swasta Indonesia yang bernuansa spiritual Kristiani.

Sinopsi

Sinetron BHN yang disutradarai Maruli Ara ini bercerita tentang kisah perjuangan hidup seorang gadis remaja bernama Nayla (Chelsea Olivia Wijaya) menghadapi penyakit ataxia yang dideritanya, penyakit yang mengancam tak hanya keceriaan masa mudanya, tapi juga harapannya di masa depan. Bukan sebuah persoalan mudah, bagi seseorang bila tiba-tiba ia divonis mengidap penyakit ataxia, penyakit yang menyebabkan kemunduran kemampuan fisik seseorang. Secara bertahap ataxia akan membuat penderitanya lumpuh tanpa daya. Padahal selama ini Nayla dikenal sebagai gadis yang selalu ceria, rajin, pintar, jago basket dan aktif dalam berbagai kegiatan termasuk rajin beribadah.

Awalnya kehidupan Nayla memang terlihat sempurna. Hingga deraan cobaan itu datang. Berulang kali Nayla mengalami insiden jatuh, yang tak diketahui penyebabnya. Nayla yang bingung, berkonsultasi kepada dr. Fritz (Steve Emmanuel) yang akhirnya berhasil mendiagnosis bahwa ataxia-lah sebagai penyebabnya. Namun begitu, dr. Fritz merasa tidak tega memberi tahu Nayla apa sesungguhnya yang dideritanya. Ia hanya menyarankan agar Nayla menuangkan hari demi hari yang dilaluinya ke dalam sebuah buku harian (sebenarnya agar ia bisa memantau perkembangan kesehatan Nayla). Hari demi hari Nayla lalui dengan kepasrahan. Kondisinya kian lama kian parah. Namun ia tetap tegar. Termasuk ketika akhirnya ia mengetahui penyakit dan efek samping yang harus dihadapinya kelak. Beruntung Nayla memiliki teman-teman yang selalu setia menemani. Salah satu teman yang akhirnya jatuh cinta pada Nayla dan senantiasa menemaninya adalah Moses (Glen Allinske). Karena itu Nayla pun kian termotivasi untuk terus bertahan hidup, tetap menimba ilmu seperti biasa meskipun harus dibantu kursi roda. Ia pun tetap tegar menghadapi cibiran dan cemoohan orang-orang yang memandang sinis terhadap kondisinya.

Waktu berlalu dengan cepat. Nayla berhasil lulus sekolah. Semua teman Nayla sibuk memikirkan kuliah. Nayla sedih, hal yang bisa menghiburnya hanya menulis buku harian. Sementara itu, Moses akhirnya masuk kuliah kedokteran untuk satu alasan yaitu ingin menyembuhkan Nayla. Sementara itu, walau penyakit Nayla semakin parah, ia tetap tegar menjalani hidup dan tetap menggunakan waktunya untuk mengukir prestasi. Nayla, dibantu Moses mengirimkan tulisan dari buku hariannya ke majalah-majalah hingga akhirnya diterima dan dipublikasikan. Suatu hari di malam Natal, Moses datang membawa surat dari pembaca Nayla. Saat itu Nayla sudah benar-benar lelah berperang dengan penyakitnya. Ternyata banyak pembaca yang menjadi lebih tegar menghadapi hidupnya setelah membaca tulisan Nayla. Itu menjadi bukti bahwa sekalipun sudah tak berdaya secara fisik, Nayla tetap berguna dan menjadi penolong bagi orang lain, sesuai keinginan terbesarnya. Nayla tersenyum bahagia. Tak ada lagi yang perlu dia cari di dunia ini…..Nayla akhirnya menikah dengan Moses meski hubungan cinta mereka awalnya ditentang orang tua Moses. Sayang sekali, ataxia membuat Nayla tidak dapat bertahan lebih lama lagi hingga akhirnya Nayla menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Moses tepat pada hari pernikahan mereka. Nayla pun ’pergi’ dalam iman dan damai. Demikianlah jalan cerita sinetron BHN.

Reaksi Positif

Tak pelak lagi, jalan cerita semacam ini menarik begitu banyak perhatian penonton selain tentunya pula ’menarik’ begitu banyak air mata. Selain itu tembang rohani indah ciptaan Jonathan Prawira (Seperti Yang Kau Ingini) yang dilantunkan Nikita ”...Kutelah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama, semuanya sia-sia dan tak berarti lagi, hidup ini kuletakkan pada mezbah-Mu ya Tuhan, jadilah padaku seperti yang Kau ingini” turut memberikan warna tersendiri bagi drama ini dan tentunya mendapatkan tempat di hati para penonton. Simaklah salah satu surat pembaca yang dimuat di koran Kompas, tanggal 26 Desember 2006 :

”Saya bukanlah orang yang gemar menonton sinetron Indonesia karena menurut saya sinetron Indonesia terlalu bertele-tele yang menyebabkan episodenya sampai puluhan, sangat membosankan, dan juga terlalu ”over” terlebih lagi kebanyakan nyontek dari luar negeri. Kadang saya menemani keponakan saya menonton televisi, saya berpikir apa ada anak SD sampai sejahat itu? Atau anak SMP yang menyiram air keras ke temannya, apakah ada anak sekecil itu bisa berbuat demikian? Apakah ada seorang ibu tiri atau seorang suami yang demikian kejamnya? Tetapi pada saat saya menonton ”BHN”, saya sungguh kagum. Tidak ada yang dibuat-buat, semuanya alami, tidak ada yang ”terlalu jahat”, tidak ada yang ”terlalu baik”, jalan ceritanya tidak bertele-tele. Biasanya seisi rumah paling enggan nonton sinetron, sekarang ini semua menunggu Nayla. Semoga sinetron Indonesia yanhg lain bisa meniru sinetron ”BHN”.

Demikian juga salah satu komentar di internet :

”Saya tertarik dengan ceritanya (BHN) yang tidak mengumbar emosi dan nafsu yang menggambarkan perjuangan anak manusia. Salut buat RCTI ada sinetron mendidik .....Daripada kita nonton sinetron yang tidak bermutu dan tidak mendidik yang isinya cuma selingkuh, kawin cerai, kekerasan dalam rumah tangga, foya-foy,a kehidupan metropolis, tidak ada unsur pendidikannya. Sekali lagi salut buat RCTI ...”

Dan masih banyak lagi komentar-komentar positif yang dapat dijumpai di internet seperti :

”BHN….intinya aku suka hikmah dan pesan yang ada di dalamnya dan aku bersyukur pada Tuhan karena BHN bisa membuat aku lebih bersyukur lagi atas semua berkat-berkat-Nya dalam hidupku. Aku berharap masih masih banyak lagi film-film kayak gini (sinetron Nasrani) yang akan di putar di semua stasiun TV ...”

”Menurutku, BHN memang film yang bagus. Film ini menginspirasikan aku untuk tidak putus asa dalam hal-hal yang bisa aku kerjakan”

”Yach…film ini menurutku bagus banget karena dari film ini kita bisa belajar untuk bersemangat dan bersikap optimis. ...film ini bisa berguna buat orang-orang. Aku sangat suka film ini. Kalo bisa di buat jadi VCD atau DVD ya?”

Itulah sebagian kecil dari komentar-komentar positif tentang sinetron ”BHN”. Bahkan, sebegitu tertariknya sampai-sampai pihak RCTI disesak untuk kembali menayangkan sinetron tersebut sekali lagi sebagaimana bunyi email berikut yang dikirimkan pada pihak RCTI : ”Saya mewakili teman-teman saya memohon agar sinetron ”Buku Harian Nayla” diulang lagi, lagian kan cuma singkat ya....paling 2 mingguan lah. Please... saya mohon, soalnya sinetron itu membuat saya belajar....tolong RCTI ....saya mohon sekali....” Dan akhirnya pihak RCTI pun menayangkan ulang sinetron tersebut.

Hal lain yang menarik adalah meskipun sinetron tersebut bernuansa Kristiani namun rupanya bukan hanya umat Kristiani yang sangat tertarik dengan sinetron tersebut bahkan ada banyak umat agama lain yang tidak melewatkan jalan ceritanya bahkan turut juga ”menyumbang” air mata. Seorang teman saya di Surabaya yang bekerja sebagai guru SD bercerita bahwa hampir setiap hari ia mendengar murid-muridnya yang beragama Muslim bernnyanyi ”...Kutelah mati dan tinggalkan cara hidupku yang lama, semuanya sia-sia dan tak berarti lagi, hidup ini kuletakkan pada mezbah-Mu ya Tuhan, jadilah padaku seperti yang Kau ingini”. Mungkin karena itulah beberapa organisasi Islam menuntut agar pihak RCTI tidak lagi menayangkan sinetron-sinetron bernuansa religius Kristiani seperti BHN. Sungguh, belum ada sinetron yang sangat diminati, ditunggu dan dibicarakan seperti ini sampai-sampai saya pun mengangkatnya dalam opini saya di awal tahun 2007 ini. (Ha...ha...ha...)

Antara BHN & IRnN

BHN memang mendapat sambutan positif sebagaimana yang saya jelaskan di atas, namun sayang sekali bahwa di balik semua keindahan dan pesonanya itu terdapat noda yang membuat BHN juga ditolak, dikritik dan dihujat habis-habisan. Mengapa? Karena ternyata BHN tidak lebih dari sebuah jiplakan/bajakan. Sinetron BHN sebenarnya adalah hasil jiplakan dari sebuah drama Jepang berjudul ”Ichi Rittoru no Namida” (1 リットル) atau yang dalam bahasa Inggrisnya ”One Litre of Tears” (1 Liter Air Mata) yang ditayangkan di Jepang pada tahun 2005 lalu oleh stasiun Fuji TV. Drama ”Ichi Rittoru no Namida” (IRnN) bercerita tentang Aya Ikeuchi, gadis SMU berusia 15 tahun yang menderita penyakit Spinocerebellar Degeneration (Ataxia) yang membuat dirinya kehilangan fungsi otak kecilnya. Penyakit ini mengakibatkan menurunnya kemampuan Aya untuk melakukan kegiatan sehari-hari sebagaimana orang normal. Mula-mula Aya harus keluar dari tim basket karena kemampuannya berjalan dan keseimbangannya kian menurun, kemampuan bicara, berjalan kian merosot hingga akhirnya Aya bahkan tidak dapat memegang pena sekalipun. Penyakit Aya ini berkembang sangat cepat dan Aya perlahan namun pasti menghadapi kematian. Drama ini menceritakan perjuangan Aya untuk tetap bisa menjalani hidupnya dengan sebaik-baiknya, walaupun halangannya bukan main… apalagi menjelang akhir cerita, ketika penyakitnya semakin parah sehinga untuk berbicara saja dia tak mampu dan harus menggunakan papan kata yang ditunjuk memakai jari untuk berkomunikasi. Aya menghembuskan nafas terakhirnya di usia 25 tahun, setelah 10 tahun berjuang melawan penyakitnya. Drama ini diangkat dari sebuah kisah nyata yang dialami oleh Kitou Aya. IRnN atau “One Liter of Tears” (A Diary of with Tears) adalah judul buku diary yang ditulis oleh Aya (1962-1988). Buku harian ini ditulis oleh Aya Kitou selama ia menghadapi penyakitnya itu, ia terus menulis sampai akhirnya ia tak lagi mampu lagi memegang pena dan meninggal pada tanggal 23 Mei 1988 dalam usia 25 tahun. Buku harian Aya ini kemudian diterbitkan dan banyak menginspirasi orang-orang, baik yang menghadapi penyakit yang sama maupun yang bersyukur masih diberi nikmat kesehatan oleh-Nya. Kabarnya buku ini telah terjual 18 juta copy.



Buku “One Litre of Tears”

Dari jalan ceritanya dapat dipastikan bahwa BHN memang telah menjiplak IRnN namun menurut informasi di situs resminya, cerita dan skenario BHN dikatakan ditulis oleh Serena Luna. Sungguh sebuah tindakan yang tidak terpuji. Begitu ketatnya jiplakan tersebut sampai detail-detail dari kisah IRnN tidak terlewatkan. (Lihat gambar di bawah ini : sebelah kiri : Ichi Rittoru no Namida” dan sebelah kanan : BHN).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Share it