21 Juni 2009

YESUS BUKAN ALLAH SEJATI? (3)

Tanggapan Balik Atas Jawaban Frans Donald (FD)

Esra Alfred Soru



Tuhan tapi bukan Allah?

Dalam tanggapannya FD menulis : ”Esra menyatakan bahwa buku saya (ADAA) menyatakan bahwa: Yesus Kristus itu bukan Tuhan ... soal 'Yesus Kristus bukan Tuhan' saya tidak menulis hal itu!....di buku itu dengan sangat tegas sudah saya katakan bahwa 'Yesus adalah Tuhan', Jesus is Lord! tetapi Yesus bukanlah Allah sejati (not The true God)”. Memang benar bahwa dalam tanggapan saya, saya mengatakan bahwa FD tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan memang benar bahwa dalam bukunya FD menyebut Yesus sebagai Tuhan. Ini membuat FD berkata : ”...jelas sekali membuktikan bahwa Pdt. Esra Alfred Soru sama seperti banyak orang kristen dan islam umumnya yang belum bisa memahami dengan benar perbedaan fatal arti antara kata 'Tuhan' (Lord) dengan kata 'Allah' (God). Padahal memahami dua kata tersebut adalah kunci dalam membaca kitab suci”. Benarkah demikian? Tunggu dulu, kita akan mengujinya!

Terjadinya perbedaan di atas semata-mata karena kata ”Tuhan” yang saya pakai sangat berbeda artinya dengan kata ”Tuhan” yang dipakai FD. Kata ”Tuhan” yang saya pakai dalam menyebut Yesus jelas mengandung makna bahwa Ia adalah Allah sedangkan yang dipakai FD sama sekali tidak bermakna bahwa Ia adalah Allah melainkan itu hanya gelar kehormatan saja seperti ’tuan’ Ali atau ’tuan’ Ahmad. Perhatikan penjelasan FD : ”Jadi jelas sebenarnya kata 'Tuhan' dan 'Tuan' tidak ada perbedaan arti, sama-sama berasal dari kata 'adon' atau 'kurios'. Tuhan Yesus = Tuan Yesus, bukan dimaksud Allah Yesus. Dalam bukunya ADAA hal. FD juga berkata : ”Yesus adalah Lord (tuan/pemimpin/utusan Allah) di abad I, tetapi jelas Yesus bukan God (Allah). Memang harus diakui bahwa kata ”tuan/Tuhan” (Ibr : Adonay, Yun : Kurios) sebenarnya adalah istilah yang umum dipakai dalam kebudayaan-kebudayaan kuno di Timur Dekat sebagai sebuah pernyataan penghormatan saja kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya tanpa bermaksud menganggap orang tersebut sebagai Allah. Meskipun demikian hal yang perlu disadari oleh FD adalah masalah perkembangan kata. Ini adalah salah satu prinsip studi kata dalam hermeneutika alkitabiah. Lebih jelasnya saya kutipkan prinsip ini : ”Arti suatu kata terus berkembang, sehingga tidak mengherankan jika konotasi suatu istilah di literatur klasik Yunani berbeda dengan apa yang ditulis oleh penulis Alkitab...” (Hasan Sutanto; Hermeneutik : Prinsip dan Metode Penafsiran Alkitab; SAAT, 2002:215). R.C. Sproul, tentang masalah studi kata ini menulis : ”...sangat penting bagi kita untuk mempelajari konteks pemakaiannya. Ini penting karena kata-kata mengalami perubahan-perubahan makna tergantung bagaimana dan masa dipakainya”. (R.C. Sproul; Mengenali Alkitab; SAAT, 2001: 86). Dengan prinsip ini maka kita harus menyelidiki apakah penggunaan kata ”Tuhan” pada Kristus dalam Alkitab masih seperti pengertian awal kata itu yakni hanya sekedar bentuk penghormatan ataukah sudah mengalami perkembangan makna. Ini kunci untuk mengetahui makna kata ”Tuhan” yang dikenakan pada Kristus. Dan jawaban untuk persoalan ini harus dicari dari dalam Alkitab sendiri dan bukan mengacu pada tulisan Remy Silado seperti yang dilakukan Frans Donald dan juga sekutunya aliran Saksi Yehovah.

Nah jika kita mensurvei seluruh penggunaan kata ”kurios” pada Yesus di seluruh PB maka kita akan dapati 3 penggunaan berbeda. Pertama, kata tsb dikenakan pada Kristus hanya sebagai sapaan penghormatan saja seperti yang dikatakan FD. Contohnya Mat 8:2 : ”Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku" (lihat juga Mat 20:33). Selanjutnya”kurios” juga mulai dikenakan pada Yesus sebagai penyataan kepemilikan dan otoritas tanpa bermaksud menunjukkan apa-apa tentang sifat ilahi-Nya dan otoritas-Nya. Contohnya dalam Mat 21:3 : ”Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya" dan Mat 24:42 : ”Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang”. Dan pada akhirnya kita menjumpai penggunaan kata ini dengan pengertian otoritas tertinggi, menyatakan sifat yang sangat dimuliakan dan kenyataannya secara praktis setara dengan nama Allah. Contohnya Mark 12:36-37 : ”Daud sendiri oleh pimpinan Roh Kudus berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?"...” Daud adalah seorang raja tetapi ia menyebut Mesias sebagai kuriosnya. Kalau begitu siapakah ”kurios” itu? Pastilah Allah sendiri yang memang adalah ”kurios” dari raja Daud. Stephen Tong menulis : Sebutan Tuan (di atas) sebenarnya adalah TUHAN dalam kepercayaan Daud. Jadi TUHAN telah berfirman kepada Tuan dari Daud. Siapakah Tuan dari Daud? Karena Daud adalah raja yang berkuasa atas seluruh bangsa Israel, maka siapakah Tuian dari sang raja itu? Tuanku di sini sebenarnya adalah Tuhan Yesus, Pribadi kedua dari Allah, yang menerima perintah dari pribadi pertama : ”Duduklah di sebelah kananKu.”....Jadi di dalam ayat ini Yesus Kristus memberikan suatu rangsangan, inspirasi, untuk mencerahkan mereka dengan iluminasi yang sangat besar, yaitu ”Tahukah, bahwa Aku adalah Allah?” (Stephen Tong : ”Allah Tritunggal”; LRII, 2002:60-61). Jadi jelas bahwa penggunaan kata ”kurios” untuk Yesus sudah menunjukkan keallahan-Nya. Bukti lain adalah Luk 3:4 : ”seperti ada tertulis dalam kitab nubuat-nubuat Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya”. Ayat ini aslinya ada di Yes 40:3 : ”Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!” Perhatikan bahwa di Yes 40:3 kata ”TUHAN” (Ibr : Yahweh) jelas menunjuk pada Allah . Jika ayat ini dikutip oleh Yohanes Pembaptis yang adalah pendahulu Yesus maka jelas bahwa kata ”Tuhan” (Yun : ”kurios”) di sini menunjuk pada Yesus dan tidak bisa tidak sesuai konteks kitab Yesaya, kata ”Tuhan” (”kurios”) di sini mengandung pengertian keallahan. Perhatikan juga 1 Kor 8:6 : ”namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”. Mengomentari ayat ini Budi Asali berkata : Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dari ayat ini (1) Kalimat ‘satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus’ tidak memungkinkan diartikan hanya sebatas gelar penghormatan karena jika demikian ‘Tuan’ pasti tidak cuma satu, tetapi banyak [ay 5b - ‘banyak tuhan yang demikian’ (2) Di akhir ayat itu ada kalimat ‘yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup’. Ini jelas menunjukkan bahwa gelar ”Tuhan” di sini mengandung pengertian Kristus adalah Allah karena pekerjaan seperti itu (menjadikan segala sesuatu dan menjadi sumber hidup) hanya mungkin dilakukan oleh Allah. (Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; www.members.tripod.com/gkri_exodus). Selain itu juga di dalam Alkitab kita jumpai ayat-ayat yang menyebut Yesus sebagai Tuhan tetapi sukar menafsirkannya hanya sebagai gelar penghormatan seperti yang dikatakan FD. Misalnya Kis 7:59-60 : “ Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia”. Kata Tuhan dalam ayat ini tidak mungkin hanya menunjuk pada gelar penghormatan saja (tuan) karena di sana Stefanus menggunakan sebutan tersebut pada saat berdoa kepada Yesus. Sebagai obyek doa, Yesus harus adalah ’Allah’ dan bukan sekedar ’tuan’. Ibr 1:8,10 : - “(8) Tetapi tentang (kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. ... (10) Dan: ‘Pada mulanya, ya Tuhan, Engkau telah meletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu”. Kata ‘Tuhan’ dalam Ibr 1:10 jelas tidak mungkin diartikan sebagai sekedar gelar penghormatan (‘Tuan’), karena dalam Ibr 1:8nya Ia disebut ‘Allah’, yang mempunyai ‘takhta yang kekal’, dan dalam Ibr 1:10nya dikatakan bahwa Ia adalah pencipta langit dan bumi. Data lain yang perlu diketahui adalah bahwa sebutan ‘Tuhan’ bagi Yesus dikontraskan dengan ‘hamba’ / ’budak’. Paulus bukan hanya menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’, tetapi juga mengkontraskan sebutan tersebut dengan sebutan yang ia gunakan bagi dirinya sendiri, yaitu ‘hamba’. (Roma 1:1,4). Ingat bahwa lawan kata dari ‘Tuhan’ adalah ‘hamba’, sedangkan lawan kata dari ‘Tuan’ adalah ‘pelayan’ / ‘pegawai’. Kalau kata ‘Tuhan’ untuk Yesus diganti dengan ‘Tuan’ (sebagai gelar kehormatan saja) , maka Paulus seharusnya menyebut dirinya sebagai ‘pelayan’ / ‘pegawai’ dari Kristus Yesus, bukan sebagai ‘hamba’ dari Kristus Yesus. Lagi pula bukan hanya Paulus yang menyebut dirinya sendiri ‘hamba’ sebagai kontras dari sebutan ‘Tuhan’ terhadap Yesus, tetapi juga Yakobus (Yak 1:1), Petrus (2 Pet 1:1-2), Yudas (Yudas 1,4). Yang menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’ adalah orang-orang Yahudi yang adalah bangsa monotheist, sehingga tidak mungkin begitu sering menyebut Yesus dengan sebutan ‘Tuhan’, seandainya Yesus bukan betul-betul Tuhan dalam arti yang setinggi-tingginya (Allah). W. E. Vine berkata : “Arti sepenuhnya dari persatuan Yesus dengan Allah di bawah satu sebutan ‘Tuhan’ ini, terlihat pada waktu diingat bahwa orang-orang ini termasuk dalam satu-satunya bangsa monotheist dalam dunia ini. Menyatukan / menggabungkan sang Pencipta dengan seseorang yang diketahui sebagai ciptaan, bagaimanapun ditinggikannya dia, sekalipun merupakan sesuatu yang memungkinkan bagi ahli-ahli filsafat kafir, adalah mustahil bagi seorang Yahudi”. (An Expository Dictionary of New Testament Words, hal 689). Untuk studi lebih lanjut tentang topic ini silahkan baca buku Donald Gutrie ”Teologia Perjanjian Baru 1”, BPK. Gunung Mulia, 1996: 327-338; Louis Berkhof : ”Teologi Sistematic”, LRII, 1996:23-30; Yakub Tomatala; “Yesus Kristus Juruselamat Dunia”, YT Leadership Fondation, 2004:61-65). Lalu mengapa sampai terjadi perubahan makna kata ”Tuhan” (dalam Alkitab) yang semula hanya sebagai ungkapan penghormatan berubah menjadi pengakuan keallahan dalam kaitan dengan Kristus? Ini dikarenakan adanya pengaruh Septuaginta (Alkitab PL dalam bahasa Yunani) di mana kata ”Tuhan” dalam Septuaginta (LXX) dipakai untuk menyebut Allah : (a) sebagai nama yang setara dengan Yehovah; (b) sebagai pengganti nama adonay; (c) sebagai terjemahan dari gelar penghormatan yang dinaikkan oleh manusia kepada Allah (terutama nama ”Adon”). Dengan demikian gelar ”Tuhan” yang dipakai dalam Alkitab untuk Kristus juga mengandung makna bahwa Ia adalah Allah. William Childs Robinson : ”Ketika Yesus disebut sebagai Tuhan yang dimuliakan, Dia begitu disatukan dengan Allah sehingga sulit untuk mengetahui siapa yang dimaksud.....” (William Childs Robinson dalam ”Baker’s Dictionary of Theology”, Grand Rapids : Baker, 1960: 328-329). Demikian juga Erickson : ”Rujukan-rujukan ini menjelaskan bahwa para rasul bermaksud memberikan kepada Yesus gelar ”Tuhan” dalam pengertian yang setinggi-tingginya… Bagi orang Yahudi khususnya, istilah ”kurios” ini senantiasa mengusulkan bahwa Kristus setara dengan Bapa”. (Millard J. Erickson; Teologi Kristen; Gandum Mas, 2003:328). Survei yang sudah dilakukan ini memperlihatkan 2 hal pada kita (1) Pernyataan saya bahwa FD tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan (dalam pengertian Allah sebagaimana yang telah dibuktikan dari data Alkitab) tidaklah salah. (2) Teori FD bahwa sebutan Tuhan untuk Yesus tidak berarti bahwa Yesus adalah Allah tidaklah benar. Atau kalau mau dikatakan, tidak 100% benar. Artinya setengan benar karena memang ada penggunaan “kurios” untuk Yesus yang tidak menunjuk pada keallahan-Nya. Bagaimana Frans?

Yesus bukan Allah?

FD mengatakan bahwa Yesus bukan Allah. Benarkah Yesus bukan Allah? Kalau kita pelajari Alkitab dengan teliti jelas terlihat bahwa FD telah membuat kesimpulan yang terlalu cepat dan keliru. Survei keseluruhan data Alkitab memperlihatkan begitu banyak bukti bahwa Yesus adalah Allah. Dan bukti-bukti ini sudah saya bahas secara panjang lebar dalam bagian akhir tulisan saya yang lalu (Timex, 17 November 2006). Jadi tidak perlu diulang lagi di sini (nanti oleh FD dibilang bertele-tele). Yang harus dilakukan oleh FD adalah silahkan gugurkan bukti-bukti yang sudah saya kemukakan itu. Jangan hanya berteori bahwa Yesus bukan Allah lalu pura-pura melupakan argumentasi yang sudah saya angkat atau beralasan bahwa toh nanti ada debat di Surabaya.

Yesus bukan Allah sejati?

Ada kemungkinan FD akan menganggap bahwa semua ayat yang menyebut Yesus sebagai Allah itu tidak berarti bahwa Yesus adalah Allah yang sejati. Yesus memang Allah tetapi bukan Allah yang sejati. Dugaan ini terkait pendapat FD yang berkata : ”'Allah' dalam Alkitab Nasrani tidak selalu menunjuk pada Yahweh sebagai satu-satunya Allah yang benar, tetapi kata 'Allah' di Alkitab juga bisa menunjuk pada mahluk-mahluk ilahi / malaikat seperti tertulis dalam Mazmur 82:1,6: "Allah (yang sejati, Yahweh) berdiri dalam sidang ilahi (sidang di sorga), di antara para allah Ia menghakimi : …Aku (Yahweh) sendiri telah berfirman: kamu adalah allah dan anak-anak Yang Maha tinggi kamu sekalian" Dan juga kata 'Allah' dalam Alkitab bisa menunjuk pada nabi utusan Yahweh, seperti ada tertulis dalam Keluaran 7:1: "Berfirmanlah Yahweh kepada Musa: "Lihatlah Aku mengangkat engkau sebagai Allah bagi Firaun .." Jika mahluk surga / malaikat disebut sebagai 'allah', nabi Musa juga disebut sebagai 'Allah', maka nabi-nabi yang lain serta Yesus dan para Rasul bisa saja disebut sebagai 'Allah' dengan catatan kita harus paham betul apa makna arti kata 'Allah' di ayat-ayat Alkitab yang kita baca. Ada Allah yang sejati yaitu Yahweh, dan ada Allah/allah-allah lain yang tidak sejati. Benarkah apa yang dikatakan FD ini? Adalah benar bahwa manusia (para hakim) dalam Maz 82:1,6 disebut sebagai ’allah”. Benar bahwa kata ”Allah” juga bisa menunjuk pada utusan Yahweh. Contohnya Musa (Kej 7:1). Benar bahwa makhluk surga/malaikat disebut sebagi ”allah”. Namun masalahnya adalah dapatkah kita menemukan perbedaan penggunaan kata ”Allah” tersebut pada Yesus Kristus dan pada yang lainnya? Di sinilah kesalahan FD. Ia terlalu cepat berkesimpulan bahwa sebutan ”Allah” yang dikenakan pada malaikat atau nabi sama dengan yang dikenakan pada Yesus dan dengan demikian sama seperti malaikat dan nabi, Yesus bukan Allah yang sejati. Kita akan mengujinya!

Tentang persoalan ini baiklah kita simak penjelasan Budi Asali dalam Bagaimana menaklukkan dan membongkar fitnah / dusta / kepalsuan; (www.members.tripod.com/gkri_exodus) sebagai berikut : Pertama, perlu diperhatikan bahwa sekalipun dalam Alkitab kata ‘Allah’ memang bisa digunakan untuk malaikat, setan, dan bahkan manusia, tetapi kata-kata itu tidak pernah digunakan sesering kata itu digunakan terhadap Yesus. Kedua, pada saat Alkitab menyebut seseorang yang bukan Allah yang sesungguhnya dengan sebutan ‘Allah’/”allah”, Alkitab selalu menunjukkan secara jelas bahwa orang-orang itu disebut ‘allah’ bukan dalam arti seperti biasanya / yang sesungguhnya. Contohnya Kel 7:1 : “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah (ELOHIM) bagi Firaun, dan Harun, abangmu, akan menjadi nabimu”. Perhatikan bahwa sekalipun ayat ini menyebut Musa sebagai ‘Allah’, tetapi ada tambahan kata-kata ‘bagi Firaun’. Dan ini jelas menunjukkan bahwa Musa bukanlah Allah dalam arti yang sesungguhnya. Kel 12:12 : “Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah (ELOHEY = gods of / allah-allah dari) di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN”. Jelas bahwa kata ‘allah’ di sini tidak menunjuk kepada Allah yang sejati, karena dikatakan bahwa Allah yang sejati itu akan menghukum ‘semua allah’ ini. Jadi di sini kata itu menunjuk kepada dewa-dewa sembahan Mesir, yang sering berupa binatang, khususnya sapi. Pada saat Allah menghukum Mesir dengan membunuh semua anak sulung, maka anak binatang (dewa/allah mereka) juga ikut dibunuh/dihukum. Kel 20:3 : “Jangan ada padamu allah (ELOHIM) lain di hadapanKu”. Adanya kata-kata ‘lain’ dan ‘di hadapanKu’, membuat ayat ini jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan ‘allah’ bukanlah Allah yang sebenarnya. Hak 5:8 : “Ketika orang memilih allah (ELOHIM) baru, maka terjadilah perang di pintu gerbang...”. Kata-kata dari ayat ini yang mengatakan bahwa ‘orang memilih allah baru’, sudah menunjukkan bahwa kata ‘allah’ ini tidak digunakan dalam arti yang sebenarnya. Jadi ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang Israel memilih dewa / berhala baru (sambil meninggalkan YAHWEH), dan sebagai akibatnya terjadilah bencana seperti perang dan sebagainya. Dan masih banyak contoh lainnya seperti 1 Sam 28:13b; Maz 95:3; 96:4-5; 138:1; Kis 12:22 ; 1 Kor 8:5-6; 2Kor 4:4; 2 Tes 2:4. Secara khusus tentang Maz 82 yang dikutip FD, jelas bahwa yang disebut ELOHIM (‘allah-allah’) dalam ay 1 dan ay 6 itu adalah hakim-hakim yang lalim/tidak adil pada saat itu. Sekalipun mereka disebut ‘allah-allah’ (ELOHIM), tetapi mereka jelas bukan Allah dalam arti yang sesungguhnya, dan itu terlihat dari mereka ini bukan satu orang tetapi sekelompok orang, sehingga tidak mungkin mereka adalah Allah semua, karena akan menimbulkan politeisme. Mereka dihakimi oleh Allah (ay 1) dan mereka menghakimi dengan tidak adil (ay 2-4), dan hidup dalam kegelapan (ay 5). Pada akhirnya mereka akan mati sebagai manusia (ay 7). Jadi, dengan banyak contoh (dari PL dan PB) jelas bahwa kalau kata ‘Allah’ digunakan untuk menunjuk kepada yang bukan Allah, maka selalu diberi penjelasan yang secara jelas menunjukkan bahwa yang dimaksud bukanlah Allah yang sejati. Tetapi pada waktu kata ‘Allah’ digunakan untuk Yesus, Alkitab tidak memberi petunjuk apapun bahwa kata itu digunakan bukan dalam arti yang sesungguhnya, tetapi sebaliknya bahkan memberikan keterangan yang menunjukkan bahwa Ia memang adalah Allah yang sejati. A. H. Strong berkata : “Kadang-kadang diajukan keberatan yang mengatakan bahwa pemberian nama ‘Allah’ kepada Kristus tidak membuktikan apa-apa berkenaan dengan keilahian-Nya yang mutlak, karena malaikat-malaikat dan bahkan hakim-hakim manusia disebut allah-allah, karena mewakili otoritas Allah dan melaksanakan kehendak-Nya. Tetapi kami menjawab bahwa sekalipun memang benar bahwa nama itu kadang-kadang diterapkan seperti itu, itu selalu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam hubungan yang membuang semua keragu-raguan tentang arti kiasan dan arti sekundernya. Tetapi pada waktu nama itu diterapkan kepada Kristus, sebaliknya itu disertai dengan tambahan / keterangan dan dalam hubungan yang membuang semua keragu-raguan bahwa itu menunjukkan keAllahan yang mutlak” (Systematic Theology, hal 307). Contohnya Yoh 1:1c yang mengatakan bahwa ‘Firman (Yesus) itu adalah Allah’, didahului oleh kata-kata ‘Pada mulanya adalah Firman’, yang menunjukkan kekekalan dari Firman itu, dan lalu dilanjutkan dengan Yoh 1:3, yang menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu adalah Pencipta segala sesuatu! Contoh lain Roma 9:5 yang menyatakan Yesus sebagai Allah, juga menambahkan bahwa Ia ada di atas sesuatu, dan harus dipuji selama-lamanya. Ibr 1:8, selain menyebut Anak sebagai Allah, juga mengatakan bahwa Ia mempunyai takhta yang kekal, dan masih disusul lagi oleh Ibr 1:10-12 yang menyatakan Anak sebagai Tuhan, dan sebagai Pencipta, yang kekal dan yang tidak pernah berubah. Demikian juga Wah 1:8 yang selain menyebut Yesus sebagai ‘Tuhan Allah’, juga menyebut-Nya dengan sebutan ‘Yang Mahakuasa’ dan ‘Alfa dan Omega’. Dengan demikian jika Alkitab menyebut Yesus sebagai Allah maka Ia adalah Allah yang sejati. Jadi teori FD adalah teori palsu yang bukan ajaran Alkitab. Kesimpulannya bahwa Yesus bukan Allah yang sejati hanya menunjukkan kedangkalan pemahaman Alkitabnya dan sikap yang tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan. Kita tunggu bagaimana FD memberikan jawabannya terhadap masalah ini, di sini, di Timex. Bukan di Surabaya!!! Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)