07 Mei 2012

YESUS DAN ORANG KUSTA (Part 2)

By. Pdt. Esra Alfred Soru, STh, MPdK.



Pada bagian pertama kita sudah membahas tentang penyakit kusta, bagaimana si kusta datang kepada Yesus, dan bagaimana respon Yesus terhadapnya. Tetapi sebenarnya masih ada beberapa point penting di dalam ayat 3 dan 4 yang belum kita sentuh dan karena itu saya memutuskan untuk membahas point-point ini dan menjadikan ini menjadi seri ke 2 dari pembahasan tentang Yesus dan orang kusta. Mari kita melihat teks kita :

Mat 8:1-4 – (1) Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. (2) Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." (3) Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. (4) Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."

Kita akan mengkonsentrasikan pembahasan kita secara khusus dalam ayat 3 dan 4. Ada beberapa hal penting yang perlu kita simak :

I.       KESEMBUHAN SI KUSTA.

Setelah si kusta datang kepada Yesus dengan sejumlah sikap yang menarik (seperti yang telah kita bahas pada bagian pertama), ayat 3 mencatat respon dari Yesus.

Mat 8:3a – Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir."…”

Apa yang terjadi selanjutnya?

Mat 8:3b – “….Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.

Si kusta ini benar-benar sembuh dan kesan yang kita tangkap adalah bahwa kesembuhannya terjadi secara total dan menyeluruh. Artinya adalah ia sembuh secara keseluruhan dan bukannya sembuh pada bagian tubuh tertentu saja tetapi pada bagian tubuh yang lain masih terdapat kusta. Tidak demikian! Ia benar-benar sembuh secara total. Juga kita perlu memperhatikan saat kesembuhan / ketahirannya itu. Ayat 3 di atas mengatakan bahwa kesembuhan / ketahiran itu terjadi “seketika itu juga”. Bandingkan dengan beberapa terjemahan :

BIS - Yesus menjamah orang itu sambil berkata, "Aku mau. Sembuhlah!" Saat itu juga penyakitnya hilang.

ISV - So Jesus reached out his hand, touched him, and said, "I do want to. Be made clean!" And instantly (langsung) his leprosy was made clean.

Darby  - And he stretched out his hand and touched him, saying, I will; be cleansed. And immediately (segera) his leprosy was cleansed.

Semua ini menunjukkan bahwa kesembuhan yang Yesus berikan kepada si kusta terjadi secara langsung pada saat itu juga. Jadi kesembuhan yang dilakukan Yesus pada si kusta ini dengan tepat dapat digambarkan seperti kata-kata berikut ini :

William Hendriksen -  Kesembuhan yang diadakan oleh Yesus adalah sempurna dan langsung.

Matthew Henry - Kristus bersedia menunjukkan sejauh mana kuasa-Nya akan bertindak karena iman umat-Nya, dan oleh karena itu Ia mengucapkan perkataan sebagai seseorang yang memiliki otoritas, Jadilah engkau tahir. Kuasa menyertai perkataan ini, dan kesembuhan itu langsung terjadi de­ngan sempurna. (Injil Markus, hal. 26).

Dan sesungguhnya inilah ciri dari suatu kesembuhan ilahi :

  1. Suatu kesembuhan ilahi harus terjadi seketika dan bukannya bertahap.

Di dalam Alkitab jika Yesus menyembuhkan seseorang dengan kuasa-Nya (kesembuhan ilahi), maka kesembuhan itu terjadi langsung / segera.

Mat 15:28 - Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Mat 20:34 - Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia.

Mark 5:29 - Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Luk 5:24-25 – (24) “…berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu --: "Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!" (25) Dan seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah.

Luk 13:11-13 – (11) Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. (12) Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." (13) Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. 

Hal yang sama terjadi dengan kesembuhan yang dilakukan rasul-rasul.

Kis 3:6-8 – (6) Tetapi Petrus berkata: "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (7) Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. (8) Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti mereka ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.

Kis 9:33-34 – (33) Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. (34) Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu.

Semua ini mengajarkan kita bahwa yang namanya kesembuhan ilahi, harus terjadi kesembuhan seketika itu juga dan bukannya bertahap.

Memang di dalam Alkitab kelihatannya ada kisah penyembuhan yang terjadi secara bertahap yakni dalam Mark 8:23-25.

Mark 8:23-25 – (23) “…Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: "Sudahkah kaulihat sesuatu?" (24) Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: "Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon." (25) Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.

Tetapi saya berpendapat bahwa sekalipun dalam Mark 8:23-25 itu terjadi 2 tahap kesembuhan, tetapi selang waktunya hanyalah beberapa detik, sehingga sebetulnya tetap merupakan kesembuhan seketika (bukan proses). Karena itu saya tetap beranggapan bahwa kesembuhan ilahi harus terjadi secara langsung. Ini perlu kita mengerti karena pada zaman sekarang ada banyak orang yang bersaksi melalui KKR Kesembuhan Ilahi bahwa mereka mengalami mujizat / kesembuhan ilahi tetapi secara bertahap/berangsur-angsur. Ini bukan kesembuhan ilahi namanya. Memang kesembuhan yang bertahap tetap berasal dari Tuhan, tetapi itu bukan kesembuhan ilahi! Dalam Kitab Suci kesembuhan ilahi selalu terjadi langsung.

William Hendriksen: Biarlah penyembuh-penyembuh zaman ini meniru hal ini. Biarlah mereka menyembuhkan setiap penyakit secara langsung.

  1. Suatu kesembuhan ilahi terjadi secara sempurna dan total.

Kesembuhan ilahi juga harus terjadi secara sempurna / total. Dalam Kitab Suci semua kesembuhan ilahi terjadi seperti itu. Dalam kasus orang kusta ini, terlihat bahwa setelah disembuhkan oleh Yesus, semua kustanya hilang, tidak tertinggal sedikitpun.

Matthew Henry – “…Jadilah engkau tahir. Kuasa menyertai perkataan ini, dan kesembuhan itu langsung terjadi de­ngan sempurna. Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan bekasnya pun tidak ada. (Injil Markus, hal. 26).

Bandingkan :

Mark 7:32-35 – (32) Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu. (33) …Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. (34) Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! (35) Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.

BBE - And his ears became open, and the band of his tongue was made loose, and his words became clear (kata-katanya menjadi jelas)

CEV - At once the man could hear, and he had no more trouble talking clearly (dan ia tidak mendapatkan kesulitan berbicara dengan jelas).

Jadi ia tidak berbicara dengan gagap. Berarti kesembuhannya terjadi dengan sempurna. Hal ini perlu dipahami karena pada zaman sekarang ada banyak orang yang bersaksi bahwa mereka mendapatkan kesembuhan ilahi tetapi ternyata kesembuhannya tidak sempurna. Contohnya ada orang lumpuh bersaksi bahwa ia memngalami kesembuhan ilahi sehingga sekarang sudah bisa berjalan walaupun masih pincang. Ada orang buta yang mengaku sudah mengalami kesembuhan ilahi tapi melihatnya masih “kabur-kabur”. Ada orang sakit jantung disembuhkan tetapi masih tidak bisa olah raga. Kalau ini yang terjadi, namanya bukan kesembuhan ilahi.

Budi Asali - Di dalam Alkitab tidak ada orang lumpuh, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa berjalan tetapi pincang! Tidak ada orang buta, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa melihat tetapi harus menggunakan kaca mata minus 15! Tidak ada orang tuli, yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu bisa mendengar tetapi harus menggunakan hearing aids (alat bantu untuk mendengar)! Tetapi lihatlah ‘kesembuhan-kesembuhan ilahi’ zaman sekarang ini! Bukan main banyaknya orang yang sembuh setengah-setengah tetapi mengaku telah mengalami kesembuhan ilahi! Ini jelas bukan kesembuhan ilahi! (Kharismatik, hal. 93).

Perhatikan contoh-contoh yang diberikan Ir. Herlianto dalam artikelnya yang berjudul “Kesembuhan Ilahi” dari website : www.yabina.org.

Ir. Herlianto Tiga kesembuhan utama ibadat Toronto Blessing yang dilaporkan buku ‘Catch the Fire’ (Guy Chevreau) pernah diteliti tim teolog dan dua dokter, hasilnya adalah seorang yang merasa disembuhkan secara luar biasa terbukti hanya sedikit lebih baik keadaannya. Penderita kanker yang secara instan dikatakan sembuh ternyata setelah diperiksa dokter masih mengidap penyakit itu, demikian juga dua gadis bisu yang dikatakan mengalami kesembuhan dari malaekat ternyata tidak menunjukkan bukti yang pasti.  

Biarlah semua ini membuat kita mengerti dan dapat membedakan kesembuhan-kesembuhan ilahi palsu yang banyak dipopulerkan lewat acara-acara KKR.

  1. Dalam kasus kesembuhan ilahi, penyakitnya tidak boleh segera kambuh.

Hal lain yang bisa ditambahkan menjadi ciri dari kesembuhan ilahi adalah bahwa penyakitnya tidak boleh segera kambuh lagi. Saya tidak mengatakan bahwa penyakitnya tidak bisa kambuh sama sekali. Misalnya, apakah seseorang yang disembuhkan secara ilahi dari sakit kepala tidak bisa mengalami sakit kepala lagi selama hidupnya? Tentu bisa saja! Tetapi maksudnya adalah bahwa sakitnya tidak bisa kambuh hanya dalam selang waktu yang relatif singkat. Jikalau penyakitnya kambuh dalam waktu yang relatif singkat maka ini bukanlah ciri dari kesembuhan ilahi. 

Dalam Kitab Suci tidak pernah ada orang yang setelah mengalami kesembuhan ilahi, lalu dalam waktu yang dekat kambuh lagi penyakitnya! Bahkan 9 orang kusta yang tidak tahu terima kasih dalam Luk 17:11-19 juga tidak kambuh penyakitnya. Demikian juga dengan si kusta dalam Mat 8 ini. Tetapi zaman sekarang, sering sekali ada orang yang katanya mengalami kesembuhan ilahi, tetapi dalam waktu yang singkat lalu kambuh kembali penyakitnya. Ini omong kosong! Ini pasti bukan kesembuhan ilahi, tetapi kesembuhan psikologis. Tentang kesembuhan seperti ini, mari perhatikan tulisan Ir. Herlianto sekali lagi :

Ir. Herlianto - Seminggu setelah Peter Jongren mengadakan KKR Kesembuhan Ilahi di Bandung, penulis diundang berkotbah di gereja GBT di Bandung. Seusai kotbah, didampingi pendeta gereja itu bersalaman dengan jemaat yang berbaris keluar. Ada seorang jemaat yang cacat kakinya dan berjalan menggunakan tongkat penyangga lengan datang bersalaman dan juga dengan pendetanya, lalu orang itu berkata kepada pendetanya: “Minggu yang lalu dalam KKR Peter Jongren saya sudah bisa berjalan tidak menggunakan tongkat, tapi sesampai dirumah saya harus pakai tongkat lagi.”

Ir. Herlianto - Memang promosi kesembuhan ilahi luar biasa, biasanya disebutkan tokoh-tokoh politik maupun konglomerat yang mengalami kesembuhan instan dalam malam KKR Kesembuhan Ilahi, namun beberapa saat kemudian akan kelihatan bahwa mereka sebenarnya belum sembuh tetapi tersugesti untuk merasa sembuh. Lihat saja pengalaman Evander Holifield. Ia dikatakan menderita sakit jantung dan dipercaya disembuhkan secara mujizat oleh Benny Hinn, namun kemudian terbukti dari diagnosis dokter tinju bahwa Holifield memang tidak punya penyakit jantung (penyakit jantung adalah penyakit yang terbentuk dalam waktu lama), jadi sembuh dari apa?

Ir. Herlianto Urusan penipuan (hoax) dalam pelayanan KKR Kesembuhan Ilahi sudah banyak diteliti di Amerika Serikat....Memang kenyataannya ada satu dua kesembuhan yang benar-benar terjadi karena iman penderita begitu kuat sehingga mendatangkan belas kasihan Tuhan Yesus... namun sebagian besar dari yang sembuh dikarenakan sugesti terpengaruh suasana pujian & penyembahan KKR tapi biasanya setelah pulang atau diperiksa dokter sesudahnya, atau beberapa waktu kemudian, penyakitnya tetap ada. Penyakit-penyakit yang bersifat psikosomatis mudah terasa sembuh dalam suasana hipnose massa, tetapi penyakit-penyakit malfungsi, keracunan, cacat bawaan (polio) nyaris tidak tersembuhkan....

Ir. Herlianto Kita perlu berhati-hati mendengar promosi bombastis mengenai kesembuhan yang dialami orang penting atau konglomerat tertentu, dan kita pun jangan begitu saja menolak kesaksian demikian yang mungkin benar, tetapi yang paling tepat adalah mengujinya dengan catatan dokter/rumah sakit mengenai track-record penyakitnya sebelum dan sesudah ‘mengalami’ kesembuhan ilahi, dan apakah kesembuhan pasca kesembuhan ilahi itu bersifat kekal atau nanti kembali lagi penyakitnya yang dianggap sudah hilang itu yang ternyata belum hilang juga.

Ada 3 hal yang bisa dipakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa orang yang mengalami kesembuhan ilahi bisa kambuh lagi penyakitnya :

1.      Dalam Kitab Suci orang-orang yang dibangkitkan dari kematian, akhirnya akan mati lagi.

Tetapi ini tidak bisa diterima karena kematian berbeda dengan penyakit.

2.      Orang yang disembuhkan dari kerasukan setan, bisa kerasukan lagi (Mat 12:43-45).

Ini juga tidak bisa diterima karena kerasukan setan tidak bisa disama-kan dengan penyakit.

3.      Dalam Yoh 5:14 Yesus berkata kepada orang lumpuh yang telah Ia sembuhkan:

Yoh 5:14 - ‘Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk’.

Ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa penyakit seseorang yang mengalami kesembuhan ilahi bisa kambuh kalau ia berbuat dosa. Inipun tidak bisa diterima karena ‘lebih buruk’ tidak berarti penyakit yang sama akan kembali. Artinya ia akan mengalami hukuman Tuhan yang lebih berat.

Dengan demikian harus disimpulkan bahwa dalam kasus kesembuhan ilahi, penyakit yang disembuhkan tidak bisa kambuh lagi. Jikalau masih bisa kambuh, maka itu bukan kesembuhan ilahi namanya. Biarlah semua ini mengajar kita agar bisa menguji kasus-kasus kesembuhan ilahi yang banyak dipopulerkan pada masa kini mengingat kata Firman Tuhan :

2 Tes 2:9 - Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu.

II.    LARANGAN BAGI SI KUSTA.

Setelah si kusta ini mengalami kesembuhan, Yesus lalu memberikan larangan kepadanya.

Mat 8:4 – Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun,…”

Bahkan Markus mencatat bahwa peringatan ini diberikan dengan keras :

Mark 1:43-44 – (43) Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras: (44) "Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun, …”

Peringatannya adalah jangan memberitahukan kesembuhan tersebut kepada siapa pun. Larangan seperti ini sering terjadi misalnya :

Mat 9:30 - Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini."

Mark 5:41-43 – (41) Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya: "Talita kum," yang berarti: "Hai anak, Aku berkata kepadamu, bangunlah!" (42) Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. (43) Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan.

Mark 7:34-36 – (34) Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! (35) Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. (36) Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga….”

Mengapa Yesus melarang orang itu memberi tahu orang lain? Untuk ini ada bermacam-macam jawaban / penafsiran :
  • Orang itu dilarang hanya sampai ia menunjukkan diri kepada imam. Jadi, maksud Yesus adalah jangan menunda untuk menunjukkan diri kepada imam.
  • Yesus tahu bahwa kalau banyak orang tahu bahwa Ia bisa melakukan mujizat, mereka akan menjadikan-Nya raja atas mereka. (band. Yoh 6:15). Yesus melarang supaya hal itu tidak terjadi.
  • Yesus melarang karena orang itu harus belajar dulu; setelah itu baru boleh memberitakan. Jadi, dengan kata lain Ia berkata : jangan tergesa-gesa menjadi pengkhotbah, belajarlah lebih dulu supaya nanti bisa menjadi pengkhotbah yang baik.

Mungkin ini harus diperhatikan oleh orang-orang Islam yang menjadi Kristen dan langsung menjadi pengkhotbah tanpa belajar / sekolah teologia! Juga oleh banyak pengkhotbah yang mau mengajar tetapi tdak mau belajar!

  • Yesus tidak mau dikenal sebagai pembuat mujizat tetapi sebagai Juruselamat.

Biarpun tafsiran-tafsiran ini menarik tapi kelihatannya tidak sesuai konteks. Kalau begitu mengapa Yesus melarang si kusta itu memberitakan kesembuhannya? (Akan saya jawab nanti).

Lalu apakah si kusta ini taat pada perintah Yesus? Ternyata tidak! Dia justru menyebarkannya kemana-mana.

Mark 1:45 – Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana…”

Lalu apa akibatnya?

·         Pelayanan Yesus menjadi terhalang.

Mark 1:45 - Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepadaNya dari segala penjuru”.

Maksud baik orang itu, yang bertentangan dengan Firman Tuhan, justru sekarang menjadi penghalang bagi pelayanan Yesus.

Wycliffe Bible Commentary – Sayang sekali, orang itu mengabaikan peringatan tersebut sehingga banyak mempersulit Kristus. (Vol.3, hal. 45).

·    Banyak orang datang kepada Yesus untuk disembuhkan walaupun masih ada yang datang untuk mendengar Firman Allah.

Luk 5:15 - Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepadaNya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.

Dan bisa diduga bahwa yang mencari kesembuhan jauh lebih banyak dari yang mencari Firman Tuhan!

Lalu apa reaksi Yesus ketika banyak orang datang kepada-Nya?

Luk 5:15-16 - (15) Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepadaNya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. (16) Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa”.

Fakta ini mengajarkan kepada kita 2 hal penting :

  1. Yesus lebih mementingkan pemberitaan Firman Tuhan dari pada penyembuhan orang sakit.

Jadi mengapa Yesus melarang si kusta tadi untuk menyebarkan berita tentang kesembuhannya? Karena Dia tahu bahwa jika banyak orang mengetahui bahwa Ia menyembuhkan si kusta, maka mereka akan datang mencari Dia untuk disembuhkan dan itu pasti membuat Dia tidak mempunyai kebebasan / kesempatan yang cukup untuk memberitakan Firman Tuhan. Sesungguhnya inilah alasannya mengapa Dia melarang si kusta menyebarkan berita kesembuhannya. Perhatikan kembali ayat-ayat ini :

Mark 1:45 - Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepadaNya dari segala penjuru”.

Luk 5:15 - Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepadaNya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka.

Calvin - Karena itu kita mempelajari alasan mengapa Kristus tidak ingin mujizat itu disampaikan / diberitakan begitu cepat. Itu adalah supaya Ia mendapat kesempatan dan kebebasan yang lebih banyak untuk pengajaran.... manusia umum begitu ingin menuntut mujizat, sehingga tidak ada tempat yang tersisa untuk doktrin. Ia ingin supaya mereka semua lebih memperhatikan firman dari pada tanda.

Nah, ketika orang banyak berbondong-bondong mencari Dia untuk disembuhkan itu maka Luk 15:16 mengatakan bahwa ia mengundurkan diri. Sikap seperti ini tidak pernah Ia lakukan kalau orang datang mencari Firman-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa bagi Yesus pemberitaan Firman Tuhan jauh lebih berharga dari pada menyembuhkan orang sakit walaupun Dia juga dalam banyak kesempatan menyembuhkan orang-orang sakit.

Calvin: Ia menghindari kerumunan banyak orang karena Ia melihat bahwa Ia tidak bisa memuaskan keinginan dari orang-orang itu tanpa melakukan begitu banyak mujizat sehingga membuat mereka tidak bisa berpikir benar tentang ajaran-Nya.

Maksud Calvin adalah dengan adanya terlalu banyak orang yang meminta kesembuhan dan jika Yesus menuruti mereka maka semua itu akan menyebabkan orang-orang itu tidak bisa berpikir secara benar tentang apa yang Ia ajarkan. Karena itulah Yesus menghindar!

Sikap Yesus ini jelas berbeda dengan kebanyakan KKR saat ini yang lebih banyak menonjolkan mujizat kesembuhan daripada pemberitaan Firman Tuhan bahkan kadang-kadang Firman Tuhan dianggap sekedar pengantar saja kepada kesembuhan. Ini semua sikap yang salah. Jika Yesus sendiri yang adalah sumber kesembuhan lebih mementingkan Firman Tuhan daripada kesembuhan, lalu mengapa ada banyak hamba Tuhan yang lebih mengutamakan kesembuhan daripada Firman Tuhan? Sikap Yesus ini juga harusnya mengajarkan kita bahwa di dalam ibadah kita harus mengutamakan Firman Tuhan di atas segala sesuatu (mujizat, pelayanan musik, liturgi, doa syafaat, warta jemaat, dll). Semua hal itu penting tetapi jangan sampai semua itu ditekankan sedemikian rupa sehingga justru Firman Tuhan yang terabaikan atau  mendapatkan tempat dan waktu yang lebih sedikit. Juga jikalau saudara mencari gereja untuk tempat berbakti, jangnlah cari gereja yang bagus dalam banyak hal (musik, liturgi, dll) tetapi tidak menekannkan Firman Tuhan. Carilah gereja yang sungguh-sungguh menekankan pemberitaan Firman Tuhan karena Yesus Kristus pun menekankan hal yang demikian.

  1. Yesus tidak selalu menyembuhkan orang sakit yang datang kepada-Nya.

Bahwa ketika banyak orang berbondong-bondong datang untuk disembuhkan tetapi Yesus justru mengundurkan diri menunjukkan bahwa Yesus tidak selalu mau menyembuhkan orang sakit yang datang kepada-Nya. Ini perlu diperhatikan karena ada banyak orang percaya bahwa Yesus selalu mau menyembuhkan. Orang-orang Kharismatik seringkali mengutip ayat-ayat tertentu dalam Alkitab seperti :

Mat 12:15b - Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya

Mat 14:36 - Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.

Mat 15:30 - Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya.

dan lalu berkesimpulan / mengajar bahwa Yesus selalu mau menyembuhkan semua orang sakit, dan karena itu orang Kristen harus sembuh dari penyakit. Tetapi jelas ini adalah penafsiran yang salah. Mereka hanya melihat ayat-ayat tertentu di mana Yesus mau menyembuhkan orang sakit tapi mereka lupa bahwa ada kasus-kasus di mana Yesus tidak bersedia menyembuhkan orang sakit. Contoh dalam Luk 15:15-16 yang sudah kita lihat di atas. Juga dalam Yoh 5:1-9 di mana sekalipun ada banyak orang yang sakit (Yoh 5:3), tetapi hanya satu orang yang disembuhkan oleh Yesus, yaitu orang yang lumpuh selama 38 tahun. Paulus sendiri tidak disembuhkan dari “duri dalam daging” nya :

2 Kor 12:7-9 – (7) Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.

Note : Para penafsir mengatakan bahwa “duri dalam daging” ini kemungkinan besar adalah penyakit fisik tertentu yang dialami Paulus. Mungkin sakit mata yang dialaminya dalam penglihatan di Damsyik. Bandingkan : 

Gal 4:13 - Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku.

(8) Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. (9) Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa kadang Tuhan mau menyembuhkan, kadang Tuhan tidak mau menyembuhkan.

Satu hal yang berkaitan dengan ini adalah bahwa tidak selamanya sakit yang tidak disembuhkan karena orangnya tidak beriman. Dalam kasus kita ini terlihat bahwa orang-orang itu tidak disembuhkan bukan karena mereka tidak beriman tetapi karena memang Yesus tidak menghendaki membuat mujizat kesembuhan bagi mereka. Ini perlu dipahami karena banyak orang Pendeta Kharismatik yang mengajarkan bahwa kalau seseorang tidak sembuh itu karena dia tidak / kurang beriman. Ini pandangan yang tidak fair. Jika terjadi kesembuhan maka dianggap bahwa pendetanya / pendoanya mempunyai iman yang hebat tetapi kalau tidak sembuh maka penderitanya yang tidak beriman. Ini jelas salah! Kadang memang Tuhan menuntut iman dari orang yang akan disembuhkan tetapi kadang tidak. Karena itu ada orang beriman (seperti Paulus) yang tidak disembuhkan dan ada orang yang tidak beriman (orang lumpuh di kolam Bethesda) yang disembuhkan. Jadi harus disimpulkan bahwa kesembuhan pada akhirnya adalah tergantung Tuhan dan bukan si pendoa maupun si penderita.

Ir. Herlianto - Jadi kesembuhan bukan terletak pada kekuatan si penginjil dan ketidaksembuhan bukan terletak di tangan si penderita, melainkan apakah Tuhan berkenan atau tidak.

Karena itu juga maka salahlah lagu populer yang berbunyi : “Bilur-Nya, bilur-Nya, bilur-Nya sungguh heran, bilur-Nya, bilur-Nya, membawa kesembuhan. Asal percaya saja semua sakit hilanglah, oleh kuasa Yesus tertolong”. Kebenaran ini harusnya menolong kita untuk :

·        Jangan percaya dengan iklan-iklan KKR yang bombastis yang menjaminkan kesembuhan kepada semua yang sakit.

Iklan-iklan seperti ini biasanya menjanjikan atau menjaminkan kesembuhan bagi semua orang sakit bahwa mereka pasti disembuhkan Tuhan. Namun persoalannya adalah seringkali ada lebih banyak orang yang  tidak sembuh daripada yang sembuh.

·       Jangan terlalu mengagungkan pendeta / penginjil yang bisa melakukan mujizat kesembuhan karena kesembuhan terjadi bukan karena hebatnya mereka melainkan karena Tuhan mau menyembuhkan saudara. Mereka hanya alat Tuhan. (Itu pun kalau mujizatnya asli dari Tuhan)
·         Jangan buru-buru mencap orang tidak beriman kalau sakitnya tidak sembuh-sembuh.
·         Jika saudara sakit maka berdoalah minta kesembuhan kepada Tuhan tetapi jangan memaksakan kehendak saudara kepada Dia. Teladani si kusta dalam kisah ini ketika meminta kesembuhan : “Tuan, jika Tuan mau”. (Mat 8:2).

 
III. PERINTAH BAGI SI KUSTA.

Selain larangan pada si kusta, Yesus pun memberikan perintah pada si kusta.

Mat 8:4 – Lalu Yesus berkata kepadanya: "Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka."

Hal yang sama Ia perintahkan kepada 10 orang kusta yang disembuhkannya.

Luk 17:14 - Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir

Mengapa Yesus memerintahkan mereka pergi memperlihatkan diri pada imam? Karena memang dalam Hukum Taurat aturannya demikian. Jika seorang mengaku sudah sembuh dari kustanya maka imam harus memeriksanya dan baru memberikan pernyataan dia sudah tahir atau belum.

Im 14:2-3 – (2) "Inilah yang harus menjadi hukum tentang orang yang sakit kusta pada hari pentahirannya: ia harus dibawa kepada imam (3) dan imam harus pergi ke luar perkemahan; kalau menurut pemeriksaan imam penyakit kusta itu telah sembuh dari padanya,….”

Jikalau benar bahwa ia sudah tahir maka ada aturan tentang persembahan yang harus ia lakukan kepada Tuhan. Tentang aturan-aturan bagi seorang yang sudah tahir dari kustanya dapat dibaca dalam Im 14.

Di sini terlihat bahwa Yesus sangat menghormati dan mentaati Hukum Taurat / Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama. Dan Ia mau juga agar si kusta ini mentaati hal tersebut. Ia tidak mau kalau kesembuhan yang Ia berikan lantas membuat orang mengabaikan aturan-aturan yang ditetapkan dalam Kitab Suci. Memang sejak kematian Yesus, Im 13-14 tidak perlu dilakukan lagi karena ini termasuk Ceremonial Law / hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan.

Efs 2:15 - sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya,…”

tetapi pada saat Ia memberikan perintah pada si kusta itu, Ia belum mati dan karenanya hukum itu masih berlaku. 

Di sini kita dapati satu hal yang baik dari Yesus bahwa bukan saja Ia sendiri yang taat kepada aturan Hukum Taurat, Ia juga mau dan memerintahkan agar orang lain juga mentaati Hukum Taurat. Ini seharusnya menjadi teladan bagi kita. Kita harus berusaha untuk mentaati Firman Tuhan tetapi setelah itu kita juga harus mengupayakan atau bahkan kalau bisa memerintahkan agar orang lain pun bisa mentaati Firman Tuhan (anak, isteri, suami, orang tua, kakak-adik, teman, pacar, dll). Ada banyak kasus di mana orang tua adalah orang-orang yang taat kepada Tuhan tetapi anak-anaknya hidup secara brengsek. Contohnya imam Eli yang melayani Tuhan tetapi anak-anaknya (Hofni dan Penehas) hidup secara brengsek. Demikian juga dengan Samuel.

1 Sam 8:1, 3 – (1) Setelah Samuel menjadi tua, diangkatnyalah anak-anaknya laki-laki menjadi hakim atas orang Israel. … (3) Tetapi anak-anaknya itu tidak hidup seperti ayahnya; mereka mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan.

Demikian juga ada banyak suami yang taat kepada Tuhan tetapi isterinya tidak. Demikian pula sebaliknya, dll.  Jikalau kenyataan seperti itu yang saudara hadapi, apakah saudara sudah berusaha agar mereka hidup dalam ketaatan pada Firman Tuhan? Atau saudara hanya cuek atau bahkan mendukung mereka dalam ketidaktaatan mereka terhadap Firman Tuhan?

Kiranya tindakan Yesus ini boleh mengajarkan pada kita bahwa kita pun perlu berupaya agar anak, orang tua, suami, isteri, kakak, adik, teman, pacar kita pun boleh taat kepada Firman Tuhan. Rasul Yohanes menulis :

2 Yoh 4 - Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.

3 Yoh 4 - Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.
Apakah saudara pun rindu agar orang lain hidup dalam kebenaran?


- AMIN -


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berikan komentar anda dan jangan lupa mencantumkan nama dan kota.propinsi tempat anda berdomisili. Misalnya : Yutmen (Jogja)

Ada kesalahan di dalam gadget ini